08
Agu
10

Konser Review: Ian Brown – Jakarta, 06 Agustus 2010

Ian Brown

Jakarta – Lapangan Basket ABC Senayan

Jumat, 06 Agustus 2010

Setlist:

I Wanna Be Adored, Time Is My Everything, Crowning Of The Poor, Golden Gaze, Love Like A Fountain, Dolphins Were Monkey, Save Us, Keep What You Got, Vanity Kills, Own Brain, Corpses In Their Mouths, Longsight M13, Marathon Man, Sister Rose, F.E.A.R.

Encore: Stellify, Just Like You, Fools Gold

Review:

Hari bersejarah itu bertanggalkan 06 Agustus 2010. Selama ini, sosok mistis itu hanya bisa dinikmati dalam bentuk kumpulan CD dari band legendaris yang digawanginya dan solo karirnya sendiri. Penampilan panggungnya hanya dapat dilihat dan didengar dari puluhan bootleg, dengan kualitas yang seringkali bukan dalam kondisi terbaiknya. Tetapi, pada malam di mana Jakarta dibasahi hujan seperti layaknya Manchester di hari terkelamnya, ratusan manusia berkumpul, ratusan manusia yang merasa dirinya menjadi murid-murid seorang mesias yang mengubah hidup mereka untuk selamanya dan memberikan inspirasi termurni. Mereka datang untuk menjadi bagian dari sejarah, dari potongan waktu di mana semustahil apapun itu terdengarnya, untuk menyaksikan Ian Brown berdiri di atas panggung Jakarta.

Pukul 23:30, dengan dentuman bas yang mengawali “I Wanna Be Adored” momen bersejarah itu dimulai. Sang King Monkey memasuki arena pertandingan, terlihat tajam dengan potongan training berwarna kuning yang dikustomisasi khusus untuk dirinya, kacamata hitam, tambourine di tangan, berdansa seperti yang kita kenal selama ini dari dirinya. Tidak akan pernah keabsurdan senyata dan seindah menit-menit pertama konser ini, tidak sebelumnya, dan tidak akan pernah sesudahnya.

“Time Is My Everything” melanjutkan konser tersebut, diawali dengan tiupan trumpet yang menjadi intro lagu itu. Brown, melepas kacamata hitam dan training jaketnya hanya untuk memperlihatkan sebuah kaos hitam bertuliskan Working Class Hero. Selalu mencitrakan sikap seorang yang pemberontak dengan caranya sendiri, Brown menginjak-injak bendera Union Jack yang diberikan salah seorang penonton dalam “Crowning Of The Poor”.

3 lagu yang mengikuti sesudahnya adalah tanda-tanda kejeniusan Brown di awal karirnya sebagai solo artis. Dengan membawakan “Golden Gaze”, “Love Like A Fountain”, dan “Dolphins Were Monkeys” murid-murid sang mesias yang terhampar di lapangan basket yang berubah sesaat menjadi lantai dansa itu, dipenuhi euforia yang hanya dapat dibatasi oleh langit hitam Jakarta.

Setlist yang ia bawakan malam itu memang seperti sebuah greatest hits yang menghiasi solo karirnya selama ini. Nomor-nomor seperti “Keep What You Got”, “Longsight M13”  dan “Corpses In Their Mouths” berdiri sejajar dengan lagu-lagu dari album “My Way” seperti “Vanity Kills”, “Own Brain” dan “Marathon Man”. Dalam setting sebuah konser, lagu-lagu terdengar lebih masuk akal, terlebih dengan permainan perkusi Inder Goldfinger yang cukup menarik perhatian mata di sisi kanan panggung.

Setelah mempersembahkan “Sister Rose” for the ladies, Brown menutup set utamanya malam itu dengan “F.E.A.R”. Ia pernah mengakui bahwa ini adalah lagu terbaik yang pernah ia ciptakan, dan dengan kata-katanya yang hanya dirangkai dari 4 huruf tersebut, serta melodi seperti anestesi, membuat semua orang yang ada di sana malam itu dibawanya mengawang merengkuh keabadian.

Brown kembali untuk melakukan encore, yang diawalinya dengan “Stellify”, dan betapa lagu itu adalah seorang pembunuh yang akan menumpaskan segala keresahan kita. Kemegahan dan kebangaan semuanya terpancar dalam lagu itu. Setelah “Just Like You”, akhirnya, malam itu mencapai klimaksnya dalam “Fools Gold”. Segala keabsurdan yang telah diawali dalam “I Wanna Be Adored” di pembukaan konser ini, menjadi semakin absurd lagi, dan semua yang ada di sana tidak ingin semuanya itu berakhir.

Di tengah segala euforia yang terjadi, di tiap detik yang terlewati bagaikan mimpi yang terlalu indah untuk terjadi, ketika Ian Brown memainkan tambourinenya dan memamerkan gerakan-gerakan andalannya sambil memancarkan kharismanya yang tanpa batas, dan seiring dengan itu kita berdansa sambil menengadah ke pekatnya langit hitam Jakarta dengan dua tangan ke atas bersyukur atas apa yang telah terjadi, seorang penonton di barisan depan mengucapkan sebuah kata yang menjadi perwakilan dari perasaan semua orang yang ada di sana. Kata-kata yang diucapkan penonton itu adalah “TERIMA KASIH TUHAN”.

David Wahyu Hidayat


2 Responses to “Konser Review: Ian Brown – Jakarta, 06 Agustus 2010”


  1. Agustus 11, 2010 pukul 11:20 pm

    one of the best moment of my life. sampe sekarang masih terasa euforianya. ohya, check my review too http://moigros.multiply.com/journal/item/107/Ian_dan_Kula

    Regards,
    Vita

  2. 2 David Wahyu Hidayat
    Agustus 12, 2010 pukul 12:27 am

    @Vita, memang sampai sekarang pun saya masih suka kebayang-bayang konser bersejarah itu. Malam yang sangat handal🙂


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Agustus 2010
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Categories

Blog Stats

  • 137,446 hits

%d blogger menyukai ini: