11
Jul
10

Album Review: Oasis – Time Flies… 1994 – 2009

Oasis

Time Flies… 1994 – 2009

Big Brother/Sony Music Indonesia – 2010

Kalau Oasis adalah tim sepakbola Nasional Inggris mereka sudah sedikitnya memenangkan 2 piala dunia dan 2 piala eropa: 1994 dengan menghantarkan debut album fenomenal “Definitely Maybe”, 1996 di puncak kekuasaan mereka menjadi raja Britpop, 2006 waktu mereka secara spektakuler tur keliling dunia setelah setahun sebelumnya kembali dengan “Don’t Believe The Truth”, lalu 2008 mengakhiri karir mereka di puncak dengan “Dig Out Your Soul”. Sayangnya tim sepakbola nasional Inggris hanyalah sekumpulan pesepakbola brilian dengan miliaran poundsterling di kaki, tapi kehilangan inspirasi ketika mengenakan seragam “Three Lions”. Untungnya Oasis adalah sebuah band yang sejak awal pemunculan mereka pertama kali memberikan inspirasi bahwa cita-cita kehidupan kita terbentang seperti langit yang tanpa batas.

Dalam klip-klip promosi yang menyertai dirilisnya kumpulan single Oasis terlengkap sepanjang karir mereka ini, Marco – Liam Gallagher impersonator asal Italia mengatakan kira-kira demikian “Once you choose your colours, you never go back”. Momen pemilihan warna itu berawal dari sebuah videoklip di tahun 1995, waktu musik televisi masih memainkan musik video. Klip hitam putih itu terpancarkan dari layar kaca rumah saya, diawali dengan sebuah batuk, lalu ritem gitar yang renyah, sampai akhirnya suara itu menghipnotis saya hingga saat ini, “Today, it’s gonna be the day that they’re gonna throw it back to you”. Walaupun itu bukan pertama kali saya mendengarkan Oasis, tapi itu adalah momen saya memilih mereka. Seperti ketika John Barnes dan Ian Rush membuat saya memilih warna merah dari Liverpool di final FA Cup 1989, lagu itu yang membuat saya memilih bahwa ini adalah band yang akan selalu saya puja sepanjang hidup saya.

Koleksi single ini bukanlah hal baru bagi fans Oasis, ini adalah bentang waktu yang kembali mengingatkan kita akan kebesaran mereka sebagai sebuah band. Diawali dengan empat menit penuh omong kosong dari “Supersonic”, kita takjub mengapa lagu tersebut dapat membuat kita seperti orang yang dapat melakukan apapun di dunia ini. Lalu di sana ada “Roll With It”, dilanjutkan dengan anthem antitesis dari suara Seattle “Live Forever”, masih dengan lirik omong kosong, masih dengan tangan terbuka ke atas menggapai ke langit, menggapai harapan.

“Time Flies…” disusun menurut Noel seperti gig Oasis terbaik yang pernah ada. Di satu sisi ada nomor – nomor rock ‘n’ roll seperti “Cigarretes And Alcohol”, yang jika dapat digambarkan, apabila optimisme generasi 90-an dituangkan dalam bentuk nada, maka ini adalah lagunya. Bahkan “The Hindu Times” dari tahun 2002, diputar lagi sekarang, masih terdengar seperti ekstase musim panas yang berkepanjangan, waktu Tuhan memberikan jiwa kepada hati rock ‘n’ roll kita. Di sisi lain, ada ueber ballad seperti “Stop Crying Your Heart Out” yang adalah pelipur lara terbaik yang pernah ada, entah apakah kita sedang mabuk penuh frustasi dengan kehidupan, atau melihat seorang David Seaman diperdaya Ronaldinho dengan sempurnanya 8 tahun silam di piala dunia 2002. Atau “Little By Little” yang membuat kita menyadari keindahan musik Oasis, karena mereka membuat kita mempercayai lagi kehidupan yang kita miliki.

“Whatever” dan “Lord Don’t Slow Me Down” yang tak pernah difiturkan dalam album Oasis manapun, mengisi koleksi ini dengan brilian. Yang pertama adalah nomor favorit fans, yang kedua adalah gambaran jelas akan musik Oasis di fase-fase terakhir mereka sebagai sebuah band, masih tetap rock ‘n’ roll tapi dengan kedewasaan sebuah band yang mendefinisikan generasi. Dan di sana tentu saja ada “Don’t Look Back In Anger”, lagu yang mempersatukan fans band ini di manapun mereka berada. Mereka yang beruntung pernah menyaksikan Oasis secara langsung, akan mengerti mengapa ribuan orang dalam satu ruangan konser, dengan perbedaan latar belakang sosial, ras, suku, agama, negara meneriakkan jengkal terakhir jiwa mereka pada lagu ini, semua perbedaan itu melebur menjadi satu di dalam keabadian musik Oasis.

29 Agustus 2009, Noel menuliskan pesan singkat di situs mereka kalau ia meninggalkan band yang kita puja itu. Sejak tanggal tersebut Oasis adalah sejarah. Lampu ruangan konser itu telah padam, teriakan “Oasis…Oasis…Oasis” itu telah sirna ditelan malam. Yang tertinggal adalah sebuah perasaan bagaimana band tersebut telah memberikan sesuatu yang berarti kepada kehidupan ini, perasaan optimismus yang sulit untuk dijelaskan tapi mampu mengangkat kita kembali dari lubang – lubang yang kita hadapi dalam kehidupan. Mungkin kita tidak ingin mengetahuinya, mungkin kita hanya ingin terbang, mungkin kita tidak akan pernah menjadi semua hal yang kita pernah impikan, tapi sekarang bukan saatnya untuk menangis, sekarang adalah saat mencari tahu mengapa. Kamu dan saya adalah sama, kita mengetahui banyak hal yang tidak akan pernah mereka ketahui. Kamu dan saya akan hidup selamanya.

David Wahyu Hidayat


8 Responses to “Album Review: Oasis – Time Flies… 1994 – 2009”


  1. 1 niebell
    Juli 20, 2010 pukul 10:29 pm

    I love your blog, it’s supersonic!
    I’m a huge fan of oasis, and keep asking, why on earth ppl always compare them with another band like Blur or Beatles.. Oasis is Oasis, one of a kind. I read discussion forum and very sad how ppl don’t appreciate their last albums since Morning Glory… it’s really really sad, how they always talkin’ about The Gallaghers negatively. Ugh. I think they’re just try to be themselves and never become person they don’t believe in. Conflict like sibling rivalry between Noel and Liam is just a story that belongs to Oasis which is legendary. I listen to ‘Wibbling Rivalry’–it’s funny. Have you listen to that legendary interview?
    I never had a chance see them in concert.. so sad.
    You know what? I think i found something really worthy in every your post about Oasis. They’re real inspiration and i learn something new in every song they played..

    thanks for reading

  2. 2 David Wahyu Hidayat
    Juli 26, 2010 pukul 9:46 pm

    @Niebell, thanks. Maybe you’re the same as me, We see things they’ll never see, You and I are gonna live forever!🙂

  3. 3 dian
    Agustus 6, 2010 pukul 9:56 am

    It’s wonderful expression bout the idol “Oasis”. Yap, I thin’ that band lead us to learn a lot bout this life, more and More and More. Oasis converts us with their big love in their song. So inspirational

  4. 4 dian
    Agustus 6, 2010 pukul 9:59 am

    @Niebell: I thin’ you have nice pernonality.
    @David: You are smart one. Secara aku seorang penyiar jadi butuh referensi2 bagus seperti what you’ve written here. Thank you so much

  5. 6 niebell
    Agustus 14, 2010 pukul 11:49 pm

    @David : haha, love those words!
    @Dian : i bet you too🙂

  6. Oktober 10, 2010 pukul 8:58 am

    Its brilliant, its brilliant….

    Ijin kopas gan

  7. 8 Different Cloud
    Oktober 17, 2011 pukul 8:09 pm

    Sejak mendengar lagu-lagu Oasis, selera musik saya menjadi begitu berbeda…
    Sayang, tidak banyak teman-teman saya yg mengetahui band ini, padahal musik Oasis sangat mengagumkan🙂
    Apakah Kak David pernah memainkan lagu Oasis dalam konser band kakak?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Juli 2010
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Categories

Blog Stats

  • 137,446 hits

%d blogger menyukai ini: