20
Jun
10

Album Review: LCD Soundsystem – This Is Happening

LCD Soundsystem

This Is Happening

Warner Music Indonesia – 2010

Bila kita dengan liar berimajinasi membayangkan keseharian James Murphy, si bangsat di balik kejeniusan LCD Soundsystem, semua itu mungkin akan tergambarkan seperti berikut ini.

Pagi hari, hangover seusai pesta liar semalam, dengan rambut kucal berantakan dan brewok 3 harinya, ia menyeret kakinya yang berbalutkan kaus kaki putih dan hanya mengenakan mantel tidur, keluar dari kamanya menuju dapur apartemen New York-nya untuk membuat kopi. Di dinding ruangan utama apartemen itu, masih terpampang surat penawaran untuk menjadi penulis di “Seinfeld”. Ia menengadah sebentar melihat ke relik masa lalu tersebut, lalu berkata dalam hati “Menolak Seinfeld adalah hal terbaik yang pernah dilakukan”. Sambil mereguk kopinya, di tengah siraman Matahari musim semi New York yang hangat, ia mendengarkan pesan suara telefonnya. Janet Jackson dan Britney Spears terdengar di telefonnya itu, putus asa menginginkan agar ia memproduseri album mereka selanjutnya. Responnya dalam hati adalah “Tidak dalam kehidupan yang ini sayang, tidak dalam kehidupan yang ini.” Siang dan sore harinya ia habiskan bereksperimen dengan berbagai macam sound dan blips, ketika malam tiba, masih dengan rambut kucal dan brewok 3 harinya itu ia mengenakan blazer lusuhnya serta dasi rampingnya bersiap menghidupkan New York menjadi lantai dansa terpanas yang ada di planet ini.

Dalam keseharian seperti itu, kita dapat membayangkan ketiga album mengagumkan LCD Soundsystem diciptakan. Dengan sikap penolakan terhadap establishment dunia ini seperti Seinfeld, Janet, dan Britney ia membangun dunianya sendiri dan menciptakan arti coolness baru, dengan deklarasi yang ia kumandangkan dalam debut albumnya, album kedua “Sound Of Silver” dan album ketiga ini yang dengan percaya dirinya dinamakan “This Is Happening”.

Album ini adalah kontinuasi sikap penolakan tersebut. Dimulai dengan “Dance Yrself Clean” yang dengan tidak sangat tipikal menendang terlalu pelan untuk ukuran seorang LCD Soundsystem, tapi ketika kita mulai merasakan kenyamanan alunan melodi lagu itu, ia menghentak dengan suara synth klasik yang elegan, dan kita tahu bahwa ini adalah definisi suara dari LCD Soundsystem. “Drunk Girls” yang menjadi single pertama dari album ini, bisa jadi adalah lagu terlemah album ini, dengan dentuman irama yang terkesan tergesa-gesa ingin menuntaskan nafsu bocah – bocah mabuk terhadap gadis – gadis yang sudah tidak sadar lagi ditumpas oleh alkohol.

Dengan pengagungan terhadap masa lalu, terutama David Bowie era “Heroes”  Murphy lalu melancarkan “All I Want”. Masih dibalut dengan kekekalan suara synth klasik, dicampur dengan salah satu nyanyian paling melodik di album ini, nada – nada “All I Want” dengan cepat ditangkap oleh kepekaan telinga kita. Lagu itu lalu disambung dengan “I Can Change”. Dibanding dengan album “Sound Of Silver”, album ketiga LCD Soundsystem ini memang lebih lambat menemukan formnya, tapi bukan berarti ini bukan sesuatu yang fenomenal. Track seperti “I Can Change” pelan tapi pasti membakar sumbu dupa melodi di kepala kita, menyebarkan nada-nada harum yang menerangkan malam.

Form album ini lalu memuncak pada “You Wanted A Hit”. Lagu ini dibuka dengan suasana ketenangan yang seperti sudah menjadi ciri khas album “This Is Happening”. Lagu ini seperti pesan Murphy melawan apa yang diharapkan establishment pada dirinya. Mereka mengharapkan ia menjadi konsumsi massal dengan menulis untuk Seinfeld atau menjadi produser Janet. Tapi ia memilih jalannya sendiri, “And so you wanted a hit, well this is how we do hits” jawabnya. Dengan suara moog, tepukan tangan dan gitar elektrik yang industrialis, Murphy menciptakan suara perak bahkan emas definisinya sendiri, dan untuk itu semua kita memuja dirinya.

Album ini berakhir dengan “Home”, dengan suara menakjubkan yang hanya bisa terpikirkan oleh Murphy. Dari empat dinding apartemennya Murphy mengawali semuanya, dalam lingkup empat dinding yang sama semuanya itu juga berakhir. Masih dengan rambut kucal, brewok 3 harinya, ia menekuni semua peralatan yang berserakan di sekeliling dirinya, mencari terobosan terbaru untuk musik yang ia ciptakan. Legenda urban mengatakan ini adalah album terakhirnya sebagai LCD Soundsystem, tapi percaya atau tidak, si bangsat itu pasti akan kembali, tak peduli dalam format LCD Soundsystem ataupun lainnya, tapi bila saat itu tiba, sudah pasti kita akan kembali berdansa bersamanya, sampai sinar fajar pertama menerpa muka kita.

David Wahyu Hidayat


1 Response to “Album Review: LCD Soundsystem – This Is Happening”



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Juni 2010
S S R K J S M
« Mei   Jul »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Categories

Blog Stats

  • 137,446 hits

%d blogger menyukai ini: