13
Mei
10

Pencerahan Jiwa: The National

Agustus 2007. Saya sedang liburan bersama keluarga saya di HongKong. Setiap kali saya mendatangi sebuah tempat baru yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, saya mempunyai kebiasaan yang mungkin sulit untuk dimengerti, kecuali oleh mereka yang juga seperti saya. Saya selalu berintensi untuk mengetahui di mana saya dapat menemukan toko CD yang dapat memenuhi kebutuhan akan musik yang tidak dapat saya temukan di tanah air. Terkadang tempat itu adalah rantai toko yang ternama seperti HMV, atau toko-toko musik kecil lainnya yang justru di sana kita menemukan sebuah permata yang selama ini dicari. Ya, saya masih membeli CD se-“Old Skol” apapun itu terdengarnya. Mengutip ucapan Penny Lane di Almost Famous “And if you ever get lonely, just go to the record store and visit your friends.”, itu adalah perasaan saya setiap kali mengunjungi sebuah record store.

Dalam liburan itu pulalah, ketika menjelajah rak-rak sebuah toko CD di pusat kota Hongkong, saya menemukan sebuah album, yang sampulnya berlatarbelakang hitam, di tengahnya terdapat sebuah band yang sedang bermain dalam sebuah pesta pernikahan. Di atasnya tertulis: The National Boxer. Saya tidak mengetahui album maupun band tersebut, tapi sampul albumnya telah menarik perhatian saya. Dengan cepat, tanpa diperalati oleh ponsel pintar yang pelan tapi pasti mengusik kehidupan saya saat ini, saya mengirim sebuah pesan singkat ke seorang teman saya, minta tolong untuk mengecek tentang band tersebut. Saya bahkan salah menafsirkan nama band tersebut, saya pikir band tersebut bernama The National Boxer, yang benar adalah band tersebut bernama The National, albumnya berjudul Boxer. Teman saya mengirimkan pesan singkat balik, mengatakan bahwa band tersebut adalah band asal Amerika, dan sedang naik daun dalam skena indie di sana. Entah atas alasan apa, saya tidak menindaklanjuti ketertarikan saya tersebut.

Di akhir tahun yang sama, di dalam kompilasi akhir tahun sebuah majalah musik yang saya beli, saya mendengarkan lagu mereka yang berjudul “Fake Empire”, lantunan piano dengan suara bariton penuh melankoli mengatakan kepada saya, bahwa ini adalah band yang patut diberikan perhatian. 3 tahun lamanya, pengetahuan saya tentang The National hanya sebatas “Fake Empire”, sampai minggu lalu.

Sambil mempromosikan album terbaru mereka “High Violet”, The National memberikan sebuah lagu secara cuma-cuma untuk diunduh dan diambil dari album tersebut. Lagu tersebut berjudul “Bloodbuzz Ohio”. Terus terang, saya terkesima dengan apa yang saya dengar. Apa yang diberikan The National bukanlah sesuatu yang baru, Interpol, Editors dan Joy Division, telah melakukannya sebelum mereka, tetapi ada sesuatu dalam suara bariton Matt Berninger dan dua pasang kakak beradik Aaron & Bryce Dessner serta Scott & Bryan Devendorf yang membuat saya tersentak mendengarkan musik mereka. Entah apa yang terjadi, tetapi segala melankoli dan keputusasaan yang tersirat dalam musik mereka, berubah menjadi sebersit sinar harapan dalam setiap nada yang dilantunkan.

Sejak minggu lalu, saya jadi mendengarkan tiga album mereka secara intensif “Alligator”, “Boxer”, dan “High Violet”. Dalam tiga album tersebut saya mendengar salah satu musik paling jujur yang mungkin pernah saya dengar selama beberapa tahun belakangan. Mereka tidak bernafsu untuk menaklukkan dunia atau berdandan seperti rockstar paling hip di planet ini, mereka hanya berkata bahwa musik akan menyembuhkan luka kita semua. “Alligator” dengan “Lit Up”, “Friend Of Mine”, dan “Mr. November” adalah indie amerika yang ingin kita dengar, dengan lanskap musik luas yang menelusup ke alam pikiran kita sambil berkata bahwa saya ingin berada di sini dan menikmati setiap detik kehidupan walaupun kita tahu kehidupan tidak ingin memberikan kita harapan. “Boxer” adalah sebuah album mahakarya, yang saya sesali mengapa saya tidak membelinya tiga tahun yang lalu di Hongkong. Dengarkan drum yang mendominasi “Mistaken For Stranger” dan “Squalor Victoria”, dengan cepat kita akan tahu bahwa musik di album ini adalah pencerahan. “High Violet” seperti dikutip di beberapa media, adalah The National melakukan Elbow. Ini adalah album yang membuat jutaan orang lainnya mengikatkan hatinya kepada band tersebut, dengarkan “Anyone’s Ghost”, “Lemonworld” dan “Conversation 16” untuk pembaptisan hati kalian kepada keindahan dari melankoli.

Langit masih tetap mendung di luar sana, biarkan ia mendung untuk beberapa saat lagi. Saya masih termenung di sini, membasuh jiwa saya dengan musik dari The National, sampai denting terakhir yang saya dengar dan melihat ada secercah cahaya yang menembus kegelapan itu.

David Wahyu Hidayat


0 Responses to “Pencerahan Jiwa: The National”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Mei 2010
S S R K J S M
« Mar   Jun »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Categories

Blog Stats

  • 137,446 hits

%d blogger menyukai ini: