05
Mar
10

Review Buku: Bit Of A Blur – Alex James

Sumbangan tulisan dari Agasyah Karim (penulis skenario/sutradara), yang sebelumnya juga telah menyumbang tulisan “Our 25 Favourite Pop Songs From 2009” – Link: https://supersonicsounds.wordpress.com/the-critical-sibling/the-critical-sibling-our-25-favorite-pop-songs-from-2009/

Bit of a Blur

Alex James

(Abacus, 2007, 247 hal.)

oleh Agasyah Karim

[Sebelum tinggal di sebuah rumah—sebuah rumah yang sangat besar di desa—Alex James adalah pemain bas Blur. Dan ini adalah memoarnya.]

Sampai beberapa waktu yang lalu, saya menganggap bahwa gaya hidup hedon dalam musik hanya dijalani oleh para punggawa hair metal saja. You know, the whole Tommy-Lee-banging-Pam-Anderson, Slash-trashing-his-hotel-room, David-St-Hubbins-getting-lost-on-the-way-to-the-stage stigmata. (Okay, scratch the last one.) Namun ternyata anggapan saya tidaklah sepenuhnya benar.

Seperti yang dituturkan dalam memoar ini, anak-anak Britpop pun ikut menjalani gaya hidup sex, drugs and rock n’ roll dengan sepenuh hati. To think bahwa penampilan mereka nampak lebih mirip dengan anak baik-baik ketimbang monster penenggak Jack D. Apalah arti shaggy haircut seorang Damon Albarn atau Liam Gallagher dibanding hairspray-infested mega hairdos yang dipamerkan oleh Jon Bon Jovi dan kawan-kawan? They even preferred Adidas parkas dibanding leather jackets, for God’s sake!

But yeah, apparently Britpop kids have had their share of the glitter too. Dan Alex James—dengan wajah boyband-nya, berikut akses ke semua tempat paling hip di London, New York, dan, errr, Reykjavik—merupakan satu-satunya wakil Blur dalam menjalani kehidupan bertabur cocaine, champagne dan orgies itu. (According to James, Damon Albarn is the artsy one, Graham Coxon is the shy one, and drummer Dave Rowntree is, errr, just Dave.)

Seperti yang bisa diduga, James memang menghabiskan sebagian besar waktunya untuk menuturkan pengalaman-pengalaman hidupnya yang dipenuhi oleh topik-topik tersebut. Most of those experiences happened outside his capacity as Blur’s bass player, namun haruslah diakui bahwa sebagian besar pengalaman itu—menerima handjob dari seorang reporter perempuan selagi diwawancara, one night stand dengan Helena Christensen, hidup bersama tiga supermodel dalam sebuah kamar hotel bintang lima—niscaya takkan terjadi kalau James bukan seorang anggota Blur.

Bagi saya, ketidakseimbangan antara bagian sex, drugs dan rock n’ roll adalah hal yang akhirnya menjadi kelemahan utama Bit of a Blur. Seharusnya tidak akan jadi masalah jika kejadian-kejadian hedon, sleazy dan outrageous itu bisa terus dihidangkan. But that isn’t the case. Mungkin ini memang sudah jadi hukum alam: semakin kita tua, semakin kita berpikir dua kali untuk main gila dalam hidup. (Kecuali Anda seorang Keith Richards atau Hugh Hefner.) And so it goes. Dari sex, drugs and rock n’ roll, di paruh akhir buku ini James pun mengajak kita menelusuri flying lessons, cheesemaking and diet methods of the famous and bloated (yech!).

Namun harus diakui juga, bagian “rock n’ roll” dari buku ini cukup berhasil menutupi kekurangan-kekurangannya. Saya sempat terharu saat membaca penuturan James tentang sebuah momen yang terjadi saat Blur masih menjadi band papan bawah. Mereka baru saja merekam “There’s No Other Way”. Saking bersemangatnya, James dkk membawa sebuah kopi DAT lagu tersebut—fresh from the mixing session—ke Syndrome, sebuah klab malam paling hip di London (yang malam itu didatangi oleh anggota-anggota Ride, Slowdive, Suede, “and an unassuming guy called Kurt and his girlfriend Courtney”) dan melihat the whole place went crazy saat sang DJ memutarnya. Belakangan, lagu itu berhasil mencapai posisi ke-2 di chart Inggris.

Rasa terharu juga muncul saat membaca kisah tentang bagaimana James, Albarn dkk bisa bangkit dari kegagalan demi kegagalan yang mereka alami (album masterpiece Modern Life is Rubbish muncul setelah tur Amerika ’92 yang berantakan; Parklife—dan segambreng Brit Awards—muncul setelah Modern Life is Rubbish gagal di pasaran; “Song 2” muncul setelah the whole Blur vs Oasis fiasco; etc, etc.) Dan saat membaca deskripsi James tentang cara kerja Blur sebelum, saat di, dan sesudah masuk studio, hati saya benar-benar merasa maknyus.

Too bad James sama sekali tidak menulis tentang apa yang sesungguhnya terjadi selama proses pembuatan Think Tank, terutama tentang mengapa Graham sampai merasa perlu cabut dari Blur. Now that would be the icing on the cake. (Mereka yang penasaran bisa menemukan jawabannya dalam dokumenter karya Dylan Southern dan Will Lovelace, No Distance Left To Run, yang DVD-nya dirilis akhir Februari 2010. It’s another great Blur-related item—watch this space for a review!)

Deretan highlights ini tidak akan berarti banyak jika tidak diiringi oleh kemampuan menulis yang baik. Syukurlah, pengalaman Alex James menjadi kolumnis di harian The Independent membuatnya bisa terhindar dari keharusan meng-hire seorang ghost writer. Most of the times, gaya bertuturnya jernih dan enak untuk dibaca. Dan, yang lebih menarik lagi, ia memiliki bakat untuk menciptakan line demi line yang cocok untuk dijadikan “quote of the day”.

Semua ini menjadikan Bit of a Blur sebagai sebuah memoar yang menurut saya impas. It’s not a masterpiece, but it’s a fun read. Especially if you’re into sex, drugs and rock n’ roll. And Adidas parkas. g

Smart Alex: Top 5 Favorite Quotes from “Bit of a Blur”

5. “When [journalists] don’t like me it really annoys them that they are clever and they are getting fifty pence a word and I’m an idiot with a fancy haircut and getting all the money and all the girls.”

4. “A month later we had signed to [Food Records], with the proviso that the drummer wouldn’t wear pyjamas and that we changed our name.”

3. “Fighting battles you don’t understand so that you can float around getting drunk and shagging. That’s what a manager should be doing.”

2. “An A&R man is a fancy name for someone who was desperate to be in a band, but couldn’t get his hair right.”

1. “My moral cloth was degenerating further. [The handjob] was definitely my biggest crime so far. But, good God, I was enjoying myself.”


0 Responses to “Review Buku: Bit Of A Blur – Alex James”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Maret 2010
S S R K J S M
« Feb   Mei »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Categories

Blog Stats

  • 137,446 hits

%d blogger menyukai ini: