31
Jan
10

Album Review: The XX – XX

The XX

XX

Young Turks – 2009

Di penghujung tahun lalu, teman saya mengirimkan sebuah e-mail yang mengatakan kalau The XX adalah masa depan musik indie dari dataran Inggris. Membaca e-mail teman saya itu, perasaan pertama saya adalah skeptis. Tapi e-mail itu pula yang mendorong saya untuk membeli album band tersebut di hari Natal 2009. Di hari-hari hujan yang mewarnai periode antara Natal dan tahun baru, musik The XX menemani kegiatan saya, dan hasilnya adalah sesuatu yang tidak saya duga sebelumnya.

Dengan suara gitar/bas yang datang seperti dari era awal The Cure, bertemu dengan bits & ambiens ala Notwist bertemu dengan suara vokal yang terdengar seperti versi aristokrat Karen O, di sebuah kafe yang sangat nyaman di London, musik The XX memang tidak terdengar bombastis dan instan, tapi sebaliknya. Kelembutan yang terangkum dalam semua elemen di dalamnya, membuat debut album kuartet asal London ini sangat meracuni keinginan hati dan telinga untuk tidak melepaskannya.

Dengan suara terdengar setengah seperti sirene, setengah seperti ceret yang menandakan air mendidih, “Crystalised” dimulai. Suara gitar pun tak lama menyusul, seketika kita diingatkan akan gitar Robert Smith di tahun 1979. Di lagu itu, vokal Romy Madley Croft dan Oliver Sim bersahut-sahutan, seperti dua orang kekasih yang dengan romantika ego sendiri-sendiri berusaha mengkristalisasi hubungan mereka. Dari lagu itu, perjalanan pop The XX dimulai dalam satelit musik kita. “Islands” lalu melanjuti ambiens pop unik The XX dengan gitar yang terdengar seperti musik dub, menyebarkan aura untuk bersantai dan duduk termenung, menikmati hari mendung kelabu yang berkepanjangan.

Sepertinya album ini memang diciptakan untuk menikmati hari-hari kelabu yang basah dan suram. Nada-nada unik The XX yang menyeret pelan seperti dalam “Shelter” atau kegamangan drum, gitar dan vokal yang saling tarik menarik perhatian dalam “Heart Skipped A Beat”, seperti menjadi pelipur hari-hari tanpa asa itu, berusaha untuk mengembalikan mimpi kita kembali di kepala dan berharap akan sesuatu yang baru. “Basic Space” menyelimuti kita dari dinginnya Januari dengan kenyamanan yang ganjil. Sekali lagi kedua vokal itu bersahut-sahutan, dan suara gitar minimalis itu membuat kita menuangkan sejuta khayalan baru ke dalam kepala yang sudah terlanjur teracuni dengan efek kafein dari tiga cangkir kopi di pagi hari.

Sehari sebelum tahun 2009 habis, dalam perjalanan menuju rumah, masih di bawah langit kelabu dan basahnya tanah Jakarta, saya mengirimkan pesan singkat ke ponsel teman saya itu, mengatakan kalau saya setuju dengannya tentang The XX. Teman saya membalas pesan singkat saya dengan berkata “Sudah dibilang, mereka adalah masa depan indie pop Inggris”. Membaca pesan tersebut, di sore yang sedang menjemput malam, di bawah rintik-rintik hujan yang mengenai kaca depan mobil saya, sambil mendengarkan The XX dengan nada gitar dan suaranya yang memberikan kenyamanan, saya berkata dalam hati, “Mungkin teman saya itu ada benarnya”.

David Wahyu Hidayat


0 Responses to “Album Review: The XX – XX”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Januari 2010
S S R K J S M
« Des   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Categories

Blog Stats

  • 137,446 hits

%d blogger menyukai ini: