27
Des
09

10 Album Terbaik 2009

Jauh di awal tahun ini, saya berbincang dengan seorang teman, mengatakan sepertinya tahun ini akan menjadi sebuah tahun yang kurang begitu menyenangkan. Teman yang duduk di depan saya itu mengatakan sebaliknya. Menurutnya tahun ini akan menjadi tahun yang sangat menyenangkan.

Lalu di sini saya terduduk, 4 hari sebelum 2009 dan juga dekade pertama abad 21 hendak menghabisi waktunya sendiri, mencoba menanyakan pertanyaan yang sama terhadap diri sendiri, apa saja yang sebenarnya telah terjadi sepanjang tahun ini? Yang teringat adalah, saya bersyukur atas keberuntungan yang saya miliki, terlepas dari hal-hal tidak menyenangkan yang telah terjadi sepanjang tahun ini.

Saya teringat akan 25 Januari 2009, di tengah guyuran hujan deras yang membasahi Bandung, menyaksikan sebuah legenda indie hidup bernama Pure Saturday di malam yang sangat menginspirasikan.

Saya teringat akan tanggal 4 dan 5 April 2009, dan merasa beruntung telah bertemu pahlawan musikalis saya secara pribadi, tidak akan pernah menyangka kalau band yang saya puja secara religius itu akhirnya membubarkan dirinya di suatu hari di penghujung bulan Agustus.

Saya teringat mengunduh “Vlad The Impaler” yang waktu itu dilempar secara gratis oleh Kasabian, dan tidak dapat berhenti menahan ekstase saya membayangkan album yang akan dirilis setelahnya.

Saya teringat akan tanggal 20 Juni 2009, menyaksikan dan menyadari kalau The S.I.G.I.T adalah salah satu band terbesar yang pernah dipunyai negara ini.

Saya teringat membuka youtube, dan menemukan sebuah klip dari penampilan U2 di Brit Awards 2009 membawakan “Get On Your Boots”, dan menyadari kalau Bono adalah dan tetap seorang rockstar sejati.

Saya teringat akan 01 Agustus 2009 di mana Phoenix memenangkan perlawanan terhadap teror di negara ini, dengan musik pop terbaik yang mereka bawakan.

Saya teringat berlibur ke Batu Karas bersama teman-teman saya di hari-hari terakhir musim kemarau 2009, dan mendengarkan “Backspacer” dari Pearl Jam secara intens.

Saya teringat mendengarkan “Humbug” untuk pertama kalinya dan mengagumi keberanian pilihan Arctic Monkeys untuk membuat album seperti itu.

Saya teringat di sebuah malam dengan mata terpejam, earphone di telinga dan terbaring di tempat tidur saya, mendengarkan “Kingdom Of Rust” dari Doves untuk pertama kalinya dan mengetahui bahwa ini adalah album terbaik tahun 2009.

Saya teringat di hari Natal bersama teman saya, sambil mendengarkan album-album yang mendefinisikan tahun 2009 saya, mengatakan “Kita adalah manusia-manusia beruntung”.

Di bawah ini adalah 10 album yang membuat saya menjadi orang paling beruntung di tahun 2009 ini. Semoga keberuntungan menyertai kita semua selalu di tahun 2010.

David Wahyu Hidayat

10. It’s Blitz – Yeah Yeah Yeahs

Entah mengapa, sejak pertama kali pemunculannya besama Yeah Yeah Yeahs, saya selalu mempunyai sisi lemah terhadap seorang sosok Karen O. Untungnya itu semua bukan hanya karena ia adalah seorang persona yang terkadang bisa terkesan janah, dan di kesempatan lain dapat menjadi seksi elegan. Di tahun 2009 ini, kekaguman saya akan Karen O dan bandnya Yeah Yeah Yeahs, adalah karena “It’s Blitz” mencerminkan sebuah karya yang bulat dalam satu keutuhan musik elektropunk yang akan memberikan kalian sebuah sengatan listrik ekstrim yang sangat menggairahkan.

Track esensial: Runaway, Heads Will Roll, Dull Life

Untuk membaca review blog ini tentang “It’s Blitz“, silahkan kik tautan berikut ini:

https://supersonicsounds.wordpress.com/2009/05/01/album-review-yeah-yeah-yeahs-its-blitz/

09. Backspacer – Pearl Jam

Dengan album yang paling singkat yang pernah dibuat oleh kelima pendekar terakhir asal Seattle, Pearl Jam mengguncang kita sampai pada syaraf telinga terakhir. Dalam nomor-nomor cepat yang ada di album ini, terutama di 3 lagu pertama, mereka lebih terdengar seperti The Who daripada Seattle. Di nomor-nomor pelan seperti “Just Breathe” dan “Unthought Known” mereka memberikan sebuah angin penyegaran dalam kehidupan kita yang selalu berubah. “Backspacer” adalah catatan musikalis setengah jam terbaik dari salah satu band terbesar Amerika saat ini.

Track esensial: The Fixer, Got Some, Just Breathe

Untuk membaca review blog ini tentang “Backspacer“, silahkan kik tautan berikut ini:

https://supersonicsounds.wordpress.com/2009/10/11/album-review-pearl-jam-backspacer/

08. Hertz Dyslexia – The S.I.G.I.T

Kita bersyukur mempunyai band seperti The S.I.G.I.T. Dengan ambisi, mereka menerjang kita dengan riff-riff rock ‘n’ roll yang tanpa tandingnya di tanah air untuk saat ini. Dengarkan saja “Verge Of Puberty”, “Money Making” atau “The Party” dari “Hertz Dyslexia” bila kalian masih tidak percaya. Album ini adalah sebuah inspirasi, dan itu yang seharusnya selalu dapat diberikan musik.

Track esensial: Money Making, Bhang, Only Love Can Break Your Heart

Untuk membaca review blog ini tentang “Hertz Dyslexia“, silahkan kik tautan berikut ini:

https://supersonicsounds.wordpress.com/2009/08/16/album-review-the-s-i-g-i-t-hertz-dyslexia/

07. The Resistance – Muse

Muse telah sampai di satu fase, di mana mereka dapat membuat musik apa saja dan semua orang masih mau mendengarkan mereka. Dalam “The Resistance” mereka mencampur r ‘n’ b dan arwah Freddie Mercury tanpa rasa malu. Anehnya, itu semua terdengar sepadan dan entah mengapa mencengangkan. Sesampainya kita di lagu terakhir yang merupakan penggalan dari simfoni 3 bagian itu, kita merasakan kemegahan dan keagungan bercampur menjadi satu, dan kita terlelap di dalamnya.

Track esensial: Undisclosed Desires, Resistance, Exogenesis: Symphony Part 3 (Redemption)

Untuk membaca review blog ini tentang “The Resistance“, silahkan kik tautan berikut ini:

https://supersonicsounds.wordpress.com/2009/10/15/album-review-muse-the-resistance/

06. No Line On The Horizon – U2

Sejujurnya kalau kita bertanya pada diri kita sendiri, masih adakah yang peduli dengan U2? Sudah begitu berubahkah peta musik ini, sehingga band seperti U2 terdengar terlalu biasa saat ini? Atau kelakuan Bono memainkan perannya sebagai politikus paruh waktu yang membuat kita kehilangan rasa pada band tersebut? Untungnya mereka lalu menelurkan “No Line On The Horizon”, dan dengan kebijaksanaan melodi yang selalu menjadi ciri khas Bono, The Edge, Clayton, dan Mullen Jr, mereka telah merestorasi kepercayaan kita terhadap band tersebut.

Track esensial: Get On Your Boots, Stand Up Comedy, I’ll Go Crazy If I Don’t Go Crazy Tonight

Untuk membaca review blog ini tentang “No Line On The Horizon“, silahkan kik tautan berikut ini:

https://supersonicsounds.wordpress.com/2009/03/17/album-review-u2-no-line-on-the-horizon/

05. Wolfgang Amadeus Phoenix – Phoenix

Saat-saat pertama kali mendengarkan album ini, ia terkesan terlalu posh, dengan gaya menyanyi Thomas Mars yang terlalu sering mengulang kata-kata yang dinyanyikannya. Seiring dengan berlalunya waktu-waktu dalam tahun 2009 ini, album ini melakukan metamorfosisnya menjadi sebuah pop album yang sulit untuk dikeluarkan dari kepala. Setelahnya setiap kali mendengarkan suara seperti sonar kapal selam itu dalam “1901” atau dentuman pertama yang menjadi intro dari “Lasso”, kita tidak dapat berbuat lain selain tersenyum.

Track esensial: Lasso, 1901, Love Like A Sunset Part I

Untuk membaca review blog ini tentang “Wolfgang Amadeus Phoenix“, silahkan kik tautan berikut ini:

https://supersonicsounds.wordpress.com/2009/07/04/album-review-phoenix-wolfgang-amadeus-phoenix/

04. My Way – Ian Brown

Sesungguhnya saya tidak akan pernah menyangka kalau Ian Brown masih dapat membuat album seperti “My Way”. Tanpa ekspektasi tertentu saya membeli album tersebut, dan 12 lagu yang terangkum di dalamnya menampilkan si raja monyet itu dengan salah satu musik terbaik yang pernah ia hasilkan sejak mengakhiri The Stone Roses. “My Way” adalah album yang mengalir rapi tanpa henti, penuh dengan irama besar dan lirik khas Ian Brown yang selalu dapat menemukan caranya sendiri dalam jalannya sendiri.

Track esensial: Stellify, In The Year 2525, Own Brain

Untuk membaca review blog ini tentang “My Way“, silahkan kik tautan berikut ini:

https://supersonicsounds.wordpress.com/2009/10/22/album-review-ian-brown-my-way/

03. Humbug – Arctic Monkeys

Bila Arctic Monkeys membuat album lanjutan dari “Favourite Worst Nightmare” mungkin mereka akan habis sebagai sebuah band. Untungnya mereka memilih mengasingkan diri ke padang gurun bersama Josh Homme, membuat sebuah album yang gelap penuh misteri dan meyakinkan kita, kalau mereka masih dapat menuangkan air yang menyejukkan ke dalam padang gurun pribadi kita masing-masing.

Track esensial: Crying Lightning, Cornerstone, The Jeweller’s Hand

Untuk membaca review blog ini tentang “Humbug“, silahkan kik tautan berikut ini:

https://supersonicsounds.wordpress.com/2009/09/15/album-review-arctic-monkeys-humbug/

02. West Ryder Pauper Lunatic Asylum – Kasabian

Setelah hampir terjebak dalam kelas medioker dengan album keduanya “Empire”, Kasabian memberikan sebuah pernyataan melalui “West Ryder Pauper Lunatic Asylum”. Dengan memadukan lagu-lagu psikedelik rock dengan nada-nada besar seperti yang ada dalam “Vlad The Impaler”, mereka juga mampu mengeluarkan nomor akustik yang menghibur jiwa dalam “Thick As Thieves”. Akhirnya lima tahun sejak merilis debut albumnya, Kasabian memberikan justifikasi akan arti kebesaran mereka.

Track esensial: Underdog, Where Did All The Love Go, Vlad The Impaler

Untuk membaca review blog ini tentang “West Ryder Pauper Lunatic Asylum“, silahkan kik tautan berikut ini:

https://supersonicsounds.wordpress.com/2009/08/16/album-review-kasabian-west-ryder-pauper-lunatic-asylum/

01. Kingdom Of Rust – Doves

Pernahkah kalian membayangkan, melihat ke langit dan di sana tampak awan kelabu bercampur dengan langit biru, di belakangnya sang Matahari memancar dengan hangat memerah menggambarkan harapan baru. Seperti sebuah sinar yang memberikan pencerahan setelah sebuah apokalips. Mendengarkan “Kingdom Of Rust” adalah seperti itu rasanya. Futuristik sekaligus kelam, menenangkan dan juga epik.

Track esensial: Kingdom Of Rust, 10:03, Winter Hill

Untuk membaca review blog ini tentang “Kingdom Of Rust“, silahkan kik tautan berikut ini:

https://supersonicsounds.wordpress.com/2009/05/05/album-review-doves-kingdom-of-rust/

Untuk membaca 20 track terbaik tahun 2009 pilihan musik blog SupersonicSounds ini, klik tautan berikut ini:

https://supersonicsounds.wordpress.com/2009/12/25/20-track-terbaik-2009/


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Desember 2009
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Categories

Blog Stats

  • 137,356 hits

%d blogger menyukai ini: