04
Des
09

40 track terbaik 2000 – 2009, bagian 1

Satu dekade telah kita lewati bersama semua yang terjadi di dalamnya. Kita mengalami keoptimisan kita direnggut pada tanggal 11 September 2001. Keperawanan kita dicuri oleh kapitalisme dunia ini. Dan dengan berat hati, kita dipaksa mengalah, menukar pemutar cakram digital kita dengan pemutar musik data digital yang menjadi barometer penikmat musik tahun ’00-an ini.

Tapi kita tidak pernah menyerah begitu saja. Kita masih setia terhadap semua musik yang membuat dekade ini tidak terlupakan. Pada akhirnya adalah musik, apapun bentuknya yang menyelamatkan dan membuat kita bertahan mengarungi 10 tahun pertama abad 21 ini.

Memang begitu banyak musik mengagumkan yang keluar dalam 10 tahun terakhir ini, sehingga sulit untuk memilah-milah apa yang menjadi paling favorit di antara favorit lainnya. Blog ini berusaha mencoba memilih 40 lagu favorit selama dekade ’00 ini, dari sudut pandang penulis. Mungkin daftar ini subyektif, tapi pada akhirnya, setiap orang mempunyai favoritnya masing-masing, dan setiap orang mempunyai musiknya masing-masing yang menemani diri dalam dekade ini. Di bawah ini adalah 20 pertama dari 40 lagu favorit penulis sepanjang 2000-2009. Sambil membaca, kita boleh memberikan selamat kepada diri kita masing-masing, karena telah melewati 10 tahun yang penuh arti ini. Sebentar lagi, 10 tahun mengagumkan lainnya telah menunggu di depan sana.

David Wahyu Hidayat

40. Morning Lights Recover – Ansaphone

Waktu cahaya pagi datang, ia mensirnakan kegalauan malam dan memberikan kita harapan. Seperti itulah rasa mendengarkan lagu dari Ansaphone ini, dengan nada-     nada gitar yang bersahut-sahutan, semuanya terasa baru kembali, dan kita pun dipulihkan dari kekelaman.

39. Gravity’s Rainbow – Klaxons

Tahun 2007, nama Klaxons muncul di permukaan dengan mengusung musik yang dengan klise disebut sebagai sebuah “New Rave”. Tapi klise atau tidak klise, ‘Gravity’s Rainbow” adalah sebuah lagu dasyat penuh dengan dentuman bas yang jorok, dan gitar bersuarakan tembakan laser Han Solo. Berikan kami neon dan dansa itu kembali, karena kami adalah generasi “new rave”.

38. A Punk – Vampire Weekend

Dengan iringan gitar ceria “afrobeat”, Vampire Weekend mengajak kita berdansa dengan salah satu musik Indie yang terdengar paling menyegarkan di dekade ini. Kalau semua orang lulusan “ivy league” sehandal ini memainkan musik, sepertinya dunia ini sudah pasti akan menjadi tempat yang lebih indah.

37. Crystal – New Order

Masih ingat bayangan bas yang menggantung terlalu rendah itu? Dimainkan oleh sosok layaknya seorang kuli pelabuhan dalam diri Peter Hook? Masih ingat jingkrakan bahagia seorang Bernard Sumner yang berloncatan kesana-kemari seperti anak kecil mabuk gulali? Kalau kita masih ingat itu semua, maka kita akan mengingat “Crystal”, dan bagaimana kita memulai dekade ini dengan optimis. Ya, optimis. Masih ingat kata itu?

36. Such Great Heights – The Postal Service

Salah satu cara paling cermat menikmati lagu handal ini, adalah dengan mendengarkannya menggunakan “headphone”, setel level suara paling kencang, sesaat sebelum sebuah pesawat hendak tinggal landas. Di kuping kita terdengar suara intro yang menggoda berpantulan dari kiri-ke kanan, lalu ke kiri lagi. Mesin pesawat pun terdengar di latar belakang, dan roda si burung besi pun beranjak meninggalkan landasan pacu. Di bawah sana dengan bertaburan cahaya, kita mengucapkan selamat tinggal pada sebuah tempat. Dan kita? Kita menikmati semuanya dari sebuah ketinggian yang menakjubkan.

35. Konservatif – The Adams

Setiap kali mendengarkan lagu ini, yang terlintas di kepala adalah bayangan ibukota, dan jalan-jalannya yang brutal sekaligus mengesankan, dengan lampunya yang menyilaukan, dan asap tebalnya yang menyesakkan. Setiap kali kata “Jakarta” dilantunkan di lagu ini, kita menjadi kangen akan dirinya, tidak peduli sedang berada di mana. Setiap saat mengesalkan, tapi kita tidak bisa lepas darinya. Hubungan kita dengan dirinya adalah hubungan benci dan cinta sekaligus. Jakarta, selamanya.

34. The Slow Phaseout – Motorpsycho

Mengapa lagu ini ada di dalam daftar ini? Jawabannya hanya satu, karena nada-nada dan irama yang ada di dalamnya, adalah petunjuk dasar bagaimana menciptakan lagu indie klasik yang akan dikenang selamanya. Beberapa orang bilang, lagu indie terbaik itu berasal dari Skandinavia, dan kalau lagu ini dijadikan barometernya, mereka 100% benar, karena dari Trondheim Norwegia, Motorpsycho telah memberikan salah satu lagu indie terbaik dekade ini berjudul “The Slow Phaseout”.

33. I Don’t Know What I Can Save You From – Kings Of Convenience

Masih dari Norwegia, kali ini dari Bergen, datang sebuah mutiara yang lain. Dengan format musik akustik yang menyusup pelan memasuki sanubari kita, lagu ini dan lalu keseluruhan repertoir Kings Of Convenience, adalah lagu heningnya sebuah fajar, menyegarkan dan menenangkan seperti lembutnya embun pagi hari yang tertembus sinar matahari.

32. Whatever Happened To My Rock ‘N’ Roll – Black Rebel Motorcycle Club

Dengan semangat kaum pemberontak seperti dalam “Star Wars”, BRMC memulai perang mereka melawan kebobrokan musik di awal dekade ini. “Death Star” mereka adalah NuMetal dan Bubblegum Pop, dan dengan lagu ini, amunisi pertama telah mereka tembakkan, sampai akhirnya mereka memenangkan peperangan itu.

31. 24:00 (Lagu Luna) – The Brandals

Kata “sayang” dalam kamus musik Indonesia, adalah ungkapan yang telah kadaluwarsa untuk dinyanyikan. Tapi dinyanyikan oleh “The Brandals”, kata itu seperti didefinisikan kembali. Sudah sejak lama kata “sayang” tidak seberarti dan se-rock ‘n’ roll seperti yang terdengar dalam lagu ini.

30. Out Of Time – Blur

Baru – baru ini, kita mendapat kesempatan menyaksikan trailer dari film dokumenter Blur berjudul “No Distance Left To Run” yang akan dirilis di sinema Britannia Raya pada Januari 2010. Dalam trailer itu, kita terharu sekaligus diingatkan betapa mengagumkannya Blur sebagai band. “Out Of Time” adalah sebuah karya yang dihasilkan saat Coxon sudah tidak ada di band itu lagi, walaupun demikian, lagu ini menghasilkan kejeniusan lain, suara yang terinspirasi dari musik tradisional Afrika utara, lanskap suara di latar belakang yang menghipnotis, membawa kita benar-benar seperti keluar dari waktu, melayang, terbaring, mengarungi dunia ini.

29. Specialist – Interpol

Ada sesuatu yang beda dengan “Specialist” dibanding lagu Interpol lainnya. Bukan perbedaan yang mengeluarkan lagu ini dari pakem lagu Interpol, tetapi dengan tempo pelan dan dengan suara gitar serta bas yang monokrom berulang-ulang sepanjang lagu, semuanya menaikkan intensitas untuk keluar dari sebuah kesesakan. Di penghujung lagu, akhirnya semuanya memuncak, untuk sesaat kita kehabisan nafas, seperti hendak mati, tapi di detik terakhir sebuah cahaya terlihat di ujung sana, dan kita pun menghirup kembali udara, kembali ke kehidupan.

28. Weather To Fly – Elbow

Dengan posisinya sebagai “underdog” dibanding rekan-rekan musisi lainnya seperti Coldplay, atau bilang saja Keane, di tahun 2008 akhirnya Elbow mendapatkan pengakuan mereka dengan meraih Mercury Award yang prestise itu melalui albumnya “The Seldom Seen Kid”. Lagu ini menggambarkan betapa sempurnanya dan indahnya sebuah hari, dan menjustifikasi semua yang telah diraih Elbow dengan “The Seldom Seen Kid”.

27. Flowers In The Window – Travis

Ketika hingar bingar Britpop telah usai, dan sebelum Coldplay mendominasi dunia, musik Britania Raya seperti kehilangan arahanya. Untungnya Travis datang dengan musik pop melankolisnya yang mencoba menghibur kita semua dan mengusir awan mendung yang selalu ada di atas kepala kita. Diambil dari album “The Invisible Band” tahun 2001, “Flowers In The Window” dengan riang mencerahkan dunia pop kita, dan membuat hidup serasa selalu dipenuhi asa setiap hari.

26. To The Sky – Maps

James Chapman AKA Maps, mengantarkan karya briliannya dalam sebuah album berjudul “We Can Create” di tahun 2007. “To The Sky” adalah salah satu fitur kejeniusan Chapman di lagu itu. Mendengarkannya seperti mendapat sebuah pencerahan baru akan mimpi pop yang berkepanjangan, sebuah kepercayaan kalau suatau waktu kita akan menggapai langit dan tidak akan pernah turun lagi.

25. The Coast Is Always Changing – Maximo Park

Suara drum itu mendominasi awal lagu ini, sebelum alunan gitar mengayun kita seperti dalam bayi dalam buaian ibunya. “The Coast Is Always Changing” tidak bisa disangkali menempatkan Maximo Park ke tempat yang akan mereka tuju, sebuah tempat di mana indie dengan gitar bisa bersanding dengan pop tanpa malu, dan hasilnya adalah sesuatu yang tidak gampang terlupakan.

24. First Of The Gang To Die – Morrissey

Apalagi yang mau dikatakan tentang Morrissey? Semua sudah terpatri di sana. Bagi banyak orang ia seperti mesias, seseorang yang dapat mengerti keseharian seorang yang setiap hari berjuang menemukan arti kehidupan. Tahun 2004, setelah sekian lama, ia kembali, memberikan kita lagu-lagu yang dapat kita rayakan bersamanya dan bersama kehidupan.

23. Lord Don’t Slow Me Down – Oasis

Akhir dekade ini, menandakan pula akhir dari band terakhir yang berarti bagi orang banyak ini. Di tahun 2007 mereka masih merilis lagu ini, mengiringi dvd rockumentary yang berjudul sama. Dengan irama seperti hendak melibas semua yang ada di depannya, Noel bernyanyi, berharap agar tidak ada yang dapat memperlambat langkahnya. Tidak juga Tuhan. Tidak ada yang mengira kalau 2 tahun setelahnya  semuanya akan berhenti sama sekali, tapi apa yang telah mereka hasilkan dalam lagu-lagu mereka, juga oleh “Lord Don’t Slow Me Down” tidak akan pernah pudar.

22. Paint The Silence – South

Kalau The Stone Roses, pernah membuat sebuah album di antara debut mereka dan “Second Coming” maka hasilnya akan seperti “Paint The Silence” oleh South. Ada sesuatu yang magis dalam lagu ini, mungkin itu terdengar dari drumnya yang seakan seperti sebuah lagu dari era Madchester, mungkin itu berasal dari gitar yang terdengar seperti seorang John Squire sebelum ia direnggut oleh Heroin dan terobsesi oleh Led Zeppelin. Apapun itu, ini adalah suara sebuah keajaiban.

21. Aku Cinta J.A.K.A.R.T.A – C’mon Lennon

Kalau Jakarta pernah mengadakan kontes untuk memilih antem kota ini (atau mungkin Persija), maka lagu ini harusnya terpilih sebagai pemenangnya. Atau bila seorang calon gubernur memilih lagu ini sebagai lagu ofisial kampanyenya di pilkada 20xx, tidak peduli apa yang akan ia rencanakan untuk menanggulangi banjir, kemsrawutan dan kemacetan kota ini, sudah dipastikan ia akan mendapatkan suara saya. Aku cinta J.A.K.A.R.T.A!!!

Untuk bagian kedua dari 40 track terbaik sepanjang 2000 – 2009 pilihan SupersonicSounds, silahkan klik tautan di bawah ini:

https://supersonicsounds.wordpress.com/2009/12/05/40-track-terbaik-2000-2009-bagian-2/

Untuk membaca 20 album terbaik sepanjang 2000 – 2009 pilihan SupersonicSounds, silahkan klik tautan di bawah ini:

https://supersonicsounds.wordpress.com/2009/12/06/20-album-terbaik-2000-2009/


Satu dekade telah kita lewati bersama semua yang terjadi bersamanya. Kita mengalami keoptimisan kita direnggut pada tanggal 09 September 2001. Keperawanan kita diambil oleh kapitalismus dunia ini. Dan dengan berat hati, kita dipaksa mengalah, menukar pemutar cakram digital kita dengan pemutar musik data digital yang menjadi barometer penikmat musik tahun ’00-an ini.

Tapi kita tidak pernah menyerah begitu saja. Kita masih setia terhadap semua musik yang membuat dekade ini tidak terlupakan. Pada akhirnya adalah musik, apapun bentuknya yang menyelamatkan dan membuat kita bertahan mengarungi 10 tahun pertama abad 21 ini.

Memang begitu banyak musik mengagumkan yang keluar dalam 10 tahun terakhir ini, sehingga sulit untuk memilah-milah apa yang menjadi paling favorit di antara favorit lainnya. Blog ini berusaha mencoba memilih 40 lagu favorit selama dekade ’00 ini, dari sudut pandang penulis. Mungkin daftar ini subyektif, tapi pada akhirnya, setiap orang mempunyai favoritnya masing-masing, dan setiap orang mempunyai musiknya masing-masing yang menemani diri dalam dekade ini. Di bawah ini adalah 20 pertama dari 40 lagu favorit penulis sepanjang 2000-2009. Sambil membaca, kita boleh memberikan selamat kepada diri kita masing-masing, karena telah melewati 10 tahun yang penuh arti ini. Sebentar lagi, 10 tahun mengagumkan lainnya telah menunggu di depan sana.

David Wahyu Hidayat

40. Morning Lights Recover – Ansaphone

Waktu cahaya pagi datang, ia mensirnakan kegalauan malam dan memberikan kita harapan. Seperti itulah rasa mendengarkan lagu dari Ansaphone ini, dengan nada-     nada gitar yang bersahut-sahutan, semuanya terasa baru kembali, dan kita pun      dipulihkan dari kekelaman.

Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=amAjmknKA5M

39. Gravity’s Rainbow – Klaxons

Tahun 2007, nama Klaxons muncul di permukaan dengan mengusung musik yang dengan klise disebut sebagai sebuah “New Rave”. Tapi klise atau tidak klise, ‘Gravity’s Rainbow” adalah sebuah lagu dasyat penuh dengan dentuman bas yang jorok, dan gitar bersuarakan tembakan laser Han Solo. Berikan kami neon dan dansa itu kembali, karena kami adalah generasi “new rave”.

Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=MpWgW7-0esU

38. A Punk – Vampire Weekend

Dengan iringan gitar ceria “afrobeat”, Vampire Weekend mengajak kita berdansa dengan salah satu musik Indie yang terdengar paling menyegarkan di dekade ini. Kalau semua orang lulusan “ivy league” sehandal ini memainkan musik, sepertinya dunia ini sudah pasti akan menjadi tempat yang lebih indah.

Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=_XC2mqcMMGQ

37. Crystal – New Order

Masih ingat bayangan bas yang menggantung terlalu rendah itu? Dimainkan oleh sosok layaknya seorang kuli pelabuhan dalam diri Peter Hook? Masih ingat jingkrakan bahagia seorang Bernard Sumner yang berloncatan kesana-kemari seperti anak kecil mabuk gulali? Kalau kita masih ingat itu semua, maka kita akan mengingat “Crystal”, dan bagaimana kita memulai dekade ini dengan optimis. Ya, optimis. Masih ingat kata itu?

Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=HZzyZSjAQxs

36. Such Great Heights – The Postal Service

Salah satu cara paling cermat menikmati lagu handal ini, adalah dengan mendengarkannya menggunakan “headphone”, setel level suara paling kencang, sesaat sebelum sebuah pesawat hendak tinggal landas. Di kuping kita terdengar suara intro yang menggoda berpantulan dari kiri-ke kanan, lalu ke kiri lagi. Mesin pesawat pun terdengar di latar belakang, dan roda si burung besi pun beranjak meninggalkan landasan pacu. Di bawah sana dengan bertaburan cahaya, kita mengucapkan selamat tinggal pada sebuah tempat. Dan kita? Kita menikmati semuanya dari sebuah ketinggian yang menakjubkan.

Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=hMOkfI7wCrI

35. Konservatif – The Adams

Setiap kali mendengarkan lagu ini, yang terlintas di kepala adalah bayangan ibukota, dan jalan-jalannya yang brutal sekaligus mengesankan, dengan lampunya yang menyilaukan, dan asap tebalnya yang menyesakkan. Setiap kali kata “Jakarta” dilantunkan di lagu ini, kita menjadi kangen akan dirinya, tidak peduli sedang berada di mana. Setiap saat mengesalkan, tapi kita tidak bisa lepas darinya. Hubungan kita dengan dirinya adalah hubungan benci dan cinta sekaligus. Jakarta, selamanya.

Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=mPQ17fmSO6o

34. The Slow Phaseout – Motorpsycho

Mengapa lagu ini ada di dalam daftar ini? Jawabannya hanya satu, karena nada-nada dan irama yang ada di dalamnya, adalah petunjuk dasar bagaimana menciptakan lagu indie klasik yang akan dikenang selamanya. Beberapa orang bilang, lagu indie terbaik itu berasal dari Skandinavia, dan kalau lagu ini dijadikan barometernya, mereka 100% benar, karena dari Trondheim Norwegia, Motorpsycho telah memberikan salah satu lagu indie terbaik dekade ini berjudul “The Slow Phaseout”.

Dailymotion: x3pody

33. I Don’t Know What I Can Save You From – Kings Of Convenience

Masih dari Norwegia, kali ini dari Bergen, datang sebuah mutiara yang lain. Dengan format musik akustik yang menyusup pelan memasuki sanubari kita, lagu ini dan lalu keseluruhan repertoir Kings Of Convenience, adalah lagu heningnya sebuah fajar, menyegarkan dan menenangkan seperti lembutnya embun pagi hari yang tertembus sinar matahari.

Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=TDiMe3SaLtE

32. Whatever Happened To My Rock ‘N’ Roll – Black Rebel Motorcycle Club

Dengan semangat kaum pemberontak seperti dalam “Star Wars”, BRMC memulai perang mereka melawan kebobrokan musik di awal dekade ini. “Death Star” mereka adalah NuMetal dan Bubblegum Pop, dan dengan lagu ini, amunisi pertama telah mereka tembakkan, sampai akhirnya mereka memenangkan peperangan itu.

Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=ot6FFSb5SzY

31. 24:00 (Lagu Luna) – The Brandals

Kata “sayang” dalam kamus musik Indonesia, adalah ungkapan yang telah kadaluwarsa untuk dinyanyikan. Tapi dinyanyikan oleh “The Brandals”, kata itu seperti didefinisikan kembali. Sudah sejak lama kata “sayang” tidak seberarti dan se-rock ‘n’ roll seperti yang terdengar dalam lagu ini.

Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=Jl3yP5tZzVY

30. Out Of Time – Blur

Baru – baru ini, kita mendapat kesempatan menyaksikan trailer dari film dokumenter Blur berjudul “No Distance Left To Run” yang akan dirilis di sinema Britannia Raya pada Januari 2010. Dalam trailer itu, kita terharu sekaligus diingatkan betapa mengagumkannya Blur sebagai band. “Out Of Time” adalah sebuah karya yang dihasilkan saat Coxon sudah tidak ada di band itu lagi, walaupun demikian, lagu ini menghasilkan kejeniusan lain, suara yang terinspirasi dari musik tradisional Afrika utara, lanskap suara di latar belakang yang menghipnotis, membawa kita benar-benar seperti keluar dari waktu, melayang, terbaring, mengarungi dunia ini.

Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=GiDFcLw16IM

29. Specialist – Interpol

Ada sesuatu yang beda dengan “Specialist” dibanding lagu Interpol lainnya. Bukan perbedaan yang mengeluarkan lagu ini dari pakem lagu Interpol, tetapi dengan tempo pelan dan dengan suara gitar serta bas yang monokrom berulang-ulang sepanjang lagu, semuanya menaikkan intensitas untuk keluar dari sebuah kesesakan. Di penghujung lagu, akhirnya semuanya memuncak, untuk sesaat kita kehabisan nafas, seperti hendak mati, tapi di detik terakhir sebuah cahaya terlihat di ujung sana, dan kita pun menghirup kembali udara, kembali ke kehidupan.

Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=AZKxSC0elEU

28. Weather To Fly – Elbow

Dengan posisinya sebagai “underdog” dibanding rekan-rekan musisi lainnya seperti Coldplay, atau bilang saja Keane, di tahun 2008 akhirnya Elbow mendapatkan pengakuan mereka dengan meraih Mercury Award yang prestise itu melalui albumnya “The Seldom Seen Kid”. Lagu ini menggambarkan betapa sempurnanya dan indahnya sebuah hari, dan menjustifikasi semua yang telah diraih Elbow dengan “The Seldom Seen Kid”.

Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=f724-IJc1wM

27. Flowers In The Window – Travis

Ketika hingar bingar Britpop telah usai, dan sebelum Coldplay mendominasi dunia, musik Britania Raya seperti kehilangan arahanya. Untungnya Travis datang dengan musik pop melankolisnya yang mencoba menghibur kita semua dan mengusir awan mendung yang selalu ada di atas kepala kita. Diambil dari album “The Invisible Band” tahun 2001, “Flowers In The Window” dengan riang mencerahkan dunia pop kita, dan membuat hidup serasa selalu dipenuhi asa setiap hari.

Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=U0cyxVMSxCs

26. To The Sky – Maps

James Chapman AKA Maps, mengantarkan karya briliannya dalam sebuah album berjudul “We Can Create” di tahun 2007. “To The Maps” adalah salah satu fitur kejeniusan Chapman di lagu itu. Mendengarkannya seperti mendapat sebuah pencerahan baru akan mimpi pop yang berkepanjangan, sebuah kepercayaan kalau suatau waktu kita akan menggapai langit dan tidak akan pernah turun lagi.

Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=93zAVglMc-8

25. The Coast Is Always Changing – Maximo Park

Suara drum itu mendominasi awal lagu ini, sebelum alunan gitar mengayun kita seperti dalam bayi dalam buaian ibunya. “The Coast Is Always Changing” tidak bisa disangkali menempatkan Maximo Park ke tempat yang akan mereka tuju, sebuah tempat di mana indie dengan gitar bisa bersanding dengan pop tanpa malu, dan hasilnya adalah sesuatu yang tidak gampang terlupakan.

Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=5ZwlgP21JhE

24. First Of The Gang To Die – Morrissey

Apalagi yang mau dikatakan tentang Morrissey? Semua sudah terpatri di sana. Bagi banyak orang ia seperti mesias, seseorang yang dapat mengerti keseharian seorang yang setiap hari berjuang menemukan arti kehidupan. Tahun 2004, setelah sekian lama, ia kembali, memberikan kita lagu-lagu yang dapat kita rayakan bersamanya dan bersama kehidupan.

Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=Wzpynvxr7tA

23. Lord Don’t Slow Me Down – Oasis

Akhir dekade ini, menandakan pula akhir dari band terakhir yang berarti bagi orang banyak ini. Di tahun 2007 mereka masih merilis lagu ini, mengiringi dvd rockumentary yang berjudul sama. Dengan irama seperti hendak melibas semua yang ada di depannya, Noel bernyanyi, berharap agar tidak ada yang dapat memperlambat langkahnya. Tidak juga Tuhan. Tidak ada yang mengira kalau 2 tahun setelahnya  semuanya akan berhenti sama sekali, tapi apa yang telah mereka hasilkan dalam lagu-lagu mereka, juga oleh “Lord Don’t Slow Me Down” tidak akan pernah pudar.

Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=IT2J2vck-SA

22. Paint No Silence – South

Kalau The Stone Roses, pernah membuat sebuah album di antara debut mereka dan “Second Coming” maka hasilnya akan seperti “Paint No Silence” oleh South. Ada sesuatu yang magis dalam lagu ini, mungkin itu terdengar dari drumnya yang seakan seperti sebuah lagu dari era Madchester, mungkin itu berasal dari gitar yang terdengar seperti seorang John Squire sebelum ia direnggut oleh Heroin dan terobsesi oleh Led Zeppelin. Apapun itu, ini adalah suara sebuah keajaiban.

Dailymotion: x6rk52

21. Aku Cinta J.A.K.A.R.T.A – C’mon Lennon

Kalau Jakarta pernah mengadakan kontes untuk memilih antem kota ini (atau mungkin Persija), maka lagu ini harusnya terpilih sebagai pemenangnya. Atau bila seorang calon gubernur memilih lagu ini sebagai lagu ofisial kampanyenya di pilkada 20xx, tidak peduli apa yang akan ia rencanakan untuk menanggulangi banjir, kemsrawutan dan kemacetan kota ini, sudah dipastikan ia akan mendapatkan suara saya. Aku cinta J.A.K.A.R.T.A!!!

Youtube: http://www.youtube.com/watch?v=QW6azbUNCRg

Tetap cek blog ini untuk lanjuta 20 lagu terbaik berikutnya selama 2000 – 2009.


3 Responses to “40 track terbaik 2000 – 2009, bagian 1”


  1. 1 imara
    Desember 4, 2009 pukul 2:35 am

    Phantastische Zusammenstellung !!
    bagian pertama udah begini, gimana keduanya nih😀
    bin gespannt, weiter so !


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Desember 2009
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Categories

Blog Stats

  • 137,446 hits

%d blogger menyukai ini: