07
Nov
09

Album Review: Kings Of Convenience – Declaration Of Dependence

KoC_Declaration_of_Dependence

Kings Of Convenience

Declaration Of Dependence

Virgin/Source Records – 2009

Ketika Kings Of Convenience menggelar konser mereka di Upper Room Jakarta, 3 tahun yang silam, mereka diberikan sambutan yang mungkin tidak pernah mereka dapatkan di negara manapun di dunia, tempat mereka memberikan konser. Terbiasa dengan ruangan konser yang lebih kecil daripada Upper Room, konser mereka di Jakarta terkesan superlatif, dan mereka yang menontonnya seakan seperti melihat The Beatles berdiri di depan mereka, dengan teriakan penuh histeria yang ditujukan ke Erlend & Eirik di malam itu. Kalau raja musik sofa itu pernah mendapatkan status Superstar, malam itu di Upper Room, 2006 mereka telah mendapatkannya.

Setelahnya, suara kenyamanan dari Bergen itu seperti hilang terhilang bumi. Erlend sempat mengunjungi Jakarta lagi dengan kapasitasnya sebagai The Whitest Boy Alive, tapi mereka yang memuja duo tersebut di Upper Room, harus menunggu cukup lama sampai suara pertama gitar akustik serta perpaduan harmoni vokal Erlend & Eirik terdengar kembali.

Untungnya, kita sekarang berada di penghujung tahun 2009, ketika hujan sedikit demi sedikit kembali membasahkan tanah Jakarta. Saat itu terjadi, tubuh menjadi terasa malas untuk bergerak, terbius udara sejuk yang datang setelah kegelapan listrik dan hawa panas menguasai ibukota selama minggu – minggu terakhir Oktober. Di tengah kemalasan itu, tangan kita masih mampu bergerak sedikit, meraih CD player kita dan menekan tombol “Play”, dan yang terputar di sana adalah sebuah album, sebuah CD yang dengan halus dan santainya membuai kita untuk tenggelam dalam kemalasan bulan November. Yang kita dengar pada saat itu adalah “Declaration Of Dependence”, album terbaru Kings Of Convenience, yang setelah 4 tahun lebih berada dalam hiatus kembali pada waktu yang tepat.

Kembalinya mereka diawali dengan sebuah lagu berjudul “24-25”, gitar akustik itu berdentang pelan, sebelum Eirik dan Erlend dengan harmonis menyanyikan “She’ll be gone soon, you can have me for yourself”, mendengarkan itu yang ada hanyalah ketenangan jiwa. Di lagu kedua, “Mrs. Cold”, gitar akustik itu mendeterminasi dengan nada-nada lurus yang mengundang hati untuk bersiul. Tanpa adanya ketukan drum atau perkusi sekalipun di seluruh album ini, musik Kings Of Convenience masih berfungsi sangat baik untuk mendamaikan kita yang sedang resah, bahkan di era di mana kita tidak dapat terlepas dari teknologi yang mengelilingi kita, mereka berhasil memainkan musik yang sangat sederhana untuk melarikan diri kita sejenak dari kehidupan modern.

Diawali dengan suara viola, single pertama dari album ini “Boat Behind” melanjutkan eskapisme kita dari hingar bingar kehidupan kita sehari – hari. Viola itu memanjakan indera kita sepenuhnya, seakan memberhentikan sejenak segala rutinitas di sekitar kita. “Rule My World”, lagu selanjutnya, mengayun-ayun ringan mengajak berdansa sanubari kita yang masih mengidamkan akan hari-hari sempurna yang akan terhampar di depan kita. Suara viola yang manis dalam “Boat Behind” itu kembali menghipnotis kita dalam “Peacetime Persistance”. Melihat kembali ke album-album sebelumnya, memang ini bukan trik baru yang digunakan Erlend & Eirik, tapi itu sangat efektif memberikan unsur kelembutan tambahan yang membawa kita untuk semakin mengawang dalam kehampaan yang menyenangkan.

“Freedom And Its Owner” membawa kita berangan-angan, melayang jauh menuju kebebasan pikiran, melihat tempat yang belum pernah kita tuju, melepaskan diri dari segala sesuatu yang menjerat di belakang diiringi permainan piano singkat yang terdengar di akhir lagu ini. “What is given can’t be returned/The cards are in our hands/All that is living, can’t be hurt/And that’s the end of innocence” dinyanyikan Erlend dan Eirik dalam “Second To Numb”, mata kita masih terpejam ketika mendengarkannya, dan meresapi kalau semua itu benar.

Waktu “Scars Of Land” dengan pelan merasuki ruangan kamar kita, yang terdengar adalah suara-suara yang dengan lambat dan intens hendak menyerahkan diri kita dalam keheningan akustik album ini. Ketika lagu ini habis, kita merasa telah dibawa ke dalam sebuah atmosfir kemalasan yang entah mengapa memberikan kita secercah optimisme kembali. Seperti menemukan sebuah oase yang menyegarkan kita dari kepenatan kehidupan modern ini. Dalam segala kesederhanaan yang terdengar di album ini, Kings Of Convenience telah kembali.

David Wahyu Hidayat


0 Responses to “Album Review: Kings Of Convenience – Declaration Of Dependence”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


November 2009
S S R K J S M
« Okt   Des »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Categories

Blog Stats

  • 137,446 hits

%d blogger menyukai ini: