22
Okt
09

Album Review: Ian Brown – My Way

Ian Brown - My Way (2009)

Ian Brown

My Way

Fiction – 2009

Tak lama setelah The Stone Roses bubar, Ian Brown terpaksa kembali tinggal di tempat orang tuanya, menempati kembali kamar yang dibaginya bersama saudara kandungnya sewaktu kecil. Di hari-hari yang sulit itu ia bahkan harus meminjam uang dari ayahnya yang seorang pensiunan untuk membeli makanan. Sang King Monkey tersebut merasakan kepahitan yang dalam, membalikkan punggungnya terhadap musik, bahkan bermimpi untuk menjadi tukang kebun saja. Tapi untungnya bagi kita semua, Manchester tidak membiarkan itu terjadi. Orang-orang yang ditemuinya di jalan, temannya, sesama musisi, dengan teguh menyemangatinya untuk kembali bermusik, sampai ia bertemu salah satu orang fansnya yang mengatakan “You’re Ian Brown, do something”.

Kata-kata itu menyelamatkan karirnya dan kita semua yang menganggap dirinya adalah seorang legenda hidup setelah apa yang ia lakukan bersama The Stone Roses. Ia memulai karirnya sebagai solo artis di tahun 1998 dengan sebuah album yang judulnya  penuh pertanyaan menantang “Unfinished Monkey Business”. 4 album berikutnya dan kesuksesannya sebagai solo artis, ia merilis sebuah album yang diyakininya sebagai yang terbaik yang pernah rilis. Ia tidak kehilangan sentuhannya sebagai seorang pekerja keras, dan album terbaru itu diberikan sebuah judul yang tidak kalah menantangnya dengan album pertamanya, ia menamakan album barunya ini “My Way”.

Dengan dentuman irama yang penuh dengan kepercayaan diri, ia membuka album itu dengan “Stellify”. Ini adalah definisi indie r ‘n’ b ala Manchester dan Ian Brown. Diwawancara oleh XFM, ia mengakui menulis lagu ini untuk diberikan kepada Rihanna, tapi kemudian menyadari lagu ini begitu bagusnya, sehingga ia menyimpannya untuk albumnya sendiri. Ian Brown tidak malu harus bersandingkan diri dan dicap sebagai artis yang terlalu memuja lantai dansa. Ia menjawab kritik, mengapa tidak ada satupun lagunya yang seperti The Stone Roses, dengan caranya sendiri. Baginya Roses adalah masa lalu, dan sejak ia menelurkan “My Star” di album pertama, kemudian “Dolphins Were Monkey” dan “F.E.A.R” ia membuat jalurnya sendiri menuju kemajuan nada yang ia ciptakan.

Lagu yang akan menjadi single berikutnya di album ini “Just Like You” adalah contoh berikutnya dari progres yang akan disebarkan oleh Ian Brown. Ia mengeluarkan irama terbaiknya di lagu ini dan keseluruhan album ini, membuatnya terdengar menyegarkan, dan berbahaya seperti seorang petinju veteran yang siap mempertahankan gelarnya dari petinju-petinju muda yang hanya haus akan materi. Sebuah lagu dari Zager and Evans, “In The Year 2525” dinyanyikan Ian Brown dengan menfiturkan permainan kata akan masa depan manusia diiringi oleh tiupan trompet mariachi, sebelum sebuah nomor bertempo pelan “Always Remember Me” menebarkan suara kemegahan di telinga kita.

Dengan suasana ethereal menuju kejayaan, kita akan mendengarkan “For The Glory” di mana ia menyanyikan “And when the bombs began to fall, I didn’t do it for the roses”. Sebuah pernyataan yang ingin ia sampaikan kepada teman-teman bandnya terdahulu? Apapun jawabannya, Ian Brown telah mencapai kejayaann sendiri sebagai seorang solo artis. Aliran irama yang tanpa henti dilanjutkannya dalam “Marathon Man”. Tom Meighan dari Kasabian akan iri terhadap apa yang Ian Brown lakukan di sini dengan irama etniknya dan perpaduan loops yang seakan datang dari seorang pionir musik elektronik.

Tak pernah kekurangan rasa percaya diri, Ian Brown melanjutkan kedigdayaannya dengan “Own Brain” yang merupakan anagram namanya sendiri. Ia mungkin tidak punya lagi mitra musisi yang jenius seperti Squire, Mani, dan Reni, tapi lagu ini menunjukkan bahwa ia tidak kurang jenius dari mereka. Sebagai lagu terpendek di album ini, Ian Brown dengan efektif mengeluarkan semua unsur yang terpenting dari sebuah lagu yang dapat menarik massa: hook lagu yang mudah diingat serta lirik yang cerdas.

Bila Ian Brown mengklaim ini adalah album terbaik yang pernah ia hasilkan, mungkin kita juga harus memberikan kredit itu kepadanya. “My Way” bersinar dengan rangkaian iramanya yang mengalir tanpa putus, membuatnya menjadi sebuah kesatuan album yang memberikan kepuasan dalam mendengarkannya. Album ini penuh dengan  kesenangan dari seseorang yang selalu percaya akan jalannya sendiri, seperti yang ia sendiri nyanyikan di lagu terakhir album ini “So High”. Di sana ia menyanyikan dengan kepercayaan diri “Yeah I’m a believer me…”, dan kita semua percaya kepadanya dan mengikuti jalannya. Ian Brown, sang legenda.

David Wahyu Hidayat


1 Response to “Album Review: Ian Brown – My Way”



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Oktober 2009
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Categories

Blog Stats

  • 137,446 hits

%d blogger menyukai ini: