15
Okt
09

Album Review: Muse – The Resistance

Muse - The Resistance

Muse

The Resistance

Warner Music – 2009

Bila kalian bernama Coldplay atau Oasis, bukanlah suatu hal yang tidak aneh, kalau kalian menggelar konser di stadion Wembley. Dengan lagu yang selalu dapat membuat massa menjadi sebuah paduan suara terbesar yang pernah ada, Coldplay dan Oasis mempunyai elemen yang menjadikannya patut membuat sebuah pagelaran musik di sana. Tapi kalau kalian bernama Muse, dan menggelar konser dua hari di Wembley, hal itu adalah fenomena. Mengapa? Karena sejak awal karirnya Muse adalah sebuah band yang berbeda dibanding dengan kolega-kolega semasanya. Musik mereka unik, terkadang terdengar terlalu berbobot untuk dapat menjangkau massa yang luas, tapi justru dengan keunikannya sendiri mereka tetap bertahan dan bahkan menjadi salah satu band terbesar yang datang dari Inggris saat ini.

Dengan “Starlight” dari album terakhir mereka “Black Holes And Revelations” Muse telah menjangkau konsumen musik di jalur utama, bahkan di negara ini. Lagu itu terdengar di nada sambung pribadi/nada dering ponsel seseorang yang dari penampilannya sangat diragukan kalau dirinya adalah fans Muse, waktu kita memasuki pusat perbelanjaan kita mendengar lagu itu, bahkan sebuah band cafe yang biasa membawakan lagu dengan genre sangat berbeda dari yang diusung Muse membawakan lagu tersebut. Singkatnya Muse telah menjadi nama dalam komoditi rumah tangga kita.

3 tahun sesudah album tersebut dan sebuah konser megah di Istora Senayan, Muse memberikan kita “The Resistance”. Mereka yang mengharapkan lagu seperti “Starlight” di album ini, tidak akan mendapatinya, dan mereka tentu akan kecewa karenanya. Tapi seperti yang sudah-sudah, Muse tidak peduli akan hal itu. Yang ada di sini adalah 11 karya gemilang, campuran antara rock antariksa khas Muse yang bertemu dengan musik klasik dengan sedikit sentuhan Queen dan musik urban.

Pemberontakan musikalis di album ini berawal dengan sebuah lagu berjudul “Uprising”. Di sini Matthew Bellamy masih bercerita tentang sebuah perlawanan terhadap sebuah wujud korporasi yang mendominasi dunia ini dengan menyanyikan “They can not control us, we will be victorious”, sebelum sebuah jeda instrumentalis mengisi lagu ini yang dipenuhi degan teriakan, tepuk tangan dan solo gitar efektif dari Bellamy. Lagu kedua album ini “Resistance” diawali dengan dentingan piano yang diserbu dengan rantai ritmik Dominic Howard yang terdengar seperti bom yang dijatuhkan dari pesawat untuk meratakan daratan di bawahnya. “Resistance” juga memberikan kita nada yang paling mudah diingat waktu Bellamy menyanyikan “It could be wrong, could be wrong..”, membuat lagu ini sebagai sesuatu yang menarik, entah disengaja atau tidak.

Bila ada lagu yang paling inovatif yang pernah dibuat Muse sampai saat ini, hal itu ada di dalam “Undisclosed Desires”. Mendengarkan 15 detik pertama, kita akan dibuat bingung dan bertanya pada diri sendiri “Ini masih Muse atau sebuah lagu r ‘n’ b dari produsen papan atas NY?”, karena intro ini pada faktanya memang terdengar seperti sebuah musik r ‘n’ b, dan ini membuat Muse semakin menarik di setiap album yang mereka rilis. Di “United States Of Eurasia” Muse tidak bisa memungkiri pemujaan mereka terhadap Queen, dengarkan saja lagu ini dengan seksama, dan kalian akan mengetahui tempatnya waktu mendengarkannya.

Suara orgel gereja mengawali “Unnatural Selection” sebelum serbuan gitar yang menjadi ciri khas permainan Bellamy menguasai lagu ini. Destruktif tapi melodik, klasik Muse. Tak lama sesudahnya album ini lalu ditutup dengan sebuah simfoni megah yang merupakan ambisi baru Muse. Rangkaian orkestrasi ini terdiri dari 3 bagian yang dinamakan: “Exogenesis: Symphony Part 1 (Overture)”, “Exogenesis: Symphony Part 2 (Cross – Pollination)”, dan “Exogenesis: Symphony Part 3 (Redemption)”. Ketiganya merupakan gambaran sempurna Muse tentang musik layar lebar. Kemegahan dan keagungan bercampur menjadi satu di situ dan kita terlelap dalam buaiannya yang menghanyutkan.

Dengan “The Resistance” Muse sekali lagi menentukan nasibnya sendiri. Mereka tidak peduli akan jutaan orang yang menunggu “Starlight” berikutnya. Bukan itu yang menjadikan Muse besar. Yang menjadikan mereka besar seperti sekarang ini, adalah keberanian mereka untuk menjadi berbeda dari kalangannya, dan keberanian itu kita dengar dalam “The Resistance”.

David Wahyu Hidayat


2 Responses to “Album Review: Muse – The Resistance”


  1. September 9, 2013 pukul 12:39 pm

    Pertamakali saya suka Muse pada era The Resistance. Track yang paling saya sukai adalah Mk Ultra. Oh ya, agu ini juga digunakan sebagai soundtrack MTV Exit 2010.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Oktober 2009
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Categories

Blog Stats

  • 137,356 hits

%d blogger menyukai ini: