16
Agu
09

Album Review: Kasabian – West Ryder Pauper Lunatic Asylum

Westryderpauperlunaticasylum

Kasabian

West Ryder Pauper Lunatic Asylum

Sony Music – 2009

Siapapun yg pernah berhadapan langsung dengan Tom Meighan akan menyadari kalau ia adalah sosok seorang rockstar abad 21, terlebih di era album pertama Kasabian yang dilengkapi dengan kemegahan suara, telah memberikan terobosan sekaligus mengingatkan kita akan akselerasi rock Primal Scream, psikedelia The Stone Roses, dan justifikasi arogansi Oasis, dalam musik Kasabian.

Sayangnya, dalam langkah mereka merebut mahkota rockstar sejati Britania Raya, yang terakhir dipegang oleh Liam Gallagher, mereka terpeleset dengan mengantarkan album kedua yang tertebak langkahnya dan hanya memuaskan hasrat Laddism dalam sebuah euphoria elektrik rock yang fana.

Dengan “West Ryder Pauper Lunatic Asylum”, album ketiga Kasabian, mereka telah kembali ke jalan yang benar. Merobek keheningan dengan “Underdog”, ini adalah sikap kepercayaan diri yang kita kenal dari Kasabian, lagu ini langsung memicu adrenalin, seperti pukulan bertubi-tubi seorang petinju yang tidak diperhitungkan, menumbangkan sang juara di kelasnya melalui vokal sengau Tom Meighan dengan porsi arogansi yang tepat dan suara akselerasi bas yang mengiris mengelilingi kita.

Lagu kedua album ini “Where Did All The Love Go” pantas dijadikan nomor klasik Kasabian, ini adalah plot untuk sebuah nomor rock dansa di abad 21 dilengkapi dengan suara tepuk tangan, synthesizer serta alat musik gesek yang menghantui dan melodi yang manis. Ini adalah lagu Kasabian terbaik sejak “L.S.F” dari album pertama mereka. “Fast Fuse” akan mengklaim semua omongan Tom Meighan dan Sergio Pizzorno kalau mereka adalah salah satu band rock ‘n’ roll besar di Inggris. Nomor ini dihantarkan dengan sangat jujur, pertimbangan yang dilakukan dalam “Empire” untuk memadukan rock dan beat untuk berdansa tanpa peduli dengan melodi seakan tidak pernah terjadi. Kali ini mereka tidak lupa memasukkan apa yang penting dari sebuah lagu, yaitu melodi dan hook untuk menjadikan lagu itu pantas diingat dan dilantunkan.

Kemegahan “Vlad The Impaler” bertumpu kepada pukulan bas Chris Edwards, membuat lagu ini berteriak dengan sendirinya di depan muka untuk meminta reaksi dari pendengarnya. Sedangkan “Fire” adalah Kasabian dengan visualisasi layar lebar musikalis yang meneropong unsur psikedelia, suara latar ala Enio Morricone dan penerjemahan perebutan buah terlarang yang selalu diinginkan manusia.

Melalui “Thick As Thieves” Sergio Pizzorno membuktikan kalau Kasabian tidak hanya handal mengantarkan lagu-lagu antemik untuk dinyanyikan di bawah langit cerah dikelilingi oleh pagar stadion sepak bola. Melalui lagu ini mereka membuktikan, kalau mereka bisa membuat sebuah nomor akustik manis yang akan sangat pantas untuk dinikmati di bawah langit Minggu sore yang sendu. Sebuah formula yang kemudian dimantapkan lagi keampuhannya dalam “Ladies And Gentleman, Roll The Dice” dan lagu penutup album ini “Happiness”.

“West Ryder Pauper Lunatic Asylum” adalah senjata Kasabian yang dilengkapi dengan amunisi memadai, yang mungkin masih belum cukup untuk melakukan kudeta terhadap posisi Oasis sebagai band terbesar di Inggris, tapi yang jelas akan meledakkan kepala kita dengan kemegahan dan ambisi dan akan menjadikan mereka menjadi teroris rock ‘n’ roll nomor satu abad 21.

David Wahyu Hidayat


1 Response to “Album Review: Kasabian – West Ryder Pauper Lunatic Asylum”



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Agustus 2009
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Categories

Blog Stats

  • 137,446 hits

%d blogger menyukai ini: