07
Agu
09

Pencerahan Jiwa: Bagaimana saya menemukan kembali Black Rebel Motorcycle Club

BRMC

Di awal milenium ini, ketika rock ‘n’ roll yang sekarat diselamatkan oleh sebuah gerakan yang diawali dengan The Strokes di New York dan dibuntuti oleh The White Stripes di Detroit, sebuah trio asal San Fransisco bernama Black Rebel Motorcycle Club ikut menyentak perhatian saya dan seorang teman waktu itu.

Teman saya waktu itu meminta saya untuk menuliskan artikel tentang band tersebut yang dengan konsep musik “fuzz-psychedelic-garage rock”-nya berfungsi seperti penyambung mata rantai yang hilang antara Julian Casablanca dan gerakan “Shoegaze” di awal tahun 90-an. Artikel tersebut tidak pernah dimuat, karena media cetak tempat teman saya bekerja terpaksa harus gulung tikar, tetapi keajaiban debut album band yang disingkat dengan nama BRMC tersebut tetap terekam dalam diri saya dan teman saya.

Debut album tersebut adalah sebuah pernyataan. Bagaimana tidak, dengan judul lagu seperti “Whatever Happened To My Rock ‘N’ Roll (Punk Song)”, BRMC berusaha dengan sangat untuk menyembuhkan pasien bernama rock ‘n’ roll itu dari virus plastik pop/punk/rock/metal yang waktu itu menggerogoti kemagisan sebuah musik. Dan manusia seperti saya, ikut mendaftarkan diri untuk ikut berjuang melawan virus tersebut dengan musik dari mereka.

Didengarkan waktu itu, album itu sungguh merupakan versi yang lebih intelek dari debut album The Strokes. Bila The Strokes dengan gemilang menampilkan kesederhanaan dan sebuah bentuk rock ‘n’ roll yang menonjok langsung muka mereka yang sudah terlalu lama mendengarkan musik sampah, debut album BRMC adalah versi rock ‘n’ roll psikedelia yang gelap misterius, menyeret kita pelan-pelan ke alam bawah sadar penuh ekstase. “Love Burns” yang membuka album tersebut membuat kita mengerti mengapa di awal karirnya, mereka sempat dibandingkan dengan Ride, “Awake” terdengar seperti sisi gelap Noel Gallagher, “As Sure As The Sun” dan “Rifles” mengecam dan misterius, mendaki puncak psikedelia. Didengarkan lagi saat ini, album itu mendefinisikan sebuah zeitgeist yang sempurna.

Ketika album kedua mereka “Take Them On, On Your Own” dirilis tahun 2003, perayaan itu masih terjadi. Rock ‘n’ Roll telah memasuki masa pemulihannya. Akhirnya kita mendengarkan lagi musik sebenarnya. Dan ketiga orang yang ikut andil dalam pemulihan tersebut Robert Bevan (Vokal/Bass), Peter Hayes (Vokal/Guitar), dan Nick Jago (Drum) yang masih terlihat seperti sosok misteri yang dikirim dari ruang angkasa untuk menyelamatkan kita, menyebarkan serum musikalisnya dengan lagu seperti “Stop”, “Six Barrel Shotgun” dan “We’re All In Love” yang sampai saat itu telah menjadi tandatangan BRMC, bagaimana mereka memahat artian rock ‘n’ roll mereka.

Setelahnya, cukup lama saya berpisah dari BRMC dan musik mengagumkan mereka. Album ketiga mereka “Howl” yang terkesan folky dan didorong oleh sentuhan akustik dalam mayoritas suara albumnya seperti berlalu begitu saja tanpa sempat pernah diperhatikan. Musik di saat album itu dirilis, terlalu disibukkan dengan mereka yang berhasrat ingin membuat gadis-gadis muda menari liar di lantai dansa melalui musik rock seperti yang diusung oleh band seperti Franz Ferdinand dan Bloc Party. Tapi ketika teaser awal dari film Michael Mann terbaru “Public Enemies” muncul di internet, ada suara latar yang sangat familiar mengiringi seorang Johnny Depp yang sangat flamboyan merubah dirinya menjadi John Dillinger. Suara itu melantunkan kata-kata “Time won’t save our souls” berulang-ulang, dan suara itu tidak lain dan tidak bukan adalah lagu pembuka “Howl”, yaitu “Shuffle Your Feet”.

BRMC kembali memasuki radar musikalis saya. Meskipun pada saat dirilis, album tersebut seperti tidak berada pada jamannya, tapi didengarkan kembali saat ini, album itu menunjukkan kedewasaan bermusik BRMC. Seperti juga yang dilakukan oleh Kings Of Leon belakangan ini, album ini menunjukkan sisi americana dari BRMC. Sebuah album introspeksi yang cocok untuk dijadikan soundtrack sebuah road trip, waktu kita membutuhkan sesuatu untuk dijadikan pegangan dan memikirkan semua yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi di depan.

Terpacu oleh apa yang saya dengar dalam “Howl”, saya mulai kembali membongkar koleksi musik BRMC saya, dan mendengarkan dengan teliti album mereka yang dirilis tahun 2007, “Baby 81”. Yang saya dengar adalah sebuah pencerahan. Sebuah karya klasik BRMC. Dalam sebuah perjalanan mobil siang hari menembus ibukota ini bersama dua orang teman baru-baru ini, album ini dijadikan musik latar belakang. Dengan dashyat BRMC menghipnotis kita semua, dan kedua orang teman itu mewakili juga apa yang saya rasakan ketika mendengar “Baby 81”.

Dengan “Berlin” dan “Weapon Of Choice” mereka mengantarkan kembali kegelapan misterius dalam diri rock ‘n’ roll mereka tanpa harus lupa menyanyikan nada-nada yang menangkap kita. Suara vokal khas sedikit terdistorsi dengan reverb, yang dinyanyikan bergantian oleh Bevan dan Hayes, dan suara bas yang dipenuhi efek synth ringan akan menjadikan kedua lagu tersebut sangat berbahaya bila dibawakan di atas panggung manapun di planet ini. Diawali dengan piano yang terdengar seperti datang dari dalam sebuah rumah hantu “Windows” menerawangi kepala kita, menghayutkan isinya dengan melodi-melodi yang akan menghantui kita dalam impian tengah hari. The Jesus And Mary Chain seperti menyapa kita kembali waktu mendengarkan “Not What You Wanted”, sedangkan “666 Conducer”, “Lien On Your Dreams”, dan “American X” membawa kita terbang dalam surga kemagisan melodi – melodi psikedelia. “Baby 81” membuat saya kembali menemukan apa yang saya cintai dari BRMC, dan sepertinya kali ini cinta itu akan abadi.

Dan di sanalah mereka berdiri, tiga orang yang dianugerahi talen untuk membuat kemisteriusan rock ‘n’ roll menjadi sesuatu yang megah dan epik. Ketika pertama kali keluar, mereka memberikan perlawanan terhadap kefanaan musik waktu itu, dan saat ini bila kita kembali dihujani oleh banyaknya musik komedi dan kehampaan musik RBT beserta teman-temannya, kita selalu bisa kembali kepada sebuah suntikan serum musik yang akan memulihkan kita. Dan serum itu di antaranya datang dari sebuah band bernama Black Rebel Motorcycle Club.

David Wahyu Hidayat


0 Responses to “Pencerahan Jiwa: Bagaimana saya menemukan kembali Black Rebel Motorcycle Club”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Agustus 2009
S S R K J S M
« Jul   Sep »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Categories

Blog Stats

  • 137,446 hits

%d blogger menyukai ini: