04
Jul
09

Album Review: Phoenix – Wolfgang Amadeus Phoenix

PhoenixWolfgang

Phoenix

Wolfgang Amadeus Phoenix

V2 Records – 2009

Jika kalian sebuah band, bagaimana kalian mau menggambarkan keriangan musim panas? Lengkap dengan segala keceriaannya, dan perasaan untuk selalu bahagia menghadapi hari. Melakukannya secara konstan mungkin akan terasa sulit, kecuali kalian adalah 4 orang Perancis muda bernama Thomas Mars, Deck D’Arcy Laurent Brancowitz, dan Christian Mazzalai atau yang dikenal dunia sebagai sebuah band bernama Phoenix.

Band itu, sejak dari awal sepertinya mengagungkan harumnya suasana musim panas, dari “Too Young” pada debut album “United”, sampai pada “Long Distance Call” di album “It’s Never Been Like That”, Phoenix tidak lain dan tidak bukan adalah suara – suara yang menggoda kita pada sebuah musim panas yang paling ideal, sewaktu kita naif bercanda, ketika ide kita masih perawan belum digerogoti komersialisme, waktu kita jatuh cinta paling dalam. Empat pemuda itu, mengulanginya lagi di album yang mereka namakan “Wolfgang Amadeus Phoenix”.

Dengan vokal dinyanyikan berulang-ulang yang menjadi ciri khas Mars selama bertahun-tahun, “Lisztomania” membuka lembaran musim panas ala Phoenix. Lagu ini sebegitu indahnya sampai membuat kita lupa diri dan mengajak kita untuk berdansa sambil berjingkat-jingkat kecil seperti anak kecil menyambut sebuah liburan panjang. Perasaan itu dilanjutkan dengan sebuah suara seperti sonar kapal selam yang mendahului intro “1901”, sebelum lagu ini akhirnya menyinari kita dengan kehangatan pop dari Phoenix.

Satu saat dalam musim panas terbaik kita, waktu langit mulai senja dan kita duduk termenung, memandang horizon dalam terpaan angin sejuk menyapa pipi kita. Diam tanpa pikiran, tidak mempercayai diri, betapa beruntungnya diri ini, boleh berada dalam keadaan terbaik, dalam pelukan orang yang dicintai, tidak kekurangan suatu apapun. Perasaan ini dituangkan Phoenix dalam “Love Like A Sunset Part I” dan “Love Like A Sunset Part II”. Tak lama setelahnya, dengan beat yang nakal dalam “Lasso”, Phoenix menggoda kita kembali untuk menenggelamkan diri dalam sebuah malam yang harus dinikmati tanpa asa sedikitpun.

Menjelang fajar, ketika mentari masih malu menunjukkan wajahnya, waktu kita dalam keadaan setengah sadar setelah menikmati kefanaan sebuah malam memabukkan sebuah musim panas, ketika kita masih melayang seakan tidak ada beban dari dunia ini yang akan menahan telapak kaki kita di tanah, Mars merasukkan “Rome” ke telinga kita. Sepertinya semuanya ini semu, tapi pada saat yang sama semuanya seperti masuk akal.

Pagi hari menyingsing. Kali ini mentari tidak lagi malu menunjukkan sinarnya. Kita tersadar dari mimpi kita. Di kepala kita terngiang “For lovers in a rush, for lovers always, foreign lovers in a rush, keeping promises, for lovers in a rush, for lovers always”, itu adalah suara Mars menyanyikan lagu terakhir di “Wolfgang Amadeus Phoenix”. Sesaat lagi setelahnya, semuanya terasa berakhir. Benarkah semuanya ini berakhir? Musim panas ini, segala keceriaan dan semua yang memabukkan? Belum, semuanya masih ada di sana, karena setiap kali kita mendengarkan album ini, kita akan selalu dapat membawa musim panas ini bersama kita, dengan segala kesempurnaannya dan segala kenangannya, yang akan membuat kita tersenyum dan berdansa seperti seorang anak kecil.

David Wahyu Hidayat


1 Response to “Album Review: Phoenix – Wolfgang Amadeus Phoenix”



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Juli 2009
S S R K J S M
« Jun   Agu »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Categories

Blog Stats

  • 137,446 hits

%d blogger menyukai ini: