05
Mei
09

Album Review: Doves – Kingdom Of Rust

kingdom_of_rust

Doves

Kingdom Of Rust

Heavenly Records/Warner Music Indonesia – 2009

Apa yang ingin dicapai sebuah band jika mereka selama 4 tahun seperti lenyap ditelan bumi, setelah mengantarkan sebuah debut album yang epik melankolis, kemudian membuat album kedua dan ketiganya menjadi yang terlaris di Inggris pada saat dirilis? Apakah mereka telah kehilangan ide sehingga melakukan tidur musim dingin yang berkepanjangan? Atau mereka mengkonstruksi sebuah album yang akan menjadi yang terbaik dalam perjalanan karir mereka sampai saat ini?

Bila band itu bernama Doves, maka jawabannya adalah yang kedua. Hiatus 4 tahun yang mereka lakukan sejak merilis “Some Cities” adalah sesuatu yang patut untuk dinanti, karena sensasi yang diberikan “Kingdom Of Rust”, album keempat mereka, sama seperti ketika mendengarkan “In Rainbows” untuk pertama kalinya. Cerdas, inovatif, sebuah penerangan yang memberikan ikatan emosional untuk para pendengarnya dan bukan sepotong musik yang diproduksi berlebihan hanya untuk terkesan intelek.

Sejak lagu pertama, Doves seperti hendak membuat pernyataan, kalau mereka akan membuktikan sesuatu di album ini. Sesuatu yang akan membuat kita ingin menangis mengagumi kemegahan musik mereka. Terinspirasi oleh krautrock dan dinyanyikan oleh sang gitaris Jez Williams “Jetstream” adalah lagu yang menandakan kembalinya Doves dari pertapaan musikalis mereka. Ini adalah perjalanan sonik menuju masa depan, dengan efek mesin jet yang terus mengawal lagu ini sampai pada akhirnya.

Disusul oleh album track “Kingdom of Rust”, Doves memasuki ranah Enio Morricone dengan nuansa lagu seperti pada film “The Good, The Bad, and The Ugly”, namun tetap pada ciri khas gitar Doves dan vokal Jimi Goodwin yang melankolis, parau, putus asa tapi memberikan asa sekaligus. Lagu sesudahnya adalah sebuah perputaran 180 derajat. Jika mereka mencoba untuk menembus masa depan dalam “Jetstream”, untuk kemudian melakukan pendaratan paling sempurna dalam “Kingdom Of Rust”, lagu ketiga album ini, “The Outsiders”, adalah perjalanan lanjutan mereka menuju ruang angkasa. Ini seperti sebuah lagu New Order yang sedang berbaku hantam dengan Primal Scream, sebuah spacerock lanjutan dari karya lama mereka “Spaceface”. Euforik.

Rantai melodi khas ala Doves seperti dalam “Words” dan “There Goes The Fear” dihembuskan dengan sangat menyegarkan dalam “Winter Hill”. Di lagu yang diproduseri oleh John Leckie (The Stone Roses, Radiohead, Muse) ini, Doves mengantarkan jiwa kita menyentuh atap, menembus, menyapa langit. Perjalanan itu tidak berhenti di situ. “10:03” diawali dengan melankoli epik khas Doves, sebelum kemudian gempuran bas, drum dan gitar menerabas kekelaman hati memasuki ¾ lagu ini. Memuncak, melepaskan emosi, sebelum pada akhir lagu, kembali menuju kedamaian. “10:03” adalah pusat gempa dari album ini, yang akan meruntuhkan keputusasaan kita terhadap sebuah musik yang benar-benar berarti. “The Greatest Denier” yang diiringi percikan drum Andy Williams dan dan dipenuhi oleh lanskap gitar memukau dari saudara kembarnya Jez terdengar seperti sebuah lagu soul ala Manchester, memukau, berbicara langsung kepada letupan – letupan kecil di jiwa kita.

Setelah dipuaskan dengan pencerahan jiwa di tiga lagu sebelumnya, “Birds Flew Backwards” adalah sebuah kesunyian agung, sedangkan “Spellbound” adalah lagu untuk menari di tengah – tengah mimpi siang hari kita, terbuai akan impian dalam alunan melodi yang menjuntai di sanubari kita. Mendengarkan “Compulsion” yang berada di urutan kesembilan lagu ini seperti mendengarkan sebuah lagu dari The Clash dengan Jimi Goodwin yang memainkan basnya seperti seorang Paul Simonon.

Di album ini, Doves tidak berhenti memberikan keterpanaan akan lagu – lagu mereka. Dalam “House Of Mirrors” sebuah siraman hujan ketukan magis disambut dengan serangan gitar yang kembali terdengar bagaikan tata suara sebuah film italowestern. Akhirnya perjalanan itu mencapai tujuannya dalam “Lifelines”. Lagu ini adalah pura melodi emosional yang menjulang megah menuju sesuatu yang mendekati sempurna, tak tersentuh dan tidak dapat diabaikan.

Mereka di luar sana boleh berdebat panjang lebar tentang musik apa yang lebih mengagumkan untuk dirinya masing – masing, tapi satu yang pasti “Kingdom Of Rust” adalah salah satu rilisan esensial tahun ini. Bila di luar sana, masih ada yang  memungkiri hal ini, sepertinya mereka terlalu ignoran untuk mengerti atau dengan kata lain selera mereka terlalu buruk untuk mengalami keajaiban yang telah terjadi di sini.

David Wahyu Hidayat


2 Responses to “Album Review: Doves – Kingdom Of Rust”


  1. 1 marr
    Mei 14, 2009 pukul 10:18 pm

    nice review! setuju, ini album terbaik Doves! banyak experiment dengan synth ,sebagai bahan bakar menembus antariksa. Bahkan album ini membuat Prins Thomas tertarik meramu “Kingdom of Rust” versi disko. handal!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Mei 2009
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Categories

Blog Stats

  • 137,356 hits

%d blogger menyukai ini: