01
Mei
09

Album Review: Yeah Yeah Yeahs – It’s Blitz!

yeah-yeah-yeahs-its-blitz

Yeah Yeah Yeahs

It’s Blitz!

Polydoor/Universal – 2009

Apa yang menarik dengan Yeah Yeahs Yeahs? Bagi mereka yang selalu skeptis dengan band asal New York ini, satu – satunya daya tarik Yeah Yeah Yeahs hanyalah persona seorang Karen O, seorang wanita yang terkadang bisa terkesan janah, di kesempatan lainnya seksi elegan wangi, siap menyihir gender laki – laki di planet ini. Ia telah menginspirasikan, terlebih di dalam segi stil, seluruh generasi wanita – wanita muda abad 21 di masa pubersitasnya, yang menganggap Britney terlalu plastik dan Madonna terlalu tua untuk dijadikan idolanya. Tidak dapat disangkali dengan caranya sendiri, Yeah Yeah Yeahs telah memposisikan diri mereka sebagai band yang sering dibicarakan, mereka telah membuat dua kutub dalam skena musik internasional, dan untuk sebuah band kecil dari New York, hal ini bukanlah hal yang buruk.

Tapi semuanya itu tidak akan berfungsi, bila tidak ada musik yang dihantarkan, dan melalui album paling aktual mereka “It’s Blitz”, Karen O, Nick Zinner dan Brian Chase membuat sebuah musik yang memukau, dan membuat orang berhenti sejenak untuk menanyakan kepada dirinya sendiri “Benarkah musik yang membuat berdansa saat ini bukan datang dari Kylie Minogue?”.

“It’s Blitz” adalah kematangan sebuah elektropunk asal New York yang telah dirintis sebelumnya oleh band seperti Radio 4, The Rapture dan si bangsat James Murphy alias LCD Soundsystem. Didalangi oleh tim produser Nick Launay dan Dave Sitek album ini terdengar sangat solid. Suara elektronika dan keseksian vokal Karen O telah terdengar berpadu dengan sangat metalik sekaligus harmonis sejak dalam “Zero” nomor pembuka album tersebut. Didengarkan dari sebuah pemutar CD paling murah sekalipun, kita akan mengakui lagu ini akan memberikan sensasi yang sama di atas lantai dansa paling kumuh New York dan di lantai dansa pribadi berjudul kamar tidur kita.

Mungkin itu yang membuat mengapa album ini menjadi menarik, karena ia berfungsi dalam kondisi apapun. Tidak peduli dimainkan di pemutar mp3 dengan headphone 500 ribu, stereo set seharga 7 juta, lagu – lagu seperti “Skeletons” yang dipenuhi campuran sythesizer dan suara ambiens yang mencoba memenuhi sesaknya langit di bawah vokal Karen O yang menghembus pelan akan selalu terdengar mengagumkan. Ia seperti berusaha menghasut kita menuju manisnya alam bawah sadar yang penuh godaan “Love my name, love left dry…skeleton me, fall asleep, spin the sky”. Atau “Dull Life” yang intro pelannya mengecoh kita, karena lagu itu kemudian berubah menjadi tumpahan amarah atas hidup yang penuh dengan kebosanan.

Meski terdengar penuh dengan nuansa elektoronik cerdas, satu lagu yang membuat album ini menjadi handal adalah sebuah lagu dengan tempo pelan, dengan alunan piano yang mendenting rapuh, berjudul “Runaway”. Lagu ini seperti orkestra ala Yeah Yeah Yeahs, kekuatannya terletak pada melodi lagu itu. Magis dan sederhana.

Mereka yang skeptis terhadap Yeah Yeah Yeahs mungkin tidak bisa dirubah pendiriannya dengan album ini. Menurut mereka Yeah Yeah Yeahs berarti hanya wujud seorang Karen O yang melayani hal terliar yang mereka punya di alam bawah sadar. Untuk mereka yang masih berpikir seperti itu, mereka telah kehilangan sesuatu yang berarti tahun ini. Karena “It’s Blitz” adalah karya yang patut diperhitungkan, bukan hanya karena Yeah Yeah Yeahs telah berhasil mensempurnakan perpaduan musik khas mereka dengan sentuhan elektronika, tapi karena kekuatan lagu yang ada di sana, semua hook yang dinyanyikan Karen O, kecemerlangan minimalis permainan gitar Nick Zinner adalah hal – hal yang tidak bisa dipungkiri oleh telinga manusia normal seperti kita. Semua yang kita dengar di sana adalah tidak lain dan tidak bukan adalah sebuah rangkaian kegemilangan.

David Wahyu Hidayat


7 Responses to “Album Review: Yeah Yeah Yeahs – It’s Blitz!”


  1. 1 ades
    Mei 5, 2009 pukul 7:00 am

    mas david, kok itu james murhpy di panggil si bangsat ?

  2. 2 David Wahyu Hidayat
    Mei 5, 2009 pukul 9:28 am

    @Ades…hahhaha…itu kebiasaan saya memberikan komplimen kepada orang – orang yg menghasilkan musik brilian. Jadi dalam analogi yg sama misalnya, Jonny Greenwood dan Thom Yorke dari Radiohead juga buat saya adalah orang-orang bangsat🙂

    Cheers!

  3. 4 ades
    Mei 5, 2009 pukul 11:21 am

    mas review album LCD Soundsystem yg LCD Soundsystem ama Sound of Silver Dong..

  4. Mei 10, 2009 pukul 2:26 pm

    yang judulnya hysteric bagus juga bang . acoustic version yg di it’t blitz juga bagus🙂

  5. Mei 10, 2009 pukul 2:27 pm

    maksud saya yg di deluxe edition


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Mei 2009
S S R K J S M
« Apr   Jun »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031

Categories

Blog Stats

  • 137,356 hits

%d blogger menyukai ini: