08
Apr
09

Konser Review: Oasis – Singapore, 05 April 2009

Oasis

Singapura – Singapore Indoor Stadium

Minggu, 05 April 2009

Setlist:

Fuckin’ In The Bushes (Intro), Rock ‘n’ Roll Star, Lyla, The Shock Of The Lightning, Cigarettes & Alcohol, The Meaning Of Soul, To Be Where There’s Life, Waiting For The Rapture, The Masterplan, Songbird, Slide Away, Morning Glory, Ain’t Got Nothin’, The Importance Of Being Idle, I’m Outta Time, Wonderwall, Supersonic

Encore: Don’t Look Back In Anger, Falling Down, Champagne Supernova, I Am The Walrus

“Are you gonna wake up then, yeah? For some real songs?”

Liam Gallagher, Glastonbury 1994

img_11431

Review:

Oasis. Tanpa mereka dekade 90-an adalah tahun-tahun yang dipenuhi oleh generasi hedonis yang terhilang kelam, tanpa arahan dan tujuan. Tapi ketika mereka datang di tahun 1994 dengan “Definitely Maybe”, harumnya wangi optimisme terhirup bagaikan obat bius yang tiada henti mengantarkan kita ke puncak kenikmatan. Kita seperti menemukan lagi sinar optimisme yang hangat memancar, dan menjadikan dekade tersebut waktu yang terbaik yang pernah dimiliki seseorang.

Semua itu, terulang kembali di Singapore Indoor Stadium, 05 April 2009, di sebuah malam di mana musik sebenarnya dikumandangkan dari dalam hati. Di sana tidak akan ditemukan tempat untuk idola pop kosong hasil pilihan teknologi modern. Yang ada hanyalah musik yang menyatukan keoptimisan seorang manusia, yang memberikan kembali kepercayaan akan harapan yang tidak pernah sirna. Yang ada hanyalah orang – orang yang merayakan kehidupan dan pahlawan – pahlawan mereka yang bernama Liam Gallagher, Noel Gallagher, Gem Archer, Andy Bell, dan Chris Sharrock.

cimg0606

Semenjak intro yang selalu mengawali setiap penampilan Oasis, “Fuckin’ In The Bushes” diteriakkan oleh tata suara Singapore Indoor Stadium, kita semua, murid – murid Oasis, sudah dipenuhi euforia tanpa batas, melebihi yang dimiliki oleh seorang manusia dalam keadaan normal. Ketika lima sosok tersebut memasuki panggung, terlebih ketika Liam dengan pandangan seribu yar-nya yang telah terlatih jutaan kali di setiap pertunjukkan Oasis, memandang kita dari atas sana, kita seperti melihat seorang penyelamat yang telah memberikan waktu – waktu terbaik dalam hidup kita. Saat memulai “Rock ‘n’ Roll Star” sebagai lagu pertama yang mereka bawakan malam itu, tak terbendung lagi, erupsi emosional terhebat yang pernah dilihat publik Singapura memenuhi tempat tersebut.

“Lyla” yang mengikuti lagu tersebut, terdengar seperti lagu klasik Oasis, ratusan kali lebih baik dari yang terdengar di album. Di depan panggung, semua merayakan Oasis, tanpa terkecuali. “The Shock Of The Lightning” meneruskan set mereka malam itu, dan semua orang menikmati kebahagian tanpa batas “All in good time…all in good time”.

Oasis adalah sebuah institusi, sebuah band yang berfungsi dengan memberikan kita kepuasan batin, membuat kita mempercayai diri kita sendiri lagi, di saat tidak ada yang mengatakan bahwa segala sesuatu mungkin terjadi. Liam dan Noel adalah wujud nyata dari lagu – lagu yang mereka nyanyikan, karena mereka mempercayai setiap kata-kata yang keluar dari mulut mereka sendiri, bukan bualan omong kosong untuk memenangkan pasar belaka. “Cigarettes & Alcohol” adalah salah satu lagu yang akan membuat kita kembali dari kerasnya pukulan kehidupan, dan satu Singapura merayakannya malam itu dengan bernyanyi bersama Liam “We gotta…we gotta make it”, disambung dengan solo Noel yang kasar, tapi itulah rok n rol dalam kebesarannya.

cimg0678


Salah satu lagu dalam “Dig Out Your Soul” yang makin lama makin mendeterminasi alam pikiran dan tidak dapat dikeluarkan lagi dari kepala adalah “To Be Where There’s Life”. Malam itu, di Singapura, lagu tersebut terdengar sempurna, membuat kita melayang dalam sebuah nirwana yang dibentuk oleh raungan gitar Noel dan Gem. Setelah lagu tersebut, Noel mengambil alih vokal untuk pertama kalinya malam itu dengan menyanyikan “Waiting For The Rapture” dan “The Masterplan”. Lagu pertama, membuat kita terpesona dalam kesederhanaan vokal Noel, yang kedua adalah lagu yang mungkin bisa dipilih dalam lima lagu terbaik yang pernah diciptakan Oasis. Magis dan memukau mungkin adalah kata – kata yang terlalu sederhana untuk menggambarkan mereka waktu memainkan lagu tersebut. Di akhir lagu, Gem memainkan solo lagu tersebut seperti sedang mencurahkan seluruh jiwanya, seakan tidak ada lagi yang lebih penting di dunia ini daripada musik yang ia mainkan.

Ketika kita semua merasa, tidak akan ada lagi yang dapat melebihi keagungan “The Masterplan”, Oasis kemudian memainkan “Slide Away”, lagu yang oleh beberapa fans dihargai nilainya lebih tinggi dari “Wonderwall”, merupakan salah satu pemuncak konser malam itu. Lagu itu, adalah pernyataan cinta tulus kita yang tak pernah terungkapkan dengan benar kepada seseorang yang kita kasihi, dan vokal Liam di situ, seperti yang terbaik yang sudah lama tidak pernah kita dengar. Mengesankan. Dari situ, “Morning Glory” menggempur kita semua dengan kedashyatan rok n rol terbaik ala Oasis. Singapore Indoor Stadium, untuk kesekian kalinya malam itu, tenggelam dalam kejayaan musik Oasis.

Set utama Oasis, malam itu ditutup dengan “Supersonic”. Malam itu ada sesuatu pada lagu itu, yang membuat kita bernostalgia kembali ke saat pertama kali kita jatuh cinta, dan mengapa kita sampai sekarang selalu setia pada Oasis. Mungkin itu terasakan di cara Chris Sharrock memainkan drumnya. Ia menghargai lagu tersebut, sehingga ada kesan “Supersonic” malam itu adalah “Supersonic” yang kita dengar di “Definitely Maybe”. Mengalir pelan, tidak terlalu cepat, menggerayangi jiwa kita yang sedang melayang.

img_1167


Saat mereka kembali untuk melakukan encore, Noel dengan hanya diiringi oleh Gem dan Chris Sharrock, dan paduan suara terbesar bernama Singapore Indoor Stadium memainkan anthem yang mendefinisikan dekade 90-an. “Don’t Look Back In Anger” adalah lagu yang menggambarkan keindahan Oasis. Mereka tidak membuat musik untuk diterjemahkan dengan ribuan kata-kata intelek, musik Oasis adalah musik yang akan merobek jiwa kita, membuat orang – orang tak dikenal di sekeliling membagi senyuman bahagia bersama kita. Karena mereka sama seperti kita, mereka tahu bahwa momen ini tidak akan pernah diambil dari mereka, momen yang membuat kita merasa kekal dalam rentang waktu yang sangat singkat. Lagu itu, kemudian disusul dengan “Falling Down”. Di sana, sekali lagi, kita dipukau oleh kekuatan lagu tersebut. Andy Bell dan Chris Sharrock memainkan bas dan drumnya dalam sebuah kesatuan yang menyetir lagu tersebut untuk mencapai puncaknya, menuju ruang dansa ruang angkasa ala Noel, di mana kita mengambang dan menggapai mimpi kita yang tak pernah mati.

Oasis lalu memberikan semuanya di dua lagu terakhir, dengan memainkan “Champagne Supernova” yang menunjukkan Noel memainkan pedal wah-wahnya dengan sangat agresif, memberikan sentuhan psikedelia yang menembus langit ketujuh. Kemudian untuk menyudahi malam itu, mereka memainkan sebuah sebuah lagu dari sebuah band yang memulai revolusi rok n rol di planet ini, “I Am The Walrus” dari The Beatles. Koor Singapore Indoor Stadium kembali menggema meneriakkan “whooo”, setiap kali Liam menyanyikan “I am the egg man”. Noel, memutar semua knop di efeknya, memberikan suara suara absurd, bahkan ketika lagu tersebut terdengar seperti akan habis, mereka menyambungnya lagi dengan sedikit instrumentalia dari lagu The Beatles lainnya “Helter Skelter”. Malam itu mereka meninggalkan panggung dengan sebuah pamungkas, dan setiap orang yang ada di sana, berhak mendapatkannya.

cimg0730


Satu setengah jam lamanya kita disuguhkan musik sesungguhnya. Satu setengah jam kita merayakan pahlawan kehidupan kita. Di luar sana, kehidupan sebenarnya menunggu kembali, tapi siapa yang peduli dengan itu semua? Oasis memberikan arti dalam kehidupan dan kepercayaan untuk menghidupi kehidupan itu. Berikan kepada kita segalanya, saat ini, di tempat kita berpijak dan menggapai langit.

David Wahyu Hidayat

Foto: Jeffry Kartika, Markus Michael, Ape


5 Responses to “Konser Review: Oasis – Singapore, 05 April 2009”


  1. 1 Edwin Senduk
    April 15, 2009 pukul 11:52 pm

    Wah saya termasuk penggemar berat mereka, sayang mreka ke asia tenggara tanpa mampir ke indonesia. Nonton video konsernya saja saya udah bisa lihat showmanship noel dan liam dan ngebayangin gimana rasanya ada di tengah-tengah konser. Tapi tentu saja ga akan sebanding klo nonton langsung. Baca review mas David bikin saya makin iri sama orang-orang yang bisa nonton langsung. Moga-moga Oasis mau mampir ke indonesia, saya pasti ada!!

  2. Mei 9, 2009 pukul 7:52 pm

    mas david nonton kah ? saya pengen sekali nonton , tapi ga sempet .
    yeah, they actually the best band in the world in my opinion .
    dari album definitely maybe sampe dig out your soul ,what a masterpiece .
    noel’s brain , liam’s voice really inspiring my life . can’t live without them .
    kasi kabar tentang oasis lagi dong bang . uda jarang update nih hahaa . thanks reviewnya bang

  3. 3 David Wahyu Hidayat
    Mei 10, 2009 pukul 5:32 am

    @Yodito, saya kebetulan memang berkesempatan nonton mereka bulan lalu di Singapore. Memang, Oasis menginspirasikan banyak orang, dan seperti Anda, Oasis juga selalu memberikan arti tertentu dalam kehidupan saya.

    Untuk update-update tentang Oasis mungkin bisa liat ke site ini:
    http://stopcryingyourheartoutnews.blogspot.com/

    Salam,

    david.

    • Mei 10, 2009 pukul 2:24 pm

      wah,sepertinya mas david ini penggemar musik brit nih .
      saya agak tidak enak juga dgn mas david kalau bicara lebih jauh tentang musik brit .
      anda seperti sudah tahu banyak . saya menyukai musik britpop terutama oasis karena kakak saya , dia saya salah satu pengurus indoasis . dengar-dengar noel mau bikin solo project ya ? mungkin musik-musik sejenis oasis, the stone roses , pulp , manics ,atau blur terlalu tua untuk umur saya karena saya masih bersekolah haha . thanks for this great blog

  4. 5 David Wahyu Hidayat
    Mei 10, 2009 pukul 4:14 pm

    @Yodito, ga ada kata terlalu tua untuk menggilai satu musik tertentu, selama emang musik itu bisa berbicara dan menginspirasikan diri kita mengapa tidak? Iya kan? Terima kasih, kalo bisa menikmati apa yang saya tulis di blog ini.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


April 2009
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
27282930  

Categories

Blog Stats

  • 137,356 hits

%d blogger menyukai ini: