05
Mar
09

Album Review: Morrissey – Years Of Refusal

yearsofrefusal1

Morrissey

Years Of Refusal

Polydor/Universal – 2009

Satu hal yang membuat kita selalu mengampuni Morrissey di tengah segala macam kontroversi yang membuat sinis seperti dirinya sendiri, adalah karena ia telah dan akan selalu membuat lagu yang berbicara kepada mereka yang merasakan dirinya kembali berarti sewaktu semua orang dan nasib berpaling darinya. Morrissey dengan kata-katanya yang penuh satire dan sarkasmus selalu menjadi jalan keluar kita dari segala sesuatu yang bila dapat selalu ingin kita injak – injak dan ludahi.

Di tahun – tahun terakhir sesudah album yang mengembalikan dirinya sebagai seorang solo artis jenius “You Are The Quarry”, ia seperti kelebihan batas dengan permainan kata – kata sarkastik yang keluar dari mulutnya. Tapi di album ini, ia kembali dan ia kembali dengan pelukan hangat dan penuh agresifitas.

“Something Is Squeezing My Skull” memulai album ini dengan tendangan keras di kepala. Sebuah lagu akan kejenuhan terhadap kehidupan modern, “There is no love in modern life…There is no hope in modern life…something is squeezing my skull, something I can’t fight, no true friends in modern life”. Mungkin ia tidak pernah punya akun di sebuah aplikasi jejaringan sosial, tapi ketika hidup kita hanya berputar di sana dalam kehidupan modern ini, sekali lagi seorang Morrissey menampar mereka yang mengejar sesuatu yang fana tanpa arahan.

Album Morrissey selalu penuh dengan kata – kata yang menggambarkan kenyataan kehidupan kita sehari – hari. Mungkin adalah kenyataan lain yang hendak ia gambarkan ketika menulis semua lagu itu, tapi yang jelas, ketika kita mendengar sebuah lagu darinya, kita selalu dapat tertawa kecil, karena apa yang ia nyanyikan seringkali menjadi bagian dari kenyataan hidup kita sehari – hari. Di “Black Cloud”, sebuah lagu yang gitarnya diisi oleh Jeff Beck ini, ia menyanyi dengan santai “I can woo you, I can amuse you, but there is nothing I can do to make you mine…I can chase you and I can catch you but there is nothing I can do to make you mine”. Kita hanya tertawa mendengar lagu itu, karena mungkin kita bisa merefleksikannya dalam kehidupan sehari – hari.

Lalu di “All You Need Is Me” kita dibuat ternganga dengan narsismus seorang Morrissey yang menyanyikan “You’re still here, because all you need is me. There’s so much destruction all over the world and all you can do is complain about me”. Kumpulkan semua foto narsis kalian dari semua jejaringan sosial yang ada, sehelai benang pun tidak akan ada yang dapat menyentuh kenarsisan seorang Morrissey, dan berbeda dengan kalian semua, kita hanya dapat mengangguk pelan, kalau ia punya hak untuk itu dan ia melakukannya dengan kelas.

Walaupun banyak lagu di lagu ini ia tulis bersama Alain Whyte, gitaris yang telah mendampinginya sejak “Your Arsenal”, ini adalah album pertama di mana gitaris tersebut tidak bermain di dalamnya. Posisinya digantikan oleh Jesse Tobias yang ikut berkontribusi di 3 lagu: “All You Need Is Me”, “Sorry Doesn’t Help”, dan sang penutup album “I’m OK By Myself”. Namun ini tidak mengurangi kekuatan album ini, ketiga lagu itu menambahkan asahan dalam ketajaman kata-kata Morrissey membuatnya seperti pedang bermata tua yang membelah kepiluan hati dan jiwa kita. Selain itu lagu – lagu yang ia tulis bersama Boz Boorer, yang juga telah menemaninya sejak lama, seperti hendak menyalakan sumbu cahaya dalam sebuah kebuntuan. “That’s How People Grow Up” merupakan lagu tipikal Morrissey dengan rintihannya yang khas membuai, dan melodik melankoli yang mengawali “I’m Throwing My Arms Around Paris” adalah jejak langkah yang mensuarakan Morrissey bukan hanya masih relevan secara lirik tapi juga musikalis.

Sampai kapan pun seorang Morrissey tidak akan pernah meninggalkan tempatnya di kepala kita. “Years Of Refusal” akan memeluk kita di saat tidak ada yang mengerti keadaan kita. Mendengar album ini, kita tahu ada sepotong musik yang tidak akan pernah menolak kita. Selama kita masih dapat mendengarkannya, sepertinya semuanya akan baik – baik saja, dan kita pun akan merasakan, kita tidak akan merasa terhilang ketika sendirian.

David Wahyu Hidayat


0 Responses to “Album Review: Morrissey – Years Of Refusal”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Maret 2009
S S R K J S M
« Jan   Apr »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Categories

Blog Stats

  • 137,356 hits

%d blogger menyukai ini: