06
Des
08

Album Review: Bloc Party – Intimacy

intimacy_cover

Bloc Party

Intimacy

Wichita – 2008

Album ketiga adalah sebuah pembuktian dari banyak band, yang bisa berhasil melewati fase “Second Album Syndrome”. Radiohead mengantarkan sebuah mahakarya dengan “OK Computer” di album ketiga mereka. Di lain pihak, kita ingat ketika Oasis merilis “Be Here Now”, awalnya semua orang memuja bahwa ini adalah Oasis dalam segala kebesaran mereka. 10 tahun sesudahnya, album itu hanya diingat sebagai album yang menghabisi era “Britpop”, bahkan Noel pun sekarang membenci album tersebut. Lalu, haruskah kita menaruh harapan pada “Intimacy”, album ketiga dari band yang telah mendewasakan kita dengan suara-suara yang mendeterminasi alam pikiran untuk bisa bertahan dalam kehidupan modern dan ketakutan akan keseragaman kehidupan urban?

“War, War, War! I want to declare a war!” Kele mengawali album ketiga Bloc Party dengan teriakan tersebut. Entah apa maksudnya, bila kita hendak menginterpretasikannya, mungkin tidak akan pernah habis pembahasannya, dan review ini tidak cukup untuk mendiskusikannya. Yang jelas, “Ares”, lagu pembuka tersebut, terkesan seperti sebuah serangan fajar yang secara kilat menghempaskan segala yang kita kenal dari Bloc Party. Begitu mengejutkannya, dengan pola drum yang dicuri dari “The Chemical Brothers”, kita tidak akan pernah siaga selain mengagumi dan mengakui, bahwa ini adalah perkembangan logis dari musik Bloc Party. “Mercury” yang mengikuti lagu tersebut, langsung terdengar lebih masuk akal ketika didengar dalam konteks sebuah album. Waktu pertama dirilis beberapa bulan sebelum dirilisnya “Intimacy”, lagu ini terdengar asing dan seakan kehilangan arah dengan pengaruh big beat dan penggunaan efek vokal yang seakan hendak menculik Kele ke ruang angkasa, atau bila kita percaya dengan video yang menyertai lagu tersebut ke sebuah planet yang dikuasai oleh monyet yang hendak mengambil alih dominasi planet tercinta ini dari manusia. Tapi dalam “Intimacy” lagu ini adalah justifikasi dari pola kreatifitas Bloc Party yang tidak terpaku dengan pola yang sama sejak “Silent Alarm” dirilis.

Salah satu ketakutan fans Bloc Party tentang album ini, adalah bila Kele & co. Mengambil jalan bebas hambatan ke arah musik elektronik dan sama sekali tidak akan kembali ke gitar. Tapi untungnya semua itu hanya kekuatiran semu saja. Dimulai dengan “Halo” yang mengembalikan suara khas musik Bloc Party yang sudah lama tidak kita dengar semenjak “Little Thoughts”, dengan gitar stakkato-nya yang membuat kaki ingin dihempaskan ke lantai, mereka meneruskan serangan gitar itu dalam “Trojan Horse”. Suara gitar tersebut terdengar penuh emosi dan agresifitas, seperti hendak memaksakan untuk menerobos jiwa kita yang paling dalam, terutama ketika Russel memainkan solonya di lagu tersebut. Nadanya tidak melakukan hal lain selain mendeterminasi lubang jiwa kita terdalam.

“Signs” membiarkan kita untuk bersandar tenang sejenak. Diawali dengan suara glockenspiel yang dimainkan oleh Gordy, lagu ini adalah definisi Bloc Party akan arah eksperimen dan wilayah baru yang hendak dirambah oleh musik mereka. Soundscape lagu ini membiarkan pikiran kita mengawang, diiringi dengan lirihan Kele yang menyanyikan “I could sleep forever these days, because in my dreams I see you again”. Khayalan itu lalu dibangunkan dengan tiba-tiba oleh kejujuran suara gitar dalam “One Month Off”. Yang menarik dari “Intimacy” adalah kemampuan Bloc Party untuk bermain dengan suasana dan tempo di album ini, sehingga lagu-lagu yang ada di sana menantang pendengarnya untuk mengeksplorasi album ini lebih lanjut.

Mendekati akhir album tersebut, Bloc Party seperti mengerti kalau sebuah keintiman yang dirasakan harus dipuncaki dengan klimaks. Dan 3 lagu terakhir “Intimacy” adalah sebuah pamungkas yang membawa kita ke dalam ekstase murni. Diawali dengan “Talons” yang mencumbu kita dengan kombinasi gitar Kele dan Russel yang tidak banyak berbasa-basi, lalu dipermanis sekali lagi dengan suara glockenspiel yang dimainkan oleh Gordy, lagu ini adalah waktu di mana Bloc Party menggabungkan pop dengan indie rock, lantai dansa dengan teenage angst, kenaifan masa muda dengan keputusasaan kehidupan modern.

“Better Than Heaven” menenangkan sejenak ekstase yang akan diterima, pemberi nafas sementara sebelum merasakan sesuatu yang menakjubkan, karena mulai menit 02:50 lagu tersebut, keempat personil Bloc Party berkonsentrasi pada instrumennya masing-masing, membangun sebuah dinding suara yang akan menelan kita, menikam perasaan kita sebelum akhirnya tenggelam dalam gelombang suara yang menghujam telinga kita. Semuanya itu belum berakhir di situ. Pamungkas “Intimacy” terletak pada “Ion Square”. Kali ini Gordy mengganti bas gitarnya dengan synthesizer yang seperti loop tanpa akhir menerawang di latar belakang lagu tersebut. Lagu ini adalah klimaks keintiman album ketiga Bloc Party, puncak dari apa yang kita dengar di album ketiga mereka.

Yang pasti ini bukanlah “OK Computer” mereka, tapi yang jelas ini bukan juga “Be Here Now” yang akan menghabisi mereka. Dengan kombinasi produser Paul Epworth dan Jacknife Lee (2 orang yang masing – masing bertanggung jawab atas album pertama dan kedua mereka secara berurutan), “Intimacy” mampu menfiturkan kemegahan suara Bloc Party secara optimal, walaupun sedikit disayangkan, didengarkan lagi dengan seksama secara keseluruhan, album ini seperti diproduksi berlebihan dan kurang sentuhan organik. Tapi itu menjadi satu-satunya hal yang sedikit mengganggu dari “Intimacy”, karena selebihnya album ini masuk sebagai salah satu yang terbaik yang dirilis tahun 2008 ini. Dalam “Intimacy” Kele, Gordy, Russel, dan Matt telah bercumbu nakal dengan dunia elektronik sambil tetap terus mempesona kita dengan berbagai macam efek yang dikeluarkan dari gitar mereka. Album ini menunjukkan jalan ke mana musik Bloc Party akan menuju, dan seperti yang telah didengar, masa depan itu bukanlah sebuah yang suram. Bloc Party belum menembakkan habis amunisi mereka. Sesuatu yang menakjubkan masih akan terjadi.

David Wahyu Hidayat


1 Response to “Album Review: Bloc Party – Intimacy”


  1. April 6, 2009 pukul 8:27 pm

    BLOC PARTY IS MY GOD…..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Desember 2008
S S R K J S M
« Okt   Jan »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Categories

Blog Stats

  • 137,446 hits

%d blogger menyukai ini: