25
Okt
08

Album Review: Kings Of Leon – Only By The Night

Kings Of Leon

Only By The Night

RCA – 2008

2001. Dunia mengalami kehancurannya, dengan runtuhnya menara kembar di New York. Momen itu menentukan sebuah masa depan yang tidak lagi sama dengan dekade sebelumnya yang penuh hingar bingar dan perasaan akan terpenuhinya sebuah janji. Kita sebagai manusia terpuruk dengan peperangan tanpa arti dan ketakutan akan efek rumah kaca yang menghantui ketentraman kehidupan kita di planet ini. Untungnya selalu ada musik yang mengembalikan harapan.

Di bulan-bulan yang sama ketika New York dihantam kebanggaannya, dari tempat yang sama pula datang sesuatu yang mendefinisikan masa. Sesuatu yang membuat para anglophile dekade 90-an terperangah, bila ternyata ada sesuatu yang menakjubkan datang dari seberang Atlantik. Fenomena itu datang dalam The Strokes. Mereka mengembalikan arti coolness dalam musik dari Amerika Serikat, setelah sebelumnya dipenuhi dengan kebodohan topi baseball Fred Durst dan semua yang berlabelkan nuMetal. The Strokes mengawali kebangkitan kembali musik dari AS. Bahkan untuk beberapa saat, musik mereka lebih menyegarkan dibanding kolege-kolegenya dari Britania Raya. Band – band seperti Black Rebel Motorcycle Club dan The White Stripes termasuk dari mereka yang membuat kita terpesona waktu itu, dengan suara gitar mereka yang kasar, dan penampilan paling kotor mereka sekaligus cool.

Pola musik seperti itu pula yang membanjiri awal dasawarsa ini. Tidak banyak juga dari antara mereka yang lalu menguap begitu saja tanpa sempat kita sadari kehadirannya. Tapi tidak untuk sebuah band, yang awalnya dianggap hanya sebagai underdog, bahkan sampai saat ini mereka masih memegang status tersebut di Amerika Serikat, walaupun di belahan dunia lainnya khususnya di Inggris, mereka adalah sebuah band besar dipuja sebagai salah satu band terbaik yang pernah datang dari AS di dekade ’00 ini. Band tersebut berasal dari Nashville, dipersonali oleh 3 orang bersaudara dan satu orang sepupu yang mempunyai nama keluarga Followill, mereka kita kenal selanjutnya dengan nama Kings Of Leon.

Ketika mengeluarkan debut album mereka “Youth and Young Manhood” di tahun 2003, Kings Of Leon dicap segelintiran orang sebagai pendompleng kesuksesan The Strokes belaka. Walaupun sebenarnya dengan southern rock yang menjadi ciri khas mereka, Kings Of Leon mempunyai sesuatu yang berbeda dari The Strokes.

Waktu mereka mengeluarkan album ketiga mereka “Because Of The Times” tahun lalu, para skeptiker yang mencela musik Kings Of Leon di awal karirnya mulai tergugah. Karena terdengar di sana lagu – lagu yang berpotensi menjadikan Followill bersaudara menjadi band yang besar. Dan benar, musim panas lalu, mereka mendaratkan slot headliner di ibu dari segala festival musik, Glastonbury. Sesuatu yang bahkan belum pernah dirasakan oleh The Strokes sekalipun.

Beberapa bulan setelahnya, di bulan September, Kings Of Leon lalu merilis album keempat mereka “Only By The Night”, sebuah album yang ketika dirilis langsung memuncaki album chart di Inggris, dan setelah 3 minggu terjual sebanyak 395,456 kopi. Sebuah figur fenomenal, mengingat mereka hanyalah sebuah keluarga dari Nashville yang terlalu banyak menghabiskan waktu mereka untuk memainkan musik dari akar mereka berasal dan untuk itu menjadi cool dengan sendirinya tanpa harus berbuat apa-apa lagi.

“Only By The Night” didengarkan secara keseluruhan adalah Kings Of Leon dalam posisi puncaknya. Empat album berlalu sudah, dan mereka semakin mengasah kemampuan mereka menulis lagu. Karena 11 lagu yang ada di sini adalah keindahan melodi tanpa batas, dan secara musikalis mereka pun berkembang dengan suara-suara yang mencengangkan. Sesuatu yang tidak didapat oleh The Strokes di album mereka terakhir.

Diawali oleh “Closer” dengan suara gitar yang mengendap-endap misterius, seperti menyiapkan kita memasuki malam yang tidak diketahui akan membawa kita ke mana. Caleb Followil memasturbasi jiwa dan suaranya dengan menyanyikan “She took my heart, I think she took my soul”. Mereka tapi tidak lama-lama berdiri di kemisteriusan malam tersebut, ketajaman bas Jared Followil memaksa kita terjaga memasuki “Crawl”. Lagu ini terdengar begitu kotor sekaligus memberikan sensasi sonic baru dalam lagu Kings Of Leon.

Sensasi itu diteruskan dengan intro gitar Matthew Followill di single pertama mereka dari album ini “Sex On Fire”. Di lagu ini Kings Of Leon seperti mulai mengerti kalau mereka adalah sebuah band yang dapat memberikan arti, tidak peduli apakah mereka dikenal di negaranya sendiri atau tidak. Ketika mendengarkan “Use Somebody” yang menyusul lagu tersebut, kita mulai mengerti mengapa mereka layak untuk menjadi headliner di Glastonbury. Karena lagu ini, seperti juga “Manhattan” dengan gitar jangly-nya adalah lagu yang diplot untuk dinyanyikan oleh puluhan ribu, bahkan ratusan ribu orang dalam sebuah stadion atau hamparan rumput festival. Sebuah lagu yang membuat orang-orang tak dikenal yang menyaksikan mereka saling merangkul dengan penuh ekstase, saling mengekspresikan perasaan terbaik yang pernah dirasakan di bawah anggunnya matahari senja. Mereka akan memompa perasaan kalian, sampai kalian tersungkur menangis penuh kebahagiaan.

“Revelry” akan membawa kita terbaring menatap hamparan langit luas yang menyadarkan kita sesulit apapun keadaan kita, di atas sana selalu akan ada langit yang memberikan kesempatan. Memasuki “17” Kings Of Leon melanjutkan perjalanan mereka, membuai kita dengan sepenuh hati. Bila didengarkan dengan seksama struktur lagunya terdengar sederhana, tapi kekuatan melodi yang dinyanyikan Caleb, yang membuat kita seperti tidak dapat melarikan diri dari lagu tersebut.

Album ini memang seperti dirancang oleh Kings Of Leon sebagai senjata untuk menaklukkan massa global, dimulai dari negara asal mereka sendiri, Amerika Serikat. Tapi mereka tidak meninggalkan jubah musikalis mereka dan menukarnya dengan rock pop picisan, mereka melakukannya dengan kelas dan dengan melodi yang akan diingat lama oleh kita, seperti yang mereka lakukan dengan “I Want You” di penghujung album ini. Album ini ditutup dengan sebuah nomor melankolis, hampir ke arah sebuah elegi berjudul “Cold Dessert”. Di lagu ini, Caleb si anak bekas pendeta itu, menanyakan arti kehidupannya dengan bernyanyi pilu “Jesus don’t love me/No one ever carried my load/I’m too young to feel this old”. Suara gitarnya kemudian kembali meraung beradu dengan petikan melodi Matthew, merampungkan album ini pada klimaksnya.

Bila album ini mengantarkan Kings Of Leon pada dominasi global, maka ini adalah kemenangan mereka yang mencintai dan memainkan musik dari jiwa mereka. Bila tidak, sepertinya itu semua pun tidak menjadi relevan. Karena pada akhirnya dengan jadwal Kings Of Leon yang akan bermain di Madison Square Garden pada 29 Januari 2009, kita tahu, dengan caranya sendiri mereka telah membuktikan dirinya menjadi band yang mempunyai arti untuk orang banyak. Lagipula 100.000 orang yang menyaksikan Kings Of Leon di Glastonbury tahun ini dan ratusan ribu lainnya yang membeli “Only By The Night” tidak mungkin salah. Band ini memang telah mendefinisikan sesuatu, dan sesuatu itu adalah sebuah musik yang memberikan harapan dan keindahan.

David Wahyu Hidayat


0 Responses to “Album Review: Kings Of Leon – Only By The Night”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Oktober 2008
S S R K J S M
« Sep   Des »
 12345
6789101112
13141516171819
20212223242526
2728293031  

Categories

Blog Stats

  • 137,446 hits

%d blogger menyukai ini: