14
Sep
08

Album Review: The Verve – Forth

The Verve

Forth

EMI – 2008

Terakhir kali kita mendengarkan jejak musikalis The Verve, Britpop sudah dalam penghabisan masa hidupnya. Richard Ashcroft akhirnya menyadari mengapa drugs yang ia telan tidak pernah berfungsi. Band tersebut mengakhiri masa hidupnya ketika mereka mendapati dirinya sedang di posisi terbaik secara finansial.

Sejujurnya, terlalu sayang mereka membubarkan diri waktu itu, karena mereka selalu punya keunikannya sendiri, dengan kharisma Ashcroft yang tidak ada bandingannya di dunia ini. Ia tipe seorang frontman yang hanya cukup berdiri di atas panggung, tanpa melakukan satu hal apapun, dan kita semua akan menyembahnya, mengakuinya sebagai seorang mesias musikalis kita. Lalu di samping dirinya, selalu ada seorang Nick McCabe, seorang gitar jenius yang memproduksi riff psikedelia, yang terkadang kita pun tidak pernah mengerti akan mengarah ke mana, tapi untuk alasan tertentu memuaskan batin.

Ketika pertengahan tahun lalu mereka mengumumkan akan membuat album baru dengan formasi asli mereka, batin yang sama bersorak, tidak sabar menunggu kembalinya mereka di tengah-tengah kita. Dan dalam sekejap, album mereka yang dinamakan “Forth” telah menempati hati kita di tahun musikalis 2008 ini.

Didengar untuk pertama kali, “Forth” melebihi ekspektasinya, karena akhir-akhir ini band yang melakukan reuni, tidak lain hanyalah sebuah cara untuk mengisi dengan cepat pundi-pundi musisi gaek yang sudah tidak tahu lagi mau melakukan apa selain menjual kembali kejayaan masa lalu dengan format yang memalukan. Tapi “Forth” bukanlah sekedar reuni biasa. Album ini, meneruskan di mana The Verve berhenti hampir 1 dekade yang lalu. Dan untuk kebahagiaan kita semua, “Forth” bukanlah lanjutan dari elegi solo karir Richard Ashcroft, tetapi album ini mengembalikan psikedelia yang kita harapkan dari sebuah album The Verve.

“Sit and Wonder” diawali dengan lengkingan gitar McCabe, dipadu dengan ritmus drum Peter Salisbury yang kompak menaikkan ekstase kita akan kembalinya mereka. Dan dengarkan dengan seksama, Ashcroft sang mesias juga kembali dengan vokalnya yang menantang kita dengan penuh percaya diri. “Love Is Noise” mengambil sebuah judul yang dapat juga ditaruh di koleksi lagu-lagu solo karir Ashcroft. Lagu ini adalah ciri khas pop ala Richard Ashcroft, dengan struktur kord yang diulang-ulang sepanjang lagu, sayangnya efek vokal yang terdengar di seluruh lagu ini, terdengar sedikit mengganggu untuk ukuran The Verve. Walaupun didengarkan dalam konteks album, lagu ini yang kita harapkan dibuat The Verve di tahun 2008, dan tidak ada sesuatu pun yang salah dengan hal itu.

Sedikit lebih baik, tawaran akan sebuah nada – nada yang akan diingat datang dalam bentuk “Judas”, sebuah lagu yang menceritakan seorang Ashcroft yang membeli sebuah Coffee Latte di New York. Nada – nada melodik itu, lalu tampil dalam bentuk yang lebih mengagumkan lagi dalam “Valium Sky”. Membayangkan lagu ini, dinyanyikan di tengah – tengah padang rumput basah yang baru diguyur hujan oleh puluhan ribu orang, di bawah langit emas seperti yang tampak dalam sampul album ini, yang ada hanyalah sebuah bayangan akan bulu kuduk yang merinding, dan imajinasi bahwa The Verve pernah dan bisa menjadi band terbesar yang pernah ada di dataran Inggris.

Sisi epik “Forth” ditampilkan dalam 3 lagu di album ini yang berdurasi lebih dari 7 menit: “Noise Epic”, “Columbo”, dan sang penutup “Appalachian Springs”. Beberapa bagian dalam ketiga lagu tersebut menampilkan 4 personil The Verve dalam kondisi terbaiknya, di mana mereka memainkan musik tanpa peduli dengan sekitar, lebih mirip sebuah jam liar daripada sebuah lagu yang direncanakan strukturnya, tapi justru di situ mereka memberikan sebuah karya yang ultimat, sebuah karya yang bahkan kita dengarkan dalam bentuk sebuah album yang telah diproses dengan segala tehnologi abad 21 masih terasa sentuhan jiwa yang mereka berikan di album ini.

Dengan “Forth” The Verve telah resmi kembali ke dunia kita. Bila dipikir-pikir lagi, mungkin dunia dan mereka sendiri membutuhkan kevakuman selama 1 dekade tersebut. Karena mungkin hanya dengan cara tersebut, mereka dapat kembali mengagumkan kita dengan serangan psikedelia yang solid, sehingga membuat kita kembali berkata “untuk hal ini, The Verve ada, dan inilah alasan mengapa kita mencintai band tersebut”.

David Wahyu Hidayat


3 Responses to “Album Review: The Verve – Forth”


  1. 1 aisahamini
    September 18, 2008 pukul 2:52 pm

    tau the verve cuma bittersweet symphony.

    nice review anyway. jadi penasaran pengen dengerin musik seperti apa yang mereka usung setelah 1 dekade vakum.

  2. 2 David Wahyu Hidayat
    September 18, 2008 pukul 5:23 pm

    @ Aisahamini:

    kalo mau tau musik the verve seperti apa, bisa coba dengerin kompilasi mereka -> This Is Music: The Singles 92 – 98, keluaran taun 2004. Lagu2 yang ada di situ cukup mewakili spektrum musik the verve yang sebenernya.

    Cheers,

    david.

  3. 3 terdampar
    Desember 1, 2008 pukul 1:25 am

    yes, saya sependapat. im a huge fans of the verve terutama dengan sang mesia vokalis “MAD Ashcroft” dan album ini sangat tak mengecewakan. karena musik mereka terdengar dan terasa kembali ke nuansa musik yang mereka usung dari awal karirnya psychedelic brit rock. heheheh. Dan mereka tak termakan sebuah paradikma bahwa kebanyakan para band besar yang melakukan album reuni dan menghasilkan album yang sampah. The Verve berani tetap mengeksplor musik mereka sendiri. dan Nick McCabe memang gitaris yang jenius dan liar walau kalo di atas panggung selalu terlihat kalem. tp yang buat saya sedikit sedih kenapa CD yang saya beli ga ada lembaran2 sleeve mereka. apakah cd yang import ada sleeve nya?

    but still the verve is in the top


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


September 2008
S S R K J S M
« Jul   Okt »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Categories

Blog Stats

  • 137,446 hits

%d blogger menyukai ini: