19
Apr
08

Album Review: Vampire Weekend – Vampire Weekend

Vampire Weekend

Vampire Weekend

Aksara Records/XL – 2008

Beberapa waktu silam, ketika web 2.0 dengan segala keajaibannya belum hadir, hype diciptakan oleh media seperti MTV dan NME. Sekarang ini di tengah-tengah jeratan kehidupan modern, hype diciptakan oleh media lain. Masih ingat dengan cerita Arctic Monkeys dan Myspace? Jaringan sosial dan blog populer, saat ini mempunyai kuasa untuk menentukan siapa yang akan menjadi trend di masa depan. Terkadang mereka menemukan sebuah band di saat band tersebut belum saatnya untuk ditemukan, sehingga yang sering terjadi adalah antiproduktif dari pemberitaan yang terlalu cepat itu.

Lalu apa yang terjadi dengan Vampire Wekeend? Sama seperti nasib band asal New York lainnya The Strokes, yang sudah mendapatkan tempat di halaman depan NME sebelum mengeluarkan satu album pun, Vampire Weekend berada di posisi yang sama, bedanya hanya, bagi mereka majalahnya bernama Spin bukan NME. Dan Vampire Weekend mendapatkan dukungan yang sangat hangat dari blog populer seperti Stereogum, dan atas satu lain hal, dukungan tersebut berbuah manis untuk mereka. Digembar-gemborkan sebagai band yang menfiturkan musik asal Afrika, Vampire Weekend dicap sebagai sesuatu yang paling menggairahkan yang pernah terjadi untuk dunia musik kita saat ini.

Tapi lupakan sejenak, pengaruh musik Afrika tersebut, dan manifesto band itu sendiri yang mendeklarasikan para personilnya tidak boleh memakai t-shirt di atas panggung, dan menggunakan suara gitar clean seperti suara gitar Johnny Marr di “This Charming Man” sebagai panduan sound gitar mereka. Sebenarnya apa yang menarik dari musik Vampire Weekend itu sendiri?

Mereka menampilkan melodi. Melodi untuk diingat dan sebuah atmosfir yang nyaman ketika mendengarkan musik mereka. Ia tidak menampilkan sesuatu yang hendak dibawa ke malam minggu terliar kita, ataupun mengusir keresahan hati kita, tapi atmosfir yang dibawanya adalah atomosfir menyamankan. “Mansard Roof” dan “Oxford Comma” kedua lagu yang mengawali album ini, menyampaikan itu dengan jelas. Di “Mansard Roof” suara gitar yang menyayat halus di akhir lagu itu membuat kita sebagai pecinta musik indie menoleh kepada mereka, sedangkan kumpulan pecinta musik lainnya akan jatuh hati kepada aransemen string dan pola drum etnis yang ada di lagu ini. “Oxford Comma” menampilkan Vampire Weekend dengan latar belakang sebagai mahasiswa kampus elit Columbia University di New York bercerita tentang keabsurdan literatur Inggris. Ezra Koenig sang vokalis melantunkan nada-nada menarik yang secara keseluruhan gampang dicerna tanpa harus menjual diri secara berlebihan.

“A-Punk” yang berirama cepat, menggabungkan lantunan ala punk yang terdengar setengah komedi setengah ironi, sedangkan orkestra pada “M79” seperti campuran antara musik rennaisance dan seorang indie nerd yang terlalu lama terkungkung di segi empat kamarnya.

Menarik pada musik Vampire Weekend, adalah mereka cerdas dalam memilih kata-kata dan memainkan musik mereka tanpa durasi yang terlalu lama. Lagu seperti “Campus” dan “Bryn” berdurasi kurang dari 3 menit, tapi menampilkan esensi popnya secara maksimal. Terlebih intro dari “Bryn” yang mencoba menaklukkan resistensi kita terhadap musik yang disuguhkan Vampire Weekend. “Walcott” juga mencoba menampilkan suasana nyaman yang sama. Atmosfir keidealan sebuah hari yang tidak ingin diusik dengan hal-hal yang tidak esensial. Lagu ini terdengar seperti hendak mengajak kita menikmati suasana lembutnya cahaya surya yang menerpa wajah kita. “The Kids Don’t Stand A Chance” mengakhiri album ini, dengan melodi gitar yang tersisip lembut dan iringan orkestra yang tepat tanpa berlebihan.

Untuk alasan tertentu musik yang ditampilkan Vampire Weekend dan strategi DIY yang mereka terapkan membuahkan hasil. Dalam skalanya sendiri mereka sukses membawa musik mereka ke audiens yang lebih luas, dan apakah kita ingin mengakui mereka sebagai sesuatu yang menggairahkan untuk saat ini, semuanya terserah kuping kita masing-masing. Yang jelas dengan attitude DIY mereka dan keiregularan musik mereka, ada sesuatu yang membuat kita tidak bisa memalingkan muka dari band yang satu ini.

David Wahyu Hidayat


1 Response to “Album Review: Vampire Weekend – Vampire Weekend”


  1. 1 Merdi
    April 7, 2011 pukul 5:50 pm

    Terima kasih untuk reviewnya :’) anda secara tepat mendeskripsikan influence langsung band kami, yaitu Pure Saturday dan Ride, yang justru kadang kami lupa karena banyaknya musik lain yang kami dengarkan. Tapi ketika kami bertemu satu sama lain, pasti salah satu dari kami ada yang baru mendengarkan lagu-lagu dari 2 band ini dan secara tidak langsung membentuk ‘aura’ band kami sendiri. Sekali lagi terima kasih untuk reviewnya, sukses selalu.

    Best,

    Merdi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


April 2008
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Categories

Blog Stats

  • 137,446 hits

%d blogger menyukai ini: