19
Apr
08

Album Review: Sweaters – Written Like Postcards

Sweaters

Written Like Postcards

Lovely Records – 2008

Pada dasarnya manusia senang bermimpi. Karena itu merupakan pelarian kita dari kenyataan dunia yang kita hidupi hari demi hari. Untuk beberapa orang bahkan kegiatan tersebut tidak hanya dilakukan pada waktu tidur, tetapi juga dalam keadaan sadar, di tengah hari yang pekat dengan segala macam kesibukan yang mengitari kita. Bagi orang-orang seperti ini, sebuah band asal Jakarta telah menghantarkan sebuah soundtrack yang paling pas untuk kegiatan yang bahasa kerennya dikenal dengan nama daydreaming.

Mini album, bila kalian mau menyebutnya seperti itu, dari Sweaters berjudul “Written Like Postcards” berisikan 8 buah lagu yang disimak lebih lanjut seperti perpaduan antara titisan Pure Saturday dan band shoegaze asal Oxford, Ride.

Dibuka dengan “Some Things Are Left Unsaid” yang menset mood dreamy seseorang dengan sempurna, album ini lalu menampilkan keceriaan yang tak terdeskripsikan dalam “Everything For Everyone”. Melodinya tersenyum manis, sebuah lagu yang cocok untuk sebuah road trip dengan pemandangan sawah menghijau di kiri-kanan jalan atau juga untuk sebuah perjalanan tanpa makna menyusuri Jakarta di hari Minggu malam.

“Ordinary Girl” terdengar seperti karya awal Ride dengan harmonisasi vokal yang samar-samar terdengar, melodi gitar yang terdenting tanpa henti dan distorsi halus yang mengelilinginya. Para penatap sepatu di negeri ini akan berterima kasih kepada Sweaters karena mereka telah menghadiahkan kita dengan lagu ini. “When You Smile” meneruskan album ini, dan terus terang orang-orang seperti kita tidak akan pernah bisa mengerti mengapa lagu sehalus dan seindah ini tidak bisa mendapatkan audiens yang lebih luas. Karena lagu ini memiliki segalanya untuk menjadi sebuah lagu pop yang harus digilai massa. Tapi mungkin itu yang membuat kita mencintai band seperti Sweaters, karena mereka tidak dicemari dengan polusi korporasi yang sering menggerogoti band-band saat ini.

Kedua lagu yang direkam live di album ini “Shine” dan “25 Dazzling Stars” seperti memberikan arti tersendiri dalam ke-indie-an band ini. Kedua lagu ini mencerminkan keesensialan karya Sweaters tanpa balutan produksi yang terlewat canggih dan terkesan artifisial. Di kedua lagu ini, indie menemukan keindahannya dalam arti sebenarnya, terutama dalam “25 Dazzling Stars” yang bisa dikatakan adalah sebuah perayaan akan kemurnian indie pop dalam bentuk terbaiknya dengan nada-nada upliftingnya.

Boleh dibilang, kita beruntung, sangat beruntung, Lovely Records telah merilis karya-karya Sweaters ini dalam “Written Like Postcards”. Walau mungkin durasinya terlalu singkat, tapi siapa yang peduli akan hal itu, karena 8 lagu yang ada di dalamnya akan selalu membuat kita tersenyum sendiri di bawah langit Jakarta yang kita cintai.

David Wahyu Hidayat


6 Responses to “Album Review: Sweaters – Written Like Postcards”


  1. Juli 24, 2008 pukul 6:52 pm

    Terima kasih banyak atas review-nya yang sangat indah. Thanks for the support.

  2. 2 David Wahyu Hidayat
    Juli 24, 2008 pukul 10:08 pm

    terima kasih kembali. Selalu senang bisa mensupport nada-nada indah kosmos musikalis kita. ;p

    cheers,

    david.

  3. Juli 25, 2008 pukul 7:55 pm

    terima kasih untuk pengapresiasiannya untuk musik kami. suatu kebahagiaan bisa mempersembahkan sesuatu yang bisa dinikmati, mohon maaf apabila ada kekurangan dalam written like postcards. semoga kami bisa memperbaikinya dalam album nanti, dan bisa mempersembahkan kembali sesuatu yang bisa kita kenang bersama nantinya.
    senang membaca tulisan anda, sangat terharu bagi saya secara pribadi ketika membaca tulisan ini. karena tulisan ini berdasarkan atas pendapat sebuah individu, bukan secara institusi atau media. dan untuk saya, ini lebih berarti dari review bagus di media manapun. karena berarti sweaters mempunyai hubungan yang personal antara sweaters dan pendengarnya. terima kasih sekali atas review anda yang mengobarkan semangat kami untuk berkarya, orang-orang seperti andalah yang membuat kami tetap ada, sekali lagi terima kasih.🙂
    anyway, hope we can meet one day and share some stories..

    sekali lagi terima kasih, david

    salam,

  4. 4 David Wahyu Hidayat
    Juli 26, 2008 pukul 2:45 am

    sekali lagi, terima kasih kembali. band seperti kalian, membuat kita semua percaya, masih ada musik yang masih bisa kita percayai dan membuat kita tersenyum sambil melewati hari.

    selalu senang bila kita sempat bertemu…mungkin di gig kalian tanggal 03 aug di aksara?

    cheers,

    david.

  5. Juli 28, 2008 pukul 4:34 pm

    wah, sayang sekali acara itu ditunda sampai bulan oktober nanti.🙂 akan kami info kan apabila ada gigs dalam waktu dekat. senang bisa bertemu anda nanti, david.

    cheers!😀

  6. 6 Merdi
    April 7, 2011 pukul 5:52 pm

    Terima kasih untuk reviewnya :’) anda secara tepat mendeskripsikan influence langsung band kami, yaitu Pure Saturday dan Ride, yang justru kadang kami lupa karena banyaknya musik lain yang kami dengarkan. Tapi ketika kami bertemu satu sama lain, pasti salah satu dari kami ada yang baru mendengarkan lagu-lagu dari 2 band ini dan secara tidak langsung membentuk ‘aura’ band kami sendiri. Sekali lagi terima kasih untuk reviewnya, sukses selalu.

    Best,

    Merdi


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


April 2008
S S R K J S M
« Mar   Mei »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Categories

Blog Stats

  • 137,446 hits

%d blogger menyukai ini: