15
Des
07

Album Review: The Brandals – Brandalisme

cover_brandalisme_small.jpg

The Brandals
Brandalisme
Aksara Records – 2007


Jakarta. Beberapa orang menyebutnya megapolitan, pusat nadi perekonomian nasional. Orang – orang lainnya menyebutnya sebagai sebuah kampung besar yang semrawut, tempat tertumpahnya sosok – sosok tubuh dari pelbagai penjuru nusantara. Berantakan, tidak tertata, tetapi di satu titik mempunyai daya tarik yang membuat kita berulang kali tidak sanggup untuk tidak mengatakan tidak terhadap apa yang ditawarkan ibukota ini.

Gambaran ketidakteraturan yang membius kita dengan magis itu dipotretkan secara sempurna oleh kelima orang pemuda dari belahan timur Jakarta yang menyebut diri mereka The Brandals. Sejak meluncurkan debut album pertama mereka di tahun 2003, The Brandals tidak hentinya memuja kota yang dipenuhi keunikan karakternya ini dalam lagu – lagu mereka. Setiap album mereka seperti sebuah homage terhadap Jakarta, dan sesungguhnya mereka adalah salah satu band yang berhasil menampilkan kepenatan sekaligus keagungan kota Jakarta dalam musik yang mereka hantarkan.

Bertolak belakang dari sebuah idealisme “Brandalism” yang menolak berbagai macam bentuk korporasi dalam ruang publik (brand – vandalism), The Brandals menamakan album ketiganya sesuai dengan ideologi tersebut. Memang bukan unsur politik idealisme tersebut yang lebih ingin disampaikan The Brandals di album ini, tetapi semangat brandalisme itu mereka sampaikan dalam bentuk musik mereka yang selalu mengajak pendengarnya untuk berpikir secara independen tanpa terpengaruh hal – hal yang bersliweran di dunia sekitar kita. Selain itu, secara musikalis mereka mencoba mengembangkan musik yang mereka mainkan tanpa harus kehilangan jati dirinya.

Proses itu terdengar langsung di lagu pembuka “Surat Seorang Proletar Buat Para Elit Borjuis” yang sangat bernuansakan psychedelic seakan seperti mendengarkan suara John Lennon era Sgt. Pepper bersahutan dengan cabikan gitar Keith Richards.

Lagu kedua “100% Kontrol” adalah lagu di mana kita dapat menemukan alasan mengapa kita pada awalnya jatuh cinta pada band ini. Dalam hanya kurun waktu 02:21, di lagu itu The Brandals berhasil memberikan apa yang selalu kita cari dalam musik mereka: Irama yang membuat kita berdansa seperti orang gila di tengah pekatnya malam Jakarta yang sumpek, liukan gitar yang mendorong kita untuk melakukan pose “air guitar” memalukan ketika sedang berpesta dengan teman – teman terbaik kita dan lirik yang membuat mereka yang terlalu sibuk dengan pekerjaan kantoran teringat kembali bahwa segala sesuatunya berada dalam pegangan kita masing – masing, bukan orang lain “Detik hidupmu terukur angka, jangan mengalah ke balik meja….Jangan hilang arah, harus pegang 100% kontrol”. Mantap!

Dalam “Janji 1000 Hari” The Brandals menyuarakan protes mereka yang sudah lelah akan cuap – cuap uap politikus tertentu. “Oh tapi wajahmu lekat di setiap sudut jalanan, memang ku tak tahu siapa engkau. Janjimu terasa dekat, kata cerita masuk telinga, deritaku cuma berita”. Di akhir lagu ini ereksi gitar Bayu berejakulasi, seiring dengan suara efek pesawat terbang yang bergemuruh. Klimaks perasaan itu tidak berhenti begitu saja, ekstase kuping kita langsung digempur dengan riff gitar manis dalam “Tipu Jalanan”. Belum pernah sepertinya sebuah lagu yang mengungkapkan kegusaran jalan – jalan Jakarta dikemas sebegitu catchy. Ini adalah anthem baru jalanan Ibukota.

Salah satu hal menarik dari album ini, adalah ia seperti terpisah dalam 2 sisi. “Tipu Jalanan” mengakhiri paruh pertama “Brandalisme” yang dinyanyikan dalam bahasa Indonesia. 6 lagu setelahnya dinyanyikan oleh Eka Annash dalam bahasa Inggris, memberikan album tersebut 2 sisi wajah yang berlainan tetapi tetap menyampaikan pesan yang sama dalam kesatuan konsep “Brandalisme”.

Dimulai dengan “City Boy” yang terdengar seperti definisi baru dari megapolitan blues dan disusul dengan raungan wahwah dalam “Restless”, musik di paruh kedua album ini terkesan lebih terus terang dibanding dengan sisi pertamanya. “Is It You Girl” dengan iringan terompet dan lirik “Is it you girl that would steal my heart into the nights” memberikan sebersit momen kedamaian ideal dalam album ini. Suasana melodi Italo-Western menghiasi “I Got A Woman” yang memberikan pembenaran akan konsep The Brandals untuk selalu menantang pendengarnya dalam musik yang mereka ekspresikan.

Paruh kedua album itu ditutup dengan “The Assassin”. Sebuah lagu yang benang merahnya dapat ditarik sampai kepada The Doors. Suasana pyschdelic seperti pada waktu album ini dimulai kembali mendominasi, memberikan perasaan penuh misteri, gelap tak tertebak, sekaligus menyatakan kemegahan album ini “dibunuh” di lagu terakhir tersebut dengan teriakan Eka “I’m already dead, I’m already dead”.

“Brandalisme” menunjukkan kedewasaan The Brandals dalam bermusik, tanpa harus kehilangan apa yang selama ini menjadi keistimewaan mereka. Mereka tetap bermain dengan perasaan kita untuk percaya akan sesuatu bernama Rok ‘N’ Rol sambil menghasut nalar kita untuk selalu mempertanyakan apa yang terjadi di sekitar kita. Dan semuanya itu mereka lakukan bukan tanpa agenda, tapi dengan konsep. Seperti kata seorang John Lennon “There is nothing conceptually better than Rock ‘N’ Roll”, dalam hal ini The Brandals telah menghayatinya dengan segenap jiwa raga mereka, dan untuk itu kita harus memberikan 100% respek kita untuk mereka.

David Wahyu Hidayat


4 Responses to “Album Review: The Brandals – Brandalisme”


  1. Januari 23, 2008 pukul 5:06 am

    gwe dah punya CDnya…heuheueheue

  2. 2 mersey
    Januari 23, 2008 pukul 1:58 pm

    memang CD mereka patut dibeli. salah satu musik lokal terbaik yang dirilis tahun 2007. dukung terus musisi lokal dan media musik fisikal….hehehhehehe….

  3. 3 distortion_politic
    Januari 30, 2008 pukul 6:46 am

    Applause bwt album ketiganya. Ini yang gw tunggu-tunggu. The Brandals udah banyak memberi inspirasi bwt hidup gw. Membangunkan idealis gw yang udah lama tertidur. Ditambah lagi Eka sang vokalis yang memang seorang seniman. Orang yang tak hanya melihat sesuatu dari satu sudut pandang saja. Sedikit sekali band yang berani membuat konsep musik seperti mereka. Lirik yang nyentil dan musik yang berani, cukup membuat mereka yang berada di “atas” merasa tak nyaman. Gw akui, di album ketiganya ini, the brandals terdengar lebih dewasa. Tak seperti di album sebelumnya yang jauh lebih liar. Thanks The Brandals. Gw tunggu gebrakan kalian selanjutnya.

  4. 4 bhakti "mBek Jaya" utomo
    Februari 28, 2008 pukul 9:09 am

    sial awak ni kehabisan cd nya jadi mo gak mau beli kaset pitanya, btw long live the brandals


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Desember 2007
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Categories

Blog Stats

  • 137,446 hits

%d blogger menyukai ini: