07
Nov
07

Album Review: Maps – We Can Create

maps-we-can-create.jpg

Maps
We Can Create
Mute – 2007


Sebuah album dari seorang yang berkata “I love my Ipod, but I still buy CDs” sudah pasti bukan merupakan sesuatu yang sampah atau? James Chapman, orang yang berdiri di belakang Maps mendefinisikan baru arti “Shoegazer” di tahun 2007 ini. Akhirnya setelah nostalgia tanpa henti dengan album – album dari Ride dan My Bloody Valentine, orang – orang yang memproklamirkan diri mereka sebagai sebuah “scene that celebrates itself” mempunyai soundtrack baru untuk menatap kembali sepatu-sepatu yang pernah atau sedang singgah di dunia mereka.

“We can create” sebegitu mencengangkannya bahkan para juri mercury award pun menominasikannya sebagai album terbaik tahun ini. Track yang menjadi pembuka album ini, “So Low, So High” langsung akan membawa kita kepada sebuah perasaan mengawang, tanpa rasa, kehilangan pijakan. Lagu tersebut kemudian disusul dengan “You don’t know her name” yang melanjutkan perasaan tersebut ke sebuah mimpi terabsurd dan terindah kita di tengah sebuah siang bolong.

Dalam sebuah wawancaranya dengan liberationfrequency.co.uk, Chapman mengatakan “I wanted to write a positive album though- as euphoric and uplifting as possible…It’s about escapism- whether that’s through music or drugs or whatever”. Dan menyimak setiap lagu dalam album tersebut satu-persatu, perasaan yang timbullah hanyalah anggukan setuju atas pernyataan Chapman tersebut. Bahkan di lagu – lagu yang bertempo relativ lebih pelan seperti “Glory Verse” dan “Lost My Soul” pun, Chapman masih mampu menghipnotis kita dengan suara vokalnya yang menyeret malas.

Sulit dibayangkan, bila ia membuat album ini sepenuhnya hanya dibatasi oleh 4 tembok tempat tidurnya. Terutama mendengarkan lagu seperti “To The Sky” dan “Back+Forth” yang berpotensi menjadi anthem-anthem baru shoegazer dengan nada-nada melodis penuh mimpinya dan puluhan beat serta hentakan drum yang mendenterminasi kita dengan sangat di lagu yang disebutkan terakhir.

Ketika lagu tersebut memasuki 2 track terakhirnya “Don’t Fear” dan “When You Leave” album tersebut dituntaskan dengan sangat megah. Mungkin tidak akan ada album yang diakhiri semegah itu di tahun 2007 ini. Dan ketika suara Chapman yang menyanyikan “When you leave, I ain’t coming/What you have, comes to nothing” pelan-pelan surut di lagu terakhir tersebut, digantikan oleh suara burung-burung berkicau, semuanya seakan terdengar seperti seharusnya. Seperti suara pagi hari yang baru. Euphoric and Uplifting. Dan kita pun tidak bisa melakukan hal lain selain tersenyum.

David Wahyu Hidayat


1 Response to “Album Review: Maps – We Can Create”



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


November 2007
S S R K J S M
    Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Categories

Blog Stats

  • 137,446 hits

%d blogger menyukai ini: