07
Nov
07

Album Review: Coldplay – X & Y

xycoverbig.jpg

Coldplay
X & Y
Parlophone – 2005


“Make Trade Fair”. Setiap orang yang pernah melihat diri Chris Martin di konser atau layar kaca, pasti pernah melihat tulisan tersebut di tangannya. Sebuah slogan yang mengkampanyekan perdagangan yang lebih adil di dunia ini. Sebuah ide untuk membuat dunia ini sedikit lebih baik. Tapi sejujurnya, pernahkah ada seorang di antara kita yang mencoba menerapkannya? Kita tetap saja membeli merk kopi yang biasa kita beli dibanding membeli kopi “fair handle”. Salut untuk mereka yang merubah cara berkonsumsi dirinya karena seorang Chris Martin.

Pernahkah kita tapi melihat arti slogan tersebut di dalam diri Chris Martin sendiri, atau Coldplay sebagai sebuah band, atau dari segi industri musik sekarang ini? Dengan harga tiket konser aktuel mereka sebesar 53 Euro, tidakkah semuanya itu patut dipertanyakan? Tidakkah mereka dapat memberikan “fair trade” untuk fans mereka sendiri? “Fair Trade” adalah ide yang baik, tapi butuh waktu bagi semua orang untuk meresapnya di otak dan menjalankannya di kehidupan masing-masing.

Tapi tulisan ini bukanlah tentang “Fair Trade”, artikel ini seharusnya menceritakan betapa indahnya album terbaru Coldplay. Benarkah semuanya begitu indah? “This album cannot fail” tulis NME di review album mereka. Dan memang ketika mendengar nomor pertama di “X & Y” semua ramalan itu seperti terpenuhi. “Square One” adalah lagu pertama Coldplay yang tercipta tidak berdasarkan komposisi Mr. Paltrow. Guy dan Will menemukan “groove” di lagu tersebut dengan sebuah drum-computer yang telah usang. Terdengar begitu menjanjikan.

Memasuki “What If” euphorie tersebut tapi tertahan. Karena lagu ini adalah lagu standard Coldplay yang akan membuat kita menyalakan korek masing-masing di tengah lautan manusia yang tidak kita kenal di sebuah stadion. Yang disayangkan dari “X & Y” adalah semua lagu – lagu yang berada di album tersebut terlalu mudah untuk diperkirakan. Mendengarkannya pertama kali, seperti mendengarkan lagu yang sama berulang-ulang. Bahkan lantunan Martin pun seperti dinyanyikan dalam nada yang sama.

Steve Lamacq (moderator ternama BBC Radio One) mendapatkan kehormatan pertama menjadi orang pertama di dunia ini, yang dapat memutar “Speed Of Sound”. “I can feel laser” katanya waktu itu, dan bayangan kita langsung terbang melihat sinar-sinar laser hijau dalam “Clocks” di dalam live DVD mereka dari tahun 2003. Mereka yang tergila-gila akan “A Rush Of Blood To The Head” akan jatuh pingsan mendengar lagu ini, tapi sebagian lainnya mengharapkan sesuatu yang lebih dari Coldplay. Begitu juga dengan “Talk”. Lagu yang didasari sample dari Kraftwerk (Computer Love) ini, tidak dapat memenuhi harapan yang sudah terlanjur besar.

Memang “X & Y” tetap memiliki permatanya seperti dalam “Fix You” dan “Twisted Logic”, tapi masih terlalu dini untuk mengklaim album ini sebagai album terbaik yang pernah dibuat Coldplay. Beberapa orang di antara kita masih mengharapkan kenaivan sebuah album seperti “Parachutes”. Mungkin seperti “Make Fair Trade” album ini membutuhkan waktu untuk memberikan artinya masing-masing di kehidupan kita. “The lights will guide you home” lantun Martin di “Fix You”, dan mungkin itu pula yang akan menuntun kita untuk mencintai “X & Y”.

David Wahyu Hidayat


1 Response to “Album Review: Coldplay – X & Y”


  1. April 23, 2008 pukul 9:02 am

    pokoe coldplay palin keren dah!!!
    gw suka banget album X&Y!!


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


November 2007
S S R K J S M
    Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Categories

Blog Stats

  • 137,446 hits

%d blogger menyukai ini: