07
Nov
07

Album Review: Arctic Monkeys – Whatever People Say I am, That’s What I’m Not

wpsiatwin.jpg

Arctic Monkeys
Whatever People Say I Am, That’s What I’m Not
Domino – 2006


The fastest selling debut album in UK Album Chart. Bila sebuah band Indie, berhasil melakukannya, maka ini adalah sesuatu yang mengagumkan, dan percaya atau tidak ini hanya akan terjadi di Britannia Raya. Mungkin kita harus hidup di sana untuk mengerti mengapa hal ini bisa terjadi. Bahkan seorang Robbie Williams atau Gareth Gates pun tidak sanggup untuk melakukan hal ini.

Sebuah band asal Sheffield, bernama “Arctic Monkeys” telah berhasil melakukan hal yang menurut banyak orang tidak dapat dilakukan. Ingat terakhir kali ada band dari Sheffield yang pernah menembus ingatan dunia pop kita? Sejauh yang bisa teringat hanyalah “Pulp” dengan lirik mengagumkan dari seorang Jarvis Cocker. Sebuah band yang memainkan rok ‘n’ rol ala The Libertines menjual album lebih banyak dari Sugababes di minggu pertama penjualannya, apakah yang telah terjadi? Inikah saatnya di mana suara feedback gitar menjadi kembali lebih “cool” dari goyangan pantat seksi? Jika ini yang terjadi, maka inilah saatnya untuk berteriak “Hurra” dengan kedua kepalan tangan meraih langit, apapun status dan pekerjaanmu, tidak peduli apakah dirimu seorang pelajar sekolah berusia 17 tahun, atau seorang insinyur di perusahaan IT yang besar. Inilah saatnya kita kembali mendengarkan musik yang berati bagi diri kita.

Karena mendengarkan debut album “Arctic Monkeys” kita akan dibawa meledak ke sebuah luapan perasan yang tidak akan kita bayangkan. Mereka yang berumur 17 tahun, dan terlalu muda untuk mengenal seorang Liam Gallagher, Ian Brown, dan Stephen Patrick Morrissey, akan menemukan sesuatu yang berarti di hidupnya mendengarkan suara gitar di album ini. Mereka yang berusia 27 tahun, akan secara tidak sadar menghentakkan kakinya penuh ekstase, sambil tersenyum puas di depan layar komputer di tempat bekerja mereka, karena album inilah yang mengantarkan perasaan mereka kembali ke 10 tahun yang silam.

“Whatever People Say I Am, That’s What I’m Not” adalah sebuah album untuk berdansa. Lagu – lagu seperti “I Bet You Look Good On The Dancefloor”, “Fake Tales Of San Fransisco”, “Dacing Shoes” ataupun “Still Take You Home” adalah sebuah jaminan mutu pengisi lantai dansa di sebuah malam Indie di diskotek kesayangan kalian. Kuartet yang konon masih berusia 19 tahun ini, tidaklah mencoba memoles perasaan mereka dalam setiap lagunya, yang keluar hanyalah sebuah sensasi untuk terus menikmati kehidupan yang nyata.

“Arctic Monkeys” adalah sebuah fenomena di mana rockstar dihasilkan oleh sebuah acara televisi dan tidak membawa hasil. Dengan menyebarkan demo musik mereka melalui Internet, “Arctic Monkeys” berhasil menjual habis arena konser legendaris di London “Astoria”, sebelum mereka mengeluarkan album mereka. “Arctic Monkeys” telah mengembalikan arti “Music For The People”, seperti yang dilakukan Oasis dengan “Definitely Maybe” di tahun 1994. Ini adalah jawaban terbaik musik yang bisa diberikan kepada dunia industrinya yang panik terhadap kemajuan tehnologi.

Walaupun, ini bukanlah debut album terbaik sepanjang masa, tetapi ini adalah album yang akan mendefinisikan sebuah era baru, yang akan kembali memberikan inspirasi kepada generasi 17-an di saat ini. Paling tidak album ini akan membuat kita berdansa dengan tersenyum puas, dan sekali lagi merentangkan kepalan tangan kita ke langit. Apapun yang terjadi, ini adalah album yang harus dimiliki, karena album ini adalah kemenangan kita, saatnya untuk berpesta!

David Wahyu Hidayat


5 Responses to “Album Review: Arctic Monkeys – Whatever People Say I am, That’s What I’m Not”


  1. Juni 8, 2008 pukul 6:45 pm

    hmm…
    ini album emang keren.
    post-punk revival dengan retro wannabe.
    dengan sound gitar yang kasar dan melodi yang seenaknya.
    tapi itulah yang bikin lagu2 Arctic Monkeys jadi sangat keren…

  2. 2 SIS
    September 23, 2008 pukul 9:42 pm

    lagu-lagu di album ini emang keren abis.
    melodi gitarnya enek buat dimaenin.

  3. 3 anton_baadillaa
    Desember 21, 2008 pukul 8:57 pm

    album ini dah mendarah daging di diri gue………. nge-feel banget……….!!!

  4. Oktober 2, 2010 pukul 10:41 am

    salam kenal,,kunjung balik dengan blogku yang aneh ini ya,,ayo ,,jadi temanku tukeran link boleh kan,,


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


November 2007
S S R K J S M
    Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Categories

Blog Stats

  • 137,356 hits

%d blogger menyukai ini: