06
Nov
07

Konser Review: Monster Of Spex Festival – Cologne, 20.08.2004

Monster Of Spex
c/o pop
Tanzbrunnen, Cologne, 20.08.2004

Line Up :

Franz Ferdinand (Glasgow)
Phoenix (Paris)
Radio4 (NY)
T. Raumschmiere (Berlin)

Review :
Hal-hal di sekitar kita akan berubah, dan bukan menjadi baik. Apakah kita akan pernah merasakan lagi sesuatu yang lebih indah dari masa muda kita, ketika kita menghabiskan malam minggu di klub favorit ditemani asap rokok yang mengepul dan alkohol yang lengket di tubuh? Rambut Beatles kita akhirnya harus mengalah dengan potongan rapi foto lamaran kerja, begitu juga dengan sepatu adidas kesayangan kita. Kemajuan tehnologi semakin menumpulkan insting manusia, dan cinta terkadang berubah menjadi sesuatu yang menfrustasikan.

Di saat seperti ini, Matahari terasa hanya bersinar untuk semua orang yang kita benci. Di saat seperti ini kita hanya ingin berlari, meninggalkan semuanya di belakang. Di saat seperti ini kita hanya ingin tenggelam dan menari di dalam musik yang kita cintai.

Tapi masih adakah musik yang patut untuk mengiringi kita menari melepaskan semua penat kita? Walaupun hanya untuk sesaat? Di tengah semua hiruk pikuk plastik pop dari mereka yang bangga dipilih sebagai “pop-idols” , dan “ipod” sebagai simbol status baru para eksekutif muda?

100_0324_copy.jpg

Pertanyaan tersebut dicoba dijawab oleh penyelenggara festival musik elektronik bernama c/o pop (Cologne On Pop). Dengan slogan “We build this city on electronic music”, c/o pop 2004 ialah festival pertama pengganti “Popkomm” (Pameran dan salah satu festival musik terbesar di Jerman, yang sejak tahun ini pindah ke Berlin). Beda dengan festival musik pada umumnya, c/o pop tidak berlangsung di satu tempat, dengan “Main Stage” yang gigantik, tetapi di hampir semua klub yang tersebar di Cologne, dan berlangsung selama 2 minggu. Salah satu tujuan c/o pop ialah untuk menonjolkan para artis label-label independent (non-) Electronic, yang di luar dari “Mainstream” memang telah mempunyai fans-basis yang cukup kuat.

Spex sebagai salah satu majalah popkultur ternama di Jerman, juga ikut ambil bagian dalam c/o pop ini dengan mengadakan Monster Of Spex, yang merupakan highlight dari 2 minggu festival elektronik di Cologne ini. Dengan Line Up : T.Raumschmiere, Radio4, Phoenix dan Franz Ferdinand; Spex seperti ingin menggabungkan kedua kubu pecinta indie-gitar dan elektronik di Cologne. Sebuah pilihan yang tidak salah, karena 2 hal esensial itulah yang dilakukan keempat line-up Monster Of Spex di repertoir musik mereka. Menggunakan gitar dan segala elemennya, untuk menciptakan musik yang bisa dibuat untuk menari.

T. Raumschmiere

Terletak tepat di pinggir sungai Rhein, Tanzbrunnen merupakan kulise yang sempurna untuk menikmati suguhan musik para pahlawan elektorogitarpop dari Berlin, NY, Paris dan Glasgow. Sekitar pukul 16:15, para indie boys dan indie girls disertai dengan electrokids mulai memenuhi Tanzbrunnen. Disinari dengan lembutnya sinar Matahari sore hari, dan diiringi tiupan angin sejuk, suasana Tanzbrunnen sore itu seperti layaknya sebuah taman rekreasi keluarga. Di mana-mana terlihat indie boys dengan t-shirt the Smiths, indie-girls dengan belasan button di jeans belel mereka, Sid-Vicious wannabe, dan lain, dan lain. Singkat kata sore itu ialah rekreasi keluarga elektroindiepop.

T.Raumschmiere memulai set mereka pukul 16:45. Memakai overall montir berwarna putih seperti layaknya sebuah konsep band, keempat personil T.Raumschmiere membuka set mereka dengan penuh power. Technorock bercampur dengan punk mendominasi warna musik keempat “montir” asal Berlin tersebut. Hentakan dominan elektrodrum ditimpa dengan loops alá momen terbaik di Kid A, serta manipulasi suara melalui vocoder, berhasil membangunkan sebagian penonton dari mandi Matahari mereka.

Tidak kurang dari Nick McCarthy dan Paul Thomson dari Franz Ferdinand membaur di tengah-tengah penonton, tersenyum dan sesekali menggoyangkan ringan pinggul mereka menyaksikan penampilan T.Raumschmiere. Keindahan sebuah dunia indie, bahkan band pujaan pun bertingkah seperti teman kita sendiri, dan bukan sebagai Rockstar.

Elektropunk T.Raumschmiere merupakan awal yang baik dari Monster Of Spex. Sayang, lagu mereka kurang dikenal, karena bukan tidak mungkin mereka akan menjadi lumayan besar kalau saja mereka sedikit meraih satu atau dua kesuksesan.

Radio 4
Bila kita sedikit bermain permainan yang dilakukan oleh John Cusack dan Jack Black dalam “High Fidelity” maka “top 5 list” penulis artikel ini tentang 5 hal yang mengingatkan dirinya dengan New York ialah : Spiderman, Friends, 11.09, Max Payne dan The Strokes. Setelah menyaksikan penampilan Radio 4, “top 5 list” itu harus dikoreksi sedikit.

100_0327_copy.jpg

Dengan memadukan materi lama dengan lagu-lagu dari “Stealing Of A Nation” yang akan dirilis di Jerman pada tanggal 6 September nanti, kelima New Yorker tersebut menyajikan sebuah set yang sangat kompak, dan definitiv harus menjadi hit di setiap “dancefloor” diskotik yang masih mempunyai insting untuk “dance-tune” orisinil.

Lagu-lagu dari Gotham seperti “Our Town”, “Save The City”, “Struggle” malam itu terkesan, dengan perang loops dan perkusi, 1000x lebih “danceable” dari yang terdengar di CD. Terlebih lagi “Dance To The Underground” yang telah menjadi “unofficial soundtrack” untuk malam itu. Bukan hanya penonton saja yang bergoyang di tengah-tengah lagu, para personil Radio4 sendiri dengan enerjik menjiwai lagu mereka dengan bergoyang sambil memainkan instrumen mereka.

“Party Crasher” single pertama mereka untuk “Stealing Of A Nation” adalah sedikit kekecewaan bila didengar di Radio. Tapi di Tanzbrunnen malam itu, single tersebut berubah menjadi binatang liar yang membuat kita menghentakkan kaki ke lantai, dan mengepalkan tangan ke langit luas yang terhampar di atas kepala. Lagu-lagu baru yang dibawakan malam itu patut menjadikan “Stealing Of A Nation” sebagai salah satu album terbaik di pertengahan tahun kedua 2004. Loops yang mereka gunakan lebih intensif, dan di setiap sudut lagu terdengar suara perkusi tanpa mengurangi peran bas dan gitar.

Seperti yang telah dijanjikan di atas, daftar 5 hal yang mengingatkan diri kita tentang New York harus dirubah. Mahkota musik paling menggairahkan dari New York harus dicabut dari The Strokes. Untuk sementara Radio4 yang berkuasa, paling tidak sampai akhir tahun 2004.

Phoenix

Hal yang paling membuat kita semua iri pada Phoenix ialah karena mereka semua 4 sahabat yang membuat musik yang mereka cintai dan sukses. Lalu mereka berhasil membuat semua wanita yang tidak akan pernah kita sentuh walaupun kita sudah menggunakan semua karisma kita, menggoyangkan pantat sexynya, dengan lagu kreasi mereka. Hal ketiga yang membuat iritasi terhadap 4 anggota Phoenix ialah, bagaimana mereka sanggup kelihatan cool dengan pakaian, yang bila kita pakai tidak akan pernah kelihatan mantap. Masalah karisma atau masalah musik atau itu semua karisma yang datang dari musik yang mereka bikin?

100_0345_copy.jpg

Phoenix menyapa publik Cologne malam itu dengan “Too Young”. Vokalis Thomas Mars mengenakan baju souvenir bergambarkan katedral Cologne yang menjadi ikon kota tersebut (Mengerti maksud paragraf di atas?) terlihat seperti seorang yang baru saja bangun tidur dan tidak peduli dengan keadaan sekitar. Dengan 2 musisi tambahan pada kibor dan drum, Phoenix benar-benar menyajikan cremé de la cremé “R&B Indierock”, malam itu di Tanzbrunnen. Mungkin kombinasi tersebut yang membuat Phoenix 4 tahun lalu dengan “United” , tidak tertahankan dapat memadukan sekaligus, pecinta indie-guitar dan elektronik di satu album.

Penampilan mereka malam itu menjadi lebih hidup dengan seringnya Mars mencoba untuk berkomunikasi dengan penonton. Tidak jarang ia meminta penonton untuk bertepuk tangan atau menyanyi bersama. Selain itu, mereka juga pintar memainkan emosi penonton dengan momen-momen tidak terduga, seperti ketika mereka berhenti memainkan alat musik masing-masing selama kurang lebih satu menit dalam “I´m An Actor” lalu melanjutkan lagu tersebut sampai habis. Seperti menekan tombol pause dan play di CD-Player kita.

100_0344_copy.jpg

Kedua gitaris Christian Mazzalai dan Laurent Brancowitz saling mengisi satu sama lain dengan sempurna. Tidak ada satu distorsi pun yang terdengar berlebihan. Suara unik Phoenix dengan beberapa petikan yang terasa seakan tidak pada tempatnya, seperti pada “Funky Squaredance”, justru membuat penampilan mereka semakin menarik.

“Things are gonna change/are not for better/don´t know what it means to me/it´s hopeless hopeless” lantun Mars di awal “Everything Is Everything”. Entah apa yang mereka pikirkan ketika membuat lagu tersebut. Malam itu di Tanzbrunnen teks lagu tersebut seharusnya diganti menjadi “Things are gonna change/are for better/know what it means to me/it´s hopeful hopeful”, karena mendengarkan Phoenix ialah mendengarkan datangnya kembali harapan, datangnya sebuah saat yang indah, datangnya kembali musim semi setelah musim dingin yang panjang.

“If I Ever Feel Better” adalah highlight penampilan mereka malam itu. 4 tahun lalu ketika lagu tersebut pertama kali terdengar di radio, mungkin bisa dikategorikan sebagai “french, strange and somehow funky”, dan berpikir 3 bulan lagi kita semua akan lupa akan lagu tersebut. 4 tahun berlalu, dan melodi “If I Ever Feel Better” tidak pernah hilang dari kepala kita, dan akan selalu menemani kita di saat-saat paling bahagia.

100_0342_copy.jpg

Publik Cologne menikmati “Everything Is Everything” untuk kedua kalinya di encore mereka malam itu. Kali ini versi akustik. Hanya ditemani oleh Mazzalai suara Mars menjadi melankolis dan lagu tersebut mendapatkan perspektif yang beda sama sekali dari versi regulernya. “Partytime” menutup set mereka malam itu, dan sekali lagi Tanzbrunnen menari dan meloncat merayakan musik keempat sahabat asal Paris tersebut.

Franz Ferdinand

Setlist : Cheating On You, Auf Achse, Jaqueline, Tell Her Tonight, Take Me Out, Come On Home, This Boy, Matineé, Van Tango, 40”, Michael, Darts Of Pleasure. Encore : Shopping For Blood, This Fire.

Besar penantian publik Monster Of Spex terhadap penampilan Franz Ferdinand malam itu. Apakah mereka sebesar apa yang diberitakan musik press dari Inggris, atau ternyata hanya sekedar hip belaka? Atau apakah mereka memang seperti seorang Kaisar Franz Ferdinand yang kematiannya mengawali perang dunia pertama? Sebuah pribadi yang sanggup mengubah dunia (musik) ?

100_0359_copy.jpg

Pukul 20:45 momen yang ditunggu itu pun tiba. Keempat pahlawan baru dunia indie dari Glasgow pun berdiri di depan keluarga besar elektroindiepop. Mereka pun langsung memulai set mereka dengan “Cheating On You”. Euphorie murni.

Alex Kapranos, Nick McCarthy, Bob Hardy, dan Phil Thomson terasa seperti pahlawan menang perang yang dielu-elukan rakyatnya. Franz Ferdinand ialah kemenangan kecil rakyat underground terhadap mainstream. Terlebih lagi di pop-mekah Britannia Raya. Di sana, mereka ialah mesias yang membuktikan menjadi pemusik inteligen bukan berarti musik mereka harus sulit dicerna orang banyak. Menjadi pemusik inteligen berarti juga mematahkan aturan main industri musik saat ini, yaitu menjadi sukses dengan musik ciptaan sendiri.

Dengan imej sebagai sebuah art-band, kita dapat memperbolehkan hal-hal yang mungkin terlihat memalukan dalam band lain. Seperti sebelum mereka memainkan “Jaqueline”. Alex sengaja menyemprotkan Pepperspray pada Nick. Sebagai korban Nick pun jatuh secara teatralis, dan berpura-pura buta sejenak. Alex lalu berkata pada penonton “So Nick´s blind, now I can sing a song for you”. Ia pun lalu memulai belle and sebastian –esque intro dari “Jaqueline”. Selesai intro Nick pun bangun, lalu menghajar gitarnya tanpa ampun, dan lagu tersebut pun berubah dari Dr. Hyde ke Mr. Jeykll. Gitar Stakkato Nick dan Alex, dicampur dengan teriakan “but for chips and for freedom/I could die” adalah sebuah momen untuk tersenyum. Musik bisa terdengar sebegitu bodohnya, tetapi di lain pihak, momen-momen seperti itu yang membuat kita merasa sedikit lebih hidup.

100_0361_copy.jpg

Di “Auf Achse” giliran Bob yang unjuk gigi dengan betotan bas, langsung dari “Alex James´ School”. Intro lagu tersebut diinspirasikan oleh sebuah Film-TV Jerman yang sering ditonton Nick waktu kecil ketika ia tinggal di Bayern. Gitaris yang sempat belajar kontra bas di Munich ini, sering berkomunikasi menggunakan bahasa Jerman dengan publik Monster Of Spex malam itu, yang tentu saja disambut secara hangat. Histeria.

“Tell Her Tonight” melanjutkan repertoir mereka malam itu disusul dengan “Take Me Out”. Single yang berhasil menembus top 3 chart di Inggris itu, menawarkan semua aspek sebuah lagu pop sempurna, walaupun mempunyai struktur lagu yang aneh. Pergantian tempo di tengah lagu, sebenarnya berlawanan dengan prinsip klasik sebuah lagu pop, tetapi sisi itulah yang membuat “Take Me Out” begitu menggoda. Di lagu tersebut Alex tak tertahankan lagi, menghentakkan kaki, meloncat, dan berteriak melantunkan lagu tersebut. Seperti juga dengan penonton, yang menerima ajakan Franz Ferdinand untuk keluar membebaskan ekspresi dan diri mereka malam itu.

Tak terduga, Franz Ferdinand memainkan sebuah lagu baru berjudul “This Boy”. Sebuah nomor cepat, saudara kembar dari “This Fire”. Bukan sesuatu yang baru, tetapi efektif untuk sebuah konser open air.

100_0391_copy.jpg

“Matinee” mengubah Tanzbrunnen malam itu menjadi indie-paradis, begitu juga pada “Michael”. Mengagumkan. Hanya dengan lick guitar yang sederhana tidak lebih dari variasi 5 nada, dan serangan ritem gitar yang tiada hentinya dipadu dengan bas alá hari-hari awal blur, Franz Ferdinand berhasil menyulap Tanzbrunnen menjadi “dancefloor” terbesar Cologne malam itu. Di lagu tersebut pula, Alex memperkenalkan personil Franz Ferdinand satu persatu seperti layaknya seorang wasit tinju sebelum pertandingan bergengsi perebutan gelar kelas berat. Satu lagi hal tabu yang dilakukan Franz Ferdinand, dan hanya diperbolehkan karena mereka sejak awal mencap dirinya sebagai Art-Band, dan karena mereka telah memberikan kita album terbaik tahun ini.

“Dart Of Pleasure” ialah puncak Monster Of Spex. Keempat personil Franz Ferdinand benar-benar memberikan semua yang mereka punyai di dalam lagu ini, termasuk pose di seputar drum Phil Thomson, sebelum bersama penonton menyanyikan “Ich heisse Superphantastisch/Ich trinke Champers mit Lachsfisch”. Memang pantas mereka menyanyikan lirik tersebut, karena malam itu Franz Ferdinand benar-benar Super Phantastisch!!!

Monster Of Spex ditutup dengan “This Fire”. Dengan seruan “This Fire is out of control/ burn this city/burn this city” Franz Ferdinand bukan hendak meruntuhkan Cologne yang telah dibangun dengan musik elektronik, tetapi sebaliknya mereka telah membakar setiap electroindiekids Tanzbrunnen malam itu dan memberikan “groove” tersebut untuk disebarkan lebih lanjut.

Pada akhirnya saat seperti ini ialah saat yang mengagumkan. Mereka masih eksis. Musik yang dapat dibuat untuk menari ketika kita sedang jatuh. Dan ketika kita menari, kita diberikan harapan. Kita tidak bisa lagi mengubah hal-hal yang telah lewat, tetapi esok hari kita masih dapat melihat kembali kalau Matahari selalu bersinar untuk kita, dan kembali merasakan bahwa cinta adalah hal yang paling megah yang pernah ada.

David Wahyu Hidayat


0 Responses to “Konser Review: Monster Of Spex Festival – Cologne, 20.08.2004”



  1. Tinggalkan sebuah Komentar

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


November 2007
S S R K J S M
    Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Categories

Blog Stats

  • 137,356 hits

%d blogger menyukai ini: