04
Nov
07

Konser Review: Oasis – Duesseldorf, 09.03.2003

Oasis

Duesseldorf, Philipshalle

Minggu, 09.03.2003

duesseldorf_20030309_arno_09.jpg


“A decade ago, Oasis turned up and delivered something worth living for”

Ted Kessler, Editor NME

Penonton : 6000

Band Pembuka : The Hiss

Setlist : Fuckin´In The Bushes (Intro), Bring It On Down, The Hindu Times, Hung In A Bad Place, Supersonic, Columbia, Morning Glory, Stop Crying Your Heart Out, Little By Little, Cigarettes And Alcohol, Champagne Supernova, Better Man, Songbird, Born On A Different Cloud, Rock´n Roll Star.

Encore : Force Of Nature, Don´t Look Back In Anger, My Generation.

Review :

Lupakan sejenak The Beatles dan Rolling Stones, atau segala skandal yang pernah terjadi dengan band asal Manchester ini. Di atas panggung, Oasis masih tetap aktual seperti satu dekade yang lalu, ketika mereka memulai karirnya dengan Definitely Maybe. Setiap konser Oasis, ialah perayaan optimismus mengahadapi kehidupan di dunia ini, dan 6000 orang yang hadir di Duesseldorf Philipshalle malam itu, dapat merasakan dan menyaksikannya melalui setiap lagu yang dimainkan Oasis.

Sekitar pukul 21.00 waktu Duesseldorf Philipshalle, dimulailah ritual tersebut. “Are you ready? Are everyone at their place? Ready, set, go?” Kata-kata semacam itu, seperti pada start sebuah pesawat ulang-alik berhasil menaikkan emosi penonton, dalam versi yang berbeda dari Fuckin´ In The Bushes, lagu intro setiap konser Oasis sejak album Standing On The Shoulder Of The Giants.

Tak lama kemudian dentuman bas drum, dan serangan gitar Oasis meyeruak dari setiap PA di Phillipshalle, dan penonton pun semakin antusias menunggu para personil Oasis. Lalu tibalah saatnya. Kelima pahlawan mereka berdiri di atas panggung siap memainkan lagu-lagu yang menjadi penyelamat generasi 90-an : Alan White, Gem Archer, Andy Bell, Liam Gallagher, dan Noel Gallagher.

Oasis membuka set mereka dengan Bring It On Down, sebuah nomor lama dari Definitely Maybe. Di belakang mereka tergantung sebuah tulisan besar “EXIST”. Sebuah pernyataan bahwa mereka masih layak diperhitungkan di dunia musik saat ini. Sejak lagu pertama itu, Oasis membuktikan bahwa di atas panggunglah tempat yang terbaik buat mereka. Walau sering digerogoti oleh berbagai macam skandal, tapi setiap orang yang pernah melihat Oasis Live, percaya bahwa mereka masih merupakan salah satu band terbaik yang ada saat ini.

duesseldorf_20030309_arno_03.jpg

The Hindu Times menyusul di lagu kedua set mereka. Para penonton sudah tak terbendung lagi, ikut menyanyikan setiap lirik lagu tersebut. Liam Gallagher dengan gigi barunya setelah tragedi Muenchen sedang dalam penampilan terbaiknya. Tangan di belakang, menyanyi dengan kepala sedikit menengadah ke atas, tahu bahwa dirinya malam ini ialah pusat universum bagi 6000 orang di Phillipshalle. Noel, seperti biasa tetap “cool” berkonsentrasi pada permainan gitarnya yang mungkin sederhana, tidak penuh dengan teknik memusingkan, tapi ia tahu di mana kekuatannya, dan tidak peduli dengan apa yang seluruh dunia katakan. “Cos God Give Me Soul In My Rock And Roll!!!” Sebuah pemandangan yang menakjubkan ketika lighting di atas panggung hanya memberikan kesan hitam putih kepada kelima personil Oasis, mengingatkan kita pada video klip lagu tersebut. Euphorie!

Gem Archer “Hung In A Bad Place” ialah lagu berikutnya yang mereka mainkan. Rok n´Rol murni. Gitaris kedua ini ialah alasan selanjutnya mengapa Noel tidak perlu lagi kuatir dengan permainan gitarnya. Gem Archer benar-benar seorang gitaris yang jauh lebih komplet dari seorang Bonehead. Sebuah kepuasan tersendiri, kalau akhirnya salah satu band paling penting tahun 90-an boleh dilengkapi dengan seorang gitaris seperti Gem Archer.

Lagu-lagu berikutnya seperti sebuah paket nostalgia dari 2 album pertama mereka. Supersonic, Columbia dan Morning Glory. Hampir sepuluh tahun semuanya itu berlalu, tetapi ketiga lagu ini berkesan menyegarkan seperti ketika kita baru pertama kali mendengarkannya. “I need to be myseeeelllffff, I can´t be no one elseeee!!!” sebuah pesan Oasis bahwa kita hanya cukup menjadi diri kita sendiri, percaya dan semuanya pasti akan berhasil. Seperti kelima pemuda asal Burnage yang menjadi besar bukan hanya di Manchester saja tetapi di dunia. Columbia, sebuah nomor klasik yang mendapatkan permata barunya di dalam personil-personil baru Oasis. Begitu juga dengan Morning Glory, solo gitar di tengah-tengah lagu tersebut seperti tribut Noel kepada pahlawan gitar asal Manchester lainnya John Squire. Begitu juga dengan permainannya di akhir lagu. Seperti Squire di era “Second Coming”. Membuktikan bahwa diam-diam ia juga berhasil mengembangkan dirinya menjadi gitaris yang lebih baik.

“This One Is For England!” ucap Liam sebelum masuk ke Stop Crying Your Heart Out. Khayalan penonton pun kembali ke David Seaman, yang kesalahan fatalnya mengakibatkan Inggris harus pulang lebih awal di Piala Dunia 2002, dan kembali Oasis mengumandangkan optimismusnya. Bila segala sesuatu terlihat seperti tidak berfungsi, tidak perlu kita berlama-lama kuatir, karena cepat atau lambat saat kita pasti akan tiba. “Cos all of the stars are fading away, just try not to worry, we´ll see them someday”.

Setelah itu, saatnya untuk Liam mengistirahatkan pita suaranya karena giliran Noel yang mengambil alih vokal dalam Little By Little. Memang ini adalah salah satu nomor Ballad dari Noel yang tidak mempunyai perkembangannya. 3 Kord yang sama seperti sebelum-sebelumnya, tetapi tidak pernah sebuah daur ulang terdengar seindah seperti yang ia nyanyikan. Drummer Alan White menunjukkan sekali lagi sisi “Beatle-esque” dari Oasis.

Ini tidak berhenti di situ saja. Berlalu sudah masa Oasis menggabungkan Cigarretes & Alcohol dengan Wholla Lotta Love dari Led Zepellin. Noel dan Co. kembali menunjukkan kecintaannya pada The Beatles. Di tengah-tengah lagu tersebut ia menyelipkan lick “Day Tripper”. Sebuah momen yang berhasil mengagetkan penonton, dan kembali merayakan Oasis pada malam itu. Seperti tak pernah bosan menyampaikan keoptimisan hidup melalui lagu yang mereka mainkan, Liam menantang penonton untuk melakukan apa yang sudah berhasil mereka lakukan. Yaitu bila kita tidak pernah menyerah, dan menjadi diri kita sendiri, semuanya pasti akan dapat diraih. “You gotta…you…gotta….you gotta make itttt!!!”

d004.jpg

Mungkin inilah yang menyebabkan Oasis dicintai oleh banyak fansnya. Sebuah pandangan optimismus yang tak pernah mati tentang kehidupan yang kita jalani. Mereka telah berhasil melakukan apa yang tidak pernah terbayangkan sebagai seorang yang berasal dari grup “Working Class” sebuah kota besar di Inggris. Menjadi sebuah band besar, dan percaya akan arti lagu-lagu yang mereka mainkan. Kata-kata yang datang dari hati dan tidak dibuat-dibuat. Tidak susah melakukan apa yang sudah mereka lakukan di hidup kita dalam segala bentuknya, asal kita cukup percaya. Optimis!

Setelah Champagne Supernova, giliran Liam unjuk gigi menampilkan lagu-lagu ciptaannya. Better Man, berkesan seperti “Breaking Into Heaven” The Stone Roses. Disusul Songbird, yang dibawakan dengan indah secara akustik oleh seluruh anggota band. Lagu paling sederhana yang pernah dimainkan Oasis, penuh dengan perasaan. Keindaahan sebuah cinta dalam 2 menit terasa di Philipshalle saat itu. Kemudian Born On A Different Cloud. Lagu ini dimainkan live, berhasil menampilkan sisi kejutannya. Rok n´Rol Physchedelic khas Oasis. Kali ini tetapi lebih baik daripada Gas Panic. Kembali kelihatan kejeniusan Noel untuk bereksperimen dengan berbagai macam efek, yang sekali lagi mungkin terlihat sederhana, tetapi ia tahu di mana ia bisa memainkannya dengan efektif. Di atas panggung lagu ini jauh berkesan lebih hidup, dan menjanjikan dibanding dengan di album. Pada akhir lagu, Liam menaruh tamburin di atas kepalanya seperti hendak memahkotai dirinya sendiri, dan dengan “Thousand Yard Stare”-nya berdiri dengan kharisma yang menarik seluruh perhatian penonton padanya.

d007.jpg

“This one is the last song” ucapnya sebelum Rock ´n Roll Star, dan penonton pun kembali berjingkrak merayakan kelima pahlawannya, seperti merasakan bahwa bagi mereka tidak ada hal yang lebih penting di dunia ini pada saat itu selain Oasis! “In my mind my dreams are real, are you concerned about the way I feel, toniiiiiiiiittttteeeee I´m a Rock ´n Roll Staaaaaarrr!!!” seru penonton, yang disambut oleh Liam dengan “In Duesseldorf!!!”. It´s Only Rock And Roll, tidak lebih dan tidak kurang, what the world are still waiting for?

Setelah lagu tersebut, Oasis pun menghilang dari atas panggung. Selang beberapa saat, mereka pun kembali lagi di tengah sorakan penonton, tanpa Liam, karena kini giliran Noel menyanyikan lagunya. Force Of Nature dan Don´t Look Back In Anger. Ketika Noel menyanyi dan memainkan Don´t Look Back In Anger terasa sebuah momen ajaib di Philipshalle. Semua penonton menyanyikan lagu tersebut dari dalam hati. Ekstase, jenius, menakjubkan, kebahagiaan, dan semua kata-kata indah lainnya yang tak pernah terucapkan bercampur menjadi satu di Phillipshalle saat itu.

Liam muncul untuk lagu terakhir yang mereka mainkan malam itu. Sebuah nomor lama My Generation dari The Who. Sadar bahwa pesta mereka sebentar lagi akan berakhir, band dan penonton memberikan semuanya di lagu yang terakhir itu. Andy Bell memainkan bassnya seperti layaknya seorang John Entwistle, lebih cepat, lebih menggairahkan. Memang Oasis MK II dengan Gem dan Andy Bell, membuat band tersebut lebih bernyawa, dan mereka bersama Alan, Liam dan Noel berhasil memberikan sebuah pesta yang akan lama diingat oleh 6000 orang yang menghadiri konser tersebut.

Radiohead mungkin memproduksi musik yang lebih jenius, Travis dan Coldplay menjual CD lebih banyak dari Oasis, tetapi di atas panggung Oasis tetaplah yang terbaik. Mereka hidup untuk Rok ´n Rol, untuk optimismus yang mereka percaya dan bagikan kepada setiap orang yang mencintai lagu mereka, sehingga setiap orang yang meninggalkan ruangan konser tersebut, tahu bahwa esok hari mereka akan melakukan sesuatu yang lebih baik dari hari ini. Tanpa satu titik keraguan sekalipun. Believe, Belief, Beyond, Morning Glory!

David Wahyu Hidayat


4 Responses to “Konser Review: Oasis – Duesseldorf, 09.03.2003”


  1. 1 rose
    Juli 26, 2010 pukul 9:26 pm

    nicee!!
    I wish i was there, thanks for your sharing. Well and beautifully written esp the last part!

  2. 2 David Wahyu Hidayat
    Juli 26, 2010 pukul 9:45 pm

    @Rose, thanks, live forever!🙂

  3. 3 asep mangkurat
    Februari 18, 2015 pukul 9:16 am

    keren mas david…semoga Oasis bisa reunian dan mampir ke Indonesia…yang Noel Gallagher HFB Chasing Yesterday dtunggu ulasannya,terima kasih mass….


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


November 2007
S S R K J S M
    Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Categories

Blog Stats

  • 137,356 hits

%d blogger menyukai ini: