Halaman Arsip 2

01
Agu
11

Album Review: The Brandals – DGNR8

 

The Brandals

DNGR8

Sinjitos Records – 2011

 

Semua manusia memerlukan perubahan. Setiap perubahan memerlukan proses. Menjadikan sesuatu lebih baik adalah misi setiap perubahan, apakah itu dalam bentuk cepat dan instan seperti dalam sebuah revolusi atau bergerak lamban tapi pasti seperti sebuah evolusi. Dalam diri The Brandals, perubahan itu datang dalam album keempat mereka yang berjudul “DNGR8”.

 

Boleh dibilang perubahan ini adalah perubahan radikal, bukan hanya mereka mempunyai 2 personil baru: Radhit di bas, dan PM di gitar, tapi juga dari musik yang mereka sajikan. Sebagai sebuah album “DNGR8” akan membelah kutub para fans The Brandals, selain memenangkan beberapa fans baru dengan album ini. Meski tetap mengusung keliaran rok ‘n’ rol, tetapi menampilkan jiwa yang berbeda. Hilang sudah tandatangan stones yang melekat di banyak lagu pamungkas The Brandals. Suara gitar kasar condong ke blues digantikan dengan unsur akselerasi rock ala Primal Scream di era “XTRMNTR”. Jika saja Mani & Bobby Gillespie berkesempatan mendengar album ini, sudah pasti mereka akan bangga, kalau musik mereka bisa sampai dalam bentuk lain, dari latar belakang budaya lain, dan dengan penikmat-penikmat lain yang mungkin belum pernah mendengar nama Primal Scream.

 

Entah apa yang dipikirkan The Brandals membuat album ini, yang jelas “DGNR8” terdengar mengejutkan. Telinga kita digebrak dari awal dengan “Start Bleeding”. Baik pendengar yang mengerjakan PR-nya dan tidak, akan segera bereaksi sama “Musik siapakah ini?”. Kelompok yang satu merasa mereka pernah mendengar ini sebelumnya, kelompok yang lain merasa tidak percaya, mengapa band kesayangan mereka berubah menjadi seperti ini. Lagu pembuka album ini adalah salah satu lagu dengan enerji akselerasi pop yang pernah disajikan Primal Scream. Lagu yang mengikutinya “Dryland” seperti sebuah perjalanan kelimpungan melayang seorang pecandu yang mencoba membersihkan tubuhnya dari substansial terlarang dengan raungan elektronika yang tertata berserakan di lagu ini. Pecahan berikutnya “Love Detox” seperti ratusan tinju yang mencoba meruntuhkan sebuah tembok keangkuhan dengan dentuman bas terdistorsi dan gitar yang mengaum menggema berulang-ulang. Sedangkan “The Last Laugh” adalah lagu pengantar akhir pekan dasyhat yang akan memecahkan malam minggu.

 

Seperti juga album-album The Brandals sebelumnya, “DGNR8” tidak terlepas dari perpaduan lagu-lagu dengan lirik bahasa Inggris dan Indonesia. Seperti “Awas Polizei” yang mencolok telinga, “Perak” dengan suara gitar dan vokal yang gloria hedonis atau “Abrasi” yang industrialis bercerita tentang kebuntuan kelamnya menjadi besar di sudut-sudut ibukota.

 

Terlepas apakah ini hanya sebuah idolisasi gila atas nama eksperimen atau bentuk baru sebuah kreatifitas, kita semua bersyukur The Brandals memilih jalan penuh menantang ini. Akhirnya setelah sekian lama menunggu, ada juga band yang berani keluar dari pakem mereka, sambil tetap menjaga kehebatan sebuah esensi musik. Semuanya atas nama rok ‘n’ rol. Tuhan memberkati The Brandals.

 

David Wahyu Hidayat

14
Mei
11

Album Review: Polyester Embassy – Fake/Faker

Polyester Embassy

Fake/Faker

FFWD Records – 2011

 

Penantian yang sudah terentang sejak 5 tahun itu akhirnya diruntuhkan dengan suara distorsi gitar, membuka sebuah akselerasi rock ‘n’ roll seperti sebuah senapan mesin yang memuntahkan ribuan peluru panas untuk menundukkan terorisme jiwa yang sudah terlalu penat terkungkung kehidupan. Sejenak kita seperti tidak mengetahui dari band manakah suara maharaja ini datang? Suara efek gitar membayang yang menumpuk di belakang membentuk dinding suara tanpa batas, dentuman bas dan drum yang menghajar alam bawah sadar kita itu? Satu-satunya petunjuk adalah sebuah cakram padat yang dikemas dalam sampul berwarnakan kuning keemasan. Dengan ukuran sampul seperti sebuah 7” vinyl ketika kita memegang dan memandangnya, bahkan sebelum mendengarkan satu nada pun di dalamnya, mata kita sudah dimanjakan oleh karya seni tersebut. Lalu di menit 01:49 ketika vokal pertama album itu dikumandangkan, kita serentak mengetahui dan mengenal suara tersebut. Terakhir suara tersebut didokumentasikan dalam sebuah cakram padat adalah pada lagu “Home”, tahunnya adalah 2006, albumnya adalah sebuah mahakarya jenius skena lokal negeri ini berjudul “Tragicomedy”, bandnya adalah Polyester Embassy. Lagu yang kita dengarkan sekarang itu berjudul “Air”, pembuka album terbaru mereka yang dinamakan “Fake/Faker”, dan ini adalah sebuah realita sonik yang terjadi sekarang ini. Hadirin sekalian, Polyester Embassy telah kembali.

“Later On” menebarkan ancaman berikutnya, ancaman yang sudah kita rasakan sejak 5 tahun yang lalu, kalau band ini dengan sangat konstan dan serius akan mendobrak segala sesuatunya yang kita kenal dari persepsi musik negeri ini. Dengan nyanyian sangat melodius di awal lagu sampai coda dentingan piano, “Later On” mendeskripsikan agresifitas Polyester Embassy, seperti semua unsur elemen musik alternatif terhujam dan mengalir menjadi suatu keindahan yang teransemen sangat rapi. “LSD” menggeliat dengan alur musik yang membahayakan indera kita, ritem gitar yang bermunculan sesekali itu, dipadu dengan dentuman bas yang meliuk menari menggoda, sebelum serangan gitar itu datang bagaikan proyektil yang dikendalikan dari jauh oleh pedal wahwah.

Ketika kita sudah disiram penuh ekstase dalam 3 lagu pertama “Fake/Faker”, datanglah “Space Travel Rock N Roll”, nomor penuh psikedelia yang bertempo lebih lambat dari 3 lagu sebelumnya. Di manakah kita berada sekarang? Tanpa sempat berpikir kita merasakan kaki kita tidak lagi berpijak pada tanah kota ini, tubuh kita mengambang diiringi trumpet yang mengiringi akhir lagu ini. “Good Love” meneruskan perasaan mengambang penuh endorphine itu dengan liriknya “Let’s head up the rain fall with more smiles”. Direkam dengan hanya menggunakan gitar akustik, piano dan hapsichord, lagu berikutnya “Have You” merupakan lagu penyeimbang yang menenangkan aura psikedelia bombastis “Fake/Faker”.

Meskipun begitu, ketenangan tersebut tidak berlangsung lama, karena dalam “Small Stakes” kita kembali diporak-porandakan oleh suasana rock ‘n’ roll industrialis penuh dengan intensitas tinggi yang menyesakkan karena kita tidak akan pernah mengetahui mau dihempaskan ke mana gumpalan energi yang memenuhi kepala kita waktu mendengarkan lagu ini. Kemudian di urutan ke 8 adalah titel track album ini “Fake/Faker. Menusuk seperti light sabre Obi-Wan Kenobi dan Anakin Skywalker yang saling beradu memperebutkan kemenangan atas kepalsuan yang ada, sampai akhirnya ketika piano, blips, gitar, bas dan drum itu berulang-berulang menghentakkan pikiran dan telinga kita, semua itu seperti sebuah monolog untuk melawan semua yang memalsukan segala sesuatunya yang telah ada dan terlihat. “Fake/Faker” ditutup dengan “White Crimes”, dengan keagungan dan kerisauan bunyi synthesizer seperti terperangkap dalam salah satu skena film Stephen King.

5 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menunggu datangnya sebuah album. Namun dengan album yang definitif merupakan pengalaman sonik paling berharga tahun ini, Polyester Embassy telah menjustifikasi waktu penantian itu dengan sangat gemilang. Bila “Tragicomedy” terdengar seperti sebuah musik yang dikirimkan dari antariksa nun jauh di sana ke planet ini, maka “Fake/Faker” adalah usaha manusia untuk terbang menjelajah teritori galaksi yang belum pernah dihidupi dan dialami sebelumnya. Bersiaplah untuk menembus galaksi bersama album ini.

David Wahyu Hidayat

22
Apr
11

Album Review: The Strokes – Angles

The Strokes

Angles

Sony Music Indonesia – 2011

“Are you alright? What’s the matter, are you alright?” tanya sang host master David Letterman kepada Julian Casablancas ketika The Strokes tampil di acaranya membawakan “Taken For A Fool” dalam rangka mempromosikan album terbaru mereka “Angles”. The Strokes dalam acara tersebut adalah cerminan The Strokes 2011. Hilang sudah mentalitas gang yang ada pada mereka satu dekade yang lalu. Julian, bukan hanya di penampilan itu, tapi juga di penampilan-penampilan lainnya yang dapat dilihat di dunia maya untuk promosi “Angles”, terlihat penuh frustasi, terputus dengan rekan-rekan lainnya, yang masih tampak berusaha untuk membawa musik The Strokes maju, paling tidak itu yang terlihat dalam diri Nikolai & Nick. Albert terlihat seperti tenggelam dalam nostalgia era “Is This It”, sedangkan Fab berpenampilan paling flamboyan, nampak paling menikmati kembalinya band ini.

Disintegrasi bukanlah kata yang positif untuk mempromosikan sebuah band. Dengan proses rekaman yang sulit, di mana Julian hanya mengirimkan rekaman vokalnya melalui e-mail dan sesi-sesi individual seperti yang diakui oleh Nick, apa yang masih tersisa dari “Angles” dan The Strokes?

Jika 10 tahun yang lalu The Strokes memberikan kita sebuah pertanyaan “Is This It” maka jawabannya adalah YA dengan huruf sebesar Empire State Building. Setelah mendengarkan “Angles” jawaban pertanyaan itu adalah sebuah tanda tanya besar. Seperti terseraknya 5 anggota The Strokes dalam proses rekaman album ini, seperti itulah rasanya mendengarkan 10 lagu yang tersimpan di dalamnya. Ada beberapa jejak kegemilangan di sana, namun itu tidak cukup untuk mengembalikan hari-hari besar yang terhampar dari 2001 sampai dirilisnya “Room On Fire”. Walaupun harus diakui secara pengalaman sonik, album ini adalah karya yang lebih baik dari “First Impressions Of Earth”.

Single pertama “Under Cover Of Darkness” adalah melodi tipikal kejayaan The Strokes, dengan kedewasaan Nick & Albert dalam memainkan gitar, dan suara Julian yang akhirnya tidak terdengar seperti dinyanyikan melalui megafon, bahkan berani bermain dengan vocal layering, ini adalah benar-benar sesuatu yang kita harapkan setelah menunggu keluaran musikalis band ini selama 5 tahun. Bahkan di dalam kejayaan itu pun mereka masih terdengar seperti band yang sudah terserak namun entah apapun substansnya tetap dapat mempertahankan kesolidannya. “Machu Picchu” pun merupakan sebuah lagu yang sangat menarik, kental dengan geliat new wave seperti mengumandangkan, menjadi 80-an saat ini adalah sesuatu yang cool.

 “Taken For A Fool” dan “Games” adalah segelintir lagu yang dapat diberikan perhatiannya di album ini. Yang pertama adalah nomor stop-start dengan nyanyian yang akan mengusik lidah kita untuk beberapa lama, yang kedua adalah tron atari rock ‘n’ roll dengan hembusan synthesizer steril. Sulit membayangkan The Strokes akan pernah membuat lagu seperti ini balik di tahun 2001. Sementara “Gratisfaction” kembali menyegarkan kita akan sentuhan gitar pop 80-an dalam artiannya sendiri, sebelum “Angles” mengakhiri durasinya dengan “Life Is Simple In The Moonlight” yang terdengar seperti sebuah soundtrack acara televisi di akhir 80-an/awal 90-an.

The Strokes 2011, bukanlah The Strokes dengan dampak yang instan seperti di 2001. Tidak ada lagi yang harus diselamatkan kali ini, tidak ada topi merah bodoh Fred Durst yang harus dibasmi. Yang harus mereka selamatkan adalah diri mereka sendiri. Album ini mempunyai paruh waktu yang lama, butuh pendengaran beberapa kali untuk menyadari bahwa ini adalah usaha yang relatif bagus mencengangkan dari sebuah band paling berpengaruh dekade lalu. Paling tidak untuk saat ini kita berterima kasih karena mereka telah kembali, entah untuk berapa lama lagi. Hanya mereka sendiri sepertinya yang bisa menjawab.

David Wahyu Hidayat  

16
Apr
11

Pencerahan Jiwa: 10 rekaman yang membentuk selera musik saya

Beberapa waktu lalu, seorang teman saya berceloteh begini kepada saya sambil tertawa meringis: “Bayangin ya, waktu kecil, kita masih terima dari kakak/ayah/teman kita: Nih musik bagus untuk didengerin (sembari menyerahkan tumpukan CD/Kaset/Vinyl). Nanti ya, 10-20 tahun dari sekarang, apa yang kita kasih ke anak-anak kita ya, buat dengerin musik bagus? Hard disk portabel?”.

Bayangan yang ia lanturkan itu adalah bayangan menyeramkan. Melihat keadaan musik sekarang yang sudah menjadikan trashy pop sebagai suatu trend untuk digilai jutaan orang saja, sudah kelam. Paling tidak, walaupun secara pribadi tidak menyukai, Madonna dan Kylie masih memiliki kelas.

Membicarakan selera tidak akan kunjung habis. Karena selera dimiliki masing-masing orang dan terserah mereka akan melakukan apa dengan seleranya masing-masing. Selera terbentuk dari apa yang kita dengar dan lihat. Dari melihat dan mendengar filter itu dibuat, dari sana selera itu terbentuk. Paling tidak, saya masih mempunyai kumpulan CD untuk diberikan kepada anak-cucu saya nantinya, dan mudah-mudahan mereka masih memiliki selera yang masih dapat diselamatkan. Selama jaman dan waktu mengijinkan serta yang Maha Kuasa masih berkenan, saya masih akan terus mengumpulkan bentuk fisik dari musik yang membentuk selera saya. Mudah-mudahan ini semua masih bisa dinikmati sebagai bagian dari warisan budaya generasi anak-cucu saya.

Di bawah ini, adalah 10 rekaman, tidak dalam urutan tertentu, yang membentuk selera musik saya saat ini. Mudah-mudahan saya berkesempatan memberikan ini semua, beserta CD-CD lainnya kepada anak saya. Happy Record Store Day!

David Wahyu Hidayat

1.    Vs. – Pearl Jam (Epic Records, 1993)


Album ini adalah tapal batu berubahnya selera musik saya, dari kekaguman masa kanak-kanak terhadap grup vokal muda dari NY, kepada sebuah bentuk musik yang lebih mentah dan kasar, menyuarakan kegelisahan pubertas dan pemberontakan jiwa yang tidak pernah mengerti apa-apa. Teman SMP saya memberikan sebuah mixtape berisikan Nirvana di sisi A dan Pearl Jam di sisi B, kaset itu lalu menggerakkan saya membeli album ini. Setelahnya selera musik saya tidak pernah sama lagi seperti sebelum-sebelumnya.

2.    The Beatles – The Beatles (Apple, 1968)


Album The Beatles mana yang terbaik akan selalu menjadi perdebatan sepanjang masa. Tapi album inilah yang sebenarnya membuat saya menjadi kerasukan band legenda ini. Yang membuat saya menemukan album ini adalah ketidaksengajaan yang sebenarnya lucu untuk dikenang. Di penghujung dekade 90-an, seorang yang waktu itu dekat dengan adik saya, entah untuk alasan apa, mengirimkan album ganda ini dalam bentuk kaset. Mungkin dipikirnya album ini adalah alasan bagus untuk membuat dirinya impresif terhadap adik saya, sekaligus membawa adik saya ke selera musik yang bagus. Yang terjadi adalah, saya membajak album itu dan mendengarkannya secara intens. Memang sebelumnya saya sudah mengenal The Beatles lewat, sekali lagi lewat sebuah mixtape dari teman SMP yang sudah saya sebut di atas, yang dengan bangga memberikan judul mixtapenya “The Beatles Restrospective: 1963-1970”, dan beberapa peristiwa unik ketika ayah saya tiba-tiba menyetel lagu mereka di rumah. Tetapi saya belum pernah mengenal The Beatles seperti saya mengenalnya dalam “The White Album”. Lagu-lagu seperti “While My Guitar Gently Weeps”, “Helter Skelter”, “I Will”, “Happinnes Is A Warm Gun”, dan “Everybody’s Got Something To Hide Except Me And My Monkey” memberikan sebuah ruangan baru dalam definisi The Beatles ke otak saya. Saya memutuskan untuk mencintai band ini dengan sangat, dan ketika saya mulai bekerja di Jakarta, gaji pertama saya, dan gaji-gaji saya di setiap bulannya, saya gunakan untuk mengumpulkan studio album mereka, sampai akhirnya koleksi itu terlengkapi.

3.    The Bends – Radiohead (Parlophone, 1995)


Saya membeli album ini, cukup telat. Di tahun 2000, ketika saya sedang liburan awal tahun ke Jakarta di tengah-tengah kuliah saya waktu itu di Jerman. Pertangahan tahun yang sama, saya dan beberapa teman melakukan sebuah pekerjaan musim panas di sebuah kota di bagian tengah Jerman, di sebuah pabrik pemasok drum penampung untuk sebuah perusahaan kimia. Dalam perjalanan menuju pabrik setiap pagi, istirahat siang di taman dekat pabrik tersebut, dan dalam perjalanan trem pulang di sore hari ini, album ini setiap saat melekat menemani saya di discman yang saya bawa kemana-mana waktu itu. Memang, saya sudah terlambat 5 tahun untuk diperkenalkan dengan pengalaman sonik yang ada di album itu, tapi di musim panas itu mendengarkan “The Bends”, “My Iron Lung”, dan kesterilan melodik “Bullet Proof…I Wish I Was” membawa saya mengerti, mengapa Radiohead adalah maestro musik jenius yang akhirnya membawa mereka menghasilkan album-album mahakarya di tahun-tahun sesudahnya, di antaranya adalah “Kid A” yang merupakan album favorit Radiohead saya.

4.    The Stone Roses – The Stone Roses (Silvertone Records, 1989)


Ketika Oasis meledak di tahun 1995, teman SMA saya yang mempunyai pengetahuan musik seperti musikpedia berjalan mengatakan hal ini kepada saya “Elo harus dengerin The Stone Roses, karena mereka telah melakukannya duluan sebelum Oasis melakukan apa yang mereka lakukan sekarang”. Setelahnya saya hanya membeli The Complete Stone Roses di kaset, karena hanya itu yang dapat dibeli di Jakarta pada waktu itu. Beberapa tahun setelahnya, ketika saya memiliki kesempatan menempuh pendidikan di Dortmund, saya akhirnya membeli debut album The Stone Roses yang legendaris itu. Edisi US, dengan “Elephant Stone” di track ketiga (Saya baru tahu sesudahnya bahkan, kalau lagu ini tidak masuk di versi asli album tersebut) dan “Fools Gold” di track 13. Yang membuat mata musikalis tercelik adalah versi asli “I Am The Resurrection” sepanjang 08:14 menit. Di situ saya sadar apa yang Ian, John, Mani dan Reni lakukan adalah cetak biru apa yang dilakukan band-band Inggris lakukan setelahnya. Di sekitar saat yang sama, tetangga saya di gedung yang saya tinggali waktu itu terdapat seorang mahasiswa Inggris dan seorang mahasiswi Jepang. Entah berapa puluhan cangkir teh serta kopi dan ribuan kata terlewati dengan mereka hanya untuk membahas kesempurnaan album ini. Banyak orang mengira band favorit saya sepanjang masa adalah Oasis, tetapi sesungguhnya, berada di tempat nomor satu sebagai band yang saya puja secara religius adalah The Stone Roses.

5.    The Queen Is Dead – The Smiths (Rough Trade, 1986)


Awalnya CD ini mendarat ke tangan saya, waktu saya meminjamnya dari seorang teman di musim semi 1999. Waktu itu saya sedang menjalani praktikum di sebuah perusahaan telekomunikasi Jerman sebagai syarat memasuki kuliah. Setiap pagi saya harus bangun sebelum Matahari terbit, menyiapkan diri dengan sangat malas, dengan mata yang masih mengantuk, terkadang masih terdengar sayup sayup sisa-sisa pesta mahasiswa di lantai atas gedung saya. Di fajar-fajar buta itu, “There Is A Light That Never Goes Out” dan “Some Girls Are Bigger Than Others” menerbitkan mentari lebih awal untuk saya. Suara Morrissey yang sendu mendayu, liriknya yang berkata jujur terhadap hari-hari yang kita jalani dan kejeniusan aransemen Johnny Marr memberikan semangat baru dalam fase kehidupan saya waktu itu. Sampai sekarang jika suasana hati sedang tidak menentu, saya selalu memutar album itu, dan entah kenapa, semuanya terlihat membaik secara pelan-pelan. Mungkin memang benar pada akhirnya akan selalu ada cahaya yang tidak pernah akan pudar.

6.    Tragicomedy – Polyester Embassy (FFWD Records, 2006)


Saya lupa kapan pastinya saya mulai menggilai band ini. Yang saya ingat adalah di sebuah Minggu siang yang membosankan, saya terantuk kepada laman MySpace mereka, dan mendengarkan sejumlah lagu-lagu yang sangat ajaib mengagumkan di sana. “Orange Is Yellow”, “Blue Flashing Light” dan “Polypanic Room” sepertinya yang saya dengar waktu itu. Di siang yang sama, usai mendengarkan lagu-lagu tersebut, saya langsung berlari ke sebuah toko buku di bilangan Cilandak yang juga menjual CD-CD band independen negeri ini. Syukur saya mendapati CD itu ada di sana. Selanjutnya adalah pencerahan tanpa batas yang diperoleh dari 9 lagu yang ada di situ. Setelahnya saya selalu bilang ke teman-teman saya yang mempunyai selera musik serupa dengan saya “Bila mereka berasal dari Stockholm atau Trondheim mereka pasti sudah sebesar Sigur Ros atau Mew, percaya atau tidak”. Karena sebesar itulah dampak musik mereka.

7.    Pure Saturday – Pure Saturday (Ceepee Records, 1996)


Siapa yang tidak mengenal band ini? Tanpa mereka skena musik independen tanah air tidak akan seperti sekarang. Pure Saturday adalah pionir, dan ketika di tahun terakhir SMA saya membeli kaset mereka dan menyaksikannya di pensi yang diadakan sekolah saya waktu itu, yang terdapat adalah perasaan bahagia. Mereka adalah cerminan generasi kreatif waktu itu: naif, cerdas bermain dengan kreatifitas, dan berani untuk menampilkan seni mereka di luar arus utama. Ke mana semua itu pergi saat ini?

* Album ini hanya saya miliki dalam bentuk kaset, yang sudah rusak dan tidak dapat lagi dinikmati. Sebagai upaya penyelamatan, teman saya lalu mengubahnya ke dalam bentuk digital, dan hanya itulah satu-satunya peninggalan dari album ini (sigh).

8.    (What’s The Story) Morning Glory – Oasis (Creation Records, 1995)


Menjelang Natal 1995, saya membeli album ini setelah melihat “Roll With It” dan “Wonderwall” di Mtv (Ya betul, waktu itu musik televisi masih berfungsi sebagai musik televisi) dan memutuskan bahwa band ini akan memberikan arti penting ke dalam kehidupan saya. Dalam sebuah keputusan yang jarang dilakukan oleh orang tua saya, entah kenapa, keluarga kami waktu itu memutuskan untuk merayakan Natal di Carita. Lilin malam kudus di gereja digantikan oleh sebuah makan malam di pinggir pantai. Saya ingat setelahnya, saya duduk seorang diri di kegelapan malam, memandang lautan yang pekat, dengan ombak berdebur kencang. Di telinga saya adalah suara Liam terputar oleh walkman yang saya bawa waktu itu. Oasis adalah lawan kutub dari Pearl Jam dan suara grunge yang mulai saya gandrungi waktu itu. Walaupun sebagian besar lirik yang ada di album tidak berarti apa-apa, tapi ia menghembuskan angin optimisme yang entah bertiup dari mana. Seperti mengingatkan kita untuk dapat melakukan segalanya, asalkan kita percaya. Oasis adalah optimisme tanpa batas, seluas lautan yang saya lihat di malam Natal, balik di tahun 1995.

9.    Silent Alarm – Bloc Party (Domino Records, 2005)


Sejujurnya pada awalnya  saya sangat-sangat skeptis dengan band ini. Serius, kalau dipikir, band dengan akal sehat mana, menamakan dirinya Bloc Party? Tapi saya lalu memberanikan diri untuk mendengarkan lagu-lagu di album itu. Ketika efek delay pertama Russel menggaung di “Like Eating Glass” untuk lalu ditelan dengan gulungan monster drum Matt, Bloc Party adalah salah satu band terdasyhat dan inovatif yang pernah lahir di tahun-tahun ’00. Mereka tidak akan pernah menjadi band stadium seperti Kings Of Leon misalnya, tapi dengarkan album itu, belum pernah permainan efek gitar, teriakan revolusioner dan gebukan drum terdengar sesegar seperti di “Silent Alarm” sepanjang dekade lalu. Saya lalu mendedikasikan diri saya untuk menjadi fans band ini. Dan untuk satu alasan tertentu, ketiga album Bloc Party adalah satu-satunya dalam koleksi CD saya, yang saya miliki ganda. Edisi normalnya, ditambah dengan edisi spesial dengan bonus track dan DVD. Bahkan remix albumnya pun saya miliki. Sebesar itu dampak band ini dalam kehidupan permusikan saya.

10. Is This It – The Strokes (Rough Trade, 2001)


2001 di kepala saya hanya identik dengan 2 peristiwa: 9/11 dan dirilisnya debut album The Strokes. Yang pertama adalah tragedi manusia penuh konspirasi dan mengubah kehidupan kita semua setelahnya. Yang kedua adalah perayaan kembalinya musik gitar dalam esensi sesungguhnya. Ke manapun kita memasuki klab-klab indie di tahun 2001-2002, lagu-lagu The Strokes adalah yang membuat lantai dansa yang sudah terlalu lengket dengan tumpahan bir, pecah dengan anak-anak Indie yang seperti menemukan penyelamat mereka dalam wujud band ini. Didengarkan 10 tahun sesudahnya, album ini masih terdengar begitu menggairahkannya seperti didengarkan pertama kali. Album itu adalah sebuah pamungkas yang sulit untuk ditiru band manapun sesudahnya.

03
Apr
11

Album Review: Elbow – Build A Rocket Boys

 

Elbow

Build A Rocket Boys!

Fiction – 2011

Perawakan Guy Garvey lebih cocok sebagai seorang pemabuk handal yang setiap malam bercokol di pojok bar favorit kalian, dibandingkan sebagai vokalis salah satu band terbaik Inggris pemenang Mercury Award. Si pemabuk Gurvey dengan nafas alkoholnya akan berkoar dengan senang hati tentang masa kecilnya yang berbeda dengan anak-anak generasi kini, tentang kehilangan orang yang dikasihinya, tentang seorang teman yang sangat ia hargai persahabatannya. Sang vokalis Gurvey, menceritakan hal yang sama dengan suara baritonnya yang khas dan musik solid dari bandnya dalam album baru mereka “Build A Rocket Boys”.

 

Album penerus “The Seldom Seen Kid” yang mengagumkan itu, dibuka dengan “The Birds” melalui suara intens dan penuh kidung dari gitar yang mengawali lagu itu dan vokal khas Guy Garvey, sebelum gulungan suara elektronika membalutnya di akhir lagu. Ini adalah langkah berani untuk membuka sebuah album, karena setelah memenangkan audiens luas melalui “The Seldom Seen Kid”, Elbow tidak mengkanibal diri mereka sendiri dengan memilih lajur pop ala Keane, tapi dengan intelektual, mereka memilih memperkenalkan album ini dengan intensitas dalam yang berdurasi 8 menit.

 

Lagu yang datang setelahnya, “Lippy Kids”, menceritakan masa kecil dari seorang yang besar di Manchester raya, tentang sebuah nostalgia naif yang tidak perlu lagi ditutupi. Dengan iringan bas yang mendentum dengan jeda, lantunan piano yang monoton, dan siulan, setiap kata yang dinyanyikan Gurvey di lagu ini adalah sebuah penghayatan akan waktu yang tidak bisa lagi diulang, akan keluguan, kebandelan sekaligus pandangan anak kecil yang penuh harapan “…you were a freshly painted angel, walking on walls steling booze and hour hungry kisses…do they know those days are golden? Build a rocket boys”.

 

Menyusul lagu itu adalah “With Love” dengan dentingan piano seperti matahari mencium musim semi, dan suara koor yang membahana, lagu ini akan berusaha membuat cinta bersemi di tengah setiap perbedaan yang ada, mungkin ia tidak lagi berusaha, tetapi melodi yang ada di lagu itu sudah membuatnya terjadi “Love will find you out, be sure love will find you out, as anybody with a kind word would know, it’s gonna find you”. Berikutnya dalam daftar lagu album ini adalah “Neat Little Rows”. Yang mengagumkan dari Elbow di lagu ini dan juga banyak lagu mereka sebelum ini, adalah keberhasilan mereka mendefinisikan baru kata epik. Dengan suara drum dan bas yang mendentum, dan suara gitar berat seperti suara pabrik industrial yang tidak mau mengalah terhadap era digital, lagu ini memuncak ketika Gurvey mulai menyanyikan “Lay my bones in the cobble stones, lay my bones in neat little rows” memadukan suara-suara tersebut dengan dentingan glockenspiel dan belasan suara absurd lainnya di latar belakang. Sekali lagi, epik memiliki definisi baru.

 

Suara koor yang dalam “With Love” kita dengar lagi dengan tak kalah agungnya di “Open Arms”, menambahkan unsur keindahan dalam melankoli, setelah sebelumnya di lagu seperti “Jesus A Rochdale Girl”, dan “The Night Will Always Win” kita disuguhkan cerita pribadi Gurvey tentang seseorang yang pernah berarti di kehidupan lama dia, dengan melodi yang sendu sekaligus tenang, seperti seorang yang sedang mencari pembenaran akan apa yang ia telah lakukan di masa lalu. Ketenangan itu pula yang menutup album ini dalam “Dear Friends” sebuah penghormatan bagi teman-teman yang pernah dan akan selalu berarti dalam kehidupan kita “Dear friends you are angels and drunks…but it struck me to say while so far away, you were here in my head, in my head…and you are the stars I navigate home by”.

 

Ketika kita keluar dari bar langganan kita, suara vokalis Gurvey masih terngiang – ngiang di kepala kita. Ia dan bandnya Elbow, telah membuatkan kita sebuah soundtrack tentang fase kehidupan yang tidak lagi kita perlu malu terhadapnya. Tentang kenaifan dan impian masa kecil, tentang kehilangan, tentang persahabatan, tentang kehidupan. Dan rasakan, matahari sedang mencium wajahmu dan musim semi yang telah datang.

 

David Wahyu Hidayat

27
Mar
11

Album Review: Beady Eye – Different Gear, Still Speeding

Beady Eye

Different Gear, Still Speeding

Beady Eye Records/Sony Music – 2011

Bagi banyak orang, sosok Liam Gallagher adalah golongan terakhir dari kaumnya. Figurnya di atas panggung mempresentasikan sosok seorang “Rock ‘n’ Roll Star” yang sudah jarang dijumpai dari band-band yang muncul sekarang ini. Siapapun yang pernah menonton langsung Oasis, pasti akan langsung setuju dengan pernyataan ini. Dengan atau tanpa Gallagher senior aka Noel, dalam setiap konser Oasis, fans mereka selalu merangsak maju ke depan panggung, memuja dan terpukau akan seorang Liam. Satu hal yang mungkin belum tentu terjadi segila itu bila yang absen adalah Liam sendiri.

Meskipun begitu, petualangan baru empat mantan personil Oasis minus Noel adalah sebuah pertaruhan dan perjalanan yang belum kelihatan arahnya. Mentahbiskan nama mereka sebagai Beady Eye dan memberikan judul album mereka “Different Gear, Still Speeding”, keluaran musikalis Liam, Andy Bell, Gem Archer & Chris Sharrock masih harus menjalani tes waktu dan telinga untuk mereka yang sudah terbiasa dengan melodi brilian seorang Noel G. Sebagai seorang figur enigma, Liam tidak peduli dengan segala macam keraguan itu, baginya Beady Eye adalah konsekuensi logis dari apa yang telah ia buat. Dan apa yang ia telah ciptakan, sedang dan akan diciptakan, itu semua mengatasnamakan rock ‘n’ roll, dan betapa kita semua akan berterima kasih padanya telah melakukan hal ini.

Sepak terjang debut album Beady Eye dimulai dengan “Four Letter Word” yang memiliki kemegahan ala film – film James Bond, dan dengan segera menumpuk perasaan euforia. Lagu pertama ini sudah melebihi ekspektasi akan apa yang mereka mampu bikin, walaupun dengan kembalinya Andy Bell bermain gitar di band ini, hal seperti ini memang patut untuk diharapkan. “Millionaire” menyusul sebagai lagu kedua, dan lagu ini menjenguk kembali musik folk britania dengan slide gitar yang menjadikannya unik dengan artiannya sendiri.

Single pertama dari album ini, “The Roller” adalah musik poprock Inggris klasik ala Beady Eye, sedangkan “Beatles And Stones” ialah usaha Liam menyandingkan Beady Eye di pelataran yang sama bersama The Fab Four dan Mick & Keef. Tak lama sesudahnya terputarlah “Bring The Light” yang ketika ditawarkan sebagai unduhan gratis di internet akhir tahun lalu, terdengar janggal berdiri sendirian. Namun sekarang dalam konteks album, dentingan piano ala Jerry Lewis itu akhirnya mulai terdengar masuk akal.

“For Anyone” menyambung lagu tersebut, dan sesungguhnya sampai pada album ini, belum pernah sekalipun suara vokal Liam terdengar semanis ini. Selanjutnya atmosfir psikedelik ditebarkan dalam “Kill For A Dream” yang diramu dengan gitar akustik dan suara vokal yang pasti akan membahana dinyanyikan bersama oleh fans Beady Eye dalam setiap konsernya. Sedangkan “Standing On The Edge Of The Noise” kembali kepada teritori rock ‘n’ roll instan dengan motto, ini musik untuk mulut kamu meneriakkannya dengan lantang, dan mentatonya di jiwamu.

Diiringi nyanyian “Shalala..lala..Shalala..lala” kental dengan pengaruh The Beatles & The La’s, “Wigwam” adalah sebuah lagu yang patut dibanggakan oleh Beady Eye, menfiturkan sebuah interlude drum di tengah – tengah lagu, sebelum Liam menyanyikan “I’m coming up” yang dipenuhi suasana psikedelik klasik yang seakan takkan pernah surut.

Yang membuat “Different Gear, Still Speeding” menjadi sebuah album yang patut diperhitungkan tahun ini, adalah perpaduan dari karakter instannya yang bercampur dengan psikedelia dan nomor-nomor pop yang sepertinya belum pernah ditunjukkan dalam tahun-tahun Oasis. “The Beat Goes On” adalah salah satu nomor pop itu. Berbatasan tipis dengan pop ala skandinavia yang sempat menjadi tren di tahun 90-an, lagu ini adalah nomor yang mungkin akan paling mudah diterima untuk orang-orang yang tidak pernah mengenal siapakah Liam Gallagher.

Tirai album ini ditutup dengan “The Morning Son”. Peran Steve Lillywhite sebagai seorang produser yang pernah menukangi Morrissey & U2, terlihat nyata di sini. Dengan layer suara Liam yang dibikin menggema, lagu ini bertambah ketajamannya, ditambah dengan suara gitar yang berjalan bagai mimpi yang dibangun di atas mimpi, sampai akhirnya semuanya pelan – pelan menjadi kenyataan di hari yang baru.

Dengan “Different Gear, Still Speeding” jala gawang itu bergetar. Bola telah dilesakkan ke pojok kanan atas, tanpa bisa ditepis sama sekali. Liam Gallagher unggul sementara, dan kita semua menerima hasil itu dengan lapang. Sedikit terkejut mungkin, karena ini semua bisa terjadi melebihi ekspektasi yang kita harapkan dari seorang Liam Gallagher. Album ini membuat dunia pasca Oasis secara musikalis menjadi sesuatu yang sangat menarik untuk ditunggu. Noel Gallagher, dunia menanti Anda.

David Wahyu Hidayat

20
Mar
11

Album Review: Themilo – Photograph

 

Themilo

Photograph

Sadsonic Labs – 2011

 

“Pecah bisul” komentar Ajie Gergaji, vokalis, gitaris Themilo mengenai “Photograph” album kedua band asal Bandung ini, ketika diwawancara oleh jakartabeat.net baru – baru ini. Butuh waktu 7 tahun antara “Let Me Begin” dan album ini, sebuah rentang yang cukup lama, mengingat band ini adalah salah satu band yang cukup banyak pengikutnya. Namun waktu yang lama tersebut adalah sebuah penantian yang layak untuk ditunggu, karena “Photograph” meskipun cuman berisikan 8 lagu namun semuanya itu merupakan lagu-lagu yang akan menggulung kita dalam sebuah pengalaman sonik yang memukau telinga, raga dan hati.

 

“Stethoscope” membuka pengalaman sonik tersebut, dengan distorsi gitar yang menumpukkan batu-batu euforia dalam jiwa kita, ini adalah teriakan selamat datang kembalinya Themilo dalam kepala kita yang sudah terlalu jengah dengan kehampaan musik pop. Menit 03:15 menandakan kalau album ini siap lepas landas dengan sayatan melodi gitar yang bersahut-sahutan makin meninggi mencapai puncak yang kita sendiri tidak akan pernah mengetahui di mana letaknya.

 

Lagu itu disusul dengan “For All The Dreams That Wings Could Fly”, yang dengan harmonis manis menampilkan vokal latar dari seorang Maradilla Syahridar yang membuat kita seakan tidak lagi menapak ke tanah. Menyusul lagu tersebut adalah “So Regret” yang menurut wawancaranya dari media yang sama di atas, adalah lagu tergalau yang dimiliki Themilo, menceritakan seorang anak durhaka yang tidak pernah memiliki kesempatan untuk meminta maaf kepada orang tuanya yang telah meninggal.

 

“Get In Your Mind” menggambarkan suasana hampa, di mana yang ada hanyalah kekosongan, seperti ruangan bandara udara yang terlalu steril, di mana orang asing berkeliaran tanpa saling sapa, di mana alienasi terjadi satu sama lain, tapi lalu kita menoleh ke depan dan mendapati orang-orang yang kita kasihi berada di sana, sekejap alienasi itu berubah menjadi kehangatan, diiringi melodi gitar yang sahut menyahut, membalut kita dalam ketenangan, menghapus kegalauan.

 

Meskipun lagu – lagu Themilo identik dengan konsep kegalauan yang tanpa putus, sebenarnya di balik semuanya itu, ada sesuatu yang memancarkan sinar pencerahan, dengan suara synthesizer yang mengimbangi intensitas gitar dengan distorsi dan petikan melodi tanpa jeda, seperti yang terdengar dalam “Dreams” maupun optimisme tersirat yang ada dalam “Don’t Worry For Being Alone”.

 

Lalu, dalam segala keindahannya Themilo menghadirkan “Daun Dan Ranting Menuju Surga”, dengan pelan dentingan gitar itu bersahut-sahutan, diiringi suara distorsi ringan yang menggema mememenuhi telinga kita, sebelum Ajie dengan tenang bernyanyi “Hadapi hidup yang remuk, hapus semua kenangan yang kelam…”. “Photograph” mencapai klimaksnya di lagu ini, kita bersyukur akan Themilo, yang  telah mengantarkan lagu-lagu pembasuh keputusasaan kita yang akhirnya berakhir.

 

Dentingan keindahan itu berakhir dalam “Apart” yang menyudahi “Photograph”. Nestapa yang kita hadapi telah larut, tergantikan dengan optimisme baru di hari yang baru, yang tak seorang pun tahu akan seperti apa wujudnya.

 

David Wahyu Hidayat

 

20
Mar
11

Album Review: L’alphalpha – When We Awake All Dreams Are Gone

 

L’alphalpha

When We Awake All Dreams Are Gone

Tanpa Label – 2011

 

Bagian termanis dari sebuah mimpi adalah ketika mendapatinya terlalu dekat dengan kenyataan, kita merasakan kita menjadi bagian darinya, atau lebih tepatnya mimpi itu adalah bagian dari kita. Kita dapat menyentuhnya, menghirupnya, melihatnya, merasakannya, menjadi satu dengannya, dengan sesuatu yang tidak pernah kita dapatkan dalam kehidupan sebenarnya. Bagian terpahit dari sebuah mimpi adalah ketika kita terbangun, dan mendapatkan semua ini hanya mimpi belaka. Yang kita ingin lakukan setelahnya adalah kembali ke alam tidur dan bersatu dengan mimpi itu kembali.

 

“When We Awake All Dreams Are Gone” debut album dari L’alphalpha adalah perwujudan sebuah mimpi yang dirangkai dalam talian melodi-melodi manis yang membuat kita setengah melayang, setengah sadar, setengah terbius, setengah berkhayal akan keindahan sekaligus kegamangan mimpi dalam kenyataan.

 

Dikemas dalam sebuah paket berisikan narasi dan lagu, kemasan lagu L’alphalpha mengiaskan aroma Explosions In The Sky di lagu seperti “A Lot Of Fireworks But I Still Had A Reason To Smile” atau Sigur Rós dalam lagu “The Day When Everything Around Us Fall Asleep And We Do Remember How To Awake” yang merupakan salah satu lagu terbaik di album ini. Sedangkan dalam “About A Friend” yang dipilih menjadi single pertama album ini dan juga merupakan lagu yang paling mudah diakses, mereka menampilkan melodi yang meminta kita memanjakan dan menyayangi telinga kita sendiri di atas lirik bertemakan persahabatan yang tidak terdengar murah dikemas dalam bungkusan musikalis seperti ini.

 

Secara keseluruhan ini adalah debut album yang solid dari L’alphalpha, benar kita akan melayang bermimpi ketika mendengarkannya, tetapi kedua kaki kita masih menapak menjejak di tanah yang kita diami ini dengan cinta, sambil menggelayut dari hari ke hari, terjaga dan tetap berharap akan kenyataan yang lebih fantastis, ditemani keindahan lagu – lagu L’alphalpha.

 

David Wahyu Hidayat

 

 

23
Feb
11

Album Review: Radiohead – The King Of Limbs

Radiohead

The King Of Limbs

Digital Rilis Tanpa Label – 2011

Yang membedakan Radiohead dengan band – band lainnya yang bercokol di planet ini, adalah kemampuan mereka menciptakan sesuatu substansial yang melewati tempat dan jaman lewat musik mereka. Di tahun 1997, mereka menciptakan mahakarya yang kita kenal dengan “OK Computer”, sebuah orkestrasi musik rock yang pada waktu itu tampil mengejutkan di tengah – tengah banjirnya air bah britpop. Di awal abad baru, pada waktu manusia mulai gamang dengan kemajuan teknologi yang mereka ciptakan sendiri, Radiohead mengantarkan “Kid A”, sebuah karya sentral penggambaran alienasi manusia terhadap kaumnya sendiri, dan entah mengapa tiap blips yang terdengar di sana menjadi suara latar belakang yang indah dalam menghadapi abad 21. Lalu di tahun 2007, ketika industri musik masih bertanya-tanya resep yang paling tepat untuk menghadapi tatanan yang sudah berubah karena pendigitalan musik, mereka mengeluarkan “In Rainbows” dengan konsep bayar sesuka hati, dengan tidak melupakan bahwa lagu – lagu yang ada di sana adalah lagu – lagu Radiohead yang paling jujur terdengar sejak era “The Bends”.

Lalu pada tanggal 18 Februari 2011, hanya dengan pemberitahuan 4 hari sebelumnya, mereka mengeluarkan “The King Of Limbs”, secara digital, dan dirilis sendiri, kali ini dengan harga yang sudah dipatok mereka sendiri. Jujur, melihat secara keseluruhan 8 lagu yang ada di album ini, bila dibandingkan dengan karya – karya Radiohead sebelumnya, lagu – lagu ini harus bersaing cukup keras untuk bisa duduk di singgasana yang sama. “Bloom” yang mengawali album ini, dimulai perlahan, dengan blips yang sekarang sudah memasuki teritori familiar di telinga kita lewat album – album Radiohead terdahulu ataupun lewat karya solo Thom Yorke, “The Eraser”. Memasuki “Morning Mr. Magpie” kita menaikkan alis mata kita sebelah, menandakan adanya sesuatu yang menarik di sini, dengan suara gitar yang irit menggoda dan bas yang pelan – pelan menggelitik gendang telinga kita untuk memperhatikan dengan seksama album ini, di tengah tengah suara elektronika yang menggaung menghantui.

Dalam “Little By Little” kita akan mendengarkan Phil Selway yang dengan piawai memainkan perrkusi dan drum yang menandakan bahwa di balik semua ritmus yang terdengar begitu robotik adalah seorang manusia yang menjadikan semuanya lebih bersuarakan elemen organik. “Feral” adalah sebuah nomor instrumental yang terdengar sebagai perjalanan melintasi terowongan bawah laut yang tiada kunjung habisnya, dengan sebuah kereta transatlantis. Perjalanan itu berhenti, dalam “Lotus Flower”, digantikan sebuah tarian rasuk digital diiringi tepukan tengan dan keagungan suara Yorke menyanyikan “Slowly we unfold as lotus flower…”, tak sadarkan diri, menari dan menari tanpa henti.

Diiringi lantunan piano yang membungkus kita dengan rasa kenyamanan yang kelam, “Codex” membalut kita dalam kidung yang bernafas sama dengan “Nude” dalam “In Rainbows”, menenangkan tapi memberikan kita sebuah insekuritas yang meresahkan. Perasaan yang sama kita dengar kembali dalam “Give Up The Ghost”, dengan suara gitar akustik, dan Yorke yang menyanyi lirih ditimpa versi majestik suaranya sendiri, sampai kita mendengar suaranya menyanyikan “I think I should give up the ghost, in your arms”, di momen itu kita tahu semuanya tidak akan berubah sekelam yang kita kira.

“The King Of Limbs” diakhiri dengan “Separator”. Untuk saat ini, album ini sudah berakhir, dengan kata – kata “If you think this is over, then you’re wrong”. Dengan Radiohead kita tidak akan pernah mengetahui apakah ini akan benar – benar berakhir, atau ini semua merupakan bagian dari lanjutan yang lebih mega daripada ini. Apakah akan ada “The King Of Limbs” kedua seperti “Kid A” dan “Amnesiac” yang berasal dari satu sesi rekaman? Kita tidak pernah mengetahuinya, yang kita tahu di tengah ritmus lagu itu yang melempar kita ke segala arah, dipandu oleh suara bas, dan gitar yang bersahut-sahutan itu, kita menari, menikmati musik yang telah diberikan oleh Radiohead kepada kita dan merasakan sesuatu yang substansial.

David Wahyu Hidayat

19
Feb
11

Konser Review: Two Door Cinema Club – EX Park, Jakarta 15 Februari 2011

Two Door Cinema Club

EX Park, Jakarta

15 Februari 2011

Band Pembuka: RNRM, Flight Facilities

Setlist:

Cigarettes in The Theatre, Undercover Martyn, Hands Off My Cash Monty, Do You Want It All, Something Good Can Work, Handshake, This Is The Life, Kids, You’re Not Stubborn, Costume Party, What You Know, Eat That Up, It’s Good For You

Encore: Come Back Home, I Can Talk

Review:

Bila setahun yang lalu kita pernah menayakan Alex Trimble, vokalis Two Door Cinema Club, apakah ia pernah membayangkan akan bermain di hadapan publik Jakarta yang ribuan kilometer jauhnya dari kampung halamannya di Irlandia Utara, kemungkinan besar jawaban yang akan kita dapat adalah, mungkin hal itu hanya berada dalam mimpi terliar yang pernah ia punyai. Tapi 15 Februari 2011, di tengah pilar-pilar terbaru pencakar langit Jakarta, di sebuah lapangan parkir mal gaya hidup teryahud Jakarta yang disulap menjadi arena konser terbuka yang sangat menyenangkan, jawaban atas pertanyaan itu adalah sebuah realita yang manis.

Two Door Cinema Club menggebrak konser mereka malam itu dengan “Cigarettes In Theatre”. Dimainkan dengan sangat rapi, lagu yang juga menjadi pembuka album mereka “Tourist History” menfiturkan suara Alex yang sangat jernih dan ia terdengar sangat menikmati set mereka sejak detik pertama lagu itu. Suara gitar Sam Halliday yang banyak memainkan riff gembira yang menjadi ciri khas lagu – lagu Two Door Cinema Club, terdengar seperti terlalu banyak mengeluarkan reverb, kemungkinan dikarenakan oleh efek tata suara di panggung konser terbuka tersebut. Tapi siapa yang peduli lagi akan semua itu? Semua penonton yang ada di sana, tidak peduli hipster atau nerd, indie atau non-indie semuanya tenggelam dalam atmosfer sukaria musik Two Door Cinema Club.

Kebahagian malam itu semakin memecah ketika “Undercover Martyn” menyusul sebagai lagu kedua yang dibawakan, para penonton, atau kata lagu tersebut the basement people mulai berjingkrakan tak menentu mulai dari depan, samping kiri, dan samping kanan area konser menyambut lagu tersebut. Euforia penuh kebahagiaan adalah kata yang tepat untuk mendefinisikan atmosfir konser tersebut. Two Door Cinema Club adalah salah satu band yang terlahir dalam dekade ini dan mereka sangat menjiwai semangat dekade ini. Mereka tidak dipusingkan dengan berbagai macam masalah generasi X di dekade sebelumnya, mereka adalah definisi budaya instan lewat jaringan sosial, mereka hanya ingin menikmati setiap malam, nyaris mendekati kehedonisan, namun semuanya dengan kebrilianan yang tertera di dalam musik mereka yang dengan sekejap pula membuat suasana riang memenuhi EX Park malam itu.

Briliannya Two Door Cinema Club, adalah kemampuan mereka mengolah riff – riff sederhana dengan efek yang tidak terlalu banyak menjadi sebuah lagu gitar pop yang dapat dibuat untuk berdansa. Saat mereka di konser itu memainkan lagu seperti “Something Good Can Work” maupun versi fantastis dari “What You Know” yang diawali hanya dengan suara Alex Trimble dan gitarnya seorang diri, kita akan sangat mengerti mengapa lagu – lagu mereka sangat mudah diakses oleh muda-mudi dari berbagai kalangan. Musik gitar pop yang dapat dibuat untuk berdansa melawan semua bentuk kejenuhan.

14 lagu dimainkan Two Door Cinema Club malam itu, 14 lagu pemujaan pop yang terasa terlalu singkat, namun ketika EX Park secara serentak mengumandangkan “A..O..AAO..A..O..AAO..” sebagai intro “I Can Talk” yang dipilih menjadi lagu terakhir malam itu, mereka semua tersenyum puas dengan suguhan musik Two Door Cinema Club. Beberapa waktu dari sekarang, jika kita ditanya, apa yang kita ingat akan apa yang telah terjadi di bulan Februari tahun 2011, yang kita ingat bukanlah revolusi yang terjadi di Afrika utara, ataupun kekerasan yang terjadi di negeri ini terhadap golongan minoritas. Yang kita ingat adalah bahwa Two Door Cinema Club telah hadir di bawah pilar-pilar Jakarta, menghibur dan memberikan kedamaian dalam artiannya sendiri. Dan dengar, suara itu masih terngiang – ngiang di kepala kita “A..O..AAO..A..O..AAO..”

David Wahyu Hidayat




 

Mei 2012
S S R K J S M
« Des    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Categories

Blog Stats

  • 85,710 hits

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.