Halaman Arsip 2

15
Okt
09

Album Review: Muse – The Resistance

Muse - The Resistance

Muse

The Resistance

Warner Music – 2009

Bila kalian bernama Coldplay atau Oasis, bukanlah suatu hal yang tidak aneh, kalau kalian menggelar konser di stadion Wembley. Dengan lagu yang selalu dapat membuat massa menjadi sebuah paduan suara terbesar yang pernah ada, Coldplay dan Oasis mempunyai elemen yang menjadikannya patut membuat sebuah pagelaran musik di sana. Tapi kalau kalian bernama Muse, dan menggelar konser dua hari di Wembley, hal itu adalah fenomena. Mengapa? Karena sejak awal karirnya Muse adalah sebuah band yang berbeda dibanding dengan kolega-kolega semasanya. Musik mereka unik, terkadang terdengar terlalu berbobot untuk dapat menjangkau massa yang luas, tapi justru dengan keunikannya sendiri mereka tetap bertahan dan bahkan menjadi salah satu band terbesar yang datang dari Inggris saat ini.

Dengan “Starlight” dari album terakhir mereka “Black Holes And Revelations” Muse telah menjangkau konsumen musik di jalur utama, bahkan di negara ini. Lagu itu terdengar di nada sambung pribadi/nada dering ponsel seseorang yang dari penampilannya sangat diragukan kalau dirinya adalah fans Muse, waktu kita memasuki pusat perbelanjaan kita mendengar lagu itu, bahkan sebuah band cafe yang biasa membawakan lagu dengan genre sangat berbeda dari yang diusung Muse membawakan lagu tersebut. Singkatnya Muse telah menjadi nama dalam komoditi rumah tangga kita.

3 tahun sesudah album tersebut dan sebuah konser megah di Istora Senayan, Muse memberikan kita “The Resistance”. Mereka yang mengharapkan lagu seperti “Starlight” di album ini, tidak akan mendapatinya, dan mereka tentu akan kecewa karenanya. Tapi seperti yang sudah-sudah, Muse tidak peduli akan hal itu. Yang ada di sini adalah 11 karya gemilang, campuran antara rock antariksa khas Muse yang bertemu dengan musik klasik dengan sedikit sentuhan Queen dan musik urban.

Pemberontakan musikalis di album ini berawal dengan sebuah lagu berjudul “Uprising”. Di sini Matthew Bellamy masih bercerita tentang sebuah perlawanan terhadap sebuah wujud korporasi yang mendominasi dunia ini dengan menyanyikan “They can not control us, we will be victorious”, sebelum sebuah jeda instrumentalis mengisi lagu ini yang dipenuhi degan teriakan, tepuk tangan dan solo gitar efektif dari Bellamy. Lagu kedua album ini “Resistance” diawali dengan dentingan piano yang diserbu dengan rantai ritmik Dominic Howard yang terdengar seperti bom yang dijatuhkan dari pesawat untuk meratakan daratan di bawahnya. “Resistance” juga memberikan kita nada yang paling mudah diingat waktu Bellamy menyanyikan “It could be wrong, could be wrong..”, membuat lagu ini sebagai sesuatu yang menarik, entah disengaja atau tidak.

Bila ada lagu yang paling inovatif yang pernah dibuat Muse sampai saat ini, hal itu ada di dalam “Undisclosed Desires”. Mendengarkan 15 detik pertama, kita akan dibuat bingung dan bertanya pada diri sendiri “Ini masih Muse atau sebuah lagu r ‘n’ b dari produsen papan atas NY?”, karena intro ini pada faktanya memang terdengar seperti sebuah musik r ‘n’ b, dan ini membuat Muse semakin menarik di setiap album yang mereka rilis. Di “United States Of Eurasia” Muse tidak bisa memungkiri pemujaan mereka terhadap Queen, dengarkan saja lagu ini dengan seksama, dan kalian akan mengetahui tempatnya waktu mendengarkannya.

Suara orgel gereja mengawali “Unnatural Selection” sebelum serbuan gitar yang menjadi ciri khas permainan Bellamy menguasai lagu ini. Destruktif tapi melodik, klasik Muse. Tak lama sesudahnya album ini lalu ditutup dengan sebuah simfoni megah yang merupakan ambisi baru Muse. Rangkaian orkestrasi ini terdiri dari 3 bagian yang dinamakan: “Exogenesis: Symphony Part 1 (Overture)”, “Exogenesis: Symphony Part 2 (Cross – Pollination)”, dan “Exogenesis: Symphony Part 3 (Redemption)”. Ketiganya merupakan gambaran sempurna Muse tentang musik layar lebar. Kemegahan dan keagungan bercampur menjadi satu di situ dan kita terlelap dalam buaiannya yang menghanyutkan.

Dengan “The Resistance” Muse sekali lagi menentukan nasibnya sendiri. Mereka tidak peduli akan jutaan orang yang menunggu “Starlight” berikutnya. Bukan itu yang menjadikan Muse besar. Yang menjadikan mereka besar seperti sekarang ini, adalah keberanian mereka untuk menjadi berbeda dari kalangannya, dan keberanian itu kita dengar dalam “The Resistance”.

David Wahyu Hidayat

11
Okt
09

Album Review: Pearl Jam – Backspacer

Pearl Jam - BackSpacer

Pearl Jam

Backspacer

Universal Indonesia – 2009

Jauh di pertengahan dekade 90-an, sebuah mixtape mengubah selera musik saya untuk selamanya. Walaupun dalam perkembangannya, saya mengambil jalur lain dari genre yang ada di mixtape tersebut, tapi saya merasa berhutang terhadap satu band yang ada di kaset tersebut, karena band tersebut telah membuka jalan terhadap keajaiban dunia musik di luar jalur utama, dan sejak saya menerima mixtape tersebut, saya memutuskan untuk tidak akan pernah meninggalkan kecintaan terhadap band tersebut. Band itu berasal dari Seattle, dan bernama Pearl Jam.

Sekarang, di tahun 2009, Pearl Jam merilis album terbarunya “Backspacer”, yang hanya sepanjang 36 menit dan 31 detik adalah album terpendek durasinya yang pernah dikeluarkan band tersebut. Tapi bukan itu yang membuat album ini menjadi spesial. “Backspacer” terdengar segar dan langsung, mungkin ini adalah album Pearl Jam paling istimewa sejak merilis “Binaural” di tahun 2000.

Dengan gebrakan secepat suara supersonik di empat lagu pertama “Gonna See My Friend”, “Got Some”, “The Fixer” dan “Johnny Guitar”, musik Pearl Jam seakan terdengar  lebih mendekat ke The Who daripada suara yang menjadi tandatangan musik asal Seattle di tahun 90-an. Bila mendengarkan “The Fixer” yang menjadi single pertama dari album ini, mereka terdengar seperti sedang berada dalam puncak kesenangan bermain musik, menjadikan lagu ini sebagai sebuah nomor rock penggoda telinga yang bergairah. “Got Some” yang dikemas dalam 3 menit, penuh dengan dinamika rock penuntut kesiagaan telinga dan adrenalin pendengarnya. Ini adalah contoh lain yang menunjukkan betapa menikmatinya para personil Pearl Jam membuat musik di album ini.

Setelah 4 lagu yang dipenuhi ekstase penuh, “Just Breathe” membawa kita ke tepian yang tenang ditemani oleh petikan gitar akustik dan suara khas Eddie Vedder. Ini adalah bentuk musik americana Pearl Jam yang telah disempurnakan sejak 2 album sebelumnya. Mendengarkannya seperti memberikan kita pandangan luas tentang Amerika yang tenang, dengan angin politik baru yang memberikan harapan. Dalam “Amongst The Waves” Vedder menyanyikan dengan menggugah “If not for love I would be drowning”, sama seperti “Just Breathe” lagu ini memberikan sebuah harapan baru yang menenangkan. Setelahnya dalam “Unthought Known” Pearl Jam memberikan kita optimisme dalam kehidupan, di mana ritem gitar itu becampur dengan suara piano dan vokal Vedder dalam repetisi melodi yang intens.

“Supersonic” menghentak kita kembali dalam semangat rock yang menyenangkan. Sepotong “yeah yeah” dari Vedder, seperti juga yang terdengar di “The Fixer” mencerminkan betapa senangnya keadaan band itu saat ini, lalu ketika di menit 1:21 solo gitar McCready mulai menguasai lagu tersebut, kita pun tidak bisa lain selain berteriak “yeah” juga dalam hati kita masing-masing. Sebuah lagu karangan Vedder berjudul “Speed Of Sound” menapakkan kita kembali ke tanah dengan temponya yang santai, sebelum “Force Of Nature” mengangkat kita masuk dalam sebuah lagu rock melodik, diawali dengan suara wah-wah lalu dari situ beranjak naik melayang menuju klimaks.

“Backspacer” berakhir dengan sebuah lagu yang dengan sederhana dinamai “The End”. Kembali nuansa americana terasa di sini, dengan temponya pelan, merefleksikan semua yang telah terjadi di belakang, dan betapa kita harus bersyukur atas semua itu. Sebuah hembusan nafas ringan mengiringi nyanyian Vedder di lagu itu “My dear, the end comes near…” tak lama sesudahnya lagu itu, beserta “Backspacer” usai sudah. Dan kita telah menikmati setengah jam terbaik dari salah satu band terbesar Amerika saat ini. Bukan tanpa sesuatu Pearl Jam adalah band terakhir yang bertahan dari generasinya, mereka bertahan karena mereka terus menghasilkan lagu yang penuh kekuatan untuk penggemarnya dan lagu itu adalah lagu-lagu berarti yang sulit ditandingkan dengan segala elemen musik dalam generasi band sekarang ini. “Backspacer” adalah bukti dari semua itu.

David Wahyu Hidayat

30
Sep
09

Pencerahan Jiwa: Morning Lights Recover – Ansaphone

morning lights recover2

Pagi buta, hari Raya Idul Fitri 2009. Telapak kakimu terbenam pasir hitam pantai selatan. Wajahmu tertepa angin laut, sekejap memberikan kesejukan dari penatnya kehidupan di kota. Pagi itu, di hari yang fitri itu, dirimu melarikan diri. Yang terlihat hanya mentari yang menyembunyikan mukanya di balik awan mendung pagi, dan satu orang peselancar yang berusaha menantang ombak di waktu yang masih terlalu pagi itu.

Mereka yang merayakan hari raya, mungkin sedang sibuk bersiap-siap untuk melakukan ibadahnya. Mereka yang tidak, masih terlelap berusaha menikmati hari libur yang terlalu sedikit dalam setahun. Sisanya, orang – orang seperti dirimu dan saya, termenung menatap lautan yang terpampang di depan mata, sambil berusaha mencerna datangnya hari itu.

Sayup-sayup bersaingan dengan suara debur ombak, dentingan suara gitar dengan penuh delay bersahut-sahutan, berjingkat dari telinga kiri ke telinga kanan, sepertinya lagu itu mengerti bagaimana harus menterjemahkan pemandangan yang ada di depan mata. Di tampilan pemutar musik digitalmu tertera sebuah judul “Morning Lights Recover” dari sebuah band asal Bandung bernama Ansaphone. Sesuai dengan hari itu, lagu tersebut terasa suci, agung tapi tetap berjuang setapak demi setapak menuju kecemerlangan.

Masih tidak begitu jelas, suara vokal yang mengiringi lagu itu menyampaikan salamnya kepada kita, tapi kita tidak peduli dengan hal itu. Pagi itu, lagu itu seperti sebuah kidung yang menyatukan kita pada diri kita sendiri, lalu kepada sesama kita, dan kemudian kepada alam. Kita menghembuskan nafas, dan berharap kalau saja semuanya bertahan dalam kesempurnaan ini, dalam kesempurnaan melodi yang didengar di lagu tersebut, dalam keperawanan pagi yang sepertinya tidak akan pernah mengenal kacaunya kehidupan. Tapi mungkin itu semua yang membuat kita kembali berjuang, karena semuanya akan berlalu, dan tidak akan pernah sama lagi. Tapi kita akan selalu kembali, untuk merasakan kedamaian sesaat itu, apapun harganya.

Pagi berikutnya, semua pakaian sudah dikepak, perjalanan kembali menuju kekacauan telah terhampar di depan mata, tapi di tengah itu semua ada sesuatu yang menenangkan jiwa. Sesuatu itu adalah sinar mentari yang memancar dari balik karang besar di pantai tersebut, dan entah mengapa, untuk sekejap kita semua merasa dipulihkan.

David Wahyu Hidayat

Lagu Morning Lights Recover dari Ansapahone dapat didengar di laman MySpace mereka: http://www.myspace.com/ansaphonetheband

15
Sep
09

Album Review: Arctic Monkeys – Humbug

Arcticmonkeys-humbug

Arctic Monkeys

Humbug

Domino Records – 2009

Mereka telah dewasa. Potongan rambut yang berkesan seperti imagi seorang anak indie dari foto profile di myspace, berubah sudah, digantikan dengan rambut panjang yang menutupi sebuah tatapan misterius. Tiga tahun yang lalu mereka masih bernyanyi tentang sepatu dansa dan berjoget seperti sebuah robot dari tahun 1984 diiringi sebuah musik elektropop. Sekarang, mereka memasuki teritorial musik yang lebih dalam, gelap dan misterius. Terlalu kelam mungkin untuk ukuran Arctic Monkeys yang terbiasa dengan sebuah bentuk musik indieblitzkrieg. Tapi mau suka atau tidak suka, percaya atau tidak percaya, inilah Arctic Monkeys tahun 2009, dan sejujurnya ini adalah sebuah perubahan yang menggairahkan, seperti sebuah makeup sex yang tak pernah diperkirakan dan di luar kendali.

Gairah itu dimulai dengan rentetan drum Matt Helders yang menyerang seperti sebuah senapan mesin panas yang hendak menumbangkan musuhnya di lagu pembuka album ini “My Propeller”. Dikombinasikan dengan suara Alex Turner yang lebih lirih dari biasanya, dari awal kita langsung menyadari bahwa sesi rekaman di Joshua Tree bersama Josh Homme telah membawa hal-hal baik bagi Arctic Monkeys. Mereka menjadi dewasa dalam bermusik tanpa berusaha membuat segalanya menjadi memusingkan, hanya kesederhanaan yang menghitam mengakar di setiap nada yang kita dengar.

Bunyi bas yang berat dan menyeret membuka “Crying Lightning”. Kalau mereka datang 3 tahun yang lalu dengan lagu seperti ini, kita akan mengernyitkan dahi, dan bertanya apa yang dilakukan 4 orang muda di umurnya yang masih berusia 20-an dengan lagu seperti ini? Tapi untungnya mereka menunggu saat yang tepat. Karena “Crying Lightning” adalah senjata pamungkas Arctic Monkeys yang sempurna untuk mengalahkan rasa pesimis kita terhadap mereka yang berkata, kalau tidak ada band yang akan pernah berarti lagi pada saat ini. Lagu ini adalah suatu serpihan klasik dalam wujud yang pada pendengaran pertamanya tidak terkesan bombastis, tapi pelan-pelan akan membuat jiwa kita menangis karena kebesarannya.

Merekam album ini bersama Josh Homme, adalah keputusan terbaik yang pernah dilakukan oleh Arctic Monkeys dalam album ini. Karena bila mereka membuat kembali lanjutan dari “Whatever People Say I Am, That’s What I’m Not” dan “Favourite Worst Nightmare” mereka akan terjebak kepada pola album ketiga yang mengharuskan semuanya terdengar lebih megah dari yang sudah-sudah hanya untuk memenuhi kebutuhan industri musik saja. Sebagai sebuah album, “Humbug” adalah jalan keluar Arctic Monkeys dari jebakan tersebut.

“Secret Door” diawali dengan intro yang mengecohkan kita dengan alunan rhodes berpadu dengan gitar yang membius pelan, sebelum Helders dan O’Malley kembali sebagai suatu kesatuan yang kompak memberikan pola ritem yang memberikan lagu ini sebuah dimensi lain, mendorong kita seperti berada di pinggir jurang, hanya untuk terjun bebas dalam kenikmatan. “Cornerstone” memberikan kedamaian dalam suara Alex Turner yang sedikit demi sedikit sudah mulai menghilangkan aksen kentalnya, tapi ia tetap mempunyai ide-ide romantisme yang hanya bisa datang dari dalam dirinya, sebagai seorang Alex Turner yang memberikan lukisan sederhana tentang kehidupan yang dapat menjadi sesuatu yang mengagumkan, dan herannya juga merupakan gambaran kehidupan kamu dan saya.

Kepiluan adalah yang dirasakan waktu mendengarkan “Dance Little Liar”, nadanya menyentuh kita seperti kegelapan yang menguasai malam, dan solo gitar yang dimainkan di sana, bukanlah solo gitar penuh ekstase seperti dalam “Take You Home” dari album pertama, tapi solo gitar yang terdengar bagaikan sebuah jiwa rapuh yang dilepaskan dari kegamangan yang mengelilinginya.

Satu-satunya lagu yang berada di jalur jejak tempo album pertama dan kedua adalah “Pretty Visitors”. Di sini Arctic Monkeys terdengar seperti empat sekawan lusuh yang siap merampok kelinglungan jiwa kita dan membawanya ke sarang gerombolan yang sarat dengan nada-nada yang dapat menumbangkan keraguan kita akan musik mereka. Dan di sarang gerombolan tersebut, Alex Turner melantunkan lagu yang memungkasi album mereka “The Jeweller’s Hand”, dengan nada yang mengaung-ngaung di dalam kepala “If you’ve a lesson to teach me, I’m listening, ready to learn. There’s no one here to police me, I’m sinking in until you return. If you’ve lesson to teach me, don’t deviate, don’t be afraid”. Pelan-pelan gerombolan bernama Arctic Monkeys itu memadamkan cahaya di sarangnya. Tapi kita yang berada di luarnya, masih menatapnya mencoba meresapi apa yang telah kita dengarkan di album ini. Mencoba untuk bersatu dalam kekelamannya, dalam kemisteriusan dan dalam kegelapannya. Arctic Monkeys? Mereka telah dewasa, tinggalkan sepatu dansa kalian di lantai dansa itu.

David Wahyu Hidayat

16
Agu
09

Album Review: The S.I.G.I.T – Hertz Dyslexia

Hertz Dyslexia

The S.I.G.I.T

Hertz Dyslexia

FFWD Records – 2009

Salah satu majalah musik terbesar negeri ini, mendeskripsikan “Bhang”, salah satu lagu yang terdapat di EP “Hertz Dyslexia” dari The S.I.G.I.T sebagai sebuah komedi dan tidak terdengar seksi. Mungkin mereka lupa, kalau rock ‘n’ roll bukanlah sesuatu yang bisa dianalisa tingkat kecerdasannya. Rock ‘n’ roll berarti, apakah musik yang kita dengar akan menggerakkan kita atau tidak, menginspirasikan atau tidak. Bukan untuk diteliti nada per nada apakah semuanya akan menjadi kesatuan atau tidak, sesederhana itu.

Karena yang sebenarnya terjadi, “Hertz Dyslexia” adalah EP yang mengispirasikan dan akan menggerakkan kita waktu mendengarkan 7 lagu yang ada di dalamnya. Semua yang melihat konser Dyslexia 20 Juni lalu akan setuju dengan hal ini. Dimulai dengan “Money Making” yang menggebrak dan disusul dengan “Bhang” yang menggoda naluri liar kita, The S.I.G.I.T menampilkan wujud rock ‘n’ roll murni yang akan membuat kita bangga terlahir di negara ini. Mungkin bila majalah tersebut tidak terlalu sibuk menganalisa seruling yang dipakai Rekti di “Bhang”, mereka akan menyadari hal tersebut.

Sebuah nomor dari Neil Young “Only Love Can Break Your Heart” diikutsertakan di EP ini, dan hampir-hampir kita dapat merasakan kepiluan melodi lagu itu, mendengarkan jernihnya gitar akustik yang dimainkan di sana. Sebuah cover version yang sangat berhasil. Keheningan dalam lagu ini kemudian dipecahkan dengan “Verge Of Puberty” dan “The Party” yang kembali mengguncang kita dengan pembombardiran riff-riff dasyhat dalam kedua lagu tersebut.

“Midnite Mosque Song” yang dalam beberapa penampilan live The S.I.G.I.T menfiturkan Farri memainkan tungkai gesek biola dan riff yang terdengar seperti “Babe I’m Gonna Leave You” Led Zeppelin, terdengar sedikit berbeda dalam versi rekamannya. Dengan atmosfir sendu dan misterius, lagu ini menutup EP tersebut dengan perlahan dan gemilang. “Hertz Dyslexia” adalah bukti rekaman band paling ambisius Indonesia pada saat ini. Mereka telah membuktikannya dalam penampilan yang selalu optimal dalam rangkaian konser mereka, dan EP ini juga menjadi pembuktian lainnya, sebelum kita dihempaskan lagi dengan langkah dan sepak terjang mereka selanjutnya.

David Wahyu Hidayat

16
Agu
09

Album Review: Kasabian – West Ryder Pauper Lunatic Asylum

Westryderpauperlunaticasylum

Kasabian

West Ryder Pauper Lunatic Asylum

Sony Music – 2009

Siapapun yg pernah berhadapan langsung dengan Tom Meighan akan menyadari kalau ia adalah sosok seorang rockstar abad 21, terlebih di era album pertama Kasabian yang dilengkapi dengan kemegahan suara, telah memberikan terobosan sekaligus mengingatkan kita akan akselerasi rock Primal Scream, psikedelia The Stone Roses, dan justifikasi arogansi Oasis, dalam musik Kasabian.

Sayangnya, dalam langkah mereka merebut mahkota rockstar sejati Britania Raya, yang terakhir dipegang oleh Liam Gallagher, mereka terpeleset dengan mengantarkan album kedua yang tertebak langkahnya dan hanya memuaskan hasrat Laddism dalam sebuah euphoria elektrik rock yang fana.

Dengan “West Ryder Pauper Lunatic Asylum”, album ketiga Kasabian, mereka telah kembali ke jalan yang benar. Merobek keheningan dengan “Underdog”, ini adalah sikap kepercayaan diri yang kita kenal dari Kasabian, lagu ini langsung memicu adrenalin, seperti pukulan bertubi-tubi seorang petinju yang tidak diperhitungkan, menumbangkan sang juara di kelasnya melalui vokal sengau Tom Meighan dengan porsi arogansi yang tepat dan suara akselerasi bas yang mengiris mengelilingi kita.

Lagu kedua album ini “Where Did All The Love Go” pantas dijadikan nomor klasik Kasabian, ini adalah plot untuk sebuah nomor rock dansa di abad 21 dilengkapi dengan suara tepuk tangan, synthesizer serta alat musik gesek yang menghantui dan melodi yang manis. Ini adalah lagu Kasabian terbaik sejak “L.S.F” dari album pertama mereka. “Fast Fuse” akan mengklaim semua omongan Tom Meighan dan Sergio Pizzorno kalau mereka adalah salah satu band rock ‘n’ roll besar di Inggris. Nomor ini dihantarkan dengan sangat jujur, pertimbangan yang dilakukan dalam “Empire” untuk memadukan rock dan beat untuk berdansa tanpa peduli dengan melodi seakan tidak pernah terjadi. Kali ini mereka tidak lupa memasukkan apa yang penting dari sebuah lagu, yaitu melodi dan hook untuk menjadikan lagu itu pantas diingat dan dilantunkan.

Kemegahan “Vlad The Impaler” bertumpu kepada pukulan bas Chris Edwards, membuat lagu ini berteriak dengan sendirinya di depan muka untuk meminta reaksi dari pendengarnya. Sedangkan “Fire” adalah Kasabian dengan visualisasi layar lebar musikalis yang meneropong unsur psikedelia, suara latar ala Enio Morricone dan penerjemahan perebutan buah terlarang yang selalu diinginkan manusia.

Melalui “Thick As Thieves” Sergio Pizzorno membuktikan kalau Kasabian tidak hanya handal mengantarkan lagu-lagu antemik untuk dinyanyikan di bawah langit cerah dikelilingi oleh pagar stadion sepak bola. Melalui lagu ini mereka membuktikan, kalau mereka bisa membuat sebuah nomor akustik manis yang akan sangat pantas untuk dinikmati di bawah langit Minggu sore yang sendu. Sebuah formula yang kemudian dimantapkan lagi keampuhannya dalam “Ladies And Gentleman, Roll The Dice” dan lagu penutup album ini “Happiness”.

“West Ryder Pauper Lunatic Asylum” adalah senjata Kasabian yang dilengkapi dengan amunisi memadai, yang mungkin masih belum cukup untuk melakukan kudeta terhadap posisi Oasis sebagai band terbesar di Inggris, tapi yang jelas akan meledakkan kepala kita dengan kemegahan dan ambisi dan akan menjadikan mereka menjadi teroris rock ‘n’ roll nomor satu abad 21.

David Wahyu Hidayat

09
Agu
09

Album Review: Maximo Park – Quicken The Heart

Max_QTH_LP.indd

Maximo Park

Quicken The Heart

Warp Records – 2009

Paul Smith, penyair modern, vokalis dari Maximo Park, pemberi melodi-melodi ajaib dalam “The Coast Is Always Changing” dan “Books From Boxes” mengutip salah satu penyair Jerman terbaik di abad 20, Rainer Maria Rilke dalam halaman pertama sampul album terbaru mereka “Quicken The Heart”. Kata-kata itu adalah “You don’t know nights of love? Don’t petals of soft words float upon your blood? Are there no places on your dear body that keep remembering like eyes?”. Mengutip atau tidak mengutip, Paul Smith selalu handal mengungkapkan kata-kata yang menggugah hati kita. Dengan melodi, ia bersama Maximo Park berhasil melakukannya juga, lalu bagaimana dengan lagu-lagu yang ada di “Quicken The Heart”?

Album ini tidak memberikan sesuatu yang revolusioner dalam beberapa pendengaran pertamanya, lagu yang ada di sana tetap penuh dengan alunan melodi khas Maximo Park dari kibordis Lukas Wooler, terkadang itu adalah sebuah nada panjang yang memberikan dasar lanskap musikalis Maximo Park, terkadang nada-nada yang saling menyusul satu sama lain yang mengikis bulu kuduk kita. Duncan Lloyd masih juga memetik gitarnya seperti versi ringan dari seorang Johnny Marr, dan Paul Smith sekali lagi mempertahankan dirinya sebagai seorang penyair modern yang menggunakan musik sebagai media penyampaiannya.

Tapi yang terjadi sebenarnya, album ini memulai keindahannya seiring dengan waktu. Kecintaan akan album ini tumbuh sejalan dengan frekuensi pendengarannya, dan menjadi sesuatu yang tidak dapat dilepaskan lagi. Dimulai dengan “Wraithlike”, suara kibor Lukas Wooler meraung seperti sebuah sirene ambulans yang menandakan kalau kita akan segera terjangkiti oleh sebuah virus bernama “Quicken The Heart”. Lagu kedua album tersebut “The Penultimate Clinch”, memberikan sebuah masa inkubasi, dengan nada-nada yang dihantarkan Smith dalam reffrainnya.

Single pertama mereka dari album tersebut “The Kids Are Sick Again” dengan perpaduan kibor dan gitar dari Wooler dan Llyod serta perubahan tempo di tengah-tengah lagu merupakan antitesis terhadap kehidupan modern yang menelanjangi keesensialan kehidupan mereka yang muda, “In wasted light, hope takes flight…Homogenize, don’t revise..I don’t mind losing self respect…The kids are sick again, nothing to look forward, they jumped the cliff again, future sinks the blue” dilantunkan Smith dengan penuh elegi dari dalam dirinya.

“A Cloud Of Mystery” adalah sebuah lagu tipikal “Sindrom Lagu Terakhir”. Ia disertai dengan melodi – melodi yang kuat, yang menjadikannya selalu terngiang di kepala kita, waktu lagu tersebut adalah lagu yang kita dengar sebagai lagu terakhir sebelum menuju ke tempat aktifitas kita. “Let’s Get Clinical” disertai dengan pola ketukan yang cukup untuk merasuki keperawanan musikalis kita di bawah sebuah senja. Diiringi suara latar belakang harmonis, Smith menyanyikan “I’d like to map your body out, inch by inch, head to toe” membuat lagu ini membiarkan diri kita dijangkiti sepenuhnya oleh penyakit melodius dari “Quicken The Heart”.

“Questing Not Coasting” akan membuat kita tidak mau disembuhkan dari virus yang disebarkan Maximo Park. Lagu yang juga sekaligus single kedua dari album ini, membuat kita tahu mengapa kita selalu dapat mengandalkan Maximo Park dalam menghantarkan nada-nada yang akan membuat hari kita sedikit lebih cerah.

Sang penyair modern, Paul Smith beserta kumpulannya dengan “Quicken The Heart” telah memupuk ikatan terhadap kita semua dengan album ini. Sebuah ikatan yang mulanya tidak mudah untuk dimengerti, tapi pada akhirnya itu menjadi sesuatu yang dapat melegakan kehidupan kita, sesuatu yang dapat kita andalkan, setiap kali mendengarkan karya Maximo Park dalam album itu.

David Wahyu Hidayat

07
Agu
09

Konser Review: Phoenix – Bengkel Night Park Jakarta, 01 Agustus 2009

Phoenix

Beatfest 2009

Bengkel Night Park, Jakarta

01 Agustus 2009

Band Pembuka: Naif, The S.I.G.I.T, Rock ‘n’ Roll Mafia

Setlist:

Lisztomania, Long Distance Call, Consolation Prizes, Lasso, Napoleon Says, Funky Squaredance, Rally, Girlfriend, Armistice, Love Like A Sunset, Run Run Run, Sometimes In The Fall, Rome

Encore: Playground Love, If I Ever Feel Better, Too Young, 1901

IMG00087-20090801-2239

Review:

Kami tidak takut, kami ingin berpesta dan berdansa sampai malam, karena tidak ada yang dapat menghalangi kami menikmati hidup ini. Kalau ada slogan tidak ofisial dari pagelaran Beatfest 2009 di Bengkel Night Park, Jakarta 01 Agustus yang lalu, mungkin bunyinya akan seperti itu. Pasca pemboman Marriot-Ritz 2 minggu sebelumnya, semua muda-mudi Jakarta berpesta tanpa kuatir sedikitpun akan ada sesuatu yang akan berjalan salah.

Perayaan malam itu dimulai dengan penampilan Naif, yang disusul dengan suguhan bombastis dari The S.I.G.I.T. Makin sering melihat penampilan mereka, sepertinya mereka semakin matang dari segala sisi. Mereka beraksi seperti layaknya seorang rock star sejati, memainkan lagu rock yang memukau semua orang. Seakan mereka sudah terlalu besar untuk negeri ini, dan tidak ada lagi yang dapat menahan sepak terjang mereka. Memainkan lagu – lagu antemik seperti “Did I Ask Your Opinion”, “Clove Doper”, dan “The Party” mereka memberikan segalanya, dengan aksi panggung maksimal yang berporos di permainan gitar Rekti dan Farri. Di lagu “Midnight Mosque Song” mereka mempersembahkan sebuah homage kepada pahlawan musikalis pribadi mereka, Led Zeppelin, dengan Farri yang mengambil tungkai gesek biola dan memainkannya pada gitarnya disusul dengan riff gitar yang mengingatkan kita dengan sangat pada “Babe I’m Gonna Leave You”. Menutup set mereka dengan “Black Amplifier”, Bengkel Night Park terpana dengan kedashyatan The S.I.G.I.T malam itu.

Tak lama setelah penampilan Rock ‘n’ Roll Mafia, band pemuncak malam itu, Phoenix,  tampil di atas panggung Bengkel Night Park. Menggebrak dengan “Lisztomania”, semua orang yang hadir di Bengkel malam itu membuktikan bahwa Jakarta bukanlah tempat yang perlu ditakuti, tetapi tempat paling menyenangkan yang pernah dimiliki negeri ini. Semua orang berdansa tanpa terkecuali. Disusul dengan “Long Distance Call” dan sebuah nomor Housemartin-esque “Consolation Prize” menaikkan kadar endorphine semua orang di Bengkel. Bagai sebuah kejutan yang menyenangkan, Phoenix di set utamanya cukup banyak memainkan lagu dari album “It’s Never Been Like That”, selain 2 lagu yang disebut di atas mereka juga memainkan “Napoleon Says” dan “Rally” yang diselingi oleh sebuah versi singkat mencengangkan dari “Funky Squaredance”.

Salah satu pemuncak malam itu adalah waktu band asal Perancis tersebut memainkan “Love Like A Sunset”. Dengan penataan cahaya yang memukau, yang terkadang memperlihatkan Phoenix sebagai sebuah siluet majestik di atas panggung, lagu tersebut berfungsi dengan maksimal untuk menghinoptis penonton yang terpukau oleh keagungan sosok band tersebut. “Sometimes In The Fall” yang juga dari album “It’s Never Been Like That” dimainkan di penghujung set utama mereka yang lalu dipungkasi dengan “Rome”.

Setelah secara obligatoris Phoenix menghilang dari atas panggung, Thomas Mars kembali dengan hanya ditemani oleh Christian Mazzalai. Mereka lalu meluncurkan sebuah nomor dari Air “Playground Love”, yang menjadi soundtrack film “Virgin Suicides”, sebuah film yang disutradai oleh pasangan hidup Mars, Sofia Coppola. Ada sesuatu yang magis dalam keheningan suara waktu mereka memainkan lagu tersebut. Keheningan itu tapi tidak dibiarkan lama, karena dengan susunan penuh Phoenix memberikan segalanya dalam “If I Ever Feel Better” dan “Too Young”. Tak pelak lagi semua orang di bengkel juga berdansa seakan di negeri ini tidak pernah ada ancaman bom, seakan negeri ini adalah negeri yang paling mengagumkan di seluruh bumi, dan mungkin pada momen itu, hal tersebut adalah fakta.

Suara sonar yang mengawali “1901” adalah permulaan dari sebuah akhir. Sebuah pamungkas dalam suguhan yang terasa terlalu singkat. Malam itu generasi Twitter negeri ini mendapatkan pestanya. Malam itu mereka menjadikan negeri ini menjadi sebuah kesatuan, melalui musik. Melalui sebuah perayaan, tanpa mengenal rasa takut. Dan sudah seharusnya kita selalu bersikap seperti itu.

David Wahyu Hidayat

07
Agu
09

Pencerahan Jiwa: Bagaimana saya menemukan kembali Black Rebel Motorcycle Club

BRMC

Di awal milenium ini, ketika rock ‘n’ roll yang sekarat diselamatkan oleh sebuah gerakan yang diawali dengan The Strokes di New York dan dibuntuti oleh The White Stripes di Detroit, sebuah trio asal San Fransisco bernama Black Rebel Motorcycle Club ikut menyentak perhatian saya dan seorang teman waktu itu.

Teman saya waktu itu meminta saya untuk menuliskan artikel tentang band tersebut yang dengan konsep musik “fuzz-psychedelic-garage rock”-nya berfungsi seperti penyambung mata rantai yang hilang antara Julian Casablanca dan gerakan “Shoegaze” di awal tahun 90-an. Artikel tersebut tidak pernah dimuat, karena media cetak tempat teman saya bekerja terpaksa harus gulung tikar, tetapi keajaiban debut album band yang disingkat dengan nama BRMC tersebut tetap terekam dalam diri saya dan teman saya.

Debut album tersebut adalah sebuah pernyataan. Bagaimana tidak, dengan judul lagu seperti “Whatever Happened To My Rock ‘N’ Roll (Punk Song)”, BRMC berusaha dengan sangat untuk menyembuhkan pasien bernama rock ‘n’ roll itu dari virus plastik pop/punk/rock/metal yang waktu itu menggerogoti kemagisan sebuah musik. Dan manusia seperti saya, ikut mendaftarkan diri untuk ikut berjuang melawan virus tersebut dengan musik dari mereka.

Didengarkan waktu itu, album itu sungguh merupakan versi yang lebih intelek dari debut album The Strokes. Bila The Strokes dengan gemilang menampilkan kesederhanaan dan sebuah bentuk rock ‘n’ roll yang menonjok langsung muka mereka yang sudah terlalu lama mendengarkan musik sampah, debut album BRMC adalah versi rock ‘n’ roll psikedelia yang gelap misterius, menyeret kita pelan-pelan ke alam bawah sadar penuh ekstase. “Love Burns” yang membuka album tersebut membuat kita mengerti mengapa di awal karirnya, mereka sempat dibandingkan dengan Ride, “Awake” terdengar seperti sisi gelap Noel Gallagher, “As Sure As The Sun” dan “Rifles” mengecam dan misterius, mendaki puncak psikedelia. Didengarkan lagi saat ini, album itu mendefinisikan sebuah zeitgeist yang sempurna.

Ketika album kedua mereka “Take Them On, On Your Own” dirilis tahun 2003, perayaan itu masih terjadi. Rock ‘n’ Roll telah memasuki masa pemulihannya. Akhirnya kita mendengarkan lagi musik sebenarnya. Dan ketiga orang yang ikut andil dalam pemulihan tersebut Robert Bevan (Vokal/Bass), Peter Hayes (Vokal/Guitar), dan Nick Jago (Drum) yang masih terlihat seperti sosok misteri yang dikirim dari ruang angkasa untuk menyelamatkan kita, menyebarkan serum musikalisnya dengan lagu seperti “Stop”, “Six Barrel Shotgun” dan “We’re All In Love” yang sampai saat itu telah menjadi tandatangan BRMC, bagaimana mereka memahat artian rock ‘n’ roll mereka.

Setelahnya, cukup lama saya berpisah dari BRMC dan musik mengagumkan mereka. Album ketiga mereka “Howl” yang terkesan folky dan didorong oleh sentuhan akustik dalam mayoritas suara albumnya seperti berlalu begitu saja tanpa sempat pernah diperhatikan. Musik di saat album itu dirilis, terlalu disibukkan dengan mereka yang berhasrat ingin membuat gadis-gadis muda menari liar di lantai dansa melalui musik rock seperti yang diusung oleh band seperti Franz Ferdinand dan Bloc Party. Tapi ketika teaser awal dari film Michael Mann terbaru “Public Enemies” muncul di internet, ada suara latar yang sangat familiar mengiringi seorang Johnny Depp yang sangat flamboyan merubah dirinya menjadi John Dillinger. Suara itu melantunkan kata-kata “Time won’t save our souls” berulang-ulang, dan suara itu tidak lain dan tidak bukan adalah lagu pembuka “Howl”, yaitu “Shuffle Your Feet”.

BRMC kembali memasuki radar musikalis saya. Meskipun pada saat dirilis, album tersebut seperti tidak berada pada jamannya, tapi didengarkan kembali saat ini, album itu menunjukkan kedewasaan bermusik BRMC. Seperti juga yang dilakukan oleh Kings Of Leon belakangan ini, album ini menunjukkan sisi americana dari BRMC. Sebuah album introspeksi yang cocok untuk dijadikan soundtrack sebuah road trip, waktu kita membutuhkan sesuatu untuk dijadikan pegangan dan memikirkan semua yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi di depan.

Terpacu oleh apa yang saya dengar dalam “Howl”, saya mulai kembali membongkar koleksi musik BRMC saya, dan mendengarkan dengan teliti album mereka yang dirilis tahun 2007, “Baby 81”. Yang saya dengar adalah sebuah pencerahan. Sebuah karya klasik BRMC. Dalam sebuah perjalanan mobil siang hari menembus ibukota ini bersama dua orang teman baru-baru ini, album ini dijadikan musik latar belakang. Dengan dashyat BRMC menghipnotis kita semua, dan kedua orang teman itu mewakili juga apa yang saya rasakan ketika mendengar “Baby 81”.

Dengan “Berlin” dan “Weapon Of Choice” mereka mengantarkan kembali kegelapan misterius dalam diri rock ‘n’ roll mereka tanpa harus lupa menyanyikan nada-nada yang menangkap kita. Suara vokal khas sedikit terdistorsi dengan reverb, yang dinyanyikan bergantian oleh Bevan dan Hayes, dan suara bas yang dipenuhi efek synth ringan akan menjadikan kedua lagu tersebut sangat berbahaya bila dibawakan di atas panggung manapun di planet ini. Diawali dengan piano yang terdengar seperti datang dari dalam sebuah rumah hantu “Windows” menerawangi kepala kita, menghayutkan isinya dengan melodi-melodi yang akan menghantui kita dalam impian tengah hari. The Jesus And Mary Chain seperti menyapa kita kembali waktu mendengarkan “Not What You Wanted”, sedangkan “666 Conducer”, “Lien On Your Dreams”, dan “American X” membawa kita terbang dalam surga kemagisan melodi – melodi psikedelia. “Baby 81” membuat saya kembali menemukan apa yang saya cintai dari BRMC, dan sepertinya kali ini cinta itu akan abadi.

Dan di sanalah mereka berdiri, tiga orang yang dianugerahi talen untuk membuat kemisteriusan rock ‘n’ roll menjadi sesuatu yang megah dan epik. Ketika pertama kali keluar, mereka memberikan perlawanan terhadap kefanaan musik waktu itu, dan saat ini bila kita kembali dihujani oleh banyaknya musik komedi dan kehampaan musik RBT beserta teman-temannya, kita selalu bisa kembali kepada sebuah suntikan serum musik yang akan memulihkan kita. Dan serum itu di antaranya datang dari sebuah band bernama Black Rebel Motorcycle Club.

David Wahyu Hidayat

04
Jul
09

Album Review: Phoenix – Wolfgang Amadeus Phoenix

PhoenixWolfgang

Phoenix

Wolfgang Amadeus Phoenix

V2 Records – 2009

Jika kalian sebuah band, bagaimana kalian mau menggambarkan keriangan musim panas? Lengkap dengan segala keceriaannya, dan perasaan untuk selalu bahagia menghadapi hari. Melakukannya secara konstan mungkin akan terasa sulit, kecuali kalian adalah 4 orang Perancis muda bernama Thomas Mars, Deck D’Arcy Laurent Brancowitz, dan Christian Mazzalai atau yang dikenal dunia sebagai sebuah band bernama Phoenix.

Band itu, sejak dari awal sepertinya mengagungkan harumnya suasana musim panas, dari “Too Young” pada debut album “United”, sampai pada “Long Distance Call” di album “It’s Never Been Like That”, Phoenix tidak lain dan tidak bukan adalah suara – suara yang menggoda kita pada sebuah musim panas yang paling ideal, sewaktu kita naif bercanda, ketika ide kita masih perawan belum digerogoti komersialisme, waktu kita jatuh cinta paling dalam. Empat pemuda itu, mengulanginya lagi di album yang mereka namakan “Wolfgang Amadeus Phoenix”.

Dengan vokal dinyanyikan berulang-ulang yang menjadi ciri khas Mars selama bertahun-tahun, “Lisztomania” membuka lembaran musim panas ala Phoenix. Lagu ini sebegitu indahnya sampai membuat kita lupa diri dan mengajak kita untuk berdansa sambil berjingkat-jingkat kecil seperti anak kecil menyambut sebuah liburan panjang. Perasaan itu dilanjutkan dengan sebuah suara seperti sonar kapal selam yang mendahului intro “1901”, sebelum lagu ini akhirnya menyinari kita dengan kehangatan pop dari Phoenix.

Satu saat dalam musim panas terbaik kita, waktu langit mulai senja dan kita duduk termenung, memandang horizon dalam terpaan angin sejuk menyapa pipi kita. Diam tanpa pikiran, tidak mempercayai diri, betapa beruntungnya diri ini, boleh berada dalam keadaan terbaik, dalam pelukan orang yang dicintai, tidak kekurangan suatu apapun. Perasaan ini dituangkan Phoenix dalam “Love Like A Sunset Part I” dan “Love Like A Sunset Part II”. Tak lama setelahnya, dengan beat yang nakal dalam “Lasso”, Phoenix menggoda kita kembali untuk menenggelamkan diri dalam sebuah malam yang harus dinikmati tanpa asa sedikitpun.

Menjelang fajar, ketika mentari masih malu menunjukkan wajahnya, waktu kita dalam keadaan setengah sadar setelah menikmati kefanaan sebuah malam memabukkan sebuah musim panas, ketika kita masih melayang seakan tidak ada beban dari dunia ini yang akan menahan telapak kaki kita di tanah, Mars merasukkan “Rome” ke telinga kita. Sepertinya semuanya ini semu, tapi pada saat yang sama semuanya seperti masuk akal.

Pagi hari menyingsing. Kali ini mentari tidak lagi malu menunjukkan sinarnya. Kita tersadar dari mimpi kita. Di kepala kita terngiang “For lovers in a rush, for lovers always, foreign lovers in a rush, keeping promises, for lovers in a rush, for lovers always”, itu adalah suara Mars menyanyikan lagu terakhir di “Wolfgang Amadeus Phoenix”. Sesaat lagi setelahnya, semuanya terasa berakhir. Benarkah semuanya ini berakhir? Musim panas ini, segala keceriaan dan semua yang memabukkan? Belum, semuanya masih ada di sana, karena setiap kali kita mendengarkan album ini, kita akan selalu dapat membawa musim panas ini bersama kita, dengan segala kesempurnaannya dan segala kenangannya, yang akan membuat kita tersenyum dan berdansa seperti seorang anak kecil.

David Wahyu Hidayat




 

Desember 2009
S S R K J S M
« Nov    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Categories

Blog Stats

  • 42,506 hits