Arsip untuk Kategori 'Polyester Embassy'

07
Okt
11

Konser Review: Polyester Embassy – Silent Yellow Ensemble Concert – Teater Tertutup Dago Tea House, 01 Oktober 2011

Polyester Embassy

Silent Yellow Ensemble Concert

Teater Tertutup Dago Tea House, Bandung

01 Oktober 2011

 

Band Pembuka: Space And Missile

 

Setlist:

Intro, Tragicomedy, LSD, Orange Is Yellow, Good Feeling, Polypanic Rooms, Air, Later On, Blue Flashing Light, Have You, Good Love, Ruins, Small Stakes, Faded Blur, You’ll Be Gone, Don’t Save Us From The Flames (M83 Cover)

Encore: White Crime, Space Travel Rock ‘n’ Roll, Fake/Faker

Review:

 

Pada suatu hari dalam kehidupan, terkadang manusia dapat mengantisipasi datangnya sesuatu menakjubkan yang akan membuat segala sesuatu pada hari itu menjadi masuk akal. Di hari-hari tertentu, sesuatu yang menakjubkan itu dapat membuat hari itu menjadi lebih agung dari hari-hari sebelum dan sesudahnya.

01 Oktober 2011 bertempat di teater tertutup Dago Tea House, Bandung adalah salah satu hari istimewa tersebut. Menjelang pukul 21:00 di bawah siraman loop drum tidak berkesudahan “Tomorrow Never Knows” dari The Beatles kelima siluet itu memasuki panggung sederhana dengan instrumen masing-masing yang sudah disiapkan lengkap di sana. Kelima siluet itu adalah Elang Eby (Vokal/Gitar), Eky (Gitar), Sidik (Gitar), Tomo (Bas) & Givari (Drum) atau kita kenal dengan nama Polyester Embassy, yang pada malam itu menghadiahkan sesuatu yang sangat luar biasa lewat konser mereka yang diberikan nama “Silent Yellow Ensemble”.

Kesederhanaan panggung itu berhenti sampai momen di mana mereka berlima mengambil tempat di instrumennya masing-masing. Karena begitu mereka mengawali set malam itu dengan sebuah intro instrumental, tidak hanya telinga kita saja yang dihentakkan dengan ledakan sonik seketika, tetapi mata kita disuguhi oleh sebuah keagungan yang sulit dijelaskan melalui permainan tata cahaya panggung yang serentak mengubah Dago Tea House seperti layaknya sebuah layar sinematik etereal kelas dunia.

“Tragicomedy” menyusul intro sebagai lagu kedua yang disuguhkan malam itu, liriknya yang berkata “…we’re gonna die, f*ck the neon sign..” adalah hal yang sangat kontras di malam itu, karena semua yang berada di sana tidak akan mungkin mengacuhkan cahaya panggung yang memberikan rasa seperti pencerahan. Tanpa banyak basa-basi lagu tersebut dihajar dengan “LSD”, gitar Eky dan Sidik di lagu itu seperti bertarung merebut supremasi arena teater tertutup Dago Tea House tanpa mempedulikan penonton yang kagum akan sinar yang berseliweran di atas kepala mereka.

Setelahnya, Polyester Embassy memasuki teritori lagu-lagu dari album pertama mereka “Tragicomedy” dengan menyuguhkan “Orange Is Yellow”, “Good Feeling” & “Polypanic Rooms”. Penempatan “Polypanic Rooms” di awal set bisa jadi mengejutkan banyak orang, karena beberapa mungkin akan mengira lagu ini akan dijadikan salah satu pamungkas di akhir konser. Tapi persetan dengan penempatan di awal atau akhir set, diperkenalkan oleh Elang sebagai lagu “..untuk mereka yang sedang berbahagia” lagu ini tidak bisa dipungkiri adalah salah satu klimaks di malam itu.

Menjelang pertengahan set mereka, Elang sempat mengucapkan selamat datang kepada para penonton karena telah hadir di ruang tamu mereka, yang dengan tata cahaya megah itu, lebih tampak menyerupai sebuah pesawat antariksa daripada sebuah ruang tamu. Namun meskipun begitu, suasana intim dari sebuah ruang tamu memang sangat terasa dalam “Silent Yellow Ensemble Concert” itu. “Air” dan “Later On” lalu mengajak kita menikmati perjalanan dalam pesawat antariksa itu. “Later On” yang akan menjadi single kedua dari “Fake/Faker” berintegrasi sangat mulus dengan atmosfir teater tertutup Dago Tea House malam itu, terutama ketika di akhir lagu, obligatoris tepuk tangan kolektif mengiringi seksi ritem Polyester Embassy dilakukan dengan sangat cermat oleh para penonton. Suasana intens konser malam itu, dicairkan sedikit oleh Elang yang membawakan “Have You” secara solo hanya dengan gitar akustiknya. Dibalut dengan cahaya biru yang mengelilinginya, ada unsur ikonik pada dirinya di lagu itu. Konsep serupa, diulangnya lagi pada “Ruins” yang diperkenalkannya sebagai lagu galau pagi hari. Ambiens yang ada di ruangan itu sekejap berubah menjadi damai menenangkan, seakan tidak ada tempat yang lebih damai di dunia ini, dari ruangan konser itu.

Set utama mereka malam itu ditutup dengan sebuah versi cover “Don’t Save Us From The Flames” dari M83. Sempat tersendat di awal lagu, dan terpaksa mengulanginya, Polyester Embassy mengakhiri lagu tersebut dengan gemilang sekaligus memuncaki set utama mereka yang berdurasi sejam lebih.

Encore “Silent Yellow Ensemble” diawali dengan kolaborasi Elang dan Evan Storn pada “White Crime” yang di album “Fake/Faker” juga memainkan theremin di lagu yang sama. Di album, yang terdengar dari lagu ini adalah suasana mencekam seperti sebuah thriller Stephen King. Dimainkan secara live bayangan yang terbersit di kepala adalah mengambang di antariksa luas dengan harapan satu-satunya adalah kilauan biru yang berjuta – juta tahun cahaya jaraknya namun masih dapat menyilaukan. Mungkin mereka telah memikirkan bahwa ini adalah prelude atau pembuka set encore mereka yang tepat, karena lagu selanjutnya adalah “Space Travel Rock ‘n’ Roll”. Psikedelia luar angkasa paling sempurna hadir bukan di Manchester, bukan juga di Reykjavik, maupun New York, tapi itu hadir di Bandung, dibawakan oleh sebuah band yang sepertinya sudah menjadikan negara ini terlalu kecil untuk memenuhi ambisinya. Tempat mereka seharusnya adalah di dunia, dan konser pada 01 Oktober 2011 bisa dipercayai adalah awalnya.

Ensemble indie termegah yang pernah disaksikan anak bangsa negeri ini diakhiri dengan “Fake/Faker”, tidak ada lagi yang mencegah Polyester Embassy dan penonton untuk tidak meluapkan perasaannya. Di akhir konser semua orang berdiri takjub, tidak rela kalau konser ini akan berakhir. “Silent Yellow Ensemble” akan menjadi bahan pembicaraan orang banyak jauh di tahun-tahun mendatang, mungkin sampai jaman anak cucu kita. Malam itu kita menyaksikan sesuatu yang legendaris, dan bila di 2021 orang bertanya apakah kita berada di sana pada tanggal 01 Oktober 2011, jawabannya adalah “Ya saya berada di sana, ketika Polyester Embassy memberikan kita semua hadiah paling istimewa kepada semua orang yang haus akan sebuah musik jujur, inspiratif dan mempunyai kelas”. Sampaikan ini kepada semua orang yang kalian jumpai.

David Wahyu Hidayat

14
Mei
11

Album Review: Polyester Embassy – Fake/Faker

Polyester Embassy

Fake/Faker

FFWD Records – 2011

 

Penantian yang sudah terentang sejak 5 tahun itu akhirnya diruntuhkan dengan suara distorsi gitar, membuka sebuah akselerasi rock ‘n’ roll seperti sebuah senapan mesin yang memuntahkan ribuan peluru panas untuk menundukkan terorisme jiwa yang sudah terlalu penat terkungkung kehidupan. Sejenak kita seperti tidak mengetahui dari band manakah suara maharaja ini datang? Suara efek gitar membayang yang menumpuk di belakang membentuk dinding suara tanpa batas, dentuman bas dan drum yang menghajar alam bawah sadar kita itu? Satu-satunya petunjuk adalah sebuah cakram padat yang dikemas dalam sampul berwarnakan kuning keemasan. Dengan ukuran sampul seperti sebuah 7” vinyl ketika kita memegang dan memandangnya, bahkan sebelum mendengarkan satu nada pun di dalamnya, mata kita sudah dimanjakan oleh karya seni tersebut. Lalu di menit 01:49 ketika vokal pertama album itu dikumandangkan, kita serentak mengetahui dan mengenal suara tersebut. Terakhir suara tersebut didokumentasikan dalam sebuah cakram padat adalah pada lagu “Home”, tahunnya adalah 2006, albumnya adalah sebuah mahakarya jenius skena lokal negeri ini berjudul “Tragicomedy”, bandnya adalah Polyester Embassy. Lagu yang kita dengarkan sekarang itu berjudul “Air”, pembuka album terbaru mereka yang dinamakan “Fake/Faker”, dan ini adalah sebuah realita sonik yang terjadi sekarang ini. Hadirin sekalian, Polyester Embassy telah kembali.

“Later On” menebarkan ancaman berikutnya, ancaman yang sudah kita rasakan sejak 5 tahun yang lalu, kalau band ini dengan sangat konstan dan serius akan mendobrak segala sesuatunya yang kita kenal dari persepsi musik negeri ini. Dengan nyanyian sangat melodius di awal lagu sampai coda dentingan piano, “Later On” mendeskripsikan agresifitas Polyester Embassy, seperti semua unsur elemen musik alternatif terhujam dan mengalir menjadi suatu keindahan yang teransemen sangat rapi. “LSD” menggeliat dengan alur musik yang membahayakan indera kita, ritem gitar yang bermunculan sesekali itu, dipadu dengan dentuman bas yang meliuk menari menggoda, sebelum serangan gitar itu datang bagaikan proyektil yang dikendalikan dari jauh oleh pedal wahwah.

Ketika kita sudah disiram penuh ekstase dalam 3 lagu pertama “Fake/Faker”, datanglah “Space Travel Rock N Roll”, nomor penuh psikedelia yang bertempo lebih lambat dari 3 lagu sebelumnya. Di manakah kita berada sekarang? Tanpa sempat berpikir kita merasakan kaki kita tidak lagi berpijak pada tanah kota ini, tubuh kita mengambang diiringi trumpet yang mengiringi akhir lagu ini. “Good Love” meneruskan perasaan mengambang penuh endorphine itu dengan liriknya “Let’s head up the rain fall with more smiles”. Direkam dengan hanya menggunakan gitar akustik, piano dan hapsichord, lagu berikutnya “Have You” merupakan lagu penyeimbang yang menenangkan aura psikedelia bombastis “Fake/Faker”.

Meskipun begitu, ketenangan tersebut tidak berlangsung lama, karena dalam “Small Stakes” kita kembali diporak-porandakan oleh suasana rock ‘n’ roll industrialis penuh dengan intensitas tinggi yang menyesakkan karena kita tidak akan pernah mengetahui mau dihempaskan ke mana gumpalan energi yang memenuhi kepala kita waktu mendengarkan lagu ini. Kemudian di urutan ke 8 adalah titel track album ini “Fake/Faker. Menusuk seperti light sabre Obi-Wan Kenobi dan Anakin Skywalker yang saling beradu memperebutkan kemenangan atas kepalsuan yang ada, sampai akhirnya ketika piano, blips, gitar, bas dan drum itu berulang-berulang menghentakkan pikiran dan telinga kita, semua itu seperti sebuah monolog untuk melawan semua yang memalsukan segala sesuatunya yang telah ada dan terlihat. “Fake/Faker” ditutup dengan “White Crimes”, dengan keagungan dan kerisauan bunyi synthesizer seperti terperangkap dalam salah satu skena film Stephen King.

5 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menunggu datangnya sebuah album. Namun dengan album yang definitif merupakan pengalaman sonik paling berharga tahun ini, Polyester Embassy telah menjustifikasi waktu penantian itu dengan sangat gemilang. Bila “Tragicomedy” terdengar seperti sebuah musik yang dikirimkan dari antariksa nun jauh di sana ke planet ini, maka “Fake/Faker” adalah usaha manusia untuk terbang menjelajah teritori galaksi yang belum pernah dihidupi dan dialami sebelumnya. Bersiaplah untuk menembus galaksi bersama album ini.

David Wahyu Hidayat

16
Apr
11

Pencerahan Jiwa: 10 rekaman yang membentuk selera musik saya

Beberapa waktu lalu, seorang teman saya berceloteh begini kepada saya sambil tertawa meringis: “Bayangin ya, waktu kecil, kita masih terima dari kakak/ayah/teman kita: Nih musik bagus untuk didengerin (sembari menyerahkan tumpukan CD/Kaset/Vinyl). Nanti ya, 10-20 tahun dari sekarang, apa yang kita kasih ke anak-anak kita ya, buat dengerin musik bagus? Hard disk portabel?”.

Bayangan yang ia lanturkan itu adalah bayangan menyeramkan. Melihat keadaan musik sekarang yang sudah menjadikan trashy pop sebagai suatu trend untuk digilai jutaan orang saja, sudah kelam. Paling tidak, walaupun secara pribadi tidak menyukai, Madonna dan Kylie masih memiliki kelas.

Membicarakan selera tidak akan kunjung habis. Karena selera dimiliki masing-masing orang dan terserah mereka akan melakukan apa dengan seleranya masing-masing. Selera terbentuk dari apa yang kita dengar dan lihat. Dari melihat dan mendengar filter itu dibuat, dari sana selera itu terbentuk. Paling tidak, saya masih mempunyai kumpulan CD untuk diberikan kepada anak-cucu saya nantinya, dan mudah-mudahan mereka masih memiliki selera yang masih dapat diselamatkan. Selama jaman dan waktu mengijinkan serta yang Maha Kuasa masih berkenan, saya masih akan terus mengumpulkan bentuk fisik dari musik yang membentuk selera saya. Mudah-mudahan ini semua masih bisa dinikmati sebagai bagian dari warisan budaya generasi anak-cucu saya.

Di bawah ini, adalah 10 rekaman, tidak dalam urutan tertentu, yang membentuk selera musik saya saat ini. Mudah-mudahan saya berkesempatan memberikan ini semua, beserta CD-CD lainnya kepada anak saya. Happy Record Store Day!

David Wahyu Hidayat

1.    Vs. – Pearl Jam (Epic Records, 1993)


Album ini adalah tapal batu berubahnya selera musik saya, dari kekaguman masa kanak-kanak terhadap grup vokal muda dari NY, kepada sebuah bentuk musik yang lebih mentah dan kasar, menyuarakan kegelisahan pubertas dan pemberontakan jiwa yang tidak pernah mengerti apa-apa. Teman SMP saya memberikan sebuah mixtape berisikan Nirvana di sisi A dan Pearl Jam di sisi B, kaset itu lalu menggerakkan saya membeli album ini. Setelahnya selera musik saya tidak pernah sama lagi seperti sebelum-sebelumnya.

2.    The Beatles – The Beatles (Apple, 1968)


Album The Beatles mana yang terbaik akan selalu menjadi perdebatan sepanjang masa. Tapi album inilah yang sebenarnya membuat saya menjadi kerasukan band legenda ini. Yang membuat saya menemukan album ini adalah ketidaksengajaan yang sebenarnya lucu untuk dikenang. Di penghujung dekade 90-an, seorang yang waktu itu dekat dengan adik saya, entah untuk alasan apa, mengirimkan album ganda ini dalam bentuk kaset. Mungkin dipikirnya album ini adalah alasan bagus untuk membuat dirinya impresif terhadap adik saya, sekaligus membawa adik saya ke selera musik yang bagus. Yang terjadi adalah, saya membajak album itu dan mendengarkannya secara intens. Memang sebelumnya saya sudah mengenal The Beatles lewat, sekali lagi lewat sebuah mixtape dari teman SMP yang sudah saya sebut di atas, yang dengan bangga memberikan judul mixtapenya “The Beatles Restrospective: 1963-1970”, dan beberapa peristiwa unik ketika ayah saya tiba-tiba menyetel lagu mereka di rumah. Tetapi saya belum pernah mengenal The Beatles seperti saya mengenalnya dalam “The White Album”. Lagu-lagu seperti “While My Guitar Gently Weeps”, “Helter Skelter”, “I Will”, “Happinnes Is A Warm Gun”, dan “Everybody’s Got Something To Hide Except Me And My Monkey” memberikan sebuah ruangan baru dalam definisi The Beatles ke otak saya. Saya memutuskan untuk mencintai band ini dengan sangat, dan ketika saya mulai bekerja di Jakarta, gaji pertama saya, dan gaji-gaji saya di setiap bulannya, saya gunakan untuk mengumpulkan studio album mereka, sampai akhirnya koleksi itu terlengkapi.

3.    The Bends – Radiohead (Parlophone, 1995)


Saya membeli album ini, cukup telat. Di tahun 2000, ketika saya sedang liburan awal tahun ke Jakarta di tengah-tengah kuliah saya waktu itu di Jerman. Pertangahan tahun yang sama, saya dan beberapa teman melakukan sebuah pekerjaan musim panas di sebuah kota di bagian tengah Jerman, di sebuah pabrik pemasok drum penampung untuk sebuah perusahaan kimia. Dalam perjalanan menuju pabrik setiap pagi, istirahat siang di taman dekat pabrik tersebut, dan dalam perjalanan trem pulang di sore hari ini, album ini setiap saat melekat menemani saya di discman yang saya bawa kemana-mana waktu itu. Memang, saya sudah terlambat 5 tahun untuk diperkenalkan dengan pengalaman sonik yang ada di album itu, tapi di musim panas itu mendengarkan “The Bends”, “My Iron Lung”, dan kesterilan melodik “Bullet Proof…I Wish I Was” membawa saya mengerti, mengapa Radiohead adalah maestro musik jenius yang akhirnya membawa mereka menghasilkan album-album mahakarya di tahun-tahun sesudahnya, di antaranya adalah “Kid A” yang merupakan album favorit Radiohead saya.

4.    The Stone Roses – The Stone Roses (Silvertone Records, 1989)


Ketika Oasis meledak di tahun 1995, teman SMA saya yang mempunyai pengetahuan musik seperti musikpedia berjalan mengatakan hal ini kepada saya “Elo harus dengerin The Stone Roses, karena mereka telah melakukannya duluan sebelum Oasis melakukan apa yang mereka lakukan sekarang”. Setelahnya saya hanya membeli The Complete Stone Roses di kaset, karena hanya itu yang dapat dibeli di Jakarta pada waktu itu. Beberapa tahun setelahnya, ketika saya memiliki kesempatan menempuh pendidikan di Dortmund, saya akhirnya membeli debut album The Stone Roses yang legendaris itu. Edisi US, dengan “Elephant Stone” di track ketiga (Saya baru tahu sesudahnya bahkan, kalau lagu ini tidak masuk di versi asli album tersebut) dan “Fools Gold” di track 13. Yang membuat mata musikalis tercelik adalah versi asli “I Am The Resurrection” sepanjang 08:14 menit. Di situ saya sadar apa yang Ian, John, Mani dan Reni lakukan adalah cetak biru apa yang dilakukan band-band Inggris lakukan setelahnya. Di sekitar saat yang sama, tetangga saya di gedung yang saya tinggali waktu itu terdapat seorang mahasiswa Inggris dan seorang mahasiswi Jepang. Entah berapa puluhan cangkir teh serta kopi dan ribuan kata terlewati dengan mereka hanya untuk membahas kesempurnaan album ini. Banyak orang mengira band favorit saya sepanjang masa adalah Oasis, tetapi sesungguhnya, berada di tempat nomor satu sebagai band yang saya puja secara religius adalah The Stone Roses.

5.    The Queen Is Dead – The Smiths (Rough Trade, 1986)


Awalnya CD ini mendarat ke tangan saya, waktu saya meminjamnya dari seorang teman di musim semi 1999. Waktu itu saya sedang menjalani praktikum di sebuah perusahaan telekomunikasi Jerman sebagai syarat memasuki kuliah. Setiap pagi saya harus bangun sebelum Matahari terbit, menyiapkan diri dengan sangat malas, dengan mata yang masih mengantuk, terkadang masih terdengar sayup sayup sisa-sisa pesta mahasiswa di lantai atas gedung saya. Di fajar-fajar buta itu, “There Is A Light That Never Goes Out” dan “Some Girls Are Bigger Than Others” menerbitkan mentari lebih awal untuk saya. Suara Morrissey yang sendu mendayu, liriknya yang berkata jujur terhadap hari-hari yang kita jalani dan kejeniusan aransemen Johnny Marr memberikan semangat baru dalam fase kehidupan saya waktu itu. Sampai sekarang jika suasana hati sedang tidak menentu, saya selalu memutar album itu, dan entah kenapa, semuanya terlihat membaik secara pelan-pelan. Mungkin memang benar pada akhirnya akan selalu ada cahaya yang tidak pernah akan pudar.

6.    Tragicomedy – Polyester Embassy (FFWD Records, 2006)


Saya lupa kapan pastinya saya mulai menggilai band ini. Yang saya ingat adalah di sebuah Minggu siang yang membosankan, saya terantuk kepada laman MySpace mereka, dan mendengarkan sejumlah lagu-lagu yang sangat ajaib mengagumkan di sana. “Orange Is Yellow”, “Blue Flashing Light” dan “Polypanic Room” sepertinya yang saya dengar waktu itu. Di siang yang sama, usai mendengarkan lagu-lagu tersebut, saya langsung berlari ke sebuah toko buku di bilangan Cilandak yang juga menjual CD-CD band independen negeri ini. Syukur saya mendapati CD itu ada di sana. Selanjutnya adalah pencerahan tanpa batas yang diperoleh dari 9 lagu yang ada di situ. Setelahnya saya selalu bilang ke teman-teman saya yang mempunyai selera musik serupa dengan saya “Bila mereka berasal dari Stockholm atau Trondheim mereka pasti sudah sebesar Sigur Ros atau Mew, percaya atau tidak”. Karena sebesar itulah dampak musik mereka.

7.    Pure Saturday – Pure Saturday (Ceepee Records, 1996)


Siapa yang tidak mengenal band ini? Tanpa mereka skena musik independen tanah air tidak akan seperti sekarang. Pure Saturday adalah pionir, dan ketika di tahun terakhir SMA saya membeli kaset mereka dan menyaksikannya di pensi yang diadakan sekolah saya waktu itu, yang terdapat adalah perasaan bahagia. Mereka adalah cerminan generasi kreatif waktu itu: naif, cerdas bermain dengan kreatifitas, dan berani untuk menampilkan seni mereka di luar arus utama. Ke mana semua itu pergi saat ini?

* Album ini hanya saya miliki dalam bentuk kaset, yang sudah rusak dan tidak dapat lagi dinikmati. Sebagai upaya penyelamatan, teman saya lalu mengubahnya ke dalam bentuk digital, dan hanya itulah satu-satunya peninggalan dari album ini (sigh).

8.    (What’s The Story) Morning Glory – Oasis (Creation Records, 1995)


Menjelang Natal 1995, saya membeli album ini setelah melihat “Roll With It” dan “Wonderwall” di Mtv (Ya betul, waktu itu musik televisi masih berfungsi sebagai musik televisi) dan memutuskan bahwa band ini akan memberikan arti penting ke dalam kehidupan saya. Dalam sebuah keputusan yang jarang dilakukan oleh orang tua saya, entah kenapa, keluarga kami waktu itu memutuskan untuk merayakan Natal di Carita. Lilin malam kudus di gereja digantikan oleh sebuah makan malam di pinggir pantai. Saya ingat setelahnya, saya duduk seorang diri di kegelapan malam, memandang lautan yang pekat, dengan ombak berdebur kencang. Di telinga saya adalah suara Liam terputar oleh walkman yang saya bawa waktu itu. Oasis adalah lawan kutub dari Pearl Jam dan suara grunge yang mulai saya gandrungi waktu itu. Walaupun sebagian besar lirik yang ada di album tidak berarti apa-apa, tapi ia menghembuskan angin optimisme yang entah bertiup dari mana. Seperti mengingatkan kita untuk dapat melakukan segalanya, asalkan kita percaya. Oasis adalah optimisme tanpa batas, seluas lautan yang saya lihat di malam Natal, balik di tahun 1995.

9.    Silent Alarm – Bloc Party (Domino Records, 2005)


Sejujurnya pada awalnya  saya sangat-sangat skeptis dengan band ini. Serius, kalau dipikir, band dengan akal sehat mana, menamakan dirinya Bloc Party? Tapi saya lalu memberanikan diri untuk mendengarkan lagu-lagu di album itu. Ketika efek delay pertama Russel menggaung di “Like Eating Glass” untuk lalu ditelan dengan gulungan monster drum Matt, Bloc Party adalah salah satu band terdasyhat dan inovatif yang pernah lahir di tahun-tahun ’00. Mereka tidak akan pernah menjadi band stadium seperti Kings Of Leon misalnya, tapi dengarkan album itu, belum pernah permainan efek gitar, teriakan revolusioner dan gebukan drum terdengar sesegar seperti di “Silent Alarm” sepanjang dekade lalu. Saya lalu mendedikasikan diri saya untuk menjadi fans band ini. Dan untuk satu alasan tertentu, ketiga album Bloc Party adalah satu-satunya dalam koleksi CD saya, yang saya miliki ganda. Edisi normalnya, ditambah dengan edisi spesial dengan bonus track dan DVD. Bahkan remix albumnya pun saya miliki. Sebesar itu dampak band ini dalam kehidupan permusikan saya.

10. Is This It – The Strokes (Rough Trade, 2001)


2001 di kepala saya hanya identik dengan 2 peristiwa: 9/11 dan dirilisnya debut album The Strokes. Yang pertama adalah tragedi manusia penuh konspirasi dan mengubah kehidupan kita semua setelahnya. Yang kedua adalah perayaan kembalinya musik gitar dalam esensi sesungguhnya. Ke manapun kita memasuki klab-klab indie di tahun 2001-2002, lagu-lagu The Strokes adalah yang membuat lantai dansa yang sudah terlalu lengket dengan tumpahan bir, pecah dengan anak-anak Indie yang seperti menemukan penyelamat mereka dalam wujud band ini. Didengarkan 10 tahun sesudahnya, album ini masih terdengar begitu menggairahkannya seperti didengarkan pertama kali. Album itu adalah sebuah pamungkas yang sulit untuk ditiru band manapun sesudahnya.

25
Okt
09

Konser Review: Efek Rumah Kaca & Polyester Embassy – Urban Fest 2009, 24 Oktober 2009

Sabtu siang yang cerah, mereka yang ingin melarikan diri dari jebakan penuh godaan mal-mal Jakarta, menemukan dirinya di Pasar Seni, Ancol. Di sana, di bawah teriknya Matahari Ancol, dan tiupan angin lemah Laut Jawa, Urban Fest 2009 digelar. Sebuah acara yang menggabungkan pertunjukkan band dan pameran seni lainnya, serta kreatifitas kehidupan Urban.

Di hari pertama acara tersebut, 2 band yang bisa dibilang masuk dalam salah satu yang terbaik yang dimiliki negeri ini, mengisi panggung yang berada di Urban Fest 2009. Band yang pertama adalah Efek Rumah Kaca. Mengisi panggung utama di waktu yang kelewat dini pada pukul 15:30, mereka berhasil menarik pengunjung awal yang berkeliaran di Urban Fest kemarin. Dengan materi yang dipadukan dari album pertama dan kedua, mereka terdengar sangat berbahaya, didukung dengan tata suara cukup baik yang menjadikan suara Cholil terdengar agung dan penuh misteri, terutama di nomor yang dijadikan penutup set mereka waktu itu, “Jalang”. Lagu – lagu seperti “Kau Dan Aku Menuju Ruang Hampa” terdengar mengagumkan, sosok Cholil seperti seorang seniman yang mendalami musiknya dengan sangat dan itu dirasakan mereka yang melihatnya. Dalam “Di Udara”, “Mosi Tidak Percaya” dan “Menjadi Indonesia” mereka tidak hanya memainkan sebuah karya yang menunjukkan kepedulian terhadap apa yang terjadi dengan negeri ini, tetapi juga menujukkan kalau mereka berada di kelasnya tersendiri. Efek Rumah Kaca telah membuka Urban Fest 2009 dengan penampilan yang dashyat.

Memasuki malam, udara lembab masih menguasai pasar seni waktu Polyester Embassy menaiki panggung Prambors. Seperti biasa mereka terdengar solid, memulai dengan sebuah instrumentalia, yang disusul oleh “Orange Is Yellow”. Sebuah nomor baru “Later On” mengalir dengan melodik di tengah perpaduan bas Tomo dan gitar Sidik, yang lalu di bagian akhirnya disambung dengan permainan kibor Elang, dan respon tepuk tangan penonton yang mengiringi seperti instrumen ritmus tambahan. Lagu – Lagu lama seperti “Good Feeling” dan “Polypanic Rooms” memberikan atmosfir sebuah gig yang intim di tengah-tengah kehingarbingaran Urban Fest malam itu. Set mereka malam itu ditutup dengan Fake/Faker, masih dalam balutan suara ethereal yang menghanyutkan, di bawah langit Ancol yang memberikan kita pelarian dari kehidupan urban malam itu.

David Wahyu Hidayat

Efek Rumah Kaca memainkan: Banyak Asap Di Sana, Balerina, Sebelah Mata, Kau Dan Aku Menuju Ruang Hampa, Mosi Tidak Di Percaya, Di Udara, Menjadi Indonesia, Jalang

Polyester Embassy memainkan di antara lain: Orange Is Yellow, Later On, Good Feeling, Polypanic Rooms, Fake/Faker.

Foto-foto dari penampilan mereka bisa dilihat di bawah ini:

IMG00226-20091024-1531

IMG00227-20091024-1531

IMG00228-20091024-1532

IMG00228-20091024-1532

IMG00229-20091024-1532

IMG00230-20091024-1538

IMG00231-20091024-1538

IMG00233-20091024-1845

IMG00235-20091024-1845

IMG00236-20091024-1846

IMG00238-20091024-1847

IMG00239-20091024-1847

IMG00240-20091024-1851

IMG00241-20091024-1852

07
Jun
09

Konser Review – Polyester Embassy – Eplex, Bandung 06 Juni 2009

Polyester Embassy

Bandung – Eplex, Paris Van Java

Sabtu, 06 Juni 2009

Setlist:

F# Noise, Lover Is Dead, Good Feeling, Falling Down, Orange Is Yellow, A waiting, Ghost Behind My back, Polypanic Rooms, Live the Dream, Fake, Faker

Polyester Embassy - 06 Juni 2009 - 2

Review:

Kita membutuhkan pahlawan, atau? Di saat di mana dunia mengatakan manusia sedang mengalami krisis, di waktu di mana kita berada di persimpangan apakah lebih baik melanjutkan, atau menjalankan sesuatu lebih cepat tapi tanpa pembuktian, atau melakukannya segalanya lebih megah dengan konsep yang meragukan. Di saat seperti ini, kita mencari sesuatu yang kembali menginspirasikan kita, sesuatu itu tidak perlu besar, atau penuh dengan janji dan polesan untuk memukau massa. Sesuatu itu cukup dari kemampuan untuk selalu menantang diri melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya, menemukan diri di sebuah teritorial baru yang menghempaskan jiwa dengan suara – suara yang luar biasa ampuh untuk merobek telinga ini.

Dalam sebuah perhelatan acara perdana yang ditelurkan oleh ffwd bertajuk Interlude, Polyester Embassy memainkan sebuah set ambisius yang memukau. Ini adalah inspirasi yang kita cari selama ini, mereka adalah pahlawan yang akan memenangkan pertarungan kita melawan semua kefanaan melodi pasar yang tingkat kekomediannya sudah mencapai tahap yang tidak dapat ditoleransi lagi.

Malam itu mereka memainkan rangkaian lagu yang memadukan karya dari album perdana mereka “Tragicomedy” dengan lagu – lagu yang mungkin menjadi kandidat untuk dimasukkan ke rilisan mereka berikutnya. Diawali sebuah intro instrumentalis yang terdengar tajam, setiap pasang telinga yang mendengarkan dan setiap pasang mata yang menyaksikan Polyester Embassy di Eplex malam itu merasakan kalau mereka sebagai sebuah band telah maju selangkah lagi, mendorong kemampuan mereka menuju ruangan tanpa batas dalam mengeksplorasi musik mereka. Lagu – lagu baru yang dimainkan terdengar mengagumkan. Dipersenjatai oleh berbagai macam keyboard/synth selain dengan 4 gitar yang tersedia di beberapa lagu, Polyester Embassy melakukan pesta pora liar musik yang seperti datang dari pesawat antariksa yang dikirimkan dari masa depan ke sebuah dataran tinggi bernama Bandung. Kehadiran gitaris/kibordis/noisemaker baru Nims di antara personil Polyester Embassy, menambah keinovatifan musik mereka yang ditampilkan jelas malam itu di depan publikum Eplex.

Polyester Embassy - 06 Juni 2009 - 5

Memasuki intro “Polypanic Rooms” kita mendengarkan sebuah himne oleh Elang, Tomo dan Ekky yang menyanyikan penggalan lirik lagu tersebut tanpa iringan satu instrumen sekalipun. Kita mendengarkan “Is anybody there can watch me, Is anybody there can hear me, And I feel lost and I feel empty Is anybody there can feel me” seperti sebuah ketenangan sebelum badai bas Tomo menghempaskan kita menuju nirwana musik dan suara dalam ruangan-ruangan polypanic yang memancarkan keagungan. Lagu setelahnya, kembali sebuah instrumentalia yang mengiris tajam dengan suara gitar yang berubah bagaikan pukulan – pukulan yang menjatuhkan semua kehampaan dan kefrustasian yang berada disekeliling kita.

Mengakhiri set mereka dengan “Fake” dan “Faker”, dua lagu kembar yang mempunyai karakter bertolakbelakang, yang pertama berfungsi sebagai ajakan menuju sisi gelap yang manis memabukkan, yang kedua adalah sebuah lagu yang mengembalikan kita kepada sebuah tempat yang terlepas dari segala kepalsuan, Polyester Embassy meletakkan sebuah klimaks pada penampilan mereka. Tidak ada lagi yang dapat dikatakan, mereka telah memberikan semuanya, dan semuanya itu adalah yang terbaik yang dapat kita nikmati saat ini. Bila tidak dirundung oleh masalah sound yang sayangnya menyertai penampilan Poyester Embassy malam itu, mungkin kita telah menyaksikan sesuatu yang sudah lama kita cari selama ini. Sesuatu yang legendaris. Tapi terlepas dari semuanya, malam itu di sebuah tempat bernama E-plex pada tanggal 06 Juni 2009 kita telah menjadi bagian dari sesuatu yang mengagumkan. Polyester Embassy telah melakukan sesuatu yang gagal dilakukan oleh banyak orang di negeri ini, karena dengan konser mereka malam itu, mereka telah memberikan kita sebuah sebuah pencerahan.

David Wahyu Hidayat

28
Jan
09

Pencerahan Jiwa: Polyester Embassy – Fake (Demo) dan Faker (Demo)

pe

Suatu sore di sebuah gedung perkantoran di kawasan Gatot Subroto, Jakarta. Mata menatap keluar kosong, tanpa pikiran apapun. Tiba-tiba di earphone terdengar sepotong musik yang menyentak lamunan. Terlalu tajam untuk tidak menggores keresahan, terlalu terus terang untuk tetap diam dalam kebosanan.

Dua lagu yang mengubah sore monoton itu adalah demo terbaru dari Polyester Embassy: Fake dan Faker. Yang pertama tanpa basa-basi menusuk bagaikan light sabre Anakin Skywalker, seperti panggilan menuju kegelapan, seperti Jedi yang bosan akan semua ajaran Yoda dan berpaling kepada sisi gelap dari force. Yang kedua diawali dengan alunan menghanyutkan synth yang kemudian pelan-pelan dipenuhi dengan suara gitar dan drum yang berulang-ulang menaklukkan ketahanan alam pikiran kita seperti sebuah monolog melawan semua yang memalsukan apa yang telah ada dan terlihat.

Bila ini adalah apa yang akan ditawarkan Polyester Embassy di album kedua mereka, sepertinya kita semua harus bersiap – siap untuk menghadapi sebuah album yang akan membahayakan jiwa.

David Wahyu Hidayat


Dapat didengar di laman MySpace mereka: http://www.myspace.com/thepolyesterembassy

Foto oleh Ryan Koesoema, diambil dari http://www.myspace.com/thepolyesterembassy

27
Jan
08

Album Review: Polyester Embassy – Tragicomedy

polyester-embassy-tragicomedy.jpg

Polyester Embassy

Tragicomedy

FFWD Records – 2006

Definisi kesempurnaan seringkali terlalu ditakuti untuk diakui kebenarannya. Kita bahkan terperangkap dalam sebuah dogma yang mengatakan bahwa sesuatu bernama kesempurnaan tidak pernah dan tidak akan eksis. Meskipun begitu manusia mencari sendiri bentuk kesempurnaannya masing – masing, melakukan perjalanan untuk menemukan format keidealan dalam segala sesuatu yang tidak sempurna ini.

“Tragicomedy” sebuah album yang dirilis tahun 2006 oleh ffwd records dari sebuah band bernama Polyester Embassy asal Parijs van Java adalah sebuah penampakan lain dari sebuah kesempurnaan. Album itu berisikan 9 lagu, menampilkan suasana ruang angkasa yang menvisualisasikan keabsurdan kehidupan manusia yang manis sekaligus indah. Mendengarkan album ini seperti melihat evolusi manusia dalam wujud lain, seperti yang coba dihantarkan Stanley Kubrick dalam filmnya “2001:Space Odyssey”.

Diawali dengan “Orange Is Yellow” yang menembus relung jiwa dengan determinasi gitar di intro lagu yang berdurasi sampai 7 menit ini, Polyester Embassy merebakkan pesan pertamanya akan sebuah musik yang mencoba mengatakan bahwa kesempurnaan itu dapat dicapai. Mereka tidak takut akan suara yang hendak mereka bentuk dan sampaikan. Efek gitar yang bergema mengiringi nada melodis dengan diiringi suara drum dan bas yang menancap pada alam pikiran bawah sadar kita, membuat lagu ini berfungsi sebagai pesan serius Polyester Embassy, bahwa mereka akan melakukan sesuatu yang mengagungkan di album ini.

Sikap inovatif ini mereka teruskan dalam “Blue Flashing Lights” yang diawali dengan raungan gitar seakan hendak merobek keterbatasan alam pikiran kita. Mereka tidak berhenti di situ saja, dengan dilatarbelakangi loop yang menghipnotis, Elang Eby sang vokalis band ini lalu bernyanyi dengan suara yang tidak kalah menghanyutkan dengan suara gitar mereka “Can’t you see, it’s shine on, it’s shine on” terus menerus sepanjang lagu. Secara tidak sadar kita pun tenggelam dalam pelukan musik mereka.

Lagu itu disambung dengan “The Answer Is No” yang juga tidak kalah membahayakan dalam memperkosa panca indera kita. Kita akan menghayal bersama mereka, dibawa terbang ke sebuah perasaan yang sulit untuk dikatakan apa yang sebenarnya kita rasakan. Ini adalah sebuah bentuk lain dari pencapaian keagungan yang tak akan pernah kita raih. “Ruins” memberikan kita ketenangan sejenak, dengan tempo yang relatif lebih lambat dibanding lagu-lagu lainnya di album ini. Di lagu ini Polyester Embassy membalut kita dalam suara melodis musik mereka yang penuh dengan perasaan kegembiraan yang aneh sekaligus menghenyakkan, nyaris berkesan religius. Pejamkan mata kalian dengarkan Elang Eby membisikkan “She turn on the light, she make my day so bright… Then now the light are off I surrounded by inky dark…Will she feed me when I’m drown or she killed me when I’m young, I’m just sit here to catch and take as much as you can throw, don’t you know it’s not so great in here. Wise one comes and than the ruin fall on me”. Lepaskan semua perasaan, dan kalian akan mengerti apa yang dimaksud.

Suara bas yang membuka jalan dalam kegalauan seorang mahluk hidup mengawali “Polypanic Rooms”, yang kemudian diisi cepat dengan kombinasi dua suara gitar, seakan hendak menggusur keluar kegalauan itu dari jalan hidup kita. Ini adalah puncak sebuah epik yang ditampilkan Polyester Embassy. Kemegahan tanpa tanding, sampai kita tiba di akhir lagu ini dan berteriak menyambut matahari “I love you like I love the sunrise in the morning”.

Ditutup dengan lantunan damai dalam “Home”, Polyester Embassy menampilkan sebuah bentuk kesempurnaan yang walaupun berbeda spektrum, tidak pernah ditemukan dalam band asal negara ini sejak debut album Pure Saturday. “Tragicomedy” adalah karya sebuah band yang tidak takut untuk memberikan keindahan dalam suara eksperimentasi mereka. 9 lagu yang membentuk album ini, mempunyai potensi untuk menjadi sesuatu yang akan selalu diingat sepanjang masa. “Tragicomedy” adalah langkah pertama di mana sebuah legenda akan terbentuk.

David Wahyu Hidayat




 

Mei 2012
S S R K J S M
« Des    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Categories

Blog Stats

  • 85,710 hits

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.