Arsip untuk Kategori 'Skena Lokal'

24
Des
11

10 Album Terbaik 2011

Bagaimana kita mengucapkan selamat tinggal kepada serentetan waktu yang telah berlalu. Terlebih ketika waktu tersebut memberikan kita momen-momen yang akan diingat dalam waktu yang lama, selama Matahari masih bersinar di atas kita? Akankah kita tersenyum tanpa henti ketika mengingat saat di mana kebahagiaan itu menoreh di hati kita? Bagaimana dengan kenangan yang menyedihkan, bagaimana kita akan mengingatnya? Akankah kita menyetel musik yang akan membuat kita tenggelam sesaat untuk mengharubiru di dalamnya lalu bangkit untuk beranjak ke sesuatu yang baru?

Tahun 2011 kita mengucapkan selamat tinggal kepada mereka yang meninggalkan kita secara musikalis. Tidak harus mortal seperti Amy Winehouse yang terlalu cepat membawa bakatnya ke dunia lain atau perginya Steve Jobs yang adalah seorang ikon digital yang mengubah cara kita mengkonsumsi informasi dan musik, tetapi juga karena beberapa orang/band memilih untuk menyudahi aksi mereka melukis awan melodi kita. LCD Soundsystem melakukannya dengan sangat gemilang melalui konser perpisahannya di Madison Square Garden New York. Sedangkan REM membubarkan diri mereka, di saat kita hendak mencintai mereka lagi ketika mendengar lagu seperti Überlin.

Tapi tahun ini juga adalah tahun di mana kita boleh merasakan karya-karya yang menandakan kembalinya mereka yang pernah berarti di kehidupan kita secara musikalis. Ada yang melakukannya dengan gempa sesaat, tetapi di akhir tahun kita lupa akan relevansi mereka seperti yang dilakukan The Strokes. Atau jika kita memilih versi yang lebih baik, ada sekumpulan orang yang melakukannya dengan paket yang hampir bisa dibilang hampir menyentuh batas kesempurnaan seperti yang dilakukan Polyester Embassy dengan albumnya Fake/Faker ataupun konser tunggal mereka Silent Yellow Ensemble di bulan Oktober 2011. Namun, kejutan terbesar tahun ini untuk urusan comeback adalah kembalinya The Stone Roses sebagai sebuah band, dengan formasi klasik Reni, Mani, Ian Brown, dan John Squire. Setelah sebelumnya bersumpah tidak akan pernah bersatu kembali dengan nama The Stone Roses, mereka akhirnya meruntuhkan tembok yang tidak dapat ditembus itu. 2012 akan menjadi pembuktian apakah legasi mereka dapat diteruskan melalui musik baru, dan penampilan live mereka.

Semuanya itu, jatuh bangunnya mereka yang kita puja secara musikalis melukiskan bahwa hidup ini sepintar apapun kita ingin menebaknya, tidak ada yang tahu, dan sebelum kita mengetahuinya ia akan menguap dengan cepat. Karena itu selama kita masih dapat melakukan segala sesuatunya, yang kita harus lakukan hanyalah menikmati hidup ini sebaik mungkin yang dapat kita lakukan. Selamat menikmati cerahnya tahun 2012.

David Wahyu Hidayat

 

 

10. Mylo Xyloto – Coldplay

Kembali di bawah panduan Brian Eno, “Mylo Xyloto” adalah album di mana Coldplay mengerahkan seluruh kemampuan bermusik mereka selama 1 dekade terakhir. Di dalam album ini, irama R ‘n’ B, gaung riff gitar tandatangan Coldplay dan suara falsetto Chris Martin bersatu menghasilkan sebuah album yang sudah selayaknya dicintai semua kalangan. Ini adalah album di mana 4 orang yang hanya bermimpi agar bandnya mempunyai kontrak rekaman, menaklukkan dunia dengan instrumen poptunist terbaik yang pernah kita dengar di abad 21. Sangat menarik, menunggu apa yang akan mereka lakukan setelah ini.

Lagu esensial: Charlie Brown, Major Minus, Us Against The World

Untuk membaca ulasan blog ini mengenai “Mylo Xyloto”, silahkan klik tautan berikut ini: http://supersonicsounds.wordpress.com/2011/12/17/album-review-coldplay-mylo-xyloto/

 

 

09. The Kings Of Limbs – Radiohead

Dirilis dengan pemberitahuan yang teramat singkat dan instan, “The Kings Of Limbs” adalah album Radiohead yang mempertahankan kecerdasan bermusik mereka. Di satu sisi dengan rangkaian blips elektronika membuat kita ingin melakukan tarian rasuk digital seperti pada “Lotus Flowers”, di sisi lain kita dicengangkan dengan suara majestik Thom Yorke seperti pada “Give Up The Ghost”. Walaupun hanya berisikan 8 lagu, namun album ini seperti juga rilisan Radiohead sebelum-belumnya merupakan sesuatu yang substansial yang tidak dapat dilewatkan begitu saja tahun ini.

Lagu esensial: Lotus Flowers, Separator, Give Up The Ghost

Untuk membaca ulasan blog ini mengenai “The Kings Of Limbs”, silahkan klik tautan berikut ini: http://supersonicsounds.wordpress.com/2011/02/23/album-review-radiohead-the-king-of-limbs/

 

 

 

08. Noel Gallagher’s High Flying Birds – Noel Gallagher’s High Flying Birds

Walaupun banyak lagu di album ini yang sudah dapat diprediksi akan terdengar seperti apa, namun kehadiran kembali Noel Gallagher adalah sebuah kelas tersendiri untuk pecinta musik Britania Raya. Dengan nomor klasik baru seperti “If I Had A Gun”, dan eksplorasi lantai dansa dengan dentingan piano pada “AKA..What A Life” dan trumpet ala New Orleans di “The Death Of You And Me”, Noel memberikan dirinya relevan di peta musik saat ini. Lalu dengan menghantarkan lagu yang sudah lama tertunda rilisnya “(I Wanna Live In A Dream In My) Record Machine” yang menyentuh kembali keintiman sebuah stadion, membuat debut album ini sebuah klasik Noel Gallagher yang kita rindukan sejak bubarnya Oasis.

Lagu esensial: If I Had A Gun, (I Wanna Live In A Dream In My) Record Machine, The Death Of You And Me

Untuk membaca ulasan blog ini mengenai “Noel Gallagher’s High Flying Birds”, silahkan klik tautan berikut ini: http://supersonicsounds.wordpress.com/2011/12/17/album-review-noel-gallaghers-high-flying-birds-noel-gallaghers-high-flying-birds/

 

 

07. Different Gear, Still Speeding – Beady Eye

Liam Gallagher adalah seorang rockstar, dan aura itulah yang ia bangun lewat Beady Eye yang diisi personil Oasis formasi terakhir minus Noel. Beady Eye adalah band yang berbeda dengan Oasis. Di album ini, Gem & Andy lebih berani mengeksplorasi lagu yang pada jaman Oasis belum tentu dapat dimainkan. Buktinya dapat kita dengar pada “Four Letter Word” yang James Bond-eske, “Millionaire” yang jingle-jangle, dan “The Beat Goes On” yang sangat mengedepankan unsur pop. Jika hal ini terus mereka pertahankan, bukan tidak mungkin kelak, Noel Gallagher akan mengiba untuk bergabung kembali dengan band ini.

Lagu esensial: Four Letter Word, Wigwam, The Beat Goes On

Untuk membaca ulasan blog ini mengenai “Different Gear, Still Speeding”, silahkan klik tautan berikut ini: http://supersonicsounds.wordpress.com/2011/03/27/album-review-beady-eye-different-gear-still-speeding/

 

 

06. All Through The Night – The Sand Band

“All Through The Night” dari The Sand Band, adalah album fajar sebuah hari yang sangat sempurna. Meski direkam dengan sangat sederhana oleh rekaman 8 track, namun hasilnya adalah suasana sebuah pagi yang masih perawan dengan slide gitar yang menghantui, suara reverb kental yang mengisi kekosongan pagi dan keindahan menyambut hari melalui lantunan melodi yang memilukan namun mengibaskan segala cemas.

Lagu esensial: Set Me Free, Open Your Wings/Interlude, To Be Where You Are

Untuk membaca ulasan blog ini mengenai “All Through The Night”, silahkan klik tautan berikut ini: http://supersonicsounds.wordpress.com/2011/12/14/album-review-the-sand-band-all-through-the-night/

 

 

05. El Camino – The Black Keys

Duo garage rock/blues yang paling keras bekerja selama 10 tahun terakhir ini, dan akhirnya membuahkan 3 Grammy dan penghasilan sebanyak 2 juta Dollar, boleh berpesta merayakan kemenangannya melalui album “El Camino” ini. Karena di album ini kita akan kembali menemukan bahwa nomor akustik dan solo gitar blues dahsyat dapat kembali berpadu dalam “Little Black Submarine”, bersiul penuh keriangan diiringi “Nova Baby” dan berdansa sekonyol mungkin dengan “Lonely Boy” di latar belakang. Ini adalah kemenangan para pecundang yang sebelumnya tidak pernah diperhitungkan.

Lagu esensial: Lonely Boy, Litlle Black Submarine, Nova Baby

Untuk membaca ulasan blog ini mengenai “El Camino”, silahkan klik tautan berikut ini: http://supersonicsounds.wordpress.com/2011/12/17/album-review-the-black-keys-el-camino/

 

 

04. Velociraptor – Kasabian

Melalui album ini Kasabian mendefinisikan baru arti sebuah indie gitar album. Sebuah album rock gitar tidak hanya melulu petikan-petikan solid ala Johnny Marr atau solo gitar pentatonik membosankan. Sebuah gitar album dapat juga dipadukan dengan sangat gemilangnya dengan irama hiphop seperti dalam “Days Are Forgotten” ataupun keanehan unik sebuah suara dalam “Switchblade Smiles” di mana suara gitar beradu dahsyat dengan suara synthesizer dan suara teriakan psikedelik. Album ini adalah waktu Kasabian untuk menjadi yang terbesar di Britania Raya.

Lagu esensial: Days Are Forgotten, Goodbye Kiss, Re-Wired

Untuk membaca ulasan blog ini mengenai “Velociraptor”, silahkan klik tautan berikut ini: http://supersonicsounds.wordpress.com/2011/12/14/album-review-kasabian-velociraptor/

 

 

 

03. Suck It And See – Arctic Monkeys

Dengan kengerian yang luar biasa, Arctic Monkeys tidak pernah berhenti untuk mematangkan dirinya sebagai sebuah band. Jika dalam “Humbug” mereka mencobai suara rock yang kasar dan berat, di album ini mereka memadukannya dengan suara retro 60-an yang sangat melodius seperti dalam “The Hellcat Spangled Shalala”. Atau dengar saja “Reckless Serenade” yang permainannya basnya sangat menggelitik kita untuk berdansa dengan sinar Matahari yang selalu kita rasakan setiap pagi. Apapun yang dikatakan orang, Arctic Monkeys selalu berada di dunia mereka sendiri, dan apapun yang diragukan orang terhadap band ini, dengan keunikan yang luar biasa, mereka selalu berhasil dan di situlah letak kemagisan Arctic Monkeys.

Lagu esensial: The Hellcat Spangled Shalala, That’s Where You’re Wrong, Don’t Sit Down ‘Cause I’ve Moved Your Chair

Untuk membaca ulasan blog ini mengenai “Suck It And See”, silahkan klik tautan berikut ini: http://supersonicsounds.wordpress.com/2011/08/14/album-review-arctic-monkeys-suck-it-and-see/

 

 

 

02. Colour Of The Night – Miles Kane

Adalah sebuah kenikmatan mendengarkan “Colour Of The Night” dari Miles Kane. Seperti menelan kapsul yang menidurkan kita dan membawa kita kembali ke pertengahan dekade 60-an, di mana London dipenuhi dengan dandy hedonis dan chic modis beraroma memabukkan. Melodi ditumpuk di atas melodi dalam lagu-lagu seperti “Inhaler”, “Come Closer” dan “Rearrange”. Ini adalah album yang memiliki jiwa, dan kita pun akan dengan senang hati selalu berdansa bersamanya.

Lagu esensial: Inhaler, Come Closer, Rearrange

Untuk membaca ulasan blog ini mengenai “Colour Of The Night”, silahkan klik tautan berikut ini: http://supersonicsounds.wordpress.com/2011/08/01/album-review-miles-kane-colour-of-the-trap/

 

 

 

01. Fake/Faker – Polyester Embassy

Diawali dengan hempasan akselerasi rock di “Air”, psikedelia space rock di “Space Travel Rock ‘n’ Roll” sentuhan musik alternatif dalam format terbaiknya di “Later On”, dan keambisiusan “Fake/Faker”; Kita akan dengan cepat menyadari bahwa tidak ada album yang lebih baik dari album ini di tahun 2011. Siapapun yang menyaksikan konser Silent Yellow Ensemble pada 01 Oktober 2011 silam, akan sepakat bila apa yang mereka sajikan di rekaman dapat dihidupkan dengan sepadan di penampilan live-nya, mungkin bahkan setahap lebih di atas. Polyester Embassy memberikan harapan dan kebanggan akan skena musik di negeri ini. Untuk itu sudah selayaknya mereka diberikan pengakuan ini: Definitif pengalaman sonik nomor satu 2011.

 

Lagu esensial: Later On, Fake/Faker, Space Travel Rock ‘n’ Roll

Untuk membaca ulasan blog ini mengenai “Fake/Faker”, silahkan klik tautan berikut ini: http://supersonicsounds.wordpress.com/2011/05/14/album-review-polyester-embassy-fakefaker/

 

Untuk membaca 20 lagu terbaik 2011 pilihan musik blog ini, silahkan klik tautan berikut ini: http://supersonicsounds.wordpress.com/2011/12/24/20-lagu-terbaik-2011/

24
Des
11

20 Lagu Terbaik 2011

Bagaimana kita mengucapkan selamat tinggal kepada serentetan waktu yang telah berlalu. Terlebih ketika waktu tersebut memberikan kita momen-momen yang akan diingat dalam waktu yang lama, selama Matahari masih bersinar di atas kita? Akankah kita tersenyum tanpa henti ketika mengingat saat di mana kebahagiaan itu menoreh di hati kita? Bagaimana dengan kenangan yang menyedihkan, bagaimana kita akan mengingatnya? Akankah kita menyetel musik yang akan membuat kita tenggelam sesaat untuk mengharubiru di dalamnya lalu bangkit untuk beranjak ke sesuatu yang baru?

Tahun 2011 kita mengucapkan selamat tinggal kepada mereka yang meninggalkan kita secara musikalis. Tidak harus mortal seperti Amy Winehouse yang terlalu cepat membawa bakatnya ke dunia lain atau perginya Steve Jobs yang adalah seorang ikon digital yang mengubah cara kita mengkonsumsi informasi dan musik, tetapi juga karena beberapa orang/band memilih untuk menyudahi aksi mereka melukis awan melodi kita. LCD Soundsystem melakukannya dengan sangat gemilang melalui konser perpisahannya di Madison Square Garden New York. Sedangkan REM membubarkan diri mereka, di saat kita hendak mencintai mereka lagi ketika mendengar lagu seperti Überlin.

Tapi tahun ini juga adalah tahun di mana kita boleh merasakan karya-karya yang menandakan kembalinya mereka yang pernah berarti di kehidupan kita secara musikalis. Ada yang melakukannya dengan gempa sesaat, tetapi di akhir tahun kita lupa akan relevansi mereka seperti yang dilakukan The Strokes. Atau jika kita memilih versi yang lebih baik, ada sekumpulan orang yang melakukannya dengan paket yang hampir bisa dibilang hampir menyentuh batas kesempurnaan seperti yang dilakukan Polyester Embassy dengan albumnya Fake/Faker ataupun konser tunggal mereka Silent Yellow Ensemble di bulan Oktober 2011. Namun, kejutan terbesar tahun ini untuk urusan comeback adalah kembalinya The Stone Roses sebagai sebuah band, dengan formasi klasik Reni, Mani, Ian Brown, dan John Squire. Setelah sebelumnya bersumpah tidak akan pernah bersatu kembali dengan nama The Stone Roses, mereka akhirnya meruntuhkan tembok yang tidak dapat ditembus itu. 2012 akan menjadi pembuktian apakah legasi mereka dapat diteruskan melalui musik baru, dan penampilan live mereka.

Semuanya itu, jatuh bangunnya mereka yang kita puja secara musikalis melukiskan bahwa hidup ini sepintar apapun kita ingin menebaknya, tidak ada yang tahu, dan sebelum kita mengetahuinya ia akan menguap dengan cepat. Karena itu selama kita masih dapat melakukan segala sesuatunya, yang kita harus lakukan hanyalah menikmati hidup ini sebaik mungkin yang dapat kita lakukan. Selamat menikmati cerahnya tahun 2012.

David Wahyu Hidayat

20. Karena Kamu Cuma Satu – Naif

 Kalian boleh mengatakan lagu ini gombal tingkat tinggi, tetapi melodi klasik yang ada di lagu ini tidak dapat berbohong. Ia lebih jujur daripada segala keplastikan lagu cinta lokal lainnya yang berseliweran di negara ini, dan kadar pop tingkat tinggi yang ada di dalamnya tidak dapat dipungkiri. Ini adalah lagu pernyataan cinta terbaik tahun ini, terserah kalian mau mengakuinya atau tidak.

19. Money – The Drums

Jonathan Pierce masih melanjutkan bergoyang seperti Ian Curtis di depan mikrofon dan melengking seperti Morrissey ketika menyanyikan lagu ini. Ah, lagu indie tidak pernah seindah ini rasanya, kalau saja dunia pop ini hanya dipenuhi lagu seperti ini, dan tidak ada lagu lainnya, maka tidak peduli ada uang atau tidak, kita semua akan mati bahagia.

18. Überlin – REM

 Tepat di saat kita ingin mencintai kembali REM melalui lagu ini, karena melodinya yang menyuarakan hangatnya matahari dan optimisnya musim panas; mereka membubarkan dirinya. Tapi mungkin itu adalah yang harus mereka lakukan, dan lagu ini adalah salah satu relik REM yang akan mengatakan betapa hebatnya band ini.

17. Under Cover Of Darkness – The Strokes

 Apa yang terjadi sebenarnya dengan The Strokes? Ketika lagu ini dirilis sebagai teaser “Angles” yang menandakan kembalinya mereka setelah 5 tahun hiatus, yang ada hanyalah teriakan HURRA tiada habisnya. Karena lagu ini adalah bukti nyata kenapa kita mencintai The Strokes, permainan gitar sederhana tetapi menggaet kita untuk selalu menggumamkannya di mana pun kita berada, nyanyian agresif Julian yang membawa kita selalu berada dalam kebanggaan masa muda yang tak pernah habis, arah lagu yang tiba-tiba berubah ketika Nick melakukan solo. Semuanya ada di sini. Tapi “Angles” dirilis, dan kita pun kembali ke kondisi 5 tahun yang lalu. Album yang dilempar tersebut adalah pameran kebanggaan sebuah ego yang kosong tanpa arti untuk mempertahankan disintegrasi yang tidak bisa lagi dicegah.

16. Perak – The Brandals

 Apakah ini akselerasi rock ala Primal Scream? Apakah ini blitzkrieg pop ? Bukan. Ini adalah band kebanggaan Jakarta Timur, dan kita semua boleh berbangga mengukir tato baru di badan kita bertuliskan BRNDLS.

15. Stuck On The Puzzle – Alex Turner

 Alex Turner adalah seorang penyair. Suaranya menyuarakan ketenangan, melodi yang ia mainkan menyentuh melankoli yang kita tidak pernah tahu pernah ada di hati kita. 6 lagu yang ia buat dan mainkan untuk mengisi OST “Submarine” adalah untaian nada penenang yang akan selalu membuai kita ketika kita kesulitan untuk kembali kepada keindahan mimpi yang pernah kita miliki.

14. Zum Laichen Und Sterben Ziehen Die Lachse Den Fluss Hinauf – Thees Uhlmann

 Apa jadinya sebuah hari tanpa Thees Uhlmann? Manusia multi talenta ini: Vokalis/gitaris sebuah band Indie papan atas Jerman, penulis musik, pemilik label rekaman indie; selalu punya cara untuk mengungkapkan hal-hal sederhana menjadi sesuatu yang paling indah dalam kehidupan. Kali ini ia bercerita tentang hidupnya, tentang hidup di daerah suburban, tentang tumbuh besar di era perang dingin, tentang kecintaannya terhadap sebuah klub sepakbola. Semuanya sederhana, tetapi seperti suasana optimis dalam lagu ini, ia berhasil mengubahnya menjadi sesuatu yang sangat spesial, dan lihat di akhir hari, ia kembali menyelamatkan kita dari penatnya kehidupan.

13. The Day When Everything Around Us Fall Asleep And We Do Remember How To Awake – L’alphalpha

 Pernah merasakan kita terbangun, dan kehilangan segalanya? Kita kehilangan pekerjaan kita, kita kehilangan hal-hal yang kita percayai ataupun kehilangan orang-orang yang kita cintai? Lagu ini mengingatkan kita dengan sangat indahnya, terlebih ketika piano itu berdenting tanpa henti, seperti hendak berkata kepada kita; segala sesuatu akan berubah, dan untuk hal itu kita patut berbahagia dan merayakan kehidupan lebih lanjut.

12. Get In Your Mind – The Milo

 Lagu ini sangat merasuki. Di kala benak sedang steril tidak dapat ditembus dan merasakan kehampaan, lagu itu menari-nari dengan sendirinya di benak kita, dengan gaungan gitar yang bersahut-sahutan dan suara falseto seperti seorang malaikat yang sedang memanggil kita, The Milo masuk memasuki pikiran kita menghapuskan segala keresahan kita.

11. Neat Little Rows – Elbow

Elit Manchester. Apakah Elbow sudah berhasil menembus lingkaran eksklusif tersebut? Yang namanya akan dibicarakan orang bertahun-tahun setelah band mereka bubar, seperti orang membicarakan Joy Division, The Smiths, The Stone Roses dan Oasis? Tidak akan ada yang tahu akan seperti apa nantinya, yang jelas lagu ini adalah langkah pasti Elbow memasuki lingkaran tersebut.

10. Charlie Brown – Coldplay

Enoxification dalam stadion rock. Inilah Coldplay dalam penampilan terbaik mereka. Ketajaman gitar Jonny Buckland dan suara Chris Martin yang menggembirakan sanubari seperti layaknya kita sedang melompat di atas awan. Dan kita melihat kembang api di atas sana. Brilian.

09. Lotus Flower – Radiohead  

 Lupakan sejenak Thom Yorke yang berdansa dengan asyik di video lagu ini. Tajamkan telinga kalian, rasakan beat yang diiringi tepukan tangan tersebut, rasakan sampai kalian melupakan apa yang ada di sekeliling kalian, dengarkan Thom yang menyanyi dengan agung di lagu ini. Sungguh, Radiohead selalu sukses menempatkan musik di atas segalanya, dan mendefinisikan baru diri mereka. Kembali rasakan beat itu, dan dengan sendirinya kita akan ikut berdansa dengan Thom.

08. If I Had A Gun – Noel Gallagher’s High Flying Band

 Waktu Oasis bubar, mungkin kita sempat cemas dan bertanya siapa lagi yang dapat menyanyikan sebuah lagu melankoli berlirik sarkasme yang tiba-tiba dapat mencerahkan hari? Untungnya Noel Gallagher memutuskan untuk keluar dari hiatusnya dan memberikan lagu ini untuk kita semua. Akhirnya hari-hari mendung itu tidaklah segelap yang kita pikirkan karena pada akhirnya Matahari akan bersinar untuk kita semua, diiringi oleh lagu seorang Noel Gallagher.

07. Set Me Free – The Sand Band

 Lagu sepanjang 02:49 ini adalah satu-satunya yang kita butuhkan untuk menerobos kekelaman malam yang terlalu sendu. Dengan slide gitar yang menghantui dan suara vokal yang parau dari David McDonnell, lagu ini akan membebaskan kita dari semua kepiluan malam.

06. Lonely Boy – The Black Keys

 Di arus utama, kita mungkin sudah penat dengan segala macam jenis dansa kolektif sebuah anthem pesta. Beruntung untuk kita yang setia berdiri di luar arus utama, Tuhan memberikan kita The Black Keys, duo garage/blues yang paling keras bekerja selama 1 dekade terakhir dan akhirnya memberikan jawaban dengan mempersembahkan dansa kolektif indie paling mencengangkan tahun ini dan menginspirasikan ribuan orang untuk mendedikasikan video di youtube sebagai tribut terhadapa lagu ini.

05. The Hellcat Spangled Shalala – Arctic Monkeys

 Melodi gitar yang renyah penuh dengan reverb itu mengawali lagu ini, seperti hangatnya sinar Matahari mengawali sebuah musim panas. Semuanya terasa nyaman dan tidak ada yang perlu dikuatirkan. Seperti gambaran hari-hari di mana semuanya berjalan dengan semestinya pada tempatnya masing-masing, diiringi dengan kentalnya aroma melodi musik 60-an yang dibawakan penuh perasaan oleh Arctic Monkeys.

04. Four Letter Word – Beady Eye

 

Lagu ini adalah alasan mengapa kita harus menyukai Beady Eye. Liam Gallagher seperti menemukan kembali performa terbaiknya di lagu ini, menyerang seperti Tyson pada puncaknya, diiringi dengan musik James Bond-eske yang dipadukan dengan solo gitar Gem Archer yang tidak pernah didengar dalam musik Oasis setelah “Bring It on Down”. Setelah mendengar lagu ini, masihkah kita bertanya apakah kita masih membutuhkan Oasis saat ini? Tidak untuk saat ini.

03. Days Are Forgotten – Kasabian

Jika Kasabian suatu waktu akan merilis kumpulan hits mereka, tidak pelak lagi lagu ini akan masuk sebagai salah satu yang terbesar. Menggabungkan elemen hiphop dan indie rock dari sisi terbaiknya dengan sangat cerdas, lagu ini mendobrak batasan gitar rock mensemenkan posisi Kasabian sebagai salah satu band terbaik Britania Raya saat ini.

02. Later On – Polyester Embassy

Sulit untuk memilih satu lagu yang paling baik dari album Fake/Faker, karena album itu dipenuhi oleh lagu-lagu yang sangat handal. Namun jika diharuskan untuk memilih satu, maka pilihannya akan jatuh kepada “Later On”. Lagu ini adalah gambaran kematangan Polyester Embassy, dimulai dari intro bass yang melodik tersebut, verse yang bercumbu dengan kemanisan musik pop, sampai dentingan suara piano di coda; semua unsur-unsurnya tergabung menjadikannya lagu pamungkas hebat dari album dasyhat sebuah band alternatif terbaik yang pernah muncul negara ini.

01. Inhaler – Miles Kane

Segala sesuatu yang melekat pada Miles Kane seperti tidak berasal dari masa sekarang, dan itu adalah hal terbaik pada dirinya. Walaupun kental dengan suara retro yang ia mainkan, “Inhaler” mendefinisikan baru teriakan “YEAH..YEAH..YEAH” dan laddism, dibawakan oleh seorang dandy hedonis yang tidak peduli dengan apapun, kecuali keluaran suara gitar dari amplinya.

Mixtape 20 lagu di atas dapat didengarkan di tautan berikut ini:

http://8tracks.com/supersonicsounds/supersonicsounds-best-tracks-of-2011

Untuk membaca 10 album terbaik 2011 pilihan musik blog ini, silahkan klik tautan berikut ini: http://supersonicsounds.wordpress.com/2011/12/24/10-album-terbaik-2011/


07
Okt
11

Konser Review: Polyester Embassy – Silent Yellow Ensemble Concert – Teater Tertutup Dago Tea House, 01 Oktober 2011

Polyester Embassy

Silent Yellow Ensemble Concert

Teater Tertutup Dago Tea House, Bandung

01 Oktober 2011

 

Band Pembuka: Space And Missile

 

Setlist:

Intro, Tragicomedy, LSD, Orange Is Yellow, Good Feeling, Polypanic Rooms, Air, Later On, Blue Flashing Light, Have You, Good Love, Ruins, Small Stakes, Faded Blur, You’ll Be Gone, Don’t Save Us From The Flames (M83 Cover)

Encore: White Crime, Space Travel Rock ‘n’ Roll, Fake/Faker

Review:

 

Pada suatu hari dalam kehidupan, terkadang manusia dapat mengantisipasi datangnya sesuatu menakjubkan yang akan membuat segala sesuatu pada hari itu menjadi masuk akal. Di hari-hari tertentu, sesuatu yang menakjubkan itu dapat membuat hari itu menjadi lebih agung dari hari-hari sebelum dan sesudahnya.

01 Oktober 2011 bertempat di teater tertutup Dago Tea House, Bandung adalah salah satu hari istimewa tersebut. Menjelang pukul 21:00 di bawah siraman loop drum tidak berkesudahan “Tomorrow Never Knows” dari The Beatles kelima siluet itu memasuki panggung sederhana dengan instrumen masing-masing yang sudah disiapkan lengkap di sana. Kelima siluet itu adalah Elang Eby (Vokal/Gitar), Eky (Gitar), Sidik (Gitar), Tomo (Bas) & Givari (Drum) atau kita kenal dengan nama Polyester Embassy, yang pada malam itu menghadiahkan sesuatu yang sangat luar biasa lewat konser mereka yang diberikan nama “Silent Yellow Ensemble”.

Kesederhanaan panggung itu berhenti sampai momen di mana mereka berlima mengambil tempat di instrumennya masing-masing. Karena begitu mereka mengawali set malam itu dengan sebuah intro instrumental, tidak hanya telinga kita saja yang dihentakkan dengan ledakan sonik seketika, tetapi mata kita disuguhi oleh sebuah keagungan yang sulit dijelaskan melalui permainan tata cahaya panggung yang serentak mengubah Dago Tea House seperti layaknya sebuah layar sinematik etereal kelas dunia.

“Tragicomedy” menyusul intro sebagai lagu kedua yang disuguhkan malam itu, liriknya yang berkata “…we’re gonna die, f*ck the neon sign..” adalah hal yang sangat kontras di malam itu, karena semua yang berada di sana tidak akan mungkin mengacuhkan cahaya panggung yang memberikan rasa seperti pencerahan. Tanpa banyak basa-basi lagu tersebut dihajar dengan “LSD”, gitar Eky dan Sidik di lagu itu seperti bertarung merebut supremasi arena teater tertutup Dago Tea House tanpa mempedulikan penonton yang kagum akan sinar yang berseliweran di atas kepala mereka.

Setelahnya, Polyester Embassy memasuki teritori lagu-lagu dari album pertama mereka “Tragicomedy” dengan menyuguhkan “Orange Is Yellow”, “Good Feeling” & “Polypanic Rooms”. Penempatan “Polypanic Rooms” di awal set bisa jadi mengejutkan banyak orang, karena beberapa mungkin akan mengira lagu ini akan dijadikan salah satu pamungkas di akhir konser. Tapi persetan dengan penempatan di awal atau akhir set, diperkenalkan oleh Elang sebagai lagu “..untuk mereka yang sedang berbahagia” lagu ini tidak bisa dipungkiri adalah salah satu klimaks di malam itu.

Menjelang pertengahan set mereka, Elang sempat mengucapkan selamat datang kepada para penonton karena telah hadir di ruang tamu mereka, yang dengan tata cahaya megah itu, lebih tampak menyerupai sebuah pesawat antariksa daripada sebuah ruang tamu. Namun meskipun begitu, suasana intim dari sebuah ruang tamu memang sangat terasa dalam “Silent Yellow Ensemble Concert” itu. “Air” dan “Later On” lalu mengajak kita menikmati perjalanan dalam pesawat antariksa itu. “Later On” yang akan menjadi single kedua dari “Fake/Faker” berintegrasi sangat mulus dengan atmosfir teater tertutup Dago Tea House malam itu, terutama ketika di akhir lagu, obligatoris tepuk tangan kolektif mengiringi seksi ritem Polyester Embassy dilakukan dengan sangat cermat oleh para penonton. Suasana intens konser malam itu, dicairkan sedikit oleh Elang yang membawakan “Have You” secara solo hanya dengan gitar akustiknya. Dibalut dengan cahaya biru yang mengelilinginya, ada unsur ikonik pada dirinya di lagu itu. Konsep serupa, diulangnya lagi pada “Ruins” yang diperkenalkannya sebagai lagu galau pagi hari. Ambiens yang ada di ruangan itu sekejap berubah menjadi damai menenangkan, seakan tidak ada tempat yang lebih damai di dunia ini, dari ruangan konser itu.

Set utama mereka malam itu ditutup dengan sebuah versi cover “Don’t Save Us From The Flames” dari M83. Sempat tersendat di awal lagu, dan terpaksa mengulanginya, Polyester Embassy mengakhiri lagu tersebut dengan gemilang sekaligus memuncaki set utama mereka yang berdurasi sejam lebih.

Encore “Silent Yellow Ensemble” diawali dengan kolaborasi Elang dan Evan Storn pada “White Crime” yang di album “Fake/Faker” juga memainkan theremin di lagu yang sama. Di album, yang terdengar dari lagu ini adalah suasana mencekam seperti sebuah thriller Stephen King. Dimainkan secara live bayangan yang terbersit di kepala adalah mengambang di antariksa luas dengan harapan satu-satunya adalah kilauan biru yang berjuta – juta tahun cahaya jaraknya namun masih dapat menyilaukan. Mungkin mereka telah memikirkan bahwa ini adalah prelude atau pembuka set encore mereka yang tepat, karena lagu selanjutnya adalah “Space Travel Rock ‘n’ Roll”. Psikedelia luar angkasa paling sempurna hadir bukan di Manchester, bukan juga di Reykjavik, maupun New York, tapi itu hadir di Bandung, dibawakan oleh sebuah band yang sepertinya sudah menjadikan negara ini terlalu kecil untuk memenuhi ambisinya. Tempat mereka seharusnya adalah di dunia, dan konser pada 01 Oktober 2011 bisa dipercayai adalah awalnya.

Ensemble indie termegah yang pernah disaksikan anak bangsa negeri ini diakhiri dengan “Fake/Faker”, tidak ada lagi yang mencegah Polyester Embassy dan penonton untuk tidak meluapkan perasaannya. Di akhir konser semua orang berdiri takjub, tidak rela kalau konser ini akan berakhir. “Silent Yellow Ensemble” akan menjadi bahan pembicaraan orang banyak jauh di tahun-tahun mendatang, mungkin sampai jaman anak cucu kita. Malam itu kita menyaksikan sesuatu yang legendaris, dan bila di 2021 orang bertanya apakah kita berada di sana pada tanggal 01 Oktober 2011, jawabannya adalah “Ya saya berada di sana, ketika Polyester Embassy memberikan kita semua hadiah paling istimewa kepada semua orang yang haus akan sebuah musik jujur, inspiratif dan mempunyai kelas”. Sampaikan ini kepada semua orang yang kalian jumpai.

David Wahyu Hidayat

01
Agu
11

Album Review: The Brandals – DGNR8

 

The Brandals

DNGR8

Sinjitos Records – 2011

 

Semua manusia memerlukan perubahan. Setiap perubahan memerlukan proses. Menjadikan sesuatu lebih baik adalah misi setiap perubahan, apakah itu dalam bentuk cepat dan instan seperti dalam sebuah revolusi atau bergerak lamban tapi pasti seperti sebuah evolusi. Dalam diri The Brandals, perubahan itu datang dalam album keempat mereka yang berjudul “DNGR8”.

 

Boleh dibilang perubahan ini adalah perubahan radikal, bukan hanya mereka mempunyai 2 personil baru: Radhit di bas, dan PM di gitar, tapi juga dari musik yang mereka sajikan. Sebagai sebuah album “DNGR8” akan membelah kutub para fans The Brandals, selain memenangkan beberapa fans baru dengan album ini. Meski tetap mengusung keliaran rok ‘n’ rol, tetapi menampilkan jiwa yang berbeda. Hilang sudah tandatangan stones yang melekat di banyak lagu pamungkas The Brandals. Suara gitar kasar condong ke blues digantikan dengan unsur akselerasi rock ala Primal Scream di era “XTRMNTR”. Jika saja Mani & Bobby Gillespie berkesempatan mendengar album ini, sudah pasti mereka akan bangga, kalau musik mereka bisa sampai dalam bentuk lain, dari latar belakang budaya lain, dan dengan penikmat-penikmat lain yang mungkin belum pernah mendengar nama Primal Scream.

 

Entah apa yang dipikirkan The Brandals membuat album ini, yang jelas “DGNR8” terdengar mengejutkan. Telinga kita digebrak dari awal dengan “Start Bleeding”. Baik pendengar yang mengerjakan PR-nya dan tidak, akan segera bereaksi sama “Musik siapakah ini?”. Kelompok yang satu merasa mereka pernah mendengar ini sebelumnya, kelompok yang lain merasa tidak percaya, mengapa band kesayangan mereka berubah menjadi seperti ini. Lagu pembuka album ini adalah salah satu lagu dengan enerji akselerasi pop yang pernah disajikan Primal Scream. Lagu yang mengikutinya “Dryland” seperti sebuah perjalanan kelimpungan melayang seorang pecandu yang mencoba membersihkan tubuhnya dari substansial terlarang dengan raungan elektronika yang tertata berserakan di lagu ini. Pecahan berikutnya “Love Detox” seperti ratusan tinju yang mencoba meruntuhkan sebuah tembok keangkuhan dengan dentuman bas terdistorsi dan gitar yang mengaum menggema berulang-ulang. Sedangkan “The Last Laugh” adalah lagu pengantar akhir pekan dasyhat yang akan memecahkan malam minggu.

 

Seperti juga album-album The Brandals sebelumnya, “DGNR8” tidak terlepas dari perpaduan lagu-lagu dengan lirik bahasa Inggris dan Indonesia. Seperti “Awas Polizei” yang mencolok telinga, “Perak” dengan suara gitar dan vokal yang gloria hedonis atau “Abrasi” yang industrialis bercerita tentang kebuntuan kelamnya menjadi besar di sudut-sudut ibukota.

 

Terlepas apakah ini hanya sebuah idolisasi gila atas nama eksperimen atau bentuk baru sebuah kreatifitas, kita semua bersyukur The Brandals memilih jalan penuh menantang ini. Akhirnya setelah sekian lama menunggu, ada juga band yang berani keluar dari pakem mereka, sambil tetap menjaga kehebatan sebuah esensi musik. Semuanya atas nama rok ‘n’ rol. Tuhan memberkati The Brandals.

 

David Wahyu Hidayat

14
Mei
11

Album Review: Polyester Embassy – Fake/Faker

Polyester Embassy

Fake/Faker

FFWD Records – 2011

 

Penantian yang sudah terentang sejak 5 tahun itu akhirnya diruntuhkan dengan suara distorsi gitar, membuka sebuah akselerasi rock ‘n’ roll seperti sebuah senapan mesin yang memuntahkan ribuan peluru panas untuk menundukkan terorisme jiwa yang sudah terlalu penat terkungkung kehidupan. Sejenak kita seperti tidak mengetahui dari band manakah suara maharaja ini datang? Suara efek gitar membayang yang menumpuk di belakang membentuk dinding suara tanpa batas, dentuman bas dan drum yang menghajar alam bawah sadar kita itu? Satu-satunya petunjuk adalah sebuah cakram padat yang dikemas dalam sampul berwarnakan kuning keemasan. Dengan ukuran sampul seperti sebuah 7” vinyl ketika kita memegang dan memandangnya, bahkan sebelum mendengarkan satu nada pun di dalamnya, mata kita sudah dimanjakan oleh karya seni tersebut. Lalu di menit 01:49 ketika vokal pertama album itu dikumandangkan, kita serentak mengetahui dan mengenal suara tersebut. Terakhir suara tersebut didokumentasikan dalam sebuah cakram padat adalah pada lagu “Home”, tahunnya adalah 2006, albumnya adalah sebuah mahakarya jenius skena lokal negeri ini berjudul “Tragicomedy”, bandnya adalah Polyester Embassy. Lagu yang kita dengarkan sekarang itu berjudul “Air”, pembuka album terbaru mereka yang dinamakan “Fake/Faker”, dan ini adalah sebuah realita sonik yang terjadi sekarang ini. Hadirin sekalian, Polyester Embassy telah kembali.

“Later On” menebarkan ancaman berikutnya, ancaman yang sudah kita rasakan sejak 5 tahun yang lalu, kalau band ini dengan sangat konstan dan serius akan mendobrak segala sesuatunya yang kita kenal dari persepsi musik negeri ini. Dengan nyanyian sangat melodius di awal lagu sampai coda dentingan piano, “Later On” mendeskripsikan agresifitas Polyester Embassy, seperti semua unsur elemen musik alternatif terhujam dan mengalir menjadi suatu keindahan yang teransemen sangat rapi. “LSD” menggeliat dengan alur musik yang membahayakan indera kita, ritem gitar yang bermunculan sesekali itu, dipadu dengan dentuman bas yang meliuk menari menggoda, sebelum serangan gitar itu datang bagaikan proyektil yang dikendalikan dari jauh oleh pedal wahwah.

Ketika kita sudah disiram penuh ekstase dalam 3 lagu pertama “Fake/Faker”, datanglah “Space Travel Rock N Roll”, nomor penuh psikedelia yang bertempo lebih lambat dari 3 lagu sebelumnya. Di manakah kita berada sekarang? Tanpa sempat berpikir kita merasakan kaki kita tidak lagi berpijak pada tanah kota ini, tubuh kita mengambang diiringi trumpet yang mengiringi akhir lagu ini. “Good Love” meneruskan perasaan mengambang penuh endorphine itu dengan liriknya “Let’s head up the rain fall with more smiles”. Direkam dengan hanya menggunakan gitar akustik, piano dan hapsichord, lagu berikutnya “Have You” merupakan lagu penyeimbang yang menenangkan aura psikedelia bombastis “Fake/Faker”.

Meskipun begitu, ketenangan tersebut tidak berlangsung lama, karena dalam “Small Stakes” kita kembali diporak-porandakan oleh suasana rock ‘n’ roll industrialis penuh dengan intensitas tinggi yang menyesakkan karena kita tidak akan pernah mengetahui mau dihempaskan ke mana gumpalan energi yang memenuhi kepala kita waktu mendengarkan lagu ini. Kemudian di urutan ke 8 adalah titel track album ini “Fake/Faker. Menusuk seperti light sabre Obi-Wan Kenobi dan Anakin Skywalker yang saling beradu memperebutkan kemenangan atas kepalsuan yang ada, sampai akhirnya ketika piano, blips, gitar, bas dan drum itu berulang-berulang menghentakkan pikiran dan telinga kita, semua itu seperti sebuah monolog untuk melawan semua yang memalsukan segala sesuatunya yang telah ada dan terlihat. “Fake/Faker” ditutup dengan “White Crimes”, dengan keagungan dan kerisauan bunyi synthesizer seperti terperangkap dalam salah satu skena film Stephen King.

5 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menunggu datangnya sebuah album. Namun dengan album yang definitif merupakan pengalaman sonik paling berharga tahun ini, Polyester Embassy telah menjustifikasi waktu penantian itu dengan sangat gemilang. Bila “Tragicomedy” terdengar seperti sebuah musik yang dikirimkan dari antariksa nun jauh di sana ke planet ini, maka “Fake/Faker” adalah usaha manusia untuk terbang menjelajah teritori galaksi yang belum pernah dihidupi dan dialami sebelumnya. Bersiaplah untuk menembus galaksi bersama album ini.

David Wahyu Hidayat

16
Apr
11

Pencerahan Jiwa: 10 rekaman yang membentuk selera musik saya

Beberapa waktu lalu, seorang teman saya berceloteh begini kepada saya sambil tertawa meringis: “Bayangin ya, waktu kecil, kita masih terima dari kakak/ayah/teman kita: Nih musik bagus untuk didengerin (sembari menyerahkan tumpukan CD/Kaset/Vinyl). Nanti ya, 10-20 tahun dari sekarang, apa yang kita kasih ke anak-anak kita ya, buat dengerin musik bagus? Hard disk portabel?”.

Bayangan yang ia lanturkan itu adalah bayangan menyeramkan. Melihat keadaan musik sekarang yang sudah menjadikan trashy pop sebagai suatu trend untuk digilai jutaan orang saja, sudah kelam. Paling tidak, walaupun secara pribadi tidak menyukai, Madonna dan Kylie masih memiliki kelas.

Membicarakan selera tidak akan kunjung habis. Karena selera dimiliki masing-masing orang dan terserah mereka akan melakukan apa dengan seleranya masing-masing. Selera terbentuk dari apa yang kita dengar dan lihat. Dari melihat dan mendengar filter itu dibuat, dari sana selera itu terbentuk. Paling tidak, saya masih mempunyai kumpulan CD untuk diberikan kepada anak-cucu saya nantinya, dan mudah-mudahan mereka masih memiliki selera yang masih dapat diselamatkan. Selama jaman dan waktu mengijinkan serta yang Maha Kuasa masih berkenan, saya masih akan terus mengumpulkan bentuk fisik dari musik yang membentuk selera saya. Mudah-mudahan ini semua masih bisa dinikmati sebagai bagian dari warisan budaya generasi anak-cucu saya.

Di bawah ini, adalah 10 rekaman, tidak dalam urutan tertentu, yang membentuk selera musik saya saat ini. Mudah-mudahan saya berkesempatan memberikan ini semua, beserta CD-CD lainnya kepada anak saya. Happy Record Store Day!

David Wahyu Hidayat

1.    Vs. – Pearl Jam (Epic Records, 1993)


Album ini adalah tapal batu berubahnya selera musik saya, dari kekaguman masa kanak-kanak terhadap grup vokal muda dari NY, kepada sebuah bentuk musik yang lebih mentah dan kasar, menyuarakan kegelisahan pubertas dan pemberontakan jiwa yang tidak pernah mengerti apa-apa. Teman SMP saya memberikan sebuah mixtape berisikan Nirvana di sisi A dan Pearl Jam di sisi B, kaset itu lalu menggerakkan saya membeli album ini. Setelahnya selera musik saya tidak pernah sama lagi seperti sebelum-sebelumnya.

2.    The Beatles – The Beatles (Apple, 1968)


Album The Beatles mana yang terbaik akan selalu menjadi perdebatan sepanjang masa. Tapi album inilah yang sebenarnya membuat saya menjadi kerasukan band legenda ini. Yang membuat saya menemukan album ini adalah ketidaksengajaan yang sebenarnya lucu untuk dikenang. Di penghujung dekade 90-an, seorang yang waktu itu dekat dengan adik saya, entah untuk alasan apa, mengirimkan album ganda ini dalam bentuk kaset. Mungkin dipikirnya album ini adalah alasan bagus untuk membuat dirinya impresif terhadap adik saya, sekaligus membawa adik saya ke selera musik yang bagus. Yang terjadi adalah, saya membajak album itu dan mendengarkannya secara intens. Memang sebelumnya saya sudah mengenal The Beatles lewat, sekali lagi lewat sebuah mixtape dari teman SMP yang sudah saya sebut di atas, yang dengan bangga memberikan judul mixtapenya “The Beatles Restrospective: 1963-1970”, dan beberapa peristiwa unik ketika ayah saya tiba-tiba menyetel lagu mereka di rumah. Tetapi saya belum pernah mengenal The Beatles seperti saya mengenalnya dalam “The White Album”. Lagu-lagu seperti “While My Guitar Gently Weeps”, “Helter Skelter”, “I Will”, “Happinnes Is A Warm Gun”, dan “Everybody’s Got Something To Hide Except Me And My Monkey” memberikan sebuah ruangan baru dalam definisi The Beatles ke otak saya. Saya memutuskan untuk mencintai band ini dengan sangat, dan ketika saya mulai bekerja di Jakarta, gaji pertama saya, dan gaji-gaji saya di setiap bulannya, saya gunakan untuk mengumpulkan studio album mereka, sampai akhirnya koleksi itu terlengkapi.

3.    The Bends – Radiohead (Parlophone, 1995)


Saya membeli album ini, cukup telat. Di tahun 2000, ketika saya sedang liburan awal tahun ke Jakarta di tengah-tengah kuliah saya waktu itu di Jerman. Pertangahan tahun yang sama, saya dan beberapa teman melakukan sebuah pekerjaan musim panas di sebuah kota di bagian tengah Jerman, di sebuah pabrik pemasok drum penampung untuk sebuah perusahaan kimia. Dalam perjalanan menuju pabrik setiap pagi, istirahat siang di taman dekat pabrik tersebut, dan dalam perjalanan trem pulang di sore hari ini, album ini setiap saat melekat menemani saya di discman yang saya bawa kemana-mana waktu itu. Memang, saya sudah terlambat 5 tahun untuk diperkenalkan dengan pengalaman sonik yang ada di album itu, tapi di musim panas itu mendengarkan “The Bends”, “My Iron Lung”, dan kesterilan melodik “Bullet Proof…I Wish I Was” membawa saya mengerti, mengapa Radiohead adalah maestro musik jenius yang akhirnya membawa mereka menghasilkan album-album mahakarya di tahun-tahun sesudahnya, di antaranya adalah “Kid A” yang merupakan album favorit Radiohead saya.

4.    The Stone Roses – The Stone Roses (Silvertone Records, 1989)


Ketika Oasis meledak di tahun 1995, teman SMA saya yang mempunyai pengetahuan musik seperti musikpedia berjalan mengatakan hal ini kepada saya “Elo harus dengerin The Stone Roses, karena mereka telah melakukannya duluan sebelum Oasis melakukan apa yang mereka lakukan sekarang”. Setelahnya saya hanya membeli The Complete Stone Roses di kaset, karena hanya itu yang dapat dibeli di Jakarta pada waktu itu. Beberapa tahun setelahnya, ketika saya memiliki kesempatan menempuh pendidikan di Dortmund, saya akhirnya membeli debut album The Stone Roses yang legendaris itu. Edisi US, dengan “Elephant Stone” di track ketiga (Saya baru tahu sesudahnya bahkan, kalau lagu ini tidak masuk di versi asli album tersebut) dan “Fools Gold” di track 13. Yang membuat mata musikalis tercelik adalah versi asli “I Am The Resurrection” sepanjang 08:14 menit. Di situ saya sadar apa yang Ian, John, Mani dan Reni lakukan adalah cetak biru apa yang dilakukan band-band Inggris lakukan setelahnya. Di sekitar saat yang sama, tetangga saya di gedung yang saya tinggali waktu itu terdapat seorang mahasiswa Inggris dan seorang mahasiswi Jepang. Entah berapa puluhan cangkir teh serta kopi dan ribuan kata terlewati dengan mereka hanya untuk membahas kesempurnaan album ini. Banyak orang mengira band favorit saya sepanjang masa adalah Oasis, tetapi sesungguhnya, berada di tempat nomor satu sebagai band yang saya puja secara religius adalah The Stone Roses.

5.    The Queen Is Dead – The Smiths (Rough Trade, 1986)


Awalnya CD ini mendarat ke tangan saya, waktu saya meminjamnya dari seorang teman di musim semi 1999. Waktu itu saya sedang menjalani praktikum di sebuah perusahaan telekomunikasi Jerman sebagai syarat memasuki kuliah. Setiap pagi saya harus bangun sebelum Matahari terbit, menyiapkan diri dengan sangat malas, dengan mata yang masih mengantuk, terkadang masih terdengar sayup sayup sisa-sisa pesta mahasiswa di lantai atas gedung saya. Di fajar-fajar buta itu, “There Is A Light That Never Goes Out” dan “Some Girls Are Bigger Than Others” menerbitkan mentari lebih awal untuk saya. Suara Morrissey yang sendu mendayu, liriknya yang berkata jujur terhadap hari-hari yang kita jalani dan kejeniusan aransemen Johnny Marr memberikan semangat baru dalam fase kehidupan saya waktu itu. Sampai sekarang jika suasana hati sedang tidak menentu, saya selalu memutar album itu, dan entah kenapa, semuanya terlihat membaik secara pelan-pelan. Mungkin memang benar pada akhirnya akan selalu ada cahaya yang tidak pernah akan pudar.

6.    Tragicomedy – Polyester Embassy (FFWD Records, 2006)


Saya lupa kapan pastinya saya mulai menggilai band ini. Yang saya ingat adalah di sebuah Minggu siang yang membosankan, saya terantuk kepada laman MySpace mereka, dan mendengarkan sejumlah lagu-lagu yang sangat ajaib mengagumkan di sana. “Orange Is Yellow”, “Blue Flashing Light” dan “Polypanic Room” sepertinya yang saya dengar waktu itu. Di siang yang sama, usai mendengarkan lagu-lagu tersebut, saya langsung berlari ke sebuah toko buku di bilangan Cilandak yang juga menjual CD-CD band independen negeri ini. Syukur saya mendapati CD itu ada di sana. Selanjutnya adalah pencerahan tanpa batas yang diperoleh dari 9 lagu yang ada di situ. Setelahnya saya selalu bilang ke teman-teman saya yang mempunyai selera musik serupa dengan saya “Bila mereka berasal dari Stockholm atau Trondheim mereka pasti sudah sebesar Sigur Ros atau Mew, percaya atau tidak”. Karena sebesar itulah dampak musik mereka.

7.    Pure Saturday – Pure Saturday (Ceepee Records, 1996)


Siapa yang tidak mengenal band ini? Tanpa mereka skena musik independen tanah air tidak akan seperti sekarang. Pure Saturday adalah pionir, dan ketika di tahun terakhir SMA saya membeli kaset mereka dan menyaksikannya di pensi yang diadakan sekolah saya waktu itu, yang terdapat adalah perasaan bahagia. Mereka adalah cerminan generasi kreatif waktu itu: naif, cerdas bermain dengan kreatifitas, dan berani untuk menampilkan seni mereka di luar arus utama. Ke mana semua itu pergi saat ini?

* Album ini hanya saya miliki dalam bentuk kaset, yang sudah rusak dan tidak dapat lagi dinikmati. Sebagai upaya penyelamatan, teman saya lalu mengubahnya ke dalam bentuk digital, dan hanya itulah satu-satunya peninggalan dari album ini (sigh).

8.    (What’s The Story) Morning Glory – Oasis (Creation Records, 1995)


Menjelang Natal 1995, saya membeli album ini setelah melihat “Roll With It” dan “Wonderwall” di Mtv (Ya betul, waktu itu musik televisi masih berfungsi sebagai musik televisi) dan memutuskan bahwa band ini akan memberikan arti penting ke dalam kehidupan saya. Dalam sebuah keputusan yang jarang dilakukan oleh orang tua saya, entah kenapa, keluarga kami waktu itu memutuskan untuk merayakan Natal di Carita. Lilin malam kudus di gereja digantikan oleh sebuah makan malam di pinggir pantai. Saya ingat setelahnya, saya duduk seorang diri di kegelapan malam, memandang lautan yang pekat, dengan ombak berdebur kencang. Di telinga saya adalah suara Liam terputar oleh walkman yang saya bawa waktu itu. Oasis adalah lawan kutub dari Pearl Jam dan suara grunge yang mulai saya gandrungi waktu itu. Walaupun sebagian besar lirik yang ada di album tidak berarti apa-apa, tapi ia menghembuskan angin optimisme yang entah bertiup dari mana. Seperti mengingatkan kita untuk dapat melakukan segalanya, asalkan kita percaya. Oasis adalah optimisme tanpa batas, seluas lautan yang saya lihat di malam Natal, balik di tahun 1995.

9.    Silent Alarm – Bloc Party (Domino Records, 2005)


Sejujurnya pada awalnya  saya sangat-sangat skeptis dengan band ini. Serius, kalau dipikir, band dengan akal sehat mana, menamakan dirinya Bloc Party? Tapi saya lalu memberanikan diri untuk mendengarkan lagu-lagu di album itu. Ketika efek delay pertama Russel menggaung di “Like Eating Glass” untuk lalu ditelan dengan gulungan monster drum Matt, Bloc Party adalah salah satu band terdasyhat dan inovatif yang pernah lahir di tahun-tahun ’00. Mereka tidak akan pernah menjadi band stadium seperti Kings Of Leon misalnya, tapi dengarkan album itu, belum pernah permainan efek gitar, teriakan revolusioner dan gebukan drum terdengar sesegar seperti di “Silent Alarm” sepanjang dekade lalu. Saya lalu mendedikasikan diri saya untuk menjadi fans band ini. Dan untuk satu alasan tertentu, ketiga album Bloc Party adalah satu-satunya dalam koleksi CD saya, yang saya miliki ganda. Edisi normalnya, ditambah dengan edisi spesial dengan bonus track dan DVD. Bahkan remix albumnya pun saya miliki. Sebesar itu dampak band ini dalam kehidupan permusikan saya.

10. Is This It – The Strokes (Rough Trade, 2001)


2001 di kepala saya hanya identik dengan 2 peristiwa: 9/11 dan dirilisnya debut album The Strokes. Yang pertama adalah tragedi manusia penuh konspirasi dan mengubah kehidupan kita semua setelahnya. Yang kedua adalah perayaan kembalinya musik gitar dalam esensi sesungguhnya. Ke manapun kita memasuki klab-klab indie di tahun 2001-2002, lagu-lagu The Strokes adalah yang membuat lantai dansa yang sudah terlalu lengket dengan tumpahan bir, pecah dengan anak-anak Indie yang seperti menemukan penyelamat mereka dalam wujud band ini. Didengarkan 10 tahun sesudahnya, album ini masih terdengar begitu menggairahkannya seperti didengarkan pertama kali. Album itu adalah sebuah pamungkas yang sulit untuk ditiru band manapun sesudahnya.

20
Mar
11

Album Review: Themilo – Photograph

 

Themilo

Photograph

Sadsonic Labs – 2011

 

“Pecah bisul” komentar Ajie Gergaji, vokalis, gitaris Themilo mengenai “Photograph” album kedua band asal Bandung ini, ketika diwawancara oleh jakartabeat.net baru – baru ini. Butuh waktu 7 tahun antara “Let Me Begin” dan album ini, sebuah rentang yang cukup lama, mengingat band ini adalah salah satu band yang cukup banyak pengikutnya. Namun waktu yang lama tersebut adalah sebuah penantian yang layak untuk ditunggu, karena “Photograph” meskipun cuman berisikan 8 lagu namun semuanya itu merupakan lagu-lagu yang akan menggulung kita dalam sebuah pengalaman sonik yang memukau telinga, raga dan hati.

 

“Stethoscope” membuka pengalaman sonik tersebut, dengan distorsi gitar yang menumpukkan batu-batu euforia dalam jiwa kita, ini adalah teriakan selamat datang kembalinya Themilo dalam kepala kita yang sudah terlalu jengah dengan kehampaan musik pop. Menit 03:15 menandakan kalau album ini siap lepas landas dengan sayatan melodi gitar yang bersahut-sahutan makin meninggi mencapai puncak yang kita sendiri tidak akan pernah mengetahui di mana letaknya.

 

Lagu itu disusul dengan “For All The Dreams That Wings Could Fly”, yang dengan harmonis manis menampilkan vokal latar dari seorang Maradilla Syahridar yang membuat kita seakan tidak lagi menapak ke tanah. Menyusul lagu tersebut adalah “So Regret” yang menurut wawancaranya dari media yang sama di atas, adalah lagu tergalau yang dimiliki Themilo, menceritakan seorang anak durhaka yang tidak pernah memiliki kesempatan untuk meminta maaf kepada orang tuanya yang telah meninggal.

 

“Get In Your Mind” menggambarkan suasana hampa, di mana yang ada hanyalah kekosongan, seperti ruangan bandara udara yang terlalu steril, di mana orang asing berkeliaran tanpa saling sapa, di mana alienasi terjadi satu sama lain, tapi lalu kita menoleh ke depan dan mendapati orang-orang yang kita kasihi berada di sana, sekejap alienasi itu berubah menjadi kehangatan, diiringi melodi gitar yang sahut menyahut, membalut kita dalam ketenangan, menghapus kegalauan.

 

Meskipun lagu – lagu Themilo identik dengan konsep kegalauan yang tanpa putus, sebenarnya di balik semuanya itu, ada sesuatu yang memancarkan sinar pencerahan, dengan suara synthesizer yang mengimbangi intensitas gitar dengan distorsi dan petikan melodi tanpa jeda, seperti yang terdengar dalam “Dreams” maupun optimisme tersirat yang ada dalam “Don’t Worry For Being Alone”.

 

Lalu, dalam segala keindahannya Themilo menghadirkan “Daun Dan Ranting Menuju Surga”, dengan pelan dentingan gitar itu bersahut-sahutan, diiringi suara distorsi ringan yang menggema mememenuhi telinga kita, sebelum Ajie dengan tenang bernyanyi “Hadapi hidup yang remuk, hapus semua kenangan yang kelam…”. “Photograph” mencapai klimaksnya di lagu ini, kita bersyukur akan Themilo, yang  telah mengantarkan lagu-lagu pembasuh keputusasaan kita yang akhirnya berakhir.

 

Dentingan keindahan itu berakhir dalam “Apart” yang menyudahi “Photograph”. Nestapa yang kita hadapi telah larut, tergantikan dengan optimisme baru di hari yang baru, yang tak seorang pun tahu akan seperti apa wujudnya.

 

David Wahyu Hidayat

 

20
Mar
11

Album Review: L’alphalpha – When We Awake All Dreams Are Gone

 

L’alphalpha

When We Awake All Dreams Are Gone

Tanpa Label – 2011

 

Bagian termanis dari sebuah mimpi adalah ketika mendapatinya terlalu dekat dengan kenyataan, kita merasakan kita menjadi bagian darinya, atau lebih tepatnya mimpi itu adalah bagian dari kita. Kita dapat menyentuhnya, menghirupnya, melihatnya, merasakannya, menjadi satu dengannya, dengan sesuatu yang tidak pernah kita dapatkan dalam kehidupan sebenarnya. Bagian terpahit dari sebuah mimpi adalah ketika kita terbangun, dan mendapatkan semua ini hanya mimpi belaka. Yang kita ingin lakukan setelahnya adalah kembali ke alam tidur dan bersatu dengan mimpi itu kembali.

 

“When We Awake All Dreams Are Gone” debut album dari L’alphalpha adalah perwujudan sebuah mimpi yang dirangkai dalam talian melodi-melodi manis yang membuat kita setengah melayang, setengah sadar, setengah terbius, setengah berkhayal akan keindahan sekaligus kegamangan mimpi dalam kenyataan.

 

Dikemas dalam sebuah paket berisikan narasi dan lagu, kemasan lagu L’alphalpha mengiaskan aroma Explosions In The Sky di lagu seperti “A Lot Of Fireworks But I Still Had A Reason To Smile” atau Sigur Rós dalam lagu “The Day When Everything Around Us Fall Asleep And We Do Remember How To Awake” yang merupakan salah satu lagu terbaik di album ini. Sedangkan dalam “About A Friend” yang dipilih menjadi single pertama album ini dan juga merupakan lagu yang paling mudah diakses, mereka menampilkan melodi yang meminta kita memanjakan dan menyayangi telinga kita sendiri di atas lirik bertemakan persahabatan yang tidak terdengar murah dikemas dalam bungkusan musikalis seperti ini.

 

Secara keseluruhan ini adalah debut album yang solid dari L’alphalpha, benar kita akan melayang bermimpi ketika mendengarkannya, tetapi kedua kaki kita masih menapak menjejak di tanah yang kita diami ini dengan cinta, sambil menggelayut dari hari ke hari, terjaga dan tetap berharap akan kenyataan yang lebih fantastis, ditemani keindahan lagu – lagu L’alphalpha.

 

David Wahyu Hidayat

 

 

17
Feb
11

Pencerahan Jiwa: Themilo – Daun Dan Ranting Menuju Surga

 

Themilo

Daun Dan Ranting Menuju Surga

Diambil dari album The Photograph – Sadsonic Labs/DeMajors – 2011

Sunyi. Tidak terdengar suara apapun. Hari baru saja dimulai, hanya sebersit sinar mentari terlihat di atas sana. Pelan – pelan dari sudut ruangan kita berada, terdengar dentingan gitar yang bersahut-sahutan, diiringi suara distorsi ringan yang menggema mememenuhi ruangan, sebelum sebuah suara dengan tenang bernyanyi “Hadapi hidup yang remuk, hapus semua kenangan yang kelam…”.

 

Semua itu mengawali single terbaru Themilo “Daun Dan Ranting Menuju Surga”, diambil dari album baru mereka “The Photograph” yang akan segera dirilis pada pertengahan Februari 2011. Lagu ini seperti menjadi pesan Themilo, bahwa kekelaman tidak akan selamanya ada di antara kita. Di antara pupusnya asa dan sebuah masa depan yang  tidak kita ketahui akan seperti apa wujudnya ialah sebuah harapan akan sesuatu  menakjubkan yang masih bisa kita raih. Dikemas dalam lanskap suara fantastis, terdiri dari beberapa layer gitar yang saling menggema satu – persatu dan suara yang  menghanyutkan nestapa yang sedang kita hadapi, ini adalah kembalinya Themilo dalam memberikan kita sesuatu untuk kembali dipercayai.

 

Pudarkan cahaya ruangan, keraskan volume stereomu, berfantasilah, harapan baru telah datang, hari yang baru telah tiba.

 

David Wahyu Hidayat

Tulisan ini juga dapat dibaca di musicbandung.com: http://musicbandung.com/themilo-daun-dan-ranting-menuju-surga/

13
Jan
11

10 Album Terbaik 2010

Daftar seperti ini memang seharusnya dibuat menjelang akhir tahun. Tapi karena satu dan lain hal yang dialami di akhir tahun akhirnya daftar ini tidak sempat dibuat di akhir 2010 kemarin. Tapi seperti pepatah berkata, lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.

Musikalis, secara pertunjukkan konser yang saya hadiri di negeri sendiri, tahun 2010 adalah salah satu yang terbaik yang pernah ada. Saya tidak pernah menyangka jika di tahun 2010 saya akan pernah menyaksikan pahlawan pribadi saya bernama Ian Brown di Senayan. Atau mendengarkan “Three Lions” dibawakan langsung oleh The Lightning Seeds di dalam genangan lumpur lapangan ABC senayan. Menambah keabsurdan 2010 adalah melihat kepala plontos Billy Corgan di panggung besar Java Rockin’ Land di Ancol.

Melengkapi pertunjukkan konser tersebut, adalah album – album fantastis yang menemani kita sepanjang tahun. Di bawah ini adalah album – album yang mendefiniskan tahun 2010 untuk saya. Selamat membaca!

David Wahyu Hidayat

10. The Suburbs – Arcade Fire

Tahun 2010, ada dua buah album yang bertemakan tentang kehidupan kota dan lingkungan yang mengitarinya. Yang pertama adalah “The Suburbs” dari Arcade Fire, yang memukau dengan memori akan sebuah sebuah lingkungan suburban yang sekarang telah berubah menjadi sesuatu yang asing, termakan kedewasaan dan kehidupan urban itu sendiri.

Lagu esensial: Ready To Start, Month Of May, City With No Children


09. Come Around Sundown – Kings Of Leon

Album ini bukanlah album kembali akar seperti yang digembar-gemborkan sebelumnya, melainkan pengukuhan tahta bahwa Kings Of Leon adalah band terbesar yang datang dari AS saat ini. Dengan mengabaikan nomor-nomor pemanja telinga kecuali pada “Radioactive” yang sangat ramah terhadap radio dan musik televisi, album ini adalah langkah Kings Of Leon memantapkan diri mereka di puncak musik dunia saat ini.

Lagu esensial: Radioactive, The Face, Pony Up

08. This Is Happening – LCD Soundsystem

Diplot sebagai album terakhir karir musiknya sebagai LCD Soundsystem, James Murphy berpamitan dengan semestinya, di zenit kemampuan musikalisnya. Dengan pengaruh David Bowie era “Heroes”, semangat perlawanan terhadap establishment dunia musik saat ini, dan kumpulan musik cerdas yang terangkum dalam “This Is Happening”, album ini adalah salam perpisahan pamungkas dari salah satu musisi jenius yang pernah datang dari New York.

Lagu esensial: You Wanted A Hit, All I Want, I Can Change

Untuk membaca ulasan blog ini mengenai “This Is Happening”, silahkan klik tautan berikut ini:

http://supersonicsounds.wordpress.com/2010/06/20/album-review-lcd-soundsystem-this-is-happening/


07. Total Life Forever – Foals

Di album ini, Foals meninggalkan identitas math-rock dan segala embel-embel yang melekat dalam debut album mereka “Antidotes”. Mereka bertransformasi menjadi sebuah band dengan ambisi besar, intelijen tanpa harus memompa kecerdasan itu dengan sesuatu yang artifisial tak beralasan. Dengarkan kemegahan drum dalam “Miami”, atau intro menghanyutkan yang membius bagai anestesi dalam “Spanish Sahara”, dan kalian akan segera mengerti yang dimaksud di sini.

Lagu esensial: Miami, Total Life Forever, Spanish Sahara

06. Butterfly House – The Coral

Ditinggalkan Bill Ryder-Jones sebagai gitaris mereka, tidak membuat The Coral harus kehilangan amunisinya dalam pembuatan sebuah album hebat. Diproduseri oleh John Leckie yang pernah menggawangi The Stone Roses, Muse, dan Radiohead, “Butterfly House” adalah sebuah pengalaman sonik psikedelia yang didasari oleh kelihaian menulis lagu dengan kadar citarasa pop beroktan tinggi.

Lagu esensial: 1000 Years, Butterfly House, Sandhills

05. Ode Buat Kota – Bangkutaman

Album kedua di tahun 2010 yang menceritakan keluh kesah dan keindahan sebuah kota besar. Kepenatan, keceriaan, keruwetan dan tawa bahagia ditampilkan dengan sangat sempurna oleh Bangkutaman di album yang kali ini tidak lagi dipengaruhi oleh musik The Stone Roses tetapi Bob Dylan, Velvet Underground, The Byrds dan The Beach Boys. Setenang gambar Jalan Jenderal Sudirman yang terpampang di sampul depan album ini, sebahagia itu pulalah kita mendengarkan “Ode Buat Kota”. Karena bila kota yang kita tinggali tidak dapat membikin kita tersenyum, paling tidak kita mempunyai sebuah ode buat kota yang dapat memberikan kita sebuah harapan baru.

Lagu esensial: Ode Buat Kota, Jalan Pulang, Catch Me When I Fall

04. The Drums – The Drums

Siapapun yang mengawali sebuah album dengan kata-kata “You’re my best friend, but then you die” bila tidak mempunyai sebuah selera humor yang sangat sarkastik, ia adalah seorang yang sangat pemuram. Syukur pada Tuhan, The Drums adalah sekumpulan muda, yang menciptakan musik ceria, dan lirik untuk tertawa. Diiringi dengan melodi menggelitik, suara bas kering seperti Peter Hook di masa mudanya, dan lirik jenaka yang menggelikan, mungkin pada akhirnya perbandingan dengan Morrissey dan Joy Division itu ada justifikasinya juga.

Lagu esensial: Let’s Go Surfing, Book Of Stories, Forever And Ever Amen

03. Tourist History – Two Door Cinema Club

Blog yang sedang kalian baca ini, menulis pada pertengahan tahun 2010, bahwa Two Door Cinema Club adalah seperti mahasiswa tingkat pertama favorit kalian. Sedangkan debut album mereka “Tourist History” akan menjadi salah satu album favorit kalian tahun 2010. Sebuah album yang akan menyinarkan suasana paling baik di tengah mendung gelap dan gelegar petir. Album yang akan membuat kita berdansa, melupakan semuanya, sampai jiwa kita tergenang basah oleh kebahagiaan yang tidak dapat diambil siapa pun. Setengah tahun kemudian, pernyataan itu masih tetap berlaku, tanpa kekeliruan sedikit pun.

Lagu Esensial: Undercover Martyn, Something Good Can Work, Cigarettes In Theatre

Untuk membaca ulasan blog ini mengenai “Tourist History”, silahkan klik tautan berikut ini:

http://supersonicsounds.wordpress.com/2010/06/05/album-review-two-door-cinema-club-tourist-history/

02. Contra – Vampire Weekend

Dengan merilis “Contra” di tahun 2010, Vampire Weekend seperti naik kelas dari musik yang ditampilkan dalam debut album mereka di tahun 2008. Dengan keberanian merilis “Cousins”, lagu mereka yang paling mendekati definisi punk sebagai single pertama, Vampire Weekend berhasil menampik semua keraguan dengan mengantarkan “Contra” sebagai album nomor 1 Billboard 200 di bulan Januari 2010. Ditunjang dengan lagu – lagu melodik seperti dalam “Run”, “Giving Up The Gun” dan “Holiday”, album ini definitif adalah sebuah album yang sangat esensial di tahun 2010 dan berhasil menyatukan banyak pecinta musik.

Lagu esensial: Cousins, Run, Giving Up The Gun

Untuk membaca ulasan blog ini mengenai “Contra”, silahkan klik tautan berikut ini:

http://supersonicsounds.wordpress.com/2010/02/21/album-review-vampire-weekend-contra/

01. High Violet – The National

Bila ada perkumpulan band yang musiknya melukiskan sebuah kenestapaan dan melankoli lalu mengubahnya menjadi sebuah keindahan, maka The National adalah kandidat kuat untuk menjadi pemimpin dari perkumpulan band tersebut. “High Violet” adalah karya sentral dari The National yang akan membuat mereka semakin dicintai oleh orang – orang biasa yang setiap harinya harus berjuang untuk menghadapi kehidupan. Kita akan mencintai The National dan album ini, karena mereka berbicara dan melantunkan suasana hati kita tanpa polesan apapun, sama seperti kita mereka hanya orang – orang sederhana yang mencintai kehidupan ini dan berusaha membuatnya menjadi sesuatu yang paling berharga.

Lagu esensial: Bloodbuzz Ohio, Conversation 16, Lemonworld

Untuk membaca ulasan blog ini mengenai “High Violet”, silahkan klik tautan berikut ini:

http://supersonicsounds.wordpress.com/2010/07/25/album-review-the-national-high-violet/

Untuk membaca 20 lagu terbaik pilihan musik blog ini, silahkan klik tautan berikut ini:

http://supersonicsounds.wordpress.com/2011/01/12/20-lagu-terbaik-2010/




 

Mei 2012
S S R K J S M
« Des    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Categories

Blog Stats

  • 85,710 hits

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.