Arsip untuk Kategori 'Radiohead'

16
Apr
11

Pencerahan Jiwa: 10 rekaman yang membentuk selera musik saya

Beberapa waktu lalu, seorang teman saya berceloteh begini kepada saya sambil tertawa meringis: “Bayangin ya, waktu kecil, kita masih terima dari kakak/ayah/teman kita: Nih musik bagus untuk didengerin (sembari menyerahkan tumpukan CD/Kaset/Vinyl). Nanti ya, 10-20 tahun dari sekarang, apa yang kita kasih ke anak-anak kita ya, buat dengerin musik bagus? Hard disk portabel?”.

Bayangan yang ia lanturkan itu adalah bayangan menyeramkan. Melihat keadaan musik sekarang yang sudah menjadikan trashy pop sebagai suatu trend untuk digilai jutaan orang saja, sudah kelam. Paling tidak, walaupun secara pribadi tidak menyukai, Madonna dan Kylie masih memiliki kelas.

Membicarakan selera tidak akan kunjung habis. Karena selera dimiliki masing-masing orang dan terserah mereka akan melakukan apa dengan seleranya masing-masing. Selera terbentuk dari apa yang kita dengar dan lihat. Dari melihat dan mendengar filter itu dibuat, dari sana selera itu terbentuk. Paling tidak, saya masih mempunyai kumpulan CD untuk diberikan kepada anak-cucu saya nantinya, dan mudah-mudahan mereka masih memiliki selera yang masih dapat diselamatkan. Selama jaman dan waktu mengijinkan serta yang Maha Kuasa masih berkenan, saya masih akan terus mengumpulkan bentuk fisik dari musik yang membentuk selera saya. Mudah-mudahan ini semua masih bisa dinikmati sebagai bagian dari warisan budaya generasi anak-cucu saya.

Di bawah ini, adalah 10 rekaman, tidak dalam urutan tertentu, yang membentuk selera musik saya saat ini. Mudah-mudahan saya berkesempatan memberikan ini semua, beserta CD-CD lainnya kepada anak saya. Happy Record Store Day!

David Wahyu Hidayat

1.    Vs. – Pearl Jam (Epic Records, 1993)


Album ini adalah tapal batu berubahnya selera musik saya, dari kekaguman masa kanak-kanak terhadap grup vokal muda dari NY, kepada sebuah bentuk musik yang lebih mentah dan kasar, menyuarakan kegelisahan pubertas dan pemberontakan jiwa yang tidak pernah mengerti apa-apa. Teman SMP saya memberikan sebuah mixtape berisikan Nirvana di sisi A dan Pearl Jam di sisi B, kaset itu lalu menggerakkan saya membeli album ini. Setelahnya selera musik saya tidak pernah sama lagi seperti sebelum-sebelumnya.

2.    The Beatles – The Beatles (Apple, 1968)


Album The Beatles mana yang terbaik akan selalu menjadi perdebatan sepanjang masa. Tapi album inilah yang sebenarnya membuat saya menjadi kerasukan band legenda ini. Yang membuat saya menemukan album ini adalah ketidaksengajaan yang sebenarnya lucu untuk dikenang. Di penghujung dekade 90-an, seorang yang waktu itu dekat dengan adik saya, entah untuk alasan apa, mengirimkan album ganda ini dalam bentuk kaset. Mungkin dipikirnya album ini adalah alasan bagus untuk membuat dirinya impresif terhadap adik saya, sekaligus membawa adik saya ke selera musik yang bagus. Yang terjadi adalah, saya membajak album itu dan mendengarkannya secara intens. Memang sebelumnya saya sudah mengenal The Beatles lewat, sekali lagi lewat sebuah mixtape dari teman SMP yang sudah saya sebut di atas, yang dengan bangga memberikan judul mixtapenya “The Beatles Restrospective: 1963-1970”, dan beberapa peristiwa unik ketika ayah saya tiba-tiba menyetel lagu mereka di rumah. Tetapi saya belum pernah mengenal The Beatles seperti saya mengenalnya dalam “The White Album”. Lagu-lagu seperti “While My Guitar Gently Weeps”, “Helter Skelter”, “I Will”, “Happinnes Is A Warm Gun”, dan “Everybody’s Got Something To Hide Except Me And My Monkey” memberikan sebuah ruangan baru dalam definisi The Beatles ke otak saya. Saya memutuskan untuk mencintai band ini dengan sangat, dan ketika saya mulai bekerja di Jakarta, gaji pertama saya, dan gaji-gaji saya di setiap bulannya, saya gunakan untuk mengumpulkan studio album mereka, sampai akhirnya koleksi itu terlengkapi.

3.    The Bends – Radiohead (Parlophone, 1995)


Saya membeli album ini, cukup telat. Di tahun 2000, ketika saya sedang liburan awal tahun ke Jakarta di tengah-tengah kuliah saya waktu itu di Jerman. Pertangahan tahun yang sama, saya dan beberapa teman melakukan sebuah pekerjaan musim panas di sebuah kota di bagian tengah Jerman, di sebuah pabrik pemasok drum penampung untuk sebuah perusahaan kimia. Dalam perjalanan menuju pabrik setiap pagi, istirahat siang di taman dekat pabrik tersebut, dan dalam perjalanan trem pulang di sore hari ini, album ini setiap saat melekat menemani saya di discman yang saya bawa kemana-mana waktu itu. Memang, saya sudah terlambat 5 tahun untuk diperkenalkan dengan pengalaman sonik yang ada di album itu, tapi di musim panas itu mendengarkan “The Bends”, “My Iron Lung”, dan kesterilan melodik “Bullet Proof…I Wish I Was” membawa saya mengerti, mengapa Radiohead adalah maestro musik jenius yang akhirnya membawa mereka menghasilkan album-album mahakarya di tahun-tahun sesudahnya, di antaranya adalah “Kid A” yang merupakan album favorit Radiohead saya.

4.    The Stone Roses – The Stone Roses (Silvertone Records, 1989)


Ketika Oasis meledak di tahun 1995, teman SMA saya yang mempunyai pengetahuan musik seperti musikpedia berjalan mengatakan hal ini kepada saya “Elo harus dengerin The Stone Roses, karena mereka telah melakukannya duluan sebelum Oasis melakukan apa yang mereka lakukan sekarang”. Setelahnya saya hanya membeli The Complete Stone Roses di kaset, karena hanya itu yang dapat dibeli di Jakarta pada waktu itu. Beberapa tahun setelahnya, ketika saya memiliki kesempatan menempuh pendidikan di Dortmund, saya akhirnya membeli debut album The Stone Roses yang legendaris itu. Edisi US, dengan “Elephant Stone” di track ketiga (Saya baru tahu sesudahnya bahkan, kalau lagu ini tidak masuk di versi asli album tersebut) dan “Fools Gold” di track 13. Yang membuat mata musikalis tercelik adalah versi asli “I Am The Resurrection” sepanjang 08:14 menit. Di situ saya sadar apa yang Ian, John, Mani dan Reni lakukan adalah cetak biru apa yang dilakukan band-band Inggris lakukan setelahnya. Di sekitar saat yang sama, tetangga saya di gedung yang saya tinggali waktu itu terdapat seorang mahasiswa Inggris dan seorang mahasiswi Jepang. Entah berapa puluhan cangkir teh serta kopi dan ribuan kata terlewati dengan mereka hanya untuk membahas kesempurnaan album ini. Banyak orang mengira band favorit saya sepanjang masa adalah Oasis, tetapi sesungguhnya, berada di tempat nomor satu sebagai band yang saya puja secara religius adalah The Stone Roses.

5.    The Queen Is Dead – The Smiths (Rough Trade, 1986)


Awalnya CD ini mendarat ke tangan saya, waktu saya meminjamnya dari seorang teman di musim semi 1999. Waktu itu saya sedang menjalani praktikum di sebuah perusahaan telekomunikasi Jerman sebagai syarat memasuki kuliah. Setiap pagi saya harus bangun sebelum Matahari terbit, menyiapkan diri dengan sangat malas, dengan mata yang masih mengantuk, terkadang masih terdengar sayup sayup sisa-sisa pesta mahasiswa di lantai atas gedung saya. Di fajar-fajar buta itu, “There Is A Light That Never Goes Out” dan “Some Girls Are Bigger Than Others” menerbitkan mentari lebih awal untuk saya. Suara Morrissey yang sendu mendayu, liriknya yang berkata jujur terhadap hari-hari yang kita jalani dan kejeniusan aransemen Johnny Marr memberikan semangat baru dalam fase kehidupan saya waktu itu. Sampai sekarang jika suasana hati sedang tidak menentu, saya selalu memutar album itu, dan entah kenapa, semuanya terlihat membaik secara pelan-pelan. Mungkin memang benar pada akhirnya akan selalu ada cahaya yang tidak pernah akan pudar.

6.    Tragicomedy – Polyester Embassy (FFWD Records, 2006)


Saya lupa kapan pastinya saya mulai menggilai band ini. Yang saya ingat adalah di sebuah Minggu siang yang membosankan, saya terantuk kepada laman MySpace mereka, dan mendengarkan sejumlah lagu-lagu yang sangat ajaib mengagumkan di sana. “Orange Is Yellow”, “Blue Flashing Light” dan “Polypanic Room” sepertinya yang saya dengar waktu itu. Di siang yang sama, usai mendengarkan lagu-lagu tersebut, saya langsung berlari ke sebuah toko buku di bilangan Cilandak yang juga menjual CD-CD band independen negeri ini. Syukur saya mendapati CD itu ada di sana. Selanjutnya adalah pencerahan tanpa batas yang diperoleh dari 9 lagu yang ada di situ. Setelahnya saya selalu bilang ke teman-teman saya yang mempunyai selera musik serupa dengan saya “Bila mereka berasal dari Stockholm atau Trondheim mereka pasti sudah sebesar Sigur Ros atau Mew, percaya atau tidak”. Karena sebesar itulah dampak musik mereka.

7.    Pure Saturday – Pure Saturday (Ceepee Records, 1996)


Siapa yang tidak mengenal band ini? Tanpa mereka skena musik independen tanah air tidak akan seperti sekarang. Pure Saturday adalah pionir, dan ketika di tahun terakhir SMA saya membeli kaset mereka dan menyaksikannya di pensi yang diadakan sekolah saya waktu itu, yang terdapat adalah perasaan bahagia. Mereka adalah cerminan generasi kreatif waktu itu: naif, cerdas bermain dengan kreatifitas, dan berani untuk menampilkan seni mereka di luar arus utama. Ke mana semua itu pergi saat ini?

* Album ini hanya saya miliki dalam bentuk kaset, yang sudah rusak dan tidak dapat lagi dinikmati. Sebagai upaya penyelamatan, teman saya lalu mengubahnya ke dalam bentuk digital, dan hanya itulah satu-satunya peninggalan dari album ini (sigh).

8.    (What’s The Story) Morning Glory – Oasis (Creation Records, 1995)


Menjelang Natal 1995, saya membeli album ini setelah melihat “Roll With It” dan “Wonderwall” di Mtv (Ya betul, waktu itu musik televisi masih berfungsi sebagai musik televisi) dan memutuskan bahwa band ini akan memberikan arti penting ke dalam kehidupan saya. Dalam sebuah keputusan yang jarang dilakukan oleh orang tua saya, entah kenapa, keluarga kami waktu itu memutuskan untuk merayakan Natal di Carita. Lilin malam kudus di gereja digantikan oleh sebuah makan malam di pinggir pantai. Saya ingat setelahnya, saya duduk seorang diri di kegelapan malam, memandang lautan yang pekat, dengan ombak berdebur kencang. Di telinga saya adalah suara Liam terputar oleh walkman yang saya bawa waktu itu. Oasis adalah lawan kutub dari Pearl Jam dan suara grunge yang mulai saya gandrungi waktu itu. Walaupun sebagian besar lirik yang ada di album tidak berarti apa-apa, tapi ia menghembuskan angin optimisme yang entah bertiup dari mana. Seperti mengingatkan kita untuk dapat melakukan segalanya, asalkan kita percaya. Oasis adalah optimisme tanpa batas, seluas lautan yang saya lihat di malam Natal, balik di tahun 1995.

9.    Silent Alarm – Bloc Party (Domino Records, 2005)


Sejujurnya pada awalnya  saya sangat-sangat skeptis dengan band ini. Serius, kalau dipikir, band dengan akal sehat mana, menamakan dirinya Bloc Party? Tapi saya lalu memberanikan diri untuk mendengarkan lagu-lagu di album itu. Ketika efek delay pertama Russel menggaung di “Like Eating Glass” untuk lalu ditelan dengan gulungan monster drum Matt, Bloc Party adalah salah satu band terdasyhat dan inovatif yang pernah lahir di tahun-tahun ’00. Mereka tidak akan pernah menjadi band stadium seperti Kings Of Leon misalnya, tapi dengarkan album itu, belum pernah permainan efek gitar, teriakan revolusioner dan gebukan drum terdengar sesegar seperti di “Silent Alarm” sepanjang dekade lalu. Saya lalu mendedikasikan diri saya untuk menjadi fans band ini. Dan untuk satu alasan tertentu, ketiga album Bloc Party adalah satu-satunya dalam koleksi CD saya, yang saya miliki ganda. Edisi normalnya, ditambah dengan edisi spesial dengan bonus track dan DVD. Bahkan remix albumnya pun saya miliki. Sebesar itu dampak band ini dalam kehidupan permusikan saya.

10. Is This It – The Strokes (Rough Trade, 2001)


2001 di kepala saya hanya identik dengan 2 peristiwa: 9/11 dan dirilisnya debut album The Strokes. Yang pertama adalah tragedi manusia penuh konspirasi dan mengubah kehidupan kita semua setelahnya. Yang kedua adalah perayaan kembalinya musik gitar dalam esensi sesungguhnya. Ke manapun kita memasuki klab-klab indie di tahun 2001-2002, lagu-lagu The Strokes adalah yang membuat lantai dansa yang sudah terlalu lengket dengan tumpahan bir, pecah dengan anak-anak Indie yang seperti menemukan penyelamat mereka dalam wujud band ini. Didengarkan 10 tahun sesudahnya, album ini masih terdengar begitu menggairahkannya seperti didengarkan pertama kali. Album itu adalah sebuah pamungkas yang sulit untuk ditiru band manapun sesudahnya.

23
Feb
11

Album Review: Radiohead – The King Of Limbs

Radiohead

The King Of Limbs

Digital Rilis Tanpa Label – 2011

Yang membedakan Radiohead dengan band – band lainnya yang bercokol di planet ini, adalah kemampuan mereka menciptakan sesuatu substansial yang melewati tempat dan jaman lewat musik mereka. Di tahun 1997, mereka menciptakan mahakarya yang kita kenal dengan “OK Computer”, sebuah orkestrasi musik rock yang pada waktu itu tampil mengejutkan di tengah – tengah banjirnya air bah britpop. Di awal abad baru, pada waktu manusia mulai gamang dengan kemajuan teknologi yang mereka ciptakan sendiri, Radiohead mengantarkan “Kid A”, sebuah karya sentral penggambaran alienasi manusia terhadap kaumnya sendiri, dan entah mengapa tiap blips yang terdengar di sana menjadi suara latar belakang yang indah dalam menghadapi abad 21. Lalu di tahun 2007, ketika industri musik masih bertanya-tanya resep yang paling tepat untuk menghadapi tatanan yang sudah berubah karena pendigitalan musik, mereka mengeluarkan “In Rainbows” dengan konsep bayar sesuka hati, dengan tidak melupakan bahwa lagu – lagu yang ada di sana adalah lagu – lagu Radiohead yang paling jujur terdengar sejak era “The Bends”.

Lalu pada tanggal 18 Februari 2011, hanya dengan pemberitahuan 4 hari sebelumnya, mereka mengeluarkan “The King Of Limbs”, secara digital, dan dirilis sendiri, kali ini dengan harga yang sudah dipatok mereka sendiri. Jujur, melihat secara keseluruhan 8 lagu yang ada di album ini, bila dibandingkan dengan karya – karya Radiohead sebelumnya, lagu – lagu ini harus bersaing cukup keras untuk bisa duduk di singgasana yang sama. “Bloom” yang mengawali album ini, dimulai perlahan, dengan blips yang sekarang sudah memasuki teritori familiar di telinga kita lewat album – album Radiohead terdahulu ataupun lewat karya solo Thom Yorke, “The Eraser”. Memasuki “Morning Mr. Magpie” kita menaikkan alis mata kita sebelah, menandakan adanya sesuatu yang menarik di sini, dengan suara gitar yang irit menggoda dan bas yang pelan – pelan menggelitik gendang telinga kita untuk memperhatikan dengan seksama album ini, di tengah tengah suara elektronika yang menggaung menghantui.

Dalam “Little By Little” kita akan mendengarkan Phil Selway yang dengan piawai memainkan perrkusi dan drum yang menandakan bahwa di balik semua ritmus yang terdengar begitu robotik adalah seorang manusia yang menjadikan semuanya lebih bersuarakan elemen organik. “Feral” adalah sebuah nomor instrumental yang terdengar sebagai perjalanan melintasi terowongan bawah laut yang tiada kunjung habisnya, dengan sebuah kereta transatlantis. Perjalanan itu berhenti, dalam “Lotus Flower”, digantikan sebuah tarian rasuk digital diiringi tepukan tengan dan keagungan suara Yorke menyanyikan “Slowly we unfold as lotus flower…”, tak sadarkan diri, menari dan menari tanpa henti.

Diiringi lantunan piano yang membungkus kita dengan rasa kenyamanan yang kelam, “Codex” membalut kita dalam kidung yang bernafas sama dengan “Nude” dalam “In Rainbows”, menenangkan tapi memberikan kita sebuah insekuritas yang meresahkan. Perasaan yang sama kita dengar kembali dalam “Give Up The Ghost”, dengan suara gitar akustik, dan Yorke yang menyanyi lirih ditimpa versi majestik suaranya sendiri, sampai kita mendengar suaranya menyanyikan “I think I should give up the ghost, in your arms”, di momen itu kita tahu semuanya tidak akan berubah sekelam yang kita kira.

“The King Of Limbs” diakhiri dengan “Separator”. Untuk saat ini, album ini sudah berakhir, dengan kata – kata “If you think this is over, then you’re wrong”. Dengan Radiohead kita tidak akan pernah mengetahui apakah ini akan benar – benar berakhir, atau ini semua merupakan bagian dari lanjutan yang lebih mega daripada ini. Apakah akan ada “The King Of Limbs” kedua seperti “Kid A” dan “Amnesiac” yang berasal dari satu sesi rekaman? Kita tidak pernah mengetahuinya, yang kita tahu di tengah ritmus lagu itu yang melempar kita ke segala arah, dipandu oleh suara bas, dan gitar yang bersahut-sahutan itu, kita menari, menikmati musik yang telah diberikan oleh Radiohead kepada kita dan merasakan sesuatu yang substansial.

David Wahyu Hidayat

06
Sep
10

DVD Review: Radiohead – Live At Výstavištĕ Holešovice Exhibition Hall, Praha, 23 Agustus 2009

Radiohead

Live At Výstavištĕ Holešovice Exhibition Hall, Praha, 23 Agustus 2009

Unduhan gratis dari: http://radiohead-prague.nataly.fr/Download.html

Kamis malam lalu saya tidak dapat menahan ekstase saya ketika membaca berita kalau konser Radiohead di Praha pada tanggal 23 Agustus 2009 dapat diunduh secara gratis. Film konser ini menjadi sangat menarik, karena bukan hanya bisa didapatkan dengan cuma-cuma, tetapi juga karena diinisiasikan dan dikesekusi sangat baik oleh lebih kurang 50 fans Radiohead yang merekam konser tersebut dari kamera genggam mereka masing-masing, bukan secara profesional, tetapi dari sudut pandang mereka sebagai penonton.

Projek ini lalu direstui oleh Radiohead dengan menyumbangkan rekaman soundboard konser tersebut, menjadikannya sebagai tontonan yang sangat unik, karena yang kita lihat bukanlah film konser tanpa cela seperti DVD konser umumnya, tapi sebuah konser film yang menghadirkan suasana seperti kita sendiri yang berdiri di sana, berjuang mendapati sudut pandang terbaik dari band yang kita puja itu, kadang terhalang oleh tangan penonton lainnya yang menggapai langit dan membagi kebahagiaan bersama  kita, kadang terhalang ponsel dan kamera genggam mereka yang berusaha merekam pemandangan sensasional itu secara digital. Semuanya dalam kualitas suara yang fantastis mengagumkan baiknya.

Dengan durasi sepanjang 2 jam dan 25 lagu, kita menyaksikan sebuah band yang berdiri di atas panggung seperti 5 orang Jedi Master yang menggantikan light sabre mereka dengan gitar, bas, drum dan rangkaian elektronika lainnya; menghempaskan kita ke alam penuh kekaguman akan inovasi mereka dalam bermain musik. Film konser ini menjadi sangat spesial dengan adanya nomor seperti “These Are Twisted Words” yang dirilis secara digital dan gratis tahun lalu dan “Bangers N Mash”, ekstra track dari “In Rainbows” yang dibawakan dengan sangat eksplosif.

Kita hanya bisa terpukau melihat Radiohead sekali lagi mendesak diri kepada batasan bermusik yang mungkin hanya bisa diciptakan oleh diri mereka sendiri. “Idioteque” sudah dipastikan adalah salah satu puncak konser tersebut, lalu kita dibuat tercengang bagaimana sebuah lagu seperti “The Gloaming” ketika ditampilkan di atas panggung begitu dasyhatnya, sesuatu yang tidak kita dapati sebelumnya bila didengarkan dalam format album. Atau “2+2 = 5” yang menggempur kita dengan rajaman suara yang akan mencederai kegalauan kita. Di awal konser tersebut, kita akan tersenyum mendengar teriakan suara para penonton dalam “15 Step” dikomandani oleh Ed O’Brien dari atas panggung, mencontoh koor anak sekolah di versi albumnya. Kemudian melihat “Bodysnatcher” dibawakan live adalah sebuah kesenangan tersendiri, di lagu itu dan juga di banyak skena dalam film konser ini kita akan melihat jejak kejeniusan seorang Jonny Greenwood sebagai seorang pahlawan gitar.

Disediakan dalam bentuk unduhan gratis untuk berbagai macam format, DVD ini adalah bukti, bahwa setelah “In Rainbows” Radiohead secara tidak langsung melakukan inovasi dan pemberontakan terhadap industri musik, dengan sebuah film konser berkualitas mendekati sempurna, yang dibuat oleh fans untuk fans dan dengan keintiman yang sangat, walau konser tersebut dilakukan dalam arena yang besar. Saya hanya menyarankan satu hal, segera perkosa jaringan internet rumah, sekolah, kampus, kantor, atau warnet terdekat, untuk mengunduh film konser ini, karena kalian akan mendapatkan sesuatu yang tidak pantas untuk dilewatkan dari salah satu band paling terdepan abad ini. Selamat berdansa bersama Radiohead melawan kegilaan jaman. Semua ini sedang terjadi sekarang!

David Wahyu Hidayat

07
Nov
07

Album Review: Radiohead – In Rainbows

radiohead-in-rainbows.jpg

Radiohead
In Rainbows
Tanpa Label – 2007

Belasan, puluhan, ratusan band mempertaruhkan apa yang mereka miliki, menggali inspirasi terdalam untuk menjadi yang terbaik. Untuk mendapatkan pengakuan massa dan kritikus kalau mereka adalah band terbaik sepanjang masa, dan musik mereka diakui sebagai sesuatu yang mendefinisikan sebuah generasi. Banyak dari band – band tersebut gagal memenuhi ekspektasinya sendiri. Mereka yang bernasib sial itu lalu lenyap begitu saja ditelan waktu.

Tetapi sebuah band, pernah mengantarkan album yang diakui sebagai yang terbaik sepanjang masa di tahun 1997. Album tersebut dinamakan “OK Computer”, mendefinisikan bahwa kekompleksan sebuah musik dengan gitar ternyata mampu menjamah massa. Album itu menjatuhkan kerajaan bernama “Britpop” dan tetap menjadi salah satu karya musik paling diakui kejeniusannya sampai sekarang. Tanpa ciri khas alunan vokalisnya di album itu dan album sebelumnya, kita tidak akan pernah mengenal Coldplay atau bahkan James Blunt sekalipun.

Di awal millenium, mereka sekali lagi mengantarkan sebuah mahakarya. Dipenuhi dengan berbagai efek, suara band tersebut seperti datang dari luar angkasa, vokalisnya tidak lagi melantunkan falsetto yang menjadi ciri khasnya. Di album berjudul “Kid A” tersebut, ia seperti seorang robot yang diculik oleh alien. Album itu merupakan penegasan Radiohead kepada dunia, bahwa mereka tidak akan berhenti berkarya hanya pada sebuah pola saja. Album itu mengejutkan, dan di sisi lain sangat optimis dan penuh keajaiban.

7 tahun setelahnya. Industri musik berubah. Web 2.0 adalah kata kunci tidak hanya di kehidupan dunia maya kita, tetapi juga untuk industri musik dan dunia artistik lainnya. Masih kental di ingatan kita, bagaimana sepak terjang Arctic Monkeys diawali dengan sejumlah fans yang mengunggah lagu mereka di MySpace. Dan bukan Radiohead namanya, bila mereka berhenti untuk melawan batasan dan paradigma yang ada.

Dengan tidak didukung oleh satu label rekaman satu pun (paling tidak untuk saat ini) mereka merilis album terbaru mereka “In Rainbows” melalui internet dalam situs ofisial album tersebut www.inrainbows.com. Uniknya mereka yang akan mengkonsumsi album tersebut dapat memilih harga yang akan mereka bayarkan, bahkan gratis sekalipun. Album yang terdiri dari 10 file MP3 dengan 160 Kbps itu, juga tidak disertai dengan DRM, yang berarti sang pemilik file bebas mendistribusikannya ke orang lain, sehingga mengunduhnya di luar dari situs ofisial tersebut, bukanlah perbuatan yang ilegal. Tindakan ini seperti mengantisipasi kejadian seringnya album – album musik yang bocor duluan kepada para pembajak, sebelum dirilis secara resmi. Dengan keputusan Radiohead memberikan kebebasan kepada para fansnya, apakah mereka akan membayar untuk “bocoran” tersebut atau tidak, seperti memberikan sebuah sinyal kepada industri musik yang panik dan bingung menghadapi hal ini. Radiohead membuktikan bahwa tehnologi bukanlah musuh, tetapi sebuah fasilitas untuk memperluas audiens musik mereka.

Cukup berbicara tentang web 2.0 dan kenistaan kehidupan modern, bagaimana dengan musik yang disodorkan “In Rainbows” sendiri? Seperti yang disebutkan di awal tulisan ini. Banyak band boleh mencoba untuk mengklaim sebagai yang terbaik, tapi cukup dengan 42:34 menit yang disodorkan Radiohead dalam album ini, mereka semua yang mencoba, hanya akan dapat bermimpi untuk dapat mengantarkan sebuah karya sesempurna ini.

Kita berpikir setelah “Kid A” mereka tidak akan dapat mengejutkan kita lagi. Tetapi begitu mendengar suara pertama dalam “15 Step” kita hanya dapat ternganga dan berkata “Sial, bagaimana mungkin mereka selalu dapat melakukannya lagi?”. Lagu kedua “Bodysnatchers” diawali dengan suara gitar yang sangat berat seperti hendak meledakkan amplifier yang dipakai oleh kedua gitaris mereka Ed O’Brien dan Johnny Greenwood. Walaupun tidak pernah ditinggalkan, Radiohead seperti menekankan di lagu ini, kalau mereka selalu mencintai gitar, seperti yang pernah mereka lakukan di “The Bends” dan “OK Computer”. Track selanjutnya, “Nude” adalah tipikal lagu Radiohead yang akan selalu mencekam menghantui kita, tapi di satu sisi memberikan perasaan optimis yang sangat aneh. Seperti keluar dari dalam cengkraman alien, Thom Yorke dengan sangat pilu bernyanyi “Now that you’ve found it’s gone/Now that you feel it, you don’t”. Sebuah keindahan dalam kepiluan.

“Reckoner” didasari oleh suara gitar lembut yang terus berputar tanpa lelah merasuki alam bawah sadar kita. Suara drum Phil Selway di latar belakang bak seperti air hujan yang memecah kesunyian, vokal Thom Yorke melengkapi semuanya itu, mendesak menyadarkan kita, sambil berkata “You’re not asleep/You’re not dreaming”. Di lagu berikutnya “House Of Cards”, Radiohead memberikan kita sebuah perasaan yang jarang kita temukan dalam lagu mereka. “I don’t want to be your friend/I just want to be your lover” lirih Yorke di lagu tersebut. Entah mengapa, untuk satu alasan tertentu, lagu itu terkesan seperti datangnya sebuah musim gugur di dalam sendunya bulan Oktober. Setelah lagu tersebut, album ini ditutup dengan perpaduan kontras antara “Jigsaw Falling Into Pieces” yang bertempo cepat sambil meleburkan semua elemen musik Radiohead yang memukau telinga dan “Videotape” yang dentingan pianonya lambat laun mengantarkan kita kepada akhir yang tak mau kita temui, diiringi suara Yorke yang menyanyikan “This is my way of saying goodbye/Because I can’t do it face to face/I’m talking to you after it’s too late”.

Ini adalah album di mana Radiohead dengan cerdas dan cermat memadukan semua elemen musik yang mereka punyai, sambil mencoba menemukan jalan baru untuk menemukan tempat yang belum mereka singgahi. Semua band lain boleh saja mencoba, tapi album ini tanpa dapat ditantang dan ditandingi adalah album terbaik 2007. Sekali lagi, seperti yang sudah lalu, mereka kembali berhasil menghadirkan sebuah kejeniusan. Dengarkan dan biarkan kalian terpana karenanya.

David Wahyu Hidayat

04
Nov
07

Album Review: Radiohead – I Might Be Wrong EP

radioheadimightbewrongalbumart.jpg

Radiohead
I Might Be Wrong EP (Live Recordings)
Parlophone/EMI – 2001


Radiohead seperti tidak berhenti memanjakan fansnya selama 2 tahun terakhir ini. Diawali dengan dirilisnya Kid A tahun 2000, disusul dengan Amnesiac setengah tahun sesudahnya, lalu, ini dia yang mungkin telah ditunggu-tunggu lama para fans Radiohead, Live Album.

Memang live album ini bukan merupakan live album dalam arti sesungguhnya. Sebenarnya ini adalah single “I Might Be Wrong”. Tapi bukan Radiohead namanya kalau tidak memberi kejutan. Sebagai ganti single biasa, mereka mengeluarkan Mini Live Album yang direkam di Oxford, Berlin, Oslo, dan Vaison La Romaine, terdiri dari 8 lagu, yang diambil dari kedua album mereka terakhir.

Live Recordings ini paling tidak dapat menjawab penasaran para fans yang tidak pernah punya kesempatan melihat Radiohead secara langsung, bagaimana kuintet dari Oxford itu mempresentasikan materi-materi dari Kid A, dan Amnesiac secara Live. “Like Spinning Plates” menjadi sebuah nomor yang tidak diduga, karena permainan piano Thom Yorke, membuat lagu tersebut mendapatkan sebuah atmosfir yang berbeda dari yang terdapat dalam Amnesiac.

Kemudian ketika di album ini mereka memainkan “Idioteque” secara live dengan sesempurna itu, kita hanya dibuat ternganga karena mereka sebagai sebuah band telah jauh mengembangkan musik mereka dari yang pernah kita perkirakan. Dan sebagai penutup sebuah nomor akustik yang sebelumnya belum pernah dirilis berjudul “True Love Waits”. Hanya Thom Yorke dan gitarnya yang terdengar di lagu terakhir tersebut, tapi meskipun begitu hanya satu perasaan yang terasa. Perasaan kesempurnaan.

David Wahyu Hidayat

04
Nov
07

Album Review: Radiohead – Amnesiac

radioheadamnesiacalbumart.jpg

Radiohead
Amnesiac
Parlophone/EMI – 2001

Direkam di session yang sama dengan Kid A, Amnesiac seperti hendak melengkapi apa yang sudah dirintisnya. Seperti yang Thom Yorke katakan, “Amnesiac seperti senjata rahasia yang orang lain tidak punya, mengejutkan, karena kita punya satu album lagi seperti ini”.

Hubungan antara kedua album ini begitu terasa. Lihat saja contohnya “Packt Like Sardines In A Crushd Tin Box” yang melengkapi “Idioteque” dari Kid A, atau percobaan mereka untuk merekam kembali “Morning Bell” dari sisi pandang yang lain. Walaupun begitu, fans Radiohead yang mendambakan kembali adanya sebuah album dengan sound gitar yang paling tidak sejak “The Bends” menjadi kekuatan mereka, boleh bernafas lega, karena di album ini ada “I might be wrong” yang paling tidak mengembalikan ingatan kita di masa sebelum Kid A.

Lalu ada “Knives Out” yang seperti diakui oleh Thom Yorke ialah tribute mereka kepada The Smiths. Ed O´ Brian (gitaris), memperdengarkan lagu itu kepada ex-gitaris The Smiths Johnny Marr, dan ia menyukainya. Nada-nada yang miring pada lagu itu, sengaja mereka lakukan untuk menimbulkan kebingungan di pihak pendengar.

Di album ini, Thom Yorke seperti sedang menemukan kesenangan barunya memainkan piano, seperti terdengar dalam “Pyramid Song” dan “You and Whose Army” yang berkesan gelap dan penuh misteri. Boleh penasaran apa yang akan dilakukan Radiohead di album selanjutnya, karena sejak Kid A mereka tidak dapat ditebak, dan selalu dapat menimbulkan kejutan yang menarik.

David Wahyu Hidayat

04
Nov
07

Album Review: Radiohead – Kid A

radioheadkidaalbumart.jpg

Radiohead
Kid A
Parlophone/EMI – 2000

Saat semua orang menunggu album penerus OK Computer yang di kalangan para kritikus dipuji sebagai salah satu album terbaik sepanjang masa, Radiohead mengeluarkan sebuah album yang lain sama sekali isinya dengan pendahulunya.

Kid A, adalah sebuah album eksperimen dari Radiohead, di keseluruhan album ini hampir tidak ada suara gitarnya sama sekali yang menjadi ciri khas Radiohead di album mereka sebelumnya. Gitar diganti dengan lantunan alat musik tiup seperti pada “The National Anthem”, atau sample musik elektronik pada “Idioteque” (Radiohead goes dancing?). Anehnya walaupun begitu, dan tanpa mengeluarkan single satu pun, Kid A melejit memuncaki album chart di Amerika.

Masihkah ada tempat untuk musik seperti ini di Mainstream? Yang jelas, untuk menemukan segi keindahannya, Kid A harus didengarkan paling tidak 6-7 kali, dan baru kita akan mengerti mengapa mereka tidak membuat album yang mirip dengan OK Computer. Walaupun begitu lagu seperti “Everything in its right place”, “Optimistic”, “How to disappear completely” dan “Idioteque” sekalipun, merupakan nomor yang memang sudah menjadi ciri khas Radiohead. Tidak terbayang ada artis lain yang bisa membuat lagu-lagu semacam itu selain mereka. Usaha mereka di sini patut diacungkan jempol, karena di album inilah orang masih dapat menemukan sesuatu yang indah walaupun kesan pertamanya sangat rumit, tidak seperti artis lain yang berkata bahwa musik mereka terlalu kelas tinggi untuk dicerna orang lain, padahal kenyataan sebenarnya ialah itu sebuah musik sampah.

David Wahyu Hidayat




 

Mei 2012
S S R K J S M
« Des    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Categories

Blog Stats

  • 85,710 hits

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.