Arsip untuk Kategori 'Oasis'

17
Des
11

Album Review: Noel Gallagher’s High Flying Birds – Noel Gallagher’s High Flying Birds

Noel Gallagher’s High Flying Birds

Noel Gallagher’s High Flying Birds

Sour Mash – 2011

 

Segala sesuatu yang pernah diraih oleh Oasis dan sebesar apapun ego yang dimiliki seorang Noel Gallagher, tidak cukup untuk membuat Noel merasa dirinya patut disebut sebagai seorang singer/songwriter terbaik generasinya. Dalam salah satu interview, ia menyebutkan merasa nyaman dengan posisinya sebagai lead gitaris yang menyanyikan nomor-nomor akustik aneh waktu sang vokalis tidak berkeinginan menyanyikannya. Berdiri di sisi kiri panggung, ia merasa seperti bagian dari penonton karena dapat menyaksikan rekan-rekannya memberikan waktu terbaik yang pernah dimiliki seseorang dalam sebuah gig Oasis. Julukan yang ia berani berikan kepada dirinya sendiri saat ini adalah seorang songwriter/singer. Berbeda dengan seorang singer/songwriter di mana suara adalah pusat dirinya, bagi Noel lagu yang ia ciptakan dan mainkan adalah sentral dari pertunjukan, bukan dirinya atau suara yang ia keluarkan sambil berdiri di tengah-tengah panggung.

 

Ini adalah pernyataan yang sangat merendahkan hati, mengingat statusnya dan lontaran yang sering ia berikan dahulu, bahwa dirinya dan bandya adalah terbesar yang pernah ada. Ia bahkan tidak ingin disebut Noel Gallagher. Proyeknya adalah Noel Gallagher’s High Flying Birds, seakan ini semua adalah sebuah band dan bukan sebuah karya solo dirinya.

 

Debut album ini adalah sebuah gambaran Noel Gallagher yang sedang berusaha kembali menemukan kesenangannya kembali menciptakan musik yang kita dengarkan pada saat kita sedang jatuh. Sebuah musik yang akan membangkitkan semangat kita, ketika tidak ada yang percaya lagi dengan kita. Musik yang lebih retrospektif dan jauh dari hingar bingar stadion rock.

 

“If I Had A Gun” adalah nomor klasik seorang Noel Gallagher dengan lirik sarkasme omong kosong yang pelan-pelan sudah menjadi ciri khas dirinya, “If I had a gun, I’d shoot a hole into the sun, and love would burn this city down for you”. Apa artinya semua ini? Kita tidak perlu memikirkannya jauh-jauh karena melodi lagu ini adalah sebuah hook mematikan yang akan membuat kita mencintainya. “The Death Of You And Me” yang menyusulnya merupakan perpaduan dari dua band yang sangat dipuja Noel yaitu The La’s dan The Coral. Akhir lagu yang diisi oleh suara trumpet seperti suasana sebuah perayaan di New Orleans adalah sesuatu yang tidak akan kita pernah temukan dalam rekaman Oasis manapun.

 

Kejeniusan seorang Noel Gallagher pun lalu menapaki puncaknya pada lagu yang sebelumnya sudah banyak dikenal ketika muncul sebagai demo dalam sesi rekaman “Don’t Believe The Truth”, yaitu “(I Wanna Live In A Dream In My) Record Machine”. Lagu yang di album ini sudah mencapai kesempurnaannya dengan latar belakang suara koor Crouch End Festival yang agung dan liriknya yang berkata “Help me defining the light that’s shining on me…Show me the path’s that leads to all glory” menempatkan album ini kepada suasana semi epik, dan untuk sesaat lamanya kita kembali dibawa kepada suasana stadion penuh dengan pemantik api yang menyala mengiringi solo gitar psikedelia singkat di akhir lagu ini. “AKA…What A Life” adalah sebuah aransemen yang sangat layak dan kembali keluar dari teritori kenyamanan seorang Noel Gallagher, dengan piano yang menjadi instrumen utamanya dan betempo cepat, nyaris seperti irama lagu dansa akhir 80-an/awal 90-an.

 

Koor Crouch End Festival kembali membahana di lagu terakhir album ini “Stop The Clocks”. Berawal juga dari sesi rekaman “Don’t Believe The Truth” ini adalah tipikal Noel Gallagher mengakhiri sebuah album. Dengan rentetan gitar backwards dan berbagai macam kebisingan menyudahi lagu ini dengan klimaks, seperti bertolak belakang dengan awal album ini yang tenang dan menapak pelan pada “Everybody’s On The Run”.

 

Dan di sinilah kita berpijak setelah 42:27 menit mendengarkan karya pertama seorang songwriter/singer yang sangat berpengaruh selama 2 dekade terakhir. Adalah sebuah kelegaan yang sangat, dapat mendengarkannya kembali berkarya dan memberikan lagu – lagu yang berarti kepada kita walaupun di beberapa tempat ia terdengar dapat dikira dan tidak memberikan sesuatu yang baru. Tetapi seperti layaknya berbicara kembali kepada seorang sahabat yang sudah lama tidak kita jumpai, album ini adalah sesuatu yang sangat menyenangkan, bukan karena ia memenuhi nostalgia di diri kita, karena ia memberikan kita cerita-cerita baru yang memang ingin kita dengar darinya. Selamat datang kembali Noel Gallagher.

 

David Wahyu Hidayat

 

 

16
Apr
11

Pencerahan Jiwa: 10 rekaman yang membentuk selera musik saya

Beberapa waktu lalu, seorang teman saya berceloteh begini kepada saya sambil tertawa meringis: “Bayangin ya, waktu kecil, kita masih terima dari kakak/ayah/teman kita: Nih musik bagus untuk didengerin (sembari menyerahkan tumpukan CD/Kaset/Vinyl). Nanti ya, 10-20 tahun dari sekarang, apa yang kita kasih ke anak-anak kita ya, buat dengerin musik bagus? Hard disk portabel?”.

Bayangan yang ia lanturkan itu adalah bayangan menyeramkan. Melihat keadaan musik sekarang yang sudah menjadikan trashy pop sebagai suatu trend untuk digilai jutaan orang saja, sudah kelam. Paling tidak, walaupun secara pribadi tidak menyukai, Madonna dan Kylie masih memiliki kelas.

Membicarakan selera tidak akan kunjung habis. Karena selera dimiliki masing-masing orang dan terserah mereka akan melakukan apa dengan seleranya masing-masing. Selera terbentuk dari apa yang kita dengar dan lihat. Dari melihat dan mendengar filter itu dibuat, dari sana selera itu terbentuk. Paling tidak, saya masih mempunyai kumpulan CD untuk diberikan kepada anak-cucu saya nantinya, dan mudah-mudahan mereka masih memiliki selera yang masih dapat diselamatkan. Selama jaman dan waktu mengijinkan serta yang Maha Kuasa masih berkenan, saya masih akan terus mengumpulkan bentuk fisik dari musik yang membentuk selera saya. Mudah-mudahan ini semua masih bisa dinikmati sebagai bagian dari warisan budaya generasi anak-cucu saya.

Di bawah ini, adalah 10 rekaman, tidak dalam urutan tertentu, yang membentuk selera musik saya saat ini. Mudah-mudahan saya berkesempatan memberikan ini semua, beserta CD-CD lainnya kepada anak saya. Happy Record Store Day!

David Wahyu Hidayat

1.    Vs. – Pearl Jam (Epic Records, 1993)


Album ini adalah tapal batu berubahnya selera musik saya, dari kekaguman masa kanak-kanak terhadap grup vokal muda dari NY, kepada sebuah bentuk musik yang lebih mentah dan kasar, menyuarakan kegelisahan pubertas dan pemberontakan jiwa yang tidak pernah mengerti apa-apa. Teman SMP saya memberikan sebuah mixtape berisikan Nirvana di sisi A dan Pearl Jam di sisi B, kaset itu lalu menggerakkan saya membeli album ini. Setelahnya selera musik saya tidak pernah sama lagi seperti sebelum-sebelumnya.

2.    The Beatles – The Beatles (Apple, 1968)


Album The Beatles mana yang terbaik akan selalu menjadi perdebatan sepanjang masa. Tapi album inilah yang sebenarnya membuat saya menjadi kerasukan band legenda ini. Yang membuat saya menemukan album ini adalah ketidaksengajaan yang sebenarnya lucu untuk dikenang. Di penghujung dekade 90-an, seorang yang waktu itu dekat dengan adik saya, entah untuk alasan apa, mengirimkan album ganda ini dalam bentuk kaset. Mungkin dipikirnya album ini adalah alasan bagus untuk membuat dirinya impresif terhadap adik saya, sekaligus membawa adik saya ke selera musik yang bagus. Yang terjadi adalah, saya membajak album itu dan mendengarkannya secara intens. Memang sebelumnya saya sudah mengenal The Beatles lewat, sekali lagi lewat sebuah mixtape dari teman SMP yang sudah saya sebut di atas, yang dengan bangga memberikan judul mixtapenya “The Beatles Restrospective: 1963-1970”, dan beberapa peristiwa unik ketika ayah saya tiba-tiba menyetel lagu mereka di rumah. Tetapi saya belum pernah mengenal The Beatles seperti saya mengenalnya dalam “The White Album”. Lagu-lagu seperti “While My Guitar Gently Weeps”, “Helter Skelter”, “I Will”, “Happinnes Is A Warm Gun”, dan “Everybody’s Got Something To Hide Except Me And My Monkey” memberikan sebuah ruangan baru dalam definisi The Beatles ke otak saya. Saya memutuskan untuk mencintai band ini dengan sangat, dan ketika saya mulai bekerja di Jakarta, gaji pertama saya, dan gaji-gaji saya di setiap bulannya, saya gunakan untuk mengumpulkan studio album mereka, sampai akhirnya koleksi itu terlengkapi.

3.    The Bends – Radiohead (Parlophone, 1995)


Saya membeli album ini, cukup telat. Di tahun 2000, ketika saya sedang liburan awal tahun ke Jakarta di tengah-tengah kuliah saya waktu itu di Jerman. Pertangahan tahun yang sama, saya dan beberapa teman melakukan sebuah pekerjaan musim panas di sebuah kota di bagian tengah Jerman, di sebuah pabrik pemasok drum penampung untuk sebuah perusahaan kimia. Dalam perjalanan menuju pabrik setiap pagi, istirahat siang di taman dekat pabrik tersebut, dan dalam perjalanan trem pulang di sore hari ini, album ini setiap saat melekat menemani saya di discman yang saya bawa kemana-mana waktu itu. Memang, saya sudah terlambat 5 tahun untuk diperkenalkan dengan pengalaman sonik yang ada di album itu, tapi di musim panas itu mendengarkan “The Bends”, “My Iron Lung”, dan kesterilan melodik “Bullet Proof…I Wish I Was” membawa saya mengerti, mengapa Radiohead adalah maestro musik jenius yang akhirnya membawa mereka menghasilkan album-album mahakarya di tahun-tahun sesudahnya, di antaranya adalah “Kid A” yang merupakan album favorit Radiohead saya.

4.    The Stone Roses – The Stone Roses (Silvertone Records, 1989)


Ketika Oasis meledak di tahun 1995, teman SMA saya yang mempunyai pengetahuan musik seperti musikpedia berjalan mengatakan hal ini kepada saya “Elo harus dengerin The Stone Roses, karena mereka telah melakukannya duluan sebelum Oasis melakukan apa yang mereka lakukan sekarang”. Setelahnya saya hanya membeli The Complete Stone Roses di kaset, karena hanya itu yang dapat dibeli di Jakarta pada waktu itu. Beberapa tahun setelahnya, ketika saya memiliki kesempatan menempuh pendidikan di Dortmund, saya akhirnya membeli debut album The Stone Roses yang legendaris itu. Edisi US, dengan “Elephant Stone” di track ketiga (Saya baru tahu sesudahnya bahkan, kalau lagu ini tidak masuk di versi asli album tersebut) dan “Fools Gold” di track 13. Yang membuat mata musikalis tercelik adalah versi asli “I Am The Resurrection” sepanjang 08:14 menit. Di situ saya sadar apa yang Ian, John, Mani dan Reni lakukan adalah cetak biru apa yang dilakukan band-band Inggris lakukan setelahnya. Di sekitar saat yang sama, tetangga saya di gedung yang saya tinggali waktu itu terdapat seorang mahasiswa Inggris dan seorang mahasiswi Jepang. Entah berapa puluhan cangkir teh serta kopi dan ribuan kata terlewati dengan mereka hanya untuk membahas kesempurnaan album ini. Banyak orang mengira band favorit saya sepanjang masa adalah Oasis, tetapi sesungguhnya, berada di tempat nomor satu sebagai band yang saya puja secara religius adalah The Stone Roses.

5.    The Queen Is Dead – The Smiths (Rough Trade, 1986)


Awalnya CD ini mendarat ke tangan saya, waktu saya meminjamnya dari seorang teman di musim semi 1999. Waktu itu saya sedang menjalani praktikum di sebuah perusahaan telekomunikasi Jerman sebagai syarat memasuki kuliah. Setiap pagi saya harus bangun sebelum Matahari terbit, menyiapkan diri dengan sangat malas, dengan mata yang masih mengantuk, terkadang masih terdengar sayup sayup sisa-sisa pesta mahasiswa di lantai atas gedung saya. Di fajar-fajar buta itu, “There Is A Light That Never Goes Out” dan “Some Girls Are Bigger Than Others” menerbitkan mentari lebih awal untuk saya. Suara Morrissey yang sendu mendayu, liriknya yang berkata jujur terhadap hari-hari yang kita jalani dan kejeniusan aransemen Johnny Marr memberikan semangat baru dalam fase kehidupan saya waktu itu. Sampai sekarang jika suasana hati sedang tidak menentu, saya selalu memutar album itu, dan entah kenapa, semuanya terlihat membaik secara pelan-pelan. Mungkin memang benar pada akhirnya akan selalu ada cahaya yang tidak pernah akan pudar.

6.    Tragicomedy – Polyester Embassy (FFWD Records, 2006)


Saya lupa kapan pastinya saya mulai menggilai band ini. Yang saya ingat adalah di sebuah Minggu siang yang membosankan, saya terantuk kepada laman MySpace mereka, dan mendengarkan sejumlah lagu-lagu yang sangat ajaib mengagumkan di sana. “Orange Is Yellow”, “Blue Flashing Light” dan “Polypanic Room” sepertinya yang saya dengar waktu itu. Di siang yang sama, usai mendengarkan lagu-lagu tersebut, saya langsung berlari ke sebuah toko buku di bilangan Cilandak yang juga menjual CD-CD band independen negeri ini. Syukur saya mendapati CD itu ada di sana. Selanjutnya adalah pencerahan tanpa batas yang diperoleh dari 9 lagu yang ada di situ. Setelahnya saya selalu bilang ke teman-teman saya yang mempunyai selera musik serupa dengan saya “Bila mereka berasal dari Stockholm atau Trondheim mereka pasti sudah sebesar Sigur Ros atau Mew, percaya atau tidak”. Karena sebesar itulah dampak musik mereka.

7.    Pure Saturday – Pure Saturday (Ceepee Records, 1996)


Siapa yang tidak mengenal band ini? Tanpa mereka skena musik independen tanah air tidak akan seperti sekarang. Pure Saturday adalah pionir, dan ketika di tahun terakhir SMA saya membeli kaset mereka dan menyaksikannya di pensi yang diadakan sekolah saya waktu itu, yang terdapat adalah perasaan bahagia. Mereka adalah cerminan generasi kreatif waktu itu: naif, cerdas bermain dengan kreatifitas, dan berani untuk menampilkan seni mereka di luar arus utama. Ke mana semua itu pergi saat ini?

* Album ini hanya saya miliki dalam bentuk kaset, yang sudah rusak dan tidak dapat lagi dinikmati. Sebagai upaya penyelamatan, teman saya lalu mengubahnya ke dalam bentuk digital, dan hanya itulah satu-satunya peninggalan dari album ini (sigh).

8.    (What’s The Story) Morning Glory – Oasis (Creation Records, 1995)


Menjelang Natal 1995, saya membeli album ini setelah melihat “Roll With It” dan “Wonderwall” di Mtv (Ya betul, waktu itu musik televisi masih berfungsi sebagai musik televisi) dan memutuskan bahwa band ini akan memberikan arti penting ke dalam kehidupan saya. Dalam sebuah keputusan yang jarang dilakukan oleh orang tua saya, entah kenapa, keluarga kami waktu itu memutuskan untuk merayakan Natal di Carita. Lilin malam kudus di gereja digantikan oleh sebuah makan malam di pinggir pantai. Saya ingat setelahnya, saya duduk seorang diri di kegelapan malam, memandang lautan yang pekat, dengan ombak berdebur kencang. Di telinga saya adalah suara Liam terputar oleh walkman yang saya bawa waktu itu. Oasis adalah lawan kutub dari Pearl Jam dan suara grunge yang mulai saya gandrungi waktu itu. Walaupun sebagian besar lirik yang ada di album tidak berarti apa-apa, tapi ia menghembuskan angin optimisme yang entah bertiup dari mana. Seperti mengingatkan kita untuk dapat melakukan segalanya, asalkan kita percaya. Oasis adalah optimisme tanpa batas, seluas lautan yang saya lihat di malam Natal, balik di tahun 1995.

9.    Silent Alarm – Bloc Party (Domino Records, 2005)


Sejujurnya pada awalnya  saya sangat-sangat skeptis dengan band ini. Serius, kalau dipikir, band dengan akal sehat mana, menamakan dirinya Bloc Party? Tapi saya lalu memberanikan diri untuk mendengarkan lagu-lagu di album itu. Ketika efek delay pertama Russel menggaung di “Like Eating Glass” untuk lalu ditelan dengan gulungan monster drum Matt, Bloc Party adalah salah satu band terdasyhat dan inovatif yang pernah lahir di tahun-tahun ’00. Mereka tidak akan pernah menjadi band stadium seperti Kings Of Leon misalnya, tapi dengarkan album itu, belum pernah permainan efek gitar, teriakan revolusioner dan gebukan drum terdengar sesegar seperti di “Silent Alarm” sepanjang dekade lalu. Saya lalu mendedikasikan diri saya untuk menjadi fans band ini. Dan untuk satu alasan tertentu, ketiga album Bloc Party adalah satu-satunya dalam koleksi CD saya, yang saya miliki ganda. Edisi normalnya, ditambah dengan edisi spesial dengan bonus track dan DVD. Bahkan remix albumnya pun saya miliki. Sebesar itu dampak band ini dalam kehidupan permusikan saya.

10. Is This It – The Strokes (Rough Trade, 2001)


2001 di kepala saya hanya identik dengan 2 peristiwa: 9/11 dan dirilisnya debut album The Strokes. Yang pertama adalah tragedi manusia penuh konspirasi dan mengubah kehidupan kita semua setelahnya. Yang kedua adalah perayaan kembalinya musik gitar dalam esensi sesungguhnya. Ke manapun kita memasuki klab-klab indie di tahun 2001-2002, lagu-lagu The Strokes adalah yang membuat lantai dansa yang sudah terlalu lengket dengan tumpahan bir, pecah dengan anak-anak Indie yang seperti menemukan penyelamat mereka dalam wujud band ini. Didengarkan 10 tahun sesudahnya, album ini masih terdengar begitu menggairahkannya seperti didengarkan pertama kali. Album itu adalah sebuah pamungkas yang sulit untuk ditiru band manapun sesudahnya.

11
Jul
10

Album Review: Oasis – Time Flies… 1994 – 2009

Oasis

Time Flies… 1994 – 2009

Big Brother/Sony Music Indonesia – 2010

Kalau Oasis adalah tim sepakbola Nasional Inggris mereka sudah sedikitnya memenangkan 2 piala dunia dan 2 piala eropa: 1994 dengan menghantarkan debut album fenomenal “Definitely Maybe”, 1996 di puncak kekuasaan mereka menjadi raja Britpop, 2006 waktu mereka secara spektakuler tur keliling dunia setelah setahun sebelumnya kembali dengan “Don’t Believe The Truth”, lalu 2008 mengakhiri karir mereka di puncak dengan “Dig Out Your Soul”. Sayangnya tim sepakbola nasional Inggris hanyalah sekumpulan pesepakbola brilian dengan miliaran poundsterling di kaki, tapi kehilangan inspirasi ketika mengenakan seragam “Three Lions”. Untungnya Oasis adalah sebuah band yang sejak awal pemunculan mereka pertama kali memberikan inspirasi bahwa cita-cita kehidupan kita terbentang seperti langit yang tanpa batas.

Dalam klip-klip promosi yang menyertai dirilisnya kumpulan single Oasis terlengkap sepanjang karir mereka ini, Marco – Liam Gallagher impersonator asal Italia mengatakan kira-kira demikian “Once you choose your colours, you never go back”. Momen pemilihan warna itu berawal dari sebuah videoklip di tahun 1995, waktu musik televisi masih memainkan musik video. Klip hitam putih itu terpancarkan dari layar kaca rumah saya, diawali dengan sebuah batuk, lalu ritem gitar yang renyah, sampai akhirnya suara itu menghipnotis saya hingga saat ini, “Today, it’s gonna be the day that they’re gonna throw it back to you”. Walaupun itu bukan pertama kali saya mendengarkan Oasis, tapi itu adalah momen saya memilih mereka. Seperti ketika John Barnes dan Ian Rush membuat saya memilih warna merah dari Liverpool di final FA Cup 1989, lagu itu yang membuat saya memilih bahwa ini adalah band yang akan selalu saya puja sepanjang hidup saya.

Koleksi single ini bukanlah hal baru bagi fans Oasis, ini adalah bentang waktu yang kembali mengingatkan kita akan kebesaran mereka sebagai sebuah band. Diawali dengan empat menit penuh omong kosong dari “Supersonic”, kita takjub mengapa lagu tersebut dapat membuat kita seperti orang yang dapat melakukan apapun di dunia ini. Lalu di sana ada “Roll With It”, dilanjutkan dengan anthem antitesis dari suara Seattle “Live Forever”, masih dengan lirik omong kosong, masih dengan tangan terbuka ke atas menggapai ke langit, menggapai harapan.

“Time Flies…” disusun menurut Noel seperti gig Oasis terbaik yang pernah ada. Di satu sisi ada nomor – nomor rock ‘n’ roll seperti “Cigarretes And Alcohol”, yang jika dapat digambarkan, apabila optimisme generasi 90-an dituangkan dalam bentuk nada, maka ini adalah lagunya. Bahkan “The Hindu Times” dari tahun 2002, diputar lagi sekarang, masih terdengar seperti ekstase musim panas yang berkepanjangan, waktu Tuhan memberikan jiwa kepada hati rock ‘n’ roll kita. Di sisi lain, ada ueber ballad seperti “Stop Crying Your Heart Out” yang adalah pelipur lara terbaik yang pernah ada, entah apakah kita sedang mabuk penuh frustasi dengan kehidupan, atau melihat seorang David Seaman diperdaya Ronaldinho dengan sempurnanya 8 tahun silam di piala dunia 2002. Atau “Little By Little” yang membuat kita menyadari keindahan musik Oasis, karena mereka membuat kita mempercayai lagi kehidupan yang kita miliki.

“Whatever” dan “Lord Don’t Slow Me Down” yang tak pernah difiturkan dalam album Oasis manapun, mengisi koleksi ini dengan brilian. Yang pertama adalah nomor favorit fans, yang kedua adalah gambaran jelas akan musik Oasis di fase-fase terakhir mereka sebagai sebuah band, masih tetap rock ‘n’ roll tapi dengan kedewasaan sebuah band yang mendefinisikan generasi. Dan di sana tentu saja ada “Don’t Look Back In Anger”, lagu yang mempersatukan fans band ini di manapun mereka berada. Mereka yang beruntung pernah menyaksikan Oasis secara langsung, akan mengerti mengapa ribuan orang dalam satu ruangan konser, dengan perbedaan latar belakang sosial, ras, suku, agama, negara meneriakkan jengkal terakhir jiwa mereka pada lagu ini, semua perbedaan itu melebur menjadi satu di dalam keabadian musik Oasis.

29 Agustus 2009, Noel menuliskan pesan singkat di situs mereka kalau ia meninggalkan band yang kita puja itu. Sejak tanggal tersebut Oasis adalah sejarah. Lampu ruangan konser itu telah padam, teriakan “Oasis…Oasis…Oasis” itu telah sirna ditelan malam. Yang tertinggal adalah sebuah perasaan bagaimana band tersebut telah memberikan sesuatu yang berarti kepada kehidupan ini, perasaan optimismus yang sulit untuk dijelaskan tapi mampu mengangkat kita kembali dari lubang – lubang yang kita hadapi dalam kehidupan. Mungkin kita tidak ingin mengetahuinya, mungkin kita hanya ingin terbang, mungkin kita tidak akan pernah menjadi semua hal yang kita pernah impikan, tapi sekarang bukan saatnya untuk menangis, sekarang adalah saat mencari tahu mengapa. Kamu dan saya adalah sama, kita mengetahui banyak hal yang tidak akan pernah mereka ketahui. Kamu dan saya akan hidup selamanya.

David Wahyu Hidayat

19
Apr
09

Pencerahan Jiwa: Oasis – Revolution Song (Demo)

noelgallagher

“I’m singing out my revolution song, like nothing else matters”

Noel Gallagher

Minggu siang. Mungkin, entah sejak kapan, dan tidak teringat lagi kapan terakhir kali dirimu berada dalam posisi ini, rasa bosan menggerogoti jiwa dan tubuh dengan sangat. Minggu demi minggu terlewati, semua dengan rutinitas kosong. Kerja, akhir pekan, pergi keluar menemui teman, beribadah, siklus pun berulang dari awal. Tidak ada yang berarti.

Bila ada secercah cahaya yang bisa membuat diri ini sedikit tersenyum adalah musik, dan mungkin blog ini sedikit terlalu banyak membahas tentang Oasis, tapi band itu salah satu yang membuat kehidupan berarti dan membuat sedikit kepercayaan terhadap segala sesuatu yang terjadi di sekeliling hidup ini.

Sedikit membongkar koleksi musik Oasis di piranti keras mesin yang dipakai menulis blog ini, satu lagu menyita perhatian. Sebuah demo dari sesi rekaman “Standing On The Shoulder Of Giants”. Lagu itu berjudul “Revolution Song”. Dengan gitar yang disertai dengan iringan Piano, lagu itu masuk dengan lembut, sebelum Noel menyanyi “They took my faith, they put in a headlock and they sealed my faith”. Memasuki refrain, Noel memberikan kemerdekaan untuk jiwanya, ia menyanyi dengan penuh keyakinan “I’m singing out my revolution song, like nothing else matters. And you can pitch your gold against my soul, but I bet you get shattered, and there’s a million houses in my heart. It won’t be long until I solve my mystery”.

Dengan lagu itu, Noel memberikan kebebasan pada jiwanya. Jika semuanya semudah itu, jika di dunia ini yang berlaku hanyalah menyanyikan lagu revolusi kita terhadap kehidupan. Jika hanya itu yang berlaku, mungkin kita semua adalah orang-orang paling bahagia di dunia ini. Tapi kenyataannya adalah, kita harus berjuang menghidupi kehidupan itu, bekerja, akhir pekan, pergi keluar menemui teman, beribadah, dan di antara semuanya itu, mendengarkan musik yang akan memerdekakan kita dari segala sesuatu yang tidak berarti di kehidupan ini.

David Wahyu Hidayat

08
Apr
09

Konser Review: Oasis – Singapore, 05 April 2009

Oasis

Singapura – Singapore Indoor Stadium

Minggu, 05 April 2009

Setlist:

Fuckin’ In The Bushes (Intro), Rock ‘n’ Roll Star, Lyla, The Shock Of The Lightning, Cigarettes & Alcohol, The Meaning Of Soul, To Be Where There’s Life, Waiting For The Rapture, The Masterplan, Songbird, Slide Away, Morning Glory, Ain’t Got Nothin’, The Importance Of Being Idle, I’m Outta Time, Wonderwall, Supersonic

Encore: Don’t Look Back In Anger, Falling Down, Champagne Supernova, I Am The Walrus

“Are you gonna wake up then, yeah? For some real songs?”

Liam Gallagher, Glastonbury 1994

img_11431

Review:

Oasis. Tanpa mereka dekade 90-an adalah tahun-tahun yang dipenuhi oleh generasi hedonis yang terhilang kelam, tanpa arahan dan tujuan. Tapi ketika mereka datang di tahun 1994 dengan “Definitely Maybe”, harumnya wangi optimisme terhirup bagaikan obat bius yang tiada henti mengantarkan kita ke puncak kenikmatan. Kita seperti menemukan lagi sinar optimisme yang hangat memancar, dan menjadikan dekade tersebut waktu yang terbaik yang pernah dimiliki seseorang.

Semua itu, terulang kembali di Singapore Indoor Stadium, 05 April 2009, di sebuah malam di mana musik sebenarnya dikumandangkan dari dalam hati. Di sana tidak akan ditemukan tempat untuk idola pop kosong hasil pilihan teknologi modern. Yang ada hanyalah musik yang menyatukan keoptimisan seorang manusia, yang memberikan kembali kepercayaan akan harapan yang tidak pernah sirna. Yang ada hanyalah orang – orang yang merayakan kehidupan dan pahlawan – pahlawan mereka yang bernama Liam Gallagher, Noel Gallagher, Gem Archer, Andy Bell, dan Chris Sharrock.

cimg0606

Semenjak intro yang selalu mengawali setiap penampilan Oasis, “Fuckin’ In The Bushes” diteriakkan oleh tata suara Singapore Indoor Stadium, kita semua, murid – murid Oasis, sudah dipenuhi euforia tanpa batas, melebihi yang dimiliki oleh seorang manusia dalam keadaan normal. Ketika lima sosok tersebut memasuki panggung, terlebih ketika Liam dengan pandangan seribu yar-nya yang telah terlatih jutaan kali di setiap pertunjukkan Oasis, memandang kita dari atas sana, kita seperti melihat seorang penyelamat yang telah memberikan waktu – waktu terbaik dalam hidup kita. Saat memulai “Rock ‘n’ Roll Star” sebagai lagu pertama yang mereka bawakan malam itu, tak terbendung lagi, erupsi emosional terhebat yang pernah dilihat publik Singapura memenuhi tempat tersebut.

“Lyla” yang mengikuti lagu tersebut, terdengar seperti lagu klasik Oasis, ratusan kali lebih baik dari yang terdengar di album. Di depan panggung, semua merayakan Oasis, tanpa terkecuali. “The Shock Of The Lightning” meneruskan set mereka malam itu, dan semua orang menikmati kebahagian tanpa batas “All in good time…all in good time”.

Oasis adalah sebuah institusi, sebuah band yang berfungsi dengan memberikan kita kepuasan batin, membuat kita mempercayai diri kita sendiri lagi, di saat tidak ada yang mengatakan bahwa segala sesuatu mungkin terjadi. Liam dan Noel adalah wujud nyata dari lagu – lagu yang mereka nyanyikan, karena mereka mempercayai setiap kata-kata yang keluar dari mulut mereka sendiri, bukan bualan omong kosong untuk memenangkan pasar belaka. “Cigarettes & Alcohol” adalah salah satu lagu yang akan membuat kita kembali dari kerasnya pukulan kehidupan, dan satu Singapura merayakannya malam itu dengan bernyanyi bersama Liam “We gotta…we gotta make it”, disambung dengan solo Noel yang kasar, tapi itulah rok n rol dalam kebesarannya.

cimg0678


Salah satu lagu dalam “Dig Out Your Soul” yang makin lama makin mendeterminasi alam pikiran dan tidak dapat dikeluarkan lagi dari kepala adalah “To Be Where There’s Life”. Malam itu, di Singapura, lagu tersebut terdengar sempurna, membuat kita melayang dalam sebuah nirwana yang dibentuk oleh raungan gitar Noel dan Gem. Setelah lagu tersebut, Noel mengambil alih vokal untuk pertama kalinya malam itu dengan menyanyikan “Waiting For The Rapture” dan “The Masterplan”. Lagu pertama, membuat kita terpesona dalam kesederhanaan vokal Noel, yang kedua adalah lagu yang mungkin bisa dipilih dalam lima lagu terbaik yang pernah diciptakan Oasis. Magis dan memukau mungkin adalah kata – kata yang terlalu sederhana untuk menggambarkan mereka waktu memainkan lagu tersebut. Di akhir lagu, Gem memainkan solo lagu tersebut seperti sedang mencurahkan seluruh jiwanya, seakan tidak ada lagi yang lebih penting di dunia ini daripada musik yang ia mainkan.

Ketika kita semua merasa, tidak akan ada lagi yang dapat melebihi keagungan “The Masterplan”, Oasis kemudian memainkan “Slide Away”, lagu yang oleh beberapa fans dihargai nilainya lebih tinggi dari “Wonderwall”, merupakan salah satu pemuncak konser malam itu. Lagu itu, adalah pernyataan cinta tulus kita yang tak pernah terungkapkan dengan benar kepada seseorang yang kita kasihi, dan vokal Liam di situ, seperti yang terbaik yang sudah lama tidak pernah kita dengar. Mengesankan. Dari situ, “Morning Glory” menggempur kita semua dengan kedashyatan rok n rol terbaik ala Oasis. Singapore Indoor Stadium, untuk kesekian kalinya malam itu, tenggelam dalam kejayaan musik Oasis.

Set utama Oasis, malam itu ditutup dengan “Supersonic”. Malam itu ada sesuatu pada lagu itu, yang membuat kita bernostalgia kembali ke saat pertama kali kita jatuh cinta, dan mengapa kita sampai sekarang selalu setia pada Oasis. Mungkin itu terasakan di cara Chris Sharrock memainkan drumnya. Ia menghargai lagu tersebut, sehingga ada kesan “Supersonic” malam itu adalah “Supersonic” yang kita dengar di “Definitely Maybe”. Mengalir pelan, tidak terlalu cepat, menggerayangi jiwa kita yang sedang melayang.

img_1167


Saat mereka kembali untuk melakukan encore, Noel dengan hanya diiringi oleh Gem dan Chris Sharrock, dan paduan suara terbesar bernama Singapore Indoor Stadium memainkan anthem yang mendefinisikan dekade 90-an. “Don’t Look Back In Anger” adalah lagu yang menggambarkan keindahan Oasis. Mereka tidak membuat musik untuk diterjemahkan dengan ribuan kata-kata intelek, musik Oasis adalah musik yang akan merobek jiwa kita, membuat orang – orang tak dikenal di sekeliling membagi senyuman bahagia bersama kita. Karena mereka sama seperti kita, mereka tahu bahwa momen ini tidak akan pernah diambil dari mereka, momen yang membuat kita merasa kekal dalam rentang waktu yang sangat singkat. Lagu itu, kemudian disusul dengan “Falling Down”. Di sana, sekali lagi, kita dipukau oleh kekuatan lagu tersebut. Andy Bell dan Chris Sharrock memainkan bas dan drumnya dalam sebuah kesatuan yang menyetir lagu tersebut untuk mencapai puncaknya, menuju ruang dansa ruang angkasa ala Noel, di mana kita mengambang dan menggapai mimpi kita yang tak pernah mati.

Oasis lalu memberikan semuanya di dua lagu terakhir, dengan memainkan “Champagne Supernova” yang menunjukkan Noel memainkan pedal wah-wahnya dengan sangat agresif, memberikan sentuhan psikedelia yang menembus langit ketujuh. Kemudian untuk menyudahi malam itu, mereka memainkan sebuah sebuah lagu dari sebuah band yang memulai revolusi rok n rol di planet ini, “I Am The Walrus” dari The Beatles. Koor Singapore Indoor Stadium kembali menggema meneriakkan “whooo”, setiap kali Liam menyanyikan “I am the egg man”. Noel, memutar semua knop di efeknya, memberikan suara suara absurd, bahkan ketika lagu tersebut terdengar seperti akan habis, mereka menyambungnya lagi dengan sedikit instrumentalia dari lagu The Beatles lainnya “Helter Skelter”. Malam itu mereka meninggalkan panggung dengan sebuah pamungkas, dan setiap orang yang ada di sana, berhak mendapatkannya.

cimg0730


Satu setengah jam lamanya kita disuguhkan musik sesungguhnya. Satu setengah jam kita merayakan pahlawan kehidupan kita. Di luar sana, kehidupan sebenarnya menunggu kembali, tapi siapa yang peduli dengan itu semua? Oasis memberikan arti dalam kehidupan dan kepercayaan untuk menghidupi kehidupan itu. Berikan kepada kita segalanya, saat ini, di tempat kita berpijak dan menggapai langit.

David Wahyu Hidayat

Foto: Jeffry Kartika, Markus Michael, Ape

12
Okt
08

Album Review: Oasis – Dig Out Your Soul

Oasis

Dig Out Your Soul

Big Brother – 2008

Beberapa orang terlahirkan untuk menciptakan sesuatu yang memberikan arti dalam kehidupan manusia. Mereka yang terlahir demikian seperti wujud yang imortal, tidak akan tersentuh oleh kita manusia biasa yang berjuang setiap hari untuk mengantarkan sesuatu yang menambahkan setapak kemenangan dalam kehidupan ini.

Oasis, telah membuat diri mereka abadi, dengan “Definitely Maybe” dan “(What’s The Story) Morning Glory”. Kedua album itu adalah sepotong keabadian yang datang di tengah – tengah angin keoptimisan dekade 90-an, di mana kehidupan modern belum dapat mencengkeram kenaifan seorang muda yang haus mencari arti hidupnya. Oasis memberikan keyakinan kalau semuanya dapat dicapai dengan “Working Class Attitude” mereka, bahkan keyakinan itu membuat seseorang percaya akan kemampuan dirinya sendiri. Seseorang yang meskipun terpisahkan ribuan kilometer dari Manchester, ketika mendengarkan musik mereka dapat meyakini atmosfir “Working Class” yang ditebarkan Oasis.

Dan mungkin pesan seperti itu yang menjadi arti sesungguhnya dari musik. Karena kita percaya musik memberikan arti dalam kehidupan. Bukan segala hingar bingar yang mengelilinginya dengan sensasi dan penampilan berkilauan. Sejak kedua album tersebut, momen di mana setiap album baru Oasis dirilis adalah sebuah perayaan. Itu adalah saatnya kita mengepalkan tangan di udara, dan berjalan dengan penuh keyakinan, merayakan musik yang membuat segalanya dapat terjadi dalam kehidupan, asal kita percaya. Sesederhana itu saja esensi musik dari Oasis.

06 Oktober 2008. Perayaan itu datang kembali. Dirilis di Britannia Raya, dan serentak di seluruh globus ini melalui dunia maya bernama internet, “Dig Out Your Soul” adalah sebuah album yang mengembalikan Oasis ke tempat di mana mereka seharusnya berada, walaupun yang sebenarnya terjadi adalah mereka tidak pernah menghilang, dan selalu mengirimkan sesuatu yang fantastis di era setelah tumbangnya Britpop. Singkatnya “Dig Out Your Soul” adalah pembuktian nyata akan kembalinya Oasis.

Belum pernah album Oasis terdengar begitu psikedelik seperti dalam album ini. Mereka yang mencari lagu seperti “Don’t Look Back In Anger” di album ini tidak akan menemukannya. Ini adalah album Oasis yang paling tidak terdengar seperti rilisan mereka sebelumnya. Bila kita sejenak melupakan tahun di mana kita berada, dan hanya melihat sampul serta isi booklet album ini, sambil mendengarkan seluruh lagu yang ada di sana, kita akan kembali ke tahun 1966, di mana psikedelik adalah kata kunci generasi waktu itu, dan “Revolver” adalah album yang menyertai hari-hari mereka yang muda di saat itu.

Diproduseri kembali oleh Dave Sardy, dan merekam keseluruhan album tersebut di studio legendaris “Abbey Road”, Oasis menyerang telinga kita dengan suara gitarnya dalam track pembuka “Bag It Up”. Dari pertama kita mendengar suara gitar di album ini, sudah jelas, kalau Oasis mengembalikan esensi Rok ‘N’ Rol mereka di sini. Ketika Liam dengan nyeleneh menyanyikan “Someone tell me I’m Dreeeeminnn”, kuping kita seperti tidak mau percaya, kita seperti memasuki sebuah deja vu absurd yang mengingatkan ketika Liam melakukan hal yang sama waktu melafalkan “Sunshiiiineeee” dalam “Cigarettes & Alcohol” di “Definitely Maybe”. Ini saatnya untuk kembali merasakan ekstase.

Bunyi rhodes dan drum yang mengawali “The Turning” menaikkan level ekstase di kepala kita, dan dengar, di lagu ini kita kembali mendengarkan sebuah solo gitar yang seperti menghilang di album-album Oasis setelah “Be Here Now”. Suara latar belakang 50 orang choir yang mengiringi suara Liam dan instrumentasi lagu ini, menambah suasana magis “The Turning”.

Di “Waiting For The Rapture” Noel mengambil alih vokal dari Liam untuk pertama kalinya di album ini. Kembali gitar berat dan kasar mengawali lagu in seperti sebelumnya di “Bag It Up”, dengan riff yang singkat memukul langsung ke ulu hati tanpa basa-basi. Memasuki lagu keempat di lagu ini, kita dipertemukan dengan supremasi Oasis dan mengapa mereka masih relevan 14 tahun setelah menghantarkan “Definitely Maybe”, karena “The Shock Of The Lightning” adalah Rok ‘N’ Rol murni ciri khas Oasis. Mendengarkannya, seperti kembali ketika kita pertama kalinya mendengarkan “Bring It On Down”, “Supersonic” dan “Headshrinker” secara bersamaan. “The Shock Of The Lightning” adalah lagu yang langsung mengantarkan misinya, dibalut dengan solo drum yang terdengar seperti seorang Keith Moon terbius oleh speed.

Setelah “The Shock Of The Lightning”, kita akan mendengarkan karya seorang Liam Gallagher yang terbaik yang pernah kita dengar sampai saat ini. Penuh dengan nuansa Lennon-esque “I’m Outta Time” akan membuat bulu kuduk kita merinding, dan berada di surga yang tidak pernah ada ada di atas kepala kita. Bila Liam terus memproduksi lagu seperti ini, pernyataan bahwa dirinya adalah salah satu penulis lagu terbaik Britannia Raya, bukanlah omong kosong lagi. Karena “I’m Outta Time” dapat disandingkan dengan lagu – lagu terbaik yang pernah kita dengar dari sana selama 4 dasawarsa terakhir. Lagu ini berkesan mistis sekaligus menyejukkan, gelap tapi memberikan pencerahan.

Dalam wawancara yang mendukung perilisan “Dig Out Your Soul”, Gem berkomentar kalau sudah sedikit sekali orang yang mendengarkan album sebagai sebuah kesatuan. Bahkan suara-suara yang terdengar di gaps lagu satu dan lainnya, dianggap hanya sebagai sesuatu yang mengganggu. Tapi Oasis ingin kembali memberikan arti bahwa suara – suara tersebut adalah sebuah elemen yang juga membentuk sebuah album. Dengarkan outro “The Turning” dengan suara sirene di latar belakang, dan petikan gitar ala “Dear Prudence”, Liam yang dengan metode pembalikan pita mengatakan “Champagne Supernova” setelah “The Shock Of The Lightning” atau suara – suara orang berjalan di pantai diiringi suara seagulls sehabis lagu “(Get Off Your) High Horse Lady”. Ambil semua elemen itu dari “Dig Out Your Soul” maka itu semua akan mengurangi esensi album tersebut.

Elemen – elemen itu menjadi bagian penting yang menceritakan ceritanya sendiri, karena tanpanya album itu tidak akan lengkap. Bila kita tidak pernah mendengarkan suara seagulls di akhir “(Get Off Your) High Horse Lady”, kita tidak akan pernah mengerti suara – suara blips yang mengawali “Falling Down”. Karena blips tersebut adalah suara seagulls yang sama, diputar terbalik. Tentang “Falling Down” sendiri, ini bukti sekali lagi akan kejeniusan seorang Noel Gallagher. Memang ia selalu dituduh mencuri dari semua pengaruh musiknya, tapi “Falling Down” adalah sesuatu yang lain. Vokalnya di situ menunjukkan salah satu suara terbaiknya dari yang pernah didengar di semua album Oasis. Dalam “Falling Down” suara Noel seperti seorang yang mengawang di ruang angkasa, ritme drumnya memompa jantung kita dengan perasaan kebahagiaan yang tak bisa dibendung lagi, dan raungan gitanya menembus di antara ruang hampa pikiran kita. Lagu ini murni sebuah perjalanan psikedelia.

“To Be Where There’s Life” adalah lagu Oasis pertama tanpa sebuah gitar pun. Mereka menggantinya dengan alat menyerupai sebuah sitar, dan melodi bas Andy Bell di sini, seperti sebuah perpaduan antara permainan McCartney dan Mani. Mereka mencoba mengeksplorasi sejauh mana mereka bisa merambah ruang musikalitas baru, dan boleh dibilang hasilnya tidak megecewakan.

“Ain’t Got Nothin” adalah tipikal lagu Liam, seperti sebuah sekuel dari “The Meaning Of Soul” dalam “Don’t Believe The Truth” yang bercerita tentang insiden bar di Muenchen tahun 2002 di mana setelah perkelahian yang melibatkan Liam tersebut Oasis terpaksa menunda rangkain konser Eropa mereka. Sedangkan “The Nature Of Reality” adalah lagu sumbangan Andy Bell yang cocok untuk melanjuti keliaran yang disebarluaskan Liam dalam “Ain’t Got Nothin”.

“Soldier On” menutup “Dig Out Your Soul” dengan atmosfir gelap misterius, memuncaki perjalanan psikedelia dalam album ini. Liam menyanyi mengakhiri album ini dengan sebuah pesan “Shine A Light For Me Tonight”. Sebuah pesan yang menjustifikasi album ini sebagai karya terbaik Oasis di abad 21. “Dig Out Your Soul” adalah album yang ditunggu banyak orang dan diharapkan banyak orang untuk dibuat Oasis setelah mereka mengabadikan diri mereka satu dasawarsa lalu, dan ketika mereka akhirnya membuatnya, ini adalah sebuah penantian yang layak untuk ditunggu. Album ini akan membuat kita merayakan jiwa dalam sebuah perjalanan psikedelia yang penuh misteri dan ekstase. Dengan “Dig Out Your Soul”, Liam, Noel, Gem dan Andy memberikan keabadian Oasis sebuah arti yang baru, dan mereka yang percaya akan keabadian itu akan hidup untuk selamanya.

David Wahyu Hidayat

07
Nov
07

Album Review: Oasis – Don’t Believe The Truth

oasis_dont_believe_the_truth.jpg

Oasis
Don’t Believe The Truth
Sony BMG – 2005


Beberapa orang tidak dapat meninggalkan tahun 90-an. Dekade yang telah memberikan kita Grunge, Post Grunge, Britpop, generation-X, Friends dan tentu saja Oasis. Bagi beberapa orang, band asal Burnage, Manchester ini telah menyelamatkan masa muda mereka. Oasis telah memberikan mereka “lifestyle” untuk memandang hidup dengan optimis, untuk menikmati masa muda dengan tangan terkepal ke udara. Dengan alasan itulah mereka tidak dapat lari meninggalkan Oasis, apapun yang terjadi dengan band tersebut, apapun kualitas album yang mereka hasilkan. Karena seperti yang pernah dilantunkan Liam dengan sangat manis di pertengahan 90-an, Oasis adalah “the one that save me”.

Sekarang di pertengahan dekade yang baru ini, kita pun beranjak dewasa. Begitu juga Noel dan Liam. Mereka tidak lagi memproduksi lagu-lagu seperti “Cigarettes and Alcohol”, “Supersonic” atau “Live Forever”, tetapi mencoba mencari makna dan ideal sebuah hidup di “Don’t believe the truth”. Hilang sudah solo gitar Noel yang mengagumkan seperti dalam “Bring it on down” atau “Headshrinker”. Oasis 2005 adalah Oasis yang menunjukkan mereka sebagai sebuah band yang utuh, yang masih memberikan arti bagi mereka yang tidak pernah bisa keluar dari tahun 90-an.

Karena bila dilihat dengan obyektif, “Lyla” tidak akan menggerakkan anak umur 15 tahun untuk membentuk sebuah band. Inspirasi mereka sekarang akan datang dari band-band baru seperti Maximo Park atau Bloc Party. “Don’t believe the truth” adalah sebuah album bagi mereka yang mengenal sedikit sejarah musik, untuk mereka yang tahu siapakah Velvet Underground dan Revolver adalah album terbaik yang pernah dihasilkan The Beatles.

Oasis di “Don’t Believe The Truth” tidak lagi mencoba untuk membuktikan diri mereka sebagai band terbaik yang pernah ada di dunia ini. Di album ini mereka puas dengan apa yang telah mereka raih, dan hal ini justru memberikan “Don’t Believe The Truth” suatu kelebihan. Diawali dengan “Turn Up The Sun” yang merupakan pembuka album yang tidak khas dari Oasis dibanding “Hello” dan “The Hindu Times”, mereka mencoba untuk memberikan “vibe” lain di komposisi Andy Bell ini. Melody gitar dan Outro di lagu tersebut, membawa kita untuk terbuai, sebelum berubah menjadi sebuah nomor khas Oasis.

“Mucky Fingers” adalah tribut Noel untuk Velvet Underground. Intens dan dengan solo harmonika di akhir lagu, mejadikannya sebagai salah satu lagu yang sangat lain yang pernah dihasilkan Oasis. Ketiga komposisi Liam, seperti dalam “Heathen Chemistry” juga bersinar di album ini. Terutama “The Meaning Of Soul”. 102 detik Rok ‘n’ Rol murni. Langsung, cepat dan menghajar telinga kita dengan optimismus alá Oasis “I’m a different breed, I’m outta league, I’m 10 out of 10, alright”.

Pusat dari album ini tapi terletak di “The Importance Of Being Idle”. Noel dengan mengejutkan mencoba bernyanyi dengan sebuah falsetto yang indah. Sebuah lagu untuk mencoba mencari kepuasan dan arti hidup yang kita jalanin. Lagu untuk mid-20’s yang sedang berada di persimpangan jalan. Lagu bagi mereka yang 10 tahun lalu diselamatkan oleh Oasis di masa muda mereka, dan begitu juga kali ini. “But I don’t mind, as long as there a bed beneath the stars that shine, I’ll be fine, if you give me a minute, a man’s got a limit, I can’t get a life in my heart’s not in it”.

Album ini mungkin bukanlah “A return to form” seperti yang banyak diharapkan orang, tapi lebih sebagai sebuah karya dari mereka yang telah mencapai puncaknya, dan sekarang hidup dalam usaha untuk mempertahankan apa yang mereka punyai, yakni keidealan hidup. Bagi kita, yang tidak bisa lari dari tahun 90-an, Oasis masih berarti banyak, karena mereka masih membuat kita ingin menggapai mentari dan bersinar bersamanya.

David Wahyu Hidayat

04
Nov
07

Konser Review: Oasis – Duesseldorf, 09.03.2003

Oasis

Duesseldorf, Philipshalle

Minggu, 09.03.2003

duesseldorf_20030309_arno_09.jpg


“A decade ago, Oasis turned up and delivered something worth living for”

Ted Kessler, Editor NME

Penonton : 6000

Band Pembuka : The Hiss

Setlist : Fuckin´In The Bushes (Intro), Bring It On Down, The Hindu Times, Hung In A Bad Place, Supersonic, Columbia, Morning Glory, Stop Crying Your Heart Out, Little By Little, Cigarettes And Alcohol, Champagne Supernova, Better Man, Songbird, Born On A Different Cloud, Rock´n Roll Star.

Encore : Force Of Nature, Don´t Look Back In Anger, My Generation.

Review :

Lupakan sejenak The Beatles dan Rolling Stones, atau segala skandal yang pernah terjadi dengan band asal Manchester ini. Di atas panggung, Oasis masih tetap aktual seperti satu dekade yang lalu, ketika mereka memulai karirnya dengan Definitely Maybe. Setiap konser Oasis, ialah perayaan optimismus mengahadapi kehidupan di dunia ini, dan 6000 orang yang hadir di Duesseldorf Philipshalle malam itu, dapat merasakan dan menyaksikannya melalui setiap lagu yang dimainkan Oasis.

Sekitar pukul 21.00 waktu Duesseldorf Philipshalle, dimulailah ritual tersebut. “Are you ready? Are everyone at their place? Ready, set, go?” Kata-kata semacam itu, seperti pada start sebuah pesawat ulang-alik berhasil menaikkan emosi penonton, dalam versi yang berbeda dari Fuckin´ In The Bushes, lagu intro setiap konser Oasis sejak album Standing On The Shoulder Of The Giants.

Tak lama kemudian dentuman bas drum, dan serangan gitar Oasis meyeruak dari setiap PA di Phillipshalle, dan penonton pun semakin antusias menunggu para personil Oasis. Lalu tibalah saatnya. Kelima pahlawan mereka berdiri di atas panggung siap memainkan lagu-lagu yang menjadi penyelamat generasi 90-an : Alan White, Gem Archer, Andy Bell, Liam Gallagher, dan Noel Gallagher.

Oasis membuka set mereka dengan Bring It On Down, sebuah nomor lama dari Definitely Maybe. Di belakang mereka tergantung sebuah tulisan besar “EXIST”. Sebuah pernyataan bahwa mereka masih layak diperhitungkan di dunia musik saat ini. Sejak lagu pertama itu, Oasis membuktikan bahwa di atas panggunglah tempat yang terbaik buat mereka. Walau sering digerogoti oleh berbagai macam skandal, tapi setiap orang yang pernah melihat Oasis Live, percaya bahwa mereka masih merupakan salah satu band terbaik yang ada saat ini.

duesseldorf_20030309_arno_03.jpg

The Hindu Times menyusul di lagu kedua set mereka. Para penonton sudah tak terbendung lagi, ikut menyanyikan setiap lirik lagu tersebut. Liam Gallagher dengan gigi barunya setelah tragedi Muenchen sedang dalam penampilan terbaiknya. Tangan di belakang, menyanyi dengan kepala sedikit menengadah ke atas, tahu bahwa dirinya malam ini ialah pusat universum bagi 6000 orang di Phillipshalle. Noel, seperti biasa tetap “cool” berkonsentrasi pada permainan gitarnya yang mungkin sederhana, tidak penuh dengan teknik memusingkan, tapi ia tahu di mana kekuatannya, dan tidak peduli dengan apa yang seluruh dunia katakan. “Cos God Give Me Soul In My Rock And Roll!!!” Sebuah pemandangan yang menakjubkan ketika lighting di atas panggung hanya memberikan kesan hitam putih kepada kelima personil Oasis, mengingatkan kita pada video klip lagu tersebut. Euphorie!

Gem Archer “Hung In A Bad Place” ialah lagu berikutnya yang mereka mainkan. Rok n´Rol murni. Gitaris kedua ini ialah alasan selanjutnya mengapa Noel tidak perlu lagi kuatir dengan permainan gitarnya. Gem Archer benar-benar seorang gitaris yang jauh lebih komplet dari seorang Bonehead. Sebuah kepuasan tersendiri, kalau akhirnya salah satu band paling penting tahun 90-an boleh dilengkapi dengan seorang gitaris seperti Gem Archer.

Lagu-lagu berikutnya seperti sebuah paket nostalgia dari 2 album pertama mereka. Supersonic, Columbia dan Morning Glory. Hampir sepuluh tahun semuanya itu berlalu, tetapi ketiga lagu ini berkesan menyegarkan seperti ketika kita baru pertama kali mendengarkannya. “I need to be myseeeelllffff, I can´t be no one elseeee!!!” sebuah pesan Oasis bahwa kita hanya cukup menjadi diri kita sendiri, percaya dan semuanya pasti akan berhasil. Seperti kelima pemuda asal Burnage yang menjadi besar bukan hanya di Manchester saja tetapi di dunia. Columbia, sebuah nomor klasik yang mendapatkan permata barunya di dalam personil-personil baru Oasis. Begitu juga dengan Morning Glory, solo gitar di tengah-tengah lagu tersebut seperti tribut Noel kepada pahlawan gitar asal Manchester lainnya John Squire. Begitu juga dengan permainannya di akhir lagu. Seperti Squire di era “Second Coming”. Membuktikan bahwa diam-diam ia juga berhasil mengembangkan dirinya menjadi gitaris yang lebih baik.

“This One Is For England!” ucap Liam sebelum masuk ke Stop Crying Your Heart Out. Khayalan penonton pun kembali ke David Seaman, yang kesalahan fatalnya mengakibatkan Inggris harus pulang lebih awal di Piala Dunia 2002, dan kembali Oasis mengumandangkan optimismusnya. Bila segala sesuatu terlihat seperti tidak berfungsi, tidak perlu kita berlama-lama kuatir, karena cepat atau lambat saat kita pasti akan tiba. “Cos all of the stars are fading away, just try not to worry, we´ll see them someday”.

Setelah itu, saatnya untuk Liam mengistirahatkan pita suaranya karena giliran Noel yang mengambil alih vokal dalam Little By Little. Memang ini adalah salah satu nomor Ballad dari Noel yang tidak mempunyai perkembangannya. 3 Kord yang sama seperti sebelum-sebelumnya, tetapi tidak pernah sebuah daur ulang terdengar seindah seperti yang ia nyanyikan. Drummer Alan White menunjukkan sekali lagi sisi “Beatle-esque” dari Oasis.

Ini tidak berhenti di situ saja. Berlalu sudah masa Oasis menggabungkan Cigarretes & Alcohol dengan Wholla Lotta Love dari Led Zepellin. Noel dan Co. kembali menunjukkan kecintaannya pada The Beatles. Di tengah-tengah lagu tersebut ia menyelipkan lick “Day Tripper”. Sebuah momen yang berhasil mengagetkan penonton, dan kembali merayakan Oasis pada malam itu. Seperti tak pernah bosan menyampaikan keoptimisan hidup melalui lagu yang mereka mainkan, Liam menantang penonton untuk melakukan apa yang sudah berhasil mereka lakukan. Yaitu bila kita tidak pernah menyerah, dan menjadi diri kita sendiri, semuanya pasti akan dapat diraih. “You gotta…you…gotta….you gotta make itttt!!!”

d004.jpg

Mungkin inilah yang menyebabkan Oasis dicintai oleh banyak fansnya. Sebuah pandangan optimismus yang tak pernah mati tentang kehidupan yang kita jalani. Mereka telah berhasil melakukan apa yang tidak pernah terbayangkan sebagai seorang yang berasal dari grup “Working Class” sebuah kota besar di Inggris. Menjadi sebuah band besar, dan percaya akan arti lagu-lagu yang mereka mainkan. Kata-kata yang datang dari hati dan tidak dibuat-dibuat. Tidak susah melakukan apa yang sudah mereka lakukan di hidup kita dalam segala bentuknya, asal kita cukup percaya. Optimis!

Setelah Champagne Supernova, giliran Liam unjuk gigi menampilkan lagu-lagu ciptaannya. Better Man, berkesan seperti “Breaking Into Heaven” The Stone Roses. Disusul Songbird, yang dibawakan dengan indah secara akustik oleh seluruh anggota band. Lagu paling sederhana yang pernah dimainkan Oasis, penuh dengan perasaan. Keindaahan sebuah cinta dalam 2 menit terasa di Philipshalle saat itu. Kemudian Born On A Different Cloud. Lagu ini dimainkan live, berhasil menampilkan sisi kejutannya. Rok n´Rol Physchedelic khas Oasis. Kali ini tetapi lebih baik daripada Gas Panic. Kembali kelihatan kejeniusan Noel untuk bereksperimen dengan berbagai macam efek, yang sekali lagi mungkin terlihat sederhana, tetapi ia tahu di mana ia bisa memainkannya dengan efektif. Di atas panggung lagu ini jauh berkesan lebih hidup, dan menjanjikan dibanding dengan di album. Pada akhir lagu, Liam menaruh tamburin di atas kepalanya seperti hendak memahkotai dirinya sendiri, dan dengan “Thousand Yard Stare”-nya berdiri dengan kharisma yang menarik seluruh perhatian penonton padanya.

d007.jpg

“This one is the last song” ucapnya sebelum Rock ´n Roll Star, dan penonton pun kembali berjingkrak merayakan kelima pahlawannya, seperti merasakan bahwa bagi mereka tidak ada hal yang lebih penting di dunia ini pada saat itu selain Oasis! “In my mind my dreams are real, are you concerned about the way I feel, toniiiiiiiiittttteeeee I´m a Rock ´n Roll Staaaaaarrr!!!” seru penonton, yang disambut oleh Liam dengan “In Duesseldorf!!!”. It´s Only Rock And Roll, tidak lebih dan tidak kurang, what the world are still waiting for?

Setelah lagu tersebut, Oasis pun menghilang dari atas panggung. Selang beberapa saat, mereka pun kembali lagi di tengah sorakan penonton, tanpa Liam, karena kini giliran Noel menyanyikan lagunya. Force Of Nature dan Don´t Look Back In Anger. Ketika Noel menyanyi dan memainkan Don´t Look Back In Anger terasa sebuah momen ajaib di Philipshalle. Semua penonton menyanyikan lagu tersebut dari dalam hati. Ekstase, jenius, menakjubkan, kebahagiaan, dan semua kata-kata indah lainnya yang tak pernah terucapkan bercampur menjadi satu di Phillipshalle saat itu.

Liam muncul untuk lagu terakhir yang mereka mainkan malam itu. Sebuah nomor lama My Generation dari The Who. Sadar bahwa pesta mereka sebentar lagi akan berakhir, band dan penonton memberikan semuanya di lagu yang terakhir itu. Andy Bell memainkan bassnya seperti layaknya seorang John Entwistle, lebih cepat, lebih menggairahkan. Memang Oasis MK II dengan Gem dan Andy Bell, membuat band tersebut lebih bernyawa, dan mereka bersama Alan, Liam dan Noel berhasil memberikan sebuah pesta yang akan lama diingat oleh 6000 orang yang menghadiri konser tersebut.

Radiohead mungkin memproduksi musik yang lebih jenius, Travis dan Coldplay menjual CD lebih banyak dari Oasis, tetapi di atas panggung Oasis tetaplah yang terbaik. Mereka hidup untuk Rok ´n Rol, untuk optimismus yang mereka percaya dan bagikan kepada setiap orang yang mencintai lagu mereka, sehingga setiap orang yang meninggalkan ruangan konser tersebut, tahu bahwa esok hari mereka akan melakukan sesuatu yang lebih baik dari hari ini. Tanpa satu titik keraguan sekalipun. Believe, Belief, Beyond, Morning Glory!

David Wahyu Hidayat




 

Mei 2012
S S R K J S M
« Des    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Categories

Blog Stats

  • 85,710 hits

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.