Arsip untuk Kategori 'Pencerahan Jiwa'

07
Okt
11

Konser Review: Polyester Embassy – Silent Yellow Ensemble Concert – Teater Tertutup Dago Tea House, 01 Oktober 2011

Polyester Embassy

Silent Yellow Ensemble Concert

Teater Tertutup Dago Tea House, Bandung

01 Oktober 2011

 

Band Pembuka: Space And Missile

 

Setlist:

Intro, Tragicomedy, LSD, Orange Is Yellow, Good Feeling, Polypanic Rooms, Air, Later On, Blue Flashing Light, Have You, Good Love, Ruins, Small Stakes, Faded Blur, You’ll Be Gone, Don’t Save Us From The Flames (M83 Cover)

Encore: White Crime, Space Travel Rock ‘n’ Roll, Fake/Faker

Review:

 

Pada suatu hari dalam kehidupan, terkadang manusia dapat mengantisipasi datangnya sesuatu menakjubkan yang akan membuat segala sesuatu pada hari itu menjadi masuk akal. Di hari-hari tertentu, sesuatu yang menakjubkan itu dapat membuat hari itu menjadi lebih agung dari hari-hari sebelum dan sesudahnya.

01 Oktober 2011 bertempat di teater tertutup Dago Tea House, Bandung adalah salah satu hari istimewa tersebut. Menjelang pukul 21:00 di bawah siraman loop drum tidak berkesudahan “Tomorrow Never Knows” dari The Beatles kelima siluet itu memasuki panggung sederhana dengan instrumen masing-masing yang sudah disiapkan lengkap di sana. Kelima siluet itu adalah Elang Eby (Vokal/Gitar), Eky (Gitar), Sidik (Gitar), Tomo (Bas) & Givari (Drum) atau kita kenal dengan nama Polyester Embassy, yang pada malam itu menghadiahkan sesuatu yang sangat luar biasa lewat konser mereka yang diberikan nama “Silent Yellow Ensemble”.

Kesederhanaan panggung itu berhenti sampai momen di mana mereka berlima mengambil tempat di instrumennya masing-masing. Karena begitu mereka mengawali set malam itu dengan sebuah intro instrumental, tidak hanya telinga kita saja yang dihentakkan dengan ledakan sonik seketika, tetapi mata kita disuguhi oleh sebuah keagungan yang sulit dijelaskan melalui permainan tata cahaya panggung yang serentak mengubah Dago Tea House seperti layaknya sebuah layar sinematik etereal kelas dunia.

“Tragicomedy” menyusul intro sebagai lagu kedua yang disuguhkan malam itu, liriknya yang berkata “…we’re gonna die, f*ck the neon sign..” adalah hal yang sangat kontras di malam itu, karena semua yang berada di sana tidak akan mungkin mengacuhkan cahaya panggung yang memberikan rasa seperti pencerahan. Tanpa banyak basa-basi lagu tersebut dihajar dengan “LSD”, gitar Eky dan Sidik di lagu itu seperti bertarung merebut supremasi arena teater tertutup Dago Tea House tanpa mempedulikan penonton yang kagum akan sinar yang berseliweran di atas kepala mereka.

Setelahnya, Polyester Embassy memasuki teritori lagu-lagu dari album pertama mereka “Tragicomedy” dengan menyuguhkan “Orange Is Yellow”, “Good Feeling” & “Polypanic Rooms”. Penempatan “Polypanic Rooms” di awal set bisa jadi mengejutkan banyak orang, karena beberapa mungkin akan mengira lagu ini akan dijadikan salah satu pamungkas di akhir konser. Tapi persetan dengan penempatan di awal atau akhir set, diperkenalkan oleh Elang sebagai lagu “..untuk mereka yang sedang berbahagia” lagu ini tidak bisa dipungkiri adalah salah satu klimaks di malam itu.

Menjelang pertengahan set mereka, Elang sempat mengucapkan selamat datang kepada para penonton karena telah hadir di ruang tamu mereka, yang dengan tata cahaya megah itu, lebih tampak menyerupai sebuah pesawat antariksa daripada sebuah ruang tamu. Namun meskipun begitu, suasana intim dari sebuah ruang tamu memang sangat terasa dalam “Silent Yellow Ensemble Concert” itu. “Air” dan “Later On” lalu mengajak kita menikmati perjalanan dalam pesawat antariksa itu. “Later On” yang akan menjadi single kedua dari “Fake/Faker” berintegrasi sangat mulus dengan atmosfir teater tertutup Dago Tea House malam itu, terutama ketika di akhir lagu, obligatoris tepuk tangan kolektif mengiringi seksi ritem Polyester Embassy dilakukan dengan sangat cermat oleh para penonton. Suasana intens konser malam itu, dicairkan sedikit oleh Elang yang membawakan “Have You” secara solo hanya dengan gitar akustiknya. Dibalut dengan cahaya biru yang mengelilinginya, ada unsur ikonik pada dirinya di lagu itu. Konsep serupa, diulangnya lagi pada “Ruins” yang diperkenalkannya sebagai lagu galau pagi hari. Ambiens yang ada di ruangan itu sekejap berubah menjadi damai menenangkan, seakan tidak ada tempat yang lebih damai di dunia ini, dari ruangan konser itu.

Set utama mereka malam itu ditutup dengan sebuah versi cover “Don’t Save Us From The Flames” dari M83. Sempat tersendat di awal lagu, dan terpaksa mengulanginya, Polyester Embassy mengakhiri lagu tersebut dengan gemilang sekaligus memuncaki set utama mereka yang berdurasi sejam lebih.

Encore “Silent Yellow Ensemble” diawali dengan kolaborasi Elang dan Evan Storn pada “White Crime” yang di album “Fake/Faker” juga memainkan theremin di lagu yang sama. Di album, yang terdengar dari lagu ini adalah suasana mencekam seperti sebuah thriller Stephen King. Dimainkan secara live bayangan yang terbersit di kepala adalah mengambang di antariksa luas dengan harapan satu-satunya adalah kilauan biru yang berjuta – juta tahun cahaya jaraknya namun masih dapat menyilaukan. Mungkin mereka telah memikirkan bahwa ini adalah prelude atau pembuka set encore mereka yang tepat, karena lagu selanjutnya adalah “Space Travel Rock ‘n’ Roll”. Psikedelia luar angkasa paling sempurna hadir bukan di Manchester, bukan juga di Reykjavik, maupun New York, tapi itu hadir di Bandung, dibawakan oleh sebuah band yang sepertinya sudah menjadikan negara ini terlalu kecil untuk memenuhi ambisinya. Tempat mereka seharusnya adalah di dunia, dan konser pada 01 Oktober 2011 bisa dipercayai adalah awalnya.

Ensemble indie termegah yang pernah disaksikan anak bangsa negeri ini diakhiri dengan “Fake/Faker”, tidak ada lagi yang mencegah Polyester Embassy dan penonton untuk tidak meluapkan perasaannya. Di akhir konser semua orang berdiri takjub, tidak rela kalau konser ini akan berakhir. “Silent Yellow Ensemble” akan menjadi bahan pembicaraan orang banyak jauh di tahun-tahun mendatang, mungkin sampai jaman anak cucu kita. Malam itu kita menyaksikan sesuatu yang legendaris, dan bila di 2021 orang bertanya apakah kita berada di sana pada tanggal 01 Oktober 2011, jawabannya adalah “Ya saya berada di sana, ketika Polyester Embassy memberikan kita semua hadiah paling istimewa kepada semua orang yang haus akan sebuah musik jujur, inspiratif dan mempunyai kelas”. Sampaikan ini kepada semua orang yang kalian jumpai.

David Wahyu Hidayat

16
Apr
11

Pencerahan Jiwa: 10 rekaman yang membentuk selera musik saya

Beberapa waktu lalu, seorang teman saya berceloteh begini kepada saya sambil tertawa meringis: “Bayangin ya, waktu kecil, kita masih terima dari kakak/ayah/teman kita: Nih musik bagus untuk didengerin (sembari menyerahkan tumpukan CD/Kaset/Vinyl). Nanti ya, 10-20 tahun dari sekarang, apa yang kita kasih ke anak-anak kita ya, buat dengerin musik bagus? Hard disk portabel?”.

Bayangan yang ia lanturkan itu adalah bayangan menyeramkan. Melihat keadaan musik sekarang yang sudah menjadikan trashy pop sebagai suatu trend untuk digilai jutaan orang saja, sudah kelam. Paling tidak, walaupun secara pribadi tidak menyukai, Madonna dan Kylie masih memiliki kelas.

Membicarakan selera tidak akan kunjung habis. Karena selera dimiliki masing-masing orang dan terserah mereka akan melakukan apa dengan seleranya masing-masing. Selera terbentuk dari apa yang kita dengar dan lihat. Dari melihat dan mendengar filter itu dibuat, dari sana selera itu terbentuk. Paling tidak, saya masih mempunyai kumpulan CD untuk diberikan kepada anak-cucu saya nantinya, dan mudah-mudahan mereka masih memiliki selera yang masih dapat diselamatkan. Selama jaman dan waktu mengijinkan serta yang Maha Kuasa masih berkenan, saya masih akan terus mengumpulkan bentuk fisik dari musik yang membentuk selera saya. Mudah-mudahan ini semua masih bisa dinikmati sebagai bagian dari warisan budaya generasi anak-cucu saya.

Di bawah ini, adalah 10 rekaman, tidak dalam urutan tertentu, yang membentuk selera musik saya saat ini. Mudah-mudahan saya berkesempatan memberikan ini semua, beserta CD-CD lainnya kepada anak saya. Happy Record Store Day!

David Wahyu Hidayat

1.    Vs. – Pearl Jam (Epic Records, 1993)


Album ini adalah tapal batu berubahnya selera musik saya, dari kekaguman masa kanak-kanak terhadap grup vokal muda dari NY, kepada sebuah bentuk musik yang lebih mentah dan kasar, menyuarakan kegelisahan pubertas dan pemberontakan jiwa yang tidak pernah mengerti apa-apa. Teman SMP saya memberikan sebuah mixtape berisikan Nirvana di sisi A dan Pearl Jam di sisi B, kaset itu lalu menggerakkan saya membeli album ini. Setelahnya selera musik saya tidak pernah sama lagi seperti sebelum-sebelumnya.

2.    The Beatles – The Beatles (Apple, 1968)


Album The Beatles mana yang terbaik akan selalu menjadi perdebatan sepanjang masa. Tapi album inilah yang sebenarnya membuat saya menjadi kerasukan band legenda ini. Yang membuat saya menemukan album ini adalah ketidaksengajaan yang sebenarnya lucu untuk dikenang. Di penghujung dekade 90-an, seorang yang waktu itu dekat dengan adik saya, entah untuk alasan apa, mengirimkan album ganda ini dalam bentuk kaset. Mungkin dipikirnya album ini adalah alasan bagus untuk membuat dirinya impresif terhadap adik saya, sekaligus membawa adik saya ke selera musik yang bagus. Yang terjadi adalah, saya membajak album itu dan mendengarkannya secara intens. Memang sebelumnya saya sudah mengenal The Beatles lewat, sekali lagi lewat sebuah mixtape dari teman SMP yang sudah saya sebut di atas, yang dengan bangga memberikan judul mixtapenya “The Beatles Restrospective: 1963-1970”, dan beberapa peristiwa unik ketika ayah saya tiba-tiba menyetel lagu mereka di rumah. Tetapi saya belum pernah mengenal The Beatles seperti saya mengenalnya dalam “The White Album”. Lagu-lagu seperti “While My Guitar Gently Weeps”, “Helter Skelter”, “I Will”, “Happinnes Is A Warm Gun”, dan “Everybody’s Got Something To Hide Except Me And My Monkey” memberikan sebuah ruangan baru dalam definisi The Beatles ke otak saya. Saya memutuskan untuk mencintai band ini dengan sangat, dan ketika saya mulai bekerja di Jakarta, gaji pertama saya, dan gaji-gaji saya di setiap bulannya, saya gunakan untuk mengumpulkan studio album mereka, sampai akhirnya koleksi itu terlengkapi.

3.    The Bends – Radiohead (Parlophone, 1995)


Saya membeli album ini, cukup telat. Di tahun 2000, ketika saya sedang liburan awal tahun ke Jakarta di tengah-tengah kuliah saya waktu itu di Jerman. Pertangahan tahun yang sama, saya dan beberapa teman melakukan sebuah pekerjaan musim panas di sebuah kota di bagian tengah Jerman, di sebuah pabrik pemasok drum penampung untuk sebuah perusahaan kimia. Dalam perjalanan menuju pabrik setiap pagi, istirahat siang di taman dekat pabrik tersebut, dan dalam perjalanan trem pulang di sore hari ini, album ini setiap saat melekat menemani saya di discman yang saya bawa kemana-mana waktu itu. Memang, saya sudah terlambat 5 tahun untuk diperkenalkan dengan pengalaman sonik yang ada di album itu, tapi di musim panas itu mendengarkan “The Bends”, “My Iron Lung”, dan kesterilan melodik “Bullet Proof…I Wish I Was” membawa saya mengerti, mengapa Radiohead adalah maestro musik jenius yang akhirnya membawa mereka menghasilkan album-album mahakarya di tahun-tahun sesudahnya, di antaranya adalah “Kid A” yang merupakan album favorit Radiohead saya.

4.    The Stone Roses – The Stone Roses (Silvertone Records, 1989)


Ketika Oasis meledak di tahun 1995, teman SMA saya yang mempunyai pengetahuan musik seperti musikpedia berjalan mengatakan hal ini kepada saya “Elo harus dengerin The Stone Roses, karena mereka telah melakukannya duluan sebelum Oasis melakukan apa yang mereka lakukan sekarang”. Setelahnya saya hanya membeli The Complete Stone Roses di kaset, karena hanya itu yang dapat dibeli di Jakarta pada waktu itu. Beberapa tahun setelahnya, ketika saya memiliki kesempatan menempuh pendidikan di Dortmund, saya akhirnya membeli debut album The Stone Roses yang legendaris itu. Edisi US, dengan “Elephant Stone” di track ketiga (Saya baru tahu sesudahnya bahkan, kalau lagu ini tidak masuk di versi asli album tersebut) dan “Fools Gold” di track 13. Yang membuat mata musikalis tercelik adalah versi asli “I Am The Resurrection” sepanjang 08:14 menit. Di situ saya sadar apa yang Ian, John, Mani dan Reni lakukan adalah cetak biru apa yang dilakukan band-band Inggris lakukan setelahnya. Di sekitar saat yang sama, tetangga saya di gedung yang saya tinggali waktu itu terdapat seorang mahasiswa Inggris dan seorang mahasiswi Jepang. Entah berapa puluhan cangkir teh serta kopi dan ribuan kata terlewati dengan mereka hanya untuk membahas kesempurnaan album ini. Banyak orang mengira band favorit saya sepanjang masa adalah Oasis, tetapi sesungguhnya, berada di tempat nomor satu sebagai band yang saya puja secara religius adalah The Stone Roses.

5.    The Queen Is Dead – The Smiths (Rough Trade, 1986)


Awalnya CD ini mendarat ke tangan saya, waktu saya meminjamnya dari seorang teman di musim semi 1999. Waktu itu saya sedang menjalani praktikum di sebuah perusahaan telekomunikasi Jerman sebagai syarat memasuki kuliah. Setiap pagi saya harus bangun sebelum Matahari terbit, menyiapkan diri dengan sangat malas, dengan mata yang masih mengantuk, terkadang masih terdengar sayup sayup sisa-sisa pesta mahasiswa di lantai atas gedung saya. Di fajar-fajar buta itu, “There Is A Light That Never Goes Out” dan “Some Girls Are Bigger Than Others” menerbitkan mentari lebih awal untuk saya. Suara Morrissey yang sendu mendayu, liriknya yang berkata jujur terhadap hari-hari yang kita jalani dan kejeniusan aransemen Johnny Marr memberikan semangat baru dalam fase kehidupan saya waktu itu. Sampai sekarang jika suasana hati sedang tidak menentu, saya selalu memutar album itu, dan entah kenapa, semuanya terlihat membaik secara pelan-pelan. Mungkin memang benar pada akhirnya akan selalu ada cahaya yang tidak pernah akan pudar.

6.    Tragicomedy – Polyester Embassy (FFWD Records, 2006)


Saya lupa kapan pastinya saya mulai menggilai band ini. Yang saya ingat adalah di sebuah Minggu siang yang membosankan, saya terantuk kepada laman MySpace mereka, dan mendengarkan sejumlah lagu-lagu yang sangat ajaib mengagumkan di sana. “Orange Is Yellow”, “Blue Flashing Light” dan “Polypanic Room” sepertinya yang saya dengar waktu itu. Di siang yang sama, usai mendengarkan lagu-lagu tersebut, saya langsung berlari ke sebuah toko buku di bilangan Cilandak yang juga menjual CD-CD band independen negeri ini. Syukur saya mendapati CD itu ada di sana. Selanjutnya adalah pencerahan tanpa batas yang diperoleh dari 9 lagu yang ada di situ. Setelahnya saya selalu bilang ke teman-teman saya yang mempunyai selera musik serupa dengan saya “Bila mereka berasal dari Stockholm atau Trondheim mereka pasti sudah sebesar Sigur Ros atau Mew, percaya atau tidak”. Karena sebesar itulah dampak musik mereka.

7.    Pure Saturday – Pure Saturday (Ceepee Records, 1996)


Siapa yang tidak mengenal band ini? Tanpa mereka skena musik independen tanah air tidak akan seperti sekarang. Pure Saturday adalah pionir, dan ketika di tahun terakhir SMA saya membeli kaset mereka dan menyaksikannya di pensi yang diadakan sekolah saya waktu itu, yang terdapat adalah perasaan bahagia. Mereka adalah cerminan generasi kreatif waktu itu: naif, cerdas bermain dengan kreatifitas, dan berani untuk menampilkan seni mereka di luar arus utama. Ke mana semua itu pergi saat ini?

* Album ini hanya saya miliki dalam bentuk kaset, yang sudah rusak dan tidak dapat lagi dinikmati. Sebagai upaya penyelamatan, teman saya lalu mengubahnya ke dalam bentuk digital, dan hanya itulah satu-satunya peninggalan dari album ini (sigh).

8.    (What’s The Story) Morning Glory – Oasis (Creation Records, 1995)


Menjelang Natal 1995, saya membeli album ini setelah melihat “Roll With It” dan “Wonderwall” di Mtv (Ya betul, waktu itu musik televisi masih berfungsi sebagai musik televisi) dan memutuskan bahwa band ini akan memberikan arti penting ke dalam kehidupan saya. Dalam sebuah keputusan yang jarang dilakukan oleh orang tua saya, entah kenapa, keluarga kami waktu itu memutuskan untuk merayakan Natal di Carita. Lilin malam kudus di gereja digantikan oleh sebuah makan malam di pinggir pantai. Saya ingat setelahnya, saya duduk seorang diri di kegelapan malam, memandang lautan yang pekat, dengan ombak berdebur kencang. Di telinga saya adalah suara Liam terputar oleh walkman yang saya bawa waktu itu. Oasis adalah lawan kutub dari Pearl Jam dan suara grunge yang mulai saya gandrungi waktu itu. Walaupun sebagian besar lirik yang ada di album tidak berarti apa-apa, tapi ia menghembuskan angin optimisme yang entah bertiup dari mana. Seperti mengingatkan kita untuk dapat melakukan segalanya, asalkan kita percaya. Oasis adalah optimisme tanpa batas, seluas lautan yang saya lihat di malam Natal, balik di tahun 1995.

9.    Silent Alarm – Bloc Party (Domino Records, 2005)


Sejujurnya pada awalnya  saya sangat-sangat skeptis dengan band ini. Serius, kalau dipikir, band dengan akal sehat mana, menamakan dirinya Bloc Party? Tapi saya lalu memberanikan diri untuk mendengarkan lagu-lagu di album itu. Ketika efek delay pertama Russel menggaung di “Like Eating Glass” untuk lalu ditelan dengan gulungan monster drum Matt, Bloc Party adalah salah satu band terdasyhat dan inovatif yang pernah lahir di tahun-tahun ’00. Mereka tidak akan pernah menjadi band stadium seperti Kings Of Leon misalnya, tapi dengarkan album itu, belum pernah permainan efek gitar, teriakan revolusioner dan gebukan drum terdengar sesegar seperti di “Silent Alarm” sepanjang dekade lalu. Saya lalu mendedikasikan diri saya untuk menjadi fans band ini. Dan untuk satu alasan tertentu, ketiga album Bloc Party adalah satu-satunya dalam koleksi CD saya, yang saya miliki ganda. Edisi normalnya, ditambah dengan edisi spesial dengan bonus track dan DVD. Bahkan remix albumnya pun saya miliki. Sebesar itu dampak band ini dalam kehidupan permusikan saya.

10. Is This It – The Strokes (Rough Trade, 2001)


2001 di kepala saya hanya identik dengan 2 peristiwa: 9/11 dan dirilisnya debut album The Strokes. Yang pertama adalah tragedi manusia penuh konspirasi dan mengubah kehidupan kita semua setelahnya. Yang kedua adalah perayaan kembalinya musik gitar dalam esensi sesungguhnya. Ke manapun kita memasuki klab-klab indie di tahun 2001-2002, lagu-lagu The Strokes adalah yang membuat lantai dansa yang sudah terlalu lengket dengan tumpahan bir, pecah dengan anak-anak Indie yang seperti menemukan penyelamat mereka dalam wujud band ini. Didengarkan 10 tahun sesudahnya, album ini masih terdengar begitu menggairahkannya seperti didengarkan pertama kali. Album itu adalah sebuah pamungkas yang sulit untuk ditiru band manapun sesudahnya.

17
Feb
11

Pencerahan Jiwa: Themilo – Daun Dan Ranting Menuju Surga

 

Themilo

Daun Dan Ranting Menuju Surga

Diambil dari album The Photograph – Sadsonic Labs/DeMajors – 2011

Sunyi. Tidak terdengar suara apapun. Hari baru saja dimulai, hanya sebersit sinar mentari terlihat di atas sana. Pelan – pelan dari sudut ruangan kita berada, terdengar dentingan gitar yang bersahut-sahutan, diiringi suara distorsi ringan yang menggema mememenuhi ruangan, sebelum sebuah suara dengan tenang bernyanyi “Hadapi hidup yang remuk, hapus semua kenangan yang kelam…”.

 

Semua itu mengawali single terbaru Themilo “Daun Dan Ranting Menuju Surga”, diambil dari album baru mereka “The Photograph” yang akan segera dirilis pada pertengahan Februari 2011. Lagu ini seperti menjadi pesan Themilo, bahwa kekelaman tidak akan selamanya ada di antara kita. Di antara pupusnya asa dan sebuah masa depan yang  tidak kita ketahui akan seperti apa wujudnya ialah sebuah harapan akan sesuatu  menakjubkan yang masih bisa kita raih. Dikemas dalam lanskap suara fantastis, terdiri dari beberapa layer gitar yang saling menggema satu – persatu dan suara yang  menghanyutkan nestapa yang sedang kita hadapi, ini adalah kembalinya Themilo dalam memberikan kita sesuatu untuk kembali dipercayai.

 

Pudarkan cahaya ruangan, keraskan volume stereomu, berfantasilah, harapan baru telah datang, hari yang baru telah tiba.

 

David Wahyu Hidayat

Tulisan ini juga dapat dibaca di musicbandung.com: http://musicbandung.com/themilo-daun-dan-ranting-menuju-surga/

13
Mei
10

Pencerahan Jiwa: The National

Agustus 2007. Saya sedang liburan bersama keluarga saya di HongKong. Setiap kali saya mendatangi sebuah tempat baru yang belum pernah saya kunjungi sebelumnya, saya mempunyai kebiasaan yang mungkin sulit untuk dimengerti, kecuali oleh mereka yang juga seperti saya. Saya selalu berintensi untuk mengetahui di mana saya dapat menemukan toko CD yang dapat memenuhi kebutuhan akan musik yang tidak dapat saya temukan di tanah air. Terkadang tempat itu adalah rantai toko yang ternama seperti HMV, atau toko-toko musik kecil lainnya yang justru di sana kita menemukan sebuah permata yang selama ini dicari. Ya, saya masih membeli CD se-“Old Skol” apapun itu terdengarnya. Mengutip ucapan Penny Lane di Almost Famous “And if you ever get lonely, just go to the record store and visit your friends.”, itu adalah perasaan saya setiap kali mengunjungi sebuah record store.

Dalam liburan itu pulalah, ketika menjelajah rak-rak sebuah toko CD di pusat kota Hongkong, saya menemukan sebuah album, yang sampulnya berlatarbelakang hitam, di tengahnya terdapat sebuah band yang sedang bermain dalam sebuah pesta pernikahan. Di atasnya tertulis: The National Boxer. Saya tidak mengetahui album maupun band tersebut, tapi sampul albumnya telah menarik perhatian saya. Dengan cepat, tanpa diperalati oleh ponsel pintar yang pelan tapi pasti mengusik kehidupan saya saat ini, saya mengirim sebuah pesan singkat ke seorang teman saya, minta tolong untuk mengecek tentang band tersebut. Saya bahkan salah menafsirkan nama band tersebut, saya pikir band tersebut bernama The National Boxer, yang benar adalah band tersebut bernama The National, albumnya berjudul Boxer. Teman saya mengirimkan pesan singkat balik, mengatakan bahwa band tersebut adalah band asal Amerika, dan sedang naik daun dalam skena indie di sana. Entah atas alasan apa, saya tidak menindaklanjuti ketertarikan saya tersebut.

Di akhir tahun yang sama, di dalam kompilasi akhir tahun sebuah majalah musik yang saya beli, saya mendengarkan lagu mereka yang berjudul “Fake Empire”, lantunan piano dengan suara bariton penuh melankoli mengatakan kepada saya, bahwa ini adalah band yang patut diberikan perhatian. 3 tahun lamanya, pengetahuan saya tentang The National hanya sebatas “Fake Empire”, sampai minggu lalu.

Sambil mempromosikan album terbaru mereka “High Violet”, The National memberikan sebuah lagu secara cuma-cuma untuk diunduh dan diambil dari album tersebut. Lagu tersebut berjudul “Bloodbuzz Ohio”. Terus terang, saya terkesima dengan apa yang saya dengar. Apa yang diberikan The National bukanlah sesuatu yang baru, Interpol, Editors dan Joy Division, telah melakukannya sebelum mereka, tetapi ada sesuatu dalam suara bariton Matt Berninger dan dua pasang kakak beradik Aaron & Bryce Dessner serta Scott & Bryan Devendorf yang membuat saya tersentak mendengarkan musik mereka. Entah apa yang terjadi, tetapi segala melankoli dan keputusasaan yang tersirat dalam musik mereka, berubah menjadi sebersit sinar harapan dalam setiap nada yang dilantunkan.

Sejak minggu lalu, saya jadi mendengarkan tiga album mereka secara intensif “Alligator”, “Boxer”, dan “High Violet”. Dalam tiga album tersebut saya mendengar salah satu musik paling jujur yang mungkin pernah saya dengar selama beberapa tahun belakangan. Mereka tidak bernafsu untuk menaklukkan dunia atau berdandan seperti rockstar paling hip di planet ini, mereka hanya berkata bahwa musik akan menyembuhkan luka kita semua. “Alligator” dengan “Lit Up”, “Friend Of Mine”, dan “Mr. November” adalah indie amerika yang ingin kita dengar, dengan lanskap musik luas yang menelusup ke alam pikiran kita sambil berkata bahwa saya ingin berada di sini dan menikmati setiap detik kehidupan walaupun kita tahu kehidupan tidak ingin memberikan kita harapan. “Boxer” adalah sebuah album mahakarya, yang saya sesali mengapa saya tidak membelinya tiga tahun yang lalu di Hongkong. Dengarkan drum yang mendominasi “Mistaken For Stranger” dan “Squalor Victoria”, dengan cepat kita akan tahu bahwa musik di album ini adalah pencerahan. “High Violet” seperti dikutip di beberapa media, adalah The National melakukan Elbow. Ini adalah album yang membuat jutaan orang lainnya mengikatkan hatinya kepada band tersebut, dengarkan “Anyone’s Ghost”, “Lemonworld” dan “Conversation 16” untuk pembaptisan hati kalian kepada keindahan dari melankoli.

Langit masih tetap mendung di luar sana, biarkan ia mendung untuk beberapa saat lagi. Saya masih termenung di sini, membasuh jiwa saya dengan musik dari The National, sampai denting terakhir yang saya dengar dan melihat ada secercah cahaya yang menembus kegelapan itu.

David Wahyu Hidayat

30
Sep
09

Pencerahan Jiwa: Morning Lights Recover – Ansaphone

morning lights recover2

Pagi buta, hari Raya Idul Fitri 2009. Telapak kakimu terbenam pasir hitam pantai selatan. Wajahmu tertepa angin laut, sekejap memberikan kesejukan dari penatnya kehidupan di kota. Pagi itu, di hari yang fitri itu, dirimu melarikan diri. Yang terlihat hanya mentari yang menyembunyikan mukanya di balik awan mendung pagi, dan satu orang peselancar yang berusaha menantang ombak di waktu yang masih terlalu pagi itu.

Mereka yang merayakan hari raya, mungkin sedang sibuk bersiap-siap untuk melakukan ibadahnya. Mereka yang tidak, masih terlelap berusaha menikmati hari libur yang terlalu sedikit dalam setahun. Sisanya, orang – orang seperti dirimu dan saya, termenung menatap lautan yang terpampang di depan mata, sambil berusaha mencerna datangnya hari itu.

Sayup-sayup bersaingan dengan suara debur ombak, dentingan suara gitar dengan penuh delay bersahut-sahutan, berjingkat dari telinga kiri ke telinga kanan, sepertinya lagu itu mengerti bagaimana harus menterjemahkan pemandangan yang ada di depan mata. Di tampilan pemutar musik digitalmu tertera sebuah judul “Morning Lights Recover” dari sebuah band asal Bandung bernama Ansaphone. Sesuai dengan hari itu, lagu tersebut terasa suci, agung tapi tetap berjuang setapak demi setapak menuju kecemerlangan.

Masih tidak begitu jelas, suara vokal yang mengiringi lagu itu menyampaikan salamnya kepada kita, tapi kita tidak peduli dengan hal itu. Pagi itu, lagu itu seperti sebuah kidung yang menyatukan kita pada diri kita sendiri, lalu kepada sesama kita, dan kemudian kepada alam. Kita menghembuskan nafas, dan berharap kalau saja semuanya bertahan dalam kesempurnaan ini, dalam kesempurnaan melodi yang didengar di lagu tersebut, dalam keperawanan pagi yang sepertinya tidak akan pernah mengenal kacaunya kehidupan. Tapi mungkin itu semua yang membuat kita kembali berjuang, karena semuanya akan berlalu, dan tidak akan pernah sama lagi. Tapi kita akan selalu kembali, untuk merasakan kedamaian sesaat itu, apapun harganya.

Pagi berikutnya, semua pakaian sudah dikepak, perjalanan kembali menuju kekacauan telah terhampar di depan mata, tapi di tengah itu semua ada sesuatu yang menenangkan jiwa. Sesuatu itu adalah sinar mentari yang memancar dari balik karang besar di pantai tersebut, dan entah mengapa, untuk sekejap kita semua merasa dipulihkan.

David Wahyu Hidayat

Lagu Morning Lights Recover dari Ansapahone dapat didengar di laman MySpace mereka: http://www.myspace.com/ansaphonetheband

07
Agu
09

Pencerahan Jiwa: Bagaimana saya menemukan kembali Black Rebel Motorcycle Club

BRMC

Di awal milenium ini, ketika rock ‘n’ roll yang sekarat diselamatkan oleh sebuah gerakan yang diawali dengan The Strokes di New York dan dibuntuti oleh The White Stripes di Detroit, sebuah trio asal San Fransisco bernama Black Rebel Motorcycle Club ikut menyentak perhatian saya dan seorang teman waktu itu.

Teman saya waktu itu meminta saya untuk menuliskan artikel tentang band tersebut yang dengan konsep musik “fuzz-psychedelic-garage rock”-nya berfungsi seperti penyambung mata rantai yang hilang antara Julian Casablanca dan gerakan “Shoegaze” di awal tahun 90-an. Artikel tersebut tidak pernah dimuat, karena media cetak tempat teman saya bekerja terpaksa harus gulung tikar, tetapi keajaiban debut album band yang disingkat dengan nama BRMC tersebut tetap terekam dalam diri saya dan teman saya.

Debut album tersebut adalah sebuah pernyataan. Bagaimana tidak, dengan judul lagu seperti “Whatever Happened To My Rock ‘N’ Roll (Punk Song)”, BRMC berusaha dengan sangat untuk menyembuhkan pasien bernama rock ‘n’ roll itu dari virus plastik pop/punk/rock/metal yang waktu itu menggerogoti kemagisan sebuah musik. Dan manusia seperti saya, ikut mendaftarkan diri untuk ikut berjuang melawan virus tersebut dengan musik dari mereka.

Didengarkan waktu itu, album itu sungguh merupakan versi yang lebih intelek dari debut album The Strokes. Bila The Strokes dengan gemilang menampilkan kesederhanaan dan sebuah bentuk rock ‘n’ roll yang menonjok langsung muka mereka yang sudah terlalu lama mendengarkan musik sampah, debut album BRMC adalah versi rock ‘n’ roll psikedelia yang gelap misterius, menyeret kita pelan-pelan ke alam bawah sadar penuh ekstase. “Love Burns” yang membuka album tersebut membuat kita mengerti mengapa di awal karirnya, mereka sempat dibandingkan dengan Ride, “Awake” terdengar seperti sisi gelap Noel Gallagher, “As Sure As The Sun” dan “Rifles” mengecam dan misterius, mendaki puncak psikedelia. Didengarkan lagi saat ini, album itu mendefinisikan sebuah zeitgeist yang sempurna.

Ketika album kedua mereka “Take Them On, On Your Own” dirilis tahun 2003, perayaan itu masih terjadi. Rock ‘n’ Roll telah memasuki masa pemulihannya. Akhirnya kita mendengarkan lagi musik sebenarnya. Dan ketiga orang yang ikut andil dalam pemulihan tersebut Robert Bevan (Vokal/Bass), Peter Hayes (Vokal/Guitar), dan Nick Jago (Drum) yang masih terlihat seperti sosok misteri yang dikirim dari ruang angkasa untuk menyelamatkan kita, menyebarkan serum musikalisnya dengan lagu seperti “Stop”, “Six Barrel Shotgun” dan “We’re All In Love” yang sampai saat itu telah menjadi tandatangan BRMC, bagaimana mereka memahat artian rock ‘n’ roll mereka.

Setelahnya, cukup lama saya berpisah dari BRMC dan musik mengagumkan mereka. Album ketiga mereka “Howl” yang terkesan folky dan didorong oleh sentuhan akustik dalam mayoritas suara albumnya seperti berlalu begitu saja tanpa sempat pernah diperhatikan. Musik di saat album itu dirilis, terlalu disibukkan dengan mereka yang berhasrat ingin membuat gadis-gadis muda menari liar di lantai dansa melalui musik rock seperti yang diusung oleh band seperti Franz Ferdinand dan Bloc Party. Tapi ketika teaser awal dari film Michael Mann terbaru “Public Enemies” muncul di internet, ada suara latar yang sangat familiar mengiringi seorang Johnny Depp yang sangat flamboyan merubah dirinya menjadi John Dillinger. Suara itu melantunkan kata-kata “Time won’t save our souls” berulang-ulang, dan suara itu tidak lain dan tidak bukan adalah lagu pembuka “Howl”, yaitu “Shuffle Your Feet”.

BRMC kembali memasuki radar musikalis saya. Meskipun pada saat dirilis, album tersebut seperti tidak berada pada jamannya, tapi didengarkan kembali saat ini, album itu menunjukkan kedewasaan bermusik BRMC. Seperti juga yang dilakukan oleh Kings Of Leon belakangan ini, album ini menunjukkan sisi americana dari BRMC. Sebuah album introspeksi yang cocok untuk dijadikan soundtrack sebuah road trip, waktu kita membutuhkan sesuatu untuk dijadikan pegangan dan memikirkan semua yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi di depan.

Terpacu oleh apa yang saya dengar dalam “Howl”, saya mulai kembali membongkar koleksi musik BRMC saya, dan mendengarkan dengan teliti album mereka yang dirilis tahun 2007, “Baby 81”. Yang saya dengar adalah sebuah pencerahan. Sebuah karya klasik BRMC. Dalam sebuah perjalanan mobil siang hari menembus ibukota ini bersama dua orang teman baru-baru ini, album ini dijadikan musik latar belakang. Dengan dashyat BRMC menghipnotis kita semua, dan kedua orang teman itu mewakili juga apa yang saya rasakan ketika mendengar “Baby 81”.

Dengan “Berlin” dan “Weapon Of Choice” mereka mengantarkan kembali kegelapan misterius dalam diri rock ‘n’ roll mereka tanpa harus lupa menyanyikan nada-nada yang menangkap kita. Suara vokal khas sedikit terdistorsi dengan reverb, yang dinyanyikan bergantian oleh Bevan dan Hayes, dan suara bas yang dipenuhi efek synth ringan akan menjadikan kedua lagu tersebut sangat berbahaya bila dibawakan di atas panggung manapun di planet ini. Diawali dengan piano yang terdengar seperti datang dari dalam sebuah rumah hantu “Windows” menerawangi kepala kita, menghayutkan isinya dengan melodi-melodi yang akan menghantui kita dalam impian tengah hari. The Jesus And Mary Chain seperti menyapa kita kembali waktu mendengarkan “Not What You Wanted”, sedangkan “666 Conducer”, “Lien On Your Dreams”, dan “American X” membawa kita terbang dalam surga kemagisan melodi – melodi psikedelia. “Baby 81” membuat saya kembali menemukan apa yang saya cintai dari BRMC, dan sepertinya kali ini cinta itu akan abadi.

Dan di sanalah mereka berdiri, tiga orang yang dianugerahi talen untuk membuat kemisteriusan rock ‘n’ roll menjadi sesuatu yang megah dan epik. Ketika pertama kali keluar, mereka memberikan perlawanan terhadap kefanaan musik waktu itu, dan saat ini bila kita kembali dihujani oleh banyaknya musik komedi dan kehampaan musik RBT beserta teman-temannya, kita selalu bisa kembali kepada sebuah suntikan serum musik yang akan memulihkan kita. Dan serum itu di antaranya datang dari sebuah band bernama Black Rebel Motorcycle Club.

David Wahyu Hidayat

11
Mei
09

Pencerahan Jiwa: Saya ingin dipuja dan saya adalah kebangkitan – 20 Tahun debut album The Stone Roses

The Stone Roses LP

Di sebuah pagi buta di tahun 1997, seorang muda menatap datangnya fajar dengan sebuah senyuman terbersit di bibir. Aroma optimisme terhirup di tengah-tengah pagi yang masih perawan itu. Ia baru saja menyelesaikan masa SMA-nya, hendak meninggalkan semua kenaifan di belakangnya, dan melangkah ke dalam ketakjuban kehidupan yang terbentang menunggu di depannya. Semuanya terasa sempurna, di tempat yang benar pada waktu yang tepat.

Sebuah suara menyentak kupingnya melalui walkman yang sedang didengarnya. Suara itu adalah suara dengan nada-nada penuh kebanggaan, seperti terlihat dengan jelas kalau yang bernyanyi adalah seorang yang penuh keyakinan, yang percaya bahwa bandnya akan menjadi band pertama yang akan menggelar konser di bulan. Suara yang ia dengar saat itu adalah suara Ian Brown, dan pagi itu untuk pertama kalinya ia memutuskan untuk jatuh cinta dengan The Stone Roses, dan tidak dapat berpaling lagi dari musik mereka yang menginspirasikan jejak langkah kehidupannya selanjutnya.

Tahun 1997 pra “Be Here Now” adalah masa di mana Britpop menghembuskan nafas kehidupan penuh kepercayaan diri kepada generasi muda waktu itu. Lalu seperti juga kebanyakan manusia lainnya, diri ini menemukan pahlawan abadinya dalam Oasis, sebuah band yang sampai sekarang menempati kosmos utama dirinya karena inspirasi yang telah mereka berikan. Beberapa minggu sebelum pagi yang sudah ditakdirkan itu, seorang teman berkata demikian “Vid, kalo lo segitu sukanya sama Oasis, lo harus dengerin The Stone Roses. Kalau ga ada The Stone Roses, ga bakalan ada Oasis”.

Penasaran dengan perkataan temannya tersebut, ia memberikan dirinya sendiri untuk membeli sebuah kaset dari band yang konon legendaris tersebut, sebuah kompilasi berjudul “The Complete Stone Roses”. Keesokan harinya, di pagi – pagi buta tersebut, ia mendapati dirinya sendiri terpana. Tidak percaya akan apa yang ia dengar sendiri, karena musik yang ia rasakan dalam hatinya dan didengar telinganya adalah sebuah keajaiban. Ia meneliti semua lagu-lagu yang ada di situ satu persatu, ia baca berulang-ulang sleeve note yang melengkapi kaset tersebut, yang ditulis oleh seorang jurnalis bernama John Harris, dan ia terus menerus merasakan keajaiban, tumpuk menumpuk seperti merasakan sebuah keajaiban dunia terjadi di hadapannya saat itu.

Dari saat itu, ia satu persatu mengumpulkan semua karya band tersebut, dan sampailah  saat di mana ia memegang debut album The Stone Roses untuk pertama kalinya. Saat itu, ia berada jauh di tengah – tengah eropa untuk melanjutkan studinya. Satu dekade telah lewat ketika The Stone Roses merilis debut album itu. Ia tidak menyalahkan dirinya. Tahun 1989, ia masih memikirkan hal lain dibanding mengagumi mahakarya sebuah band asal Manchester. Namun saat ia memiliki debut album itu, ia tidak bisa melepaskannya lagi dan berniat untuk selalu hidup dalam keajaiban suara itu.

Stone Roses

The Stone Roses performing at Granada in January 1989 © Ian Tilton / RetnaUK Credit all uses

Mendengarkan debut album itu untuk pertama kalinya, memberikan sensasi lain yang tidak ia dengar dalam “The Complete Stone Roses”. Dimulai dari intro gaib menuju psikedelia “I Wanna Be Adored”, ia menyadari di belakang suara agung Ian Brown ada kemagisan gitar John Squire. Di balik keajaiban gitar Squire ada perpaduan groove yang solid dari Mani dan Reni seperti yang terdengar dalam “She Bangs The Drums”. The Stone Roses adalah cetak biru sebuah band yang punya segalanya, yang tidak takut untuk bersanding dengan U2 dalam segala kebesarannya.

Sore demi sore, malam demi malam ia lewati dengan album mengagumkan itu. Duduk termenung, terpukau oleh setiap pencerahan yang ia dengar dalam “Made Of Stone”, kesempurnaan pop “(Song For My) Sugar Spun Sister”, atau pun arogansi tersembunyi dari “This Is The One”. Ribuan kopi ia habiskan bersama album itu, dengan mata berbinar-binar berusaha menjelaskan keajaiban yang ia alami waktu mendengarkan nada-nada tersebut. Beberapa orang dekatnya lalu mengakui keajaiban itu, beberapa orang lain, lalu begitu saja tanpa mengacuhkan.

Pada suatu kesempatan yang terpisah, di tempat ia tinggal waktu itu, masih di sentral Eropa, ia bertemu dengan seorang mahasiswa asal Inggris, dan mahasiswi asal Jepang. Kami, tiga orang yang berlatar belakang berbeda itu, menemukan titik temu di sebuah frekuensi yang sama, dan gelombang itu bernama “The Stone Roses”. Ia masih ingat menghabiskan seharian penuh waktunya dengan mereka membicarakan suara gitar Squire yang menggelitik nakal pada “Shoot You Down”, atau pun kedamaian minggu sore “Waterfall”. Bila mereka membicarakan “The Stone Roses”, mata mereka berbinar-binar, hati mereka meluap penuh kebahagiaan yang sulit untuk bisa dideskripsikan. Bila ia melihat wajah-wajah mereka, dan orang-orang lain yang punya perasaan yang sama tentang album itu, ia tahu bahwa “The Stone Roses” mempunyai arti yang sama dalam diri mereka.

Ia teringat ketika memutar debut album itu untuk pertama kalinya, dan urutan album itu menyentuh detik – detik pertama “I Am The Resurrection” ia mencoba untuk tidak mempercayai apa yang ia dengar. Itu adalah untuk pertama kalinya ia mendengar lagu itu dalam seluruh kepenuhannya. “I Am The Resurrection” adalah kesempurnaan. Ia memiliki nada yang melantun manis untuk disiulkan setiap pagi, ia mempunyai reff yang membuat kita melayang menembus atmosfir, dan yang menjadi pemungkas adalah keepikan outro lagu tersebut. Di sana, Ian, John, Reni dan Mani membuktikan kalau mereka adalah sebuah band yang solid. Sampai saat ia mendengar lagu itu, belum pernah ada lagu lain yang menyentuhnya seperti “I Am The Resurrection”. Lagu itu  membuatnya terharu akan kesempurnaannya. Diawali dengan bas melodik Mani yang memulai outro instrumental tersebut, disusul dengan ketajaman gitar Squire yang akhirnya memberikan kita pahlawan gitar yang selama ini kita tunggu – tunggu. Reni menyetir semuanya dengan permainan drumnya, sementara Ian dalam khayalan kita masing-masing, memainkan perkusinya seperti terlihat dalam rekaman konser legendaris di Blackpool, atau berdansa seperti seorang raja monyet yang kegilaan penuh bahagia. Lalu apakah yang kita rasakan? Kita tidak lagi merasakan apa – apa. Yang ada hanyalah kebahagiaan. Apa yang namanya musik diawali dari akhir debut album The Stone Roses ini. Yang kita rasakan adalah nirwana, kesempurnaan sebuah band dan musik yang mereka mainkan.

kevin_cummins_roses_02

The Stone Roses, Pic by Kevin Cummins

20 tahun setelahnya, semua itu masih kita rasakan. Setiap detik warna-warni dari album tersebut, setiap alur nada yang mengajak kita untuk berdansa, kemajestikan suara Ian Brown dalam kepercayaan dirinya. Semua itu tidak akan pernah dapat dipadamkan. Di debut album itu The Stone Roses telah menciptakan sebuah mahakarya yang melewati batas tempat dan waktu, bahkan sepertinya bila album itu baru dirilis saat ini, ia akan terdengar sama ajaibnya seperti 20 tahun yang lalu. The Stone Roses adalah kebangkitan yang telah menciptakan sebuah keajaiban, dan debut album itu adalah monumen yang akan mengabadikan mereka dalam jejak langkah setiap legenda musik sebelum mereka.

David Wahyu Hidayat

19
Apr
09

Pencerahan Jiwa: Oasis – Revolution Song (Demo)

noelgallagher

“I’m singing out my revolution song, like nothing else matters”

Noel Gallagher

Minggu siang. Mungkin, entah sejak kapan, dan tidak teringat lagi kapan terakhir kali dirimu berada dalam posisi ini, rasa bosan menggerogoti jiwa dan tubuh dengan sangat. Minggu demi minggu terlewati, semua dengan rutinitas kosong. Kerja, akhir pekan, pergi keluar menemui teman, beribadah, siklus pun berulang dari awal. Tidak ada yang berarti.

Bila ada secercah cahaya yang bisa membuat diri ini sedikit tersenyum adalah musik, dan mungkin blog ini sedikit terlalu banyak membahas tentang Oasis, tapi band itu salah satu yang membuat kehidupan berarti dan membuat sedikit kepercayaan terhadap segala sesuatu yang terjadi di sekeliling hidup ini.

Sedikit membongkar koleksi musik Oasis di piranti keras mesin yang dipakai menulis blog ini, satu lagu menyita perhatian. Sebuah demo dari sesi rekaman “Standing On The Shoulder Of Giants”. Lagu itu berjudul “Revolution Song”. Dengan gitar yang disertai dengan iringan Piano, lagu itu masuk dengan lembut, sebelum Noel menyanyi “They took my faith, they put in a headlock and they sealed my faith”. Memasuki refrain, Noel memberikan kemerdekaan untuk jiwanya, ia menyanyi dengan penuh keyakinan “I’m singing out my revolution song, like nothing else matters. And you can pitch your gold against my soul, but I bet you get shattered, and there’s a million houses in my heart. It won’t be long until I solve my mystery”.

Dengan lagu itu, Noel memberikan kebebasan pada jiwanya. Jika semuanya semudah itu, jika di dunia ini yang berlaku hanyalah menyanyikan lagu revolusi kita terhadap kehidupan. Jika hanya itu yang berlaku, mungkin kita semua adalah orang-orang paling bahagia di dunia ini. Tapi kenyataannya adalah, kita harus berjuang menghidupi kehidupan itu, bekerja, akhir pekan, pergi keluar menemui teman, beribadah, dan di antara semuanya itu, mendengarkan musik yang akan memerdekakan kita dari segala sesuatu yang tidak berarti di kehidupan ini.

David Wahyu Hidayat

28
Jan
09

Pencerahan Jiwa: Polyester Embassy – Fake (Demo) dan Faker (Demo)

pe

Suatu sore di sebuah gedung perkantoran di kawasan Gatot Subroto, Jakarta. Mata menatap keluar kosong, tanpa pikiran apapun. Tiba-tiba di earphone terdengar sepotong musik yang menyentak lamunan. Terlalu tajam untuk tidak menggores keresahan, terlalu terus terang untuk tetap diam dalam kebosanan.

Dua lagu yang mengubah sore monoton itu adalah demo terbaru dari Polyester Embassy: Fake dan Faker. Yang pertama tanpa basa-basi menusuk bagaikan light sabre Anakin Skywalker, seperti panggilan menuju kegelapan, seperti Jedi yang bosan akan semua ajaran Yoda dan berpaling kepada sisi gelap dari force. Yang kedua diawali dengan alunan menghanyutkan synth yang kemudian pelan-pelan dipenuhi dengan suara gitar dan drum yang berulang-ulang menaklukkan ketahanan alam pikiran kita seperti sebuah monolog melawan semua yang memalsukan apa yang telah ada dan terlihat.

Bila ini adalah apa yang akan ditawarkan Polyester Embassy di album kedua mereka, sepertinya kita semua harus bersiap – siap untuk menghadapi sebuah album yang akan membahayakan jiwa.

David Wahyu Hidayat


Dapat didengar di laman MySpace mereka: http://www.myspace.com/thepolyesterembassy

Foto oleh Ryan Koesoema, diambil dari http://www.myspace.com/thepolyesterembassy




 

Mei 2012
S S R K J S M
« Des    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Categories

Blog Stats

  • 85,710 hits

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.