Arsip untuk Kategori 'Konser'

07
Okt
11

Konser Review: Polyester Embassy – Silent Yellow Ensemble Concert – Teater Tertutup Dago Tea House, 01 Oktober 2011

Polyester Embassy

Silent Yellow Ensemble Concert

Teater Tertutup Dago Tea House, Bandung

01 Oktober 2011

 

Band Pembuka: Space And Missile

 

Setlist:

Intro, Tragicomedy, LSD, Orange Is Yellow, Good Feeling, Polypanic Rooms, Air, Later On, Blue Flashing Light, Have You, Good Love, Ruins, Small Stakes, Faded Blur, You’ll Be Gone, Don’t Save Us From The Flames (M83 Cover)

Encore: White Crime, Space Travel Rock ‘n’ Roll, Fake/Faker

Review:

 

Pada suatu hari dalam kehidupan, terkadang manusia dapat mengantisipasi datangnya sesuatu menakjubkan yang akan membuat segala sesuatu pada hari itu menjadi masuk akal. Di hari-hari tertentu, sesuatu yang menakjubkan itu dapat membuat hari itu menjadi lebih agung dari hari-hari sebelum dan sesudahnya.

01 Oktober 2011 bertempat di teater tertutup Dago Tea House, Bandung adalah salah satu hari istimewa tersebut. Menjelang pukul 21:00 di bawah siraman loop drum tidak berkesudahan “Tomorrow Never Knows” dari The Beatles kelima siluet itu memasuki panggung sederhana dengan instrumen masing-masing yang sudah disiapkan lengkap di sana. Kelima siluet itu adalah Elang Eby (Vokal/Gitar), Eky (Gitar), Sidik (Gitar), Tomo (Bas) & Givari (Drum) atau kita kenal dengan nama Polyester Embassy, yang pada malam itu menghadiahkan sesuatu yang sangat luar biasa lewat konser mereka yang diberikan nama “Silent Yellow Ensemble”.

Kesederhanaan panggung itu berhenti sampai momen di mana mereka berlima mengambil tempat di instrumennya masing-masing. Karena begitu mereka mengawali set malam itu dengan sebuah intro instrumental, tidak hanya telinga kita saja yang dihentakkan dengan ledakan sonik seketika, tetapi mata kita disuguhi oleh sebuah keagungan yang sulit dijelaskan melalui permainan tata cahaya panggung yang serentak mengubah Dago Tea House seperti layaknya sebuah layar sinematik etereal kelas dunia.

“Tragicomedy” menyusul intro sebagai lagu kedua yang disuguhkan malam itu, liriknya yang berkata “…we’re gonna die, f*ck the neon sign..” adalah hal yang sangat kontras di malam itu, karena semua yang berada di sana tidak akan mungkin mengacuhkan cahaya panggung yang memberikan rasa seperti pencerahan. Tanpa banyak basa-basi lagu tersebut dihajar dengan “LSD”, gitar Eky dan Sidik di lagu itu seperti bertarung merebut supremasi arena teater tertutup Dago Tea House tanpa mempedulikan penonton yang kagum akan sinar yang berseliweran di atas kepala mereka.

Setelahnya, Polyester Embassy memasuki teritori lagu-lagu dari album pertama mereka “Tragicomedy” dengan menyuguhkan “Orange Is Yellow”, “Good Feeling” & “Polypanic Rooms”. Penempatan “Polypanic Rooms” di awal set bisa jadi mengejutkan banyak orang, karena beberapa mungkin akan mengira lagu ini akan dijadikan salah satu pamungkas di akhir konser. Tapi persetan dengan penempatan di awal atau akhir set, diperkenalkan oleh Elang sebagai lagu “..untuk mereka yang sedang berbahagia” lagu ini tidak bisa dipungkiri adalah salah satu klimaks di malam itu.

Menjelang pertengahan set mereka, Elang sempat mengucapkan selamat datang kepada para penonton karena telah hadir di ruang tamu mereka, yang dengan tata cahaya megah itu, lebih tampak menyerupai sebuah pesawat antariksa daripada sebuah ruang tamu. Namun meskipun begitu, suasana intim dari sebuah ruang tamu memang sangat terasa dalam “Silent Yellow Ensemble Concert” itu. “Air” dan “Later On” lalu mengajak kita menikmati perjalanan dalam pesawat antariksa itu. “Later On” yang akan menjadi single kedua dari “Fake/Faker” berintegrasi sangat mulus dengan atmosfir teater tertutup Dago Tea House malam itu, terutama ketika di akhir lagu, obligatoris tepuk tangan kolektif mengiringi seksi ritem Polyester Embassy dilakukan dengan sangat cermat oleh para penonton. Suasana intens konser malam itu, dicairkan sedikit oleh Elang yang membawakan “Have You” secara solo hanya dengan gitar akustiknya. Dibalut dengan cahaya biru yang mengelilinginya, ada unsur ikonik pada dirinya di lagu itu. Konsep serupa, diulangnya lagi pada “Ruins” yang diperkenalkannya sebagai lagu galau pagi hari. Ambiens yang ada di ruangan itu sekejap berubah menjadi damai menenangkan, seakan tidak ada tempat yang lebih damai di dunia ini, dari ruangan konser itu.

Set utama mereka malam itu ditutup dengan sebuah versi cover “Don’t Save Us From The Flames” dari M83. Sempat tersendat di awal lagu, dan terpaksa mengulanginya, Polyester Embassy mengakhiri lagu tersebut dengan gemilang sekaligus memuncaki set utama mereka yang berdurasi sejam lebih.

Encore “Silent Yellow Ensemble” diawali dengan kolaborasi Elang dan Evan Storn pada “White Crime” yang di album “Fake/Faker” juga memainkan theremin di lagu yang sama. Di album, yang terdengar dari lagu ini adalah suasana mencekam seperti sebuah thriller Stephen King. Dimainkan secara live bayangan yang terbersit di kepala adalah mengambang di antariksa luas dengan harapan satu-satunya adalah kilauan biru yang berjuta – juta tahun cahaya jaraknya namun masih dapat menyilaukan. Mungkin mereka telah memikirkan bahwa ini adalah prelude atau pembuka set encore mereka yang tepat, karena lagu selanjutnya adalah “Space Travel Rock ‘n’ Roll”. Psikedelia luar angkasa paling sempurna hadir bukan di Manchester, bukan juga di Reykjavik, maupun New York, tapi itu hadir di Bandung, dibawakan oleh sebuah band yang sepertinya sudah menjadikan negara ini terlalu kecil untuk memenuhi ambisinya. Tempat mereka seharusnya adalah di dunia, dan konser pada 01 Oktober 2011 bisa dipercayai adalah awalnya.

Ensemble indie termegah yang pernah disaksikan anak bangsa negeri ini diakhiri dengan “Fake/Faker”, tidak ada lagi yang mencegah Polyester Embassy dan penonton untuk tidak meluapkan perasaannya. Di akhir konser semua orang berdiri takjub, tidak rela kalau konser ini akan berakhir. “Silent Yellow Ensemble” akan menjadi bahan pembicaraan orang banyak jauh di tahun-tahun mendatang, mungkin sampai jaman anak cucu kita. Malam itu kita menyaksikan sesuatu yang legendaris, dan bila di 2021 orang bertanya apakah kita berada di sana pada tanggal 01 Oktober 2011, jawabannya adalah “Ya saya berada di sana, ketika Polyester Embassy memberikan kita semua hadiah paling istimewa kepada semua orang yang haus akan sebuah musik jujur, inspiratif dan mempunyai kelas”. Sampaikan ini kepada semua orang yang kalian jumpai.

David Wahyu Hidayat

19
Feb
11

Konser Review: Two Door Cinema Club – EX Park, Jakarta 15 Februari 2011

Two Door Cinema Club

EX Park, Jakarta

15 Februari 2011

Band Pembuka: RNRM, Flight Facilities

Setlist:

Cigarettes in The Theatre, Undercover Martyn, Hands Off My Cash Monty, Do You Want It All, Something Good Can Work, Handshake, This Is The Life, Kids, You’re Not Stubborn, Costume Party, What You Know, Eat That Up, It’s Good For You

Encore: Come Back Home, I Can Talk

Review:

Bila setahun yang lalu kita pernah menayakan Alex Trimble, vokalis Two Door Cinema Club, apakah ia pernah membayangkan akan bermain di hadapan publik Jakarta yang ribuan kilometer jauhnya dari kampung halamannya di Irlandia Utara, kemungkinan besar jawaban yang akan kita dapat adalah, mungkin hal itu hanya berada dalam mimpi terliar yang pernah ia punyai. Tapi 15 Februari 2011, di tengah pilar-pilar terbaru pencakar langit Jakarta, di sebuah lapangan parkir mal gaya hidup teryahud Jakarta yang disulap menjadi arena konser terbuka yang sangat menyenangkan, jawaban atas pertanyaan itu adalah sebuah realita yang manis.

Two Door Cinema Club menggebrak konser mereka malam itu dengan “Cigarettes In Theatre”. Dimainkan dengan sangat rapi, lagu yang juga menjadi pembuka album mereka “Tourist History” menfiturkan suara Alex yang sangat jernih dan ia terdengar sangat menikmati set mereka sejak detik pertama lagu itu. Suara gitar Sam Halliday yang banyak memainkan riff gembira yang menjadi ciri khas lagu – lagu Two Door Cinema Club, terdengar seperti terlalu banyak mengeluarkan reverb, kemungkinan dikarenakan oleh efek tata suara di panggung konser terbuka tersebut. Tapi siapa yang peduli lagi akan semua itu? Semua penonton yang ada di sana, tidak peduli hipster atau nerd, indie atau non-indie semuanya tenggelam dalam atmosfer sukaria musik Two Door Cinema Club.

Kebahagian malam itu semakin memecah ketika “Undercover Martyn” menyusul sebagai lagu kedua yang dibawakan, para penonton, atau kata lagu tersebut the basement people mulai berjingkrakan tak menentu mulai dari depan, samping kiri, dan samping kanan area konser menyambut lagu tersebut. Euforia penuh kebahagiaan adalah kata yang tepat untuk mendefinisikan atmosfir konser tersebut. Two Door Cinema Club adalah salah satu band yang terlahir dalam dekade ini dan mereka sangat menjiwai semangat dekade ini. Mereka tidak dipusingkan dengan berbagai macam masalah generasi X di dekade sebelumnya, mereka adalah definisi budaya instan lewat jaringan sosial, mereka hanya ingin menikmati setiap malam, nyaris mendekati kehedonisan, namun semuanya dengan kebrilianan yang tertera di dalam musik mereka yang dengan sekejap pula membuat suasana riang memenuhi EX Park malam itu.

Briliannya Two Door Cinema Club, adalah kemampuan mereka mengolah riff – riff sederhana dengan efek yang tidak terlalu banyak menjadi sebuah lagu gitar pop yang dapat dibuat untuk berdansa. Saat mereka di konser itu memainkan lagu seperti “Something Good Can Work” maupun versi fantastis dari “What You Know” yang diawali hanya dengan suara Alex Trimble dan gitarnya seorang diri, kita akan sangat mengerti mengapa lagu – lagu mereka sangat mudah diakses oleh muda-mudi dari berbagai kalangan. Musik gitar pop yang dapat dibuat untuk berdansa melawan semua bentuk kejenuhan.

14 lagu dimainkan Two Door Cinema Club malam itu, 14 lagu pemujaan pop yang terasa terlalu singkat, namun ketika EX Park secara serentak mengumandangkan “A..O..AAO..A..O..AAO..” sebagai intro “I Can Talk” yang dipilih menjadi lagu terakhir malam itu, mereka semua tersenyum puas dengan suguhan musik Two Door Cinema Club. Beberapa waktu dari sekarang, jika kita ditanya, apa yang kita ingat akan apa yang telah terjadi di bulan Februari tahun 2011, yang kita ingat bukanlah revolusi yang terjadi di Afrika utara, ataupun kekerasan yang terjadi di negeri ini terhadap golongan minoritas. Yang kita ingat adalah bahwa Two Door Cinema Club telah hadir di bawah pilar-pilar Jakarta, menghibur dan memberikan kedamaian dalam artiannya sendiri. Dan dengar, suara itu masih terngiang – ngiang di kepala kita “A..O..AAO..A..O..AAO..”

David Wahyu Hidayat

31
Okt
10

Konser Review: Vampire Weekend – Bengkel Night Park, Jakarta 24 Oktober 2010

Vampire Weekend

Bengkel Night Park, Jakarta

24 Oktober 2010

Band Pembuka: Monkey To Millionaire

Setlist:

Holiday, White Sky, Cape Cod Kwassa Kwassa, I Stand Corrected, M79, Bryn, California English, Cousins, Run, A-Punk, One (Blake’s Got A New Face), The Kids Don’t Stand A Chance, Diplomat’s Son, Giving Up The Gun, Campus, Oxford Comma

Encore: Horchata, Mansard Roof, Walcott

Review:

Secara garis besar ada 5 tipe konser. Yang pertama adalah stadion rock ala U2, di mana segala sesuatunya serba gigantik, didorong untuk menjadi spektakel massal luar biasa. Yang kedua adalah konser di mana penontonnya hanya terpaku oleh satu sosok kharismatik dan inspiratif seperti seorang Liam Gallagher dan Ian Brown. Yang ketiga adalah konser yang membawakan suasana damai seperti konser Travis. Yang keempat tipe konser di mana konsep musikalis dan visual dipersembahkan secara sempurna seperti yang bisa disaksikan dalam konser Radiohead, dan yang terakhir adalah tipe konser di mana baik penonton dan bandnya merasakan bahwa pertunjukkan musik yang sedang mereka nikmati bersama, adalah waktu di mana semua orang memiliki waktu untuk bersenang-senang, tanpa satu pikiran haram terbersit di kepala. Minggu lalu, waktu Vampire Weekend mempersembahkan musik dan diri mereka di hadiran penonton yang berserak dalam Bengkel Night Park, adalah tipe konser yang disebut terakhir.

Memecah malam dengan “Holiday”, Ezra Koenig, Rostam Batmanglij, Chris Baio, dan  Chris Tomson menyampaikan pesan bahwa malam itu adalah milik Vampire Weekend dan semua fansnya yang hadir di arena konser tersebut. Seketika setiap jiwa seperti meninggalkan sementara apa yang terdapat di luar area Bengkel Night Park, melarikan diri ke tempat berliburnya masing-masing, dihanyutkan dalam musik lagu tersebut.

Dari lagu pertama tersebut, keempat personil Vampire Weekend tampak seperti sedang dalam modus terbaiknya. Dimulai dari Rostam di sebelah kanan panggung yang terkadang tampak seperti mengawang sendirian menikmati lagu, seperti mengatakan di atas panggung itu adalah tempat terbaik di dunia, dan di sana ia ingin berada. Ezra, mengenakan kaus coklat bercorak tradisional Indonesia yang senada dengan gitar semi-hollow andalannya sesekali berjingkat ke depan panggung untuk menganimasikan penonton ikut berdansa dengan dirinya. Baio di sebelah kiri panggung, ikut berdansa dengan basnya sendiri, dan sosok penampilannya malam itu seperti salah satu tokoh dari sitkom “How I Met Your Mother” sosok komedi-nerdie dengan sentuhan artistik yang tidak berlebihan. Sedangkan di belakang, mengenakan seragam basket New Jersey, Tomson menggebuk drumnya dengan penuh efektifitas dan mendorong beat malam itu.

Di pertengahan set mereka memainkan secara berturut-turut tiga lagu pamungkas yang menjadi puncak malam itu “Cousins”, “Run” dan “A-Punk”. Perasaan sensasional penuh ekstase membumbung tinggi area konser dengan ketiga lagu tersebut. “Cousins” adalah langkah berani Vampire Weekend, karena lagu tersebut adalah lagu Vampire Weekend yang paling mendekati punk-rock, kalau kalian mau mendefinisikannya demikian, tapi lihat semua orang berdansa dengan lagu tersebut. “Run” adalah nostalgia pelarian manusia-manusia yang sudah terlalu penat dengan pekerjaan, dan dibawakan langsung oleh Vampire Weekend lagu itu terdengar sangat fantastis, terutama di bagian terakhirnya, di mana di bawah siraman tata cahaya panggung yang menyilaukan, keempat anggota Vampire Weekend berkolaborasi membikin sebuah dinding suara menakjubkan, diawali oleh manisnya suara bas Baio yang menggelitik, lalu diterjang dengan synth Batmanglij dan distorsi aneh dari gitar Koenig. Memperkenalkan “A-Punk” sebagai the easiest song to dance to, suara gitar Koenig lalu benar-benar memerintahkan setiap pasang kaki yang ada di ruangan itu bergerak tidak teratur mengikuti iringan melodi lagu tersebut.

Pada “Giving Up The Gun”, dengan cantiknya beberapa penonton di barisan depan mengangkat tinggi-tinggi kertas bertuliskan “Go On” mengiringi nyanyian yang sama di bagian belakang lagu itu. Sekali lagi atmosfir bersenang-senang bahagia terpancar di setiap wajah orang yang hadir waktu lagu itu dinyanyikan. Vampire Weekend menutup set utama mereka dengan “Campus” yang dimainkan secara medley dengan “Oxford Comma”, sebelum kembali untuk melakukan encore 3 lagu: “Horchata”, “Mansard Roof” dan “Walcott”.

Malam itu terbukti, bahwa Vampire Weekend bukanlah band yang menpolarisasi, mereka adalah band yang menyatukan. Dengan musik unik menyegarkan mereka dicintai para fans musik indie, dan juga untuk alasan tertentu mereka juga digemari oleh anak-anak muda yang sebenarnya lebih cocok menjadi fans musik jenis lain daripada jenis musik yang dibawakan Vampire Weekend. Tapi diberkatilah Vampire Weekend karena semua hal itu, karena mereka telah menyuguhkan mimpi singkat yang akan membekas lama, bagi orang-orang yang telah menyaksikan mereka di Bengkel Night Park 24 Oktober 2010 lalu.

David Wahyu Hidayat

03
Okt
10

Konser Review – The Lightning Seeds, Jakarta 02 Oktober 2010

The Lightning Seeds

Jakarta – Lapangan D Senayan

Sabtu, 02 Oktober 2010

Setlist:

All I Want, Sense, What If…, Flaming Sword (Care cover), You Showed Me (The Turtles cover), Be My Baby (The Ronettes cover), Lucky You, Change, Marvellous, Three Lions, Imaginary Friends, Ready Or Not, The Life Of Riley, Sugar Coated Iceberg, Pure

Review:

Untuk seseorang yang melewati masa SMA di pertengahan 90-an, britpop adalah soundtrack untuk setiap momen yang terjadi di masa itu, dan hari-hari di mana The Lightning Seeds menghiasi ruang nada perjalanan dari rumah ke sekolah, akhir pekan, atau dikumandangkannya “Three Lions” satu musim panas lamanya selama menyaksikan Euro 96, adalah bagian esensial dari masa tersebut.

Satu rentang waktu, di mana tingkat kebahagiaan dipicu oleh lagu-lagu tersebut, tanpa harus dicemari dengan keabsurdan ponsel, internet dan kegilaan dunia maya lainnya. Untuk orang-orang seperti itu, tahun 2010 ini, seperti sebuah tahun yang terlalu indah untuk jadi kenyataan. Setelah diberikan kesempatan menyaksikan Ian Brown langsung pada Agustus lalu, pada Sabtu 02 Oktober 2010, satu kesempatan diberikan lagi, untuk menyaksikan The Lightning Seeds di kota yang sudah hampir tenggelam tapi tetap kita cintai ini, di Jakarta.

Bertempat hanya beberapa ratus meter dari konser Ian Brown 2 bulan sebelumnya, di sebuah lapangan bola yang malam itu berubah menjadi Glastonbury versi Jakarta dengan hamparan lumpur akibat hujan yang mengguyur Jakarta seharian, The Lightning Seeds berdiri di sana memberikan realita manis terhadap sebuah mimpi yang dalam umur manusia yang singkat ini tidak pernah disangka akan menjadi kenyataan malam itu.

Dengan set sangat minimalis, hanya ditemani oleh kibordis, basis dan seorang drummer, Ian Broudie dengan gitarnya berdiri di tengah panggung, kaca mata, jaket, persis seperti yang selalu kita bayangkan akan sosok Ian Broudie dan yang selalu kita lihat dalam video klip mereka satu dekade yang lalu. Dan mereka tampak dalam mood yang sangat baik malam itu, “You Showed Me” dimainkan dengan outro psikedelik yang bisa saja terjadi karena ia terlalu banyak bergaul dengan kakak-beradik Skelly dari The Coral. Di awal setnya, mereka lalu memainkan “Lucky You”. Ini adalah antem 90-an yang menaikkan level endhorphine lapangan D Senayan secara kolektif ke tingkat paling tinggi.

Lagu demi lagu, tingkat kebahagiaan itu makin memuncak seiring dengan perasaan tidak percaya yang dihiasi dengan senyuman di bibir karena melihat yang dilihat di depan mata adalah benar-benar The Lightning Seeds, bukan sekedar cover band handal yang memainkan lagu-lagu mereka. Dan Ian Broudie beserta bandnya juga turut mengambil peran besar mewujudkan fantasi kita, dengan pilihan lagu-lagunya. Malam itu, mereka memainkan sebuah versi akustik sangat mengagumkan dari “Marvellous”. Bahkan dimainkan secara akustik pun, lagu tersebut masih terdengar megah, dan di momen seperti itulah nyata kebesaran sebuah musik pop.

Seakan tidak peduli lagi dengan lumpur yang sudah membuat sepatu dan jeans yang dikenakan menjadi tidak berbentuk, kita larut tergenang bersama gulali musik yang ditawarkan oleh The Lightning Seeds dengan membawakan “Sugar Coated Iceberg”, “Imaginary Friends” dan “Ready Or Not” dari album “Dizzy Heights”. Di pertengahan set mereka bahkan membawakan “Three Lions”. Pertandingan di mana Paul Gascoigne mencetak gol paling hebat satu dekade ke gawang Skotlandia di Wembley lama, terkias kembali di kepala. Kalian boleh katakan ini nostalgia, tapi sejujurnya ini adalah kehidupan dalam format terbaiknya.

Set mereka malam itu ditutup dengan “Pure”. Hanya langit hitam Jakarta yang masih dapat membatasi kebahagiaan itu. Di bawahnya adalah ratusan senyum. Senyuman yang selama konser itu berlangsung, diiringi dengan perasaan tidak percaya bahwa semuanya itu adalah kenyataan, tetapi malam itu semuanya benar-benar terjadi. Dalam genangan lumpur kita ditenggelamkan The Lightning Seeds ke salah satu momen terbaik dalam hidup ini. Satu momen yang akan membekas dalam kesederhaan dan keindahan musik band tersebut untuk selamanya.

David Wahyu Hidayat


08
Agu
10

Konser Review: Ian Brown – Jakarta, 06 Agustus 2010

Ian Brown

Jakarta – Lapangan Basket ABC Senayan

Jumat, 06 Agustus 2010

Setlist:

I Wanna Be Adored, Time Is My Everything, Crowning Of The Poor, Golden Gaze, Love Like A Fountain, Dolphins Were Monkey, Save Us, Keep What You Got, Vanity Kills, Own Brain, Corpses In Their Mouths, Longsight M13, Marathon Man, Sister Rose, F.E.A.R.

Encore: Stellify, Just Like You, Fools Gold

Review:

Hari bersejarah itu bertanggalkan 06 Agustus 2010. Selama ini, sosok mistis itu hanya bisa dinikmati dalam bentuk kumpulan CD dari band legendaris yang digawanginya dan solo karirnya sendiri. Penampilan panggungnya hanya dapat dilihat dan didengar dari puluhan bootleg, dengan kualitas yang seringkali bukan dalam kondisi terbaiknya. Tetapi, pada malam di mana Jakarta dibasahi hujan seperti layaknya Manchester di hari terkelamnya, ratusan manusia berkumpul, ratusan manusia yang merasa dirinya menjadi murid-murid seorang mesias yang mengubah hidup mereka untuk selamanya dan memberikan inspirasi termurni. Mereka datang untuk menjadi bagian dari sejarah, dari potongan waktu di mana semustahil apapun itu terdengarnya, untuk menyaksikan Ian Brown berdiri di atas panggung Jakarta.

Pukul 23:30, dengan dentuman bas yang mengawali “I Wanna Be Adored” momen bersejarah itu dimulai. Sang King Monkey memasuki arena pertandingan, terlihat tajam dengan potongan training berwarna kuning yang dikustomisasi khusus untuk dirinya, kacamata hitam, tambourine di tangan, berdansa seperti yang kita kenal selama ini dari dirinya. Tidak akan pernah keabsurdan senyata dan seindah menit-menit pertama konser ini, tidak sebelumnya, dan tidak akan pernah sesudahnya.

“Time Is My Everything” melanjutkan konser tersebut, diawali dengan tiupan trumpet yang menjadi intro lagu itu. Brown, melepas kacamata hitam dan training jaketnya hanya untuk memperlihatkan sebuah kaos hitam bertuliskan Working Class Hero. Selalu mencitrakan sikap seorang yang pemberontak dengan caranya sendiri, Brown menginjak-injak bendera Union Jack yang diberikan salah seorang penonton dalam “Crowning Of The Poor”.

3 lagu yang mengikuti sesudahnya adalah tanda-tanda kejeniusan Brown di awal karirnya sebagai solo artis. Dengan membawakan “Golden Gaze”, “Love Like A Fountain”, dan “Dolphins Were Monkeys” murid-murid sang mesias yang terhampar di lapangan basket yang berubah sesaat menjadi lantai dansa itu, dipenuhi euforia yang hanya dapat dibatasi oleh langit hitam Jakarta.

Setlist yang ia bawakan malam itu memang seperti sebuah greatest hits yang menghiasi solo karirnya selama ini. Nomor-nomor seperti “Keep What You Got”, “Longsight M13”  dan “Corpses In Their Mouths” berdiri sejajar dengan lagu-lagu dari album “My Way” seperti “Vanity Kills”, “Own Brain” dan “Marathon Man”. Dalam setting sebuah konser, lagu-lagu terdengar lebih masuk akal, terlebih dengan permainan perkusi Inder Goldfinger yang cukup menarik perhatian mata di sisi kanan panggung.

Setelah mempersembahkan “Sister Rose” for the ladies, Brown menutup set utamanya malam itu dengan “F.E.A.R”. Ia pernah mengakui bahwa ini adalah lagu terbaik yang pernah ia ciptakan, dan dengan kata-katanya yang hanya dirangkai dari 4 huruf tersebut, serta melodi seperti anestesi, membuat semua orang yang ada di sana malam itu dibawanya mengawang merengkuh keabadian.

Brown kembali untuk melakukan encore, yang diawalinya dengan “Stellify”, dan betapa lagu itu adalah seorang pembunuh yang akan menumpaskan segala keresahan kita. Kemegahan dan kebangaan semuanya terpancar dalam lagu itu. Setelah “Just Like You”, akhirnya, malam itu mencapai klimaksnya dalam “Fools Gold”. Segala keabsurdan yang telah diawali dalam “I Wanna Be Adored” di pembukaan konser ini, menjadi semakin absurd lagi, dan semua yang ada di sana tidak ingin semuanya itu berakhir.

Di tengah segala euforia yang terjadi, di tiap detik yang terlewati bagaikan mimpi yang terlalu indah untuk terjadi, ketika Ian Brown memainkan tambourinenya dan memamerkan gerakan-gerakan andalannya sambil memancarkan kharismanya yang tanpa batas, dan seiring dengan itu kita berdansa sambil menengadah ke pekatnya langit hitam Jakarta dengan dua tangan ke atas bersyukur atas apa yang telah terjadi, seorang penonton di barisan depan mengucapkan sebuah kata yang menjadi perwakilan dari perasaan semua orang yang ada di sana. Kata-kata yang diucapkan penonton itu adalah “TERIMA KASIH TUHAN”.

David Wahyu Hidayat

25
Okt
09

Konser Review: Efek Rumah Kaca & Polyester Embassy – Urban Fest 2009, 24 Oktober 2009

Sabtu siang yang cerah, mereka yang ingin melarikan diri dari jebakan penuh godaan mal-mal Jakarta, menemukan dirinya di Pasar Seni, Ancol. Di sana, di bawah teriknya Matahari Ancol, dan tiupan angin lemah Laut Jawa, Urban Fest 2009 digelar. Sebuah acara yang menggabungkan pertunjukkan band dan pameran seni lainnya, serta kreatifitas kehidupan Urban.

Di hari pertama acara tersebut, 2 band yang bisa dibilang masuk dalam salah satu yang terbaik yang dimiliki negeri ini, mengisi panggung yang berada di Urban Fest 2009. Band yang pertama adalah Efek Rumah Kaca. Mengisi panggung utama di waktu yang kelewat dini pada pukul 15:30, mereka berhasil menarik pengunjung awal yang berkeliaran di Urban Fest kemarin. Dengan materi yang dipadukan dari album pertama dan kedua, mereka terdengar sangat berbahaya, didukung dengan tata suara cukup baik yang menjadikan suara Cholil terdengar agung dan penuh misteri, terutama di nomor yang dijadikan penutup set mereka waktu itu, “Jalang”. Lagu – lagu seperti “Kau Dan Aku Menuju Ruang Hampa” terdengar mengagumkan, sosok Cholil seperti seorang seniman yang mendalami musiknya dengan sangat dan itu dirasakan mereka yang melihatnya. Dalam “Di Udara”, “Mosi Tidak Percaya” dan “Menjadi Indonesia” mereka tidak hanya memainkan sebuah karya yang menunjukkan kepedulian terhadap apa yang terjadi dengan negeri ini, tetapi juga menujukkan kalau mereka berada di kelasnya tersendiri. Efek Rumah Kaca telah membuka Urban Fest 2009 dengan penampilan yang dashyat.

Memasuki malam, udara lembab masih menguasai pasar seni waktu Polyester Embassy menaiki panggung Prambors. Seperti biasa mereka terdengar solid, memulai dengan sebuah instrumentalia, yang disusul oleh “Orange Is Yellow”. Sebuah nomor baru “Later On” mengalir dengan melodik di tengah perpaduan bas Tomo dan gitar Sidik, yang lalu di bagian akhirnya disambung dengan permainan kibor Elang, dan respon tepuk tangan penonton yang mengiringi seperti instrumen ritmus tambahan. Lagu – Lagu lama seperti “Good Feeling” dan “Polypanic Rooms” memberikan atmosfir sebuah gig yang intim di tengah-tengah kehingarbingaran Urban Fest malam itu. Set mereka malam itu ditutup dengan Fake/Faker, masih dalam balutan suara ethereal yang menghanyutkan, di bawah langit Ancol yang memberikan kita pelarian dari kehidupan urban malam itu.

David Wahyu Hidayat

Efek Rumah Kaca memainkan: Banyak Asap Di Sana, Balerina, Sebelah Mata, Kau Dan Aku Menuju Ruang Hampa, Mosi Tidak Di Percaya, Di Udara, Menjadi Indonesia, Jalang

Polyester Embassy memainkan di antara lain: Orange Is Yellow, Later On, Good Feeling, Polypanic Rooms, Fake/Faker.

Foto-foto dari penampilan mereka bisa dilihat di bawah ini:

IMG00226-20091024-1531

IMG00227-20091024-1531

IMG00228-20091024-1532

IMG00228-20091024-1532

IMG00229-20091024-1532

IMG00230-20091024-1538

IMG00231-20091024-1538

IMG00233-20091024-1845

IMG00235-20091024-1845

IMG00236-20091024-1846

IMG00238-20091024-1847

IMG00239-20091024-1847

IMG00240-20091024-1851

IMG00241-20091024-1852

07
Agu
09

Konser Review: Phoenix – Bengkel Night Park Jakarta, 01 Agustus 2009

Phoenix

Beatfest 2009

Bengkel Night Park, Jakarta

01 Agustus 2009

Band Pembuka: Naif, The S.I.G.I.T, Rock ‘n’ Roll Mafia

Setlist:

Lisztomania, Long Distance Call, Consolation Prizes, Lasso, Napoleon Says, Funky Squaredance, Rally, Girlfriend, Armistice, Love Like A Sunset, Run Run Run, Sometimes In The Fall, Rome

Encore: Playground Love, If I Ever Feel Better, Too Young, 1901

IMG00087-20090801-2239

Review:

Kami tidak takut, kami ingin berpesta dan berdansa sampai malam, karena tidak ada yang dapat menghalangi kami menikmati hidup ini. Kalau ada slogan tidak ofisial dari pagelaran Beatfest 2009 di Bengkel Night Park, Jakarta 01 Agustus yang lalu, mungkin bunyinya akan seperti itu. Pasca pemboman Marriot-Ritz 2 minggu sebelumnya, semua muda-mudi Jakarta berpesta tanpa kuatir sedikitpun akan ada sesuatu yang akan berjalan salah.

Perayaan malam itu dimulai dengan penampilan Naif, yang disusul dengan suguhan bombastis dari The S.I.G.I.T. Makin sering melihat penampilan mereka, sepertinya mereka semakin matang dari segala sisi. Mereka beraksi seperti layaknya seorang rock star sejati, memainkan lagu rock yang memukau semua orang. Seakan mereka sudah terlalu besar untuk negeri ini, dan tidak ada lagi yang dapat menahan sepak terjang mereka. Memainkan lagu – lagu antemik seperti “Did I Ask Your Opinion”, “Clove Doper”, dan “The Party” mereka memberikan segalanya, dengan aksi panggung maksimal yang berporos di permainan gitar Rekti dan Farri. Di lagu “Midnight Mosque Song” mereka mempersembahkan sebuah homage kepada pahlawan musikalis pribadi mereka, Led Zeppelin, dengan Farri yang mengambil tungkai gesek biola dan memainkannya pada gitarnya disusul dengan riff gitar yang mengingatkan kita dengan sangat pada “Babe I’m Gonna Leave You”. Menutup set mereka dengan “Black Amplifier”, Bengkel Night Park terpana dengan kedashyatan The S.I.G.I.T malam itu.

Tak lama setelah penampilan Rock ‘n’ Roll Mafia, band pemuncak malam itu, Phoenix,  tampil di atas panggung Bengkel Night Park. Menggebrak dengan “Lisztomania”, semua orang yang hadir di Bengkel malam itu membuktikan bahwa Jakarta bukanlah tempat yang perlu ditakuti, tetapi tempat paling menyenangkan yang pernah dimiliki negeri ini. Semua orang berdansa tanpa terkecuali. Disusul dengan “Long Distance Call” dan sebuah nomor Housemartin-esque “Consolation Prize” menaikkan kadar endorphine semua orang di Bengkel. Bagai sebuah kejutan yang menyenangkan, Phoenix di set utamanya cukup banyak memainkan lagu dari album “It’s Never Been Like That”, selain 2 lagu yang disebut di atas mereka juga memainkan “Napoleon Says” dan “Rally” yang diselingi oleh sebuah versi singkat mencengangkan dari “Funky Squaredance”.

Salah satu pemuncak malam itu adalah waktu band asal Perancis tersebut memainkan “Love Like A Sunset”. Dengan penataan cahaya yang memukau, yang terkadang memperlihatkan Phoenix sebagai sebuah siluet majestik di atas panggung, lagu tersebut berfungsi dengan maksimal untuk menghinoptis penonton yang terpukau oleh keagungan sosok band tersebut. “Sometimes In The Fall” yang juga dari album “It’s Never Been Like That” dimainkan di penghujung set utama mereka yang lalu dipungkasi dengan “Rome”.

Setelah secara obligatoris Phoenix menghilang dari atas panggung, Thomas Mars kembali dengan hanya ditemani oleh Christian Mazzalai. Mereka lalu meluncurkan sebuah nomor dari Air “Playground Love”, yang menjadi soundtrack film “Virgin Suicides”, sebuah film yang disutradai oleh pasangan hidup Mars, Sofia Coppola. Ada sesuatu yang magis dalam keheningan suara waktu mereka memainkan lagu tersebut. Keheningan itu tapi tidak dibiarkan lama, karena dengan susunan penuh Phoenix memberikan segalanya dalam “If I Ever Feel Better” dan “Too Young”. Tak pelak lagi semua orang di bengkel juga berdansa seakan di negeri ini tidak pernah ada ancaman bom, seakan negeri ini adalah negeri yang paling mengagumkan di seluruh bumi, dan mungkin pada momen itu, hal tersebut adalah fakta.

Suara sonar yang mengawali “1901” adalah permulaan dari sebuah akhir. Sebuah pamungkas dalam suguhan yang terasa terlalu singkat. Malam itu generasi Twitter negeri ini mendapatkan pestanya. Malam itu mereka menjadikan negeri ini menjadi sebuah kesatuan, melalui musik. Melalui sebuah perayaan, tanpa mengenal rasa takut. Dan sudah seharusnya kita selalu bersikap seperti itu.

David Wahyu Hidayat

21
Jun
09

Konser Review: The SIGIT – The Dyslexia Concert – Bandung, The Venue Eldorado, 20 Juni 2009

The S.I.G.I.T

The Dyslexia Concert

Bandung – The Venue, Eldorado

20 Juni 2009

Band Pembuka: Jack & Four Men, Monkey To Millionaire, Speaker 1st

IMG00026-20090620-2112 - Copy

Sabtu Malam, 20 Juni 2009. Langit Bandung bertaburkan bintang, udara sejuk menembus kulit dan tulang sekitar 3000 orang yang berbalutkan kaos dan aksesoris lain, memproklamirkan diri mereka sendiri untuk melakukan sebuah pemujaan kepada suatu wujud bernama rock ‘n’ roll. Di dalam gedung The Venue, Eldorado Bandung, sebuah panggung besar telah siap untuk penyembahan tersebut, lengkap dengan kain latar belakang raksasa yang menjadi sentral dari pemujaan yang akan terjadi selama 2 jam berikutnya. Kain itu bergambarkan sebuah lingkaran yang dikelilingi dengan sambaran petir, di dalamnya tertera rangkaian kata yang bertuliskan The Super Insurgent Group Of Intemperance Talent. 2 buah kata di bawahnya tertulis alasan mengapa kita semua berada di sana malam itu: “The Dyslexia” merujuk kepada kepingan musik bernama “Hertz Dyslexia” yang dirilis pada malam konser tersebut. Semuanya terasa benar, seakan tidak ada plot yang lebih tepat lagi untuk mengungkapkan ambisi. Untuk The SIGIT, malam itu adalah saatnya. Di The Venue, Eldorado Bandung malam itu mereka menunjukkan ambisi untuk menampilkan visualisasi dari kesempurnaan ide mereka. Ide itu tidak lain dan tidak bukan bernama: Rock ‘n’ Roll.

Perayaan malam itu dibuka dengan “Black Amplifier”, dan lihat 3000 orang di ruangan tersebut menyembah kepada titisan rock ‘n’ roll dalam wujud Acil, Adit, Farri dan Rekti. Sejak menit pertama The SIGIT menampilkan sebuah kesempurnaan. Kalau kita membutuhkan musik yang akan menghempaskan kita berulang kali setiap kali kita mendengarnya, dengarkan mereka malam itu, dan kita semua tidak memerlukan apa-apa lagi di dunia selain musik mereka. Dengan sebuah blitzkrieg, set mereka malam itu diteruskan dengan “Let It Go”, “Horse” dan “Damned Woman” di mana di antara lagu – lagu tersebut, Rekti menyapa semua pasukannya malam itu dengan seruan “Malam ini, di tempat ini, politik dan uang tidak ada artinya”. Dan kita pun menyambutnya, dengan kepalan tangan di udara, berteriak histeris sambil berdansa liar seakan kita telah menjadi pahlawan-pahlawan baru bangsa ini.

Memasuki pertengahan konser Rekti mengganti gitar Gibson SG-nya dengan sebuah gitar akustik, dan mulai memainkan “Provocateur” seperti sebuah kidung untuk jiwa-jiwa yang terselamatkan di The Venue malam itu. Dibantu dengan permainan kibor oleh Sidiq dari Polyester Embassy dalam “Live In New York”, rangkaian nomor akustik itu dilanjutkan. Dengan gedung konser yang lalu dipenuhi cahaya bintang artifisial berwarna putih dan biru merefleksikan langit Bandung malam itu, lagu tersebut terdengar lebih dari hanya sekedar impian fana. Mendengarnya malam itu, kita dibuat untuk percaya bahwa sesuatu yang magis akan terjadi bila kita cukup percaya untuk meyakininya dan membuatnya terjadi. The SIGIT lalu melanjutkannya dengan sebuah nomor dari Neil Young berjudul “Only Love Can Break Your Heart” yang juga terdapat di “Hertz Dyslexia” EP.

IMG00032-20090620-2114

Puas dengan ekskursinya malam itu ke area akustik, The SIGIT menggebrak lagi dengan “Alright” dan “The Party”, di mana di lagu yang disebutkan terakhir Acil seperti kesetanan menggebuk perangkat drumnya, bertarung tanpa henti dengan perangkat yang ada di depannya seperti hendak meruntuhkan dinding The Venue. Sebuah lagu lain dari “Hertz Dyslexia” berjudul “Bhang” menampilkan sisi kecermatan The SIGIT dalam mengusung rock ‘n’ roll. Di tengah teriakan Rekti dan raungan gitar Farri, Rekti memainkan suling/rekorder, menimbulkan sisi kejutan dalam dinamika lagu tersebut.

Akhir dari set utama The SIGIT malam itu diawali dengan “Did I Ask Your Opinion” yang dipenuhi dengan seruan massal pasukan The SIGIT untuk menjual jiwanya kepada rock ‘n’ roll. Setelah lagu itu, dengan dibagikannya puluhan tamburin kecil, Rekti mengajak penonton untuk melakukan jamming raksasa pada lagu terakhir di set utama tersebut “Nowhere End”. Kita semua tidak tertahankan lagi menjadikan malam itu sebagai sebuah perayaan tanpa henti. Di atas panggung seluruh anggota band pembuka malam itu, Jack & Four Men, Monkey To Millionaire, Speaker 1st serta Sidiq juga ikut berpartisipasi dalam perayaan itu, dengan menabuh perkusi dan segala sesuatu yang bisa dipukul, menjadikan lagu itu sebagai pamungkas yang layak untuk set utama mereka.

Dengan tak dibiarkan menunggu lama, The SIGIT kembali ke panggung untuk menusuk kembali jiwa kita dengan “Clove Doper” dan “Soul Sister”. Rekti dan Farri kembali berduel gitar, masing-masing berusaha menaklukkan yang lainnya, tapi yang terdengar oleh kita adalah keduanya keluar sebagai pemenang yang menaklukkan telinga dan hati kita. Dihabisi dengan “Money Making”, mata uang The SIGIT menghujani penonton dari langit-langit The Venue. Selesai sudah dua jam penuh ambisi dan kemagisan. Sebuah kesempurnaan yang seperti datang dari negara lain. Kita hanya tersungkur kagum terkesima akan keajaiban yang baru saja dialami.

Di luar, langit Bandung masih terhiasi dengan kumpulan bintang yang menyinari kita semua, orang – orang beruntung yang telah menjadi bagian dari sesuatu yang spektakuler. The SIGIT membuktikan, tidak akan pernah ada kata terlalu kecil untuk memenuhi sebuah ambisi. Mereka telah membuat diri mereka sendiri menjadi besar melalui konser tersebut, dalam skala pertunjukkan itu diadakan, dengan kesempurnaan dalam musik yang mereka mainkan. Kita semua adalah saksi mereka malam itu. Sebarkan ini ke semua orang di luar sana.

David Wahyu Hidayat

07
Jun
09

Konser Review – Polyester Embassy – Eplex, Bandung 06 Juni 2009

Polyester Embassy

Bandung – Eplex, Paris Van Java

Sabtu, 06 Juni 2009

Setlist:

F# Noise, Lover Is Dead, Good Feeling, Falling Down, Orange Is Yellow, A waiting, Ghost Behind My back, Polypanic Rooms, Live the Dream, Fake, Faker

Polyester Embassy - 06 Juni 2009 - 2

Review:

Kita membutuhkan pahlawan, atau? Di saat di mana dunia mengatakan manusia sedang mengalami krisis, di waktu di mana kita berada di persimpangan apakah lebih baik melanjutkan, atau menjalankan sesuatu lebih cepat tapi tanpa pembuktian, atau melakukannya segalanya lebih megah dengan konsep yang meragukan. Di saat seperti ini, kita mencari sesuatu yang kembali menginspirasikan kita, sesuatu itu tidak perlu besar, atau penuh dengan janji dan polesan untuk memukau massa. Sesuatu itu cukup dari kemampuan untuk selalu menantang diri melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan sebelumnya, menemukan diri di sebuah teritorial baru yang menghempaskan jiwa dengan suara – suara yang luar biasa ampuh untuk merobek telinga ini.

Dalam sebuah perhelatan acara perdana yang ditelurkan oleh ffwd bertajuk Interlude, Polyester Embassy memainkan sebuah set ambisius yang memukau. Ini adalah inspirasi yang kita cari selama ini, mereka adalah pahlawan yang akan memenangkan pertarungan kita melawan semua kefanaan melodi pasar yang tingkat kekomediannya sudah mencapai tahap yang tidak dapat ditoleransi lagi.

Malam itu mereka memainkan rangkaian lagu yang memadukan karya dari album perdana mereka “Tragicomedy” dengan lagu – lagu yang mungkin menjadi kandidat untuk dimasukkan ke rilisan mereka berikutnya. Diawali sebuah intro instrumentalis yang terdengar tajam, setiap pasang telinga yang mendengarkan dan setiap pasang mata yang menyaksikan Polyester Embassy di Eplex malam itu merasakan kalau mereka sebagai sebuah band telah maju selangkah lagi, mendorong kemampuan mereka menuju ruangan tanpa batas dalam mengeksplorasi musik mereka. Lagu – lagu baru yang dimainkan terdengar mengagumkan. Dipersenjatai oleh berbagai macam keyboard/synth selain dengan 4 gitar yang tersedia di beberapa lagu, Polyester Embassy melakukan pesta pora liar musik yang seperti datang dari pesawat antariksa yang dikirimkan dari masa depan ke sebuah dataran tinggi bernama Bandung. Kehadiran gitaris/kibordis/noisemaker baru Nims di antara personil Polyester Embassy, menambah keinovatifan musik mereka yang ditampilkan jelas malam itu di depan publikum Eplex.

Polyester Embassy - 06 Juni 2009 - 5

Memasuki intro “Polypanic Rooms” kita mendengarkan sebuah himne oleh Elang, Tomo dan Ekky yang menyanyikan penggalan lirik lagu tersebut tanpa iringan satu instrumen sekalipun. Kita mendengarkan “Is anybody there can watch me, Is anybody there can hear me, And I feel lost and I feel empty Is anybody there can feel me” seperti sebuah ketenangan sebelum badai bas Tomo menghempaskan kita menuju nirwana musik dan suara dalam ruangan-ruangan polypanic yang memancarkan keagungan. Lagu setelahnya, kembali sebuah instrumentalia yang mengiris tajam dengan suara gitar yang berubah bagaikan pukulan – pukulan yang menjatuhkan semua kehampaan dan kefrustasian yang berada disekeliling kita.

Mengakhiri set mereka dengan “Fake” dan “Faker”, dua lagu kembar yang mempunyai karakter bertolakbelakang, yang pertama berfungsi sebagai ajakan menuju sisi gelap yang manis memabukkan, yang kedua adalah sebuah lagu yang mengembalikan kita kepada sebuah tempat yang terlepas dari segala kepalsuan, Polyester Embassy meletakkan sebuah klimaks pada penampilan mereka. Tidak ada lagi yang dapat dikatakan, mereka telah memberikan semuanya, dan semuanya itu adalah yang terbaik yang dapat kita nikmati saat ini. Bila tidak dirundung oleh masalah sound yang sayangnya menyertai penampilan Poyester Embassy malam itu, mungkin kita telah menyaksikan sesuatu yang sudah lama kita cari selama ini. Sesuatu yang legendaris. Tapi terlepas dari semuanya, malam itu di sebuah tempat bernama E-plex pada tanggal 06 Juni 2009 kita telah menjadi bagian dari sesuatu yang mengagumkan. Polyester Embassy telah melakukan sesuatu yang gagal dilakukan oleh banyak orang di negeri ini, karena dengan konser mereka malam itu, mereka telah memberikan kita sebuah sebuah pencerahan.

David Wahyu Hidayat

10
Mei
09

Konser Review: The S.I.G.I.T – Jakarta, 09 Mei 2009

The S.I.G.I.T

Jakarta – Kamasutra, Crowne Plaza Hotel

Sabtu, 09 Mei 2009

IMG00131-20090509-2216


Bila dibandingkan dengan Ricky Hatton, Manny Pacquiao terlihat terlalu religius untuk ukuran seorang pembunuh di atas ring tinju. Tapi sengatannya membuat “The Hitman” asal Manchester itu terkapar setelah 2 ronde. Menusuk tajam bagai kilat yang tak terdeteksi. Dalam analogi yang sama, mungkin tidak akan pernah ada yang menyangka kalau dengan kepercayaan 4 orang terhadap sesuatu bernama rock ‘n’ roll, sebuah grup pemberontak super dengan intemperasi talen asal Bandung bisa sampai ke Amerika Serikat untuk memainkan musik yang datang dari sudut paling dalam jiwa mereka. The SIGIT telah menjadi sebuah fenomena dalam artiannya sendiri, sebelum ada orang yang sempat mengira bahwa mereka sebenarnya sudah terlalu kecil untuk bermain di kolam musik yang sama dengan band – band lokal lainnya.

Sabtu malam itu, tanggal 09 Mei 2009, jauh dari kehingarbingaran SXSW di Texas, dalam sebuah acara yang diusung oleh FHUI untuk mendukung penyelamatan hutan tropis, di sebuah hotel di jantung Ibukota yang mungkin terlalu steril untuk menunjukkan keganasan rock ‘n’ roll, The SIGIT melakukan pembuktian akan label fenomena yang dilekatkan ke diri mereka. Dalam sebuah set yang terlalu pendek sepanjang 40 menit, The SIGIT menunjukkan mengapa mereka adalah Manny Pacquaio di dunia rock ‘n’ roll ini. Lupakan Jet, Mando Diao, dan band – band sekunder lainnya di dunia ini. Mengapa harus mengacu ke mereka, kalau kita dapat memuja The SIGIT dalam segala kebesaran mereka?

Mengawali set malam itu dengan “Clove Doper”, The SIGIT langsung menggebrak, tidak peduli akan sekitar, raungan gitar mereka memenuhi setiap sudut gelap Kamasutra. Dari awal mereka sudah menunjukkan totalitas, Rekti menyanyi seakan ia esok akan lenyap dari muka bumi ini, diculik oleh manusia Mars untuk melakukan pertunjukkan rock ‘n’ roll di planet merah itu. Di ujung sebelah kanan panggung, Farri berbaku hantam dengan kapak enam senarnya yang berwujud sebuah Gibson Les Paul berwarna emas, mengeluarkan rif – rif maut. Di sebelah kiri, kita menemukan seorang rock star sejati dalam diri Aditya Bagja Mulyana, sang pemain bas. Di belakang, Donar menggempur drumnya tanpa ampun. Serangan penuh hasrat itu dilanjutkan dalam lagu – lagu selanjutnya seperti “Alright” dan “The Party”.

Memasuki “Soul Sister” The SIGIT mencoba membuat manusia-manusia muda yang hadir di Kamasutra untuk menaikkan temperatur emosionalnya menuju titik didih, dengan vokal Rekti yang melengking tinggi dan koor “La la la la la la..La la la la la la la”, seakan merobek kebuntuan sonik yang sebelumnya tercipta sebelum mereka naik ke panggung. Di gig malam itu, mereka juga memainkan beberapa lagu baru dari album kedua yang akan segera dirilis, salah satunya adalah “Money Making” dengan rif pembunuh serial yang menikam pendengaran dengan belati suara bermata dua dari suara gitar Farri dan Rekti.

The SIGIT menyudahi set mereka dengan “Black Amplifier”. Malam yang terlalu pendek untuk sebuah pesta rock ‘n’ roll, tapi seperti layaknya seorang Manny Pacquiao yang hanya butuh 2 ronde, The SIGIT hanya butuh 40 menit lebih atau kurang untuk mengkanvaskan kita semua ke dalam impian menuju surga rock ‘n’ roll. Malam itu kita menyaksikan kemenangan rock ‘n’ roll terhadap kebosanan skena musik lokal. KNOCK OUT!!!

David Wahyu Hidayat




 

Mei 2012
S S R K J S M
« Des    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Categories

Blog Stats

  • 85,710 hits

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.