Arsip untuk Desember, 2011

24
Des
11

10 Album Terbaik 2011

Bagaimana kita mengucapkan selamat tinggal kepada serentetan waktu yang telah berlalu. Terlebih ketika waktu tersebut memberikan kita momen-momen yang akan diingat dalam waktu yang lama, selama Matahari masih bersinar di atas kita? Akankah kita tersenyum tanpa henti ketika mengingat saat di mana kebahagiaan itu menoreh di hati kita? Bagaimana dengan kenangan yang menyedihkan, bagaimana kita akan mengingatnya? Akankah kita menyetel musik yang akan membuat kita tenggelam sesaat untuk mengharubiru di dalamnya lalu bangkit untuk beranjak ke sesuatu yang baru?

Tahun 2011 kita mengucapkan selamat tinggal kepada mereka yang meninggalkan kita secara musikalis. Tidak harus mortal seperti Amy Winehouse yang terlalu cepat membawa bakatnya ke dunia lain atau perginya Steve Jobs yang adalah seorang ikon digital yang mengubah cara kita mengkonsumsi informasi dan musik, tetapi juga karena beberapa orang/band memilih untuk menyudahi aksi mereka melukis awan melodi kita. LCD Soundsystem melakukannya dengan sangat gemilang melalui konser perpisahannya di Madison Square Garden New York. Sedangkan REM membubarkan diri mereka, di saat kita hendak mencintai mereka lagi ketika mendengar lagu seperti Überlin.

Tapi tahun ini juga adalah tahun di mana kita boleh merasakan karya-karya yang menandakan kembalinya mereka yang pernah berarti di kehidupan kita secara musikalis. Ada yang melakukannya dengan gempa sesaat, tetapi di akhir tahun kita lupa akan relevansi mereka seperti yang dilakukan The Strokes. Atau jika kita memilih versi yang lebih baik, ada sekumpulan orang yang melakukannya dengan paket yang hampir bisa dibilang hampir menyentuh batas kesempurnaan seperti yang dilakukan Polyester Embassy dengan albumnya Fake/Faker ataupun konser tunggal mereka Silent Yellow Ensemble di bulan Oktober 2011. Namun, kejutan terbesar tahun ini untuk urusan comeback adalah kembalinya The Stone Roses sebagai sebuah band, dengan formasi klasik Reni, Mani, Ian Brown, dan John Squire. Setelah sebelumnya bersumpah tidak akan pernah bersatu kembali dengan nama The Stone Roses, mereka akhirnya meruntuhkan tembok yang tidak dapat ditembus itu. 2012 akan menjadi pembuktian apakah legasi mereka dapat diteruskan melalui musik baru, dan penampilan live mereka.

Semuanya itu, jatuh bangunnya mereka yang kita puja secara musikalis melukiskan bahwa hidup ini sepintar apapun kita ingin menebaknya, tidak ada yang tahu, dan sebelum kita mengetahuinya ia akan menguap dengan cepat. Karena itu selama kita masih dapat melakukan segala sesuatunya, yang kita harus lakukan hanyalah menikmati hidup ini sebaik mungkin yang dapat kita lakukan. Selamat menikmati cerahnya tahun 2012.

David Wahyu Hidayat

 

 

10. Mylo Xyloto – Coldplay

Kembali di bawah panduan Brian Eno, “Mylo Xyloto” adalah album di mana Coldplay mengerahkan seluruh kemampuan bermusik mereka selama 1 dekade terakhir. Di dalam album ini, irama R ‘n’ B, gaung riff gitar tandatangan Coldplay dan suara falsetto Chris Martin bersatu menghasilkan sebuah album yang sudah selayaknya dicintai semua kalangan. Ini adalah album di mana 4 orang yang hanya bermimpi agar bandnya mempunyai kontrak rekaman, menaklukkan dunia dengan instrumen poptunist terbaik yang pernah kita dengar di abad 21. Sangat menarik, menunggu apa yang akan mereka lakukan setelah ini.

Lagu esensial: Charlie Brown, Major Minus, Us Against The World

Untuk membaca ulasan blog ini mengenai “Mylo Xyloto”, silahkan klik tautan berikut ini: http://supersonicsounds.wordpress.com/2011/12/17/album-review-coldplay-mylo-xyloto/

 

 

09. The Kings Of Limbs – Radiohead

Dirilis dengan pemberitahuan yang teramat singkat dan instan, “The Kings Of Limbs” adalah album Radiohead yang mempertahankan kecerdasan bermusik mereka. Di satu sisi dengan rangkaian blips elektronika membuat kita ingin melakukan tarian rasuk digital seperti pada “Lotus Flowers”, di sisi lain kita dicengangkan dengan suara majestik Thom Yorke seperti pada “Give Up The Ghost”. Walaupun hanya berisikan 8 lagu, namun album ini seperti juga rilisan Radiohead sebelum-belumnya merupakan sesuatu yang substansial yang tidak dapat dilewatkan begitu saja tahun ini.

Lagu esensial: Lotus Flowers, Separator, Give Up The Ghost

Untuk membaca ulasan blog ini mengenai “The Kings Of Limbs”, silahkan klik tautan berikut ini: http://supersonicsounds.wordpress.com/2011/02/23/album-review-radiohead-the-king-of-limbs/

 

 

 

08. Noel Gallagher’s High Flying Birds – Noel Gallagher’s High Flying Birds

Walaupun banyak lagu di album ini yang sudah dapat diprediksi akan terdengar seperti apa, namun kehadiran kembali Noel Gallagher adalah sebuah kelas tersendiri untuk pecinta musik Britania Raya. Dengan nomor klasik baru seperti “If I Had A Gun”, dan eksplorasi lantai dansa dengan dentingan piano pada “AKA..What A Life” dan trumpet ala New Orleans di “The Death Of You And Me”, Noel memberikan dirinya relevan di peta musik saat ini. Lalu dengan menghantarkan lagu yang sudah lama tertunda rilisnya “(I Wanna Live In A Dream In My) Record Machine” yang menyentuh kembali keintiman sebuah stadion, membuat debut album ini sebuah klasik Noel Gallagher yang kita rindukan sejak bubarnya Oasis.

Lagu esensial: If I Had A Gun, (I Wanna Live In A Dream In My) Record Machine, The Death Of You And Me

Untuk membaca ulasan blog ini mengenai “Noel Gallagher’s High Flying Birds”, silahkan klik tautan berikut ini: http://supersonicsounds.wordpress.com/2011/12/17/album-review-noel-gallaghers-high-flying-birds-noel-gallaghers-high-flying-birds/

 

 

07. Different Gear, Still Speeding – Beady Eye

Liam Gallagher adalah seorang rockstar, dan aura itulah yang ia bangun lewat Beady Eye yang diisi personil Oasis formasi terakhir minus Noel. Beady Eye adalah band yang berbeda dengan Oasis. Di album ini, Gem & Andy lebih berani mengeksplorasi lagu yang pada jaman Oasis belum tentu dapat dimainkan. Buktinya dapat kita dengar pada “Four Letter Word” yang James Bond-eske, “Millionaire” yang jingle-jangle, dan “The Beat Goes On” yang sangat mengedepankan unsur pop. Jika hal ini terus mereka pertahankan, bukan tidak mungkin kelak, Noel Gallagher akan mengiba untuk bergabung kembali dengan band ini.

Lagu esensial: Four Letter Word, Wigwam, The Beat Goes On

Untuk membaca ulasan blog ini mengenai “Different Gear, Still Speeding”, silahkan klik tautan berikut ini: http://supersonicsounds.wordpress.com/2011/03/27/album-review-beady-eye-different-gear-still-speeding/

 

 

06. All Through The Night – The Sand Band

“All Through The Night” dari The Sand Band, adalah album fajar sebuah hari yang sangat sempurna. Meski direkam dengan sangat sederhana oleh rekaman 8 track, namun hasilnya adalah suasana sebuah pagi yang masih perawan dengan slide gitar yang menghantui, suara reverb kental yang mengisi kekosongan pagi dan keindahan menyambut hari melalui lantunan melodi yang memilukan namun mengibaskan segala cemas.

Lagu esensial: Set Me Free, Open Your Wings/Interlude, To Be Where You Are

Untuk membaca ulasan blog ini mengenai “All Through The Night”, silahkan klik tautan berikut ini: http://supersonicsounds.wordpress.com/2011/12/14/album-review-the-sand-band-all-through-the-night/

 

 

05. El Camino – The Black Keys

Duo garage rock/blues yang paling keras bekerja selama 10 tahun terakhir ini, dan akhirnya membuahkan 3 Grammy dan penghasilan sebanyak 2 juta Dollar, boleh berpesta merayakan kemenangannya melalui album “El Camino” ini. Karena di album ini kita akan kembali menemukan bahwa nomor akustik dan solo gitar blues dahsyat dapat kembali berpadu dalam “Little Black Submarine”, bersiul penuh keriangan diiringi “Nova Baby” dan berdansa sekonyol mungkin dengan “Lonely Boy” di latar belakang. Ini adalah kemenangan para pecundang yang sebelumnya tidak pernah diperhitungkan.

Lagu esensial: Lonely Boy, Litlle Black Submarine, Nova Baby

Untuk membaca ulasan blog ini mengenai “El Camino”, silahkan klik tautan berikut ini: http://supersonicsounds.wordpress.com/2011/12/17/album-review-the-black-keys-el-camino/

 

 

04. Velociraptor – Kasabian

Melalui album ini Kasabian mendefinisikan baru arti sebuah indie gitar album. Sebuah album rock gitar tidak hanya melulu petikan-petikan solid ala Johnny Marr atau solo gitar pentatonik membosankan. Sebuah gitar album dapat juga dipadukan dengan sangat gemilangnya dengan irama hiphop seperti dalam “Days Are Forgotten” ataupun keanehan unik sebuah suara dalam “Switchblade Smiles” di mana suara gitar beradu dahsyat dengan suara synthesizer dan suara teriakan psikedelik. Album ini adalah waktu Kasabian untuk menjadi yang terbesar di Britania Raya.

Lagu esensial: Days Are Forgotten, Goodbye Kiss, Re-Wired

Untuk membaca ulasan blog ini mengenai “Velociraptor”, silahkan klik tautan berikut ini: http://supersonicsounds.wordpress.com/2011/12/14/album-review-kasabian-velociraptor/

 

 

 

03. Suck It And See – Arctic Monkeys

Dengan kengerian yang luar biasa, Arctic Monkeys tidak pernah berhenti untuk mematangkan dirinya sebagai sebuah band. Jika dalam “Humbug” mereka mencobai suara rock yang kasar dan berat, di album ini mereka memadukannya dengan suara retro 60-an yang sangat melodius seperti dalam “The Hellcat Spangled Shalala”. Atau dengar saja “Reckless Serenade” yang permainannya basnya sangat menggelitik kita untuk berdansa dengan sinar Matahari yang selalu kita rasakan setiap pagi. Apapun yang dikatakan orang, Arctic Monkeys selalu berada di dunia mereka sendiri, dan apapun yang diragukan orang terhadap band ini, dengan keunikan yang luar biasa, mereka selalu berhasil dan di situlah letak kemagisan Arctic Monkeys.

Lagu esensial: The Hellcat Spangled Shalala, That’s Where You’re Wrong, Don’t Sit Down ‘Cause I’ve Moved Your Chair

Untuk membaca ulasan blog ini mengenai “Suck It And See”, silahkan klik tautan berikut ini: http://supersonicsounds.wordpress.com/2011/08/14/album-review-arctic-monkeys-suck-it-and-see/

 

 

 

02. Colour Of The Night – Miles Kane

Adalah sebuah kenikmatan mendengarkan “Colour Of The Night” dari Miles Kane. Seperti menelan kapsul yang menidurkan kita dan membawa kita kembali ke pertengahan dekade 60-an, di mana London dipenuhi dengan dandy hedonis dan chic modis beraroma memabukkan. Melodi ditumpuk di atas melodi dalam lagu-lagu seperti “Inhaler”, “Come Closer” dan “Rearrange”. Ini adalah album yang memiliki jiwa, dan kita pun akan dengan senang hati selalu berdansa bersamanya.

Lagu esensial: Inhaler, Come Closer, Rearrange

Untuk membaca ulasan blog ini mengenai “Colour Of The Night”, silahkan klik tautan berikut ini: http://supersonicsounds.wordpress.com/2011/08/01/album-review-miles-kane-colour-of-the-trap/

 

 

 

01. Fake/Faker – Polyester Embassy

Diawali dengan hempasan akselerasi rock di “Air”, psikedelia space rock di “Space Travel Rock ‘n’ Roll” sentuhan musik alternatif dalam format terbaiknya di “Later On”, dan keambisiusan “Fake/Faker”; Kita akan dengan cepat menyadari bahwa tidak ada album yang lebih baik dari album ini di tahun 2011. Siapapun yang menyaksikan konser Silent Yellow Ensemble pada 01 Oktober 2011 silam, akan sepakat bila apa yang mereka sajikan di rekaman dapat dihidupkan dengan sepadan di penampilan live-nya, mungkin bahkan setahap lebih di atas. Polyester Embassy memberikan harapan dan kebanggan akan skena musik di negeri ini. Untuk itu sudah selayaknya mereka diberikan pengakuan ini: Definitif pengalaman sonik nomor satu 2011.

 

Lagu esensial: Later On, Fake/Faker, Space Travel Rock ‘n’ Roll

Untuk membaca ulasan blog ini mengenai “Fake/Faker”, silahkan klik tautan berikut ini: http://supersonicsounds.wordpress.com/2011/05/14/album-review-polyester-embassy-fakefaker/

 

Untuk membaca 20 lagu terbaik 2011 pilihan musik blog ini, silahkan klik tautan berikut ini: http://supersonicsounds.wordpress.com/2011/12/24/20-lagu-terbaik-2011/

24
Des
11

20 Lagu Terbaik 2011

Bagaimana kita mengucapkan selamat tinggal kepada serentetan waktu yang telah berlalu. Terlebih ketika waktu tersebut memberikan kita momen-momen yang akan diingat dalam waktu yang lama, selama Matahari masih bersinar di atas kita? Akankah kita tersenyum tanpa henti ketika mengingat saat di mana kebahagiaan itu menoreh di hati kita? Bagaimana dengan kenangan yang menyedihkan, bagaimana kita akan mengingatnya? Akankah kita menyetel musik yang akan membuat kita tenggelam sesaat untuk mengharubiru di dalamnya lalu bangkit untuk beranjak ke sesuatu yang baru?

Tahun 2011 kita mengucapkan selamat tinggal kepada mereka yang meninggalkan kita secara musikalis. Tidak harus mortal seperti Amy Winehouse yang terlalu cepat membawa bakatnya ke dunia lain atau perginya Steve Jobs yang adalah seorang ikon digital yang mengubah cara kita mengkonsumsi informasi dan musik, tetapi juga karena beberapa orang/band memilih untuk menyudahi aksi mereka melukis awan melodi kita. LCD Soundsystem melakukannya dengan sangat gemilang melalui konser perpisahannya di Madison Square Garden New York. Sedangkan REM membubarkan diri mereka, di saat kita hendak mencintai mereka lagi ketika mendengar lagu seperti Überlin.

Tapi tahun ini juga adalah tahun di mana kita boleh merasakan karya-karya yang menandakan kembalinya mereka yang pernah berarti di kehidupan kita secara musikalis. Ada yang melakukannya dengan gempa sesaat, tetapi di akhir tahun kita lupa akan relevansi mereka seperti yang dilakukan The Strokes. Atau jika kita memilih versi yang lebih baik, ada sekumpulan orang yang melakukannya dengan paket yang hampir bisa dibilang hampir menyentuh batas kesempurnaan seperti yang dilakukan Polyester Embassy dengan albumnya Fake/Faker ataupun konser tunggal mereka Silent Yellow Ensemble di bulan Oktober 2011. Namun, kejutan terbesar tahun ini untuk urusan comeback adalah kembalinya The Stone Roses sebagai sebuah band, dengan formasi klasik Reni, Mani, Ian Brown, dan John Squire. Setelah sebelumnya bersumpah tidak akan pernah bersatu kembali dengan nama The Stone Roses, mereka akhirnya meruntuhkan tembok yang tidak dapat ditembus itu. 2012 akan menjadi pembuktian apakah legasi mereka dapat diteruskan melalui musik baru, dan penampilan live mereka.

Semuanya itu, jatuh bangunnya mereka yang kita puja secara musikalis melukiskan bahwa hidup ini sepintar apapun kita ingin menebaknya, tidak ada yang tahu, dan sebelum kita mengetahuinya ia akan menguap dengan cepat. Karena itu selama kita masih dapat melakukan segala sesuatunya, yang kita harus lakukan hanyalah menikmati hidup ini sebaik mungkin yang dapat kita lakukan. Selamat menikmati cerahnya tahun 2012.

David Wahyu Hidayat

20. Karena Kamu Cuma Satu – Naif

 Kalian boleh mengatakan lagu ini gombal tingkat tinggi, tetapi melodi klasik yang ada di lagu ini tidak dapat berbohong. Ia lebih jujur daripada segala keplastikan lagu cinta lokal lainnya yang berseliweran di negara ini, dan kadar pop tingkat tinggi yang ada di dalamnya tidak dapat dipungkiri. Ini adalah lagu pernyataan cinta terbaik tahun ini, terserah kalian mau mengakuinya atau tidak.

19. Money – The Drums

Jonathan Pierce masih melanjutkan bergoyang seperti Ian Curtis di depan mikrofon dan melengking seperti Morrissey ketika menyanyikan lagu ini. Ah, lagu indie tidak pernah seindah ini rasanya, kalau saja dunia pop ini hanya dipenuhi lagu seperti ini, dan tidak ada lagu lainnya, maka tidak peduli ada uang atau tidak, kita semua akan mati bahagia.

18. Überlin – REM

 Tepat di saat kita ingin mencintai kembali REM melalui lagu ini, karena melodinya yang menyuarakan hangatnya matahari dan optimisnya musim panas; mereka membubarkan dirinya. Tapi mungkin itu adalah yang harus mereka lakukan, dan lagu ini adalah salah satu relik REM yang akan mengatakan betapa hebatnya band ini.

17. Under Cover Of Darkness – The Strokes

 Apa yang terjadi sebenarnya dengan The Strokes? Ketika lagu ini dirilis sebagai teaser “Angles” yang menandakan kembalinya mereka setelah 5 tahun hiatus, yang ada hanyalah teriakan HURRA tiada habisnya. Karena lagu ini adalah bukti nyata kenapa kita mencintai The Strokes, permainan gitar sederhana tetapi menggaet kita untuk selalu menggumamkannya di mana pun kita berada, nyanyian agresif Julian yang membawa kita selalu berada dalam kebanggaan masa muda yang tak pernah habis, arah lagu yang tiba-tiba berubah ketika Nick melakukan solo. Semuanya ada di sini. Tapi “Angles” dirilis, dan kita pun kembali ke kondisi 5 tahun yang lalu. Album yang dilempar tersebut adalah pameran kebanggaan sebuah ego yang kosong tanpa arti untuk mempertahankan disintegrasi yang tidak bisa lagi dicegah.

16. Perak – The Brandals

 Apakah ini akselerasi rock ala Primal Scream? Apakah ini blitzkrieg pop ? Bukan. Ini adalah band kebanggaan Jakarta Timur, dan kita semua boleh berbangga mengukir tato baru di badan kita bertuliskan BRNDLS.

15. Stuck On The Puzzle – Alex Turner

 Alex Turner adalah seorang penyair. Suaranya menyuarakan ketenangan, melodi yang ia mainkan menyentuh melankoli yang kita tidak pernah tahu pernah ada di hati kita. 6 lagu yang ia buat dan mainkan untuk mengisi OST “Submarine” adalah untaian nada penenang yang akan selalu membuai kita ketika kita kesulitan untuk kembali kepada keindahan mimpi yang pernah kita miliki.

14. Zum Laichen Und Sterben Ziehen Die Lachse Den Fluss Hinauf – Thees Uhlmann

 Apa jadinya sebuah hari tanpa Thees Uhlmann? Manusia multi talenta ini: Vokalis/gitaris sebuah band Indie papan atas Jerman, penulis musik, pemilik label rekaman indie; selalu punya cara untuk mengungkapkan hal-hal sederhana menjadi sesuatu yang paling indah dalam kehidupan. Kali ini ia bercerita tentang hidupnya, tentang hidup di daerah suburban, tentang tumbuh besar di era perang dingin, tentang kecintaannya terhadap sebuah klub sepakbola. Semuanya sederhana, tetapi seperti suasana optimis dalam lagu ini, ia berhasil mengubahnya menjadi sesuatu yang sangat spesial, dan lihat di akhir hari, ia kembali menyelamatkan kita dari penatnya kehidupan.

13. The Day When Everything Around Us Fall Asleep And We Do Remember How To Awake – L’alphalpha

 Pernah merasakan kita terbangun, dan kehilangan segalanya? Kita kehilangan pekerjaan kita, kita kehilangan hal-hal yang kita percayai ataupun kehilangan orang-orang yang kita cintai? Lagu ini mengingatkan kita dengan sangat indahnya, terlebih ketika piano itu berdenting tanpa henti, seperti hendak berkata kepada kita; segala sesuatu akan berubah, dan untuk hal itu kita patut berbahagia dan merayakan kehidupan lebih lanjut.

12. Get In Your Mind – The Milo

 Lagu ini sangat merasuki. Di kala benak sedang steril tidak dapat ditembus dan merasakan kehampaan, lagu itu menari-nari dengan sendirinya di benak kita, dengan gaungan gitar yang bersahut-sahutan dan suara falseto seperti seorang malaikat yang sedang memanggil kita, The Milo masuk memasuki pikiran kita menghapuskan segala keresahan kita.

11. Neat Little Rows – Elbow

Elit Manchester. Apakah Elbow sudah berhasil menembus lingkaran eksklusif tersebut? Yang namanya akan dibicarakan orang bertahun-tahun setelah band mereka bubar, seperti orang membicarakan Joy Division, The Smiths, The Stone Roses dan Oasis? Tidak akan ada yang tahu akan seperti apa nantinya, yang jelas lagu ini adalah langkah pasti Elbow memasuki lingkaran tersebut.

10. Charlie Brown – Coldplay

Enoxification dalam stadion rock. Inilah Coldplay dalam penampilan terbaik mereka. Ketajaman gitar Jonny Buckland dan suara Chris Martin yang menggembirakan sanubari seperti layaknya kita sedang melompat di atas awan. Dan kita melihat kembang api di atas sana. Brilian.

09. Lotus Flower – Radiohead  

 Lupakan sejenak Thom Yorke yang berdansa dengan asyik di video lagu ini. Tajamkan telinga kalian, rasakan beat yang diiringi tepukan tangan tersebut, rasakan sampai kalian melupakan apa yang ada di sekeliling kalian, dengarkan Thom yang menyanyi dengan agung di lagu ini. Sungguh, Radiohead selalu sukses menempatkan musik di atas segalanya, dan mendefinisikan baru diri mereka. Kembali rasakan beat itu, dan dengan sendirinya kita akan ikut berdansa dengan Thom.

08. If I Had A Gun – Noel Gallagher’s High Flying Band

 Waktu Oasis bubar, mungkin kita sempat cemas dan bertanya siapa lagi yang dapat menyanyikan sebuah lagu melankoli berlirik sarkasme yang tiba-tiba dapat mencerahkan hari? Untungnya Noel Gallagher memutuskan untuk keluar dari hiatusnya dan memberikan lagu ini untuk kita semua. Akhirnya hari-hari mendung itu tidaklah segelap yang kita pikirkan karena pada akhirnya Matahari akan bersinar untuk kita semua, diiringi oleh lagu seorang Noel Gallagher.

07. Set Me Free – The Sand Band

 Lagu sepanjang 02:49 ini adalah satu-satunya yang kita butuhkan untuk menerobos kekelaman malam yang terlalu sendu. Dengan slide gitar yang menghantui dan suara vokal yang parau dari David McDonnell, lagu ini akan membebaskan kita dari semua kepiluan malam.

06. Lonely Boy – The Black Keys

 Di arus utama, kita mungkin sudah penat dengan segala macam jenis dansa kolektif sebuah anthem pesta. Beruntung untuk kita yang setia berdiri di luar arus utama, Tuhan memberikan kita The Black Keys, duo garage/blues yang paling keras bekerja selama 1 dekade terakhir dan akhirnya memberikan jawaban dengan mempersembahkan dansa kolektif indie paling mencengangkan tahun ini dan menginspirasikan ribuan orang untuk mendedikasikan video di youtube sebagai tribut terhadapa lagu ini.

05. The Hellcat Spangled Shalala – Arctic Monkeys

 Melodi gitar yang renyah penuh dengan reverb itu mengawali lagu ini, seperti hangatnya sinar Matahari mengawali sebuah musim panas. Semuanya terasa nyaman dan tidak ada yang perlu dikuatirkan. Seperti gambaran hari-hari di mana semuanya berjalan dengan semestinya pada tempatnya masing-masing, diiringi dengan kentalnya aroma melodi musik 60-an yang dibawakan penuh perasaan oleh Arctic Monkeys.

04. Four Letter Word – Beady Eye

 

Lagu ini adalah alasan mengapa kita harus menyukai Beady Eye. Liam Gallagher seperti menemukan kembali performa terbaiknya di lagu ini, menyerang seperti Tyson pada puncaknya, diiringi dengan musik James Bond-eske yang dipadukan dengan solo gitar Gem Archer yang tidak pernah didengar dalam musik Oasis setelah “Bring It on Down”. Setelah mendengar lagu ini, masihkah kita bertanya apakah kita masih membutuhkan Oasis saat ini? Tidak untuk saat ini.

03. Days Are Forgotten – Kasabian

Jika Kasabian suatu waktu akan merilis kumpulan hits mereka, tidak pelak lagi lagu ini akan masuk sebagai salah satu yang terbesar. Menggabungkan elemen hiphop dan indie rock dari sisi terbaiknya dengan sangat cerdas, lagu ini mendobrak batasan gitar rock mensemenkan posisi Kasabian sebagai salah satu band terbaik Britania Raya saat ini.

02. Later On – Polyester Embassy

Sulit untuk memilih satu lagu yang paling baik dari album Fake/Faker, karena album itu dipenuhi oleh lagu-lagu yang sangat handal. Namun jika diharuskan untuk memilih satu, maka pilihannya akan jatuh kepada “Later On”. Lagu ini adalah gambaran kematangan Polyester Embassy, dimulai dari intro bass yang melodik tersebut, verse yang bercumbu dengan kemanisan musik pop, sampai dentingan suara piano di coda; semua unsur-unsurnya tergabung menjadikannya lagu pamungkas hebat dari album dasyhat sebuah band alternatif terbaik yang pernah muncul negara ini.

01. Inhaler – Miles Kane

Segala sesuatu yang melekat pada Miles Kane seperti tidak berasal dari masa sekarang, dan itu adalah hal terbaik pada dirinya. Walaupun kental dengan suara retro yang ia mainkan, “Inhaler” mendefinisikan baru teriakan “YEAH..YEAH..YEAH” dan laddism, dibawakan oleh seorang dandy hedonis yang tidak peduli dengan apapun, kecuali keluaran suara gitar dari amplinya.

Mixtape 20 lagu di atas dapat didengarkan di tautan berikut ini:

http://8tracks.com/supersonicsounds/supersonicsounds-best-tracks-of-2011

Untuk membaca 10 album terbaik 2011 pilihan musik blog ini, silahkan klik tautan berikut ini: http://supersonicsounds.wordpress.com/2011/12/24/10-album-terbaik-2011/


17
Des
11

Album Review: The Black Keys – El Camino

The Black Keys

El Camino

Nonesuch – 2011

 

Sejujurnya saya tidak pernah menyukai band 2 orang dengan komposisi gitar & drum (baca: The White Stripes). Tapi semua itu berubah ketika saya menemukan The Black Keys untuk diri saya sendiri tahun lalu. Dengan segala respek yang saya miliki untuk Jack White sebagai seorang gitaris dan penulis lagu; dan ia benar-benar seorang yang sangat handal dalam bidangnya tersebut; saya tidak pernah menyukai band merah putih tersebut. Memang beberapa lagu mereka brilian, tetapi sebagai satu kesatuan paket, mereka tidak pernah cukup berbicara kepada saya.

 

Berbeda halnya dengan The Black Keys. Sejak pertama kali mendengarkan “Tighten Up” saya selalu merasa ada sesuatu yang mencengangkan pada band ini. Mungkin penampilan mereka yang seperti pecundang dan berada di luar lingkaran definisi coolness yang membuat mereka memiliki daya tarik sendiri. Berbeda dengan Meg & Jack White yang sejak awal selalu berpenampilan seperti dewi-dewa blues/garage rock.

 

Tapi meskipun begitu, The Black Keys berbicara melalui musik mereka, dan “El Camino” adalah sebuah album yang luar biasa mengagumkan. Diawali dengan “Lonely Boy” dengan intro tekanan gitar yang kasar dan drum mendentum yang tiba-tiba berubah menjadi ajakan untuk turun ke lantai dansa, dan ketika suara parau Dan Auerbach menyuarakan optimisme waktu menyanyikan “Oooww..wooo..Ooo…oowww…I got the love that keeps me waiting” sudah sangat jelas detik saya mendengar lagu itu, adalah momen di mana saya menemukan sebuah indie anthem ultimatif tahun ini.

 

Dipenuhi dengan suara tepuk tangan dan xylophone “Dead And Gone” adalah karya soul hebat yang menghiasi album ini. “Little Black Submarine” diawali dengan hanya petikan gitar akustik dan suara Auerbach, nyaris terdengar seperti balada, sebelum distorsi gitar dengan sentuhan blues berat merubah haluan lagu tersebut membawa kita kepada sebuah ekstase blues. Lagu ini adalah salam The Black Keys kepada Led Zeppelin. “Run Right Back” memiliki komposisi solid dengan lick gitar menggelitik dan permainan stop ‘n’ go di pertengahan lagu, ditambah sentuhan soul & blues yang manis. Lain pula halnya dengan “Nova Baby”, siapa yang pernah menyangka garage rock terbaik tahun 2011 dimainkan oleh sebuah duo yang sebelumnya diacuhkan oleh orang-orang sebelum mereka memenangkan 3 grammy tahun lalu?

 

Mendengarkan “El Camino” adalah suatu kenikmatan tersendiri. Segala sesuatu yang ada di situ tidak terkesan dibuat atau dipaksakan megah, secara alami 11 lagu yang ada di dalamnya penuh dengan momen-momen kejutan, bahkan untuk orang seperti saya yang sebelumnya tidak pernah percaya kalau musik yang mengagumkan dapat dibuat oleh 2 orang, akhirnya harus mengakui dalam “El Camino” ada sebuah duo yang layak dimahkotai sebagai pionir garage/blues rock ‘n’ roll baru. Ulasan ini adalah salut saya kepada The Black Keys dan “El Camino”.

 

David Wahyu Hidayat

 

17
Des
11

Album Review: Coldplay – Mylo Xyloto

Coldplay

Mylo Xyloto

Parlophone – 2011

 

Perjalanan karir Coldplay adalah perjalanan yang diimpikan oleh semua orang yang memimpikan menjadi terkenal melalui musik. Dimulai dengan “Parachutes” satu dekade silam, mereka mungkin masih menjadi favorit kaum indie yang menunggu datangnya sesuatu yang baru. Tapi 11 tahun setelahnya, semua orang, benar-benar semua orang dari semua kaum: indie, emo, orang-orang yang melakukan shufflin’ setiap hari, goth, hiphop, r’n’b, pecinta k-pop, penikmat dangdut, homo-, hetero-, biseksual, fashionista, semua mencintai Coldplay dengan tarafnya masing-masing. Untuk hal itu, Coldplay sebagai band bisa dibilang sangat-sangat berhasil. “Mylo Xyloto” album terbaru mereka adalah pembuktian akan dogma tersebut.

Diawali oleh titel track album tersebut yang merupakan snippet singkat dengan suara xylophone yang memberikan suasana damai album ini kemudian benar-benar dibuka dengan “Hurts Like Heaven”. Sama dengan judul yang diberikannya, lagu ini seperti suara yang datang dari Atas sana, dengan permainan gitar Jonny Buckland tercurah bagaikan melodi terindah yang pernah kita dengar. Suasana ini segera disambung dengan “Paradise”. Dari surga kita pun melangkah ke keindahan firdaus. Dengan nyanyian “Para..Para..Paradise” yang mau tidak mau mengingatkan kita pada irama “…Ella…Ella..Ella” dalam lagu “Umbrella” yang dinyanyikan Rihanna beberapa tahun silam, ini adalah bukti bahwa Coldplay adalah band poptunist sejati yang tahu bagaimana mengkomposisikan sebuah lagu pop dan memenangkan massa itu untuk mereka.

Kesamaan “Paradise” dengan lagu yang dinyanyikan perempuan yang bernama asli Robyn Rihanna Fenty itu bukanlah sebuah kebetulan belaka, karena nona Fenty menyumbangkan suaranya dalam “Princess Of China” dalam sebuah lagu yang dipenuhi dengan hantaman synthesizer yang akan memabukkan kita seperti setetes abisnth di tengah musim dingin. Ekspedisi pop Coldplay di album ini berlanjut dalam “Us Against The World” sebuah nomor syahdu yang hanya menampilkan suara Chris Martin, gitar dan alunan lembut organ.

Untung bagi mereka yang menyukai Coldplay seperti di dalam “Viva La Vida Or Death And All His Friends” terdapat lagu – lagu semacam “Charlie Brown”, “Major Minus” dan “Don’t It Let Break Your Heart” yang  merupakan Coldplay ketika mereka menjadi diri mereka yang terbaik. Suara falsetto optimistis Martin, bergabung dengan delay gitar Jonny Buckland yang di album ini nampak terdengar kalau ia meningkatkan satu tingkat lagi dalam mengeksplorasi gitarnya, adalah sesuatu yang sangat pintar dan layak disandingkan dengan karya – karya Coldplay terbaik sebelumnya.

“Mylo Xyloto” adalah pengukuhan bahwa Coldplay dimiliki oleh semua orang. Mereka tidak lagi memiliki genre. Melalui resep perambahan dunia pop dengan motto “Bila kita tidak dapat melawan, lebih baik kita bergabung dengan mereka” dipadukan dengan sentuhan enoxification yang tersebar di album ini, “Mylo Xyloto” penuh dengan percikan kembang api yang memuaskan semua kalangan di atas. Biarkan telinga dan jiwa kita berbinar dan berwarna seperti sampul album ini yang penuh dengan hingar bingar dan corak warna-warni. Biarkan keceriaan album ini menyelimuti kita.

 

David Wahyu Hidayat

17
Des
11

Album Review: Noel Gallagher’s High Flying Birds – Noel Gallagher’s High Flying Birds

Noel Gallagher’s High Flying Birds

Noel Gallagher’s High Flying Birds

Sour Mash – 2011

 

Segala sesuatu yang pernah diraih oleh Oasis dan sebesar apapun ego yang dimiliki seorang Noel Gallagher, tidak cukup untuk membuat Noel merasa dirinya patut disebut sebagai seorang singer/songwriter terbaik generasinya. Dalam salah satu interview, ia menyebutkan merasa nyaman dengan posisinya sebagai lead gitaris yang menyanyikan nomor-nomor akustik aneh waktu sang vokalis tidak berkeinginan menyanyikannya. Berdiri di sisi kiri panggung, ia merasa seperti bagian dari penonton karena dapat menyaksikan rekan-rekannya memberikan waktu terbaik yang pernah dimiliki seseorang dalam sebuah gig Oasis. Julukan yang ia berani berikan kepada dirinya sendiri saat ini adalah seorang songwriter/singer. Berbeda dengan seorang singer/songwriter di mana suara adalah pusat dirinya, bagi Noel lagu yang ia ciptakan dan mainkan adalah sentral dari pertunjukan, bukan dirinya atau suara yang ia keluarkan sambil berdiri di tengah-tengah panggung.

 

Ini adalah pernyataan yang sangat merendahkan hati, mengingat statusnya dan lontaran yang sering ia berikan dahulu, bahwa dirinya dan bandya adalah terbesar yang pernah ada. Ia bahkan tidak ingin disebut Noel Gallagher. Proyeknya adalah Noel Gallagher’s High Flying Birds, seakan ini semua adalah sebuah band dan bukan sebuah karya solo dirinya.

 

Debut album ini adalah sebuah gambaran Noel Gallagher yang sedang berusaha kembali menemukan kesenangannya kembali menciptakan musik yang kita dengarkan pada saat kita sedang jatuh. Sebuah musik yang akan membangkitkan semangat kita, ketika tidak ada yang percaya lagi dengan kita. Musik yang lebih retrospektif dan jauh dari hingar bingar stadion rock.

 

“If I Had A Gun” adalah nomor klasik seorang Noel Gallagher dengan lirik sarkasme omong kosong yang pelan-pelan sudah menjadi ciri khas dirinya, “If I had a gun, I’d shoot a hole into the sun, and love would burn this city down for you”. Apa artinya semua ini? Kita tidak perlu memikirkannya jauh-jauh karena melodi lagu ini adalah sebuah hook mematikan yang akan membuat kita mencintainya. “The Death Of You And Me” yang menyusulnya merupakan perpaduan dari dua band yang sangat dipuja Noel yaitu The La’s dan The Coral. Akhir lagu yang diisi oleh suara trumpet seperti suasana sebuah perayaan di New Orleans adalah sesuatu yang tidak akan kita pernah temukan dalam rekaman Oasis manapun.

 

Kejeniusan seorang Noel Gallagher pun lalu menapaki puncaknya pada lagu yang sebelumnya sudah banyak dikenal ketika muncul sebagai demo dalam sesi rekaman “Don’t Believe The Truth”, yaitu “(I Wanna Live In A Dream In My) Record Machine”. Lagu yang di album ini sudah mencapai kesempurnaannya dengan latar belakang suara koor Crouch End Festival yang agung dan liriknya yang berkata “Help me defining the light that’s shining on me…Show me the path’s that leads to all glory” menempatkan album ini kepada suasana semi epik, dan untuk sesaat lamanya kita kembali dibawa kepada suasana stadion penuh dengan pemantik api yang menyala mengiringi solo gitar psikedelia singkat di akhir lagu ini. “AKA…What A Life” adalah sebuah aransemen yang sangat layak dan kembali keluar dari teritori kenyamanan seorang Noel Gallagher, dengan piano yang menjadi instrumen utamanya dan betempo cepat, nyaris seperti irama lagu dansa akhir 80-an/awal 90-an.

 

Koor Crouch End Festival kembali membahana di lagu terakhir album ini “Stop The Clocks”. Berawal juga dari sesi rekaman “Don’t Believe The Truth” ini adalah tipikal Noel Gallagher mengakhiri sebuah album. Dengan rentetan gitar backwards dan berbagai macam kebisingan menyudahi lagu ini dengan klimaks, seperti bertolak belakang dengan awal album ini yang tenang dan menapak pelan pada “Everybody’s On The Run”.

 

Dan di sinilah kita berpijak setelah 42:27 menit mendengarkan karya pertama seorang songwriter/singer yang sangat berpengaruh selama 2 dekade terakhir. Adalah sebuah kelegaan yang sangat, dapat mendengarkannya kembali berkarya dan memberikan lagu – lagu yang berarti kepada kita walaupun di beberapa tempat ia terdengar dapat dikira dan tidak memberikan sesuatu yang baru. Tetapi seperti layaknya berbicara kembali kepada seorang sahabat yang sudah lama tidak kita jumpai, album ini adalah sesuatu yang sangat menyenangkan, bukan karena ia memenuhi nostalgia di diri kita, karena ia memberikan kita cerita-cerita baru yang memang ingin kita dengar darinya. Selamat datang kembali Noel Gallagher.

 

David Wahyu Hidayat

 

 

14
Des
11

Album Review: Kasabian – Velociraptor

Kasabian

Velociraptor

Sony Music – 2011

 

Entah apa yang akan dilakukan oleh Tom Meighan dan Serge Pizzorno, jika mereka tidak melewati masa remajanya di tahun 90-an. Jika mereka melewatinya di dekade ini, mungkin mereka akan seperti remaja kebanyakan lainnya yang menggilai casting show, melakukan dansa kolektif anthem pesta, dan kecanduan dengan kehidupan sosial dalam 140 karakter. Untungnya, mereka berdua adalah anak – anak 90-an. Masih punya Liam & Noel Gallagher untuk diidolakan, masih punya cukup waktu untuk menggilai musik dari Ennio Moriccone. Untungnya buat kita semua, dalam Kasabian setelah bubarnya Oasis, kita masih memiliki sebuah band yang patut untuk diidolakan serta memiliki gudang amunisi yang jauh dari memadai untuk memasok kita dengan indie anthem tanpa batasan.

Sesudah mengantarkan “West Ryder Pauper Lunatic Asylum” yang dapat dibilang adalah Kasabian dalam puncak penampilannya, mereka memberikan kita “Velociraptor” yang terdengar lebih garang daripada pendahulunya, tanpa mengurangi unsur-unsur estetika.

Dibuka dengan Morricone-eske “Let’s Roll Like We Used To”, lagu ini adalah sebuah pembuka yang menggambarkan Meighan & Pizzorno muda sedang mengkhayalkan diri mereka melewati horizon yang mereka kenal. Dengan membawa Kasabian sebagai salah satu band terbesar Inggris saat ini, mereka bukan hanya sudah melewati khayalan itu, tapi juga menghidupinya dengan segala kemungkinan yang ada.

Bukti dari hal itu adalah lagu bombastis yang berada di urutan kedua album ini “Days Are Forgotten”. Diawali dengan beat yang seperti berasal dari ghetto blaster sebuah block party di sudut terganas New York, lagu ini menjadi pembuktian kebesaran Kasabian dengan 2 belah lagu yang terbagi dalam sisi indie rock berkualitas nomor satu dan sisi unsur r ’n’ b berkelas. Bahkan dalam salah satu versi remixnya, di mana LL Cool J turut menyumbangkan lontaran rapnya, lagu ini tetap terdengar seperti lagu Kasabian, bukan sebuah lagu indie rock yang ingin merambah pasar baru.

“Goodbye Kiss” yang menyusulnya merubah suasana album ini seperti sebuah grand ballroom di mana setiap orang yang berada di sana ingin melakukan indie waltz ala Kasabian, sedangkan “La Fe Verte” yang versi lainnya juga pernah tampil dalam soundtrack “London Boulevard” membawa suasana khas Inggris yang sebelumnya hanya kita kenal dalam lagu-lagu The Kinks.

“Re-Wired” dengan aliran lagu yang sudah menjadi ciri khas Kasabian seperti dalam “Where Did All The Love Go” dan “Processed Beats” di album – album sebelumnya membuat “Velociraptor” semakin dapat menemukan jati dirinya sebagai salah satu album terbaik yang pernah diproduksi Kasabian. Kemudian “Switchblade Smiles” dengan pola lagu yang aneh penuh dengan suara synthesizer, dan teriakan teriakan di sana – sini membuktikan bahwa Kasabian tidak hanya berdiam di zona nyaman mereka tapi tetap berani melakukan eksperimen dalam lagu – lagu mereka.

Secara keseluruhan “Velociraptor” mensemenkan posisi Kasabian sejajar dengan band papan atas Inggris lainnya seperti Arctic Monkeys. Bila mereka tetap terus mengerjakan pekerjaan rumahnya, bukan tidak mungkin kita akan cepat melupakan hari – hari di mana nama Gallagher bersaudara pernah begitu dominannya menguasai planet musik Inggris.

David Wahyu Hidayat

14
Des
11

Album Review: The Sand Band – All Through The Night

The Sand Band

All Through The Night

Deltasonic – 2011

 

Membuat musik untuk jam – jam pertama sebuah hari bukanlah pekerjaan gampang. Dibutuhkan nuansa yang tepat untuk memadukan keheningan sebuah malam dan keoptimisan sebuah pagi. Sedikit terlalu sendu maka yang ada adalah kekelaman tanpa batas, sedikit terlalu hingar bingar maka akan merusak suasana pagi yang masih tanpa cela seperti perawan. Dalam dekade terakhir, hanya 2 album yang berhasil memadukan semuanya itu: Debut album Coldplay, “Parachutes” dan debut album Kings Of Convenience, “Quiet Is The New Loud”.

Tapi di awal 2011, tanpa banyak terduga, album serupa muncul kembali dalam wujud album pertama sekumpulan scouser yang menamakan dirinya The Sand Band. Album yang diberikan judul “All Through The Night” itu berisikan 10 lagu yang akan membawa kita menembus malam yang terlalu pekat, ke dalam kejernihan sebuah pagi.

Diawali dengan paduan suara tambourine, slide gitar dan suara vokal yang menyanyikan tentang bagaimana patah hati harus disembuhkan “Set Me Free” membebaskan kita semua dari segala kepiluan yang ada, mirip seperti “Don’t Panic” memberikan kita awalan baru 1 dekade silam. “To Be Where You Are” yang menyusulnya dengan ritem gitar yang pelan dan suara vokal David McDonnell yang halus membius membuat kita menerawang, entah apakah kita merasakan mimpi atau kenyataan yang belum pahit. Sedangkan “Song That Sorrow Sings” adalah pembuka sebuah pagi yang layak dengan sample suara burung berkicau di latar belakang, sambil mempertahankan ritem gitar yang empuk dalam mid-tempo yang memberikan ketenangan.

Dengan suara yang lirih “Open Your Wings” menenggelamkan segala kerisauan yang kita miliki, meninggalkan hari-hari yang terhilang jauh di belakang, terhapus dari ingatan. Sebelumnya “The Secret Chord” menggelayuti kita dengan nada-nada yang menari-menari di sanubari kita. Sedangkan “Someday The Sky” adalah khayalan akan sebuah harapan baru yang akan membebaskan kita.

“All Through The Night” bukanlah album yang akan spektakuler memenangkan hati kita secara kejeniusan artistik, tetapi ini adalah album yang akan kita dengar terus menerus jauh ke tahun-tahun ke depan. Karena di saat kita seperti tersesat dalam kehampaan malam, dan tidak tahu bagaimana harus menghadapi pagi yang baru. Album inilah yang akan kita putar, sambil ditemani kopi yang masih hangat mengepul dari cangkir yang kita genggam, sambil berkata dalam hati bahwa pada akhirnya semuanya akan baik-baik saja.

David Wahyu Hidayat




 

Desember 2011
S S R K J S M
« Okt    
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Categories

Blog Stats

  • 85,710 hits

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.