Arsip untuk Maret, 2011

27
Mar
11

Album Review: Beady Eye – Different Gear, Still Speeding

Beady Eye

Different Gear, Still Speeding

Beady Eye Records/Sony Music – 2011

Bagi banyak orang, sosok Liam Gallagher adalah golongan terakhir dari kaumnya. Figurnya di atas panggung mempresentasikan sosok seorang “Rock ‘n’ Roll Star” yang sudah jarang dijumpai dari band-band yang muncul sekarang ini. Siapapun yang pernah menonton langsung Oasis, pasti akan langsung setuju dengan pernyataan ini. Dengan atau tanpa Gallagher senior aka Noel, dalam setiap konser Oasis, fans mereka selalu merangsak maju ke depan panggung, memuja dan terpukau akan seorang Liam. Satu hal yang mungkin belum tentu terjadi segila itu bila yang absen adalah Liam sendiri.

Meskipun begitu, petualangan baru empat mantan personil Oasis minus Noel adalah sebuah pertaruhan dan perjalanan yang belum kelihatan arahnya. Mentahbiskan nama mereka sebagai Beady Eye dan memberikan judul album mereka “Different Gear, Still Speeding”, keluaran musikalis Liam, Andy Bell, Gem Archer & Chris Sharrock masih harus menjalani tes waktu dan telinga untuk mereka yang sudah terbiasa dengan melodi brilian seorang Noel G. Sebagai seorang figur enigma, Liam tidak peduli dengan segala macam keraguan itu, baginya Beady Eye adalah konsekuensi logis dari apa yang telah ia buat. Dan apa yang ia telah ciptakan, sedang dan akan diciptakan, itu semua mengatasnamakan rock ‘n’ roll, dan betapa kita semua akan berterima kasih padanya telah melakukan hal ini.

Sepak terjang debut album Beady Eye dimulai dengan “Four Letter Word” yang memiliki kemegahan ala film – film James Bond, dan dengan segera menumpuk perasaan euforia. Lagu pertama ini sudah melebihi ekspektasi akan apa yang mereka mampu bikin, walaupun dengan kembalinya Andy Bell bermain gitar di band ini, hal seperti ini memang patut untuk diharapkan. “Millionaire” menyusul sebagai lagu kedua, dan lagu ini menjenguk kembali musik folk britania dengan slide gitar yang menjadikannya unik dengan artiannya sendiri.

Single pertama dari album ini, “The Roller” adalah musik poprock Inggris klasik ala Beady Eye, sedangkan “Beatles And Stones” ialah usaha Liam menyandingkan Beady Eye di pelataran yang sama bersama The Fab Four dan Mick & Keef. Tak lama sesudahnya terputarlah “Bring The Light” yang ketika ditawarkan sebagai unduhan gratis di internet akhir tahun lalu, terdengar janggal berdiri sendirian. Namun sekarang dalam konteks album, dentingan piano ala Jerry Lewis itu akhirnya mulai terdengar masuk akal.

“For Anyone” menyambung lagu tersebut, dan sesungguhnya sampai pada album ini, belum pernah sekalipun suara vokal Liam terdengar semanis ini. Selanjutnya atmosfir psikedelik ditebarkan dalam “Kill For A Dream” yang diramu dengan gitar akustik dan suara vokal yang pasti akan membahana dinyanyikan bersama oleh fans Beady Eye dalam setiap konsernya. Sedangkan “Standing On The Edge Of The Noise” kembali kepada teritori rock ‘n’ roll instan dengan motto, ini musik untuk mulut kamu meneriakkannya dengan lantang, dan mentatonya di jiwamu.

Diiringi nyanyian “Shalala..lala..Shalala..lala” kental dengan pengaruh The Beatles & The La’s, “Wigwam” adalah sebuah lagu yang patut dibanggakan oleh Beady Eye, menfiturkan sebuah interlude drum di tengah – tengah lagu, sebelum Liam menyanyikan “I’m coming up” yang dipenuhi suasana psikedelik klasik yang seakan takkan pernah surut.

Yang membuat “Different Gear, Still Speeding” menjadi sebuah album yang patut diperhitungkan tahun ini, adalah perpaduan dari karakter instannya yang bercampur dengan psikedelia dan nomor-nomor pop yang sepertinya belum pernah ditunjukkan dalam tahun-tahun Oasis. “The Beat Goes On” adalah salah satu nomor pop itu. Berbatasan tipis dengan pop ala skandinavia yang sempat menjadi tren di tahun 90-an, lagu ini adalah nomor yang mungkin akan paling mudah diterima untuk orang-orang yang tidak pernah mengenal siapakah Liam Gallagher.

Tirai album ini ditutup dengan “The Morning Son”. Peran Steve Lillywhite sebagai seorang produser yang pernah menukangi Morrissey & U2, terlihat nyata di sini. Dengan layer suara Liam yang dibikin menggema, lagu ini bertambah ketajamannya, ditambah dengan suara gitar yang berjalan bagai mimpi yang dibangun di atas mimpi, sampai akhirnya semuanya pelan – pelan menjadi kenyataan di hari yang baru.

Dengan “Different Gear, Still Speeding” jala gawang itu bergetar. Bola telah dilesakkan ke pojok kanan atas, tanpa bisa ditepis sama sekali. Liam Gallagher unggul sementara, dan kita semua menerima hasil itu dengan lapang. Sedikit terkejut mungkin, karena ini semua bisa terjadi melebihi ekspektasi yang kita harapkan dari seorang Liam Gallagher. Album ini membuat dunia pasca Oasis secara musikalis menjadi sesuatu yang sangat menarik untuk ditunggu. Noel Gallagher, dunia menanti Anda.

David Wahyu Hidayat

20
Mar
11

Album Review: Themilo – Photograph

 

Themilo

Photograph

Sadsonic Labs – 2011

 

“Pecah bisul” komentar Ajie Gergaji, vokalis, gitaris Themilo mengenai “Photograph” album kedua band asal Bandung ini, ketika diwawancara oleh jakartabeat.net baru – baru ini. Butuh waktu 7 tahun antara “Let Me Begin” dan album ini, sebuah rentang yang cukup lama, mengingat band ini adalah salah satu band yang cukup banyak pengikutnya. Namun waktu yang lama tersebut adalah sebuah penantian yang layak untuk ditunggu, karena “Photograph” meskipun cuman berisikan 8 lagu namun semuanya itu merupakan lagu-lagu yang akan menggulung kita dalam sebuah pengalaman sonik yang memukau telinga, raga dan hati.

 

“Stethoscope” membuka pengalaman sonik tersebut, dengan distorsi gitar yang menumpukkan batu-batu euforia dalam jiwa kita, ini adalah teriakan selamat datang kembalinya Themilo dalam kepala kita yang sudah terlalu jengah dengan kehampaan musik pop. Menit 03:15 menandakan kalau album ini siap lepas landas dengan sayatan melodi gitar yang bersahut-sahutan makin meninggi mencapai puncak yang kita sendiri tidak akan pernah mengetahui di mana letaknya.

 

Lagu itu disusul dengan “For All The Dreams That Wings Could Fly”, yang dengan harmonis manis menampilkan vokal latar dari seorang Maradilla Syahridar yang membuat kita seakan tidak lagi menapak ke tanah. Menyusul lagu tersebut adalah “So Regret” yang menurut wawancaranya dari media yang sama di atas, adalah lagu tergalau yang dimiliki Themilo, menceritakan seorang anak durhaka yang tidak pernah memiliki kesempatan untuk meminta maaf kepada orang tuanya yang telah meninggal.

 

“Get In Your Mind” menggambarkan suasana hampa, di mana yang ada hanyalah kekosongan, seperti ruangan bandara udara yang terlalu steril, di mana orang asing berkeliaran tanpa saling sapa, di mana alienasi terjadi satu sama lain, tapi lalu kita menoleh ke depan dan mendapati orang-orang yang kita kasihi berada di sana, sekejap alienasi itu berubah menjadi kehangatan, diiringi melodi gitar yang sahut menyahut, membalut kita dalam ketenangan, menghapus kegalauan.

 

Meskipun lagu – lagu Themilo identik dengan konsep kegalauan yang tanpa putus, sebenarnya di balik semuanya itu, ada sesuatu yang memancarkan sinar pencerahan, dengan suara synthesizer yang mengimbangi intensitas gitar dengan distorsi dan petikan melodi tanpa jeda, seperti yang terdengar dalam “Dreams” maupun optimisme tersirat yang ada dalam “Don’t Worry For Being Alone”.

 

Lalu, dalam segala keindahannya Themilo menghadirkan “Daun Dan Ranting Menuju Surga”, dengan pelan dentingan gitar itu bersahut-sahutan, diiringi suara distorsi ringan yang menggema mememenuhi telinga kita, sebelum Ajie dengan tenang bernyanyi “Hadapi hidup yang remuk, hapus semua kenangan yang kelam…”. “Photograph” mencapai klimaksnya di lagu ini, kita bersyukur akan Themilo, yang  telah mengantarkan lagu-lagu pembasuh keputusasaan kita yang akhirnya berakhir.

 

Dentingan keindahan itu berakhir dalam “Apart” yang menyudahi “Photograph”. Nestapa yang kita hadapi telah larut, tergantikan dengan optimisme baru di hari yang baru, yang tak seorang pun tahu akan seperti apa wujudnya.

 

David Wahyu Hidayat

 

20
Mar
11

Album Review: L’alphalpha – When We Awake All Dreams Are Gone

 

L’alphalpha

When We Awake All Dreams Are Gone

Tanpa Label – 2011

 

Bagian termanis dari sebuah mimpi adalah ketika mendapatinya terlalu dekat dengan kenyataan, kita merasakan kita menjadi bagian darinya, atau lebih tepatnya mimpi itu adalah bagian dari kita. Kita dapat menyentuhnya, menghirupnya, melihatnya, merasakannya, menjadi satu dengannya, dengan sesuatu yang tidak pernah kita dapatkan dalam kehidupan sebenarnya. Bagian terpahit dari sebuah mimpi adalah ketika kita terbangun, dan mendapatkan semua ini hanya mimpi belaka. Yang kita ingin lakukan setelahnya adalah kembali ke alam tidur dan bersatu dengan mimpi itu kembali.

 

“When We Awake All Dreams Are Gone” debut album dari L’alphalpha adalah perwujudan sebuah mimpi yang dirangkai dalam talian melodi-melodi manis yang membuat kita setengah melayang, setengah sadar, setengah terbius, setengah berkhayal akan keindahan sekaligus kegamangan mimpi dalam kenyataan.

 

Dikemas dalam sebuah paket berisikan narasi dan lagu, kemasan lagu L’alphalpha mengiaskan aroma Explosions In The Sky di lagu seperti “A Lot Of Fireworks But I Still Had A Reason To Smile” atau Sigur Rós dalam lagu “The Day When Everything Around Us Fall Asleep And We Do Remember How To Awake” yang merupakan salah satu lagu terbaik di album ini. Sedangkan dalam “About A Friend” yang dipilih menjadi single pertama album ini dan juga merupakan lagu yang paling mudah diakses, mereka menampilkan melodi yang meminta kita memanjakan dan menyayangi telinga kita sendiri di atas lirik bertemakan persahabatan yang tidak terdengar murah dikemas dalam bungkusan musikalis seperti ini.

 

Secara keseluruhan ini adalah debut album yang solid dari L’alphalpha, benar kita akan melayang bermimpi ketika mendengarkannya, tetapi kedua kaki kita masih menapak menjejak di tanah yang kita diami ini dengan cinta, sambil menggelayut dari hari ke hari, terjaga dan tetap berharap akan kenyataan yang lebih fantastis, ditemani keindahan lagu – lagu L’alphalpha.

 

David Wahyu Hidayat

 

 




 

Maret 2011
S S R K J S M
« Feb   Apr »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Categories

Blog Stats

  • 85,710 hits

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.