06
Des
09

20 album terbaik 2000 – 2009

Satu dekade telah kita lewati bersama semua yang terjadi di dalamnya. Kita mengalami keoptimisan kita direnggut pada tanggal 11 September 2001. Keperawanan kita dicuri oleh kapitalisme dunia ini. Dan dengan berat hati, kita dipaksa mengalah, menukar pemutar cakram digital kita dengan pemutar musik data digital yang menjadi barometer penikmat musik tahun ’00-an ini.

Tapi kita tidak pernah menyerah begitu saja. Kita masih setia terhadap semua musik yang membuat dekade ini tidak terlupakan. Pada akhirnya adalah musik, apapun bentuknya yang menyelamatkan dan membuat kita bertahan mengarungi 10 tahun pertama abad 21 ini.

Memang begitu banyak musik mengagumkan yang keluar dalam 10 tahun terakhir ini, sehingga sulit untuk memilah-milah apa yang menjadi paling favorit di antara favorit lainnya. Blog ini berusaha mencoba memilih 20 album favorit selama dekade ’00 ini, dari sudut pandang penulis. Mungkin daftar ini subyektif, tapi pada akhirnya, setiap orang mempunyai favoritnya masing-masing, dan setiap orang mempunyai musiknya masing-masing yang menemani diri dalam dekade ini. Di bawah ini adalah 20 album favorit penulis sepanjang 2000 – 2009. Sambil membaca, kita boleh memberikan selamat kepada diri kita masing-masing, karena telah melewati 10 tahun yang penuh arti ini. Sebentar lagi, 10 tahun mengagumkan lainnya telah menunggu di depan sana.

David Wahyu Hidayat


20. Dig Out Your Soul – Oasis

Album terakhir dan terbaik yang pernah dikeluarkan Oasis setelah mereka mendefinisikan hidup kita di tahun 90-an. Semuanya ada di sini: Kemegahan lagu yang mengingatkan kita pada kejayaan mereka (“The Shock Of The Lightning”), keagungan mereka (“I’m Outta Time”), dan bukti kalau mereka masih mempunyai kaliber untuk membuat kemajuan dalam musik mereka (“Falling Down”). Liam dan Noel boleh membubarkan Oasis, tapi album seperti inilah yang membuat kita akan selalu mempercayai musik mereka.

Track Esensial: The Shock Of The Lightning, I’m Outta Time, Falling Down

Untuk membaca review blog ini tentang “Dig Out Your Soul”, silahkan klik tautan berikut ini: http://supersonicsounds.wordpress.com/2008/10/12/album-review-oasis-dig-out-your-soul/

19. A Certain Trigger – Maximo Park

Yang membuat Maximo Park sebuah band yang hebat bukanlah namanya yang unik, tetapi perpaduan antara liriknya yang cerdas, bagaikan versi seorang Oscar Wilde yang menemukan dirinya di abad 21 dan luasnya horizon musik yang mereka bawakan. Terkadang mengingatkan pada duo Morrissey dan Marr, di sisi lain mereka menelurkan nomor – nomor yang menggigit dan membangunkan kita dari ketiadaan maksud.

Track Esensial: The Coast Is Always Changing, Kiss You Better, Graffiti

18. Quiet Is The New Loud – Kings Of Convenience

Cahaya pertama sebuah pagi terbersit di mata kita yang masih sayu. Langit kemerahan fajar membangunkan kita dari mimpi malam sebelumnya. Kita duduk terdiam berdampingan, dengan secangkir kopi di tangan masing-masing tanpa sepatah kata sekalipun. Di kuping kita Erlend & Eirik menyanyi lembut, gitar itu mengalun pelan. Entah mengapa, semuanya terlihat baik. Sunyi, tenang, tapi kau dan saya, dan semua yang kita lihat, mengerti satu sama lain.

Track Esensial: Toxic Girl, I Don’t Know What I Can Save You From, Failure

17. We Can Create – Maps

Dengan euforia etereal yang dihantarkan James Chapman dalam debut albumnya sebagai Maps, “We Can Create” menebus hasrat kita semua dari sebuah mimpi indah yang berkepanjangan. Memadukan musik elektronik dan perasaan yang sama ketika mendengar musik shoegaze, “We Can Create” adalah hal paling dekat, yang kita temukan di dekade ’00, dari kebangkitan kembali sebuah skena yang akan merayakan dirinya sendiri.

Track Esensial: To The Sky, Back+Forth, Elouise

Untuk membaca review blog ini tentang “We Can Create”, silahkan klik tautan berikut ini: http://supersonicsounds.wordpress.com/2007/11/07/album-review-maps-we-can-create/

16. Turn On The Bright Lights – Interpol

Pertama kali mendengarkan “Obstacle 1”, yang ada di pikiran adalah “Siapakah yang menciptakan musik ini?”. Dengan kemonokroman mereka, Interpol menangkap sisi kelam New York dan mengubahnya menjadi sebuah pelarian yang membebaskan. Sebuah band yang menyanyikan kalau subway New York adalah porno, tidak bisa tidak adalah sebuah band yang mencengangkan. Bila kalian tidak percaya, silahkan dengarkan “Turn On The Bright Lights” secara keseluruhan.

Track Esensial: NYC, Obstacle 1, Say Hello To The Angels

15. Franz Ferdinand – Franz Ferdinand

Di pertengahan dekade ’00, seperti sebuah dogma yang disepakati oleh banyak band indie, mereka mencetuskan sebuah ide kalau musik dansa tidak hanya bisa dibuat oleh para DJ, tetapi juga dengan gitar. Mempelopori gerakan tersebut adalah Franz Ferdinand. Album penuh hook ajakan untuk turun ke lantai dansa itu, sebegitu menggodanya, sepertinya bila mengingat tahun 2004, tidak ada album yang lebih sering saya putar dari debut album Franz Ferdinand ini.

Track Esensial: Take Me Out, Darts Of Pleasure, Michael

14. You Are The Quarry – Morrissey

Waktu Morrissey di tahun 2004 merilis “You Are The Quarry” setelah 7 tahun hiatus sejak “Maladjusted”, luapan perasaan bahagia itu seperti tidak terbendung. Karena ini bukanlah sekedar kedatangan kembali yang biasa, tapi kita diberikan sebuah hadiah yang penuh dengan melodi mengagumkan. “Irish Blood English Heart” adalah sebuah pernyataan lugas tipikal seorang Morrissey, “First Of The Gang To Die” tusukan mematikan Morrissey terhadap pop yang membosankan. Dan lalu, ada “Let Me Kiss You” yang menenggelamkan kita tidak hanya dalam keindahan sebuah musik, tapi juga pada romantisme realistis yang memabukkan dan seringkali disalahpahami.

Track Esensial: Irish Blood English Heart, First Of The Gang To Die, Let Me Kiss You

13. Origin Of Symmetry – Muse

Memasuki album keduanya, Muse memulai metamorfosis mereka, mendefinisikan musik mereka seperti yang selalu diinginkan. Perpaduan orkestrasi dan rock yang kita kenal sekarang ini dari Muse, dimulai dari album kedua tersebut. Dan mau seaneh apapun perpaduan tersebut, dengan herannya hal itu dapat berfungsi dan menghasilkan karya mengagumkan. Album ini juga menfiturkan track – track paling bombastis (“Plug In Baby” & “Hyper Music”) dari Muse yang mengketapel mereka menjadi salah satu band terbesar dekade ini.

Track Esensial: Plug In Baby, Hyper Music, Bliss

Untuk membaca review blog ini tentang “Origin Of Symmetry”, silahkan klik tautan berikut ini: http://supersonicsounds.wordpress.com/2007/11/04/album-review-muse-origin-of-symmetry/

12. Up The Bracket – The Libertines

Kedatangan The Libertines di tahun 2002 begitu menyegarkan. Memang waktu itu dunia sudah terlanjur digandrungi demam garage rock, tapi bukan berarti The Libertines tidak membawa sesuatu yang spesial. Mereka membawa sentuhan tipikal anglo-saxon ke dalam musik mereka dan itu membuat mereka istimewa. Pete Doherty adalah seorang penyair yang sudah lama tidak lagi kita temukan.  Carl Barat memberikan sosok seorang rockstar yang begundal tetapi memberikan enigma tersendiri dalam sosok The Libertines. Dengan tempo cepat, suara gitar kasar, dan melodi menggelitik, “Up The Brackets” adalah bayangan mimpi tentang albion yang hampir terhilang tapi tetap mempesonakan.

Track Esensial: Time For Heroes, Up The Bracket, Boys In The Band

11. Kamar Gelap – Efek Rumah Kaca

Album pertama Efek Rumah Kaca hanyalah sebuah sinyal akan datangnya sesuatu yang lebih dasyhat dan menakjubkan. Hal ini dibuktikan Cholil, Adrian dan Akbar dalam “Kamar Gelap”. Dimulai dengan misterius dan menghipnotis oleh “Tubuhmu membiru..tragis”, mereka lalu menaikkan akselerasinya, sampai ekstase itu memuncak dalam “Kau Dan Aku Menuju Ruang Hampa”. Seperti memprediksikan apa yang akan terjadi di tahun 2009 “Mosi Tidak Percaya” adalah lagu protes terhadap kejadian di negara ini. Tapi protes bukanlah akhir dari segalanya, karena dengan “Menjadi Indonesia”, kita diberikan harapan bahwa pada saatnya nanti, bangsa ini akan kembali besar, masih banyak cara menuju ke sana.

Track Esensial: Kau Dan Aku Menuju Ruang Hampa, Mosi Tidak Percaya, Menjadi Indonesia

Untuk membaca review blog ini tentang “Kamar Gelap”, silahkan klik tautan berikut ini: http://supersonicsounds.wordpress.com/2008/12/22/album-review-efek-rumah-kaca-kamar-gelap/


10. Visible Idea Of Perfection – The S.I.G.I.T

Apalagi yang mau diutarakan tentang The S.I.G.I.T? Segala kebesaran mereka telah tertera secara jelas di setiap pertunjukkan yang mereka adakan. Dengan ambisi, tahun ini mereka menggelar sebuah konser tunggal di sebuah tempat berkapasitas 3000 orang, dan mereka berhasil membuat tempat itu terisi sampai jengkal terakhir. Mengawali semua kebesaran itu adalah sebuah debut album fantastis dari akhir tahun 2006. Dengan lick-lick gitar bagaikan seorang gitaris yang kemasukan jiwa Jimmy Page, “Visible Idea Of Perfection” menari liar dalam roh kita. Album ini adalah bayangan jelas tentang ide sebuah kesempurnaan rock ‘n’ roll.

Track Esensial: Black Amplifier, Let It Go, Clove Doper

Untuk membaca review blog ini tentang “Visible Idea Of Perfection”, silahkan klik tautan berikut ini: http://supersonicsounds.wordpress.com/2008/01/27/album-review-the-sigit-visible-idea-of-perfection/

09. Magic And Medicine – The Coral

Dibuat dalam periode kreatif yang gila-gilaan, setahun setelah mengirim debut album mereka ke dunia, The Coral hadir kembali di pertengahan 2003 dengan “Magic And Medicine”, dan hasilnya membuat kita tercengang. Mendengarkan “Don’t Think You’re The First”, kita dibuat menerka-nerka, apakah yang memampukan mereka membuat lagu seperti ini, kejeniusan mereka sendiri, atau karena kebanyakan pengaruh asap marijuana yang mereka hisap? Apapun penyebabnya, “Magic And Medicine” adalah sebuah permata.

Track Esensial: Pass It On, Don’t Think You’re The First, Bill McCai

08. The Last Broadcast – Doves

Penuh keagungan melanjutkan apa yang telah mereka lakukan di album pertama, Doves mengantarkan album keduanya “The Last Broadcast” pada tahun 2002. Dengan suasana layaknya karnival kehidupan tanpa henti, “There Goes The Fear” memberikan kita alasan untuk merayakan kehidupan, di sisi lain lapisan suara yang menggunung dalam “Last Broadcast” memberikan suasana seakan kita sedang melayang, meninggalkan apa yang ada di belakang kita. Album ini membiarkan kita terlena sesaat, sebelum bangun dan  mengejar tujuan kita yang masih terhampar di depan kita, menunggu untuk direnggut.

Track Esensial: There Goes The Fear, Pounding, Last Broadcast

07. Kasabian – Kasabian

Setelah Liam Gallagher, kita harus menunggu lama sampai seorang rockstar sejati dapat melanjutkan apa yang pernah Liam, Ian Brown, dan Richard Ashcroft lakukan. Penantian itu berakhir di tahun 2004 waktu Tom Meighan muncul bersama Kasabian. Memadukan arogansi, irama besar “The Stone Roses” dan rock akselerasi “Primal Scream”, debut album Kasabian itu adalah usaha 4 orang asal Leicester untuk mengkudeta tahta paling atas rock ‘n’ roll Britania Raya dari band-band yang telah datang sebelum mereka.

Track Esensial: Club Foot, L.S.F, Processed Beats

06. Parachutes – Coldplay

Setiap manusia pernah mengalami kejatuhan, dan sewaktu ia mengalami kejatuhan itu, ia mengalami kepahitan yang sangat. Seringkali kita tidak dapat menyelamatkan diri sendiri dari situasi itu, tetapi elemen-element tertentu dalam kehidupan dapat mengubah kesuraman itu menjadi sebuah harapan baru. “Parachutes” adalah sebuah elegi yang diciptakan Coldplay untuk orang-orang tersebut. Penuh dengan reverb dan delay yang mendefinisikan musik mereka, “Parachutes” mengatakan kepada kita, kalau akhirnya semua akan baik-baik saja, karena kita tinggal di dunia yang indah.

Track Esensial: Don’t Panic, Spies, Yellow

Untuk membaca review blog ini tentang “Parachutes”, silahkan klik tautan berikut ini: http://supersonicsounds.wordpress.com/2007/11/04/album-review-coldplay-parachutes/

05. Whatever People Say I Am, That’s What I’m Not – Arctic Monkeys

Siapa yang akan menyangka, bila debut album tersukses di Britania Raya akan dihasilkan oleh 4 orang muda asal Sheffield bernama Arctic Monkeys. Apa yang dilakukan oleh “Whatever People Say I Am, That’s What I’m Not” adalah mengembalikan esensi musik kepada mereka yang ingin benar-benar mendengarkannya. Lirik Alex Turner, menggambarkan kehidupan sebuah kota dengan gamblang tanpa ada pemanis di dalamnya, dan sejujurnya itu yang pingin kita dengar. Lalu dengan kekompakan yang sangat padu, mereka telah memainkan lagu-lagu yang merobek jantung kita dan membuat kita ingin mengepalkan kedua tangan ke langit sambil tersenyum puas karena kita telah menemukan musik yang sesungguhnya.

Track Esensial: I Bet You Look Good On The Dance Floor, A Certain Romance, Still Take You Home

Untuk membaca review blog ini tentang “Whatever People Say I Am, That’s What I’m Not”, silahkan klik tautan berikut ini: http://supersonicsounds.wordpress.com/2007/11/07/album-review-arctic-monkeys-whatever-people-say-i-am-thats-what-im-not/

04. Tragicomedy – Polyester Embassy

Apa yang kalian cari dari sepotong musik? Musik yang dengan jeniusnya dapat menghanyutkan kita pada khayalan terindah sekaligus absurd yang pernah kita punya? Musik yang sepertinya merupakan bentuk kesempurnaan yang sedang berbicara langsung kepada kita? Semuanya itu ada dalam “Tragicomedy”. 9 lagu yang ada di sana penuh dengan suasana etereal dari ratusan blips dan gitar yang terdengar seperti dimiliki oleh mahluk angkasa luar, membuktikan kalau Polyester Embassy salah satu band paling inovatif yang kita miliki saat ini. Untuk itu sudah selayaknya kita mengangkat topi kepada mereka.

Track Esensial: Orange Is Yellow, Polypanic Room, Good Feeling

Untuk membaca review blog ini tentang “Tragicomedy”, silahkan klik tautan berikut ini: http://supersonicsounds.wordpress.com/2008/01/27/album-review-polyester-embassy-tragicomedy/

03. Silent Alarm – Bloc Party

Gelombang ekstase itu dimulai dengan gebukan monster drum Matt Tong di lagu pertama Silent Alarm “Like Eating Glass”. Setelahnya, kita diperdengarkan dengan 13 lagu (14, kalau kalian menemukan hidden track yang ada di album ini) fantastis yang membawa kita berada dalam nirwana penuh dengan ritme stakato, gitar delay yang tajam membelah, dan daya tarik pop yang sulit untuk dibendung seperti yang kita dengar dalam “This Modern Love” dan “So Here We Are”. Album ini adalah kemegahan, dan rasanya tidak banyak band lain yang pernah menghasilkan album sekaliber ini dalam rentangan waktu 2000 – 2009.

Track Esensial: Pioneers, She’s Hearing Voices, So Here We Are

Untuk membaca review blog ini tentang “Silent Alarm”, silahkan klik tautan berikut ini: http://supersonicsounds.wordpress.com/2007/11/06/album-review-bloc-party-silent-alarm/

02. Is This It – The Strokes

Dunia berubah di tahun 2001 dengan runtuhnya sang menara kembar di New York. Bersama sebuah band yang juga berasal dari kota yang sama dengan WTC, dunia musik juga berubah. “Is This It” dari The Strokes menyelamatkan musik rock dekade ini. Tiba-tiba saja kata indie dan garage rock menjadi hip kembali. Bila bukan dengan suara kasar yang ada di lagu seperti “The Modern Age” dan “New York City Cops” dari album ini, mungkin sampai sekarang kita masih melihat Fred Durst dengan topi merah menyebalkannya jumpalitan ke sana-kemari, berlagak seperti seorang raja. Untungnya The Strokes menyelamatkan kita dari bayangan menyeramkan itu.

Track Esensial: The Modern Age, New York City Cops, Someday

Untuk membaca review blog ini tentang “Is This It”, silahkan klik tautan berikut ini: http://supersonicsounds.wordpress.com/2007/11/04/30/

01. Kid A – Radiohead

Seperti seorang Nostradamus modern, Radiohead dengan “Kid A”, seperti hendak meramalkan apa yang akan terjadi dalam dekade ’00. Mengganti hampir seluruh suara gitar mereka dengan suara – suara asing, dimulai dengan vokal Thom Yorke yang sekarang terdengar seperti ia telah diculik oleh alien dan dikembalikan lagi ke bumi untuk membuat “Kid A”, album ini adalah sebuah maha karya dalam artiannya sendiri. Dan jeniusnya, suara-suara asing yang terdengar di album ini, seringkali juga dihasilkan dengan gitar, hanya kita saja tidak pernah menyadarinya. “Kid A” menangkap esensi dekade ini, dengan pengasingan manusia terhadap sesamanya, diperangkap oleh kemajuan teknologi, dan ketakutan manusia akan apa yang akan datang (teror, pemanasan global). Terlepas dari itu semua, dengan “Kid A”, Radiohead telah membuka jalan, dan sekali lagi mendefinisikan cara bagaimana membuat musik, dengan kemajuan serta keragaman suara menakjubkan yang ada di dalamnya.

Track Esensial: Idioteque, Everything In Its Right Place, The National Anthem

Untuk membaca review blog ini tentang “Kid A”, silahkan klik tautan berikut ini: http://supersonicsounds.wordpress.com/2007/11/04/album-review-radiohead-kid-a/


Untuk membaca 40 track terbaik pilihan musik blog SupersonicSounds ini, klik tautan-tautan berikut ini:

Bagian 1 (40 – 21): http://supersonicsounds.wordpress.com/2009/12/04/40-track-terbaik-2000-2009-bagian-1/

Bagian 2 (40 – 20): http://supersonicsounds.wordpress.com/2009/12/05/40-track-terbaik-2000-2009-bagian-2/


3 Responses to “20 album terbaik 2000 – 2009”


  1. 1 aku
    November 10, 2010 pukul 3:25 pm

    list ini pantas dicela (meski preferensi seseorang juga harus dipertimbangkan), oasis? energinya udah abis, viva la vida dan arctic monkey gak muncul, kings of convenience? lumayan (mungkin buat orang indon kali aja ye),era garage rock tanpa the white stripes?………dllllll


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Desember 2009
S S R K J S M
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Categories

Blog Stats

  • 113,120 hits

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: