Arsip untuk Oktober, 2009

25
Okt
09

Konser Review: Efek Rumah Kaca & Polyester Embassy – Urban Fest 2009, 24 Oktober 2009

Sabtu siang yang cerah, mereka yang ingin melarikan diri dari jebakan penuh godaan mal-mal Jakarta, menemukan dirinya di Pasar Seni, Ancol. Di sana, di bawah teriknya Matahari Ancol, dan tiupan angin lemah Laut Jawa, Urban Fest 2009 digelar. Sebuah acara yang menggabungkan pertunjukkan band dan pameran seni lainnya, serta kreatifitas kehidupan Urban.

Di hari pertama acara tersebut, 2 band yang bisa dibilang masuk dalam salah satu yang terbaik yang dimiliki negeri ini, mengisi panggung yang berada di Urban Fest 2009. Band yang pertama adalah Efek Rumah Kaca. Mengisi panggung utama di waktu yang kelewat dini pada pukul 15:30, mereka berhasil menarik pengunjung awal yang berkeliaran di Urban Fest kemarin. Dengan materi yang dipadukan dari album pertama dan kedua, mereka terdengar sangat berbahaya, didukung dengan tata suara cukup baik yang menjadikan suara Cholil terdengar agung dan penuh misteri, terutama di nomor yang dijadikan penutup set mereka waktu itu, “Jalang”. Lagu – lagu seperti “Kau Dan Aku Menuju Ruang Hampa” terdengar mengagumkan, sosok Cholil seperti seorang seniman yang mendalami musiknya dengan sangat dan itu dirasakan mereka yang melihatnya. Dalam “Di Udara”, “Mosi Tidak Percaya” dan “Menjadi Indonesia” mereka tidak hanya memainkan sebuah karya yang menunjukkan kepedulian terhadap apa yang terjadi dengan negeri ini, tetapi juga menujukkan kalau mereka berada di kelasnya tersendiri. Efek Rumah Kaca telah membuka Urban Fest 2009 dengan penampilan yang dashyat.

Memasuki malam, udara lembab masih menguasai pasar seni waktu Polyester Embassy menaiki panggung Prambors. Seperti biasa mereka terdengar solid, memulai dengan sebuah instrumentalia, yang disusul oleh “Orange Is Yellow”. Sebuah nomor baru “Later On” mengalir dengan melodik di tengah perpaduan bas Tomo dan gitar Sidik, yang lalu di bagian akhirnya disambung dengan permainan kibor Elang, dan respon tepuk tangan penonton yang mengiringi seperti instrumen ritmus tambahan. Lagu – Lagu lama seperti “Good Feeling” dan “Polypanic Rooms” memberikan atmosfir sebuah gig yang intim di tengah-tengah kehingarbingaran Urban Fest malam itu. Set mereka malam itu ditutup dengan Fake/Faker, masih dalam balutan suara ethereal yang menghanyutkan, di bawah langit Ancol yang memberikan kita pelarian dari kehidupan urban malam itu.

David Wahyu Hidayat

Efek Rumah Kaca memainkan: Banyak Asap Di Sana, Balerina, Sebelah Mata, Kau Dan Aku Menuju Ruang Hampa, Mosi Tidak Di Percaya, Di Udara, Menjadi Indonesia, Jalang

Polyester Embassy memainkan di antara lain: Orange Is Yellow, Later On, Good Feeling, Polypanic Rooms, Fake/Faker.

Foto-foto dari penampilan mereka bisa dilihat di bawah ini:

IMG00226-20091024-1531

IMG00227-20091024-1531

IMG00228-20091024-1532

IMG00228-20091024-1532

IMG00229-20091024-1532

IMG00230-20091024-1538

IMG00231-20091024-1538

IMG00233-20091024-1845

IMG00235-20091024-1845

IMG00236-20091024-1846

IMG00238-20091024-1847

IMG00239-20091024-1847

IMG00240-20091024-1851

IMG00241-20091024-1852

22
Okt
09

Album Review: Ian Brown – My Way

Ian Brown - My Way (2009)

Ian Brown

My Way

Fiction – 2009

Tak lama setelah The Stone Roses bubar, Ian Brown terpaksa kembali tinggal di tempat orang tuanya, menempati kembali kamar yang dibaginya bersama saudara kandungnya sewaktu kecil. Di hari-hari yang sulit itu ia bahkan harus meminjam uang dari ayahnya yang seorang pensiunan untuk membeli makanan. Sang King Monkey tersebut merasakan kepahitan yang dalam, membalikkan punggungnya terhadap musik, bahkan bermimpi untuk menjadi tukang kebun saja. Tapi untungnya bagi kita semua, Manchester tidak membiarkan itu terjadi. Orang-orang yang ditemuinya di jalan, temannya, sesama musisi, dengan teguh menyemangatinya untuk kembali bermusik, sampai ia bertemu salah satu orang fansnya yang mengatakan “You’re Ian Brown, do something”.

Kata-kata itu menyelamatkan karirnya dan kita semua yang menganggap dirinya adalah seorang legenda hidup setelah apa yang ia lakukan bersama The Stone Roses. Ia memulai karirnya sebagai solo artis di tahun 1998 dengan sebuah album yang judulnya  penuh pertanyaan menantang “Unfinished Monkey Business”. 4 album berikutnya dan kesuksesannya sebagai solo artis, ia merilis sebuah album yang diyakininya sebagai yang terbaik yang pernah rilis. Ia tidak kehilangan sentuhannya sebagai seorang pekerja keras, dan album terbaru itu diberikan sebuah judul yang tidak kalah menantangnya dengan album pertamanya, ia menamakan album barunya ini “My Way”.

Dengan dentuman irama yang penuh dengan kepercayaan diri, ia membuka album itu dengan “Stellify”. Ini adalah definisi indie r ‘n’ b ala Manchester dan Ian Brown. Diwawancara oleh XFM, ia mengakui menulis lagu ini untuk diberikan kepada Rihanna, tapi kemudian menyadari lagu ini begitu bagusnya, sehingga ia menyimpannya untuk albumnya sendiri. Ian Brown tidak malu harus bersandingkan diri dan dicap sebagai artis yang terlalu memuja lantai dansa. Ia menjawab kritik, mengapa tidak ada satupun lagunya yang seperti The Stone Roses, dengan caranya sendiri. Baginya Roses adalah masa lalu, dan sejak ia menelurkan “My Star” di album pertama, kemudian “Dolphins Were Monkey” dan “F.E.A.R” ia membuat jalurnya sendiri menuju kemajuan nada yang ia ciptakan.

Lagu yang akan menjadi single berikutnya di album ini “Just Like You” adalah contoh berikutnya dari progres yang akan disebarkan oleh Ian Brown. Ia mengeluarkan irama terbaiknya di lagu ini dan keseluruhan album ini, membuatnya terdengar menyegarkan, dan berbahaya seperti seorang petinju veteran yang siap mempertahankan gelarnya dari petinju-petinju muda yang hanya haus akan materi. Sebuah lagu dari Zager and Evans, “In The Year 2525” dinyanyikan Ian Brown dengan menfiturkan permainan kata akan masa depan manusia diiringi oleh tiupan trompet mariachi, sebelum sebuah nomor bertempo pelan “Always Remember Me” menebarkan suara kemegahan di telinga kita.

Dengan suasana ethereal menuju kejayaan, kita akan mendengarkan “For The Glory” di mana ia menyanyikan “And when the bombs began to fall, I didn’t do it for the roses”. Sebuah pernyataan yang ingin ia sampaikan kepada teman-teman bandnya terdahulu? Apapun jawabannya, Ian Brown telah mencapai kejayaann sendiri sebagai seorang solo artis. Aliran irama yang tanpa henti dilanjutkannya dalam “Marathon Man”. Tom Meighan dari Kasabian akan iri terhadap apa yang Ian Brown lakukan di sini dengan irama etniknya dan perpaduan loops yang seakan datang dari seorang pionir musik elektronik.

Tak pernah kekurangan rasa percaya diri, Ian Brown melanjutkan kedigdayaannya dengan “Own Brain” yang merupakan anagram namanya sendiri. Ia mungkin tidak punya lagi mitra musisi yang jenius seperti Squire, Mani, dan Reni, tapi lagu ini menunjukkan bahwa ia tidak kurang jenius dari mereka. Sebagai lagu terpendek di album ini, Ian Brown dengan efektif mengeluarkan semua unsur yang terpenting dari sebuah lagu yang dapat menarik massa: hook lagu yang mudah diingat serta lirik yang cerdas.

Bila Ian Brown mengklaim ini adalah album terbaik yang pernah ia hasilkan, mungkin kita juga harus memberikan kredit itu kepadanya. “My Way” bersinar dengan rangkaian iramanya yang mengalir tanpa putus, membuatnya menjadi sebuah kesatuan album yang memberikan kepuasan dalam mendengarkannya. Album ini penuh dengan  kesenangan dari seseorang yang selalu percaya akan jalannya sendiri, seperti yang ia sendiri nyanyikan di lagu terakhir album ini “So High”. Di sana ia menyanyikan dengan kepercayaan diri “Yeah I’m a believer me…”, dan kita semua percaya kepadanya dan mengikuti jalannya. Ian Brown, sang legenda.

David Wahyu Hidayat

15
Okt
09

Album Review: Muse – The Resistance

Muse - The Resistance

Muse

The Resistance

Warner Music – 2009

Bila kalian bernama Coldplay atau Oasis, bukanlah suatu hal yang tidak aneh, kalau kalian menggelar konser di stadion Wembley. Dengan lagu yang selalu dapat membuat massa menjadi sebuah paduan suara terbesar yang pernah ada, Coldplay dan Oasis mempunyai elemen yang menjadikannya patut membuat sebuah pagelaran musik di sana. Tapi kalau kalian bernama Muse, dan menggelar konser dua hari di Wembley, hal itu adalah fenomena. Mengapa? Karena sejak awal karirnya Muse adalah sebuah band yang berbeda dibanding dengan kolega-kolega semasanya. Musik mereka unik, terkadang terdengar terlalu berbobot untuk dapat menjangkau massa yang luas, tapi justru dengan keunikannya sendiri mereka tetap bertahan dan bahkan menjadi salah satu band terbesar yang datang dari Inggris saat ini.

Dengan “Starlight” dari album terakhir mereka “Black Holes And Revelations” Muse telah menjangkau konsumen musik di jalur utama, bahkan di negara ini. Lagu itu terdengar di nada sambung pribadi/nada dering ponsel seseorang yang dari penampilannya sangat diragukan kalau dirinya adalah fans Muse, waktu kita memasuki pusat perbelanjaan kita mendengar lagu itu, bahkan sebuah band cafe yang biasa membawakan lagu dengan genre sangat berbeda dari yang diusung Muse membawakan lagu tersebut. Singkatnya Muse telah menjadi nama dalam komoditi rumah tangga kita.

3 tahun sesudah album tersebut dan sebuah konser megah di Istora Senayan, Muse memberikan kita “The Resistance”. Mereka yang mengharapkan lagu seperti “Starlight” di album ini, tidak akan mendapatinya, dan mereka tentu akan kecewa karenanya. Tapi seperti yang sudah-sudah, Muse tidak peduli akan hal itu. Yang ada di sini adalah 11 karya gemilang, campuran antara rock antariksa khas Muse yang bertemu dengan musik klasik dengan sedikit sentuhan Queen dan musik urban.

Pemberontakan musikalis di album ini berawal dengan sebuah lagu berjudul “Uprising”. Di sini Matthew Bellamy masih bercerita tentang sebuah perlawanan terhadap sebuah wujud korporasi yang mendominasi dunia ini dengan menyanyikan “They can not control us, we will be victorious”, sebelum sebuah jeda instrumentalis mengisi lagu ini yang dipenuhi degan teriakan, tepuk tangan dan solo gitar efektif dari Bellamy. Lagu kedua album ini “Resistance” diawali dengan dentingan piano yang diserbu dengan rantai ritmik Dominic Howard yang terdengar seperti bom yang dijatuhkan dari pesawat untuk meratakan daratan di bawahnya. “Resistance” juga memberikan kita nada yang paling mudah diingat waktu Bellamy menyanyikan “It could be wrong, could be wrong..”, membuat lagu ini sebagai sesuatu yang menarik, entah disengaja atau tidak.

Bila ada lagu yang paling inovatif yang pernah dibuat Muse sampai saat ini, hal itu ada di dalam “Undisclosed Desires”. Mendengarkan 15 detik pertama, kita akan dibuat bingung dan bertanya pada diri sendiri “Ini masih Muse atau sebuah lagu r ‘n’ b dari produsen papan atas NY?”, karena intro ini pada faktanya memang terdengar seperti sebuah musik r ‘n’ b, dan ini membuat Muse semakin menarik di setiap album yang mereka rilis. Di “United States Of Eurasia” Muse tidak bisa memungkiri pemujaan mereka terhadap Queen, dengarkan saja lagu ini dengan seksama, dan kalian akan mengetahui tempatnya waktu mendengarkannya.

Suara orgel gereja mengawali “Unnatural Selection” sebelum serbuan gitar yang menjadi ciri khas permainan Bellamy menguasai lagu ini. Destruktif tapi melodik, klasik Muse. Tak lama sesudahnya album ini lalu ditutup dengan sebuah simfoni megah yang merupakan ambisi baru Muse. Rangkaian orkestrasi ini terdiri dari 3 bagian yang dinamakan: “Exogenesis: Symphony Part 1 (Overture)”, “Exogenesis: Symphony Part 2 (Cross – Pollination)”, dan “Exogenesis: Symphony Part 3 (Redemption)”. Ketiganya merupakan gambaran sempurna Muse tentang musik layar lebar. Kemegahan dan keagungan bercampur menjadi satu di situ dan kita terlelap dalam buaiannya yang menghanyutkan.

Dengan “The Resistance” Muse sekali lagi menentukan nasibnya sendiri. Mereka tidak peduli akan jutaan orang yang menunggu “Starlight” berikutnya. Bukan itu yang menjadikan Muse besar. Yang menjadikan mereka besar seperti sekarang ini, adalah keberanian mereka untuk menjadi berbeda dari kalangannya, dan keberanian itu kita dengar dalam “The Resistance”.

David Wahyu Hidayat

11
Okt
09

Album Review: Pearl Jam – Backspacer

Pearl Jam - BackSpacer

Pearl Jam

Backspacer

Universal Indonesia – 2009

Jauh di pertengahan dekade 90-an, sebuah mixtape mengubah selera musik saya untuk selamanya. Walaupun dalam perkembangannya, saya mengambil jalur lain dari genre yang ada di mixtape tersebut, tapi saya merasa berhutang terhadap satu band yang ada di kaset tersebut, karena band tersebut telah membuka jalan terhadap keajaiban dunia musik di luar jalur utama, dan sejak saya menerima mixtape tersebut, saya memutuskan untuk tidak akan pernah meninggalkan kecintaan terhadap band tersebut. Band itu berasal dari Seattle, dan bernama Pearl Jam.

Sekarang, di tahun 2009, Pearl Jam merilis album terbarunya “Backspacer”, yang hanya sepanjang 36 menit dan 31 detik adalah album terpendek durasinya yang pernah dikeluarkan band tersebut. Tapi bukan itu yang membuat album ini menjadi spesial. “Backspacer” terdengar segar dan langsung, mungkin ini adalah album Pearl Jam paling istimewa sejak merilis “Binaural” di tahun 2000.

Dengan gebrakan secepat suara supersonik di empat lagu pertama “Gonna See My Friend”, “Got Some”, “The Fixer” dan “Johnny Guitar”, musik Pearl Jam seakan terdengar  lebih mendekat ke The Who daripada suara yang menjadi tandatangan musik asal Seattle di tahun 90-an. Bila mendengarkan “The Fixer” yang menjadi single pertama dari album ini, mereka terdengar seperti sedang berada dalam puncak kesenangan bermain musik, menjadikan lagu ini sebagai sebuah nomor rock penggoda telinga yang bergairah. “Got Some” yang dikemas dalam 3 menit, penuh dengan dinamika rock penuntut kesiagaan telinga dan adrenalin pendengarnya. Ini adalah contoh lain yang menunjukkan betapa menikmatinya para personil Pearl Jam membuat musik di album ini.

Setelah 4 lagu yang dipenuhi ekstase penuh, “Just Breathe” membawa kita ke tepian yang tenang ditemani oleh petikan gitar akustik dan suara khas Eddie Vedder. Ini adalah bentuk musik americana Pearl Jam yang telah disempurnakan sejak 2 album sebelumnya. Mendengarkannya seperti memberikan kita pandangan luas tentang Amerika yang tenang, dengan angin politik baru yang memberikan harapan. Dalam “Amongst The Waves” Vedder menyanyikan dengan menggugah “If not for love I would be drowning”, sama seperti “Just Breathe” lagu ini memberikan sebuah harapan baru yang menenangkan. Setelahnya dalam “Unthought Known” Pearl Jam memberikan kita optimisme dalam kehidupan, di mana ritem gitar itu becampur dengan suara piano dan vokal Vedder dalam repetisi melodi yang intens.

“Supersonic” menghentak kita kembali dalam semangat rock yang menyenangkan. Sepotong “yeah yeah” dari Vedder, seperti juga yang terdengar di “The Fixer” mencerminkan betapa senangnya keadaan band itu saat ini, lalu ketika di menit 1:21 solo gitar McCready mulai menguasai lagu tersebut, kita pun tidak bisa lain selain berteriak “yeah” juga dalam hati kita masing-masing. Sebuah lagu karangan Vedder berjudul “Speed Of Sound” menapakkan kita kembali ke tanah dengan temponya yang santai, sebelum “Force Of Nature” mengangkat kita masuk dalam sebuah lagu rock melodik, diawali dengan suara wah-wah lalu dari situ beranjak naik melayang menuju klimaks.

“Backspacer” berakhir dengan sebuah lagu yang dengan sederhana dinamai “The End”. Kembali nuansa americana terasa di sini, dengan temponya pelan, merefleksikan semua yang telah terjadi di belakang, dan betapa kita harus bersyukur atas semua itu. Sebuah hembusan nafas ringan mengiringi nyanyian Vedder di lagu itu “My dear, the end comes near…” tak lama sesudahnya lagu itu, beserta “Backspacer” usai sudah. Dan kita telah menikmati setengah jam terbaik dari salah satu band terbesar Amerika saat ini. Bukan tanpa sesuatu Pearl Jam adalah band terakhir yang bertahan dari generasinya, mereka bertahan karena mereka terus menghasilkan lagu yang penuh kekuatan untuk penggemarnya dan lagu itu adalah lagu-lagu berarti yang sulit ditandingkan dengan segala elemen musik dalam generasi band sekarang ini. “Backspacer” adalah bukti dari semua itu.

David Wahyu Hidayat




 

Oktober 2009
S S R K J S M
« Sep   Nov »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Categories

Blog Stats

  • 42,506 hits