Arsip untuk Juli, 2008

06
Jul
08

Album Review: Coldplay – Viva La Vida Or Death And All His Friends

Coldplay

Viva La Vida Or Death And All Of His Friends

Parlophone – 2008

Delapan tahun yang lalu Chris Martin hanyalah seorang sosok terdepan sebuah band indie yang diharapkan memulai sebuah pembaruan yang menakjubkan sambil menyanyi dengan naif kalau kita hidup di dunia yang indah. Kini setelah menjual 32,5 juta album, perkawinan ideal seorang rockstar dengan artis papan atas Hollywood, memproposikan perdagangan yang adil lewat Make Trade Fair, menjadi band favorit sesama pemusik lainnya seperti Justin Timberlake, ia bersama Coldplay telah mencapai puncak gunung Olimpus dunia pop yang bersemayam di sanubari kita. Mereka telah melakukan yang harus dilakukan, dan sepertinya tidak ada lagi yang dapat ditawarkan mereka.

Tidak ada lagi? Di tahun 2008 ini, dengan menghantarkan “Viva La Vida Or Death And All His Friends” mereka memberikan pembuktian kalau Coldplay masih tetap haus untuk merambah satu area baru yang belum pernah mereka sentuh. Dibantu dengan Brian Eno yang sukses memberikan warna baru kepada U2 dan Markus Dravs yang berperan dalam pembentukan sound album terakhir Arcade Fire “Neon Bible”, album Coldplay yang satu ini memberikan sebuah sentuhan ultimatif untuk band sebesar Coldplay.

Setiap lagu diawali dengan sebuah ambiens yang kita kenal dari karya – karya Brian Eno, bahkan mereka dengan berani membuka album ini dengan sebuah nomor instrumental dalam “Life In Technicolor”. Harus diakui, setiap nomor pembuka album Coldplay adalah sebuah pernyataan seperti yang telah kita kenal dalam “Don’t Panic”, “Politik”, dan “Square One”. Mereka yang selama ini mengkritik Coldplay telah menjadi band yang terlalu komersial akan kembali jatuh cinta kepada band ini, setelah mendengarkan habis “Life In Technicolor”.

“Lost” yang konon diinspirasikan dari mendengar terlalu banyak lagu “Sing” oleh Blur dalam album “Leisure”, dalam tur terakhir mereka, diawali dengan bunyi orgel gereja, yang menambahkan kesan keagungan vokal Chris Martin. Kekhidmatan itu dilanjutkan ketika Martin dalam intro “42” menyanyikan “Those who are dead are not dead, they’re just living in my head”, sebelum semuanya di menit 01:35 berubah menanjak menuju sebuah lagu yang epik dan menemukan klimaksnya ketika Martin menyanyikan “You thought you might be a ghost…You didn’t get to heaven but you made it close”. Dan semua itu cukup dikemas dalam durasi sedikit di bawah empat menit.

Memasuki “Lovers In Japan/Reign Of Love” kita merambah ke teritorial kenyamanan Coldplay, yang membawa kita cepat melayang diiringi dengan permainan piano Martin dan pola reverb-distorsi ringan gitar Jonny Buckland di latar belakang pada lagu yang pertama, sedangkan “Reign Of Love” adalah salah satu alasan mengapa orang-orang yang tadinya tidak peduli terhadap musik di luar arus utama tiba-tiba sepakat untuk mencintai band seperti Coldplay.

Vokal falsetto Chris Martin adalah salah satu yang mengindetifikasikan musik Coldplay. Di “Yes” suami Gwyneth Paltrow itu tiba-tiba menyanyi dengan suara rendah yang sangat mengiritasikan sekaligus membawa efek kejutan menyenangkan, dengan suara orkestrasi yang menemaninya di lagu tersebut. Lagu itu mempunyai sebuah hidden track yang tak kalah menariknya berjudul “Chinese Sleep Chant”. Mendengarkan lagu itu, seperti mendengarkan Coldplay melakukan musik Shoegaze dengan gitar Buckland yang dominan di telinga kita dan suara Martin yang tidak jelas sedang menggumamkan kata-kata apa, yang jelas lagu tersebut terdengar mengagumkan.

Bila kita sampai saat ini masih mencari lagu musim panas tahun 2008, maka pencarian itu akan berhenti sewaktu mendengarkan titel track album ini. “Viva La Vida” adalah sebuah anthem, titik. Dengarkan suara lonceng gereja di lagu ini yang mengiringi refrainnya, kemudian ketika keempat personil Coldplay bernyanyi bersama waktu memasuki menit 03:00 lagu ini, mereka akan menyentuh titik kebahagiaan kita yang terdalam, dan melebur perasaan kita dalam hangatnya matahari.

Album ini akan membuat mereka yang telah kehilangan kepercayaannya kepada Coldplay setelah menjadi band semua umat, kembali mencintai musik yang dibuat Chris Martin, Jonny Buckland, Guy Berryman dan Will Champion. Ini adalah album terbaik Coldplay setelah “Parachutes”. Mereka seakan tidak mempedulikan pemuasan kuping pecintanya yang terbiasa dengan pop ala “Clocks”, yang mereka lakukan hanyalah merayakan kehidupan yang mereka cintai dalam musik yang mereka buat, agar dapat membuat kematian dan semua temannya menjadi sesuatu yang berarti, karena kita tidak menyia-nyiakan sesuatu yang terbesar yang pernah ada. …Kehidupan itu sendiri.

David Wahyu Hidayat




 

Juli 2008
S S R K J S M
« Jun   Sep »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Categories

Blog Stats

  • 42,506 hits