Elbow
The Seldom Seen Kid
Fiction – 2008
Terkadang dalam hidup ini berada di posisi underdog adalah sesuatu yang menguntungkan. Karena di posisi tersebut kita tidak diharapkan untuk dapat berbuat sesuatu yang menentukan, atau bahkan mempengaruhi suatu era. Mereka yang di posisi tersebut seperti dicoret dari atas kertas untuk melakukan sesuatu yang besar, tapi bila kita mengingat sejarah, berapa banyak mereka yang berada di posisi underdog justru telah melakukan suatu yang akhirnya diingat banyak orang, bidang olahraga telah banyak mencatat hal itu, ingat saja final piala champions beberapa tahun silam, ketika sebuah tim yang tidak lagi diperhitungkan, karena sudah tertinggal 0-3 di babak pertama akhirnya mampu memenangi turnamen tersebut.
Di bidang musik, rumus tersebut juga berlaku sama, walaupun mungkin dampaknya tidak sesignifikan seperti di bidang lainnya, tapi lebih ke pada individu masing-masing orang yang mendengarnya. Bila dikategorikan, Elbow adalah sebuah band underdog, terlalu banyak orang yang tidak mengenal mereka, dan terlalu rendah musik mereka dinilai, sehingga mereka tidak begitu meraih sukses seperti band-band seangkatan mereka. Tapi sejujurnya, sejak album pertama mereka tidak pernah berhenti menghasilkan rangkaian musik yang berkualitas, dan bahkan patut disandangkan bersama dengan Coldplay, bukan hanya karena mereka memainkan musik di area yang sama, tapi karena memang musik mereka sebagus itu. Lupakan Keane, karena musik Elbow lebih menusuk sanubari, memunculkan kembali harapan di tengah kegalauan kita.
Album keempat mereka yang berjudul “The Seldom Seen Kid”, bukanlah pengecualian. Single pertama mereka “Ground For Divorce” menfiturkan suara malaikat Guy Garvey dalam penampilan terbaiknya, dipadu dengan suara gitar yang merobek dinding pencerna musik kita, hampir terdengar seperti efek gitar terkasar Jimmy Page.
Bila ada orang yang masih ragu akan musik yang dihantarkan oleh Elbow, maka “Weather To Fly” akan menghapus segala pertanyaan itu. Diawali dengan lirihan Guy Garvey yang menyanyikan “Are we having the time of our lives…are we part of the plan here” lagu ini memberikan maknanya dengan sendirinya, ia menyanyi seperti mencari arti dari kehidupan ini, bertanya apakah ini saatnya yang tepat untuk terbang mencari jawaban. Untuk beberapa orang yang sedang menjalani sebuah kehidupan baru, lagu ini tiba-tiba menjelaskan semuanya. Melodinya terbungkus manis, membuat kita tertengun sejenak, untuk kemudian berkata kalau segalanya terlihat indah dari atas sini.
Sejak album pertama, Elbow selalu pintar memainkan perasaan pendengarnya dengan suasana agung dari lagu-lagunya, di album ini “One Day Like This” meneruskan pola tersebut. Lewat iringan orkestra yang mengiringinya, lagu ini menampilkan keepikannya, sebuah klimaks tentang perasaan seseorang yang tiba-tiba mengucapkan kata-kata yang tidak penah diucapkannya dalam balutan mentari pagi, “Using words I never say, I can only think it’s must be love…And only now I see the light, lying with you half awake…well anyway it’s looking like a beautiful day…One day like this a year would see me right”.
Sepertinya kita harus berterima kasih karena Elbow. Karena posisinya sebagai underdog yang masih mengeluarkan musik dari hati mereka, tanpa digerogoti apapun. Karena dengan demikian, mereka dapat menampilkan sebuah keindahan. Sesuatu yang mungkin tidak dapat dilihat semua orang, tapi bagi orang-orang seperti kita yang menikmati musik mereka, kita tahu kalau mereka telah berhasil mendefinisikan hari-hari berarti dalam kehidupan kita.
David Wahyu Hidayat

0 Tanggapan ke “Album Review: Elbow – The Seldom Seen Kid”