Arsip untuk Maret, 2008

23
Mar
08

Album Review: The Smiths – The Queen Is Dead

the-queen-is-dead-cover.png

The Smiths

The Queen Is Dead

Rough Trade – 1986

Suatu subuh di musim semi 1999. Seorang jiwa muda, dengan enggan menyibakkan selimutnya, beranjak dari tempat tidur untuk memulai pekerjaannya hari itu, di sebuah kota bernama Dortmund yang telah menjadi kampung halaman barunya sejak setahun. Pagi masih sunyi, belum terdengar suara keramaian yang akan membangunkan hari, hanya sebuah suara mendayu-dayu dari stereo set mininya memecah keheningan di pagi itu. Suara dari sebuah album bersampulkan Alain Delon dari filmnya di tahun 1964 L’insoumis, yang baru dipinjamnya dari salah seorang teman. Di pagi-pagi buta tersebut, suara itu begitu menghinoptisnya, mengharmonisasikan suasana pagi yang belum ternodai apapun. Sejak momen tersebut, jiwa muda itu memutuskan untuk mencintai suara yang didengarnya itu. Album yang menfiturkan lagu “There Is A Light That Never Goes Out” yang didengarnya di subuh itu adalah The Queen Is Dead dari The Smiths.

Jiwa muda tersebut masih terlalu muda di tahun 1986 untuk mempedulikan siapakah The Smiths, dan untuk mengetahui kalau Morrissey dan Marr adalah penulis lagu paling berbakat yang dipunyai Inggris sejak Lennon/McCartney. Namun sejak subuh menentukan di tahun 1999 itu, semuanya berubah. Dimulai dari hari itu The Smiths menyusul band asal Manchester lainnya The Stone Roses dan Oasis untuk menjadi ikon penting dalam kehidupannya. Album ketiga mereka, “The Queen Is Dead”, yang dirilis di tahun yang sama ketika “tangan Tuhan” dan kejeniusan Maradona memenangkan piala dunia untuk kedua kalinya bagi Argentina, menjadi salah satu sumbu putar kecintaannya akan musik.

Dibuka dengan lagu yang bertitel sama dengan album tersebut, “The Queen Is Dead” diawali dengan nyanyian “Take Me Back to Dear Old Blighty” yang disusul oleh distorsi gitar Johnnny Marr dan dentuman gemuruh drum Mike Joyce. Lagu pembuka ini adalah pendobrak yang tepat untuk sebuah album yang dipenuhi dengan nada – nada yang kadang memukau, kadang menikam perasaan dengan dalam seperti pada “I Know It’s Over” yang diakui oleh banyak orang sebagai lagu putus cinta terhebat yang pernah dinyanyikan. Di situ, Morrissey menyanyikan kepedihannya dengan lirik “I know it’s over, and it never really began, but in my heart it was so real..’Cause tonight is just like any other night, that’s why’re on your own tonight, with your triumphs and your charms, while thy’re in each other’s arms..It’s easy to laugh, it’s easy to hate, it takes strength to be gentle and kind, over, over, over”. Semenjak itu, Morrissey tanpa alunan menyayat gitar Johnny Marr tidak pernah lagi menyatakan kepedihannya sepilu ini.

Cemetry Gates” adalah hujatan Morrissey terhadap segala aksi plagiat sekaligus lagu pujaan akan sastrawan kebanggaannya Oscar Wilde. Kenarsisan Morrissey sebagai seorang artis adalah hasil dari kata – kata yang pernah ditulis oleh Wilde, siapapun yang pernah membaca satu-satunya novel Oscar Wilde “The Picture Of Dorian Gray” akan mengerti apa yang coba diutarakan Morrissey dalam karyanya. Terlepas dari itu semua, lagu tersebut adalah pop dalam bentuk terbaiknya yang dibentangkan hanya dalam 2:41 menit.

Kedua lagu yang mengikutinya “Bigmouth Strikes Again” dan “The Boy With The Thorn In His Side” melanjuti apa yang telah dimulai “Cemetry Gates”. Sebegitu kuatnya kekuatan pop yang meliputinya, bahkan lagu yang disebutkan pertama pun masih mendapat perhatian publik yang besar ketika dirilis ulang oleh Mark Ronson dalam album remixnya tahun lalu. Johnny Marr menembakkan semua amunisi terbaiknya dalam lagu tersebut dengan serangan ritem gitar yang nyaring dan melodi gitarnya yang menumpaskan segala keraguan akan pop bergitar yang dihadirkan The Smiths.

Jika ada karya kunci dalam album ini, maka “There Is A Light That Never Goes Out” akan menempati posisi tersebut tanpa keraguan sebersit pun. Liriknya yang terkesan konyol, penggambaran ironi seorang yang cinta mati terhadap seseorang sehingga rela mati tertabrak bis tingkat di sisi sosok yang dicintai tersebut, sesaat menampilkan dagelan seorang Morrissey terhadap kehidupan, tapi seperti yang ia tampilkan di banyak lagu, ironi seperti itu menggambarkan kehidupan kita dengan sangat tepat, bukan metaforsa yang ia ingin tunjukkan tapi kegamblangan hidup seorang manusia. Lagu ini beserta dengan “Some Girls Are Bigger Than Others” yang menyudahi “The Queen Is Dead” seperti sepotong lolipop yang terus ingin dijilat untuk dinikmati kemanisannya. Kedua lagu tersebut menerawang di antara nalar dan kenyataan kita, mencoba menyentil kepatetikan kita terhadap kehidupan yang tidak pernah mencapai keidealannya.

Sampai hari ini “The Queen Is Dead” tetap berarti sama seperti waktu pertama kali jiwa penulis ini mendengarkannya di pagi subuh itu. Album itu memberikan ketenangan. Album yang akan selalu diambil untuk menenangkan malam yang terlalu hening, untuk kemudian memeluk pagi hari masih dengan perasaan gamang, tapi entah mengapa yakin kalau pada akhirnya akan ada selalu cahaya yang takkan pernah sirna.

David Wahyu Hidayat

03
Mar
08

Album Review: The Stone Roses – The Stone Roses

the-stone-roses-the-stone-roses.jpg

The Stone Roses
The Stone Roses
Silvertone Records – 1989

Banyak cara yang dilakukan manusia untuk meraih sesuatu yang monumental. Sesuatu yang di masa setelahnya akan diingat manusia, karena arti yang diberikannya dan karena semangat yang dibakarnya. Seringkali, manusia – manusia seperti itu disebut sebagai pahlawan, dan nama mereka diabadikan di hati kita masing – masing sebagai seseorang yang mengubah jalan hidup kita untuk selamanya.

Keempat pemuda asal Manchester, Britannia Raya telah melakukan hal tersebut sewaktu mereka di tahun 1989 menghantarkan sebuah karya musik yang sampul depannya dipenuhi dengan garis coretan yang didominasi oleh warna hijau, bercorak seperti sebuah karya pelukis kontemporer Jackson Pollock. Di sebelah kiri sampul album tersebut tampak goretan 3 warna yang melambangkan bendera Perancis, dihiasi dengan 3 buah potongan jeruk, yang walaupun terkesan begitu menyejukkan adalah bentuk sebuah solidaritas akan gerakan mahasiswa di Paris tahun 1968. Di tengah – tengah sampul album itu, di atas semuanya, tertera nama yang bagi banyak orang adalah sebuah legenda, sebuah pahlawan musikalis. Nama itu adalah THE STONE ROSES.

Ian Brown (Vokal), John Squire (Gitar), Mani (Bass), dan Reni (Drum) sadar sepenuhnya bila album yang telah mereka ciptakan akan menjadi sesuatu yang berarti dalam kehidupan orang banyak. Mereka tidak mempunyai keraguan sedikit pun akan hal ini, dan ini tercermin dari lagu – lagu di album tersebut. Dimulai dengan sebuah pernyataan yang tegas di lagu pembuka “I Wanna Be Adored”, The Stone Roses membuka kembali jalan agar musik bergitar akan dipuja kembali, setelah satu dekade penuh dipenuhi oleh musik artifisial yang datang dari synthesizer khas 80-an. Melodi psychedelic Squire dipadu dengan bas Mani mengusik nalar kita, menyadarkan kalau mesias yang kita nantikan itu telah datang.

Kemisteriusan nada “I Wanna Be Adored” dilanjutkan dengan sebuah lagu yang terdengar seperti sapaan mentari pagi paling hangat yang pernah dirasakan umat manusia. “She Bangs The Drums” dengan liriknya “Kiss me where the sun don’t shine, the past was yours, the future is mine” adalah sebuah lagu inspiratif yang mengajak kita untuk menggenggam segala sesuatu yang terhampar di depan kita dan berhenti untuk menoleh ke belakang. Kembali, di lagu ini bas Mani yang membuka intronya, menyampaikan misinya sangat baik, dengan tempo yang membuat kita tidak berhenti mengayunkan kaki kita secara tidak sadar.

“Waterfall” dimulai dengan sebuah riff gitar yang nantinya akan dikenal sebagai salah satu ciri khas permainan gitar John Squire. Diinspirasikan dari lagu The Beatles favoritnya “Rain” Ia memulai lagu ini dengan sebuah permainan gitar yang terdengar seperti suara sebuah hari Minggu pagi yang belum ternoda. Suara Ian Brown menghipnotis kita untuk berhayal akan sebuah mimpi yang akan segera terwujud, dibalut oleh bas Mani yang melodis dan drum Reni yang menyetir dinamika ritme lagu ini.

Dalam “Made Of Stone” John Squire mengukuhkan dirinya sebagai gitaris terbaik generasinya. Lagu ini adalah cerminan musik Britannia Raya selama 30 tahun terakhir, terlalu manis untuk hanya sekedar dicintai para indie nerd, di satu sisi memberikan penegasan bahwa musik pop tidak hanya terdiri dari lantunan manis tanpa arti. Solo gitarnya di lagu ini memberikan sebuah prelude akan kemampuannya memainkan instrumen 6 senar itu, seperti yang kemudian diperlihatkannya dalam album kedua mereka “Second Coming”. Tapi itu adalah bab lain lagi dari sebuah legenda bernama The Stone Roses. Di album ini mereka sedang memulai langkah mereka untuk berdiri di puncak olimpia musik Britannia Raya.

Album ini menemukan klimaksnya dalam “I Am The Resurrection”. Lagu dengan durasi 08:12 menit ini, menampilkan semua yang menjadikan The Stone Roses sebuah legenda hidup. Lirik yang menantang dan mengedepankan kepercayaan diri seorang muda, dan kemampuan keempat personilnya bermain musik dalam outro sebuah lagu, tanpa harus takut kehilangan identitas mereka sebagai sebuah band indie yang berusaha dan berhasil menanamkan imaji ke sanubari setiap orang yang mendengarnya, bahwa ini adalah musik bergitar yang paling menakjubkan yang pernah kalian dengar.

Tahun 1989, seperti sebuah pertanda bahwa sesuatu yang menakjubkan telah terjadi, adalah tahun di mana tembok Berlin runtuh. Tak lama setelah itu perang dingin berakhir, dan dekade 90-an yang penuh keoptimisan pun dimulai. Di sekitar waktu itu Liam Gallagher muda melihat sosok Ian Brown yang penuh karisma dalam salah satu konser The Stone Roses, dan ia segera memutuskan untuk membuat sebuah band. Seperti yang telah kita kenal, band yang dibentuknya itu bernama Oasis, dan itu adalah awal dari sebuah kerajaan bernama Britpop. Oasis, dan semua yang datang setelahnya, di mana musik band Indie tiba-tiba dapat merajai mainstream tidak akan dapat terjadi bila The Stone Roses tidak merilis debut album mereka. Ian, John, Mani, dan Reni telah mengembalikan musik bergitar ke tempat yang semestinya, yaitu di dalam universum musik kita masing – masing. Untuk itu mereka layak menjadi legenda.

David Wahyu Hidayat




 

Maret 2008
S S R K J S M
« Jan   Apr »
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31  

Categories

Blog Stats

  • 42,506 hits