Ketika kita kecil, waktu terasa begitu lambat berlalu. Semuanya serasa bergerak dalam tayangan ulang yang lambat. Pelan, mungkin terlalu pelan. Keluksusan itu hilang ketika beranjak dewasa, kita bahkan tidak sanggup mengimbangi waktu yang seakan berlari di depan kita. Semuanya terlalu cepat berlalu, tanpa sempat direkam. Tanpa sempat diresapi.
Untungnya selalu ada musik yang membantu kita untuk merekam setiap momen yang pernah dilewati, dan boleh dibilang, musik di tahun 2007 ini kembali menyuguhkan sesuatu yang fenomenal untuk kuping kita.
Di dunia musik lokal, sebuah band legendaris bernama Pure Saturday mengeluarkan sebuah album restrospektifnya yang memberikan dokumentasi akan apa yang mereka telah berikan kepada dunia musik indie Indonesia. Dan lihat, legasi mereka dapat langung tercermin di dalam musik whisperdesire yang tahun ini merilis EP menakjubkan berjudul “Cerah Berawan”. Lalu ada Efek Rumah Kaca yang mengeluarkan sebuah album yang boleh dibilang album berbahasa Indonesia paling cerdas yang pernah didengar. Selain itu ada pula The Brandals yang menyampaikan keresahan masyarakat urban dengan sangat lugas dalam album ketiganya yang diberi nama dengan menggunakan pemainan kata dalam konsep yang mereka sebut “Brandalisme”. Sepertinya bila musik lokal kita terus berkembang seperti ini, kita sebagai manusia yang haus akan suguhan musik di luar dunia arus utama boleh terus tetap berharap akan masa depan yang cerah.
Untuk urusan musik di luar Indonesia, Radiohead sekali lagi menetapkan standar yang hanya bisa membuat dunia musik ternganga melalui album fantastis yang dinamai dengan “In Rainbows” dengan cara pendistribusiannya yang tidak lazim, yaitu dengan membiarkan para fansnya memutuskan mau membayar berapa untuk mengunduh album tersebut melalui situs yang dibuat khusus untuk penjualan “In Rainbows”.
Kehidupan kota dan segala sesuatu yang berpusar di sekitarnya bukan hanya menjadi keresahan The Brandals, tetapi juga Bloc Party yang memusatkan tema album keduanya kepada kehidupan London pasca pengeboman 7 Juli 2005 dan album kedua LCD Soundsytem yang berpusat pada kehidupan metropolitan bernama New York. Ganti nama kota tersebut dengan kota yang kita tinggali, dan album – album tersebut akan menjadi soundtrack kehidupan urban kita masing – masing.
Sebenarnya masih banyak lagi musik mengagumkan yang masih harus ditemukan di luar sana, tapi bila boleh dirangkum secara pribadi, di bawah ini tertera suara – suara supersonic yang telah membuat kehidupan penulis menjadi lebih berarti sepanjang tahun 2007. Mudah – mudahan seperti yang telah dialami, tahun ini juga telah menjadi tahun yang berarti bagi kalian semua.
David Wahyu Hidayat
Album Terbaik 2007:
1. Radiohead - In Rainbows
Dengan metode distribusi yang tidak konfensional, Radiohead kembali membuat standar baru dalam dunia musik kita. Tapi itu bukan satu-satunya yang istimewa dari “In Rainbows”. Sejak dari awal dimulainya “15 Step” sampai pada dentingan terakhir di “Videotape” kita hanya akan dibuat tenggelam dalam suara yang mereka ciptakan di album ini. “In Rainbows” juga seperti menandai kembalinya kecintaan Radiohead terhadap gitar, seperti yang dapat didengar dalam “Bodysnatcher”. Album ini adalah kembalinya Radiohead secara epik dan dengar belum pernah suara Thom Yorke terdengar seagung malaikat seperti dalam album ini.
Track esensial: Bodysnatchers, Reckoner, House Of Cards
2. Bloc Party. – A Weekend In The City
Suara kegelisahan Bloc Party akan keseragaman dan kenistaan kehidupan urban generasi abad 21, yang dipenuhi dengan efek – efek monumental seperti dalam “The Prayer” dan “Where Is Home” serta lick gitar ala “Helicopter” yang menyayat telinga dan jiwa dalam “Hunting for Witches”. Bila Radiohead tidak merilis “In Rainbows”, ini adalah album terbaik tahun 2007. Definitif.
Track esensial: The Prayer, Hunting For Witches, Uniform
3. Maps – We Can Create
Track esensial: To The Sky, It Will Find You, Back + Forth
4. Arctic Monkeys – My Favourite Worst Nightmare
Pada pendengaran pertamanya “My Favourite Worst Nightmare” tidak menawarkan sesuatu yang baru dari band asal Sheffield ini. Tapi disimak lagi dengan cermat, track seperti “Fluorescent Adolescent” yang mengelus nakal kuping kita atau single aktual mereka “Teddy Picker”, telah memberikan sebuah pengalaman sonic esensial di tahun 2007 ini.
Track esensial: Fluorescent Adolescent, Do Me A Favour, 505
5. Maximo Park – Our Earthly Pleasures
Di album kedua ini Maximo Park kembali dengan Oscar Wilde persona mereka, dan tidak bisa lagi dipungkiri, walaupun berasal dari Newcastle mereka adalah murid – murid terbaik sebuah pasangan penulis lagu bernama Morrissey dan Marr. Dengarkan intro gitar “Books From Boxes” dari album ini, dan kita akan menemukan kenyataan bahwa tidak ada lagi pembuktian dalih di atas yang lebih meyakinkan dari lagu tersebut.
Track esensial: Our Velocity, Books From Boxes, Nosebleed
6. The Coral – Roots And Echoes
Mesin waktu bernama The Coral itu terus membuai kita dengan lantunannya dalam usaha mengembalikan mentari ke hati yang sedang mencari kedamaian jiwa. “Roots and Echoes” tidak menciptakan sesuatu yang baru, tapi hanya mengembalikan esensi musik pop 60-an, sambil menghibur kita yang penat akan keplastikan musik pop saat ini.
Track esensial: Put The Sun Back, Jaqueline, In The Rain
7. Efek Rumah Kaca – Efek Rumah Kaca
Penantian akan sebuah musik dengan bahasa Indonesia yang cerdas dan tidak tekesan mengajari berakhir sudah. Dengan pengaruh kental dari Radiohead era “The Bends” debut album Efek Rumah Kaca ini memberikan sebuah keindahan dalam kepiluan yang dirasakan generasi ini. Album ini membuat kita tersadar kalau melankolia itu bukan akhir tapi awal dari sesuatu yang megah.
Track esensial: Di Udara, Jatuh Cinta Itu Biasa Saja, Insomnia
8. The Brandals – Brandalisme
Karya The Brandals yang paling luas spektrumnya. Rockabilly blues yang selalu menjadi ciri khas mereka, kini didukung dengan sentuhan pyschedelic magis The Beatles era Sgt. Pepper dan The Doors. Tanpa mengurangi efek pemujaan ibukota dan kecaman jalanan Jakarta, album ini adalah album paling menarik yang pernah ditawarkan The Brandals.
Track esensial: Surat Seorang Proletar Buat Para Elit Borjuis, 100% Kontrol, Tipu Jalanan
9. LCD Soundsystem – Sound Of Silver
Si jenius James Murphy kembali menghantarkan paduan antara elektronik intelek dengan sentuhan pop bangsat dibungkus dengan kecintaannya akan sebuah kota dunia bernama New York di album berjudul “Sound Of Silver” ini. Dengarkan album ini sambil memandangi hutan beton yang mengelilingi kota yang kita tinggali, dan biarkan semua bleeps dalam album itu mengambil kontrol diri kita.
Track esensial: North American Scum, Someone Great, New York I Love You But You’re Bringing Me Down
10. Interpol – Our Love To Admire
Tiga album dihasilkan sudah oleh Interpol dengan dirilisnya “Our Love To Admire” dan musik monochrome yang menjadi ciri khas mereka selalu menghantui kita kembali di setiap detik yang terdengar dalam album ini. Terserah orang lain mau berkata apa, tapi untuk itulah Interpol hadir di era mobileholic ini. Untuk menusuk ruang jiwa kita, lagi dan lagi.
Track esensial: The Heinrich Maneuver, Pace Is The Trick, No 1 In The Threesome
Track Terbaik 2007:
1. Oasis – Lord Don’t Slow Me Down
Oasis telah sampai ke satu keadaan di mana mereka tidak peduli lagi akan kata orang terhadap musik yang mereka bikin. Yang mereka lakukan dalam “Lord Don’t Slow Me Down” (begitu juga yang terekam dalam rockumentary berjudul sama) hanya memainkan musik yang mereka cintai dan itu dilakukan dengan penghayatan penuh jiwa rok ‘n’ rol mereka. Hasilnya adalah sebuah lagu yang menurut Sarah MacDonald (wanita yang mendampingi Noel saat ini dan ibu dari anak keduanya) satu-satunya lagu Oasis yang bisa dipakai untuk bedansa, dan percaya atau tidak itu adalah sebuah kebenaran.
2. Radiohead – Bodysnatchers
Suara gitar di awal lagu ini seperti berusaha meledakkan amplifier yang mereka gunakan. Di pertengahan lagu, suara itu kemudian berganti dengan suara efek menggaung yang menghantui jiwa kita. Lagu ini adalah lagu Radiohead yang paling terus terang sejak era “The Bends”.
3. Bloc Party – Hunting For Witches
Tahun 90-an dengan segala keoptimisannya telah berakhir, jaman ini adalah saatnya di mana pikiran liberal dicekal. Melalui “Hunting For Witches” dengan lick gitar mengagumkan dari seorang Russel Lissack, Bloc Party mengajak kita untuk tidak menyerah kepada kekuatan media yang hendak memutarbalikkan akal sehat kita untuk hidup di dunia penuh ketakutan.
4. Maps – To The Sky
Kita akan menuju ke langit, bermain di atas awan, dan melihat ke bumi, sambil berpikir betapa indahnya semuanya jika terlihat dari atas. Begitu sederhana, begitu damai dan sempurna. Inilah yang akan terasakan mendengarkan “To The Sky” dari Maps, suara – suara yang membahagiakan jiwa.
5. Arctic Monkeys – 505
Tahun ini mereka menjadi headliner di Glastonbury, berteman dengan Dame Shirley Bassey dan berkolaborasi dengan Dizzee Rascal. Semuanya dilakukan tanpa kehilangan predikat mereka sebagai band paling cool di planet ini untuk saat ini. “505” memberikan wajah lain dari musik Arctic Monkeys dan kegilaan mereka. Dengarkan saja kepiluan Alex Turner ketika ia menyanyikan “But I crumble completely when you cry”. Untuk sesat mereka menjadi sentimentil. Hanya sesaat.
6. Whisperdesire – Sekejap
Tanpa mengurangi keorisinalan musik whisperdesire, legasi Pure Saturday terdengar kental di lagu riang ini yang membuat kita ingin menyusuri jalanan dengan padang rumput di sisi kiri-kanan jalan, sambil merentangkan kedua tangan ke langit, menikmati hangatnya sinar mentari, tersenyum menyambut hari.
7. Maximo Park – Books From Boxes
Lagu terbaik Maximo Park dari album kedua mereka “Our Earthly Pleasures”. Petikan gitar ala Johnny Marr yang mengawali lagu ini adalah salah satu highlight musikalis 2007. Bukan sesuatu yang baru tapi entah mengapa sangat menyegarkan, seperti yang diakui sendiri oleh Paul Smith ketika ia menyanyikan “This is something new, but it turns out to be something borrowed, too”. Momen di mana Wilde dan Marr menjadi satu.
8. The Coral – Jaqueline
Musik adalah cara yang paling ampuh untuk mengatasi kekosongan hati yang ditinggalkan seseorang. Dengan melodi kental bersuasana retro dari tahun 60-an James Skelly menceritakan kandasnya sebuah cinta. Gadis dalam lagu itu bernama “Jaqueline”, dan untuk jutaan pemuda lainnya di luar sana, dengarkan lagu ini, ganti nama “Jaqueline” menjadi gadis pujaan kalian. Tiba-tiba kalian akan merasakan, belum pernah putus cinta menjadi setenang ini.
9. Interpol – The Heinrich Maneuver
10. Efek Rumah Kaca – Di Udara
Sebuah tribut Efek Rumah Kaca kepada pejuang HAM – Munir yang dikemas dalam nada – nada monumental. Lagu ini adalah salah satu alasan mengapa debut album Efek Rumah Kaca menjadi sebuah album paling cerdas yang pernah dihasilkan musisi Indonesia di tahun 2007.
11. Pure Saturday – Pagi
Mendengarkan lagu yang diambil dari album restrospektif mereka “Time For A Change, Time To Move On” ini, seperti merasakan sejuknya embun pagi yang menghiasi pagi kita, dengan suara gitar akustik yang empuk ditambah dengan keceriaan melodi gitar yang ada di lagu ini. Cerita hidup kita berhutang banyak pada Pure Saturday, dan melalui “Pagi” mereka menambahkan lagi sebuah lembaran baru untuk diingat.
12. Travis – Battleship
Travis telah kembali, dan mereka kembali bukan hanya dengan basa-basi untuk mengantarkan album yang menjadi kewajiban kontrak rekaman mereka, kali ini mereka membuat sebuah album yang mengingatkan kita mengapa kita mencintai musik mereka. Dengarkan “Battleship” dengan nada – nadanya yang menggoda halus hormon kebahagiaan kita dan kata – kata sederhananya yang memberikan kita ketenangan, seakan musim panas tidak pernah berakhir.
13. Kings Of Leon – True Love Way
Pernyataan cinta terbaik tahun ini, atau juga bukan, tergantung orang menginterpretasikannya, datang dari Mt. Juliet, Tenesse melalui Kings Of Leon. Dengan solo gitar ala southern rock yang mengaum setelah menit 02:46 dan lirik “We’d be so free, happy alone, sharing a smile, so far from home”, mereka mendefinisikan arti lain dari romantisme. Terserah kalian mau percaya atau tidak.
14. The Enemy – We’ll Live And Die In These Towns
Satu lagi lagu keluaran 2007 yang memproklamirkan kecintaan terhadap kota yang kita tinggali. Lagu ini begitu sederhananya sekaligus indah, sehingga di saat yang pas akan membuat kita untuk berdansa seorang diri di tengahnya gelapnya malam di kota yang kita tinggali.
15. Ian Brown – Illegal Attacks
Kala semua orang ribut soal pemanasan global dan usaha untuk hidup lebih hijau, Ian Brown memprotes tema yang mulai dilupakan orang. Di “Illegal Attacks” ia mempertanyakan konsekuensi perang Irak yang didukung oleh pemerintahan Britannia Raya dengan beat yang dipengaruhi berat oleh musik R’N’B dan musik orkestra di latar belakang.
16. The Brandals – 100% Kontrol
Anthem terbaru dari kelima pemuda asal Jakarta Timur ini, berlawanan dengan judulnya akan membuat kita 100% lepas kontrol tenggelam dalam lantai dansa terliar yang pernah ada, diiringi dengan rockabilly blues yang menjadi ciri khas kental musik The Brandals.
17. LCD Soundsystem – North American Scum
James Murphy bernyanyi tentang kebangsatan menjadi bagian dari masyarakat Amerika belahan utara. Terlepas dari itu, lagu ini adalah lagu ultimatif untuk menghempaskan diri kita sendiri dengan alkohol di akhir pekan. Setiap beat di lagu itu tercium seperti harumnya Jack Daniels yang kita tenggak.
18. Klaxons – Golden Skans
Muda dan Naif. Kita semua pernah berada di sana, dan Klaxons memotret semua itu dengan hampir sempurna dalam “Golden Skans”. Dengan label “New Rave” yang diberikan NME, Klaxons melalui lagu ini memberikan sesuatu yang patut diingat di tahun ini, dan lebih dari itu mereka mengingatkan kita betapa nikmatnya menjadi muda dan naif.
19. The Chemical Brothers – Saturate
Setiap album The Chemical Brothers pasti menyisakan sebuah momentum yang dapat diagungkan, bahkan untuk seorang yang bukan pecinta musik mereka sekalipun. “Saturate” adalah salah satu momen tersebut. Lagu ini seperti memberikan cermin kehidupan metropolis yang berpijak pada dua sisi, keglamoran yang membius serta kekelaman yang menakutkan di sisi satunya.
20. The Good, The Bad, And The Queen – Northern Whale
Proyek eksperimental Damon Albarn yang menyuguhkan versi dewasa atau mungkin hungover dari britpop. Bahkan satu dekade berlalu sejak britpop jatuh dari tahtanya, ia masih mengagungkan akan sebuah visi tentang kemegahan negeri albion, hanya saja kini dalam rangka realita seperti yang ia nyanyikan sendiri “All Englands tears are done/…/They only see you in a dream/Lying in a dark machine/Sing On Love/Your Melody”.
David Wahyu Hidayat
kok The S.I.G.I.T-nya gak masuk?
pilihan sulit memang tidak memasukkan the s.i.g.i.t ke dalam album terbaik tahun 2007. karena slotnya emang cuman 10 dan pilihannya jatuh ke album – album lainnya. tapi memang tidak bisa dipungkiri kalau mereka salah satu band terbaik indonesia saat ini. terlebih dengan kenyataan kalau mereka akan manggung di sxsw. salut-sesalut-salutnya. ;p