Arsip untuk November 6th, 2007

06
Nov
07

Konser Review: Bloc Party – Cologne, 19.04.2005

blocparty_koeln30.jpg

Bloc Party

Live Music Hall, Cologne

19.04.2005

 

Penonton: 1500 (Sold Out)

Band Pembuka: RichAndKool, The Cribs

Setlist: Like Eating Glass, Positive Tension, Little Thoughts, Banquet, This Modern Love, The Marshals Are Dead, She´s Hearing Voices, Blue Light, Helicopter, The Answer. Encore: So Here We Are, Price Of Gasoline, Tulips, Pioneers.

 

Review:

Setiap manusia memerlukan “drugs” di kehidupannya masing-masing. Beberapa orang medapatinya dalam bentuk pil, bubuk dan asap, ada yang menemukannya dalam sebuah form religius, yang lain dalam bentuk seks, dan sekelompok orang tertentu menemukannya dalam bentuk musik. Untuk golongan terakhir ini, tahun 2005 merupakan tahun yang spesial, karena setelah lama tidak mendapatkannya, “golden shot” yang mereka butuhkan itu datang dalam bentuk sebuah debut album. “Silent Alarm” dari Bloc Party.

Satu hal akan membuat mereka “high” setelah mendengar musik dari Bloc Party. Bukan karena kuartet asal London tersebut memiliki tampang untuk menjadi seorang popstar atau karena ayah mereka salah satu pendiri majalah mode ternama, tapi karena mereka memiliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh banyak band yang sedang beredar di orbit planet pop kita. Sesuatu itu bernama talen.

blocparty_koeln21.jpg

Talen jugalah yang membawa Bloc Party berdiri di atas panggung Live Music Hall Cologne, pada hari di mana dunia mendapatkan Paus baru mereka. Sekitar pukul 22:45 Kele Okereke (Vokal/Gitar), Russel Lissack (Gitar), Gordoan Moakes (Bass/Vokal), dan Matt Tong (Drum) menggebrak set mereka malam itu dengan “Like Eating Glass”. Suasana Live Music Hall seperti sedang menonton sebuah suspense-thriller dari Alfred Hitchcock, ketika mendengar delay gitar Lissack membuka lagu tersebut, yang disambut dengan bass intensif Moakes. Kele seperti sedang berada dalam mood terbaiknya malam itu, berteriak dengan energis “It´s so cold in this house”. Kenyataannya, Live Music Hall malam itu telah mendidih, menyambut dengan antusias kedatangan musik Bloc Party.

blocparty_koeln16.jpg

Setelah lagu tersebut Bloc Party tidak membiarkan atmosfir Live Music Hall menjadi turun kembali, mereka malah langsung menghantam para penonton dengan “Positive Tension”, yang malam itu benar-benar sesuatu yang istimewa, terutama ketika lagu tersebut berubah arahnya sama sekali, sewaktu ritmus gitar Kele dilalap dengan permainan mengagumkan ketiga personil lainnya.

Setelah “Little Thoughts” salah satu lagu lama mereka yang menawarkan warna alternativ rock yang berbeda dengan lagu lainnya dari “Silent Alarm”, Bloc Party melanjutkan set mereka dengan “Banquet”. Ini adalah lagu yang membuat Live Music Hall menjadi lantai disko paling panas di Cologne malam itu. Sehabis lagu tersebut, Bloc Party menurunkan tempo sedikit dengan “This Modern Love”, yang terkesan lebih hidup dimainkan Live. Lagu itu menimbulkan sisi sexy Bloc Party yang mencoba bercumbu dengan musik pop yang beredar saat ini.

blocparty_koeln11.jpg

“The Marshals Are Dead” adalah sebuah lagu yang cukup sulit dicerna untuk ukuran Bloc Party. Permainan drum alá militer yang dimainkan Tong, terkesan sedikit monoton di lagu tersebut. Tapi ketika lick gitar Lissack mulai memenuhi spektrum ruangan Live Music Hall, jelaslah mengapa lagu tersebut merupakan salah satu lagu favorit Bloc Party yang selalu dimainkan di setiap gig mereka. Tiba-tiba “The Marshals Are Dead” berubah menjadi lagu yang sangat “ear-catching”. Suara backing vokal Moakes yang dipadu dengan teriakan “Forever” Kele menciptakan sebuah harmonis yang manis dan mengagumkan.

blocparty_koeln28.jpg

Lagu berikutnya adalah lagu di mana karpet merah akan ditebarkan untuk Bloc Party, karena “She´s Hearing Voices” menunjukkan kejeniusan dan keindahan Bloc Party secara sempurna. Lagu tersebut memperlihatkan Kele dengan gila memutar knob efek gitarnya sampai menimbulkan suara seperti pesawat ruang angkasa memasuki ruang hampa. Di sisi kanan panggung, Russel Lissack memperkosa gitarnya tanpa belas kasihan. Melihat permainannya malam itu seperti melihat perpaduan seorang Johnny Marr muda dengan Johnny Greenwood sebelum diculik oleh alien.

Bloc Party malam itu benar-benar berada dalam form yang luar biasa. Kele sesekali terlihat bercanda dengan penonton dengan bahasa seperti layaknya seorang gentleman dari Britannia Raya. Ia lalu memulai “Helicopter” dengan duduk di pinggir panggung, yang pada kesan pertama terlihat begitu santai, tapi kedinamisan lagu tersebut membuat penonton sekali lagi berada dalam suasana penuh euphorie. “The Answer” menutup set utama mereka malam itu.

Encore mereka dimulai dengan “So Here We Are”, disambung dengan versi luar biasa dari “Price Of Gas”. Efek gitar yang diciptakan di lagu tersebut benar-benar berbeda dari yang terdengar di versi albumnya. Dengan serangan delay Lissack dan Kele yang datang dari segala arah, kuping penonton seperti ditusuk oleh sebuah suara mempesonakan. Keindahan malam itu diteruskan dengan “Tulips”, di lagu ini Bloc Party benar-benar “poptastic”. Bayangkan lagu ini di sebuah dunia pop lain, maka “Tulips” akan menjadi hits, menjadi soundtrack setiap orang yang sedang jatuh cinta. Begitu indah.

blocparty_koeln19.jpg

Bloc Party mengakhiri gig mereka dengan “Pioneers”. Di lagu tersebut, semua mengalami klimaksnya, baik penonton maupun Bloc Party. “We promise the world we tame it, what we´re hoping for?/ All we need is time, all we need is time” teriak Kele. Semua merasakan malam ini adalah sebuah pesta, dan tidak ada yang mengingikan semuanya itu berakhir. Bloc Party telah memukau Cologne, dan semua yang ada di konser itu merasakan satu hal. Malam itu tidak ada satu band pun di dunia ini yang akan dapat menyentuh Bloc Party. Bloc Party adalah mesias. God bless them, God bless Bloc Party.

David Wahyu Hidayat

Foto: EinsL1ve (Markus Meske)

06
Nov
07

Album Review: Bloc Party – Silent Alarm

silentalarmcover.jpg

Bloc Party
Silent Alarm
Wichita/V2 – 2005

Hype memprediksikan, Bloc Party akan menjadi band terbesar di tahun 2005 ini. Hype berkata pula, Bloc Party ialah “The Next Franz Ferdinand”. Bila kita hanya percaya pada hype, maka Bloc Party adalah sebuah band yang hanya ingin dibesarkan oleh musik press, dengan menggunakan kesuksesan Franz Ferdinand tahun lalu.

Fakta: Bloc Party telah memproduksi salah satu debut album paling meyakinkan selama 5 tahun terakhir. Kenyataan: “Silent Alarm” menawarkan spektrum yang lebih luas dari debut album Franz Ferdinand tahun lalu. Membandingkan Franz Ferdinand dengan Bloc Party, ialah seperti membandingkan Glasgow Rangers dengan Arsenal. Ini adalah fakta, bukan sekedar hype!

Diawali dengan “Like Eating Glass”, Bloc Party membuka dengan jelas, ke arah mana serangan musikalis mereka akan tertuju. Lagu ini ialah lagu yang dapat langsung menunjukkan kemampuan keempat personil Bloc Party dengan instrumen mereka masing – masing. Impresif.

“Helicopter” dan “Banquet” adalah nomor obligatoris mereka, sebagai salah satu band yang muncul di awal abad 21, yaitu lagu untuk mengantar para indie – freaks berdansa di lantai klub favorit mereka masing – masing, lantai di mana sneaker mereka “berperang” melawan lengketnya tumpahan alkohol.

Keindahan dan kejeniusan Bloc Party terletak dalam kemampuan mereka menciptakan “wall of sound” di belakang vokal Kele Okereke. Permainan gitar Russel Lissack patut diberikan kredit sebagai pionir generasi baru gitaris dari britannia raya. Buktinya dapat terdengar di bagian akhir dari “She´s Hearing Voices”. Tetapi bukan dalam kemahiran Lissack memainkan efek gitarnya, terletak kunci keseluruhan “sound” Bloc Party. Hal itu terletak di dalam diri Matt Tong. Permainan drumnya begitu meyakinkan, seperti sebuah monster yang siap menghancurkan segala sesuatu yang ada di depannya.

Satu hal yang membuat Bloc Party berbeda dengan banyak “hype” lainnya ialah kemampuan mereka menghasilkan “pop – appeal” yang tinggi di setiap lagu dalam “Silent Alarm”. “Pioneer”, “Blue Light” dan “This Modern Love” adalah lagu – lagu di mana “pop – appeal” Bloc Party akan menembak langsung diri kita, dan hati kita tidak akan dapat berbuat apa – apa selain mencintai lagu mereka.

Semua itu memuncak dalam “So Here We Are”. Mereka yang sinis akan berkata, “Ini hanyalah usaha Bloc Party merebut fans Coldplay & Co.”. Hey, Bloc Party bukanlah Keane, dan sesinis apapun seorang manusia, mereka tidak akan dapat memungkiri kemanisan melodi, seperti yang terdapat di “So Here We Are”. Lagu ini ialah format musik pop sesungguhnya, dan adalah sesuatu yang alamiah jika setiap orang mencintai lagu ini.

“Silent Alarm” adalah sebuah album untuk dimiliki dan dikagumi. “Something Glorious Is About To Happen” teriak Kele di “Positive Tension”. Itu bukanlah sebuah slogan belaka, karena itulah perasaan yang keluar mendengar setiap lagu dalam “Silent Alarm”. Jangan pernah percaya pada hype, percayalah pada musik yang kita dengar.

David Wahyu Hidayat

06
Nov
07

Konser Review: Kasabian – Wuppertal, 21.01.2005

nb_rk_kasabian_14_g_wdr.jpg

Kasabian
EinsLive Radiokonzert
Rex Theater, Wuppertal, 21.01.2005

Penonton: 200
Setlist: I.D, Cutt Off, Reason Is Treason, Running Battle, Processed Beats, Fifty Five, Test Transmission, Night Workers, L.S.F, Club Foot

“Those who find ugly meanings in beautiful things are corrupt without being charming. This is a fault.
Those who find beautiful meanings in beautiful things are the cultivated.For these there is a hope.”
Oscar Wilde

Review:
Apakah pop? Bagi diri penulis artikel ini, itu ialah saat pertama kali melihat “Roll With It” di MTV, ketika mendengar lantunan hedonism Brett Anderson dalam “Trash”, dan mengagumi “swagger” Richard Ashcroft dalam video “Bittersweet Symphony”. Di tahun yang masih muda ini, pop ialah Kasabian di Rex Theater Wuppertal, 21.01.2005.

Kuartet asal Leicester yang beranggotakan Tom Meighan (Vox), Sergio Pizzorno (Guitar/Synth, Backing Vox), Christopher Karloff (Guitar/Synth), dan Chris Edwards (Bass) ini, akhir tahun lalu berhasil mengeluarkan sebuah debut album yang sukses memadukan unsur elektro – rock dalam lagu – lagu mereka. Mendengarkan album tersebut seperti merasakan kalau tahun 90-an tidak pernah berakhir. Semua optimismus yang pernah terdengar dan terasa di dekade lalu, dapat ditemukan kembali di setiap bleeps, gitar, dan beat di debut album Kasabian ini.

nb_rk_kasabian_27_g_wdr.jpg

Satu jam sebelum konser dimulai, Rex – Theater, salah satu theater tertua di Wuppertal yang konon pernah menjadi tempat pertunjukan Harry Houdini itu, sudah dipenuhi oleh beberapa fans yang tidak sabar untuk melihat penampilan band yang menurut pernyataan mereka sendiri, akan mengembalikan arti musik di britannia raya. Di atas panggung sebuah bendera dengan lambang Kasabian dipadu dengan garis diagonal seperti layaknya bendera Tibet, dipadu nuansa serba merah ruangan Rex Theater, seperti hendak berkata kalau sesuatu yang mempesonakan akan terjadi sebentar lagi.

nb_rk_kasabian_19_g_wdr.jpg

Tepat pukul 21.00, lampu pun dipadamkan. Yang terdengar ialah keintesifan sebuah ‘loop’ yang menjadi intro di awal setiap konser Kasabian. Tak lama kemudian Pizzorno, Karloff, dan Edwards memasuki arena tanding mereka, dan mulai memainkan intro dari “I.D”. Dentuman drum menghantam setiap telinga manusia di Rex Theater, dan ketika musik mulai dimainkan, Tom Meighan memasuki panggung, mengenakan sweater tipis berwarna gelap dan kacamata hitam. Berpenampilan seperti itu, ia seperti campuran antara Richard Ashcroft dan Ian Brown. Ketika ia mulai menyanyi, jelaslah semuanya bahwa vokalis Kasabian yang berdiri di atas panggung tersebut ialah seorang popstar yang ditunggu – tunggu, di era di mana musik sebagian besar hanya merupakan sebuah data di komputer pribadi kita masing – masing, dan anak berusia 17 tahun menemukan popstar mereka dalam wujud sebuah acara televisi berquota tinggi.

Popstar seperti itu hanyalah kemayaan industri musik sekarang ini. Popstar sebenarnya berdiri di atas panggung Rex Theater, dan bernama Meighan, Pizzorno, Karloff, dan Edwards. Bukan sekumpulan “idols” hasil tv – casting. Bagi Kasabian musik ialah urusan jiwa, dan mereka menanggapi semua itu dengan serius. Lirik “Music is my whore” terdengar seperti “Music is my soul” dinyanyikan oleh Meighan. Intesitas drum di “I.D” dan loop yang diciptakan oleh Karloff dengan synthezisernya, seperti membawa mereka yang mendengar lagu tersebut dalam suasana “trance”.

Repertoir mereka malam itu disambung dengan “Cutt Off”, single aktuel mereka. Seperti juga dengan “I.D”, “Cutt Off” adalah sebuah nomor physchedelic yang menimbulkan kesan magis. Backing vokal Pizzorno membuat bulu kuduk kita berdiri, di sisi lain Meighan sudah tidak terkontrol lagi melakukan “monkey dancing” – nya. Yang indah dari Kasabian ialah mereka begitu sempurnanya memadukan elemen rock dan elektronik dengan tidak menimbulkan kesan bahwa salah satu elemen tersebut akan melahap elemen lainnya.

nb_rk_kasabian_20_g_wdr.jpg

Setelah “Cutt Off” mereka menaikkan tempo dengan “Reason Is Treason”. Lagu ini seperti melakukan perjalanan dengan “bullet train”. Semua yang di belakang kita berlalu cepat, tapi semuanya itu menggairahkan, karena apa yang ada di depan ialah mahkota dari perjalanan kita. Dengan gitar Pizzorno meraung dari segala arah dan teriakan Meighan seperti seorang Mancunian kelahiran Leicester “Reason Is Treason” ialah Kasabian di salah satu form terbaik mereka. MEGA!

nb_rk_kasabian_01_g_wdr.jpg

“Running Battle” menyusul “Reason Is Treason”. Karloff yang berdiri di ujung sebelah kiri panggung, hampir tidak terperhatikan sepanjang konser, memproduksi sejumlah suara aneh dan mengagumkan yang dibuat bukan hanya dengan keyboard dan synthezisernya tapi juga dengan gitar. Hal itu juga dilakukannya dalam “Processed Beats” lagu yang merupakan single pertama mereka dan membuat nama Kasabian naik di Jerman. Di tengah lagu tersebut, untuk 3 detik lamanya Kasabian membiarkan sebuah “R2-D2 bleeps” berjalan terus, di mana instrumen lainnya berhenti sekejap. Sebuah momen untuk tersenyum.

Lagu berikutnya ialah sebuah nomor yang belum dirilis berjudul “Fifty Five”. Lagu ini bisa digambarkan sebagai usaha Kasabian melangkah ke Stadion – Rock. Kalau suatu waktu Kasabian akan pernah melakukan “homecoming gig” mereka di Walkers Stadium, Leicester, maka hampir dipastikan 32.000 orang di stadion tersebut akan meloncat seperti orang gila diiringi lagu tersebut. Percaya atau tidak.

Sergio Pizzorno mengambil alih vokal dalam “Test Transmission”. Suaranya yang lebih tinggi daripada Meighan merupakan kontribusi yang menguntungkan Kasabian, karena mereka seperti mempunyai 2 “frontman” yang dapat saling mengisi. Tepukan tangan Meighan dan petikan bas Edwards di akhir lagu menambah “groove” tersendiri lagu tersebut.

Sebuah B-Sides berjudul “Night Workers” melanjuti “gig” mereka malam itu. Lagu ini ialah lagu Kasabian paling offensif dari segi rock. Dengan 3 gitar yang menyerang, mendengarkan lagu tersebut di Rex – Theater malam itu, ialah seperti disengat tinjuan Muhammad Ali yang sedang menari di atas ring. Lagu itu hanya bertujuan untuk membuat kita bertekuk lutut, menyerah tidak berdaya ke dalam musik Kasabian.

nb_rk_kasabian_03_g_wdr.jpg

“L.S.F” ialah lagu yang membuat Rex – Theater malam itu mengerti, mengapa Kasabian oleh press musik selalu dibandingkan dengan The Stone Roses, Happy Mondays dan Primal Scream. Musik mereka hanya mengambil sedikit arti dari perbandingan tersebut. Siapa yang melihat Kasabian malam itu, mengerti kalau perbandingan itu berdasarkan “attitude” yang ditawarkan Kasabian dalam musik mereka. Singkatnya, Kasabian telah mengembalikan “swagger” 90-an yang hilang ke dalam musik yang kita dengar sekarang ini. “L.S.F” ialah lagu untuk mengepalkan tangan kita ke udara, sambil memandang optimis semua yang ada di depan kita.

Kasabian menutup “pesta” mereka dengan “Club Foot”. Di lagu ini Karloff memainkan bass seperti layaknya memainkan riff gitar paling megah yang pernah didengar manusia. Ini ialah lagu untuk berdansa. Lagu untuk mengembalikan kepercayaan akan diri sendiri. Lagu untuk dimainkan di setiap “indie – night” untuk generasi yang hampir hilang ini. Kalau mereka tidak pernah mengenal sebuah band bernama “The Stone Roses”, maka semuanya itu dimaafkan bila mereka menemukan penggantinya di Kasabian. Bila tidak, maka kutipan Oscar Wilde di awal artikel ini berlaku untuk mereka.

David Wahyu Hidayat

Foto: EinsLive

06
Nov
07

Konser Review: Monster Of Spex Festival – Cologne, 20.08.2004

Monster Of Spex
c/o pop
Tanzbrunnen, Cologne, 20.08.2004

Line Up :

Franz Ferdinand (Glasgow)
Phoenix (Paris)
Radio4 (NY)
T. Raumschmiere (Berlin)

Review :
Hal-hal di sekitar kita akan berubah, dan bukan menjadi baik. Apakah kita akan pernah merasakan lagi sesuatu yang lebih indah dari masa muda kita, ketika kita menghabiskan malam minggu di klub favorit ditemani asap rokok yang mengepul dan alkohol yang lengket di tubuh? Rambut Beatles kita akhirnya harus mengalah dengan potongan rapi foto lamaran kerja, begitu juga dengan sepatu adidas kesayangan kita. Kemajuan tehnologi semakin menumpulkan insting manusia, dan cinta terkadang berubah menjadi sesuatu yang menfrustasikan.

Di saat seperti ini, Matahari terasa hanya bersinar untuk semua orang yang kita benci. Di saat seperti ini kita hanya ingin berlari, meninggalkan semuanya di belakang. Di saat seperti ini kita hanya ingin tenggelam dan menari di dalam musik yang kita cintai.

Tapi masih adakah musik yang patut untuk mengiringi kita menari melepaskan semua penat kita? Walaupun hanya untuk sesaat? Di tengah semua hiruk pikuk plastik pop dari mereka yang bangga dipilih sebagai “pop-idols” , dan “ipod” sebagai simbol status baru para eksekutif muda?

100_0324_copy.jpg

Pertanyaan tersebut dicoba dijawab oleh penyelenggara festival musik elektronik bernama c/o pop (Cologne On Pop). Dengan slogan “We build this city on electronic music”, c/o pop 2004 ialah festival pertama pengganti “Popkomm” (Pameran dan salah satu festival musik terbesar di Jerman, yang sejak tahun ini pindah ke Berlin). Beda dengan festival musik pada umumnya, c/o pop tidak berlangsung di satu tempat, dengan “Main Stage” yang gigantik, tetapi di hampir semua klub yang tersebar di Cologne, dan berlangsung selama 2 minggu. Salah satu tujuan c/o pop ialah untuk menonjolkan para artis label-label independent (non-) Electronic, yang di luar dari “Mainstream” memang telah mempunyai fans-basis yang cukup kuat.

Spex sebagai salah satu majalah popkultur ternama di Jerman, juga ikut ambil bagian dalam c/o pop ini dengan mengadakan Monster Of Spex, yang merupakan highlight dari 2 minggu festival elektronik di Cologne ini. Dengan Line Up : T.Raumschmiere, Radio4, Phoenix dan Franz Ferdinand; Spex seperti ingin menggabungkan kedua kubu pecinta indie-gitar dan elektronik di Cologne. Sebuah pilihan yang tidak salah, karena 2 hal esensial itulah yang dilakukan keempat line-up Monster Of Spex di repertoir musik mereka. Menggunakan gitar dan segala elemennya, untuk menciptakan musik yang bisa dibuat untuk menari.

T. Raumschmiere

Terletak tepat di pinggir sungai Rhein, Tanzbrunnen merupakan kulise yang sempurna untuk menikmati suguhan musik para pahlawan elektorogitarpop dari Berlin, NY, Paris dan Glasgow. Sekitar pukul 16:15, para indie boys dan indie girls disertai dengan electrokids mulai memenuhi Tanzbrunnen. Disinari dengan lembutnya sinar Matahari sore hari, dan diiringi tiupan angin sejuk, suasana Tanzbrunnen sore itu seperti layaknya sebuah taman rekreasi keluarga. Di mana-mana terlihat indie boys dengan t-shirt the Smiths, indie-girls dengan belasan button di jeans belel mereka, Sid-Vicious wannabe, dan lain, dan lain. Singkat kata sore itu ialah rekreasi keluarga elektroindiepop.

T.Raumschmiere memulai set mereka pukul 16:45. Memakai overall montir berwarna putih seperti layaknya sebuah konsep band, keempat personil T.Raumschmiere membuka set mereka dengan penuh power. Technorock bercampur dengan punk mendominasi warna musik keempat “montir” asal Berlin tersebut. Hentakan dominan elektrodrum ditimpa dengan loops alá momen terbaik di Kid A, serta manipulasi suara melalui vocoder, berhasil membangunkan sebagian penonton dari mandi Matahari mereka.

Tidak kurang dari Nick McCarthy dan Paul Thomson dari Franz Ferdinand membaur di tengah-tengah penonton, tersenyum dan sesekali menggoyangkan ringan pinggul mereka menyaksikan penampilan T.Raumschmiere. Keindahan sebuah dunia indie, bahkan band pujaan pun bertingkah seperti teman kita sendiri, dan bukan sebagai Rockstar.

Elektropunk T.Raumschmiere merupakan awal yang baik dari Monster Of Spex. Sayang, lagu mereka kurang dikenal, karena bukan tidak mungkin mereka akan menjadi lumayan besar kalau saja mereka sedikit meraih satu atau dua kesuksesan.

Radio 4
Bila kita sedikit bermain permainan yang dilakukan oleh John Cusack dan Jack Black dalam “High Fidelity” maka “top 5 list” penulis artikel ini tentang 5 hal yang mengingatkan dirinya dengan New York ialah : Spiderman, Friends, 11.09, Max Payne dan The Strokes. Setelah menyaksikan penampilan Radio 4, “top 5 list” itu harus dikoreksi sedikit.

100_0327_copy.jpg

Dengan memadukan materi lama dengan lagu-lagu dari “Stealing Of A Nation” yang akan dirilis di Jerman pada tanggal 6 September nanti, kelima New Yorker tersebut menyajikan sebuah set yang sangat kompak, dan definitiv harus menjadi hit di setiap “dancefloor” diskotik yang masih mempunyai insting untuk “dance-tune” orisinil.

Lagu-lagu dari Gotham seperti “Our Town”, “Save The City”, “Struggle” malam itu terkesan, dengan perang loops dan perkusi, 1000x lebih “danceable” dari yang terdengar di CD. Terlebih lagi “Dance To The Underground” yang telah menjadi “unofficial soundtrack” untuk malam itu. Bukan hanya penonton saja yang bergoyang di tengah-tengah lagu, para personil Radio4 sendiri dengan enerjik menjiwai lagu mereka dengan bergoyang sambil memainkan instrumen mereka.

“Party Crasher” single pertama mereka untuk “Stealing Of A Nation” adalah sedikit kekecewaan bila didengar di Radio. Tapi di Tanzbrunnen malam itu, single tersebut berubah menjadi binatang liar yang membuat kita menghentakkan kaki ke lantai, dan mengepalkan tangan ke langit luas yang terhampar di atas kepala. Lagu-lagu baru yang dibawakan malam itu patut menjadikan “Stealing Of A Nation” sebagai salah satu album terbaik di pertengahan tahun kedua 2004. Loops yang mereka gunakan lebih intensif, dan di setiap sudut lagu terdengar suara perkusi tanpa mengurangi peran bas dan gitar.

Seperti yang telah dijanjikan di atas, daftar 5 hal yang mengingatkan diri kita tentang New York harus dirubah. Mahkota musik paling menggairahkan dari New York harus dicabut dari The Strokes. Untuk sementara Radio4 yang berkuasa, paling tidak sampai akhir tahun 2004.

Phoenix

Hal yang paling membuat kita semua iri pada Phoenix ialah karena mereka semua 4 sahabat yang membuat musik yang mereka cintai dan sukses. Lalu mereka berhasil membuat semua wanita yang tidak akan pernah kita sentuh walaupun kita sudah menggunakan semua karisma kita, menggoyangkan pantat sexynya, dengan lagu kreasi mereka. Hal ketiga yang membuat iritasi terhadap 4 anggota Phoenix ialah, bagaimana mereka sanggup kelihatan cool dengan pakaian, yang bila kita pakai tidak akan pernah kelihatan mantap. Masalah karisma atau masalah musik atau itu semua karisma yang datang dari musik yang mereka bikin?

100_0345_copy.jpg

Phoenix menyapa publik Cologne malam itu dengan “Too Young”. Vokalis Thomas Mars mengenakan baju souvenir bergambarkan katedral Cologne yang menjadi ikon kota tersebut (Mengerti maksud paragraf di atas?) terlihat seperti seorang yang baru saja bangun tidur dan tidak peduli dengan keadaan sekitar. Dengan 2 musisi tambahan pada kibor dan drum, Phoenix benar-benar menyajikan cremé de la cremé “R&B Indierock”, malam itu di Tanzbrunnen. Mungkin kombinasi tersebut yang membuat Phoenix 4 tahun lalu dengan “United” , tidak tertahankan dapat memadukan sekaligus, pecinta indie-guitar dan elektronik di satu album.

Penampilan mereka malam itu menjadi lebih hidup dengan seringnya Mars mencoba untuk berkomunikasi dengan penonton. Tidak jarang ia meminta penonton untuk bertepuk tangan atau menyanyi bersama. Selain itu, mereka juga pintar memainkan emosi penonton dengan momen-momen tidak terduga, seperti ketika mereka berhenti memainkan alat musik masing-masing selama kurang lebih satu menit dalam “I´m An Actor” lalu melanjutkan lagu tersebut sampai habis. Seperti menekan tombol pause dan play di CD-Player kita.

100_0344_copy.jpg

Kedua gitaris Christian Mazzalai dan Laurent Brancowitz saling mengisi satu sama lain dengan sempurna. Tidak ada satu distorsi pun yang terdengar berlebihan. Suara unik Phoenix dengan beberapa petikan yang terasa seakan tidak pada tempatnya, seperti pada “Funky Squaredance”, justru membuat penampilan mereka semakin menarik.

“Things are gonna change/are not for better/don´t know what it means to me/it´s hopeless hopeless” lantun Mars di awal “Everything Is Everything”. Entah apa yang mereka pikirkan ketika membuat lagu tersebut. Malam itu di Tanzbrunnen teks lagu tersebut seharusnya diganti menjadi “Things are gonna change/are for better/know what it means to me/it´s hopeful hopeful”, karena mendengarkan Phoenix ialah mendengarkan datangnya kembali harapan, datangnya sebuah saat yang indah, datangnya kembali musim semi setelah musim dingin yang panjang.

“If I Ever Feel Better” adalah highlight penampilan mereka malam itu. 4 tahun lalu ketika lagu tersebut pertama kali terdengar di radio, mungkin bisa dikategorikan sebagai “french, strange and somehow funky”, dan berpikir 3 bulan lagi kita semua akan lupa akan lagu tersebut. 4 tahun berlalu, dan melodi “If I Ever Feel Better” tidak pernah hilang dari kepala kita, dan akan selalu menemani kita di saat-saat paling bahagia.

100_0342_copy.jpg

Publik Cologne menikmati “Everything Is Everything” untuk kedua kalinya di encore mereka malam itu. Kali ini versi akustik. Hanya ditemani oleh Mazzalai suara Mars menjadi melankolis dan lagu tersebut mendapatkan perspektif yang beda sama sekali dari versi regulernya. “Partytime” menutup set mereka malam itu, dan sekali lagi Tanzbrunnen menari dan meloncat merayakan musik keempat sahabat asal Paris tersebut.

Franz Ferdinand

Setlist : Cheating On You, Auf Achse, Jaqueline, Tell Her Tonight, Take Me Out, Come On Home, This Boy, Matineé, Van Tango, 40”, Michael, Darts Of Pleasure. Encore : Shopping For Blood, This Fire.

Besar penantian publik Monster Of Spex terhadap penampilan Franz Ferdinand malam itu. Apakah mereka sebesar apa yang diberitakan musik press dari Inggris, atau ternyata hanya sekedar hip belaka? Atau apakah mereka memang seperti seorang Kaisar Franz Ferdinand yang kematiannya mengawali perang dunia pertama? Sebuah pribadi yang sanggup mengubah dunia (musik) ?

100_0359_copy.jpg

Pukul 20:45 momen yang ditunggu itu pun tiba. Keempat pahlawan baru dunia indie dari Glasgow pun berdiri di depan keluarga besar elektroindiepop. Mereka pun langsung memulai set mereka dengan “Cheating On You”. Euphorie murni.

Alex Kapranos, Nick McCarthy, Bob Hardy, dan Phil Thomson terasa seperti pahlawan menang perang yang dielu-elukan rakyatnya. Franz Ferdinand ialah kemenangan kecil rakyat underground terhadap mainstream. Terlebih lagi di pop-mekah Britannia Raya. Di sana, mereka ialah mesias yang membuktikan menjadi pemusik inteligen bukan berarti musik mereka harus sulit dicerna orang banyak. Menjadi pemusik inteligen berarti juga mematahkan aturan main industri musik saat ini, yaitu menjadi sukses dengan musik ciptaan sendiri.

Dengan imej sebagai sebuah art-band, kita dapat memperbolehkan hal-hal yang mungkin terlihat memalukan dalam band lain. Seperti sebelum mereka memainkan “Jaqueline”. Alex sengaja menyemprotkan Pepperspray pada Nick. Sebagai korban Nick pun jatuh secara teatralis, dan berpura-pura buta sejenak. Alex lalu berkata pada penonton “So Nick´s blind, now I can sing a song for you”. Ia pun lalu memulai belle and sebastian –esque intro dari “Jaqueline”. Selesai intro Nick pun bangun, lalu menghajar gitarnya tanpa ampun, dan lagu tersebut pun berubah dari Dr. Hyde ke Mr. Jeykll. Gitar Stakkato Nick dan Alex, dicampur dengan teriakan “but for chips and for freedom/I could die” adalah sebuah momen untuk tersenyum. Musik bisa terdengar sebegitu bodohnya, tetapi di lain pihak, momen-momen seperti itu yang membuat kita merasa sedikit lebih hidup.

100_0361_copy.jpg

Di “Auf Achse” giliran Bob yang unjuk gigi dengan betotan bas, langsung dari “Alex James´ School”. Intro lagu tersebut diinspirasikan oleh sebuah Film-TV Jerman yang sering ditonton Nick waktu kecil ketika ia tinggal di Bayern. Gitaris yang sempat belajar kontra bas di Munich ini, sering berkomunikasi menggunakan bahasa Jerman dengan publik Monster Of Spex malam itu, yang tentu saja disambut secara hangat. Histeria.

“Tell Her Tonight” melanjutkan repertoir mereka malam itu disusul dengan “Take Me Out”. Single yang berhasil menembus top 3 chart di Inggris itu, menawarkan semua aspek sebuah lagu pop sempurna, walaupun mempunyai struktur lagu yang aneh. Pergantian tempo di tengah lagu, sebenarnya berlawanan dengan prinsip klasik sebuah lagu pop, tetapi sisi itulah yang membuat “Take Me Out” begitu menggoda. Di lagu tersebut Alex tak tertahankan lagi, menghentakkan kaki, meloncat, dan berteriak melantunkan lagu tersebut. Seperti juga dengan penonton, yang menerima ajakan Franz Ferdinand untuk keluar membebaskan ekspresi dan diri mereka malam itu.

Tak terduga, Franz Ferdinand memainkan sebuah lagu baru berjudul “This Boy”. Sebuah nomor cepat, saudara kembar dari “This Fire”. Bukan sesuatu yang baru, tetapi efektif untuk sebuah konser open air.

100_0391_copy.jpg

“Matinee” mengubah Tanzbrunnen malam itu menjadi indie-paradis, begitu juga pada “Michael”. Mengagumkan. Hanya dengan lick guitar yang sederhana tidak lebih dari variasi 5 nada, dan serangan ritem gitar yang tiada hentinya dipadu dengan bas alá hari-hari awal blur, Franz Ferdinand berhasil menyulap Tanzbrunnen menjadi “dancefloor” terbesar Cologne malam itu. Di lagu tersebut pula, Alex memperkenalkan personil Franz Ferdinand satu persatu seperti layaknya seorang wasit tinju sebelum pertandingan bergengsi perebutan gelar kelas berat. Satu lagi hal tabu yang dilakukan Franz Ferdinand, dan hanya diperbolehkan karena mereka sejak awal mencap dirinya sebagai Art-Band, dan karena mereka telah memberikan kita album terbaik tahun ini.

“Dart Of Pleasure” ialah puncak Monster Of Spex. Keempat personil Franz Ferdinand benar-benar memberikan semua yang mereka punyai di dalam lagu ini, termasuk pose di seputar drum Phil Thomson, sebelum bersama penonton menyanyikan “Ich heisse Superphantastisch/Ich trinke Champers mit Lachsfisch”. Memang pantas mereka menyanyikan lirik tersebut, karena malam itu Franz Ferdinand benar-benar Super Phantastisch!!!

Monster Of Spex ditutup dengan “This Fire”. Dengan seruan “This Fire is out of control/ burn this city/burn this city” Franz Ferdinand bukan hendak meruntuhkan Cologne yang telah dibangun dengan musik elektronik, tetapi sebaliknya mereka telah membakar setiap electroindiekids Tanzbrunnen malam itu dan memberikan “groove” tersebut untuk disebarkan lebih lanjut.

Pada akhirnya saat seperti ini ialah saat yang mengagumkan. Mereka masih eksis. Musik yang dapat dibuat untuk menari ketika kita sedang jatuh. Dan ketika kita menari, kita diberikan harapan. Kita tidak bisa lagi mengubah hal-hal yang telah lewat, tetapi esok hari kita masih dapat melihat kembali kalau Matahari selalu bersinar untuk kita, dan kembali merasakan bahwa cinta adalah hal yang paling megah yang pernah ada.

David Wahyu Hidayat




 

November 2007
S S R K J S M
    Des »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  

Categories

Blog Stats

  • 41,231 hits