07
Nov
09

Album Review: Kings Of Convenience – Declaration Of Dependence

KoC_Declaration_of_Dependence

Kings Of Convenience

Declaration Of Dependence

Virgin/Source Records – 2009

Ketika Kings Of Convenience menggelar konser mereka di Upper Room Jakarta, 3 tahun yang silam, mereka diberikan sambutan yang mungkin tidak pernah mereka dapatkan di negara manapun di dunia, tempat mereka memberikan konser. Terbiasa dengan ruangan konser yang lebih kecil daripada Upper Room, konser mereka di Jakarta terkesan superlatif, dan mereka yang menontonnya seakan seperti melihat The Beatles berdiri di depan mereka, dengan teriakan penuh histeria yang ditujukan ke Erlend & Eirik di malam itu. Kalau raja musik sofa itu pernah mendapatkan status Superstar, malam itu di Upper Room, 2006 mereka telah mendapatkannya.

Setelahnya, suara kenyamanan dari Bergen itu seperti hilang terhilang bumi. Erlend sempat mengunjungi Jakarta lagi dengan kapasitasnya sebagai The Whitest Boy Alive, tapi mereka yang memuja duo tersebut di Upper Room, harus menunggu cukup lama sampai suara pertama gitar akustik serta perpaduan harmoni vokal Erlend & Eirik terdengar kembali.

Untungnya, kita sekarang berada di penghujung tahun 2009, ketika hujan sedikit demi sedikit kembali membasahkan tanah Jakarta. Saat itu terjadi, tubuh menjadi terasa malas untuk bergerak, terbius udara sejuk yang datang setelah kegelapan listrik dan hawa panas menguasai ibukota selama minggu – minggu terakhir Oktober. Di tengah kemalasan itu, tangan kita masih mampu bergerak sedikit, meraih CD player kita dan menekan tombol “Play”, dan yang terputar di sana adalah sebuah album, sebuah CD yang dengan halus dan santainya membuai kita untuk tenggelam dalam kemalasan bulan November. Yang kita dengar pada saat itu adalah “Declaration Of Dependence”, album terbaru Kings Of Convenience, yang setelah 4 tahun lebih berada dalam hiatus kembali pada waktu yang tepat.

Kembalinya mereka diawali dengan sebuah lagu berjudul “24-25”, gitar akustik itu berdentang pelan, sebelum Eirik dan Erlend dengan harmonis menyanyikan “She’ll be gone soon, you can have me for yourself”, mendengarkan itu yang ada hanyalah ketenangan jiwa. Di lagu kedua, “Mrs. Cold”, gitar akustik itu mendeterminasi dengan nada-nada lurus yang mengundang hati untuk bersiul. Tanpa adanya ketukan drum atau perkusi sekalipun di seluruh album ini, musik Kings Of Convenience masih berfungsi sangat baik untuk mendamaikan kita yang sedang resah, bahkan di era di mana kita tidak dapat terlepas dari teknologi yang mengelilingi kita, mereka berhasil memainkan musik yang sangat sederhana untuk melarikan diri kita sejenak dari kehidupan modern.

Diawali dengan suara viola, single pertama dari album ini “Boat Behind” melanjutkan eskapisme kita dari hingar bingar kehidupan kita sehari – hari. Viola itu memanjakan indera kita sepenuhnya, seakan memberhentikan sejenak segala rutinitas di sekitar kita. “Rule My World”, lagu selanjutnya, mengayun-ayun ringan mengajak berdansa sanubari kita yang masih mengidamkan akan hari-hari sempurna yang akan terhampar di depan kita. Suara viola yang manis dalam “Boat Behind” itu kembali menghipnotis kita dalam “Peacetime Persistance”. Melihat kembali ke album-album sebelumnya, memang ini bukan trik baru yang digunakan Erlend & Eirik, tapi itu sangat efektif memberikan unsur kelembutan tambahan yang membawa kita untuk semakin mengawang dalam kehampaan yang menyenangkan.

“Freedom And Its Owner” membawa kita berangan-angan, melayang jauh menuju kebebasan pikiran, melihat tempat yang belum pernah kita tuju, melepaskan diri dari segala sesuatu yang menjerat di belakang diiringi permainan piano singkat yang terdengar di akhir lagu ini. “What is given can’t be returned/The cards are in our hands/All that is living, can’t be hurt/And that’s the end of innocence” dinyanyikan Erlend dan Eirik dalam “Second To Numb”, mata kita masih terpejam ketika mendengarkannya, dan meresapi kalau semua itu benar.

Waktu “Scars Of Land” dengan pelan merasuki ruangan kamar kita, yang terdengar adalah suara-suara yang dengan lambat dan intens hendak menyerahkan diri kita dalam keheningan akustik album ini. Ketika lagu ini habis, kita merasa telah dibawa ke dalam sebuah atmosfir kemalasan yang entah mengapa memberikan kita secercah optimisme kembali. Seperti menemukan sebuah oase yang menyegarkan kita dari kepenatan kehidupan modern ini. Dalam segala kesederhanaan yang terdengar di album ini, Kings Of Convenience telah kembali.

David Wahyu Hidayat

25
Okt
09

Konser Review: Efek Rumah Kaca & Polyester Embassy – Urban Fest 2009, 24 Oktober 2009

Sabtu siang yang cerah, mereka yang ingin melarikan diri dari jebakan penuh godaan mal-mal Jakarta, menemukan dirinya di Pasar Seni, Ancol. Di sana, di bawah teriknya Matahari Ancol, dan tiupan angin lemah Laut Jawa, Urban Fest 2009 digelar. Sebuah acara yang menggabungkan pertunjukkan band dan pameran seni lainnya, serta kreatifitas kehidupan Urban.

Di hari pertama acara tersebut, 2 band yang bisa dibilang masuk dalam salah satu yang terbaik yang dimiliki negeri ini, mengisi panggung yang berada di Urban Fest 2009. Band yang pertama adalah Efek Rumah Kaca. Mengisi panggung utama di waktu yang kelewat dini pada pukul 15:30, mereka berhasil menarik pengunjung awal yang berkeliaran di Urban Fest kemarin. Dengan materi yang dipadukan dari album pertama dan kedua, mereka terdengar sangat berbahaya, didukung dengan tata suara cukup baik yang menjadikan suara Cholil terdengar agung dan penuh misteri, terutama di nomor yang dijadikan penutup set mereka waktu itu, “Jalang”. Lagu – lagu seperti “Kau Dan Aku Menuju Ruang Hampa” terdengar mengagumkan, sosok Cholil seperti seorang seniman yang mendalami musiknya dengan sangat dan itu dirasakan mereka yang melihatnya. Dalam “Di Udara”, “Mosi Tidak Percaya” dan “Menjadi Indonesia” mereka tidak hanya memainkan sebuah karya yang menunjukkan kepedulian terhadap apa yang terjadi dengan negeri ini, tetapi juga menujukkan kalau mereka berada di kelasnya tersendiri. Efek Rumah Kaca telah membuka Urban Fest 2009 dengan penampilan yang dashyat.

Memasuki malam, udara lembab masih menguasai pasar seni waktu Polyester Embassy menaiki panggung Prambors. Seperti biasa mereka terdengar solid, memulai dengan sebuah instrumentalia, yang disusul oleh “Orange Is Yellow”. Sebuah nomor baru “Later On” mengalir dengan melodik di tengah perpaduan bas Tomo dan gitar Sidik, yang lalu di bagian akhirnya disambung dengan permainan kibor Elang, dan respon tepuk tangan penonton yang mengiringi seperti instrumen ritmus tambahan. Lagu – Lagu lama seperti “Good Feeling” dan “Polypanic Rooms” memberikan atmosfir sebuah gig yang intim di tengah-tengah kehingarbingaran Urban Fest malam itu. Set mereka malam itu ditutup dengan Fake/Faker, masih dalam balutan suara ethereal yang menghanyutkan, di bawah langit Ancol yang memberikan kita pelarian dari kehidupan urban malam itu.

David Wahyu Hidayat

Efek Rumah Kaca memainkan: Banyak Asap Di Sana, Balerina, Sebelah Mata, Kau Dan Aku Menuju Ruang Hampa, Mosi Tidak Di Percaya, Di Udara, Menjadi Indonesia, Jalang

Polyester Embassy memainkan di antara lain: Orange Is Yellow, Later On, Good Feeling, Polypanic Rooms, Fake/Faker.

Foto-foto dari penampilan mereka bisa dilihat di bawah ini:

IMG00226-20091024-1531

IMG00227-20091024-1531

IMG00228-20091024-1532

IMG00228-20091024-1532

IMG00229-20091024-1532

IMG00230-20091024-1538

IMG00231-20091024-1538

IMG00233-20091024-1845

IMG00235-20091024-1845

IMG00236-20091024-1846

IMG00238-20091024-1847

IMG00239-20091024-1847

IMG00240-20091024-1851

IMG00241-20091024-1852

22
Okt
09

Album Review: Ian Brown – My Way

Ian Brown - My Way (2009)

Ian Brown

My Way

Fiction – 2009

Tak lama setelah The Stone Roses bubar, Ian Brown terpaksa kembali tinggal di tempat orang tuanya, menempati kembali kamar yang dibaginya bersama saudara kandungnya sewaktu kecil. Di hari-hari yang sulit itu ia bahkan harus meminjam uang dari ayahnya yang seorang pensiunan untuk membeli makanan. Sang King Monkey tersebut merasakan kepahitan yang dalam, membalikkan punggungnya terhadap musik, bahkan bermimpi untuk menjadi tukang kebun saja. Tapi untungnya bagi kita semua, Manchester tidak membiarkan itu terjadi. Orang-orang yang ditemuinya di jalan, temannya, sesama musisi, dengan teguh menyemangatinya untuk kembali bermusik, sampai ia bertemu salah satu orang fansnya yang mengatakan “You’re Ian Brown, do something”.

Kata-kata itu menyelamatkan karirnya dan kita semua yang menganggap dirinya adalah seorang legenda hidup setelah apa yang ia lakukan bersama The Stone Roses. Ia memulai karirnya sebagai solo artis di tahun 1998 dengan sebuah album yang judulnya  penuh pertanyaan menantang “Unfinished Monkey Business”. 4 album berikutnya dan kesuksesannya sebagai solo artis, ia merilis sebuah album yang diyakininya sebagai yang terbaik yang pernah rilis. Ia tidak kehilangan sentuhannya sebagai seorang pekerja keras, dan album terbaru itu diberikan sebuah judul yang tidak kalah menantangnya dengan album pertamanya, ia menamakan album barunya ini “My Way”.

Dengan dentuman irama yang penuh dengan kepercayaan diri, ia membuka album itu dengan “Stellify”. Ini adalah definisi indie r ‘n’ b ala Manchester dan Ian Brown. Diwawancara oleh XFM, ia mengakui menulis lagu ini untuk diberikan kepada Rihanna, tapi kemudian menyadari lagu ini begitu bagusnya, sehingga ia menyimpannya untuk albumnya sendiri. Ian Brown tidak malu harus bersandingkan diri dan dicap sebagai artis yang terlalu memuja lantai dansa. Ia menjawab kritik, mengapa tidak ada satupun lagunya yang seperti The Stone Roses, dengan caranya sendiri. Baginya Roses adalah masa lalu, dan sejak ia menelurkan “My Star” di album pertama, kemudian “Dolphins Were Monkey” dan “F.E.A.R” ia membuat jalurnya sendiri menuju kemajuan nada yang ia ciptakan.

Lagu yang akan menjadi single berikutnya di album ini “Just Like You” adalah contoh berikutnya dari progres yang akan disebarkan oleh Ian Brown. Ia mengeluarkan irama terbaiknya di lagu ini dan keseluruhan album ini, membuatnya terdengar menyegarkan, dan berbahaya seperti seorang petinju veteran yang siap mempertahankan gelarnya dari petinju-petinju muda yang hanya haus akan materi. Sebuah lagu dari Zager and Evans, “In The Year 2525” dinyanyikan Ian Brown dengan menfiturkan permainan kata akan masa depan manusia diiringi oleh tiupan trompet mariachi, sebelum sebuah nomor bertempo pelan “Always Remember Me” menebarkan suara kemegahan di telinga kita.

Dengan suasana ethereal menuju kejayaan, kita akan mendengarkan “For The Glory” di mana ia menyanyikan “And when the bombs began to fall, I didn’t do it for the roses”. Sebuah pernyataan yang ingin ia sampaikan kepada teman-teman bandnya terdahulu? Apapun jawabannya, Ian Brown telah mencapai kejayaann sendiri sebagai seorang solo artis. Aliran irama yang tanpa henti dilanjutkannya dalam “Marathon Man”. Tom Meighan dari Kasabian akan iri terhadap apa yang Ian Brown lakukan di sini dengan irama etniknya dan perpaduan loops yang seakan datang dari seorang pionir musik elektronik.

Tak pernah kekurangan rasa percaya diri, Ian Brown melanjutkan kedigdayaannya dengan “Own Brain” yang merupakan anagram namanya sendiri. Ia mungkin tidak punya lagi mitra musisi yang jenius seperti Squire, Mani, dan Reni, tapi lagu ini menunjukkan bahwa ia tidak kurang jenius dari mereka. Sebagai lagu terpendek di album ini, Ian Brown dengan efektif mengeluarkan semua unsur yang terpenting dari sebuah lagu yang dapat menarik massa: hook lagu yang mudah diingat serta lirik yang cerdas.

Bila Ian Brown mengklaim ini adalah album terbaik yang pernah ia hasilkan, mungkin kita juga harus memberikan kredit itu kepadanya. “My Way” bersinar dengan rangkaian iramanya yang mengalir tanpa putus, membuatnya menjadi sebuah kesatuan album yang memberikan kepuasan dalam mendengarkannya. Album ini penuh dengan  kesenangan dari seseorang yang selalu percaya akan jalannya sendiri, seperti yang ia sendiri nyanyikan di lagu terakhir album ini “So High”. Di sana ia menyanyikan dengan kepercayaan diri “Yeah I’m a believer me…”, dan kita semua percaya kepadanya dan mengikuti jalannya. Ian Brown, sang legenda.

David Wahyu Hidayat

15
Okt
09

Album Review: Muse – The Resistance

Muse - The Resistance

Muse

The Resistance

Warner Music – 2009

Bila kalian bernama Coldplay atau Oasis, bukanlah suatu hal yang tidak aneh, kalau kalian menggelar konser di stadion Wembley. Dengan lagu yang selalu dapat membuat massa menjadi sebuah paduan suara terbesar yang pernah ada, Coldplay dan Oasis mempunyai elemen yang menjadikannya patut membuat sebuah pagelaran musik di sana. Tapi kalau kalian bernama Muse, dan menggelar konser dua hari di Wembley, hal itu adalah fenomena. Mengapa? Karena sejak awal karirnya Muse adalah sebuah band yang berbeda dibanding dengan kolega-kolega semasanya. Musik mereka unik, terkadang terdengar terlalu berbobot untuk dapat menjangkau massa yang luas, tapi justru dengan keunikannya sendiri mereka tetap bertahan dan bahkan menjadi salah satu band terbesar yang datang dari Inggris saat ini.

Dengan “Starlight” dari album terakhir mereka “Black Holes And Revelations” Muse telah menjangkau konsumen musik di jalur utama, bahkan di negara ini. Lagu itu terdengar di nada sambung pribadi/nada dering ponsel seseorang yang dari penampilannya sangat diragukan kalau dirinya adalah fans Muse, waktu kita memasuki pusat perbelanjaan kita mendengar lagu itu, bahkan sebuah band cafe yang biasa membawakan lagu dengan genre sangat berbeda dari yang diusung Muse membawakan lagu tersebut. Singkatnya Muse telah menjadi nama dalam komoditi rumah tangga kita.

3 tahun sesudah album tersebut dan sebuah konser megah di Istora Senayan, Muse memberikan kita “The Resistance”. Mereka yang mengharapkan lagu seperti “Starlight” di album ini, tidak akan mendapatinya, dan mereka tentu akan kecewa karenanya. Tapi seperti yang sudah-sudah, Muse tidak peduli akan hal itu. Yang ada di sini adalah 11 karya gemilang, campuran antara rock antariksa khas Muse yang bertemu dengan musik klasik dengan sedikit sentuhan Queen dan musik urban.

Pemberontakan musikalis di album ini berawal dengan sebuah lagu berjudul “Uprising”. Di sini Matthew Bellamy masih bercerita tentang sebuah perlawanan terhadap sebuah wujud korporasi yang mendominasi dunia ini dengan menyanyikan “They can not control us, we will be victorious”, sebelum sebuah jeda instrumentalis mengisi lagu ini yang dipenuhi degan teriakan, tepuk tangan dan solo gitar efektif dari Bellamy. Lagu kedua album ini “Resistance” diawali dengan dentingan piano yang diserbu dengan rantai ritmik Dominic Howard yang terdengar seperti bom yang dijatuhkan dari pesawat untuk meratakan daratan di bawahnya. “Resistance” juga memberikan kita nada yang paling mudah diingat waktu Bellamy menyanyikan “It could be wrong, could be wrong..”, membuat lagu ini sebagai sesuatu yang menarik, entah disengaja atau tidak.

Bila ada lagu yang paling inovatif yang pernah dibuat Muse sampai saat ini, hal itu ada di dalam “Undisclosed Desires”. Mendengarkan 15 detik pertama, kita akan dibuat bingung dan bertanya pada diri sendiri “Ini masih Muse atau sebuah lagu r ‘n’ b dari produsen papan atas NY?”, karena intro ini pada faktanya memang terdengar seperti sebuah musik r ‘n’ b, dan ini membuat Muse semakin menarik di setiap album yang mereka rilis. Di “United States Of Eurasia” Muse tidak bisa memungkiri pemujaan mereka terhadap Queen, dengarkan saja lagu ini dengan seksama, dan kalian akan mengetahui tempatnya waktu mendengarkannya.

Suara orgel gereja mengawali “Unnatural Selection” sebelum serbuan gitar yang menjadi ciri khas permainan Bellamy menguasai lagu ini. Destruktif tapi melodik, klasik Muse. Tak lama sesudahnya album ini lalu ditutup dengan sebuah simfoni megah yang merupakan ambisi baru Muse. Rangkaian orkestrasi ini terdiri dari 3 bagian yang dinamakan: “Exogenesis: Symphony Part 1 (Overture)”, “Exogenesis: Symphony Part 2 (Cross – Pollination)”, dan “Exogenesis: Symphony Part 3 (Redemption)”. Ketiganya merupakan gambaran sempurna Muse tentang musik layar lebar. Kemegahan dan keagungan bercampur menjadi satu di situ dan kita terlelap dalam buaiannya yang menghanyutkan.

Dengan “The Resistance” Muse sekali lagi menentukan nasibnya sendiri. Mereka tidak peduli akan jutaan orang yang menunggu “Starlight” berikutnya. Bukan itu yang menjadikan Muse besar. Yang menjadikan mereka besar seperti sekarang ini, adalah keberanian mereka untuk menjadi berbeda dari kalangannya, dan keberanian itu kita dengar dalam “The Resistance”.

David Wahyu Hidayat

11
Okt
09

Album Review: Pearl Jam – Backspacer

Pearl Jam - BackSpacer

Pearl Jam

Backspacer

Universal Indonesia – 2009

Jauh di pertengahan dekade 90-an, sebuah mixtape mengubah selera musik saya untuk selamanya. Walaupun dalam perkembangannya, saya mengambil jalur lain dari genre yang ada di mixtape tersebut, tapi saya merasa berhutang terhadap satu band yang ada di kaset tersebut, karena band tersebut telah membuka jalan terhadap keajaiban dunia musik di luar jalur utama, dan sejak saya menerima mixtape tersebut, saya memutuskan untuk tidak akan pernah meninggalkan kecintaan terhadap band tersebut. Band itu berasal dari Seattle, dan bernama Pearl Jam.

Sekarang, di tahun 2009, Pearl Jam merilis album terbarunya “Backspacer”, yang hanya sepanjang 36 menit dan 31 detik adalah album terpendek durasinya yang pernah dikeluarkan band tersebut. Tapi bukan itu yang membuat album ini menjadi spesial. “Backspacer” terdengar segar dan langsung, mungkin ini adalah album Pearl Jam paling istimewa sejak merilis “Binaural” di tahun 2000.

Dengan gebrakan secepat suara supersonik di empat lagu pertama “Gonna See My Friend”, “Got Some”, “The Fixer” dan “Johnny Guitar”, musik Pearl Jam seakan terdengar  lebih mendekat ke The Who daripada suara yang menjadi tandatangan musik asal Seattle di tahun 90-an. Bila mendengarkan “The Fixer” yang menjadi single pertama dari album ini, mereka terdengar seperti sedang berada dalam puncak kesenangan bermain musik, menjadikan lagu ini sebagai sebuah nomor rock penggoda telinga yang bergairah. “Got Some” yang dikemas dalam 3 menit, penuh dengan dinamika rock penuntut kesiagaan telinga dan adrenalin pendengarnya. Ini adalah contoh lain yang menunjukkan betapa menikmatinya para personil Pearl Jam membuat musik di album ini.

Setelah 4 lagu yang dipenuhi ekstase penuh, “Just Breathe” membawa kita ke tepian yang tenang ditemani oleh petikan gitar akustik dan suara khas Eddie Vedder. Ini adalah bentuk musik americana Pearl Jam yang telah disempurnakan sejak 2 album sebelumnya. Mendengarkannya seperti memberikan kita pandangan luas tentang Amerika yang tenang, dengan angin politik baru yang memberikan harapan. Dalam “Amongst The Waves” Vedder menyanyikan dengan menggugah “If not for love I would be drowning”, sama seperti “Just Breathe” lagu ini memberikan sebuah harapan baru yang menenangkan. Setelahnya dalam “Unthought Known” Pearl Jam memberikan kita optimisme dalam kehidupan, di mana ritem gitar itu becampur dengan suara piano dan vokal Vedder dalam repetisi melodi yang intens.

“Supersonic” menghentak kita kembali dalam semangat rock yang menyenangkan. Sepotong “yeah yeah” dari Vedder, seperti juga yang terdengar di “The Fixer” mencerminkan betapa senangnya keadaan band itu saat ini, lalu ketika di menit 1:21 solo gitar McCready mulai menguasai lagu tersebut, kita pun tidak bisa lain selain berteriak “yeah” juga dalam hati kita masing-masing. Sebuah lagu karangan Vedder berjudul “Speed Of Sound” menapakkan kita kembali ke tanah dengan temponya yang santai, sebelum “Force Of Nature” mengangkat kita masuk dalam sebuah lagu rock melodik, diawali dengan suara wah-wah lalu dari situ beranjak naik melayang menuju klimaks.

“Backspacer” berakhir dengan sebuah lagu yang dengan sederhana dinamai “The End”. Kembali nuansa americana terasa di sini, dengan temponya pelan, merefleksikan semua yang telah terjadi di belakang, dan betapa kita harus bersyukur atas semua itu. Sebuah hembusan nafas ringan mengiringi nyanyian Vedder di lagu itu “My dear, the end comes near…” tak lama sesudahnya lagu itu, beserta “Backspacer” usai sudah. Dan kita telah menikmati setengah jam terbaik dari salah satu band terbesar Amerika saat ini. Bukan tanpa sesuatu Pearl Jam adalah band terakhir yang bertahan dari generasinya, mereka bertahan karena mereka terus menghasilkan lagu yang penuh kekuatan untuk penggemarnya dan lagu itu adalah lagu-lagu berarti yang sulit ditandingkan dengan segala elemen musik dalam generasi band sekarang ini. “Backspacer” adalah bukti dari semua itu.

David Wahyu Hidayat

30
Sep
09

Pencerahan Jiwa: Morning Lights Recover – Ansaphone

morning lights recover2

Pagi buta, hari Raya Idul Fitri 2009. Telapak kakimu terbenam pasir hitam pantai selatan. Wajahmu tertepa angin laut, sekejap memberikan kesejukan dari penatnya kehidupan di kota. Pagi itu, di hari yang fitri itu, dirimu melarikan diri. Yang terlihat hanya mentari yang menyembunyikan mukanya di balik awan mendung pagi, dan satu orang peselancar yang berusaha menantang ombak di waktu yang masih terlalu pagi itu.

Mereka yang merayakan hari raya, mungkin sedang sibuk bersiap-siap untuk melakukan ibadahnya. Mereka yang tidak, masih terlelap berusaha menikmati hari libur yang terlalu sedikit dalam setahun. Sisanya, orang – orang seperti dirimu dan saya, termenung menatap lautan yang terpampang di depan mata, sambil berusaha mencerna datangnya hari itu.

Sayup-sayup bersaingan dengan suara debur ombak, dentingan suara gitar dengan penuh delay bersahut-sahutan, berjingkat dari telinga kiri ke telinga kanan, sepertinya lagu itu mengerti bagaimana harus menterjemahkan pemandangan yang ada di depan mata. Di tampilan pemutar musik digitalmu tertera sebuah judul “Morning Lights Recover” dari sebuah band asal Bandung bernama Ansaphone. Sesuai dengan hari itu, lagu tersebut terasa suci, agung tapi tetap berjuang setapak demi setapak menuju kecemerlangan.

Masih tidak begitu jelas, suara vokal yang mengiringi lagu itu menyampaikan salamnya kepada kita, tapi kita tidak peduli dengan hal itu. Pagi itu, lagu itu seperti sebuah kidung yang menyatukan kita pada diri kita sendiri, lalu kepada sesama kita, dan kemudian kepada alam. Kita menghembuskan nafas, dan berharap kalau saja semuanya bertahan dalam kesempurnaan ini, dalam kesempurnaan melodi yang didengar di lagu tersebut, dalam keperawanan pagi yang sepertinya tidak akan pernah mengenal kacaunya kehidupan. Tapi mungkin itu semua yang membuat kita kembali berjuang, karena semuanya akan berlalu, dan tidak akan pernah sama lagi. Tapi kita akan selalu kembali, untuk merasakan kedamaian sesaat itu, apapun harganya.

Pagi berikutnya, semua pakaian sudah dikepak, perjalanan kembali menuju kekacauan telah terhampar di depan mata, tapi di tengah itu semua ada sesuatu yang menenangkan jiwa. Sesuatu itu adalah sinar mentari yang memancar dari balik karang besar di pantai tersebut, dan entah mengapa, untuk sekejap kita semua merasa dipulihkan.

David Wahyu Hidayat

Lagu Morning Lights Recover dari Ansapahone dapat didengar di laman MySpace mereka: http://www.myspace.com/ansaphonetheband

15
Sep
09

Album Review: Arctic Monkeys – Humbug

Arcticmonkeys-humbug

Arctic Monkeys

Humbug

Domino Records – 2009

Mereka telah dewasa. Potongan rambut yang berkesan seperti imagi seorang anak indie dari foto profile di myspace, berubah sudah, digantikan dengan rambut panjang yang menutupi sebuah tatapan misterius. Tiga tahun yang lalu mereka masih bernyanyi tentang sepatu dansa dan berjoget seperti sebuah robot dari tahun 1984 diiringi sebuah musik elektropop. Sekarang, mereka memasuki teritorial musik yang lebih dalam, gelap dan misterius. Terlalu kelam mungkin untuk ukuran Arctic Monkeys yang terbiasa dengan sebuah bentuk musik indieblitzkrieg. Tapi mau suka atau tidak suka, percaya atau tidak percaya, inilah Arctic Monkeys tahun 2009, dan sejujurnya ini adalah sebuah perubahan yang menggairahkan, seperti sebuah makeup sex yang tak pernah diperkirakan dan di luar kendali.

Gairah itu dimulai dengan rentetan drum Matt Helders yang menyerang seperti sebuah senapan mesin panas yang hendak menumbangkan musuhnya di lagu pembuka album ini “My Propeller”. Dikombinasikan dengan suara Alex Turner yang lebih lirih dari biasanya, dari awal kita langsung menyadari bahwa sesi rekaman di Joshua Tree bersama Josh Homme telah membawa hal-hal baik bagi Arctic Monkeys. Mereka menjadi dewasa dalam bermusik tanpa berusaha membuat segalanya menjadi memusingkan, hanya kesederhanaan yang menghitam mengakar di setiap nada yang kita dengar.

Bunyi bas yang berat dan menyeret membuka “Crying Lightning”. Kalau mereka datang 3 tahun yang lalu dengan lagu seperti ini, kita akan mengernyitkan dahi, dan bertanya apa yang dilakukan 4 orang muda di umurnya yang masih berusia 20-an dengan lagu seperti ini? Tapi untungnya mereka menunggu saat yang tepat. Karena “Crying Lightning” adalah senjata pamungkas Arctic Monkeys yang sempurna untuk mengalahkan rasa pesimis kita terhadap mereka yang berkata, kalau tidak ada band yang akan pernah berarti lagi pada saat ini. Lagu ini adalah suatu serpihan klasik dalam wujud yang pada pendengaran pertamanya tidak terkesan bombastis, tapi pelan-pelan akan membuat jiwa kita menangis karena kebesarannya.

Merekam album ini bersama Josh Homme, adalah keputusan terbaik yang pernah dilakukan oleh Arctic Monkeys dalam album ini. Karena bila mereka membuat kembali lanjutan dari “Whatever People Say I Am, That’s What I’m Not” dan “Favourite Worst Nightmare” mereka akan terjebak kepada pola album ketiga yang mengharuskan semuanya terdengar lebih megah dari yang sudah-sudah hanya untuk memenuhi kebutuhan industri musik saja. Sebagai sebuah album, “Humbug” adalah jalan keluar Arctic Monkeys dari jebakan tersebut.

“Secret Door” diawali dengan intro yang mengecohkan kita dengan alunan rhodes berpadu dengan gitar yang membius pelan, sebelum Helders dan O’Malley kembali sebagai suatu kesatuan yang kompak memberikan pola ritem yang memberikan lagu ini sebuah dimensi lain, mendorong kita seperti berada di pinggir jurang, hanya untuk terjun bebas dalam kenikmatan. “Cornerstone” memberikan kedamaian dalam suara Alex Turner yang sedikit demi sedikit sudah mulai menghilangkan aksen kentalnya, tapi ia tetap mempunyai ide-ide romantisme yang hanya bisa datang dari dalam dirinya, sebagai seorang Alex Turner yang memberikan lukisan sederhana tentang kehidupan yang dapat menjadi sesuatu yang mengagumkan, dan herannya juga merupakan gambaran kehidupan kamu dan saya.

Kepiluan adalah yang dirasakan waktu mendengarkan “Dance Little Liar”, nadanya menyentuh kita seperti kegelapan yang menguasai malam, dan solo gitar yang dimainkan di sana, bukanlah solo gitar penuh ekstase seperti dalam “Take You Home” dari album pertama, tapi solo gitar yang terdengar bagaikan sebuah jiwa rapuh yang dilepaskan dari kegamangan yang mengelilinginya.

Satu-satunya lagu yang berada di jalur jejak tempo album pertama dan kedua adalah “Pretty Visitors”. Di sini Arctic Monkeys terdengar seperti empat sekawan lusuh yang siap merampok kelinglungan jiwa kita dan membawanya ke sarang gerombolan yang sarat dengan nada-nada yang dapat menumbangkan keraguan kita akan musik mereka. Dan di sarang gerombolan tersebut, Alex Turner melantunkan lagu yang memungkasi album mereka “The Jeweller’s Hand”, dengan nada yang mengaung-ngaung di dalam kepala “If you’ve a lesson to teach me, I’m listening, ready to learn. There’s no one here to police me, I’m sinking in until you return. If you’ve lesson to teach me, don’t deviate, don’t be afraid”. Pelan-pelan gerombolan bernama Arctic Monkeys itu memadamkan cahaya di sarangnya. Tapi kita yang berada di luarnya, masih menatapnya mencoba meresapi apa yang telah kita dengarkan di album ini. Mencoba untuk bersatu dalam kekelamannya, dalam kemisteriusan dan dalam kegelapannya. Arctic Monkeys? Mereka telah dewasa, tinggalkan sepatu dansa kalian di lantai dansa itu.

David Wahyu Hidayat

16
Agu
09

Album Review: The S.I.G.I.T – Hertz Dyslexia

Hertz Dyslexia

The S.I.G.I.T

Hertz Dyslexia

FFWD Records – 2009

Salah satu majalah musik terbesar negeri ini, mendeskripsikan “Bhang”, salah satu lagu yang terdapat di EP “Hertz Dyslexia” dari The S.I.G.I.T sebagai sebuah komedi dan tidak terdengar seksi. Mungkin mereka lupa, kalau rock ‘n’ roll bukanlah sesuatu yang bisa dianalisa tingkat kecerdasannya. Rock ‘n’ roll berarti, apakah musik yang kita dengar akan menggerakkan kita atau tidak, menginspirasikan atau tidak. Bukan untuk diteliti nada per nada apakah semuanya akan menjadi kesatuan atau tidak, sesederhana itu.

Karena yang sebenarnya terjadi, “Hertz Dyslexia” adalah EP yang mengispirasikan dan akan menggerakkan kita waktu mendengarkan 7 lagu yang ada di dalamnya. Semua yang melihat konser Dyslexia 20 Juni lalu akan setuju dengan hal ini. Dimulai dengan “Money Making” yang menggebrak dan disusul dengan “Bhang” yang menggoda naluri liar kita, The S.I.G.I.T menampilkan wujud rock ‘n’ roll murni yang akan membuat kita bangga terlahir di negara ini. Mungkin bila majalah tersebut tidak terlalu sibuk menganalisa seruling yang dipakai Rekti di “Bhang”, mereka akan menyadari hal tersebut.

Sebuah nomor dari Neil Young “Only Love Can Break Your Heart” diikutsertakan di EP ini, dan hampir-hampir kita dapat merasakan kepiluan melodi lagu itu, mendengarkan jernihnya gitar akustik yang dimainkan di sana. Sebuah cover version yang sangat berhasil. Keheningan dalam lagu ini kemudian dipecahkan dengan “Verge Of Puberty” dan “The Party” yang kembali mengguncang kita dengan pembombardiran riff-riff dasyhat dalam kedua lagu tersebut.

“Midnite Mosque Song” yang dalam beberapa penampilan live The S.I.G.I.T menfiturkan Farri memainkan tungkai gesek biola dan riff yang terdengar seperti “Babe I’m Gonna Leave You” Led Zeppelin, terdengar sedikit berbeda dalam versi rekamannya. Dengan atmosfir sendu dan misterius, lagu ini menutup EP tersebut dengan perlahan dan gemilang. “Hertz Dyslexia” adalah bukti rekaman band paling ambisius Indonesia pada saat ini. Mereka telah membuktikannya dalam penampilan yang selalu optimal dalam rangkaian konser mereka, dan EP ini juga menjadi pembuktian lainnya, sebelum kita dihempaskan lagi dengan langkah dan sepak terjang mereka selanjutnya.

David Wahyu Hidayat

16
Agu
09

Album Review: Kasabian – West Ryder Pauper Lunatic Asylum

Westryderpauperlunaticasylum

Kasabian

West Ryder Pauper Lunatic Asylum

Sony Music – 2009

Siapapun yg pernah berhadapan langsung dengan Tom Meighan akan menyadari kalau ia adalah sosok seorang rockstar abad 21, terlebih di era album pertama Kasabian yang dilengkapi dengan kemegahan suara, telah memberikan terobosan sekaligus mengingatkan kita akan akselerasi rock Primal Scream, psikedelia The Stone Roses, dan justifikasi arogansi Oasis, dalam musik Kasabian.

Sayangnya, dalam langkah mereka merebut mahkota rockstar sejati Britania Raya, yang terakhir dipegang oleh Liam Gallagher, mereka terpeleset dengan mengantarkan album kedua yang tertebak langkahnya dan hanya memuaskan hasrat Laddism dalam sebuah euphoria elektrik rock yang fana.

Dengan “West Ryder Pauper Lunatic Asylum”, album ketiga Kasabian, mereka telah kembali ke jalan yang benar. Merobek keheningan dengan “Underdog”, ini adalah sikap kepercayaan diri yang kita kenal dari Kasabian, lagu ini langsung memicu adrenalin, seperti pukulan bertubi-tubi seorang petinju yang tidak diperhitungkan, menumbangkan sang juara di kelasnya melalui vokal sengau Tom Meighan dengan porsi arogansi yang tepat dan suara akselerasi bas yang mengiris mengelilingi kita.

Lagu kedua album ini “Where Did All The Love Go” pantas dijadikan nomor klasik Kasabian, ini adalah plot untuk sebuah nomor rock dansa di abad 21 dilengkapi dengan suara tepuk tangan, synthesizer serta alat musik gesek yang menghantui dan melodi yang manis. Ini adalah lagu Kasabian terbaik sejak “L.S.F” dari album pertama mereka. “Fast Fuse” akan mengklaim semua omongan Tom Meighan dan Sergio Pizzorno kalau mereka adalah salah satu band rock ‘n’ roll besar di Inggris. Nomor ini dihantarkan dengan sangat jujur, pertimbangan yang dilakukan dalam “Empire” untuk memadukan rock dan beat untuk berdansa tanpa peduli dengan melodi seakan tidak pernah terjadi. Kali ini mereka tidak lupa memasukkan apa yang penting dari sebuah lagu, yaitu melodi dan hook untuk menjadikan lagu itu pantas diingat dan dilantunkan.

Kemegahan “Vlad The Impaler” bertumpu kepada pukulan bas Chris Edwards, membuat lagu ini berteriak dengan sendirinya di depan muka untuk meminta reaksi dari pendengarnya. Sedangkan “Fire” adalah Kasabian dengan visualisasi layar lebar musikalis yang meneropong unsur psikedelia, suara latar ala Enio Morricone dan penerjemahan perebutan buah terlarang yang selalu diinginkan manusia.

Melalui “Thick As Thieves” Sergio Pizzorno membuktikan kalau Kasabian tidak hanya handal mengantarkan lagu-lagu antemik untuk dinyanyikan di bawah langit cerah dikelilingi oleh pagar stadion sepak bola. Melalui lagu ini mereka membuktikan, kalau mereka bisa membuat sebuah nomor akustik manis yang akan sangat pantas untuk dinikmati di bawah langit Minggu sore yang sendu. Sebuah formula yang kemudian dimantapkan lagi keampuhannya dalam “Ladies And Gentleman, Roll The Dice” dan lagu penutup album ini “Happiness”.

“West Ryder Pauper Lunatic Asylum” adalah senjata Kasabian yang dilengkapi dengan amunisi memadai, yang mungkin masih belum cukup untuk melakukan kudeta terhadap posisi Oasis sebagai band terbesar di Inggris, tapi yang jelas akan meledakkan kepala kita dengan kemegahan dan ambisi dan akan menjadikan mereka menjadi teroris rock ‘n’ roll nomor satu abad 21.

David Wahyu Hidayat

09
Agu
09

Album Review: Maximo Park – Quicken The Heart

Max_QTH_LP.indd

Maximo Park

Quicken The Heart

Warp Records – 2009

Paul Smith, penyair modern, vokalis dari Maximo Park, pemberi melodi-melodi ajaib dalam “The Coast Is Always Changing” dan “Books From Boxes” mengutip salah satu penyair Jerman terbaik di abad 20, Rainer Maria Rilke dalam halaman pertama sampul album terbaru mereka “Quicken The Heart”. Kata-kata itu adalah “You don’t know nights of love? Don’t petals of soft words float upon your blood? Are there no places on your dear body that keep remembering like eyes?”. Mengutip atau tidak mengutip, Paul Smith selalu handal mengungkapkan kata-kata yang menggugah hati kita. Dengan melodi, ia bersama Maximo Park berhasil melakukannya juga, lalu bagaimana dengan lagu-lagu yang ada di “Quicken The Heart”?

Album ini tidak memberikan sesuatu yang revolusioner dalam beberapa pendengaran pertamanya, lagu yang ada di sana tetap penuh dengan alunan melodi khas Maximo Park dari kibordis Lukas Wooler, terkadang itu adalah sebuah nada panjang yang memberikan dasar lanskap musikalis Maximo Park, terkadang nada-nada yang saling menyusul satu sama lain yang mengikis bulu kuduk kita. Duncan Lloyd masih juga memetik gitarnya seperti versi ringan dari seorang Johnny Marr, dan Paul Smith sekali lagi mempertahankan dirinya sebagai seorang penyair modern yang menggunakan musik sebagai media penyampaiannya.

Tapi yang terjadi sebenarnya, album ini memulai keindahannya seiring dengan waktu. Kecintaan akan album ini tumbuh sejalan dengan frekuensi pendengarannya, dan menjadi sesuatu yang tidak dapat dilepaskan lagi. Dimulai dengan “Wraithlike”, suara kibor Lukas Wooler meraung seperti sebuah sirene ambulans yang menandakan kalau kita akan segera terjangkiti oleh sebuah virus bernama “Quicken The Heart”. Lagu kedua album tersebut “The Penultimate Clinch”, memberikan sebuah masa inkubasi, dengan nada-nada yang dihantarkan Smith dalam reffrainnya.

Single pertama mereka dari album tersebut “The Kids Are Sick Again” dengan perpaduan kibor dan gitar dari Wooler dan Llyod serta perubahan tempo di tengah-tengah lagu merupakan antitesis terhadap kehidupan modern yang menelanjangi keesensialan kehidupan mereka yang muda, “In wasted light, hope takes flight…Homogenize, don’t revise..I don’t mind losing self respect…The kids are sick again, nothing to look forward, they jumped the cliff again, future sinks the blue” dilantunkan Smith dengan penuh elegi dari dalam dirinya.

“A Cloud Of Mystery” adalah sebuah lagu tipikal “Sindrom Lagu Terakhir”. Ia disertai dengan melodi – melodi yang kuat, yang menjadikannya selalu terngiang di kepala kita, waktu lagu tersebut adalah lagu yang kita dengar sebagai lagu terakhir sebelum menuju ke tempat aktifitas kita. “Let’s Get Clinical” disertai dengan pola ketukan yang cukup untuk merasuki keperawanan musikalis kita di bawah sebuah senja. Diiringi suara latar belakang harmonis, Smith menyanyikan “I’d like to map your body out, inch by inch, head to toe” membuat lagu ini membiarkan diri kita dijangkiti sepenuhnya oleh penyakit melodius dari “Quicken The Heart”.

“Questing Not Coasting” akan membuat kita tidak mau disembuhkan dari virus yang disebarkan Maximo Park. Lagu yang juga sekaligus single kedua dari album ini, membuat kita tahu mengapa kita selalu dapat mengandalkan Maximo Park dalam menghantarkan nada-nada yang akan membuat hari kita sedikit lebih cerah.

Sang penyair modern, Paul Smith beserta kumpulannya dengan “Quicken The Heart” telah memupuk ikatan terhadap kita semua dengan album ini. Sebuah ikatan yang mulanya tidak mudah untuk dimengerti, tapi pada akhirnya itu menjadi sesuatu yang dapat melegakan kehidupan kita, sesuatu yang dapat kita andalkan, setiap kali mendengarkan karya Maximo Park dalam album itu.

David Wahyu Hidayat




 

November 2009
S S R K J S M
« Okt    
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  

Categories

Blog Stats

  • 39,297 hits