14
Jun

Album Review: Foals - Antidotes

Foals

Antidotes

Transgressive Records – 2008

Bayangkan diri kalian adalah anggota salah satu band indie yang hendak mendobrak mata, telinga dan hati orang – orang yang mendengar musik band kalian. Di kehidupan lama, sesaat sebelum memutuskan untuk berkonsentrasi penuh dengan band tersebut, kalian adalah mahasiswa ketiga terbaik di salah satu universitas ternama di negeri kalian. Semuanya itu dilempar begitu saja keluar dari jendela, untuk mengikuti sebuah panggilan terhadap sesuatu bernama musik. Lalu kalian bersama dengan band, melalui waktu terbaik yang pernah dipunyai seseorang dengan merekam debut album kalian di New York bersama orang yang menurut NME dinobati sebagai “Most forward thinking people in music today”. Dan bila itu semua terlihat seperti tidak ada resikonya, hasil rekaman bersama produser ternama itu dirombak begitu saja, begitu kembali ke negeri yang kalian tinggali, dengan alasan musik hasil dari sesi rekaman di NY tersebut tersebut terdengar terlalu “spacey”. Debut album itu kemudian diproduseri ulang sendiri oleh band. Hasilnya? Hasilnya adalah sebuah indie hit, dan pembuktian bila jika kalian cukup berani mengambil resiko, hasil yang didapat akan sesuai dengan besarnya resiko itu sendiri. Masih belum berani untuk melakukan hal itu? Karena, sebuah band telah melakukannya dengan sukses di tahun 2008 ini, dan band itu bernama FOALS.

Debut album berjudul “Antidotes” itu tidak bisa dielakkan, telah menjadi buah bibir pecinta indie, dan mereka sudah dinobatkan menjadi harapan baru untuk musik paling menggairahkan di tahun 2008 ini. Semuanya bermula dari single mereka “Mathletics” yang dirilis tahun lalu, disusul kemudian dengan video apartemen-gig mereka yang bertebaran di Youtube. Peramalan akan mejadi pahlawan baru itu, tidak terlalu digubris oleh Yannis Philippakis, sang vokalis. Ia menganggap itu semua hanyalah pemberitaan berlebihan yang tidak menunjukkan esensi sebenarnya dari musik yang Foals mainkan. Lalu seperti apa musik Foals sebenarnya?

Mereka memainkan sebuah musik yang bila ditarik benang merahnya ke awal abad 21 ini, dapat ditelusuri kepada jejak Franz Ferdinand – Bloc Party – Klaxons. Bukan, bukan karena mereka menjiplak ketiga band tersebut, tetapi karena mereka berusaha menciptakan sebuah musik dance dengan gitar. Mungkin para skeptiker akan menolak ide ini, karena setelah paruh pertama dekade 00 berlalu, ide itu harus diakui, bukan lagi sesuatu yang paling menyegarkan yang dapat ditawarkan sebuah band. Jadi, mengapa kita harus mendengarkan Foals lagi?

Foals memberikan sebuah katalisasi dalam musik yang mereka ciptakan di “Antidotes”. Musik mereka tidak terdengar terlalu arty seperti Franz Ferdinand, dan di sisi lainnya tidak terkesan rave seperti Klaxons. Tentu saja, synthesizer memainkan perannya di album ini, tetapi yang membuat album ini menggairahkan adalah permainan gitar Yanis sendiri dengan Jimmy Smith. Keduanya hanya memainkan nada, tanpa akord, mengkombinasikan nada-nada yang ujungnya tidak mengarah kepada kesia-siaan tetapi kepada suatu ekstase melodi. Dengarkan saja “Olympic Airways” dan “Electric Bloom” di album ini. Single paling aktual mereka “Red Sock Pugie” juga menfiturkan sesuatu yang cerdas dengan intro drum yang memantul dari telinga kiri ke kanan ketika kita mendengarkannya. Kedua single sebelumnya “Cassius” dan “Balloons” adalah 2 indie hit yang akan mengingatkan kita, kalau tahun 2008 bukan hanya berisikan band – band tidak berarti, tetapi di tengah-tengah itu semua ada sebuah perayaan kecil bernama Foals.

Mereka telah membuktikannya. Foals berani mengambil resiko untuk menghidupi musik yang mereka cintai, untuk mengeluarkan inspirasi jiwa mereka tanpa memperhatikan apa yang seharusnya terjadi jika mereka tetap berpegang pada kehidupan “normal” mereka. Album ini adalah Antidotes dalam arti yang sebenarnya untuk kehidupan kita. Sudahkah kalian siap untuk mengambinya?

David Wahyu Hidayat

07
Jun

Album Review: OK Karaoke - Sail Off The Storm

OK Karaoke

Sail Off The Storm

Reservoir Records – 2008

“Semua akan kembali ke dalam terang…siang, terlalu lama menjadi malam, lepaskanlah, lepaskanlah semua takutmu, bebaskanlah, bebaskanlah…” kata-kata itu membuka awal sebuah EP yang boleh dibilang sebuah pencerahan, sebuah pembebasan dalam hidup yang seringkali tidak berjalan sesuai dengan arahnya. Dipeluk oleh melodi gitar yang dengan sekejap menaikkan kadar hormon kebahagiaan di diri kita, lagu yang berjudul “Kembali Ke Dalam Terang” tersebut, datang dari Semarang, dihantarkan oleh lima sosok menjanjikan bernama OK Karaoke.

Pertengahan bulan Mei lalu, OK Karaoke merilis bukti musikalis pertama mereka dalam sebuah EP berisikan 6 lagu yang dinamai “Sail Off The Storm”. EP ini menyampaikan pesan musikalis OK Karaoke dengan sangat gamblang. Ini adalah sebuah EP yang harus dinikmati dengan hangatnya sinar matahari pagi sambil tersenyum lebar, karena tidak ada satu kesedihan pun yang dapat menghalangi keindahan jalannya melodi yang terpatri di EP tersebut.

“Calf – Love” yang menjadi lagu kedua dalam EP tersebut, mengirimkan nostalgia akan manisnya tahun 90-an, di tengah bunyi jangle gitar yang menenangkan dan betapa kita ingat, kalau kita tidak peduli terhadap sekitar waktu itu, hanya saat ini yang berarti, tidak ada yang lain. “Milky Way” meneruskan pesan itu. Lagu yang sempat tersebar di salah satu situs musik indie ternama tanah air ini, cocok untuk dijadikan soundtrack musim panas 2008 ini, dengan petikan gitar kontinu yang memompa keluar segala keresahan kita.

Musik OK Karaoke seakan ingin memberikan pesan bahwa kita tidak dapat menyerah kepada kepasrahan dan kebuntuan, ini bahkan tertangkap dalam “Bermuda”, sebuah lagu yang terasa lebih kelam dari track lainnya di EP ini, tapi ketika kita mendengarkannya kekelaman itu seperti kemudian terhapus oleh apa yang disebut dengan harapan. Musik OK Karaoke sesederhana itu, ia memberikan harapan, dan untuk itu seharusnya musik diciptakan. Irama jingle-jangle gitar di “Royal Ambassador Mistress” memberikan kesejukan tidak hanya di kuping mereka yang mendengarnya tapi juga dalam skena musik indie tanah air. Seperti kuping ini tidak mempercayai kalau musik seperti ini datang dari Semarang yang berjarak ribuan kilometer jauhnya dari Britania Raya.

OK Karaoke memberikan harapan, dan mereka mengajak kita untuk mempunyai hal yang sama. “Time will spread my soul, you will follow me, always count on me, the sky was just made for me, thru’ horizon regret your soul, if you’re not me”. Jika ini bukan ajakan untuk menggapai langit, apalagi yang akan kita tunggu? Apakah kalian sudah OK, Karaoke?

David Wahyu Hidayat

08
Mei

Album Review: Joy Division - The Best Of

Joy Division

The Best Of

London Records – 2008

I’ve never been a big fan of Joy Division. I just know a few of their brilliant songs like “Digital”, “Transmission” and of course “Love Will Tear Us Apart”. Last year the long awaited biopic from Anton Corbijn about these brilliant 4 pieces from Manchester was released. Somehow it touched me. Life was never uncomplicated, especially for Ian. Though, the band capture every moment of it like a small victory. The music of Joy Division will never be a happy go lucky tune, but somehow deep under their monochrome sound, it makes you understand, what life is all about.

I just bought this compilation today, and I think nothing describes the music of Joy Division better than what I read in its sleeve notes, so it won’t make a sense trying to think better words to describe their music. Following are some parts of the sleeve note, and the words will tell you everything you want to know, hear and feel about Joy Division. This is the answer you are looking for. This is Joy Division.

Answers

Some answers to some questions

because it’s necessary to force a coherence on the scene that it didn’t necessarily have

because there was no philosophical core to it

because it wasn’t all just goofiness

because of the relationship between memory and the unfolding time

because of the connection between the order of things and the strange intersection of events in the world

because cultural underground develop in the void left by abdication of an official culture

because of rock music’s sheer ubiquity

because the urge to transform one’s appearance, to dance outdoors, to mock the powerful and embrace perfect strangers is not easy to suppress

because of what happens if you try and make the most of each day in life

because some things are remembered with clarity and some things are not

because we are all egotists who allow our feelings to dominate our lives

because we pay more attention to some things than to others

because memory is deceptive

because it is coloured by the events of today

because the threat of violence is very close to us all

because life is a means of extracting fiction

because mundane incidents can often be elevated to fable

because history is man made

because each life makes its myths

because myths have a force that can never be entirely tamed by ironic aesthetic contemplation

because they found their form and hit their stride

because of the relationship between the world of the imagination and the real world

because the group made an extraordinary amount of noise as if that was the only way to grasp the ungraspable

because no-one tells the story if there is no story

because memory is an internal rumour

because music isn’t just what you hear or what you listen to but everything that happens

because things moved forward one dull and/or exciting day at a time until time ran out

because we can’t see other people thoughts

because we like to know a lot that we aren’t told

because freedom which on this earth can be bought with a thousand of the hardest sacrifice must be enjoyed unrestrictedly in it fullness without any kind of programmatic calculation as long as it lasts

because the thriving city is just a few miles away from almost barren landscape

because a group of locals all helped each other and got in each other’s way

because time damages the memory and memory burns into time

because in a word, Novelty, even at the risk of some vagueness

because people looked back at the way things happened as if they had happened exactly as remembered

because of the modernist impulse of unrestraint had taken over popular thought and style

because a fact is a fact

because of an inscrutable combination of audacity and innocence

because some of this in some way has to be provisionally explained so that it might not dwell forever in the distant margins of fading appreciation

because it came to pass

because if life is not worth living songs are not worth singing

because blankness and minimalism are balms poured upon our overused optical nerves and overcrowded brain cells

because we all feel the same grief when someone is in mourning

because the source of information was permanently deficient

because the world carries weight and always weighs the same

because we need someone to explain to us what happened

because clouds came and went without thunder and lightning

because our lives, stripped of their padding and numbness and habit do appear horrific, flickering and absurd

because only the fear of life and death could beguile him to find the slightest meaning

because we all live in dream worlds

because we remember when we were young

because the helpless dead tend to be visited by the sentimental and not necessarily profitless, exertions of the living

because frozen memories gleam amid the blackness of loss

because of the music

Paul Morley 070208: adapted from chapters LIV and LXII of Piece by Piece: Writing about Joy Division 1977 – 2007 (Plexus Publishing)

19
Apr

Album Review: Sweaters - Written Like Postcards

Sweaters

Written Like Postcards

Lovely Records – 2008

Pada dasarnya manusia senang bermimpi. Karena itu merupakan pelarian kita dari kenyataan dunia yang kita hidupi hari demi hari. Untuk beberapa orang bahkan kegiatan tersebut tidak hanya dilakukan pada waktu tidur, tetapi juga dalam keadaan sadar, di tengah hari yang pekat dengan segala macam kesibukan yang mengitari kita. Bagi orang-orang seperti ini, sebuah band asal Jakarta telah menghantarkan sebuah soundtrack yang paling pas untuk kegiatan yang bahasa kerennya dikenal dengan nama daydreaming.

Mini album, bila kalian mau menyebutnya seperti itu, dari Sweaters berjudul “Written Like Postcards” berisikan 8 buah lagu yang disimak lebih lanjut seperti perpaduan antara titisan Pure Saturday dan band shoegaze asal Oxford, Ride.

Dibuka dengan “Some Things Are Left Unsaid” yang menset mood dreamy seseorang dengan sempurna, album ini lalu menampilkan keceriaan yang tak terdeskripsikan dalam “Everything For Everyone”. Melodinya tersenyum manis, sebuah lagu yang cocok untuk sebuah road trip dengan pemandangan sawah menghijau di kiri-kanan jalan atau juga untuk sebuah perjalanan tanpa makna menyusuri Jakarta di hari Minggu malam.

“Ordinary Girl” terdengar seperti karya awal Ride dengan harmonisasi vokal yang samar-samar terdengar, melodi gitar yang terdenting tanpa henti dan distorsi halus yang mengelilinginya. Para penatap sepatu di negeri ini akan berterima kasih kepada Sweaters karena mereka telah menghadiahkan kita dengan lagu ini. “When You Smile” meneruskan album ini, dan terus terang orang-orang seperti kita tidak akan pernah bisa mengerti mengapa lagu sehalus dan seindah ini tidak bisa mendapatkan audiens yang lebih luas. Karena lagu ini memiliki segalanya untuk menjadi sebuah lagu pop yang harus digilai massa. Tapi mungkin itu yang membuat kita mencintai band seperti Sweaters, karena mereka tidak dicemari dengan polusi korporasi yang sering menggerogoti band-band saat ini.

Kedua lagu yang direkam live di album ini “Shine” dan “25 Dazzling Stars” seperti memberikan arti tersendiri dalam ke-indie-an band ini. Kedua lagu ini mencerminkan keesensialan karya Sweaters tanpa balutan produksi yang terlewat canggih dan terkesan artifisial. Di kedua lagu ini, indie menemukan keindahannya dalam arti sebenarnya, terutama dalam “25 Dazzling Stars” yang bisa dikatakan adalah sebuah perayaan akan kemurnian indie pop dalam bentuk terbaiknya dengan nada-nada upliftingnya.

Boleh dibilang, kita beruntung, sangat beruntung, Lovely Records telah merilis karya-karya Sweaters ini dalam “Written Like Postcards”. Walau mungkin durasinya terlalu singkat, tapi siapa yang peduli akan hal itu, karena 8 lagu yang ada di dalamnya akan selalu membuat kita tersenyum sendiri di bawah langit Jakarta yang kita cintai.

David Wahyu Hidayat

19
Apr

Album Review: Vampire Weekend - Vampire Weekend

Vampire Weekend

Vampire Weekend

Aksara Records/XL – 2008

Beberapa waktu silam, ketika web 2.0 dengan segala keajaibannya belum hadir, hype diciptakan oleh media seperti MTV dan NME. Sekarang ini di tengah-tengah jeratan kehidupan modern, hype diciptakan oleh media lain. Masih ingat dengan cerita Arctic Monkeys dan Myspace? Jaringan sosial dan blog popluer, saat ini mempunyai kuasa untuk menentukan siapa yang akan menjadi trend di masa depan. Terkadang mereka menemukan sebuah band di saat band tersebut belum saatnya untuk ditemukan, sehingga yang sering terjadi adalah antiproduktif dari pemberitaan yang terlalu cepat itu.

Lalu apa yang terjadi dengan Vampire Wekeend? Sama seperti nasib band asal New York lainnya The Strokes, yang sudah mendapatkan tempat di halaman depan NME sebelum mengeluarkan satu album pun, Vampire Weekend berada di posisi yang sama, bedanya hanya, bagi mereka majalahnya bernama Spin bukan NME. Dan Vampire Weekend mendapatkan dukungan yang sangat hangat dari blog populer seperti Stereogum, dan atas satu lain hal, dukungan tersebut berbuah manis untuk mereka. Digembar-gemborkan sebagai band yang menfiturkan musik asal Afrika, Vampire Weekend dicap sebagai sesuatu yang paling menggairahkan yang pernah terjadi untuk dunia musik kita saat ini.

Tapi lupakan sejenak, pengaruh musik Afrika tersebut, dan manifesto band itu sendiri yang mendeklarasikan para personilnya tidak boleh memakai t-shirt di atas panggung, dan menggunakan suara gitar clean seperti suara gitar Johnny Marr di “This Charming Man” sebagai panduan sound gitar mereka. Sebenarnya apa yang menarik dari musik Vampire Weekend itu sendiri?

Mereka menampilkan melodi. Melodi untuk diingat dan sebuah atmosfir yang nyaman ketika mendengarkan musik mereka. Ia tidak menampilkan sesuatu yang hendak dibawa ke malam minggu terliar kita, ataupun mengusir keresahan hati kita, tapi atmosfir yang dibawanya adalah atomosfir menyamankan. “Mansard Roof” dan “Oxford Comma” kedua lagu yang mengawali album ini, menyampaikan itu dengan jelas. Di “Mansard Roof” suara gitar yang menyayat halus di akhir lagu itu membuat kita sebagai pecinta musik indie menoleh kepada mereka, sedangkan kumpulan pecinta musik lainnya akan jatuh hati kepada aransemen string dan pola drum etnis yang ada di lagu ini. “Oxford Comma” menampilkan Vampire Weekend dengan latar belakang sebagai mahasiswa kampus elit Columbia University di New York bercerita tentang keabsurdan literatur Inggris. Ezra Koenig sang vokalis melantunkan nada-nada menarik yang secara keseluruhan gampang dicerna tanpa harus menjual diri secara berlebihan.

“A-Punk” yang berirama cepat, menggabungkan lantunan ala punk yang terdengar setengah komedi setengah ironi, sedangkan orkestra pada “M79” seperti campuran antara musik rennaisance dan seorang indie nerd yang terlalu lama terkungkung di segi empat kamarnya.

Menarik pada musik Vampire Weekend, adalah mereka cerdas dalam memilih kata-kata dan memainkan musik mereka tanpa durasi yang terlalu lama. Lagu seperti “Campus” dan “Bryn” berdurasi kurang dari 3 menit, tapi menampilkan esensi popnya secara maksimal. Terlebih intro dari “Bryn” yang mencoba menaklukkan resistensi kita terhadap musik yang disuguhkan Vampire Weekend. “Walcott” juga mencoba menampilkan suasana nyaman yang sama. Atmosfir keidealan sebuah hari yang tidak ingin diusik dengan hal-hal yang tidak esensial. Lagu ini terdengar seperti hendak mengajak kita menikmati suasana lembutnya cahaya surya yang menerpa wajah kita. “The Kids Don’t Stand A Chance” mengakhiri album ini, dengan melodi gitar yang tersisip lembut dan iringan orkestra yang tepat tanpa berlebihan.

Untuk alasan tertentu musik yang ditampilkan Vampire Weekend dan strategi DIY yang mereka terapkan membuahkan hasil. Dalam skalanya sendiri mereka sukses membawa musik mereka ke audiens yang lebih luas, dan apakah kita ingin mengakui mereka sebagai sesuatu yang menggairahkan untuk saat ini, semuanya terserah kuping kita masing-masing. Yang jelas dengan attitude DIY mereka dan keiregularan musik mereka, ada sesuatu yang membuat kita tidak bisa memalingkan muka dari band yang satu ini.

David Wahyu Hidayat

19
Apr

Album Review: Elbow - The Seldom Seen Kid

Elbow

The Seldom Seen Kid

Fiction – 2008

Terkadang dalam hidup ini berada di posisi underdog adalah sesuatu yang menguntungkan. Karena di posisi tersebut kita tidak diharapkan untuk dapat berbuat sesuatu yang menentukan, atau bahkan mempengaruhi suatu era. Mereka yang di posisi tersebut seperti dicoret dari atas kertas untuk melakukan sesuatu yang besar, tapi bila kita mengingat sejarah, berapa banyak mereka yang berada di posisi underdog justru telah melakukan suatu yang akhirnya diingat banyak orang, bidang olahraga telah banyak mencatat hal itu, ingat saja final piala champions beberapa tahun silam, ketika sebuah tim yang tidak lagi diperhitungkan, karena sudah tertinggal 0-3 di babak pertama akhirnya mampu memenangi turnamen tersebut.

Di bidang musik, rumus tersebut juga berlaku sama, walaupun mungkin dampaknya tidak sesignifikan seperti di bidang lainnya, tapi lebih ke pada individu masing-masing orang yang mendengarnya. Bila dikategorikan, Elbow adalah sebuah band underdog, terlalu banyak orang yang tidak mengenal mereka, dan terlalu rendah musik mereka dinilai, sehingga mereka tidak begitu meraih sukses seperti band-band seangkatan mereka. Tapi sejujurnya, sejak album pertama mereka tidak pernah berhenti menghasilkan rangkaian musik yang berkualitas, dan bahkan patut disandangkan bersama dengan Coldplay, bukan hanya karena mereka memainkan musik di area yang sama, tapi karena memang musik mereka sebagus itu. Lupakan Keane, karena musik Elbow lebih menusuk sanubari, memunculkan kembali harapan di tengah kegalauan kita.

Album keempat mereka yang berjudul “The Seldom Seen Kid”, bukanlah pengecualian. Single pertama mereka “Ground For Divorce” menfiturkan suara malaikat Guy Garvey dalam penampilan terbaiknya, dipadu dengan suara gitar yang merobek dinding pencerna musik kita, hampir terdengar seperti efek gitar terkasar Jimmy Page.

Bila ada orang yang masih ragu akan musik yang dihantarkan oleh Elbow, maka “Weather To Fly” akan menghapus segala pertanyaan itu. Diawali dengan lirihan Guy Garvey yang menyanyikan “Are we having the time of our lives…are we part of the plan here” lagu ini memberikan maknanya dengan sendirinya, ia menyanyi seperti mencari arti dari kehidupan ini, bertanya apakah ini saatnya yang tepat untuk terbang mencari jawaban. Untuk beberapa orang yang sedang menjalani sebuah kehidupan baru, lagu ini tiba-tiba menjelaskan semuanya. Melodinya terbungkus manis, membuat kita tertengun sejenak, untuk kemudian berkata kalau segalanya terlihat indah dari atas sini.

Sejak album pertama, Elbow selalu pintar memainkan perasaan pendengarnya dengan suasana agung dari lagu-lagunya, di album ini “One Day Like This” meneruskan pola tersebut. Lewat iringan orkestra yang mengiringinya, lagu ini menampilkan keepikannya, sebuah klimaks tentang perasaan seseorang yang tiba-tiba mengucapkan kata-kata yang tidak penah diucapkannya dalam balutan mentari pagi, “Using words I never say, I can only think it’s must be love…And only now I see the light, lying with you half awake…well anyway it’s looking like a beautiful day…One day like this a year would see me right”.

Sepertinya kita harus berterima kasih karena Elbow. Karena posisinya sebagai underdog yang masih mengeluarkan musik dari hati mereka, tanpa digerogoti apapun. Karena dengan demikian, mereka dapat menampilkan sebuah keindahan. Sesuatu yang mungkin tidak dapat dilihat semua orang, tapi bagi orang-orang seperti kita yang menikmati musik mereka, kita tahu kalau mereka telah berhasil mendefinisikan hari-hari berarti dalam kehidupan kita.

David Wahyu Hidayat

23
Mar

Album Review: The Smiths - The Queen Is Dead

the-queen-is-dead-cover.png

The Smiths
The Queen Is Dead
Rough Trade – 1986

Suatu subuh di musim semi 1999. Seorang jiwa muda, dengan enggan menyibakkan selimutnya, beranjak dari tempat tidur untuk memulai pekerjaannya hari itu, di sebuah kota bernama Dortmund yang telah menjadi kampung halaman barunya sejak setahun. Pagi masih sunyi, belum terdengar suara keramaian yang akan membangunkan hari, hanya sebuah suara mendayu-dayu dari stereo set mininya memecah keheningan di pagi itu. Suara dari sebuah album bersampulkan Alain Delon dari filmnya di tahun 1964 L’insoumis, yang baru dipinjamnya dari salah seorang teman. Di pagi-pagi buta tersebut, suara itu begitu menghinoptisnya, mengharmonisasikan suasana pagi yang belum ternodai apapun. Sejak momen tersebut, jiwa muda itu memutuskan untuk mencintai suara yang didengarnya itu. Album yang menfiturkan lagu “There Is A Light That Never Goes Out” yang didengarnya di subuh itu adalah The Queen Is Dead dari The Smiths.

Jiwa muda tersebut masih terlalu muda di tahun 1986 untuk mempedulikan siapakah The Smiths, dan untuk mengetahui kalau Morrissey dan Marr adalah penulis lagu paling berbakat yang dipunyai Inggris sejak Lennon/McCartney. Namun sejak subuh menentukan di tahun 1999 itu, semuanya berubah. Dimulai dari hari itu The Smiths menyusul band asal Manchester lainnya The Stone Roses dan Oasis untuk menjadi ikon penting dalam kehidupannya. Album ketiga mereka, “The Queen Is Dead”, yang dirilis di tahun yang sama ketika “tangan Tuhan” dan kejeniusan Maradona memenangkan piala dunia untuk kedua kalinya bagi Argentina, menjadi salah satu sumbu putar kecintaannya akan musik.

Dibuka dengan lagu yang bertitel sama dengan album tersebut, “The Queen Is Dead” diawali dengan nyanyian “Take Me Back to Dear Old Blighty” yang disusul oleh distorsi gitar Johnnny Marr dan dentuman gemuruh drum Mike Joyce. Lagu pembuka ini adalah pendobrak yang tepat untuk sebuah album yang dipenuhi dengan nada – nada yang kadang memukau, kadang menikam perasaan dengan dalam seperti pada “I Know It’s Over” yang diakui oleh banyak orang sebagai lagu putus cinta terhebat yang pernah dinyanyikan. Di situ, Morrissey menyanyikan kepedihannya dengan lirik “I know it’s over, and it never really began, but in my heart it was so real..’Cause tonight is just like any other night, that’s why’re on your own tonight, with your triumphs and your charms, while thy’re in each other’s arms..It’s easy to laugh, it’s easy to hate, it takes strength to be gentle and kind, over, over, over”. Semenjak itu, Morrissey tanpa alunan menyayat gitar Johnny Marr tidak pernah lagi menyatakan kepedihannya sepilu ini.

Cemetry Gates” adalah hujatan Morrissey terhadap segala aksi plagiat sekaligus lagu pujaan akan sastrawan kebanggaannya Oscar Wilde. Kenarsisan Morrissey sebagai seorang artis adalah hasil dari kata – kata yang pernah ditulis oleh Wilde, siapapun yang pernah membaca satu-satunya novel Oscar Wilde “The Picture Of Dorian Gray” akan mengerti apa yang coba diutarakan Morrissey dalam karyanya. Terlepas dari itu semua, lagu tersebut adalah pop dalam bentuk terbaiknya yang dibentangkan hanya dalam 2:41 menit.

Kedua lagu yang mengikutinya “Bigmouth Strikes Again” dan “The Boy With The Thorn In His Side” melanjuti apa yang telah dimulai “Cemetry Gates”. Sebegitu kuatnya kekuatan pop yang meliputinya, bahkan lagu yang disebutkan pertama pun masih mendapat perhatian publik yang besar ketika dirilis ulang oleh Mark Ronson dalam album remixnya tahun lalu. Johnny Marr menembakkan semua amunisi terbaiknya dalam lagu tersebut dengan serangan ritem gitar yang nyaring dan melodi gitarnya yang menumpaskan segala keraguan akan pop bergitar yang dihadirkan The Smiths.

Jika ada karya kunci dalam album ini, maka “There Is A Light That Never Goes Out” akan menempati posisi tersebut tanpa keraguan sebersit pun. Liriknya yang terkesan konyol, penggambaran ironi seorang yang cinta mati terhadap seseorang sehingga rela mati tertabrak bis tingkat di sisi sosok yang dicintai tersebut, sesaat menampilkan dagelan seorang Morrissey terhadap kehidupan, tapi seperti yang ia tampilkan di banyak lagu, ironi seperti itu menggambarkan kehidupan kita dengan sangat tepat, bukan metaforsa yang ia ingin tunjukkan tapi kegamblangan hidup seorang manusia. Lagu ini beserta dengan “Some Girls Are Bigger Than Others” yang menyudahi “The Queen Is Dead” seperti sepotong lolipop yang terus ingin dijilat untuk dinikmati kemanisannya. Kedua lagu tersebut menerawang di antara nalar dan kenyataan kita, mencoba menyentil kepatetikan kita terhadap kehidupan yang tidak pernah mencapai keidealannya.

Sampai hari ini “The Queen Is Dead” tetap berarti sama seperti waktu pertama kali jiwa penulis ini mendengarkannya di pagi subuh itu. Album itu memberikan ketenangan. Album yang akan selalu diambil untuk menenangkan malam yang terlalu hening, untuk kemudian memeluk pagi hari masih dengan perasaan gamang, tapi entah mengapa yakin kalau pada akhirnya akan ada selalu cahaya yang takkan pernah sirna.

David Wahyu Hidayat

03
Mar

Album Review: The Stone Roses - The Stone Roses

the-stone-roses-the-stone-roses.jpg

The Stone Roses
The Stone Roses
Silvertone Records – 1989

Banyak cara yang dilakukan manusia untuk meraih sesuatu yang monumental. Sesuatu yang di masa setelahnya akan diingat manusia, karena arti yang diberikannya dan karena semangat yang dibakarnya. Seringkali, manusia – manusia seperti itu disebut sebagai pahlawan, dan nama mereka diabadikan di hati kita masing – masing sebagai seseorang yang mengubah jalan hidup kita untuk selamanya.

Keempat pemuda asal Manchester, Britannia Raya telah melakukan hal tersebut sewaktu mereka di tahun 1989 menghantarkan sebuah karya musik yang sampul depannya dipenuhi dengan garis coretan yang didominasi oleh warna hijau, bercorak seperti sebuah karya pelukis kontemporer Jackson Pollock. Di sebelah kiri sampul album tersebut tampak goretan 3 warna yang melambangkan bendera Perancis, dihiasi dengan 3 buah potongan jeruk, yang walaupun terkesan begitu menyejukkan adalah bentuk sebuah solidaritas akan gerakan mahasiswa di Paris tahun 1968. Di tengah – tengah sampul album itu, di atas semuanya, tertera nama yang bagi banyak orang adalah sebuah legenda, sebuah pahlawan musikalis. Nama itu adalah THE STONE ROSES.

Ian Brown (Vokal), John Squire (Gitar), Mani (Bass), dan Reni (Drum) sadar sepenuhnya bila album yang telah mereka ciptakan akan menjadi sesuatu yang berarti dalam kehidupan orang banyak. Mereka tidak mempunyai keraguan sedikit pun akan hal ini, dan ini tercermin dari lagu – lagu di album tersebut. Dimulai dengan sebuah pernyataan yang tegas di lagu pembuka “I Wanna Be Adored”, The Stone Roses membuka kembali jalan agar musik bergitar akan dipuja kembali, setelah satu dekade penuh dipenuhi oleh musik artifisial yang datang dari synthesizer khas 80-an. Melodi psychedelic Squire dipadu dengan bas Mani mengusik nalar kita, menyadarkan kalau mesias yang kita nantikan itu telah datang.

Kemisteriusan nada “I Wanna Be Adored” dilanjutkan dengan sebuah lagu yang terdengar seperti sapaan mentari pagi paling hangat yang pernah dirasakan umat manusia. “She Bangs The Drums” dengan liriknya “Kiss me where the sun don’t shine, the past was yours, the future is mine” adalah sebuah lagu inspiratif yang mengajak kita untuk menggenggam segala sesuatu yang terhampar di depan kita dan berhenti untuk menoleh ke belakang. Kembali, di lagu ini bas Mani yang membuka intronya, menyampaikan misinya sangat baik, dengan tempo yang membuat kita tidak berhenti mengayunkan kaki kita secara tidak sadar.

“Waterfall” dimulai dengan sebuah riff gitar yang nantinya akan dikenal sebagai salah satu ciri khas permainan gitar John Squire. Diinspirasikan dari lagu The Beatles favoritnya “Rain” Ia memulai lagu ini dengan sebuah permainan gitar yang terdengar seperti suara sebuah hari Minggu pagi yang belum ternoda. Suara Ian Brown menghipnotis kita untuk berhayal akan sebuah mimpi yang akan segera terwujud, dibalut oleh bas Mani yang melodis dan drum Reni yang menyetir dinamika ritme lagu ini.

Dalam “Made Of Stone” John Squire mengukuhkan dirinya sebagai gitaris terbaik generasinya. Lagu ini adalah cerminan musik Britannia Raya selama 30 tahun terakhir, terlalu manis untuk hanya sekedar dicintai para indie nerd, di satu sisi memberikan penegasan bahwa musik pop tidak hanya terdiri dari lantunan manis tanpa arti. Solo gitarnya di lagu ini memberikan sebuah prelude akan kemampuannya memainkan instrumen 6 senar itu, seperti yang kemudian diperlihatkannya dalam album kedua mereka “Second Coming”. Tapi itu adalah bab lain lagi dari sebuah legenda bernama The Stone Roses. Di album ini mereka sedang memulai langkah mereka untuk berdiri di puncak olimpia musik Britannia Raya.

Album ini menemukan klimaksnya dalam “I Am The Resurrection”. Lagu dengan durasi 08:12 menit ini, menampilkan semua yang menjadikan The Stone Roses sebuah legenda hidup. Lirik yang menantang dan mengedepankan kepercayaan diri seorang muda, dan kemampuan keempat personilnya bermain musik dalam outro sebuah lagu, tanpa harus takut kehilangan identitas mereka sebagai sebuah band indie yang berusaha dan berhasil menanamkan imaji ke sanubari setiap orang yang mendengarnya, bahwa ini adalah musik bergitar yang paling menakjubkan yang pernah kalian dengar.

Tahun 1989, seperti sebuah pertanda bahwa sesuatu yang menakjubkan telah terjadi, adalah tahun di mana tembok Berlin runtuh. Tak lama setelah itu perang dingin berakhir, dan dekade 90-an yang penuh keoptimisan pun dimulai. Di sekitar waktu itu Liam Gallagher muda melihat sosok Ian Brown yang penuh karisma dalam salah satu konser The Stone Roses, dan ia segera memutuskan untuk membuat sebuah band. Seperti yang telah kita kenal, band yang dibentuknya itu bernama Oasis, dan itu adalah awal dari sebuah kerajaan bernama Britpop. Oasis, dan semua yang datang setelahnya, di mana musik band Indie tiba-tiba dapat merajai mainstream tidak akan dapat terjadi bila The Stone Roses tidak merilis debut album mereka. Ian, John, Mani, dan Reni telah mengembalikan musik bergitar ke tempat yang semestinya, yaitu di dalam universum musik kita masing – masing. Untuk itu mereka layak menjadi legenda.

David Wahyu Hidayat

27
Jan

Album Review: The S.I.G.I.T - Visible Idea Of Perfection

the-sigit-visible-idea-of-perfection.jpg

The S.I.G.I.T
Visible Idea Of Perfection
FFCuts Records – 2006

Di tahun 2005 NME mendeskripsikan musik The S.I.G.I.T sebagai “Scorching Gonzo Zep Rock”, di tahun 2007 mereka menandatangani kontrak dengan salah satu perusahaan rekaman Australia bernama Caveman! untuk pendistribusian “Visible Idea Of Perfection” di negara kanguru tersebut, yang disusul dengan tur Australia. Di tahun 2008, mereka akan manggung di SXSW Festival di Austin, Texas, Amerika Serikat. Sebuah perhelatan yang terkenal menjadi barometer untuk band – band baru yang nantinya akan memenuhi ruang semesta musik di kepala kita. Masih adakah sesuatu yang dapat mengerem sepak terjang The S.I.G.I.T?

Sekilas memang perjalanan karir band asal Bandung ini terlalu mulus untuk ukuran sebuah band yang pada awal karirnya sering membawakan lagu – lagu The Stone Roses dan The Seahorses di bawah nama The Cinnamons. Tapi disimak sekali lagi dengan cermat, perjalanan impian The S.I.G.I.T ini didukung oleh sebuah album yang solid dan penuh dengan permainan gitar virtuoso yang memang dalam setiap momennya terdengar mega, baik dalam suara maupun perasaan yang hadir waktu mendengarkannya.

Tak bisa dipungkiri lagi riff – riff bombastis yang ada di “Visible Idea Of Perfection” dipengaruhi oleh tandatangan Jimmy Page. Dimulai dengan “Black Amplifier” yang menendang nafsu, The S.I.G.I.T seperti tidak mempedulikan kalau musik mereka mungkin terlalu retro, di saat di mana setiap manusia sudah tidak peduli lagi akan sesuatu yang bernama Garage Rock. Tapi mereka tidak ambil pusing. Liukan gitar dan teriakan dalam “Black Amplifier” mengawali album ini dengan tempo yang tepat, mencoba untuk mengambil komando akan apa yang akan didengar di lagu-lagu setelahnya.

Horse” diisi dengan perpaduan dinamis keempat personil The S.I.G.I.T (Rektiviaton Yoewono – Vox & Gitar, Aditya Bagja Mulyana – Bas & Vox, Farri Icksan Wibisana – Gitar & Vox, Donar Armando Ekana - Drums) mengundang pendengarnya untuk berdansa seliar yang pernah mereka kenal. “No Hook” yang ditulis berdasarkan kefrustasian mereka waktu belum mendapatkan kontrak rekaman, mencerminkan keempat pemuda tersebut sedang mencumbu satu sama lain dengan instrumen mereka masing – masing. Sedangkan “Live In New York” adalah sebuah nomor akustik tentang impian akan kehidupan yang lebih baik di sebuah kota dunia bernama New York.

Lagu tersebut dilanjutkan dengan sebuah nomor berjudul “Clove Doper” yang membahayakan jiwa, seperti lusifer yang menghasut kita untuk tenggelam dalam kehidupan hedonisme tiada henti. Diselingi dengan sebuah lagu tentang pengalaman teman mereka dengan seorang waria yang diberi judul “Soul Sister” The S.I.G.I.T lanjut menghantam kita dengan “Save Me” yang penuh dengan teriakan penuh hook. Mereka tidak berhenti di situ saja, serangan terhadap hormon ekstase kita dilanjutkan dalam “Let It Go”. Dengarkan solo gitar lagu ini yang dimulai pada menit 02:30 dan siap-siaplah untuk terkesima.

All The Time” adalah sebuah proklamasi untuk hidup selamanya yang bersanding sangat pantas dengan lagu yang mengikutinya “Alright”, karena di lagu ini The S.I.G.I.T memberikan kita sebuah format kepercayaan baru bernama Rok ‘N Rol, seperti mengantarkan pesan kalau tidak ada yang lebih penting dari hidup ini selain percaya bahwa semuanya menuju ke sesuatu yang lebih baik.

The S.I.G.I.T telah berhasil memberikan sinyal kedashyatan sepak terjang mereka melalui “Visible Idea Of Perfection”. Cepat atau lambat, musik mereka akan menginfeksi bukan hanya orang – orang di negara tecinta ini, tetapi juga mereka yang di luar sana, seperti sebuah epidemi yang tak terelakkan. Apalagi yang ditunggu dunia?

David Wahyu Hidayat

27
Jan

Album Review: Polyester Embassy - Tragicomedy

polyester-embassy-tragicomedy.jpg

Polyester Embassy
Tragicomedy
FFWD Records – 2006

Definisi kesempurnaan seringkali terlalu ditakuti untuk diakui kebenarannya. Kita bahkan terperangkap dalam sebuah dogma yang mengatakan bahwa sesuatu bernama kesempurnaan tidak pernah dan tidak akan eksis. Meskipun begitu manusia mencari sendiri bentuk kesempurnaannya masing – masing, melakukan perjalanan untuk menemukan format keidealan dalam segala sesuatu yang tidak sempurna ini.

Tragicomedy” sebuah album yang dirilis tahun 2006 oleh ffwd records dari sebuah band bernama Polyester Embassy asal Parijs van Java adalah sebuah penampakan lain dari sebuah kesempurnaan. Album itu berisikan 9 lagu, menampilkan suasana ruang angkasa yang menvisualisasikan keabsurdan kehidupan manusia yang manis sekaligus indah. Mendengarkan album ini seperti melihat evolusi manusia dalam wujud lain, seperti yang coba dihantarkan Stanley Kubrick dalam filmnya “2001:Space Odyssey”.

Diawali dengan “Orange Is Yellow” yang menembus relung jiwa dengan determinasi gitar di intro lagu yang berdurasi sampai 7 menit ini, Polyester Embassy merebakkan pesan pertamanya akan sebuah musik yang mencoba mengatakan bahwa kesempurnaan itu dapat dicapai. Mereka tidak takut akan suara yang hendak mereka bentuk dan sampaikan. Efek gitar yang bergema mengiringi nada melodis dengan diiringi suara drum dan bas yang menancap pada alam pikiran bawah sadar kita, membuat lagu ini berfungsi sebagai pesan serius Polyester Embassy, bahwa mereka akan melakukan sesuatu yang mengagungkan di album ini.

Sikap inovatif ini mereka teruskan dalam “Blue Flashing Lights” yang diawali dengan raungan gitar seakan hendak merobek keterbatasan alam pikiran kita. Mereka tidak berhenti di situ saja, dengan dilatarbelakangi loop yang menghipnotis, Elang Eby sang vokalis band ini lalu bernyanyi dengan suara yang tidak kalah menghanyutkan dengan suara gitar mereka “Can’t you see, it’s shine on, it’s shine on” terus menerus sepanjang lagu. Secara tidak sadar kita pun tenggelam dalam pelukan musik mereka.

Lagu itu disambung dengan “The Answer Is No” yang juga tidak kalah membahayakan dalam memperkosa panca indera kita. Kita akan menghayal bersama mereka, dibawa terbang ke sebuah perasaan yang sulit untuk dikatakan apa yang sebenarnya kita rasakan. Ini adalah sebuah bentuk lain dari pencapaian keagungan yang tak akan pernah kita raih. “Ruins” memberikan kita ketenangan sejenak, dengan tempo yang relatif lebih lambat dibanding lagu-lagu lainnya di album ini. Di lagu ini Polyester Embassy membalut kita dalam suara melodis musik mereka yang penuh dengan perasaan kegembiraan yang aneh sekaligus menghenyakkan, nyaris berkesan religius. Pejamkan mata kalian dengarkan Elang Eby membisikkan “She turn on the light, she make my day so bright… Then now the light are off I surrounded by inky dark…Will she feed me when I’m drown or she killed me when I’m young, I’m just sit here to catch and take as much as you can throw, don’t you know it’s not so great in here. Wise one comes and than the ruin fall on me”. Lepaskan semua perasaan, dan kalian akan mengerti apa yang dimaksud.

Suara bas yang membuka jalan dalam kegalauan seorang mahluk hidup mengawali “Polypanic Rooms”, yang kemudian diisi cepat dengan kombinasi dua suara gitar, seakan hendak menggusur keluar kegalauan itu dari jalan hidup kita. Ini adalah puncak sebuah epik yang ditampilkan Polyester Embassy. Kemegahan tanpa tanding, sampai kita tiba di akhir lagu ini dan berteriak menyambut matahari “I love you like I love the sunrise in the morning”.

Ditutup dengan lantunan damai dalam “Home”, Polyester Embassy menampilkan sebuah bentuk kesempurnaan yang walaupun berbeda spektrum, tidak pernah ditemukan dalam band asal negara ini sejak debut album Pure Saturday. “Tragicomedy” adalah karya sebuah band yang tidak takut untuk memberikan keindahan dalam suara eksperimentasi mereka. 9 lagu yang membentuk album ini, mempunyai potensi untuk menjadi sesuatu yang akan selalu diingat sepanjang masa. “Tragicomedy” adalah langkah pertama di mana sebuah legenda akan terbentuk.

David Wahyu Hidayat